This is My Life, part 23

asdx

Perhatian guys! Peringatan: Di part ini telah muncul di beberapa percakapan/dialog dengan menggunakan bahasa kasar.

Di sore hari menjelang maghrib, rumah milik Ikhsan sedang ramai oleh para keluarganya yang sedang berkumpul sekedar untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan mengingat besok seluruh umat muslim sudah memasuki bulan suci Ramadan. Di bagian taman belakang, para perempuan sedang berkumpul sekedar untuk mengakrabkan diri dan menghabiskan waktu. Disitu pula terjadi perbincangan yang sedikit serius.

“Key, kamu sudah bilang ke Ikhsan tentang hal kemarin?” tanya ibunda Dhike sambil memotong-motong nanas untuk dijadikan rujak.

“Emm, belum sih mah. Aku gak tega kalo ngomong sekarang sama dia, apalagi pasca kejadian di warung nasi goreng itu. Keliatan banget dia care banget sama aku, aku takut dia jadi kaya menjauh gitu sama aku. Tau sendiri kan sifat anaknya gimana, gak enakan orangnya,” jawab Dhike yang juga sedang memotong-motong nanas.

“Bagaimanapun kamu harus secepatnya ngomong ke dia sayang. Kasian dianya kalo kamu terlalu lama ngomong, dia kan ambisi betul mau nikah sama kamu,” ujar mamanya lagi.

“Iya kak, abang itu kalo sudah punya niatan baik pasti bakal dilakukannya walaupun butuh waktu lama. Jadi, sebaiknya secepatnya deh kakak omongin ini ke abang. Tenang aja, aku bisa jamin kalo bang Ichan gak bakalan ilfeel sama kakak deh, dia orangnya cuek soalnya,” sambar Lintang langsung.

“Iya, Tang. Kakak percaya sama kamu.” Dhike tersenyum manis ke arah Lintang dan dibalas senyuman manis juga oleh Lintang.

“Tante, mama kamu sama yang lain bukannya mau memisahkan kalian berdua, tapi cuman itu jalan satu-satunya sayang,” ujar mamanya Ikhsan sambil mengelus lembut puncak kepala Dhike.

“Iya tante. Nanti kalo dia sudah pulang aku coba ngomong sama dia, mumpung momennya bagus. Semoga aja dia ngerti.”

“Kalo kakak gak berani ngomong sendiri, kita mau kok nemanin kak Ikey ngomong. Kakak sudah aku anggap kaya kakak aku sendiri,” ujar Lintang.

“Nah, bener tuh kata Tatang kak. Nanti kita temenin ramai-ramai deh, biar dianya gak banyak omong,” lanjut Kyla dengan mulut yang penuh dengan buah papaya yang baru saja di potong-potong.

“Ihh, kak Kyla mah. Itu pepayanya jangan dimakanin terus, ntar habis duluan jadinya,” ujar Zara yang menyentil pelan dahi Kyla.

“Ya, buahnya manis sih kaya aku,” balas Kyla dengan menunjukkan wajahnya yang diimutin.

“Mau muntah kak ngeliatnya.” Zara menirukan seolah-olah ingin muntah.

Kyla dan Zara adalah anak dari Vienny dan Andika. Vienny, kakak sepupu dari pihak ibunya. Dan Kyla dan Zara adalah keponakan Ikhsan.

Kelakuan kedua kakak beradik tadi berhasil membuat suasana yang tadinya serius menjadi lumayan cair dengan kekehan-kekehan dan tawa dari mereka semua.

Sepertinya, nanti malam pun akan terjadi perbincangan yang cukup serius antara keluarga Ikhsan dan Ikhsannya sendiri. Sebuah rahasia akan terbongkar sebentar lagi.

