Cherry Blossoms, Chapter2

Banner Cherry Blossoms Chapter 2

Hujan turun di langit kelabu yang diselimuti oleh sekumpulan awan hitam. Membasahi setiap benda yang ia temui. Membuat aroma kenangan yang takkan dilupakan.

“Tik..Tik..Tik.. Bunyi hujan diatas genteng~”

“Iih! Kak Vienny! Suaranya cempreng!”

Sepasang gadis berteduh dibawah atap dedaunan pohon pisang yang cukup lebar untuk mereka berdua. Mereka tampak terjebak di tempat tersebut diakibatkan oleh hujan yang cukup lebat.

“Kak Vienny,” ucap salah seorang gadis dengan rambut yang dikuncir dua. “Aku takut.”

“Hihi,” gadis yang dipanggil ‘Kak Vienny’ tertawa pelan.

“Kok ketawa sih?” gadis itu memegang lengan kiri gadis satunya.

Gadis itu mengelus puncak kepala gadis yang sedang ketakutan. “Tenang aja Ayana. Kak Vienny akan selalu jaga kamu.”

-o0o-

            Hujan yang sedari tadi turun belum kunjung selesai. Di sebuah sekolah yang masih disirami air hujan, seorang perempuan tampak berdiri berkecak pinggang sambil sesekali mengeluh.

“Hujan lagi. Mana aku gak bawa payung,” perempuan itu menggaruk rambutnya.

“Untung bawa payung.”

Seorang lelaki tiba-tiba muncul disamping kiri perempuan itu sambil mengeluarkan sebuah payung mini dari dalam tasnya.

Perempuan itu menoleh ke arah lelaki tersebut berdiri, dan begitu juga dengan lelaki tersebut.

“Heh?”

[Cherry blossoms]

            Kring…Kring

            “Selamat datang,” ucap seorang pelayan menghampiri kedua pelanggan yang baru datang, “Meja untuk 2 orang?”

“Ah, iya,” jawab seorang pelanggan lelaki yang baru datang.

“Silahkan ikuti saya,” jawab pelayan tersebut tersenyum sambil berjalan.

Kedua pelanggan tersebut kemudian mengikuti pelayan yang berjalan menuju sebuah meja yang terletak di pojok.

“Silahkan pilih menunya,” tawar pelayan tersebut sambil memberikan buku menu saat kedua pelangganya sudah duduk.

“Hmm,” pelanggan lelaki tersebut melihat dengan teliti buku menunya, “2 special fruit cake sama 1 jus melon.”

“Baik. Ada tambahan?”

“Kak Yon?” pelanggan lelaki tersebut menoleh ke arah pelanggan perempuan yang bersamanya dari tadi.

“Engga.”

“Baik. Mohon ditunggu ya,” ucap pelayan tersebut ramah sambil mengambil buku menu, “Saya pergi dulu.”

Setelah kepergian pelayan tersebut, perempuan tadi memandang tajam lelaki yang memainkan handphonenya.

“Van, kok tumben ngajak kesini?” tanya perempuan tersebut.

“Lagian, dirumah kakak mukanya suram amat. Sekali-kali keluar lah,” balasnya dengan tatapannya masih memandang layar handphone.

“Huft,” perempuan tersebut menghela nafasnya.

“Tenang aja. Kak Yona bakal suka sama makanannya.”

Selang 15 menit mereka menunggu, sang pelayan kembali sambil membawa pesanan yang dipesan Rivan tadi.

“Silahkan dinikmati.”

Setelah kepergian pelayan tersebut, Yona memandangi fruit cake yang sudah siap disantap di depannya.

“Kenapa harus fruit cake?” tanya Yona heran.

“Karena itu adalah fruit cake,” jawab Rivan santai, “Udahlah, makan aja. Dijamin enak.”

Yona memanyunkan bibirnya, lalu dengan perlahan dia memotong ujung fruit cake tersebut dengan sendok alumunium yang ia pegang.

Hap

“Hmm?”

Rivan mengembangkan senyumnya saat melihat Yona yang tersentak kaget saat memasukan sepotong fruit cake tersebut ke dalam mulutnya.

“Enak,” ucap Yona pelan.

“Pasti lah.”

Yona pun melahap makanan tersebut dengan rakus seperti orang yang belum makan selama 1 bulan. Rivan yang melihat tingkah kakaknya tersebut hanya bisa menggeleng sambil melanjutkan makannya.

“Makannya santai aja dong.”

“Biarin.”

10 menit berlalu, akhirnya aktivitas mengisi perut telah selesai dilakukan oleh Yona maupun Rivan. Rivan memainkan handphone miliknya sambil menyeruput jus melon yang tinggal setengah sedangkan Yona memukul sendok ke piring kecil bekas kue.

“Udah kan? Pulang yuk,” ajak Rivan sambil menaruh gelas yang sudah kosong.

“Eiits, bentar. Beli kue buat di rumah dulu.”

“Yaudah beli aja.”

“Duitnya?”

“Lah, kak Yona gak bawa duit emangnya?” tanya Rivan bingung.

“Hehe,” Yona menunduk malu-malu lucu.

“Hadeeh,” Rivan mengeluarkan dompet dari saku celanannya, “Nih, beli 2 ya. Terserah rasanya,” ucapnya sambil memberi dompet tersebut.

“Siap!” balas Yona semangat.

“Gua tunggu di depan ya,” Rivan beranjak dari tempat duduknya.

Yona mengangguk kemudian pergi menuju kasir untuk memesan kue sedangkan Rivan berjalan ke arah pintu cafe.

“Heh?” ucap Rivan saat melihat seseorang yang dikenalnya membuka pintu cafe dari arah luar.

“Hah? Ripan?” panggil orang itu saat melihat Rivan.

“Rivan!” koreksi Rivan.

“Hehe. Santai aja dong,” ucap lelaki tersebut sambil mendekati Rivan, “Lama banget ya gak ketemu,” lelaki tersebut merangkul Rivan dari samping.

“Lebay lu Za. Tiap hari ketemu ama gua juga.”

“Lebay dikit boleh lah,” Lelaki yang dipanggil ‘Za’ tersebut memandang langit-langit cafe, “Karena lu teman seperjuangan.”

“Nyesel gua nonton Love Live,” Rivan mencoba melepaskan rangkulannya.

“Temen lu ini, Heza Anggaskara, senang mempunyai teman sepert anda.”

“Karena lu gak punya temen lain.”

“Oke, cukup,” Heza mengisyaratkan untuk berhenti, “Ngapain lu disini?”

“Beli kue,” Rivan menunjuk seorang perempuan dibelakangnya dengan jari jempol, “Ama kakak gua.”

“Wih! Cakep juga,” mata Heza berbinar.

“Masih suka cewek asli lu ternyata.”

“Hahaha. Taik. Kayaknya gua demen nih ama kakak lu,” Heza mengelus dagunya.

“Yakin lu? Dia itu jago berantem. Dia pernah ngalahin 10 preman kurang dari 2 menit,” ucap Rivan dengan nada seram.

“Anjir. Gajadi demen dah gua,” balas Heza ketakutan.

“Hahaha. Lu ama cewek 2D aja udeh,” Rivan mendorong pelan pundak Heza.

“Bener juga ya,” Heza kembali mengelus dagunya.

Rivan menatap malas Heza dan menghela nafasnya. Dibelakang mereka, Yona berjalan mendekati sambil membawa sebuah kantong di tangan kiri dan dompet di tangan kanan.

“Nih,” Yona memberikan dompetnya ke Rivan.

“Beli 2 kan?”

Yona mengangguk.

“Bagus deh. Oh iya kak, kenalin ini temen sekelas gua, Heza,” Rivan memperkenalkan Heza.

“Heza kak,” ucap Heza sopan.

“Yona,” Yona tersenyum simpul.

“Yaudeh Za. Gua balik duluan,” pamit Rivan ke Heza.

“Yo! Hati-hati di jalan,” balas Heza.

Yona melambaikan tangan ke Heza sedangkan Rivan membuka pintu cafe dan menabrak seorang perempuan.

BRUK

“Aduh,” keluh perempuan tersebut sambil jatuh.

“Eh, sorry-sorry. Gak sengaja,” Rivan mengulurkan tangannya ke perempuan itu.

“Ah, harusnya aku- Eh?”

BRUK

Tiba-tiba Rivan didorong ke samping oleh Yona dengan sangat amat kencang hingga dia terjatuh dan membuat sebuah hiasan dimukanya.

“Duh, maafin adek aku ya,” Yona tersenyum tanpa dosa.

“He-eh? Ha-harusnya aku yang minta maaf. Maafin aku ya mbak.”

“M-Mbak?” kaget Yona.

“Hiih,” perempuan itu ikutan kaget.

“BWAHAHAHAHAHA! MBAK YONA!” teriak Rivan keras dengan posisinya yang masih tergeletak.

BLETAK

Yona melempar dompetnya ke kepala Rivan yang dari tadi berada di tas kecilnya dan mengenai Rivan.

