Death Lullaby, Chapter five

Kasus ini menjadi lebih rumit dari pada yang aku kira, dengan peran Anin yang kembali menjadi abu abu dalam daftarku, dengan fakta bahwa mungkin Frieska punya andil dalam kasus ini, membuat semuanya penyelidikanku kembali ke titik awal. Dan titik awal dari ini semua adalah Anin, dan sampai sekarang aku belum menemukan apapun tentang gadis itu.

Ada satu hal yang menganggu pikiranku, kemarin Frieska meminta bantuanku tentang Anin. Jika memang Frieska dan Anin terlibat pertengkaran mengapa dia meminta bantuanku, akan lebih mudah baginya untuk diam. Ada Frieska tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia telah berbohong padaku ada kemungkinan ada lebih banyak hal yang disembunyikannya dariku.

Dengan ini ada dua hal yang harus ku lakukan, yang pertama tentu saja mencari tahu hubungan Anin dengan kasus ini. Karena sampai sekarang dia lah satu satunya kemungkinan tersangka yang aku punya. Lalu tentang Frieska, aku harus mencari tahu kenapa dia berbohong padaku dan kemungkinan dia tahu lebih banyak soal kasus ini.

Jika aku tak bisa menemukan Anin disekolah maka tempat lain yang ingin kucoba adalah rumahnya. Dan untuk informasi tambahan tentang target, aku harus memintanya kepada Melody. Prosedur standar karena biasanya kasus yang diberikan hanya berada di area sekolah, karena kali ini aku tak mendapat perkembangan di sekolah maka aku harus meminta informasi tambahan untuk memecahkan masalah ini.

“Pagi Mel,” ucapku ramah saat masuk ke ruangannya.

Melody sepertinya sedang sibuk karena dia bahkan tak memberikan tatapan marah saat aku memanggilnya “Mel”. Dia sedang mengerjakan sebuah dokumen saat aku masuk, mungkin itu alasannya tak peduli dengan hal kecil seperti panggilan dariku.

Aku duduk dikursi menunggu dia selesai dengan pekerjaannya, aku tak ingin menganggu Melody yang sedang serius dengan sesuatu. Aku tidak sedang buru buru jadi aku duduk diam memandangi Melody yang sedang serius, ini menyenangkan. Setelah beberapa menit Melody menutup layar laptopnya dan mengalihkan perhatiannya padaku. Mengakhiri kesenangan pagiku yang kuharapkan berlangsung sedikit lebih lama. Tapi sudahlah saat bermain sudah usai, saatnya bekerja.

“Jadi apa yang membawamu kemari ?” ucap Melody kali ini dengan wajah yang bersahabat.

“Aku tak bisa menemukan informasi apapun tentang Anin disekolah, aku berniat mengunjunginya jadi aku berharap bisa mendapat alamatnya darimu.”

“Baiklah,” Melody berdiri dari kursi kulit bagusnya dan mulai memeriksa lemari arsip yang berada dibelakangnya. “meski cukup aneh saat kau bilang kau tak menemukan informasi apapun. Mengingat kau cukup sibuk kemarin.”

“Aku hanya melakukan apa yang diperlukan,”

“Apakah kau mencurigai adikku Chris ?” Melody membanting sebuah map keatas meja, dia memandangku dengan pandangan yang digunakannya saat ingin mengancam seseorang. Aku yang mengajarinya pandangan itu, tapi sekarang itu tak penting yang menjadi masalah adalah kenapa Melody mengunakannya kepadaku.

“Aku belum mendapatkan informasi yang cukup untuk menyusun hipotesa dan mengambil kesimpulan.”

“Kau tahu itu bukan jawaban yang ingin aku dengar,”

“Tapi hanya itu jawaban yang bisa kuberikan sekarang,” aku mengambil map yang bertuliskan nama Anindhita dan mulai membacanya.

Itu hanya informasi standar siswa, nama, kelas, nilai, dan yang kubutuhkan yaitu alamat. Setelah mencatat alamat Anin aku menutup map itu dan mendorongnya ke sisi meja Melody.

