Pengagum Rahasia 2, Part 40

-Selasa, 23 Mei-

(Suara keramaian kelas)

“Hei-hei! Ayo kantin!”

“Shan! Kok diem mulu sih! Buruan ke kantin! Mumpung hari ini gw gak ada rapat!” ucapnya lagi

“Sorry Lid…gw…ada urusan,” balasnya sambil beranjak dari kursi

“Loh? Kenapa sih!?”

Lidya pun beranjak dari kursinya juga.

“Sin! Kantin yuk!”

“Kantin…,” ucap Sinka pelan

“Maaf, aku mau ke ruang guru,” balas Sinka kemudian beranjak dari kursinya

“Yaaah…,” Lidya tampak kecewa

*Brak! (Suara seseorang terjatuh)

“Sinka!” Lidya langsung menghampiri Sinka yang terjatuh karena tertabrak

“Sin! K-Kamu gak apa-apa kan?” ucap Lidya

“Er…nggak kok, ahaha,” Sinka hanya tertawa

“Geez! Shan! Lo jalan yang lurus napa! Sampai nubruk gini! Cepet minta maaf!” ucap Lidya pada Shania

“Kenapa…,”

“Eh!?” Lidya terlihat kebingungan

“Kenapa…,” ucap Shania lagi

“S-Shan?” ucap Lidya

*JDUK!

Shania mendorong Sinka ke tembok.

“Kenapa lo ngelakuin ini! Dia itu hanyalah lelaki yang POLOS!” teriaknya tepat di depan wajah Sinka

“Loh!? H-Hei!” Lidya berusaha untuk memisahkan mereka

Namun Shania langsung mendorong Lidya dari sana.

“Jawab gw Sin! JAWAB!” Shania berteriak keras

Semua murid pun mulai memadati area sekitar mereka. Ada juga yang berusaha untuk memisahkan mereka berdua namun tidak berhasil.

“Ah…Shan? Kamu lagi PMS? Ya?” ucap Sinka dengan lembut

*JDAK!

Shania semakin mendorong Sinka.

“JANGAN BERCANDA!” Shania tampak meneteskan air mata

*BRAH!

            Seseorang langsung menarik Shania untuk menjauh dari Sinka.

“LEPASIN GW!” teriak Shania

“Sabar Shan! Jangan kasar-kasar!”

“LO GAK USAH IKUT CAMPUR!”

Semua orang pun kini berusaha untuk memisahkan mereka berdua. Sementara Lidya…

“Sin, kita keluar ya, kayaknya ada yang gak beres sama dia,” ujar Lidya

“Oh, ya, hihi…,” Sinka hanya tersenyum

Lidya membawa Sinka pergi dari hadapan Shania agar tidak terjadi keributan yang berkelanjutan. Sementara itu, orang yang menahan Shania kini masih mengunci tangan kedua tangan Shania dari belakang.

“Jangan nekat…,” bisiknya

“Atau mungkin lo udah lupa…kalau dia itu…,”

“Um,” Shania tampak mulai tenang

“Gw gak lupa, dan gak akan pernah lupa,” ucap Shania

“Bagus,” balas laki-laki itu

*Uh… (Shania kehilangan keseimbangan tubuhnya)

Lelaki itu kembali menopang tubuh Shania.

“Za tolong bantu gw untuk sampai ke kursi, kepala gw sedikit pusing,”

Ihza hanya mengangguk.

Ia kembali membantu Shania untuk sampai ke kursinya.

Kini mereka duduk bersebelahan.

“Gw harap lo gak datang-datang dulu ke rumahnya sekarang,”

“Lo salah Za…kalau sekarang kepala gw gak pusing kayak gini, gw udah kabur dari sekolahan dan langsung pergi ke rumahnya,”

“Itu merupakan tindakan yang nekat, dan juga resikonya…,” ucapnya menggantung

“Resiko paling buruk yang harus lo tanggung adalah, lo bisa di keluarkan dari sekolah. Karena…sekarang Sinka, bukan lagi Sinka yang kita kenal. Dia hampir mirip seperti ajudan kepala sekolah,”

“Sigh! Mentang-menatng yang punya sekolah!” ucap Shania tampak sangat geram

“Bukan hanya yang punya sekolah, tapi dia juga anak dari orang yang punya sekolah ini,” Jelas Ihza

“Dan juga…tanpa harus bertanya, sepertinya sesuatu yang buruk telah menimpa si kampret itu kemarin kan? Dan lo juga…,” ucap Ihza kembali

Shania terdiam.