 

—This is My Life—

_ _ _

Sekarang gue berada di sebuah café di daerah CitraLand. Semua anggota DR lagi pada ngumpul disini, sekedar untuk minum-minum dan makan-makan sekalian membicarakan kelanjutan kasus Lukman. Btw, ini sudah kedua kalinya Lukman dikeroyok orang tanpa sebab. Yang pertama itu pas… (baca ulang part part 12, gue males ngetik ulang).

“Kapan nih bang kita kesana? Ini sudah yang kedua kalinya loh Lukman dikeroyok tanpa sebab sama mereka. Bukan apa-apa, gue cuman kasian aje sama keluarganya Lukman terlebih Lukmannya sendiri. Baru aje kemaren dia keluar rumah sakit, sekarang sudah masuk rumah sakit lagi dengan penyebab yang sama,” ujar gue sambil memakan makanan nasi goreng + telor orak arik + sosis.

“Iye tuh bang, mana calon istrinya khawatir banget lagi. Mereka kan habis lebaran niatnya mau nikah,” sambung Putra.

Lukman dan pacarnya sudah berpacaran sekitar 1 setengah tahun dan rencananya mereka akan mengakhiri masa pacaran mereka dengan melakukan akad nikah yang akan berlangsung setelah lebaran Idul Fitri tahun ini.

“Ini jam berapa?” tanya bang Robby.

“Jam setengah 6 sih. Kenapa emang bang?” ujar Samuel.

“Cepet habisin makanan lo semua. Habis ini kita langsung kesana, langsung datangin aja kesana gak usah pake basa-basi lagi,” ujar bang Robby santai namun sorot matanya mengatakan bahwa ia sedang dalam keadaan tersulut emosi.

 

***

Club DR sudah sampai di markas besar geng WereWolf. Semua anggota Club ikut atas perintah dari bang Robby. Oye, gue mau jelasin something. Kenapa bang Robby selalu yang mengambil keputusan setiap kita ada masalah? Padahal dia bukan ketua Club? Jawabannya simple aje sesimple hidup yang sedang gue jalani, karna bang Robby salah satu anggota terlama di Club dan bisa dibilang dia adalah salah satu pendiri Club DR sebelum gue masuk. Dia juga dulunya menjabat sebagai ketua Club, karna masa jabatannya sudah habis lalu digantikan oleh Lukman tapi karna dia orangnya malas buat mimpin-mimpin, makanya diadakan voting ulang pemilihan ketua dan akhirnya gue lah yang terpilih. Sebenernya, gue juga males buat jadi ketua. Gue sependapat dengan Lukman, menjadi anggota memang lebih enak daripada menjadi pemimpin karna sebagai pemimpin otomatis semua tanggung jawab anggota Club ada di tangan ketua.

“San lo pimpin masuk gih. Biar gue yang jaga diluar, sebagian ikut gue sebagian lagi ikut masuk kedalam,” ujar bang Robby.

“Gue lagi yang kena. Hadeh, nasib jadi ketua nih. Gue nunggu diluar aje lah, ntar bonyok-bonyok didalam bisa mampus gue, ketawan sama emak,” ujar gue memberi alasan.

“Halah, udeh cepetan masuk. Pake make up aje ntar buat nutupin bonyok lo,” ujar Nico sambil mendorong-dorong punggung belakang gue.

“Lo enak ngomong anjir. Rumah gue lagi banyak keluarga, bisa mampus gue diomelin ntar.”

“Bilang aje bantu temen yang lagi kesusahan. Udeh, cepetan keburu maghrib ini.”

“Enak ngomong aje lo. Ya udah lah, nasib jadi ketua. Siapa aja nih yang ikut gue kedalam? Tapi, jangan gue lah yang mimpin, Andi kek atau siapa kek.”

“Lo kan ketua pak?” tanya Isra sambil bersender di pintu mobilnya.

“Ketua sih ketua. Cape juga gue kalo setiap waktu gue terus yang mimpin. Kalo lo yang mimpin gimana Sra? Anggap aja latihan jadi ketua.” Sekarang gue yang ngedorong-dorong punggung belakang Isra agar mendekati pintu.

