Noor, part 4

“Kenapa sin?” tanya Melody menoleh ke belakang.

“Gapapa,” Sinka memalingkan wajahnya yang kesal.

“Kamu apain Sinka za?” Melody menatap Rezza dengan heran.

“Nggak diapa-apain, cuma tiduran dipundaknya doang,” jawab Rezza dengan polosnya.

“Boong, itu buktinya pipi kamu merah, pasti kamu apa-apain Sinka kan?” Melody memajukan wajahnya pada Rezza.

“Biasa lah kak, ucapan makasih Rezza salah sasaran,” ucap Gre yang duduk di antara Sinka dan Rezza sambil terkekeh.

“Hah?” Melody mengkerutkan dahinya.

“Maksut kamu cium?” lanjut Melody.

Gre hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kenapa bilang makasih harus pake cium segala sih?!” tanya Sinka dengan kesal.

“Rezza emang gitu sin, apalagi kalo udah menyangkut soal tidur,” jawab Melody tersenyum.

“Tapi kenapa harus di bibir?!” Sinka menatap Rezza dengan tajam.

“Suruh siapa lu liatin gue, kan gue belom sadar-sadar amat,” Rezza juga menatap Sinka dengan wajah tak bersalah.

Melody, Gre dan Naomi yang sedang menyetir hanya terkekeh.

“Ishh!” Sinka mendengus kesal lalu kembali memalingkan wajahnya.

“Emang kamu tadi nggak kasih tau, Gre?” tanya Melody.

“Baru mau, tapi Rezza keburu dibangunin sama Sinka,” jawab Gre menoleh ke arah Sinka.

“Yaudah sih, gitu aja marah, lagian gue juga nggak sengaja,” ucap Rezza lalu menyandarkan kepalanya di bahu Gre dan juga memeluknya.

“Main peluk-peluk aja, kamu nggak takut kak Naomi marah?” tanya Gre menatap Rezza dengan heran.

“Jan samain pacar aku sama mantan-mantan kamu lah,” jawab Rezza.

“Ish! Ngaku-ngaku,” ucap Naomi menoleh ke arah Rezza sebentar.

“Apa-apaan sih nih orang?” batin Sinka menatap Rezza dengan bingung.

Sekitar 30 menit kemudian mereka telah sampai di rumah Rezza.

“Bangun,” ucap Gre sambil menyingkirkan kepala Rezza dari bahunya.

“Gausah cium-cium!” lanjut Gre menahan kepala Rezza.

“Eh tunggu bentar,” ucap Naomi sambil keluar dari mobilnya.

“Apaan?” tanya Rezza menatap Naomi heran.

“Aku mau omongin sesuatu bentar,” jawab Naomi menarik tangan Rezza menjauh dari mobilnya.

Setelah beberapa meter menjauh, Naomi menoleh ke arah mobilnya.

“Kalian berdua ngapain masih di situ? Cepetan sini!” suruh Naomi melambaikan tangannya pada Gre dan Melody.

“Mau ngomongin apaan sih?” tanya Melody yang kini sudah bersama Naomi.

“Gini, kan besok tanggal 4 Juli Sinka ulang tahun, aku mau bikin surprise buat dia, kalian bantuin aku ya,” jawab Naomi.

“4 Juli?” Rezza, Gre dan Melody menatap Naomi dengan bingung.

“Bukannya besok itu 4 Juni ya?” tanya Gre dengan polosnya.

“Dan itu berarti itu ulang tahun kamu, bukan Sinka,” ucap Melody mengernyitkan dahinya.

“Heh?!” Naomi terkejut mendengar ucapa Gre dan Melody.

“Halah, gausah sok kaget, bilang aja besok pengen dikasih surprise,” Rezza menatap Naomi dengan wajah datar.

“Ihh!! Aku beneran gatau kalo sekarang masih Juni, aku kirain udah Juli,” Naomi mencubit perut Rezza.

“Makanya jan kebanyakan makan micin, bego kan jadinya,” ucap Rezza mencubit pipi Naomi dengan manja.

Gre dan Melody terkekeh melihat ekpresi Naomi yang sedang malu.

“Tapi aku-“ ucap Naomi dengan wajah manjanya.

“Sssstt….” Rezza menempelkan jari telunjuknya di bibir Naomi sambil memanjukan wajahnya. “Udah, gausah ngeles lagi, soal surprise ntar gue siapin.”

“Beneran?” tanya Naomi memanyunkan bibirnya.

Rezza hanya mengangguk dan tersenyum.

“Makasih!” teriak Naomi sambil memeluk Rezza.