“Sudah diputuskan! Gw bakalan ke rumahnya hari ini,”

*TET!

Shania mengambiil Handphonenya dan mulai mengetikan nomor.

“Shesh! Gak di angkat! Apa mungkin dia lagi gak ada di rumah?”

“Percuma juga lo nelfon dia, udah pasti dia gak akan menerima panggilan dari siapapun sekarang. Terutama dari anak-anak yang sekolah disini,” ucap Ihza

“Mungkin lo benar, tapi kalau gak bisa di telfon…gw masih bisa kasih pesan Line ke dia!”

Shania tampak bersikeras untuk menghubunginya.

*TAK!

“H-Hei…lo ngetiknya sampai berbunyi gitu, nanti Hp lo jadi rusak,” ucap Ihza

“Terkirim! Semoga aja dia read…,” ucap Shania dengan menghiraukan Ihza

“Emangnya lo nge-chat apa tadi?”

“Gw nyuruh dia untuk datang ke rumah gw hari ini,”

“Hm? Bukannya lo yang mau datang ke rumahnya?” balas Ihza

“Setelah semua hal yang terjadi kemarin…gw agak sedikit gak sanggup untuk ketemu sama kakaknya, dan juga kak Veranda,”

“Oh…,” Ihza hanya menganggukan kepala

*Kreeeng! Kreeeng! Kreeeng!

Bel berbunyi.

~oOo~

Pukul 11.00, gadis itu sampai di rumahnya. Disana terdapat seorang pria mengenakan jaket hitam dan juga masih mengenakan seragam SMA.

“Ternyata kamu udah nyampe duluan ya,”

“Heh, kabur dari sekolah ya? Shan?”

“Ya, memang bisa ketebak,”

Shania langsung menghampiri pria itu.

“Kamu sendiri udah nyampe sini duluan, pasti sembunyi-sembunyi ya keluar rumahnya?”

“Sembunyi? Gw kabur dari rumah kok,”

“EH!? S-Serius?!” ucap Shania

“Tapi Dev, kamu kan…,”

“Apa?” ucap Deva

“Ah lupakan,” ucap Shania. “Ayo masuk,” ajak Shania

Mereka berdua masuk ke dalam.

“Duduk dulu Dev,” ujar Shania

Deva kemudian duduk disana, sementara Shania tampak ikut duduk disamping Deva.

“Sejak kapan kamu kabur dari rumah?”

“Hem…mungkin sekitar jam…2 tadi malam,”

“Jam 2! I-itu kan masih malem banget! Terlebih lagi sebelumnya kamu…,” ucap Shania menggantung

“Er! Jadi…kamu tidur dimana Dev?!”

“Di jalan…,”

“HAH?! Ek…,” Shania tampak geram

“Kenapa kamu gak datang kesini aja! Kamu bisa nginep disini kapanpun kamu mau!”

“Hei…gw baik-baik aja kok, lo gak perlu mengkhawatirkan gw. Selain itu…gw bisa tidur dimana saja, kapan saja, dan juga gw bisa menjadi apa saja yang gw mau sekarang,”

“Cih! Tunggu disini!” ucap Shania

“Hm?” Deva hanya menatap Shania

“Aku bawain dulu makanan, karena kamu pasti belum makan dari kemarin kan?”

“Ah…,” Deva terdiam

-SKIP-

*Trank! (Suara piring yang berdenting)

“Lumayan juga masakannya…,”

“Hei! Itu masakan ibu!”

“Bukan…ini masakan lo, gw tau kok,”

“EK! K-ketauan yah, haha…,” Shania tertawa

Deva tampak menyimpan piring itu di meja.

“Untuk sementara, kamu istirahat dulu disini sampai semua kembali normal lagi,” ujarnya

“Gak perlu…nanti bu guru malah ngome-ngomel lagi,”

“Shesh! Pake bawa-bawa profesi ibu lagi! Selain itu….kita bisa sembunyi-sembunyi,”

“Hm? Maksud lo?”

“Aku bisa sembunyiin kamu dari siapapun, jadi…sekarang kamu boleh tinggal disini untuk sementara,”

“Apaan…gw gak mau,”

“DEV!” Shania memegang erat tangan Deva

“Hanya ini satu-satunya caraku untuk berbalas budi! Tolong hargai semua yang kulakukan ini Dev!”