“Latihan otong lo bekunat kampret. Karna gue anggota yang baik dan tampan, gue bakal berdiri di belakang lo aje San,” ujar Isra dengan wajah tanpa dosanya.

Seandainya, di Indonesia kaya di cerita-cerita Amerika yang gue denger kalo ada 1 hari bebas melakukan kejahatan tanpa ada hukum yang menjerat. Rasanya gue pengen ceburin Isra ke dalam kolam buaya kelaparan, lumayan kan sedekah ke buaya-buaya ganas.

“Sama aja bego. Lo aje Don.” Gue narik kerah baju Doni sampai keseimbangannya hampir hilang.

“Jangan ditarik goblok. Ini baju baru gue beli kemaren gila. Ayo, bang Dan kita masuk kedalam gantikan si ketua ampas,” ujar Doni sambil menarik lengan Dani.

“Malah narik gue lo. Nyesel gue kembar sama lo Don.”

“Halah, Don Dan. Ribut lo berdua. Gue aje San yang di depan.” Isra turun dari atas motor dan berjalan menghampiri gue yang lagi nyender di pintu mobil.

“Lo belum pernah keselek kapak Sra? Tadi gue suruh lo duluan di depan malah bilang di belakang gue, sekarang ngebet pengen di depan lo,” omel gue kesal.

“Lo sekali lagi debat masalah gak guna, gue habisin lo semua ye.”

Nah, loh. Sesepuh alias bang Robby sudah naik pitam. Kalo sudah begini, mau gak mau gue harus mengakhiri perdebatan tiada guna ini.

“Setelah gue menghayati perkataan Doni tadi. Memang benar ini semua resiko gue sebagai ketua. Akhirnya, gue memutuskan untuk biar gue yang mimpin barisan. Posisikan formasi seperti biasa guys.” Akhirnya, gue lah yang harus bertanggung jawab atas semua anggota gue.

“Jijik gue dengar omongan lo kampret,” ujar bang Robby seolah-olah ingin muntah.

Sebelumnya, gue jelaskan dulu tempat yang dibilang sebagai markas besar geng WereWolf. Disini tempat semua anggota WereWolf berkumpul, dari ketua sampai anggota simpanan. Tempatnya sedikit terpencil karna letaknya yang berada agak ke ujung sedikit, tepatnya mengarah ke Balikpapan dan sedikit masuk kedalam sebuah gang yang lumayan besar dan mampu untuk dilewati 2 mobil dari arah berlawanan. Markasnya seperti sebuah lahan kosong dan kek ada bangunan besar kosong yang seperti sudah lama tidak ditempati persis tempat yang strategis buat para pelaku kejahatan. Oye, yang gue maksud anggota simpanan itu seperti anggota yang direkrut hanya untuk diperintahkan mengeroyok seseorang yang sudah berbuat kesalahan pada geng WereWolf, kaya si Iyan itu contoh anggota simpanan yang gue maksud.

Terkadang, gue bingung dengan para pelaku kejahatan di Indonesia. Kenapa markasnya selalu gedung kosong yang tak terawat lagi dan gak ada penghuninya sama sekali? Apa mereka gak takut sama penghuni alam lain yang menempati gedung tersebut? Apa mereka gak pernah merasakan kehadiran penghuni alam lain di tempat itu? Kalo gue sih, mending markasnya biasa aja dan terletak di tengah kota, karna secara logika kalo misalkan suatu geng melakukan kejahatan dan menjadi buronan, polisi kan gak mungkin nyari di tempat yang terang dan berada di tengah kota, mereka pasti nyarinya ke gedung-gedung kosong yang terletak diujung kota.