“Maaf ya,” ucap Yona sambil tersenyum tanpa dosa lagi.

“I-iya,” perempuan itu menjauhkan jaraknya dari Yona.

“KAK! LU BAWA DOMPET NGAPA GUA YANG BAYAR!” teriak Rivan lagi dengan posisi yang masih sama.

“DIAM KAMU RIVAN!” teriak Yona ke Rivan dan membuat Rivan bungkam.

“Eh? Rivan?” perempuan itu melihat ke Rivan.

Rivan bangkit dari posisi matinya sambil memegangi dahinya yang terluka kemudian berjalan menuju Yona.

“Kalo kak Yona yang bayar kan gua bisa menghemat duit,” Rivan menyodorkan dompet Yona.

“Pelit amat sih,” Yona mengambil dompetnya.

“A-anu, maaf,” Yona dan Rivan melihat ke perempuan itu. “Anu, payung kemarin belum dibalikin.”

“Eh? Oh, payung kemaren? Iya-iya,” Rivan memanggut-manggut. “Santai aja.”

“I-iya, maaf ya,” ucap perempuan itu lirih.

“Pfft. Gak usah minta maaf mulu dong,” Rivan merapikan rambutnya. “Oiya, nama lu siapa? Kita belom kenalan kan?”

“Ayana.. Ayana Shahab. Kamu Rivan kan?”

“Yak benar. Dan ini kakak gua,” Rivan memperkenalkan Yona.

“Yona. Panggil kak Yona aja ya, jangan pake ‘mbak’,” Yona mengulurkan tangannya.

“A-ah, iya maaf ya kak Yona,” Ayana menyambut uluran tangan Yona. “Kalau gitu, aku masuk ya.”

Perempuan yang bernama Ayana itu memasuki cafe diikuti pandangan mata Yona dan Rivan di belakangnya.

“Cantik juga. Siapa kamu Van?” tanya Yona dengan mata sinis.

“Temen lah,” balas Rivan santai. “Pulang gak nih?”

“Ayok lah,” Yona mulai berjalan ke arah parkiran.

Mereka berdua pun berjalan dengan Yona di depan dan Rivan di belakang. Setelah beberapa langkah, Yona berhenti karena merasa Rivan tidak mengikutinya?

“Rivan?” Yona melihat Rivan kebingungan.

“Kak,” Rivan merogoh saku celananya panik.

“K-kenapa?”

“Kunci motor dimana ya?” Rivan nampak pucat.

Ya… Begitulah hari itu.

[Cherry blossoms]

Suasana pagi yang dingin telah menyelimuti salah satu daerah di ibukota tercinta kita, Jakarta. Tak sedikit para siswa yang bersekolah memakai jaket untuk menghangatkan dirinya dan orang lain (?).

“Brrr.. Tumbenan dingin kayak gini,” Rivan menaikkan resleting jaketnya ke paling atas.

Pandangan mata Rivan yang menyusuri koridor sekolah kemudian berganti ke seorang perempuan yang berada agak jauh di depannya.

“Yo,” Rivan menepuk pundak kiri perempuan itu setelah berhasil menyusulnya.

“Aaaah!”

Sontak perempuan itu kaget dan menjatuhkan buku yang dipegang oleh kedua tangannya.

“Eh, sorry-sorry,” Rivan membungkuk dan mengambil buku-buku yang berserakan kemudian memeberikannya ke perempuan itu.

“A-ah, maafin aku juga. Aku orangnya kagetan,” perempuan itu menerima buku dari Rivan.

“Hahahaha, yaudeh,” mereka berdua melanjutkan perjalanan menyusuri koridor. “Biasanya dateng jam segini ya, Ayana?”

“Hehe, iya. Abis di rumah gak ada kerjaan lagi,” perempuan bernama Ayana itu membalas dengan senyum manisnya yang bikin diabetes(?)

“Oh, kalo gua sih ga biasanya jam segini dateng.”

“Siapa?”

“Gua.”

“Yang nanya,” Ayana tersenyum ke Rivan.

“Taik,” batin Rivan sambil membalas senyuman Ayana.

            “Hahahahaha,” Ayana tertawa terbahak-bahak. “Bercanda Van. Jangan diambil hati ya.”

“Iya, gak apa-apa. Udah biasa diginiin.”

“Sabar ya. Puk-puk,” Ayana menepuk punggungg Rivan.

Mereka berdua melanjutkan perjalanannya dengan Rivan di depan dan Ayana di belakangnya. Ruangan demi ruangan dilalui dan sampai akhirnya di depan kelas X-E.

“Errr, Ay,” panggil Rivan.

“Ya?”

“Kok lu ngikutin gua sih?” tanya Rivan kebingungan.

“Lah, ini kan kelas aku juga.”

“Kita sekelas?”

Ayana menganggukan kepalanya lucu.

“Kamu baru tau?” tanya Ayana lucu.

“Errr, lu jarang nongol sih. Pas absen gua juga ga fokus,” Rivan menggaruk kepalanya.

“Oh.”

Hanya itu balasan Ayana dan kemudian ia memasuki kelas dengan muka yang tidak sesenang tadi.

BRUK

            “HEZAAA! BALIKIN BUKU AKUUU!”

Ayana yang baru saja memasuki kelas langsung mundur lagi karena terlihat Shani dan Heza sedang kejar-kejaran romantis.

“BODOOOO! HAPUS FOTO YANG KEMAREN DULU!” teriak Heza sambil mengangkat tinggi buku hijau milik Shani dengan tangan kanannya.

“IIIH! NGESELIN!”

Sementara Heza dan Shani sedang kejar-kejaran romantis, Rivan yang sudah memasuki kelas menghampiri Nadila yang sedang duduk.

“Kenapa lagi ntuh?” tanya Rivan.

“Biasa,” Nadila merenggangkan tangannya ke atas. “Shani foto barang jejepangannya Heza dan akhirnya dia diancem deh.”

“Yang satu lebay yang satu polos,” Rivan menghela nafasnya.

“Kamu kan juga suka gituan,” Nadila menatap tajam Rivan.

“Gua gak lebay, oke? Lagian gua juga cuma sekilas tau doang.”

“Bagus.”

Rivan menghela nafas lega sambil mengelus dada karena berhasil meyakinkan bahwa dirinya bukan ‘freak’.

“Loh,” Rivan melihat kesamping kanan kirinya. “Ayana mana?”

“Ayana?” tanya Nadila.

“Iye, tadi gua jalan bareng ke kelas ama dia.”

“Oh,” Nadila memanggut-manggut. “Tuh,” ia menunjuk ke salah satu meja belakang.

“Lah, iya. Ngapain dia sendirian disono?”

“Mana aku tau. Tanya aja dianya.”

“Lu bukannya suka ikut perkumpulan gosip sekolah ya Nad?” tanya Rivan dengan nada mengejek.

“Ih! Enggak ya!” Nadila memanyunkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya. “Tapi yang aku denger dia dijauhin temen masa kecilnya gitu terus ya gitu deh.”

Tidak ada balasan dari Rivan yang membuat Nadila kebingungan dan menoleh ke Rivan yang sedang tersenyum mengejek.

“Enggak! Aku gak gosip! Aku cuma denger dari kelas sebelah!” Nadila mencoba mengelak.

“Iya-iya. Gua tau kok, jujur itu susah.”

“Enggaaaaak!”

“GUA LEMPAR YA!”

BLETAK

            Sebuah buku mendarat di bagian belakang Rivan dengan keras. Pelaku pelemparan hanya bisa bergidik ngeri dan tersangka satu lagi menutup mulutnya.

“Kamu lemparnya gak bener!” bisik Shani dengan pelan.

“Mana gua tau!” balas Heza dengan bisikan.

“Terus gimana?”

“Woi…” Rivan menatap tajam Shani dan Heza.

“KABUR LAH!”

Heza langsung berlari keluar kelas dengan kecepatan yang tinggi. Sementara Shani mencoba mengambil bukunya dahulu lalu kabur.

“AMPUN VAN!” teriak Shani dari luar kelas.

Rivan hanya bisa mengelus kepala bagian belakang yang terkena lemparan buku diiringi dengan tawa Nadila yang menggelegar.

“Bodoh.”

-o0o-

Kring..Kring..Kring

“Satu..dua.. TIGAAA! LARI!”

Laki-laki yang menyebabkan sebuah pertengkaran pagi ini yang tak lain adalah Heza berlari keluar kelas dengan cepat.

“Anak-anak sekarang bersemangat sekali ya, hebat-hebat,” ucap sang guru yang masih berada di dalam kelas. “Kalau begitu bapak pamit ya.”

Seiring dengan keluarnya guru tersebut, para murid pun juga keluar dari kelas untuk melakukan aktivitas sampingan mereka.

“Et, Shan. Mau kemana,” Rivan menahan tangan Shani yang hendak keluar kelas.

“Eh, Rivan. Hehe,” Shani tersenyum ketakutan. “A-aku ada urusan- Ah-iya! Aku disuruh kak Frieska bikin kue buat ulang tahun pak Broto.”