“Kau tahu jika kau harus memberitahuku semua hasil penyelidikanmu, jadi jawab aku. Apa kau mencurigai adikku ?” Melody menaikan nada bicaranya mencoba mengintimidasiku, tapi aku cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu semua hanya gertakan.

“Aku belum punya hasil apapun untuk kulaporkan padamu, dan aku mencurigai semua orang disekolah karena begitulah cara kerjanya. Jadi jika kau mengizinkan ada pekerjaan yang harus kulakukan.” itu semua yang perlu kukatakan sebelum aku meninggalkan ruangan Melody. Meninggalkannya seperti itu bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan, karena aku tak tahu apa konsekuesi yang akan kuterima nanti. Tapi aku tak butuh faktor x tambahan dalam kasus ini, keterlibatan Frieska sudah cukup membuat semua ini rumit.

Aku menghubungi Sagha memintanya membuatkanku sebuah izin, sedikit urusan administrasi yang masih harus kulakukan meski aku mungkin sedang berusaha menyelamatkan sekolah dari histeria massal. Semakin cepat aku memecahkan kasus ini maka akan semakin baik.

Aku mengunakan sepeda motorku untuk pergi menuju alamat yang kudapat dari berkas Anin, dengan jarak yang tak terlalu jauh seharusnya pergi kesana tak membutuhkan waktu banyak. Sebuah panggilan masuk ke handphoneku, sebuah nomor tak dikenali dengan 14 angka. Hanya satu orang yang mungkin menelponku, orang yang sama yang memberitahu Melody tentang penyelidikanku tentang Frieska.

“Hey kenapa kau pergi pada jam sekolah ? Melody mengeluarkanmu dari sekolah ?” ucap Yona dari ujung telepon.

“Belum, aku sedang menuju ke rumah Anindhita,”

“Chris kau menjijikan,”

“Maaf,” ucapku meminta penjelasan.

“Kau sudah ku tolak, memacari Frieska, selingkuh dari Frieska tak hanya dengan sahabat baiknya Ikha dan setengah dari gadis disekolah, sekarang kau selingkuh dengan siswa yang sudah dikeluarkan dari sekolah.”

Aku menghentikan laju motorku, bukan karena hinaan dari Yona tapi ucapannya yang terakhir.

“Anin dikeluarkan dari sekolah ?”

“Iya, dia dikeluarkan untuk memudahkan penyelidikan polisi atas kemungkinan keterlibatannya dalam beberapa kasus teror disekolah.”

“Sejak kapan ?”

“Dua minggu yang lalu,”

Apa yang sebenarnya terjadi, sekarang Anin dikeluarkan dari sekolah ? kenapa tak ada yang memberitahukan ini kepadaku. Aku berkeliling sekolah mencoba mencari tahu informasi tentang seorang gadis yang sudah dikeluarkan dari sekolah dan tak ada yang mau memberitahu fakta bahwa dia sudah dikeluarkan.

Ikha bisa memberitahuku saat aku bertanya kepadanya tentang Anin, maksudku saat ada orang yang bertanya tentang temanmu yang sudah dikeluarkan hal pertama yang kau lakukan adalah memberitahu bahwa dia sudah dikeluarkan. Begitu juga Shinta yang asal bicara pasti menyebutkan fakta bahwa Anin sudah dikeluarkan. Frieska dia bisa…tunggu bukankah Frieska berkata kalau Anin hanya diskors, mengapa dia juga berbohong tentang ini.

“Hey..kau masih disana ?”

“Ya ya, aku hanya…lupakan jadi Anin sudah dikeluarkan lebih dari dua minggu ?” Yona menyadarkanku dan menarikku kembali ke kenyataan. Ini benar benar aneh, aku tak mengerti kenapa kasus ini bisa menjadi begitu rumit. Bukankah aku seharusnya hanya mencari tahu tentang sebuah lagu, ini semua sekarang terdengar seperti sebuah drama politik. Dan aku benci keduanya.