 

Gue berjalan masuk ke dalam dengan santai dan cuek dan sebuah batang rokok sudah bertengger di bibir gue sekedar untuk menghilangkan rasa asam di tenggorokan. Dibelakang gue ada sekitar 20 orang yang berjalan ngikutin gue masuk ke dalam. Sedangkan, yang sedang bersama bang Robby menunggu diluar ada sekitar 20 orang juga. Jadi, kalo di total ada sekitar 43 orang termasuk gue, Bang Robby dan Lukman. Kemungkinan total anggota akan terus bertambah sampe 50 orang.

Ketika gue sudah berdiri persis di depan pintu. Gue berhenti dan berbalik menghadap belakang.

“Guys, gue mau kita semua masuk dari seluruh pintu yang ada di bangunan ini. Sebagian masuk dari samping, sebagian masuk lewat belakang dan sebagian lagi ikut gue masuk lewat pintu sini. Biar mereka semua gak ada yang kabur,” ujar gue dengan lagak seperti biasa.

“Pak ketu sudah memberi perintah guys. Jom lah, gue butuh 5 atau 6 orang buat ikut gue lewat pintu samping. Isra, Nico, Rifa’i, bang Dan, dan Adit. Dan sisanya lewat pintu belakang dan ikut sama pak ketu,” ujar Doni yang setelahnya berjalan menuju pintu samping sisi kanan.

“Semua aje lo bawa kampret. Nico lagi dibawanya anjir, sudah tau tenaga dia kuat, pake lo bawa lagi. Hah, masih ada lo Sam. Lo harus ikut gue atau hubungan lo sama Kak Sonya harus berakhir sampai disini muehehehehe.” Gue tersenyum licik ke arah Sam dan dibalas dengan wajah sengak.

“Jelek amat ancaman lo nyet. Iye iye, gue ikut sama lo,” pasrah Sam.

“ Gitu dong hehehehe. Dah, semuanya langsung ikut gue masuk lewat sini aje. Mereka gak mungkin kabur lewat belakang, semua motor mereka parkir di depan sana dan disana juga sudah ada yang jaga.”

 

BRAK!!

Gue yakin itu timnya Doni yang sudah mendobrak pintu dan seperti biasa reaksi orang kaget pasti pake teriak, mana teriakan pake bahasa kasar lagi.

“San, cepetan masuk elah. Keburu maghrib kelamaan disini.”

“Sabar cong. Gak sabaran amat lo.”

Sekarang giliran gue yang masuk dengan membuka pintu secara perlahan biar seperti di film-film, mengendap-endap layaknya ada penculik yang bakal nyulik kita.

“ARRGGHH!” Sebuah teriakan kesakitan dan disertai dengan muntahan darah berasal dari anggota WereWolf, bisa dilihat jelas dari jaket keanggotaan mereka.

“Ehm, halo pak ketua yang terhormat. Gue gak nyangka lo semua bakal gercep.” Roy, ketua WereWolf menghampiri gue dengan bertepuk tangan layaknya sedang menonton pertunjukan sirkus yang sangat mencengangkan. Sedangkan, anggota yang ikut dengan gue tadi sudah berjalan ke medan pertempuran di tengah-tengah ruangan gedung tersebut.

“Lo tolol atau bego atau gimana sih? Lo kan ketua juga nyet, pake manggil gue pak ketua yang terhormat. Memang lo gak dihormati sama anggota lo sampe lo ngehormati ketua dari Club lain? Dimana-mana orang butuh belaian, lo anti mainstream banget butuh dihormati,” ujar gue dengan sedikit terkekeh dan sebuah batang rokok masih tetap bertengger di bibir gue.

“Waw, lo ngomong seakan-akan lo lagi ngelawak ya. Tapi, gue seneng karna cara lo bicara gak pernah berubah. To the point dan dengan gaya lo yang cuek.”

“Yang bilang gue lagi ngelawak siapa nyet? Tapi, sejak kapan gaya bicara gue berubah jadi berwibawa dan banyak basa-basi.”