“Pak Broto? Siapa tuh? Emang guru kita ada yang namanya Broto?”

“Err, udah ya, aku buru-buru,” Shani melepaskan genggaman tangan Rivan dan kabur. “Dadaaaah~”

“Hadeeeh,” Rivan berkecak pinggang sambil menghela nafas kasar.

“Sabar ya Van,” ucap Nadila di sebelahnya dengan nada ejek.

“Iye-iye. Lu mau kemana Nad?”

“Aku? Ke perpus. Pengurus perpus disuruh kumpul katanya,” Nadila merapihkan buku yang ia pegang.

“Loh lu pengurus perpus? Sejak kapan?”

“Udah lama kali. Yaudah ya Van, aku ke perpus dulu,” ucap Nadila seraya meninggalkan Rivan di kelas.

“Gua jajan ndiri dong?”

Rivan melihat ke seisi kelas yang sudah sangat sepi. Tapi masih ada satu orang yang bisa ia ajak untuk pergi ke kantin.

“Ayana,” panggil Rivan.

“Hiih!” Ayana lagi-lagi kaget. “Eh, kenapa Van?”

“Ke kantin yuk!”

“Tapi.. duit aku lagi..” Ayana terlihat lesu.

“Gua jajanin.”

“Ayok!” ucap Ayana bersemangat.

Mereka berdua pun berjalan ke kantin dengan perasaan senang. Walaupun hanya Ayana yang terlihat sangat bersemangat.

“Wah rame juga,” ucap Ayana sesaat sampai ke kantin.

“Yaiyalah.”

Mereka berdua pun memasuki kantin yang ramai dan memilih stand yang cukup sepi agar tidak terlalu lama mengantre.

“Jus jeruk!” seru Ayana.

“Lu mau jus jeruk?”

Ayana mengangguk sambil menaruh kedua tangannya yang dikepal di bawah dagu.

“Yaudah. Bu, 1 jus jeruk sama 1 jus melon ya,” ujar Rivan ke penjual jus.

Penjual tersebut menganggukan kepalanya kemudian ia mulai meracik bahan bahan untuk jus pesanan Rivan dan Ayana.

Setelah sekitar 3 menit menunggu, akhirnya jus siap untuk disantap.

“Nih bu,” Rivan memberikan selembar uang 10 ribu. “Pas kan ya?”

“Iya,” penjual itu menerima uang tersebut. “Makasih ya dek.”

“Sama-sama bu. Ayo Ay,” ajak Rivan ke Ayana. Ayana pun mengangguk sambil menyeruput jus jeruknya.

“Udah jajannya?” tanya Rivan.

“Sebenernya pengen kue coklat juga sih. Hehe,” Ayana tersenyum penuh arti.

“Iye-iye,” Rivan merogoh saku celananya dan memberikan uang 10 ribu ke Ayana. “Lu aja yang beli ya, gua tunggu di depan kantin.”

“Makasih ya Van,” Ayana menerima uang tersebut kemudian pergi ke tempat dimana kue coklat dijual.

Rivan pun berjalan ke arah luar kantin. Belum sampai 10 detik tiba-tiba ia berhenti karena mendengar seseorang terjatuh.

“Aduuuh! Bisa jalan gak sih lu!?” hardik seorang perempuan ke Ayana yang terjatuh.

“A-ah, maaf,” ucap Ayana ketakutan.

Girls, itu jusnya, iiih! Pake tumpah segala,” seru perempuan disebelahnya.

“Heh! Jalan tuh pake mata ya!” lanjut perempuan disebelahnya lagi.

“Pake kaki lah, masa pake mata,” batin seisi kantin.

“Maafin aku,” Ayana tertunduk lemas.

“Gimana sih! Elo itu-“

“Ayana, lu gak apa-apa?” Rivan datang menghampiri Ayana lalu mengulurkan tangannya.

“E-eh? Rivan? Gak apa-apa kok,” Ayana menyambut uluran tangan Rivan.

“Eh! Lo pacarnya ya?” tanya perempuan yang terlihat seperti ketuanya.

Rivan dan Ayana menoleh ke arah perempuan tersebut kemudian Ayana menundukan kepalanya.

“Pusing?” tanya Rivan ke Ayana.

Ayana menggelengkan kepalanya.

“KALO ADA ORANG NGOMONG RESPON NAPA!” teriak perempuan yang tadi bertanya.

Rivan pun menoleh ke arahnya. “Masalahnya apa ya? Dia yang dirugikan disini loh.”

“Dia yang nabrak kita!”

“Enggak! Mereka sengaja nabrak aku tadi!” bela Ayana.

“Gak usah sok iye-“

“HENTIKAN!”

Pandangan seluruh pengunjung kantin menuju ke arah sumber suara yang baru saja berteriak. Terlihat 3 perempuan datang menghampiri keributan di kantin.

“Ada apa ini?” tanya salah seorang dari ketiga perempuan yang baru datang.

“Lah! Kalian siapa? Ngapain ikut-ikutan urusan sini?” perempuan yang seperti ketua itu berteriak ke arahnya.

“Oh, kalian anak kelas sepuluh ya. Baiklah,” perempuan itu mengibaskan rambutnya. “Perkenalkan saya Shinta Naomi kelas XI.”

“Aku Jessica Veranda, sekelas sama Naomi,” ujar perempuan berambut panjang disebelah Naomi.

“Devi Kinal Putri,” perempuan disebelah Ve ikut memperkenalkan diri.

“Kak Nao sok cool dah,” batin Rivan.

“Jadi, ada masalah apa disini?” tanya Naomi.

“Cih! Dia nabrak gua!” perempuan itu menunjuk Ayana.

“Bukan! Dia yang nabrak aku!” Ayana kembali membela dirinya.

“Oke-oke stop! Sekarang gak penting siapa yang nabrak. Yang penting kamu gak kenapa-napa kan?” tanya Naomi ke perempuan itu. “Sebentar, kamu Ratu Vienny bukan?”

“Emangnya kenapa ya, Shinta Naomi?” ujar perempuan yang bernama Vienny.

“Heh! Sopan sedikit sama kakak kelas!” ancam Kinal ke Vienny.

“Ah! Malesin banget! Cabut deh Girls!”  ujar Vienny ke teman-temannya kemudian meninggalkan kantin.

“Masalah terselesaikan,” Naomi menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kak Nao,” Panggil Rivan.

“Hmm? Kenapa Van?” balas Naomi sambil tersenyum mengelus rambut Rivan.

“Enggak. Makasih ya.”

“Ini semua demi keamanan sekolah,” balas Naomi.

“Padahal biar di kenal adek kelas terus pas pemilihan ketua osis dipilih deh,” celetuk Kinal.

“Ya.. itu juga termasuk,” Naomi terkekeh.

“Kamu gak apa-apa kan?” Ve menghampiri Ayana.

“E-eh? Aku gak apa-apa kok kak,” balas Ayana gugup.

“Hmmm,” Ve menaruh telunjuknya di dagu. “Tapi minuman kamu jatuh ya.”

Mereka melihat minuman yang sudah jatuh dan tumpah di lantai.

“Oh iya!” Ve merogoh saku roknya. “Ini ada cemilan coklat. Makan ya,” Ve memberi Ayana sebatang coklat yang lumayan besar.

“Gak usah kak. Jadi ngerepotin,” tolak Ayana.

“Gak ngerepotin kok,” Ve menarik lengan Ayana dan menaruh coklat di atas tangan Ayana. “Dimakan ya.”

“M-makasih ya kak,” Ayana memegang coklat itu dengan kedua tangannya.

“Terus, tumpahan minumannya?” tanya Rivan.

“Gampang itu mah,” Naomi mengelus lehernya. “ANDRIIII!”

Dengan kecepatan cahaya, datanglah seorang lelaki di hadapan Naomi.

“Ya! Saya datang!” ucap lelaki itu bersemangat.

“Bantuin gua ya. Beresin itu,” Naomi menunjuk minuman yang tumpah.

“Oke! Dengan senang hati!” Andri pun pergi lagi untuk mengambil peralatan kebersihan kemudian datang kembali dan mulai membersihkan tumpahan minuman.

“Siapa kak?” tanya Rivan berbisik.

“Hanya seorang teman yang menjadi pelayan yang loyal,” balas Naomi santai.

“Makasih ya kak,” ucap Ayana ke Naomi.

“Sama-sama,” Naomi mengelus kepala Ayana. “Yaudah kalo gitu kakak balik ya. Yuk Ve, Nal.”

“Sampai ketemu ya,” Pamit Ve kemudian mereka bertiga meninggalkan kantin.

“Jadi, masih mau jajan?” tanya Rivan.

“Gak usah deh. Udah dikasih coklat ama kak Ve,” Ayana menaruh coklatnya di saku. “Ke kelas aja ya Van.”

Rivan mengangguk dan mereka berjalan ke kelas mereka.

“Makasih ya Van,” ucap Ayana pelan. “Maaf.”

“Iye.”

[Cherry blossoms]

“Permisi,”

Cekrek

“Hadeeeh,” Rivan menghela nafas kasarnya setelah keluar dari ruang guru.