“Itulah yang dokumen ini katakan,”

“Dokumen apa ?”

“Kau tahu, karena aku berhasil masuk ke arsip sekolah aku memeriksa beberapa dokumen dan mencari bahan bacaan.”

“Yona kau hanya ingin mencari kunci jawaban dan merubah nilaimu kan ?

“HEY, aku tak seburuk itu. Iya iya aku nyari kunci jawaban, tapi ini juga termasuk usaha.”

“Iya kau benar, baiklah aku harus pergi. Terima kasih tentang infonya.”

“Kau masih ingin pergi ke rumah Anin ?”

“Iya,”

“Menjijikan.”

Yona mengakhiri panggilannya, aku tak berniat memperbaiki kesalahpahamannya tentang maksudku pergi ke rumah Anin. Aku tak punya waktu untuk itu, kepalaku sudah cukup penuh memikirkan alasan kenapa semua ini menjadi semakin rumit. Lagipula Yona hanya akan menganggap semua itu alasan.

Aku melanjutkan kembali perjalananku, aku sudah membuang cukup banyak waktu untuk berbincang bincang dengan Yona. Dengan semakin rumit, aku punya firasat aku harus segara memecahkan kasus ini. Firasat atau keinginan egoisku untuk selesai dengan masalah ini secepatnya. Apapun itu membuatku mempercepat laju sepeda motorku.

Alamat Anin adalah sebuah kompleks apartemen yang cukup mewah, membuatku berpikir bagaimana seorang siswa mampu membayarnya. Aku tak peduli, tidak untuk sekarang untuk itu. Aku memarkirkan motorku dan cepat cepat menaiki lift menuju kamar Anin yang berada dilantai atas.

Turun dari lift aku berlari menuju kamarnya yang seharusnya berada diujung koridor, saat aku sampai disana ada sebuah teriakan yang berasal dari kamar yang seharusnya adalah kamar Anin. Aku mempercepat langkahku dan mendobrak pintu yang tertutup. Sekali lagi aku mendengar sebuah teriakan, dari arah kamar tidur dan secepat mungkin aku berlari kesana.

Ada seorang pria yang sedang mendorong Anin diatas tempat tidurnya, aku mengambil vas bunga yang ada diatas meja yang ada tepat disamping pintu kamar dan melemparkannya kearah pria itu. Lemparanku tepat mengenai punggungnya, bukan lemparan terbaikku tapi cukup untuk mengalihkan perhatian pria itu dari Anin.

Baiklah melemparnya dengan vas bunga mungkin adalah ide yang buruk, karena sekarang pria itu memandang dengan wajah marah kepadaku. Maksudku benar benar marah, aku hampir bisa melihat uap yang keluar dari mulutnya saat dia menghembuskan napas dengan cepat.

Pria itu memiliki wajah panjang dengan dagu yang hampir kotak, membuat dia kepalanya telihat seperti jajaran genjang karena kepala bagian atasnya tak rata. Wajahnya dipenuhi brewok dengan rambut gondrong acak acakan, membuat dia telihat sangat sangat sangar. Hal lain yang membuat dia seram adalah badannya yang tinggi, serta kaos hitam yang dipakainya tak mampu menutupi badan besar yang dia miliki.

“Siapa kau ?” ucap pria mengerikan itu dengan suara yang berat. Ok dia punya wajah dan badan yang menyeramkan, sekarang dia juga punya suara yang berat ? pria itu hampir terlihat terlalu sempurna untuk seorang penjahat. Dia seperti penjahat di film film hollywood atau mungkin seorang tokoh yang ditulis pada sebuah cerita.

Atau dari kecil pria itu sudah memutuskan untuk menjadi penjahat. Maksudku dia melihat dirinya didepan cermin dan melihat wajah dan badan seramnya dan berkata pada dirinya sendiri. “Hey aku akan menjadi seorang penjahat,” apapun itu sekarang dia sedang memandangiku dengan marah.