“Lo lama-lama nges-“

“Lo kalo mau banyak omong di atas mimbar sana. Lo ngomong sampe malam juga gak ada yang marah. Kedatangan gue kesini cuman mau nanya satu hal sama lo. Pasti lo sudah bisa nebak kan apa pertanyaan gue ini?”

“Iye, gue tau pertanyaan lo. Tapi, satu hal yang perlu lo ketahui. Mantan terindah gue sudah pacaran sama Lukman.”

“Ya terus urusan sama gue apa bego? Lo ini ketua geng motor atau pemain sinetron alay sih. Kok ya drama banget? Memang kalo mantan lo pacaran sama Lukman, urusannya sama lo apa cong? Kan lo sama mantan lo itu sudah gak ada hubungan apa-apa. Sumpah, lo sinetron banget sampe ngeroyok Lukman dengan alasan sinetron parah. Lo kebanyakan nonton sinetron alay sih.”

“Gue sama dia itu sudah pacaran 3 tahun dan tiba-tiba dia minta putus gitu aja. Jelas gue gak terima lah.”

“Lo goblok atau gimana sih? Jelas lah dia minta putus sama lo, siapa coba yang tahan pacaran lama-lama sama cowok yang hidupnya cuman ngurusin dunia kejahatan doang. Setiap hari kerjaan bikin rusuh aje, mukulin orang aje bisanya. Giliran gini aje lo mewek. Cewek juga butuh perhatian dari cowoknya gila, bukan anggota lo doang yang lo perhatikan. Daripada gitu mending lo gak punya pacar sekalian sih.”

“Tapi, tujuan gue kesini bukan untuk dengerin curhatan alay lo itu. Tujuan gue datang kesini mau selesain masalah Lukman sama lo,” lanjut gue.

“Lo nantangin gue?”

“Kapan gue bilang gue nantangin lo tolol? Kan gue bilang gue kesini mau selesain masalah Lukman sama lo, karna gue gak bisa diam gitu aje secara ini sudah yang kedua kalinya geng lo bikin Lukman masuk rumah sakit.” Tatapan mata gue berubah dari yang santai berubah menjadi tatapan tajam yang langsung menuju ke mata Roy, seakan mengintimidasinya lewat sebuah tatapan.

“Kalo gitu kita selesaikan sekarang.”

Roy memberikan serangan pertamanya lewat sebuah tendangan yang langsung mengarah ke bagian dada gue, tapi untunglah gue sigap dan menghindar dari tendangannya. Roy terus melakukan serangan dengan pukulan dan tendangan.

Ketika Roy lengah karna tenaganya terkuras, gue mencoba untuk memberikan serangan lewat sebuah tendangan menggunakan lutut tepat mengarah ke selangkangan.

“Argghh!” Serangan gue berhasil mengenai sasaran dan ketika dia membungkuk kesakitan, langsung gue sikut punggungnya dengan kekuatan penuh.

“Anjing.” Roy ambruk ke lantai dengan mengerang kesakitan terlebih pada bagian selangkangannya yang mungkin sedikit mengenai tititnya. Dan punggungnya yang setau gue dalam keadaan cidera lebam.

“Untuk kali ini gue ngaku kalah. Tapi, gue bakal balas semuanya nanti. L-liat aja,” ujar Roy dengan tenaga yang tersisa.

“Gue tunggu Roy. Gue selalu siap atas segala ancaman busuk lo itu.” Tatapan mata gue kembali normal dengan tatapan yang cuek dan santai.

“GUYS, DAH BALIK. BENTAR LAGI AZAN MAGHRIB.” Gue berteriak karna memang bangunannya cukup luas dan jarak gue dengan yang lain cukup jauh.

 

Gue berjalan ke luar bangunan dengan diikuti anggota yang lain. Kayanya mereka semua gak ada yang sampe luka parah, paling cuman babak belur biasa. Gue pun sama keadaannya dengan mereka, cuman gue lukanya lebih ke bagian badan, dibagian muka cuman ada lebam di bagian rahang dan dekat mata.