Pasalnya ia baru saja dimarahi karena buku salah satu guru yang mengajar di kelasnya tertinggal dan tidak dikembalikan malah di corat coret.

“Yang nyoret siapa, yang kena siapa,” monolognya sambil berjalan menyusuri koridor sekolah di lantai 2.

“GAK ADIL!” dia memukul tembok di sampingnya.

BRUK

            “HEH JANGAN BANYAK ALESAN LU!”

“Eh!? Ampun bang!” ucap Rivan ketakutan berjongkok sambil melindungi dirinya. Merasa tidak ada yang di sekitarnya ia mulai celingak celinguk. “Lah, suara siapa tadi?”

Rivan pun mendengar suara ribut yang berada di salah satu lorong. Kemudian ia mendekatinya dengan pelan dan hati-hati. Setelah sampai ia mengintip sedikit. Terlihat disana ada 2 orang siswa yang sedang memalak 1 siswa lain.

“Wah, gak baik ini,” Rivan menggelengkan kepalanya.

“Ini harus ditindak lanjuti,” tiba-tiba muncul suara di sampingnya.

“Errr, Za? Ngapain?” Rivan menoleh ke samping.

“Pengen memberantas kejahatan,” ucapnya bangga.

“Tadi pagi siapa ya yang lempar buku ke kepala orang?”

“Itu ketidaksengajaan Van. Harap maklum,” Heza menepuk pundak Rivan.

“Terus? Lu mau bantuin yang dipalak itu?”

“Iya.”

“Caranya?”

“Gampang,” Heza merogoh saku celananya kemudian mengambil 2 buah jepitan jemuran warna merah dan biru. “Nih ambil.”

“Gua maunya warna biru,” tolak Rivan.

“Heeeh, yaudeh nih,” Heza memberikan jepitan berwarna biru.

Rivan pun memperhatikan jepitan tersebut dengan teliti. “Buat apaan?”

“Hehehehe,” Heza tertawa remeh. “Lihat.”

Heza pun berjalan ke arah siswa yang sedang memalak kemudian menunjuk kedua siswa yang memalak dan berteriak.

“Kalian! Hentikan sekarang,” ucapnya keras.

Ketiga siswa itu menoleh ke Heza.

“Hentikan Swaiper!”

“Goblok,” batin Rivan sambil menepuk jidatnya.

            “HEH! Siapa lu!? Gak usah ikut campur!” ucap salah seorang yang sedang memalak.

“Pembullyan itu tidak baik! Hentikan Swaiper!” seru Heza kembali.

“NAMA GUA BUKAN SWAIPER!” teriak orang itu.

“Hadeh hadeh,” Heza menggelengkan kepalanya. “Sepertinya kalian susah dibilang ya,”

“Songong juga lu ya!” pemalak itu mendekati Heza dan mencengkram kerahnya. “Lu mau ikutan kayak dia juga!?”

“Kalian akan menyesal,” Heza tersenyum jahat. “Lihat ini,” Heza memetikan jarinya.

Ctek

            1 detik.

2 detik.

3 detik.

“HOOEEK! BAU APAAN INI!?” pemalak melepaskan cengkraman kemudian menutup hidungnya.

“ANJIR! NYENGAT BANGET!” pemalak satu lagi ikut menutup hidungnya.

“BUSET BAU BANGET!” Rivan menutup hidungnya kemudian melihat jepitan jemuran lalu memakainya di hidungnya. “Lebih baik.”

“Eh, lu!” panggil Heza ke korban pembullyan. “Pake ini!”

Dia menangkap jepitan tersebut kemudian segera memakainya di hidung.

“LU! GUA BAK- Aaaah…”

Kedua pemalak itu pun pingsan menghirup udara yang tidak segar.

“Beres,” ucap Heza dengan bangga.

“Buset Za. Bau apaan itu?” Rivan menghampiri Heza.

“Kentut gua,” balasnya sambil tersenyum.

“Diam-diam membunuh.”

Heza terkekeh. Kemudian ia melepaskan tas punggungnya dan mengambil semprotan pewangi ruangan dan mulai menyemprotkannya ke lorong.

“Dah, lu pada bisa lepas itu,” ucap Heza.

“Gila emang lu ya,” Rivan mengelus hidung bekas dijepit.

“Santai aja dong,” Heza menolehke siswa korban pembullyan tadi. “Jadi, bisa jelaskan apa yang terjadi?” Heza mendekatinya kemudian merangkulnya.

“Errr,” lelaki itu enggan menjawab pertanyaan Heza.

“Oke. Kita kenalan dulu. Nama gua Heza. Nama lu siapa?”

“Rey,” balasnya singkat.

“Jadi Rey, gua ini gak suka yang namanya pembullyan. Maka dari itu, gua ya.. coba bantu dikit-dikit lah. Boleh kan?” tanyanya dengan nada akrab.

“Boleh sih,” Rey nampak ragu.

“Ceritalah.”

Rey pun bercerita tentang kehidupannya dan tentang apa yang membuat dia sampai bisa dipalak oleh murid lain sementara Rivan menusuk muka para murid yang tadi pingsan.

“Jadi, ekonomi keluarga lu buruk ditambah lu harus setor duit ke murid bajingan gitu?” Heza mengelus dagunya sambil manggut-manggut. “Emangnya lu kerja apa?”

“Itu…” Rey enggan memberitahu.

“Pengedar narkoba? Penari tiang? Atau jangan-jangan… PSK?” seru Heza kaget.

“Buset? Jelek amat pekerjaannya,” Rey menatap Heza sinis. “Yah, sebelas duabelas ama PSK lah.”

“Anjir! Lu lacur!?”

“KAGAK GOBLOK!” ujar Rey geram. “Pacar sewa.”

“Hah? Apaan tuh?” Rivan ikut nimbrung.

“Simpelnya sih, gua disewa buat jadi pacar untuk sementara waktu,” Rey mengelus lehernya. “Pendapatannya lumayan gede.”

“Emangnya lu mau kerja gituan?” tanya Rivan serius.

“Kagak sih,” lirih Rey pelan. “Tapi gimana lagi? Ini demi keuarga gua juga.”

“Haah,” Rivan menghela nafasnya. “Gimana Za?”

“Udah jelas kan?” Heza menatap Rivan penuh arti disambut anggukan oleh Rivan. “Kita bakal bantu lu cari kerjaan yang layak.”

-o0o-

Peluh menghiasi badan para murid SMA yang kini sedang duduk berteduh di dekat warung pinggir jalan raya. Mereka bertiga nampak kelelahan berjalan mengitari ibu kota.

“Bingung gua,” ucap Rivan sambil membuka tutup botol minuman yang baru ia beli. “Kok pada gak nerima ya? Mentang mentang masih SMA.”

“Ya itu alesannya lah. Masih SMA,” balas Heza sambil mengipaskan lehernya dengan tangan.

“Lagian elu pada malah ke kantor kantor. Ya susah lah,” lanjut Rey yang sedang menggaruk rambutnya.

“Kan muka lu lumayan Rey,” Rivan meminum minuman botolnya. “Gua kira sekarang orang liat dari tampang doang.”

“Mana bisa gitu,” balas Rey kesal. “Gimana jadinya?” tanya Rey ke Heza yang sedang berpikir.

“Kalo gua pikir-pikir lagi, bener juga kata Rivan tadi,” ujar Heza sambil mengelus dagunya.

“Yang mana? Dia cocok jadi penari tiang?” Rivan kembali meminum minuman botolnya.

“Kapan lu ngomong gitu?”

“Tau.”

“Maksud lu apaan Za?” tanya Rey kebingungan.

“Muka lu itu,” Heza memandang muka Rey.

“Njir! Lu homo?” Rey menjauhkan tubuhnya.

“Kagak! Udah siap-siap sana! Gua punya ide bagus,” Heza bangkit dari duduknya.

Rivan dan Rey menatap Heza bingung dan kemudian mengikuti ucapan Heza. Mereka bertiga pun pergi menggunakan motor ke salah satu cafe terkenal di daerahnya.

“Loh? Cafe ini?” Rivan memandangi tampak depan cafe tersebut.

“Iye,” Heza pun mengisyaratkan kedua temannya untuk masuk. “Tenang aja.”

Mereka bertiga pun masuk ke dalam cafe yang cukup sepi tersebut. Mereka langsung disambut oleh salah satu pelayan cafe tersebut.

“Selamat datang. Eh Heza,” ujar salah satu pelayan yang mendekati mereka. “Temen-temennya ya?”

“Iya, mas Bagas,” balas Heza kemudian ia memperkenalkan Rivan dan Rey.

“Mas, kak Novi ada?”

“Ada kok. Lagi di ruangannya. Mau dipanggil?” tawar pelayan tersebut dengan sopan.

“Gak usah. Saya masuk ke ruangannya aja ya.”

Pelayan tersebut membalas dengan anggukan serta senyum. Kemudian mereka bertiga pun berjalan menuju sebuah ruangan yang berada di pojokan cafe.