“Hmm…aku hanya mengantarkan pesanan, aku driver ojek online bang,” ucapku yang mencoba menenangkan amarah pria itu.

“Ojek online yang mana ? Gojek ? grab ?”

“Bang,”

“APA ?”

“Itu merek bang,”

“Trus apa masalahnya ?”

“Kalo abang nyebut merek nanti dikira iklan bang,”

“Emangnya ini….”

Anin tiba tiba memukul kepala pria itu dengan meja kayu yang membuat pria itu jatuh pingsan. Satu lagi gadis cantik dengan  tenaga samson, tapi sudahlah yang penting aku selamat dari amukan pria menyeramkan itu.

“Telpon polisi,” ucap Anin yang sedang memeriksa keadaan pria menyeramkan yang baru dipukulnya dengan sebuah meja. Aku menuruti perintahnya dan menelpon polisi, menjelaskan bahwa ada seorang pria yang mencoba membunuh Anin diapartemennya.

“Udah ?”

“Udah,”

“Sekarang bantuin ngikat nih orang,”

“Tapi dia udah pingsan,”

“Kalau dia tiba tiba bangun sebelum polisi datang gimana ?”

“OK, good point,”

Aku memeriksa laci dapur dan menemukan sebuah gulungan tali tambang dan dengan bantuan Anin berhasil mengikat pria menyeramkan yang menyerangnya.

“Jadi siapa kau ?” ucap Anin masih mengangkat mejanya tinggi tinggi.

“Chris,” jawabku tak mau mengambil kesempatan bahwa dia bisa saja melemparku dengan meja itu.

“Jadi Chris, apa yang membawamu datang ke rumahku ? apa kau punya feeling bahwa aku akan diserang oleh pria besar ini ?”

“Well, aku ingin bertanya beberapa hal padamu. Aku hanya berharap kita bisa bicara.”

“Bicara ? bisa kau jelaskan apa yang ingin kau bicarakan, kita bahkan tak saling mengenal.”

Dari apa yang kulihat Anin bukanlah gadis polos, dia masih berhati hati denganku meski aku baru saja menyelamatkannya. Dia masih belum percaya sepenuhnya denganku, aku harus mendapatkan kepercayaannya dulu. Setelah itu mungkin dia akan menjawab pertanyaanku, yang kuharapkan dengan jujur.

“Aku adalah pesuruh OSIS,”

“Pesuruh OSIS ?”

“Ya, aku adalah pesuruh OSIS yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus lagu kematian. Melody mencurigaimu dan aku disuruh untuk menyelidikimu,” aku tak mau capek capek membuat alasan, kejujuran adalah cara tercepat untuk menumbuhkan rasa percaya. Sesuatu yang aku butuhkan untuk mendapat jawaban yang kuperlukan.

Anin menurunkan meja yang diangkatnya, syukurlah. Dia duduk dan memandang tepat kearahku. Mungkin sedang menimbang kebenaran dari jawaban yang kuberikan, mungkin itu terlalu aneh baginya hingga dia butuh waktu untuk menerima semuanya.

“Anggap aku percaya kepadamu, bahwa kau kebetulan datang kemari menyelamatkanku saat aku diserang oleh seorang pria berbadan beruang. Bukankah kau pikir itu sebuah kebetulan yang terlalu bagus,”

Dia cantik, pintar, dan kuat.  Bukan saat yang tepat untuk mengaguminya, yang kubutuhkan adalah jawaban yang mungkin akan membantuku memecahkan masalah ini.

“Aku bisa berkata hal yang sama untuk kesempatan kau berada disaat teror lagu itu terjadi,”

“Chris katakan padaku, apa menurutmu aku akan memberikan jawaban yang kau butuhkan ?”

“Aku harap begitu,”

Saat Anin menanyakan pertanyaan itu aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi dan tatapannya. Untuk beberapa saat aku melihat ada tatapan merendahkan atau sombong, dia hampir menarik bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman yang dia tarik kembali. Ditambah aku merasakan perubahan nada bicara dipertanyaannya barusan, sedikit lebih tinggi dari beberapa ucapan sebelumnya.