“Masalah beres bang. Cuman masalah percintaan doang, kerjaannya si ketua,” ujar gue sambil bersender di pintu mobil bagian penumpang depan.

“Sudah gue tebak, karna Roy itu memang baperan orangnya sejak pertama gue kenal dia,” ujar bang Robby.

“Sekarang kita balik aje kerumah masing-masing. Rencana jenguk Lukman, masih bisa besok. Gue yakin, lo semua pasti pada punya acara sama keluarga buat nyambut Ramadan besok.” Gue masuk ke dalam mobil.

Gak lama rombongan Club pun meninggalkan lokasi bangunan yang jadi markas besar WereWolf. Selama di perjalanan pulang, gue cuman diam menatap jalan raya. Bukan karna nahan sakit atau apa? Gue cuman mikirin alasan yang pas buat jadi jawaban ke orang tua dan keluarga gue kalo ditanya perihal luka lebam di wajah gue. Masa iya gue harus bohong sih? Tapi, setau gue kalo berbohong demi kebaikan kan gak masalah. Tapi, besok kan sudah masuk bulan puasa, masa gue masih bohong sih. Tapi, kalo gue jawab jujur yang ada gue diceramahin lagi sama emak gue. Mikirin alasan begini lebih sulit daripada nyari alasan bohong ke pacar sendiri.

30 menit perjalanan dari tempat tadi. Jalanan cukup padat karna memang jam segini memang jam-jamnya orang pulang kantor ditambah adanya bis-bis rombongan pariwisata yang dari Banjarmasin.

Gue berpisah dengan anak-anak, mobil langsung gue arahkan ke komplek perumahan.

 

—This is My Life—

_ _ _

“Kak Ikey, kayanya itu abang sudah datang deh. Suara mobilnya kedengeran, disini dia aja yang pake knalpot ribut gitu soalnya.” Lintang melongokkan kepalanya ke dalam kamar Sendy, disana ada Dhike yang baru saja selesai melaksanakan ibadah maghribnya.

“Biarin aja dulu Tang. Dia kan pasti belum sholat, mandi juga belum kan tadi? Nanti aja, tunggu dia agak santai, baru kita omongin masalah itu,” ujar Dhike sambil merapikan peralatan sholatnya.

“Emm, oke deh. Aku numpang ngadem ya kak, diluar panas banget,” ujar Lintang dengan berjalan masuk dan mendaratkan bokongnya di sofa kecil dalam kamar itu.

“Masuk aja kali Tang. Pake ijin segala, kaya sama siapa aja kamu.”

“ASTAGHFIRULLAH. ICHAN.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah yang berasal dari suara mama Ikhsan.

“Kenapa tuh kak? Kok sampe teriak gitu? Kayanya ada sesuatu deh sama bang Ichan, sampe mama teriak gitu.”

“Biar kita gak penasaran, kita turun aja yuk. Perasaan kakak gak enak deh.”

Lintang dan Dhike keluar dari kamar dan berjalan menuju ke lantai bawah. Letak kamar Sendy dan Sonya memang berada di lantai 2 dan masih ada 3 kamar tamu yang sekarang ditempatin oleh keluarga Ikhsan yang ikut menginap di rumahnya.

“Ichan kenapa lagi nak? Pasti berantem lagi kan? Tau gitu, mama gak ijinin Ichan buat keluar tadi sore kalo keluarnya buat berantem,” ujar mamanya sambil mengobati luka lebam yang berada di bagian rahang dan dekat matanya.

Selama perjalanan pulang, Ikhsan memang sama sekali tidak menyentuh lukanya setelah ia berduel dengan Roy tadi sore. Ia tidak menyadari, bahwa lukanya semakin kelihatan membiru dan darah segar maupun darah yang sudah mengering menghiasi luka lebamnya itu. Ia terlalu sibuk memikirkan alasan yang akan ia sampaikan ke sang ibunda dan keluarganya. Suatu tindakan yang konyol.