“Salam hangat, kak Novi!” panggil Heza saat memasuki ruangan tersebut.

Seorang perempuan yang duduk di pinggir ruangan sambil membaca majalah menengok melihat kedatangan seseorang yang tak ia inginkan.

“Tumben dateng kesini Za,” ujar perempuan yang memakai kemeja putih dan rok hitam selutut itu.

“Lah gua mah sering. Kak Novi aja yang jarang nongol,” Heza ikut duduk disamping perempuan yang dipanggil Novi itu.

“Pasti ada maunya nih,” Novi menatap Heza malas.

“Tenang aja. Gua kesini membawa berita bagus,” Heza bangkit kemudian menarik Rey. “Nih ada suruhan baru.”

“Kata-katanya gak enak banget,” bisik Rey pelan.

“Sans ae udah.”

Novi menutup majalah kemudian bangkit dan memandangi Rey. “Yakin mau kerja disini.”

Rey mengangguk mantap.

“Memang kita membutuhkan pekerja sekarang, tapi kalau kamu sendiri kerjanya gak cekatan saya juga gak bisa nerima.”

“Insya Allah saya bisa kak!” ucap Rey mantap.

Novi pun memanggut-manggut. “Oke sekarang bakal saya nilai 3 aspek. Membersihkan, memasak dan menarik perhatian,” Novi menggulung majalahnya. “Sekarang coba kamu bersihin peralatan makan yang kotor!”

Rey pun mengangguk. Dia pun menuju dapur dengan arahan Heza kemudian memulai mencuci peralatan makan yang kotor.

“Hmm, bagus juga,” Novi melihat Rey yang serius mencuci peralatan makan tersebut. “Tapi banyak yang lebih bagus.”

Selesai dengan mencuci, mereka menuju tempat berikutnya.

“Sekarang coba kamu bikin, errrr, kue apa aja!”

Rey pun mengangguk. Dengan peralatan dan bahan yang disediakan, dia memulai pembuatan kue tersebut. Rivan dan Heza pun melihat Rey dengan kaget sedangkan Novi melihatnya biasa saja.

Tidak sampai 30 menit, kue tersebut telah jadi dan siap disantap. Rivan dan Heza melihat kue tersebut dengan tatapan ganas ingin memakannya.

“Silahkan dicoba kak,” ujar Rey sopan.

Novi pun mengambil sendok kecil dan memotong bagian ujung kue tersebut. Dia pun mulai menyuap kue tersebut ke dalam mulutnya.

“Hmmm,” Novi memanggut-manggut. “Enak sih. Cuma masih biasa banget rasanya. Gak ada yang spesial.”

Rey tersenyum pahit mendengar komentar Novi. Ia rasa ia akan gagal mendapatkan pekerjaan ini.

“Masih mau lanjut?” tanya Novi.

Rey menatap bingung perempuan itu.

“Jangan mentang-mentang kamu temennya Heza bakal saya kasih kesempatan lebih,” Novi menatap Rey dalam. “Saya disini juga bersikap profesional.”

“Saya masih mau melanjutkannya kak!” ucap Rey mantap.

“Bagus. Sekarang kamu ganti baju lalu sebarkan flyers ya,” Novi menoleh ke Heza. “Za tolong bantuin dia ya.”

Heza pun mengangguk dan menemani Rey ke ruang ganti diikuti oleh Rivan karena dia terpaksa ikut.

Beberapa menit kemudian dia keluar dengan seragam pelayan sambil memegan tumpukan flyers.

“Sekarang kamu keluar dan coba tarik perhatian pelanggan,” perintah Novi ke Rey.

“Siap!”

Rey pun keluar dari cafe sedangkan kedua temannya menunggu di salah satu meja.

“Lu yakin dia bakal keterima?” tanya Rivan ke Heza.

“100%” ucap Heza yakin.

“Tapi dari tadi dia kesannya salah mulu. Sekarang nambah gak pede.”

“Malah yang terakhir ini yang buat gua yakin.”

Rivan menatap bingung Heza yang senyum senyum sendiri. Rivan berpikir temennya sudah tidak waras atau dia memang tidak waras dari dulu(?).

Beberapa saat kemudian, terlihat para pelanggan memasuki cafe. Satu per satu pelanggan tersebut masuk membuat keadaan cafe menjadi ramai.

“Lah, kok rame ya?” Rivan kebingungan.

“Bener kan,” Heza menyilangkan kedua tangannya.

“Bener apaan?”

“Yang lu bilang tadi, muka Rey itu lumayan. Sedangkan cafe ini lagi kekurangan pelanggan. Jadi dia bisa narik perhatian pelanggan. Tuh liat kan yang dateng cewek semua?”

Rivan pun memanggut-manggut mendengar penjelasan Heza.

Beberapa saat kemudian Rey kembali masuk dengan flyers yang sudah hilang. Suasana cafe juga bertambah ramai. Bahkan pelayan-pelayan sampai kelawahan.

“Kak, flyersnya udah abis,” lapor Rey ke Novi.

Novi menatap Rey dalam, kemudian ia menepuk pundaknya. “Kamu…”

“Y-ya?”

“Kerja sore ini sebentar dulu boleh?”

Rey menatap bingung Novi yang sedang tersenyum.

“Maksudnya kak?”

“Kamu diterima kerja disini. Tapi, boleh gak kamu kerja sebentar, mungkin sejam, untuk hari ini. Nanti saya langsung kasih gaji bulan ini,” ujar Novi ramah.

“L-loh? Kok gitu kak? Saya gak keberatan kalau kerja hari ini, tapi gaji? Saya bahkan baru diterima.”

“Udah, gak usah nolak. Sekarang tugas kamu layani pelanggan aja ya. Kakak mau ngurus sesuatu di ruangan,” pamit Novi lalu dia pergi ke ruangannya.

Tanpa basa-basi, Rey langsung mendatangi pelanggan-pelanggan kemudian melayani mereka.

“Kak Novi baik ya,” ujar Rivan ke Heza.

“Iya. Tapi dia aslinya galak loh,” ejek Heza. “Gua udah tau sih Rey bakal diterima disini.”

“Kok gitu?”

“Gua kasih tau tadi tentang Rey dan masalahnya.”

“Kapan? Perasaan tadi lu gak ngomong apa-apa ke kak Novi.”

“Lewat chat,” Heza menunjukan handphonennya. “Kalau dipikir lagi kan kasihan Rey. Harus nanggung beban hidup keluarganya semenjak ayahnya udah gak ada.”

“Lu tau darimana?”

“Sebelum gua bantu dia di koridor, gua udah niat pengen bantu dia. Gua nanya ke temen-temen. Ternyata dia jadi tulang punggung keluarganya. Mana dia punya adik,” jelas Heza.

“Heeeh, tumben lu kayak gini.”

“Abis nonton salah satu anime. Kepikiran aja,” Heza merenggangkan kedua tangannya.

“Gua kira lu nonton yang gak bener gak bener.”

“Di dunia ini ada yang baik dan yang buruk. Tinggal pinter-pinter milih dan buat itu jadi kebaikan untuk sesama.”

“Bagus deh. Gua pikir lu belom tobat ,” Rivan menepuk pundak Heza.

“Mikasa cantik juga ya kalo dipikir-pikir,” ucap Heza sambil memandang keluar jendela.

“Dia itu gak nyata Za. Tobatlah,” Rivan ikut memandang keluar jendela.

-o0o-

“Makasih ya Rey,” Novi merogoh isi tasnya. “Ini gaji pertama kamu,” Novi memberikan sebuah amplop coklat.

“Makasih juga ya kak,” Rey dengan senang hati menerima amplop tersebut.

“Jangan lupa jagain adikmu ya. Dia beruntung punya kakak kayak kamu,” Novi mengelus kepala Rey. “Kakak balik dulu ke rumah ya,” pamit Novi.

“Hati-hati kak!”

Novi pun keluar dari cafe menyisakan Rivan, Rey, Heza, beberapa pelayan dan beberapa pelanggan yang masih menetap.

“Heza, Rivan. Makasih ya,” ujar Rey tulus ke kedua temannya.

“Santai aja Rey,” Heza merangkul Rey. “Jangan nangis dong.”

“Gua gak kira, masih ada yang baik ama gua. Padahal gua kayak gini.”

“Pertemanan gak memandang kaya miskin,” ujar Rivan. “Yang penting lu sekarang udah bisa biayain hidup keluarga lu.”

Rey mengangguk sambil menahan tangis. “Makasih ya.”

“Betewe nih Za, lu ngerasa ada yang aneh gak sih?” tanya Rivan ke Heza.

“Gua ngerasa. Tapi apa ya?”

Mereka berdua terlihat bingung. Pasalnya dari tadi ada perasaan tidak enak yang mengganjal hati mereka.

“Oiya, gua minta nomer handphone kalian dong,” Rey mengeluarkan handphone dari saku.

Rivan dan Heza melihat ke Rey dengan tatapan aneh.

“Kenapa?”

Plak

            “Pantesan! Hp gua dari tadi gua matiin,” Rivan menepuk jidatnya.