“Duluan yuk Gre, percumah di sini, keberadaan kita nggak dianggep sama mereka,” ajak Melody berjalan ke arah rumahnya.

Gre mengangguk lalu menyusul Melody.

“Sirik mulu sih jadi orang, wleek,” ucap Naomi menjulurkan lidahnya ke arah Melody dan Gre.

“Dah sana pulang, ntar malem mau ke rumahnya Achan lagi kan?” tanya Rezza melepaskan pelukan Naomi.

“Iya, kamu ikut ya,” pinta Naomi tersenyum menatap Rezza.

“Liat ntar sibuk apa enggak,” ucap Rezza menoleh ke arah mobil Naomi.

~oOo~

“Za,” panggil Melody menoleh ke arah Rezza yang sedang bermain gitar di sebelahnya.

“Hmmm,” gumam Rezza tanpa menoleh.

“Kakak liat, kamu sama Naomi udah mulai deket lagi, kamu nggak ada rencana mau nembak dia lagi?” tanya Melody bergeser mendekati Rezza.

“Males.” Rezza meletakkan gitarnya. “Palingan juga ditolak lagi.”

“Jangan pesimis gitu dong, siapa tau yang kali ini berhasil.”

“Yang mau pacaran gue, bukan situ.”

“Iya kakak tau, kakak cuma pengen kamu jadi lebih baik lagi.”

“Emang situ yakin kak Naomi bisa ngerubah gue jadi lebih baik?”

“Enggak sih.” Melody tertunduk. “Kakak cuma mikir mungkin kamu bakalan nurut kalo dikasih tau sama orang yang kamu sayang.”

Melody kembali menatap Rezza dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kakak nggak nyalahin kamu kalo kamu nggak nurut sama kakak, tapi-,” ucap Melody.

Stop!” potong Rezza sambil bangkit dari sofa.

“Gausah diterusin, gue tau maksut situ apaan, gue bakalan jadi orang baik kalo gue pengen, jadi gausah paksa-paksa gue lagi!” lanjut Rezza lalu berjalan ke kamarnya.

~oOo~

“Yahh…, kok ujan sih,” keluh Sinka yang baru keluar dari sebuah mini market.

Beberapa langkah dari tempat Sinka berdiri, terlihat seseorang sedang menatap cewek itu dengan heran.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Sinka menoleh ke arah orang itu.

“Harusnya gue yang nanya kenapa lu ada di sini,” jawab orang itu setelah menyalakan sebatang rokok.

“Terserah aku dong! Ini kan tempat umum,” ucap Sinka kesal.

“Masa?” orang itu menatap Sinka sambil menaikkan satu alisnya.

“Bodo!” jawab Sinka memalingkan wajahnya.

Kemudian hening, mereka berdua saling diam. Sinka masih tetap berdiri di tempatnya dan orang tadi masih duduk sambil menikmati rokoknya.

“Bang Rezza ngapain di sini?” tanya seorang gadis kecil menghampiri orang tadi yang ternyata adalah Rezza.

“Nunggu ujan,” jawab Rezza menoleh ke gadis kecil itu.

“Emang abang mau ke mana?” tanya gadis kecil yang kedua orang tuanya bekerja di rumah Rezza itu duduk di sebelah Rezza.

“Muter-muter doang, kamu sendiri ngapain ke sini?” Rezza menatap gadis kecil itu setelah membuang rokoknya.

“Disuruh babe beli rokok,” jawab si gadis kecil.

“Yaudah nih sekalian beliin abang parfum,” suruh Rezza sambil memberikan uang 100 ribu pada gadis itu.

“Parfum apa bang?” tanya gadis itu sebelum masuk ke mini market.

“Yang menurut kamu wanginya enak,” jawab Rezza tersenyum.

Gadis itu mengangguk lalu masuk ke dalam mini market.

Rezza menoleh ke arah Sinka yang masih berdiri, ia tersenyum sebentar lalu kembali menyalakan sebatang rokok.

“Nih bang,” ucap gadis tadi sambil memberikan parfum beserta uang kembaliannya pada Rezza.

“Kembalianya ambil aja,” ucap Rezza meraih parfum dari tangan gadis itu.

“Beneran bang?” tanya gadis itu dengan ekspresi tidak percaya.

Rezza hanya mengangguk dan tersenyum.

“Makasih bang!” teriak gadis itu sambil memeluk Rezza.

Sinka menoleh sebentar ke arah Rezza setelah mendengar teriakan gadis itu.

“Udah sana kamu pulang, ntar mulut babe keburu asem,” suruh Rezza melepaskan pelukan gadis kecil itu.