“Ngg, i-ini tadi kepentok tiang listrik,” jawab Ikhsan gugup sambil meringis kesakitan.

“Hadeh, ni bocah. Mau ngeles apaan lagi sih? Luka lo itu keliatan jelas bego, mana darahnya bercucuran lagi. Alasan yang jelas-jelas basi,” cibir Andika. Kakak ipar Ikhsan atau suami dari kakak sepupunya, Vienny. Biasa ia dipanggil Bang Dika oleh Ikhsan dan beberapa sepupunya yang lain.

“Aww,” rintih Dika ketika Vienny dengan sengaja mencubit pinggangnya.

“Mulut itu jangan lemes. Kamu dulu kalo habis berantem juga kaya Ichan gitu,” bisik Vienny di telinga Dika. Dika hanya cengengesan saja.

“Lo diam aje elah bang. Ya, habis Ichan gak ada pilihan lain mah. Ini resiko Ichan sebagai ketua Club, tanggung jawab anggotanya ada di tangan ketuanya, mau gak mau Ichan harus bertindak daripada anggota yang lain kena imbasnya juga,” ujar Ikhsan jujur.

“Kalo gitu kenapa gak lapor polisi aja om? Kan biar masalahnya juga cepat kelar daripada harus pake kekerasan begini,” ujar Anin.

“Tuh, dengerin omongan anak kecil. Sudah gede juga.” Haikal terlihat geram atas tindakan yang dilakukan adik keduanya itu. Bagaimanapun, nalurinya sebagai abang tertua jelas khawatir apa yang sudah terjadi kepada adik-adiknya. Yona yang berada di sebelahnya menenangkan Haikal.

“Lo pikir dengan gue lapor polisi semua masalah kelar bang? Gak semudah yang lo pikirkan. Mereka punya banyak cara untuk balas dendam setelah mereka keluar dari penjara terlebih saat kejadian gak ada saksi maupun bukti yang otentik karena memang tempatnya sepi, kalopun ada saksi pasti mereka bakal tutup mulut karna takut diancam sama anggota mereka,” ujar Ikhsan kesal karna ia merasa terpojoki disituasi saat ini. Padahal ia memiliki alasan.

“Huss, mama sama abah gak pernah ngajarin ke anak-anaknya gak sopan gitu,” ujar mamanya dengan sedikit menekan luka Ikhsan dan membuat ia meringis kesakitan.

“Ya, habis lama-lama kan Ichan kesel juga jadinya. Ichan begini karna Ichan berusaha untuk bertanggung jawab terhadap semua anggota-anggota Club, masalah ini pun gak bisa langsung polisi yang nanganin, emang sih langsung cepet kelar tapi kan hanya sementara selama mereka dipenjara, begitu mereka keluar penjara yang urusan malah tambah runyam.. ancamannya bisa mencelakai semua anggota termasuk diri Ichan sendiri,” ucap Ikhsan panjang lebar.

 

Dhike dan Lintang sudah sampai di lantai bawah, ia duduk bergabung dengan Sendy, Sonya, Yona, Anin, Yuriva, Vienny, dan beberapa perempuan lagi. Jelas Dhike merasa khawatir melihat wajah Ikhsan yang babak belur walaupun hanya sedikit, begitupun dengan Lintang. Ia baru pertama kalinya melihat abangnya yang kedua babak belur seperti itu. Ia tidak menyangka, abangnya yang kelihatan lemah dari luar, tetapi bisa berantem juga pikirnya.

Kalo dilihat secara fisik, Ikhsan memang memiliki tubuh yang bisa dibilang kelihatan lemah karna wajahnya yang biasa saja, tubuhnya yang sedikit gemuk, dan kacamata yang selalu menghiasi wajahnya. Semua orang pasti akan berpikiran bahwa ia sama sekali tidak pandai berkelahi.