“Ah iya! Sama!” ikut Heza.

Mereka berdua mengeluarkan handphone milik mereka dan mengaktifkannya. Tiba-tiba muka mereka murung melihat apa yang terjadi selama hanphone mereka dimatikan.

“Kayaknya gua harus pulang deh,” ujar Rivan.

“Gua juga,” ikut Heza.

“Loh? Iya sih udah sore. Emang kenapa?” tanya Rey.

“Kakak gua terkunci di rumah. Kuncinya di gua. Dia gak bisa keluar rumah,” Rivan memperlihatkan layar handphone yang menujukan 59 misscall.

“Kakak gua gak bisa masuk rumah. Rumahnya di kunci. Kuncinya di gua,” Heza memperlihatkan salah satu pesan di handphonennya.

“HEZA! KENAPA RUMAH DIKUNCI!? KAKAK UDAH NUNGGU DARI SIANG! PANAS TAU GA!? LIAT AJA KAMU NANTI!”

Mereka bertiga pun diam meruntuki kebodohan Rivan dan Heza yang sangat ceroboh.

Saat Rivan dan Heza pulang, ya… pasti kalian tahu apa yang akan terjadi.

[Cherry blossoms]

Huaachiim!

            “Rivan, lagi flu ya?” tanya Shani yang sedari tadi membaca buku kesayangannya.

“Iya,” Rivan mengelap hidung dengan tisu.

“Kok bisa?”

“Ya… biasa lah. Perubahan cuaca yang mendadak,” Rivan membulatkan tisu bekas tadi kemudian di lempar ke tempat sampah dan..

MASUK!

Gak penting ya?

Di arah yang lain, nampak Heza memasuki kelas dengan mata yang sayu dan tubuh yang lemah. Dia langsung duduk di kursinya tanpa basa-basi dan meletakan kepalanya di meja.

“Kenapa?” tanya Nadila yang berada di sampingnya.

“Please, jangan ajak gua ngobrol. Gua capek,” ucap Heza dengan nada yang pelan.

“Tumben,” Nadila kembali memainkan handphonennya.

Rivan melihat Heza yang tak berdaya itu merasa prihatin karena dia tahu apa yang terjadi semalam. Ya, apalagi kalau bukan dihukum oleh kakaknya itu.

Sedangkan Rivan sendiri, dikunci di luar rumah selama hampir 5 jam. Dan karena dia orangnya gampang flu jadi begitu.

Di lain sisi, Ayana sedang melihat gallery handphonenya dan mesem-mesem sendiri. Layar handphonennya menunjukan Ayana dan Vienny yang sejak SMP selalu bermain bersama.

“Kok jadi baper gini ya,” batin Ayana.

Di sisi yang lain (lagi), sekumpulan perempuan, bukan sekumpulan sebenarnya, beberapa perempuan sedang mendiskusikan sesuatu di salah satu lorong sekolah.

“Vin, itu cewek kemaren gak dikasih pelajaran? Dia udah songong ama kita, mana ngadu ama kakak kelas,” protes perempuan di sebelah Vienny.

“Harus ya?” tanya balik Vienny.

“Ya haruslah!” seru perempuan di sebelahnya lagi.

“Eh girls! Gua punya ide! Nanti kita siramin dia air dingin aja!” ujar perempuan di sebelahnya lagi (lagi).

“Sinetron banget,” ujar Vienny.

“Biar dia kapok udah! Gimana?”

Para perempuan itu menyetujui usulan itu sedangkan Vienny terlihat gelisah. Karena Ayana sendiri gampang sekali terkena flu.

-o0o-

Kriiing…Kriiing… Buset monoton banget suara belnya.

“Ayana, mau ke kantin bareng gak?” ajak Shani yang sudah di depan meja Ayana.

‘E-eh? Kok aku?” tanya Ayana sambil menunjuk dirinya.

“Abisnya, kamu sendirian mulu. Kan kasian diliatnya.”

PLETAK

            “Shani ya, suka ngelindur kalo masih pagi,” Rivan menjitak kepala Shani.

“Aww! Sakiit,” Shani mengelus kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Bener juga kata Shani,” Nadila menghampiri mereka bertiga. “Cari suasana baru aja.”

“Errr, yaudah deh,” Ayana beranjak dari tempat duduknya.

“Heza kagak ikut?”

“Enggak,” Nadila menunjuk Heza yang sedang tidur di kursinya. “Masih molor dia.”

“Yaudeh, lanjut aja.”

Mereka ber-4 menuju kantin sedangkan Heza masih di alam mimpinya bersama cewek 2 dimensi, maksud saya, ada sekumpulan perempuan yang tadi dibicarakan sedang menyiapkan ‘perangkap’ untuk Ayana.

“Emang yakin si culun itu bakal dateng ke kantin?”

“Tenang aja. Firasat gua dia bakal dateng!”

“Kalian ini,” Vienny menyilangkan kedua tangannya. “Apa gak terlalu berlebihan?”

“Lah? Emang kenapa Vin? Biasanya juga lebih dari ini,” tanya perempuan di sebelahnya.

“Ya kan maksud gu-“

“Emangnya lu kenal ama si culun itu?”

Vienny terdiam mendengar pertanyaan temannya. Dengan sigap ia menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan teman-temannya.

“Aneh ya Vienny.”

“Biarin aja. Mau ada dia atau enggak, rencana ini harus jalan!”

Mereka pun kembali menyiapkan perangkap tanpa Vienny. Sementara itu, Ayana sudah berada di kantin bersama ketiga temannya.

“Gua udah nih. Lu pada udah?” tanya Rivan sambil memegang sekotak susu rasa vanilla.

“Yah, aku cuma beli roti 1,” balas Nadila.

“Aku-aku! Udah dong!” seru Shani sambil menenteng 2 kantong plastik yang berisi makanan.

“Gilak,” Rivan meneguk ludah melihat makanan yang dibeli Shani. “Lu udah Ay?”

“Anu, aku mau ke toilet dulu. Kebelet,” ucap Ayana gelisah.

“Ya… sono cepet.”

Dengan cepat Ayana berlari keluar kantin dan menuju toilet siswi. Tapi, tiba-tiba…..

BYUUUUUUR

            “Yes! Kena!” ujar perempuan yang berada di lantai 2.

“Wooo! Berhasil!” balas temannya.

Tubuh Ayana basah tersiram air yang sengaja dijatuhkan dari lantai 2. Badannnya langsung menggigil dan bereaksi.

Huaaachiiim!

            “D-d-dingin,” ujar Ayana menggigil sambil memeluk kedua lengannya.

Sementara itu, para pelaku penyiraman tadi hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Ayana yang menggigil kedinginan.

“Ayana!” Rivan menghampiri Ayana. “Kok gini?”

“G-gak t-tau.”

Huaaachiiim!

“Cih,” Rivan melepaskan jaket lalu memakaikannya ke Ayana. “Lu gampang flu ya?”

“I-iya.”

“Loh Van? Kenapa?” seorang siswa menghampiri Rivan.

“Pas banget, Rey. Bantu gua bawa ni anak ke UKS,” pinta Rivan.

“Eh? Yaudah ayok,” Rey memposisikan dirinya untuk membopong Ayana begitu juga Rivan.

“Ayana!” sekarang seorang siswi menghampiri mereka.

“K-ka-k Vi-vienny,” lirihnya pelan.

“Kamu ke-“ tangan Vienny yang hendak menyentuh Ayana langsung ditepis Rivan.

“Pergi lu,” ucap Rivan datar. “Orang kayak lu gak sepantesnya deket Ayana.”

Vienny mematung mendengar ucapan Rivan. Sedangkan Rivan melanjutkan perjalanannya ke UKS.

Vienny hanya bisa melihat kepergian mereka. Ia pun menyadari kesalahannya. Karena tak sanggup berdiri ia pun jatuh sambil menangis pelan.

“Kenapa baru nangis?” Naomi menghampiri Vienny. “Padahal kamu harusnya tau dia udah sedih dari awal masuk.”

“Shinta Naomi,” lirih Vienny sambil menatap Naomi.

“Bagaimana rasanya?” Naomi menyilangkan kedua tangannya. “Gengsi yang mengalahkan persahabatan?”

“Kamu gak tau apa-apa!”

“Ratu Vienny, teman Ayana sejak kecil. Sejak kecil selalu bersama sampai pada saat masuk SMA, Vienny memutuskan untuk menjauhi Ayana,” jelas Naomi.

Vienny hanya bisa diam menunduk mendengar penjelasan Naomi.

“Kenapa? Vienny ingin terlihat lebih mencolok. Dia memutuskan untuk memasuki geng perkumpulan ‘sok gaul’ itu dan meninggalkan Ayana karena dia merasa dekat dengannya tidak cocok,” Naomi mendekatkan wajahnya ke Vienny.

“Ayana pun akhirnya tidak mempunyai teman. Terpuruk. Sampai akhirnya dia dibully oleh teman masa kecilnya sendiri. Menyedihkan bukan?”