Si gadis kecil hanya mengangguk lalu mengambil payung yang ia bawa dan kembali ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian Rezza melepaskan jaketnya lalu menyemprotkan parfum yang dibelikan gadis kecil tadi.

“Eh?” Sinka terkejut saat Rezza tiba-tiba memakaikan jaket kepadanya.

“Sono duduk, gue gamau lu besok nggak sekolah cuma gara-gara kaki lu kram,” suruh Rezza lalu berjalan menuju penjual roti bakar yang ada di depan mini market.

Beberapa menit kemudian Rezza menghampiri Sinka yang sudah duduk sambil membawa roti bakar.

“Kamu nggak ikut ke rumahnya kak Ayana?” tanya Sinka setelah Rezza duduk di sebelahnya.

“Kaga,” jawab Rezza mengambil sepotong roti bakar lalu memakannya.

“Kenapa?” Sinka menatap Rezza dengan heran.

“Bukan urusan lu.”

“Lagi ada masalah sama kak Melody?”

“Bukan.”

“Terus kenapa?”

“Bisa nggak, lu gausah kepo?”

Sinka menunduk, ia tidak bertanya lagi pada Rezza.

“Aku juga sering punya masalah sama kak Naomi,” Sinka mengangkat kepalanya dan menatap hujan yang semakin deras.

“Nggak nanya,” ucap Rezza tanpa menoleh.

“Aku juga suka kesel kalo dia udah ngatur-ngatur hidup aku, ngelarang ini itu seolah aku ini masih anak kecil yang belom bisa mandiri.” Sinka menoleh ke arah Rezza. “Tapi aku tetep sayang sama dia, karna gimana pun juga, apa yang dia lakuin itu pasti karna dia uga sayang sama aku.”

“Kalo dia sayang, nggak bakalan lah dia kaya gitu,” Rezza menoleh ke arah Sinka setelah menyalakan rokoknya.

“Kalo menurut kamu kaya gitu, berarti kamu juga nggak sayang dong sama sahabat-sahabat kamu.”

“Sok tau, kalo gue nggak sayang sama mereka, nggak bakalan lah mereka jadi sahabat gue.”

“Nah itu kamu tau, nggak semua orang nunjukin rasa sayang mereka secara langsung sama lembut, ada juga yang nggak langsung kaya kamu sama kak Naomi.”

Rezza terdiam, ia menatap ke depan sambil memikirkan ucapan Sinka.

“Aku percaya kamu itu baik, care sama orang-orang yang ada di sekitar kamu, cuma mungkin bagi kak Melody cara kamu nunjukin semua itu salah,” ucap Sinka tersenyum.

Rezza masih terdiam dan tidak menoleh ke arah Sinka.

“Gue emang nggak pernah bener di mata dia, semua yang gue lakuin selalu salah.” Rezza membuang rokoknya lalu menatap Sinka. “Dia itu persis kaya mamanya, perfeksionis, semua yang dilakuin harus sesuai aturan dan hasilnya harus sempurna, gaboleh ada kesalahan sedikitpun.”

Sinka menghela nafas lalu tersenyum menatap Rezza. “Kamu gaboleh salahin kak Melody kalo dia kaya gitu, dan dia juga gaboleh salahin cara kamu yang menurut dia salah.”

“Kamu juga nggak harus berubah jadi orang yang kak Melody anggep baik ato bener, kamu cuma harus bikin dia percaya sama kamu, sama cara kamu,” lanjut Sinka.

Rezza kembali diam, hanya terlihat sedikit senyumam di bibirnya.

“Udah reda ya ternyata, aku pulang duluan deh,” ucap Sinka lalu melapskan jaket Rezza.

“Kamu gamau pulang?” lanjut Sinka.

“Ntar, masih males mau pulang,” jawab Rezza meraih jaketnya dari tangan Sinka.

“Yaudah kalo gitu aku duluan ya,” ucap Sinka lalu berjalan meninggalkan Rezza.

“Kamu mau mampir?” tawar Sinka menoleh kembali ke arah Rezza.

~oOo~

“Kamu mau minum apa?” tanya Sinka setelah masuk ke apartment-nya.

“Terserah, yang penting bukan air putih,” jawab Rezza lalu menutup kembali pintu apartment Sinka.

“Wuih… udah lama nggak main ini,” ucap Rezza menghampiri sebuah keyboard yang ada di dekat jendela.

Saat Sinka sedang memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas, ia berhenti sebentar setelah mendengar lantunan lagu Can’t Fight This Feeling – Reo Speedwagon dari ruang tamu, ia tersenyum lalu kembali melanjutkan memasukkan belanjaannya.