“Kalo Ichan terus-terusan begini, mama pindah aja lagi kesini buat jagain kamu. Ingat, Ichan itu masih muda jangan kotori masa muda Ichan dengan hal-hal yang gak bermanfaat kaya gini. Kalo sudah begini, siapa mau tanggung jawab? Gak ada kan? Sebelum bertindak itu harus dipikirkan dulu baik buruknya.” Ikhsan hanya manggut-manggut mendengar ceramah dadakan dari mamanya. Ia sama sekali gak kepikiran akan begini jadinya, untunglah ia hanya di ceramahi. Gimana kalo dia sampai di kurung di dalam rumah selama beberapa bulan agar tidak bisa keluar rumah?.

Antara Dhike dan Lintang pun sedang terjadi perbincangan.

“Tang, kakak jadi ragu deh mau ngomongin itu sekarang. Takut reaksinya ntar kaya gitu juga, tau sendiri kan orangnya mudah tepancing emosi begitu,” ujar Dhike dengan raut wajah khawatir campur ragu.

“Iya juga ya. Tapi, harus sekarang kak. Percaya deh sama Lintang, semua bakalan baik-baik aja. Walaupun abang orangnya mudah emosi, tapi dia gak bakalan emosi sama kakak, percaya deh sama aku,” balas Lintang meyakinkan.

“Semoga Tang.”

 

—This is My Life—

Suasana sudah kembali normal. Ikhsan sudah diperbolehkan kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih lalu kemudian menunaikan ibadah sholat maghrib. Selama ia melaksanakan sholat, ada yang mengganjal di pikirannya. Ketika ia ingin ke kamar mandi, tak sengaja matanya melihat kedua orang tua Dhike dan Dhikenya sendiri yang duduknya bersebelahan, bukan hanya mereka saja disitu juga ada adik dan kakak Dhike yang berprofesi sebagai pekerja sipil dan adiknya yang sedang bersekolah di sekolah kepolisian. Tumben-tumbenan keluarganya Ikey kesini semua, pikirnya.

Tak sampai 5 menit, akhirnya ia selesai sholat dan kembali merapikan perlengkapan sholatnya. Setelah ia memakai pakaian rumahan, ia kembali ke ruang keluarga dimana semua keluarganya sedang berkumpul dan sedang menonton sebuah tayangan komedi.

Ia langsung duduk di sebelah Haikal dan mengambil setoples camilan yang berada di atas meja.

“Bang.”

“Hmm.”

“Bang.”

“Hmm.”

“Banggg!”

“Apa ncom? Ganggu aje, orang lagi nonton juga.” Haikal sedikit terganggu dengan panggilan Ikhsan.

“Gak jadi deh. Lupa mau ngomong apa tadi,” ujar Ikhsan cuek dan kembali memakan camilannya.

“Lo gue tampol ye, ganggu aje ujung-ujungnya gak jadi juga.”

Ketika sedang asik ngemil sambil menonton tv, tiba-tiba Dhike mendatanginya dan langsung duduk di sampingnya.

“Kok pindah kesini? Bukannya tadi duduk anteng sama kaum hawa disana.” Ikhsan menunjuk para perempuan yang sedang duduk berkumpul.

“Gak boleh emang aku duduk disini? Lagian, aku pengen ngomong sesuatu penting,” ucap Dhike sambil tangannya ikut mengambil camilan yang berada di tangan Ikhsan.

“Ngomong apaan? Ngomong disini aje bisa kan? Lagi mager berdiri nih.”

“Bisa kok.”

“Yaudah, ngomong gih. Aku akan mendengarkan segala ucapan sang tuan putri hehehehe,” ujarnya dengan sedikit terkekeh dan sedikit bergidik geli.

“Aku cuman mau bilang. Kalo sebenernya…..

 

Bersambung…

@IskaIkhsan48

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s