“D-diem!” isak tangis Vienny menjadi-jadi.

“Disaat dia membutuhkan perlindungan, perlindungan itu sendiri menyerang Ayana,” Naomi menjauhkan dirinya dari Vienny. “Jangan mempermainkan hati perempuan.”

“Tapi aku juga perempuan!”

“Kalau begitu harusnya kamu sudah sadar dari awal!” bentak Naomi. “Apakah masih ada kesempatan kedua? Lihat saja nanti,” Naomi meninggalkan Vienny sendirian.

“Ayana.”

-o0o-

            Bel terakhir sekolah sudah berbunyi. Saya males nulis ‘kring’nya. Para murid pun bergegas keluar sekolah untuk melanjutkan aktivitas lainnya.

Di parkiran, Vienny terlihat seperti menunggu seseorang. Dia terlihat gelisah, melihat jam tangannya kemudian kembali celingak-celinguk.

Matanya pun fokus ke salah satu murid yang rambutnya panjang. Dia pun langsung menghampiri murid tersebut.

“Anu, maaf,” ucap Vienny sopan.

Murid tersebut menoleh. “Iya, ada apa?”

“Kamu temen sekelas Ayana kan?”

Dia mengangguk.

“Namanya siapa? Aku Vienny,” Vienny mengulurkan tangannya.

“Shani,” Shani menyambut uluran tangan Vienny.

“Ayananya mana ya? Kok gak keliatan?

“Ayana udah pulang duluan. Tadi sempet ke UKS trus karena tambah parah akhirnya dia pulang deh.”

“Pulang? Sama siapa?” tanya Vienny kebingungan.

“Sama Rivan.”

Vienny terdiam mendengar ucapannya.

“Rivan, ya, cowok yang tadi,” batin Vienny.

“Ngomong-ngomong, kamu siapanya ya?” Shani memiringkan kepalanya.

“Aku temen dari kecil.”

Shani menyerngitkan dahinya menatap mata Vienny. Vienny yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah dan menjauhkan dirinya dari Shani.

“Bener. Kamu emang temennya,” Shani tersenyum.

“Maksudnya?”

“Mata seseorang itu tidak bisa bohong. Kamu kayaknya sayang banget ama Ayana ya.”

Vienny kembali terdiam mendengar ucapan Shani. Shani membalikkan badannya.

“Jangan sia-siain orang yang sayang sama kamu. Apalagi kamu juga sayang ama dia,” Shani menoleh ke arah Vienny.

“Ketulusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapat.”

[Cherry blossoms]

Suasana mendung pagi telah menyelimuti kota Jakarta. Termasuk sekolah-sekolah Jakarta itu sendiri. Dan suasana hangat dingin juga telah menyelimuti sekolah dimana Vienny berada.

Kenapa saya fokusin ke Vienny? Soalnya dia cantik, huehehehehe.

“Vin! Nanti nongkrong di tempat biasa ya!” seorang perempuan menggebrak meja Vienny.

“Lah, tumben,” Vienny menatap temannya kebingungan.

“Perayaan karena udah berhasil ngerjain bocah culun itu,” jelas temannya.

Vienny hanya memanggut-manggut mendengar penjelasan temannya.

“Gimana Vin?”

“Mau naik apaan? Mendung gitu di luar,” Vienny menunjuk jendela kelasnya.

“Yeh, kan pulang cepet nih, biar gak keujanan gitu loh. Soal transport sih, naik mobil gua aja.”

“Yakin? Lagian kenapa juga harus dirayain sih?”

“Lu kenapa sih Vin? Dari kemaren kayaknya nolak banget buat ngerjain si culun?”

“Gua ga-“

“Lu kasian ama dia?” desak temannya.

“Gak! Oke, gua ikut nongkrongnya. Tapi bayarin dulu,” keluh Vienny.

“Iye, tenang aja. Yaudah langsung cabut aja lah.”

“Lah? Udah boleh pulang? Bukannya jam 11?”

“Udeh. Tenang aja.”

Vienny dan teman-temannya pun meninggalkan kelas dan langsung menuju parkiran. Di tengah perjalanan menuju parkiran, Vienny kebelet.

“Eh, gua ke toilet dulu ya. Tungguin!”

Teman-temannya pun mengangguk dan kembali menuju parkiran sedangkan Vienny bergegas ke toilet.

Selesai dengan urusannya, Vienny keluar dari toilet dan langsung menuju parkiran. Di koridor dia berpas-pasan dengan Rivan. Mukanya datar, sedatar.. ah sudahlah.

Vienny mencoba bersikap biasa. Mereka berdua semakin dekat, dekat, dan ciu… maksudnya mereka melewati satu sama lain.

“Kondisi Ayana makin parah,” ucap Rivan pelan.

Mereka berdua terdiam di tempatnya saling membelakangi,

“Mungkin lu bingung kenapa gak liat Ayana hari ini, soalnya dia lagi dirawat,” ucap Rivan masih membelakangi Vienny.

“Kondisinya mungkin bakal tambah buruk.”

“Gak! Dia Cuma flu biasa!” bantah Vienny.

“Kita gak tau, air apa yang disiram ke Ayana kemaren,” Rivan menoleh ke Vienny yang masih membelakangi Rivan. “Semoga dia bisa sembuh.”

Rivan pun meninggalkan Vienny sendirian di koridor sedangkan Vienny kaget dengan pernyataan Rivan. Dia kembali menuju parkiran dengan lesunya.

“Kenapa lu Vin?” tanya temannya saat sudah sampai di parkiran.

“Gak. Ayok masuk,” Vienny memasuki mobil temannya itu.

Teman-temannya merasa bingung melihat Vienny. Akhirnya mereka masuk ke mobil dan langsung berangkat ke tempat yang biasa mereka datangi.

Selama perjalanan, Vienny menatap kosong kaca mobil. Teman-temannya pun makin kebingungan melihat tingkah Vienny.

“Ayok cepet. Kayaknya udah mau ujan,” seru temannya saat sudah sampai di tempat tujuan.

Mereka pun turun dari mobil dan memasuki restoran tempat mereka bisa makan da nongkrong. Saat sampai di meja makan, Vienny kembali termenung sedangkan teman-temannya bercanda dengan satu sama lain.

Karena terlalu fokus termenung akhirnya Vienny tertidur dengan tangan yang menyangga kepala Vienny.

-o0o-

Taman?

Apa ini?

Aku sedang berada di taman?

Sangat indah dan luas.

Suara angin yang berhembus, kicauan para burung, sinar matahari yang menghangatkan kulit. Sungguh nyaman.

“Kak Vienny.”

Aku menoleh ke arah suara yang memanggil diriku.

Ayana?

Sedang apa dia?

“Ayana? Kenapa kamu disini?”

“Ayana mau pamit,” ucapnya sambil tersenyum.

“Pamit? Kemana?”

“Terimakasih untuk selalu bersama Ayana. Ayana senang. Sungguh,” air matanya lolos dari kelopak matanya.

“Mungkin Ayana terlalu polos, lugu, ngeselin. Maafkan Ayana ya. Ayana sayang kak Vienny. Selamanya.”

“Ayana? Maksud kamu apa?”

“Ayana mau pergi ke tempat yang jauuuuuuuuuuh banget,” tangannya ia rentangkan. “Kak Vienny jangan sedih ya. Kan sekarang kak Vienny udah punya temen baru.”

“Enggak Ayana! Jangan!”

“Maafin Ayana ya. Ayana enggak pernah benci kak Vienny. Ayana sayang kak Vienny.”

Tiba-tiba tubuhnya melayang. Terbang. Menuju ke langit diatas.

“AYANA! ENGGAK!”

Aku mencoba untuk meraih tangannya, namun terlambat. Dia sudah sangat jauh.

“Selamat tinggal, kak Vienny.”

-o0o-

“ENGGAK!”

BRUK

Vienny yang langsung sadar dari mimpinya menggebrak meja membuat seisi restoran menatap Vienny.

“Vin? Lu kenapa?” tanya temannya.

Vienny terlihat bingung sendiri. Dia menatap teman-temannya dan ke seluruh restoran.

“Eh, anu. Aku ada urusan sama mama. Baru inget,” Vienny langsung mengambil tasnya dan meninggalkan teman-temannya.

“Vienny! Udah mendung banget loh! Nanti ujan gimana!?”

Teriakkan temannya tak Vienny pedulikan. Sekarang ia berniat untuk ke rumah Ayana. Menjenguknya.

Dia keluar dari restoran sambil berlari di bawah awan hitam yang siap menurunkan hujan kapan saja. Tapi, Vienny tetap berlari.

Tak lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Membasahi setiap benda yang ia temui. Membuat aroma kenangan… yang tak akan dilupakan.

“Tik..Tik..Tik.. Bunyi hujan diatas genteng~”

Hujan terus membasahi Vienny yang masih berlari. Vienny tak peduli apa yang terjadi dengan apa yang menimpa dirinya. Yang ia inginkan sekarang hanya Ayana.

“Iih! Kak Vienny! Suaranya cempreng!”