Beberapa saat kemudian Sinka kembali ke ruang tamu dengan membawa dua botol soft drink.

“Kenapa selera lagu kamu jadul gitu?” tanya Sinka berhenti di depan Rezza dengan wajah heran.

Rezza berhenti menyanyi dan menatap Sinka dengan satu alis naik. “Kenapa emang? Gaboleh?”

“Ya gapapa sih, nggak nyangka aja orang kaya kamu juga suka musik jadul,” jawab Sinka.

“Lu suka musik jadul?”

“Nggak terlalu sih, cuma tau beberapa.”

“Apa yang lu tau, biar gue nyanyiin kalo gue tau.”

Love of My Life – Queen, aku suka itu.”

“Oke bentar.”

Kemudian Rezza mencari kunci dasar yang sesuai dengan nadanya.

“Tapi sorry kalo suara gue nggak sebagus Freddie Mercury,” ucap Rezza sebelum mulai menyanyi.

Selama Rezza menyanyi, Sinka hanya menatapnya sambil tersenyum, terlihat sekali bahwa ia menikmati moment itu.

“Gimana?” tanya Rezza setelah selesai menyanyi.

“Ya… lumayan, nggak jelek-jelek amat,” jawab Sinka memiringkan bibirnya.

“Nyesel gue nyanyi buat elu,” Rezza menatap Sinka dengan wajah datar lalu meminum soft drink yang dibawa Sinka.

“Hihihi…, bagus kok, cuma kayaknya tadi kamu ngambil nadanya ketinggian,” ucap Sinka tersenyum.

“Masa?” tanya Rezza sambil menaikkan satu alisnya.

Sinka hanya mengangguk dan tersenyum.

“Bodo, hahaha…,” ucap Rezza tertawa.

“Ihh!!” Sinka langsung cemberut dan memalingkan wajahnya.

“Dicariin ke mana-mana malah pacaran di sini, dasar,” ucap seseorang yang baru saja memasuki apartment Sinka.

Rezza dan Sinka langsung menoleh ke orang yang ternyata adalah Naomi.

“Pulang sana, kasian tuh Melody panik dari tadi nyariin kamu,” suruh Naomi berjalan menuju sofa lalu duduk.

“Ngapain pake dicariin segala? Kurang kerjaan amat,” tanya Rezza dengan wajah heran.

“Ya karna kamu tadi perginya nggak bilang-bilang dulu! Kebiasaan banget sih,” jawab Naomi ketus.

“Udah kamu pulang dulu sana, kasian kak Melody,” suruh Sinka.

Rezza meminum kembali soft drink-nya lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Sinka setelah melihat Rezza berhenti di depan pintu.

“Hooh,” Rezza mengangguk dan menatap Naomi yang duduk di sofa.

“Apa yang ketinggalan?” tanya Naomi mengernyitkan dahinya.

“Pacar,” jawab Rezza sambil cengengesan.

“Udah sana pulang!” suruh Naomi sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Rezza.

Rezza menangkap bantal itu lalu melemparkannya kembali pada Naomi.

Reaksi Naomi yang lambat membuat bantal itu mendarat dengan mulus di wajahnya.

“Ihhh!! Rezza!” teriak Naomi dengan wajah kesal.

Rezza pun langsung membuka pintu dan berlari menjauh, sedangkan Sinka hanya tertawa kecil melihat semua itu.

~oOo~

“Kamu dari mana aja sih?” tanya Gre yang baru saja dari lantai dua.

“Naomi,” jawab Rezza menghampiri Gre lalu mencium pipinya.

“Ngapain? Kak Naomi kan tadi di rumah kak Ayana,” Gre menatap Rezza dengan bingung.

“Kan ada Sinka di sana,” Rezza tersenyum lalu berjalan ke kamarnya.

“Ohh…, jadi ceritanya lagi deketin Sinka nih?” goda Gre sambil memainkan alisnya.

“Jangan suka ambil kesimpulan seenak jidat,” ucap Rezza menoleh ke arah Gre dengan wajah datar.

Gre hanya terkekeh lalu kembali menonton TV.

Beberapa menit kemudian Rezza keluar lagi dari kamarnya setelah melepaskan jaket dan celana panjangnya.

“Kak Melody mana?” tanya Rezza duduk di sebelah Gre.

“Tumben manggil kak Melody, biasanya juga manggil orang cebol, tuyul ato apa lah,” jawab Gre menatap Rezza dengan heran.

Rezza hanya diam dan menyandarkan kepalanya ke bahu Gre.