Aku belum mengerti maksud semua perubahan ekspresi dan nada bicaranya itu, untuk sekarang aku hanya bisa percaya bahwa dia berkata jujur padaku. Aku hanya perlu memastikan ucapannya.

“Jadi kau menaruh harapan yang tinggi pada gadis yang baru kau temui ?” kali ini dia tersenyum, bukan senyuman biasa. Ditambah dengan nada bicara yang sangat kukenali itu, dia sedang merayuku.

“Bisa dibilang hanya kau lah pentunjuk dan harapanku.” Sedikit kebohongan disana tapi aku pikir aku hanya sedikit merubah pendekatanku, aku akan mengikuti permainannya.

“Baiklah, aku yakin kau punya beberapa pertanyaan yang ingin dijawab. Tapi aku sedang ingin makan siang saat pria beruang ini menyerangku,” dia menunjuk ke pecahan piring yang berserakan dilantai, dan sesuatu yang terlihat seperti sisa sisa chocolate fondue. Hidangan yang aneh untuk dimakan disiang hari sendirian.”Aku pikir akan lebih menyenangkan bicara ditempat lain yang memiliki santapan lezat.”

“Baiklah, aku kita bicara sambil makan siang,”

“Aku akan memberitahu menager tempat ini dan memintanya menjelaskan semuanya pada polisi,”

“Aku akan menunggumu diparkiran.”

Aku turun terlebih dahulu dari apartement milik Anin dan langsung menuju keparkiran. Ada sesuatu yang terasa janggal dengan Anin, seperti Frieska aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Semenjak aku tak bisa meminta Sagha untuk menyelidiki Anin maka hanya ada satu pilihan yang tersisa.

“Hei Yon, aku butuh bantuanmu,”

“Chris bagaimana kau bisa menelpon nomorku yang sudah ku enkripsi ?”

“Aku membalikan loopnya seperti yang kau ajarkan dulu,”

“Ah sial, seharusnya aku tak mengajarimu apapun.”

“Aku butuh bantuanmu,”

“Kenapa aku tidak terkejut,” nada sarkastik yang bahkan tak coba dia tutupi.

“Aku akan memberikan dua set deck milikku sebagai imbalannya,” yang kutahu dari Yona adalah dia hanya akan mau membantuku jika hal itu menarik baginya seperti membobol mainframe sekolah, atau memiliki imbalan yang dia inginkan. Dan aku bersyukur aku tahu apa yang dia inginkan.

“Aku sudah punya semuanya Chris,”

“Tidak dengan satu set Exodia,”

“Aku sudah punya semua kartu dewa, semoga beruntung dengan urusanmu,”

“Tunggu !!!” ucapku hampir berteriak.

“Apa yang mungkin kau berikan ?”

“Kartuku ditandatangani oleh Kazuki Takahashi,”

“Bohong,”

“Kau ingat aku pernah menghancurkan ruang klub anime, coba tebak ketuanya punya satu set kartu yang didapatnya langsung dari kantor Konami.”

Tak ada jawaban untuk beberapa detik, yang menunjukan Yona sedang memikirkan tawaranku. Satu set yang ditandatangani langsung oleh ilustrator asli dari kartu tersebut pasti sulit untuk ditolak.

“Baiklah tapi jika kau bohong maka kau tahu apa yang bisa kulakukan,”

“Cukup adil,”

“Jadi apa yang kau inginkan ?”

Akhirnya.

“Aku ingin kau mencari semua informasi yang kau bisa tentang Anindhita,”

“Ayolah aku tak akan membantumu mengesankan seorang gadis,”

“Yon kau tahu kenapa aku ingin informasi tentang Anin,”

“Baiklah,”

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Anin datang, dan untuk suatu alasan dia sekarang memakai parfume.

“TGI Friday ?”

“Tentu saja,”

-Chris Vylendo-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s