Air mata mulai keluar dari kelopak matanya. Tapi ia terus berlari. Perjalanannya masih cukup jauh.

“Kak Vienny, aku takut.”

BRUK

Vienny akhirnya terjatuh setelah berlari kencang. Ia kembali berdiri dan melanjutkan perjalanannya.

“Tenang aja Ayana.”

Vienny berlari dengan lutut yang berdarah. Perih ia rasakan. Tapi itu tak membuat ia berhenti.

“Kak Vienny akan selalu jaga kamu.”

BRUK

Vienny kembali terjatuh. Sekarang ia sudah tak sanggup melanjutkan perjalanannya. Lututnya terluka dan berdarah. Sikunya juga ikut luka. Dia diguyur oleh derasnya hujan.

Dia menatap keatas, melihat bagaimana ganasnya hujan menyerang Vienny. Perempuan yang sangat egois ini. Tangisnya pun lepas.

“Hiks…Hiks…”

Vienny menundukan kepalanya sambil memeluk kedua lengannya di tengah jalan.

“D-d-dingin,” tubuh Vienny menggigil. “Jadi gini rasanya.”

Tap, Tap, Tap

Seseorang mendekati Vienny sambil memakai payung biru miliknya. Raut mukanya datar dan melihat Vienny yang tak berdaya di tengah jalan.

“Bagaimana rasanya? Sakit?”

Vienny menatap orang itu.

“Balikin Ayana,” lirih Vienny pelan.

“Sayang sekali,” balas orang itu.

“BALIKIN AYANA! DIA SAHABAT AKU! BALIKIN! RIVAN!” Vienny berdiri kemudian menghampiri Rivan sambil memukul dadanya.

“Dia sudah tenang disana Vin.”

Vienny menghentikan pukulannya. Dia terdiam sebentar mencerna perkataan Rivan tadi.

“Maksud kamu? Ayana baik-baik aja kan?”

“Ikhlaskan Vin. Jangan buat dia sedih lagi.”

Vienny pun menatap Rivan. Tak lama kemudian tangisnya pecah. Dia jatuh ke aspal lagi.

“Gak mungkin! GAAK!” Vienny mengacak rambutnya.

“Ini kenyataannya Vin.”

Vienny kembali menangis dengan keras. Rivan pun berjongkok dan membagi payungnya dengan Vienny.

Di tengah keputusasaan, apakah masih ada sedikit harapan yang ada?

“KAK VIENNY!”

Suara perempuan yang cempreng terdengar di kuping Vienny. Suara yang sangat Vienny kenal. Tak mungkin dia salah.

“Ayana?”

Perempuan itu menghampiri Vienny dan Rivan. Dengan cepat dia mendorong Rivan ke samping membuatnya terjatuh.

BRUK

“Kak Vienny ngapain ujan-ujanan? Ih! Nanti sakit lagi,” Ayana berjongkok menatap Vienny yang masih kebingungan.

“Ayana? Ini beneran kamu?” Vienny mengusap pipi Ayana kemudian mencubitnya.

“Whiiya, wini bwenerwan Ayana,” balas Ayana. (Iya, ini beneran Ayana)

Vienny langsung memeluk Ayana dengan kencang dan tangisnya tak kalah kencang juga. Ayana pun tersenyum kemudian mengelus punggung Vienny.

Sementara itu, Rivan memegang kepalanya kesakitan karena dorongan Ayana tadi.

“Etdah, pas itu ama kak Yona. Sekarang ama Ayana.”

Rivan tersenyum memandangi Ayana dan Vienny yang sedang berpelukan. Penyesalan Vienny akan diselesaikan hari ini juga.

-o0o-

“Jadi kamu udah sembuh?” tanya Vienny sambil mengelap rambutnya.

“Iya. Cuma flu biasa kok,” balas Ayana tersenyum.

Vienny pun menatap sinis Rivan yang sedang duduk sambil meminum coklat hangat.

“Gua gak boong kok. Dia kan udah tenang tadi di kamarnya,” Rivan meletakan secangkir coklat panas di meja.

“Terus, yang dirawat itu?”

“Dirawat ama kak Sakina sama mama,” balas Ayana.

“Kok bahasanya dia lebay gitu sih?” tanya Vienny ke Ayana.

“Biar puitis dikit katanya. Aku sih ngikut aja,” Ayana menaik turunkan kedua bahunya. “Maafin Ayana ya kak Vienny.”

Vienny menggelengkan kepalanya. “Enggak. Harusnya aku yang minta maaf.”

Ayana tersenyum kemudian memeluk Vienny. “Kalau gitu, kita maaf-maafan bareng ya.”

“Iya,” balas Vienny tersenyum.

“Heiyooo! Coklat panas buat Ayana dan Vienny udah jadi,” ucap Shani sambil membawa 2 cangkir coklat panas.

“Waaah! Makasih ya Shan,” ucap Vienny sambil mengambil coklat panas.

“Sama-sama,” balas Shani tersenyum.

“Ayana, minjem baju dong. Baju aku basah semua,” pinta Vienny.

“Oh boleh, ayuk ke kamar aku.”

Mereka berdua pun ke kamar Ayana sambil membawa coklat panas. Sedangkan Shani duduk di sebelah Rivan.

“Ini semua rencana kamu ya?” tanya Shani.

“Keliatan ya?” tanya Rivan balik.

“Enggak sih, nebak doang.”

Rivan menggelengkan kepalanya kemudian kembali meminum coklat panasnya.

-o0o-

“Kak Nao, aku mau minta tolong.”

            “Apa?” tanya Naomi yang masih membereskan bukunya.

            “Tolong cari hubungan Ratu Vienny Fitrilya sama Ayana Shahab,” balas Rivan.

            “Hubungan? Bukannya udah jelas kemarin? Mereka musuhan?”

            “Aku rasa ada yang lain. Gimana?”

            Naomi menaruh telunjuknya di dagu. “Oke deh. Berhubungan kakak juga penasaran,” balasnya sambil mengelus kepala Rivan.

            “Makasih ya kak,”

-o0o-

            “Jadi yang berkontribusi banyak itu ya kak Naomi.”

“Yaiyalah mana bisa kamu diandelin,” ejek Shani.

Rivan menatap sinis Shani sedangkan Shani menatap Rivan sambil menahan senyum.

“Bercanda Rivan.”

Rivan kembali meminum coklat panasnya.

“IIIH! KAK VIENNY! NGESELIN!”

“HAHAHAHA! AYANA LUCU!”

Teriakkan Vienny dan Ayana terdengar walaupun jarak kamarnya ke Rivan dan Shani duduk jauh. Mereka berdua tersenyum melihat tingkah laku Vienny dan Ayana yang kembali akur.

Kira-kira mereka lagi ngapain ya?

[Cherry blossoms]

“Maksud lu apa Vin?”

Sekarang Vienny sedang berhadapan dengan ketiga teman satu geng nya itu.

“Bukannya udah jelas? Gua mau keluar dari geng ini,” jelas Vienny kembali.

“Kasih alesannya dong!”

“Gua gak mau munafik lagi. Gua lebih milih jadi diri gua sendiri yang gak populer daripada sahabat gua jadi sedih.”

“Sahabat? Maksud lu si culun itu?”

Vienny mendekatkan wajahnya ke temannya itu kemudian menatapnya seakan mengancam. “Jangan panggil dia culun. Namanya Ayana Shahab!”

Perempuan itu mundur dan merasa ngeri mendapatkan ancaman dari Vienny.

“Terserah lu lah! Gua juga gak harap lu disini!”

“Terimakasih atas segalanya. Saya pamit dulu,” Vienny meninggalkan geng perempuan sok gaul itu.

“Heh! Balikin duit yang pernah lu pake!”

Vienny menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke mereka. “Gua gak pernah make duit lu pada.Yang ada lu make duit gua. Tapi gua udah ikhlas kok,” ujar Vienny tersenyum kemudian meninggalkan kelas.

“Membuat keputusan yang besar ya?” ujar Rivan menyender di dinding sebelah pintu kelas luar.

Vienny menatap Rivan yang tersenyum memandang langit. “Bukan urusan kamu,” Vienny pergi meninggalkan Rivan.

Beberapa langkah kemudian, Vienny berhenti. “Makasih,” ucapnya pelan.

“Sama-sama, kak Vienny.”

[TO BE CONTINUED]

[ Bacotan Penulis]

  1. Maaf untuk kertelambatan updatenya. Dikarenakan minggu-minggu kemarin saya ujian dan ya, saya sibuk.
  2. Diperingatkan lagi, ff ini gak tentu updatenya kapan jadi jangan harap cepat update karena saya ganteng.
  3. Maksudnya saya masih pelajar jadi kesibukan saya banyak. Tapi akan saya usahakan untuk cepat update.
  4. Mohon untuk tidak meniru adegan maupun ucapan kasar dari ff ini atau ff saya yang lain.
  5. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. {Q.s. Al-Zalzalah: 7}

 

Terimakasih 🙂

Twitter : https://twitter.com/rivanngidol

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s