Kemudian hening, mereka berdua fokus menonton TV.

“Pret,” panggil Rezza sedikit mengangkat kepalanya.

“Hmmm,” gumam Gre tanpa menoleh.

“Lu percaya nggak kalo orang nunjukin rasa sayangnya beda-beda?” tanya Rezza.

“Tumben nanya kaya gitu? Kenapa emang?” Gre menatap Rezza dengan heran.

“Gapapa, tiba-tiba aja kepikiran kek gitu,” jawab Rezza mengangkat kepalanya dari bahu Gre.

“Kalo aku sih percaya-percaya aja,” ucap Gre kembali menonton TV.

“Menurut lu, cara gue nunjukin itu salah nggak?”

“Ya enggak lah, lagian gimana mau disalahin, aku aja belom pernah liat kamu nujukin rasa sayang kamu ke orang lain.”

Rezza terdiam sambil menunduk.

“Yaudah lah, nge-jam aja kuy,” ajak Rezza bangkit dari sofa.

“Kuy lah, udah lama juga kita nggak nge-jam berdua,” ucap Gre tersenyum ke arah Rezza.

Rezza menatap Gre dengan wajah datar. “Baru dua hari yang lalu kita nge-jam berdua bego.”

Kemudian Rezza mengambil dua gitar listrik dan juga amplifier dari kamarnya.

“Mau main di mana?” tanya Gre meraih satu gitar dari tangan Rezza.

“Belakang aja lah, biar nggak bangunin kak Melody,” jawab Rezza sambil berjalan ke teras belakang rumahnya.

Gre hanya mengangguk lalu mengikuti Rezza.

Sesampainya di teras belakang, Rezza dan Gre langsung menancapkan kabel pada amplifier dan juga gitar mereka.

“Lu bawa hp kan?” tanya Rezza menoleh ke arah Gre yang duduk di sebelahnya.

Gre hanya menggeleng dengan polosnya.

“Bego, ambil laptop gue sana, kan nggak keren kalo nggak ada suara drum-nya,” suruh Rezza lalu kembali men-setting amplifier.

Beberapa menit kemudian, Gre telah kembali dengan membawa laptop Rezza.

Setelah semua persiapan selesai, mereka membuka sesi jamming itu dengan lagu dari Lamb of Lamb of God – Walk With Me in Hell.

“Kamu terakhir main itu kapan sih?” tanya Gre menoleh ke arah Rezza dengan wajah heran.

“Gatau, kenapa emang?” Rezza menatap Gre dengan satu alis naik.

“Gapapa, langsung lanjut aja,” ucap Gre lalu mencari audio drum Redneck di laptop Rezza.

Mereka berdua juga memainkan beberapa lagu dari Dream Theater, Guns N’ Roses dan beberapa band ‘keras’ lainnya.

~oOo~

“Kenapa? Masih sakit?” tanya Rezza menatap Gre yang sedang memegang jari manis kirinya.

“Enggak, cuma perih doang,” jawab Gre mencoba tersenyum.

Kini mereka berdua sudah kembali ke ruang tengah setelah insiden putus senar yang membuat jari manis Gre terluka cukup dalam.

“Mana sini gue liat,” ucap Rezza menarik tangan kiri Gre dengan paksa.

Rezza menatap jari manis Gre dengan saksama.

“Jangan dipegang!” Gre menepis tangan Rezza saat mencoba membuka lukanya.

“Halah, cuma gini doang, palingan seminggu dua minggu juga sembuh,” ucap Rezza lalu melepaskan tangan kiri Gre.

“Kalo mau cepet sembuh, siram tuh pake alkohol,” lanjut Rezza menunjuk kotak obat yang tergantung di sebelah TV.

“Nggak ah, aku nggak tahan perihnya,” ucap Gre sambil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Rezza.

“Yaudah, tidur kuy,” ajak Rezza lalu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa.

Gre hanya mengangguk lalu tiduran membelakangi Rezza.

“Peluk,” pinta Gre dengan manja lalu menarik satu tangan Rezza.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, itu berarti sudah hampir 3 jam Rezza dan Gre tidur.

Drrtt… drrtt… drrtt…

“Siapa sih nelfon jam segini?!” tanya Gre terbangun dari tidurnya.

Gre meraih smartphone Rezza yang tergeletak di atas meja.

“Kenapa?” tanya Rezza juga ikut terbangun.

“Nih ada yang nelfon,” jawab Gre lalu memberikan smartphone Rezza.

“Siapa?” tanya Rezza setelah mengangkat telfon yang masuk.

 

*to be continue*

Iklan

2 tanggapan untuk “Noor, part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s