“Er! Kalau lo maksa…,” ucap Deva menggantung

“Hanya untuk 1 malam…karena gw juga mau ke suatu tempat,”

“Ke…mana?” ucap Shania bertanya

“Gak akan gw kasih tau…,” balas Deva

“Tapi yang pasti…bukan di bandung…,” Jelas Deva lagi

“Hah…?” Shania tertegun

“Jangan bilang kalau kamu mau pergi keluar kota?” ucap Shania

“Selama gw bisa menghapus dosa-dosa yang gw buat di kota bandung ini, gw akan melakukan apapun…,”

“I-Itu namanya bukan mau menghapus dosa! Tapi kamu mau lari dari kenyataan Dev!”

“Bukan…lo salah…,” uacp Deva lagi

Shania tampak kebingungan namun ia tampak khawatir melihat Deva.

“Sekarang gw udah gak bisa lagi menebus dosa besar ini kalau gw masih ada di bandung. Yang ada gw malah mengorbankan Ve lagi, iya kan?”

“Kak…Ve…,” ucap Shania dengan pelan

“Jadi…supaya gak ada lagi yang tersakiti, lebih baik gw kembali ke tempat asal gw dan kembali menjadi diri gw yang lama,”

“Kenapa harus begitu! Lalu gimana soal kak Ve, Shani, dan juga yang pasti yaitu kak Melody!”

Deva tersenyum.

“Melody Nuramdhani…dia itu bukan kakak kandung gw,”

“E-Eh!?”

“Gw heran…kenapa sampai sekarang dia masih belum mengakui kalau dirinya itu bukanlah kakak kandung gw. Padahal sebenarnya gw udah lama tau tentang dia,”

“S-Shesh! Kalau begitu…gimana soal Shani! Dia itu kan…,”

“Shani ya…,” potong Deva. “Jangan bilang-bilang dia ya, haha,”

“Kenapa D-Dev!?”

“Bahkan sekarang gw gak sanggup liat wajahnya. Karena…gw udah terlalu banyak menyakiti hatinya, lebih daripada gw menyakiti hati lo…,”

“H-Hei…bukannya aku udah bilang, aku udah melupakan semua kejadian di masa lalu, dan tolong jangan bahas itu lagi sekarang Dev,” ucap Shania

Deva tampak bersandar di sofa itu.

“Apa ada yang perlu gw jelaskan lagi?” ucap Deva

“Aku…,” ucap Shania

“Hm?” Deva melirik

“Bagaimana dengan diriku Dev…? Selama ini aku benar-benar memperhatikanmu dari kejauhan, karena aku sangat peduli sama kamu. Selain itu…,” ucap Shania menggantung

Shania mengembuskan nafas panjang.

“Sebelumnya kamu udah tentang perasaanku kan…jadi…apa kamu mau mengabaikan semuanya termasuk aku?”

Deva mentap heran pada Shania.

“Shania…jangan bikin dosa gw jadi tambah banyak hanya dengan membuat lo jadi jatuh cinta sama gw,”

“S-Siapa bilang kamu udah bikin aku jatuh cinta? Aku memang suka sama kamu sejak kelas 7 SMP!”

“Geez!” Deva membuang muka

“Lupakan, leibh baik lo cari cowok yang lain…,” ucap Deva

“Oke Fine aku bakalan lupain soal ini, tapi bagaimana keputusan akhirnya? Kamu jadi isitirahat disini selama satu malam?” ucap Shania

“Keputusannya ada di tangan lo kali,” timbal Deva lagi

“Kalau begitu, jelas-jelas aku bakalan bilang kalau kamu harus istirahat disini! Dan juga aku bakalan sembunyiin kamu dari siapapun,”

“Gak perlu disembunyiin…gw bukan teroris juga kok,”

“Selain itu gw bisa tidur di luar teras kalau lo mau,” ucap Deva kembali

“Kalau kamu tidur di teras, nanti bisa ketuan sama orang kan? Dan juga ibu pasti bakalan curiga,” ucap Shania

“Jadi?”

“Di kamarku…,”

“Huh?” Deva menatap Shania dengan heran

Bahu Shania tampak turun, ia tiba-tiba tersenyum.

“Sekarang masih jam 11, gimana kalau kita main Video game dulu,” ucap Shania sambil melihat arlojinya

Deva menatap Shania dengan wajah datar.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk main game,” ucap Deva

“Setidaknya kita harus refreshing dan berhenti memikirkan permasalahan ini untuk sementara waktu. Lagipula kalau main game PS kan kita bisa sambil tiduran di sofa,”

“Ibu guru…dia pulang jam berapa?”

“Masih lama, sekitar jam 5 sore,”

“Hm…,” Deva bergumam

“Kalau itu yang lo mau…oke,”

Shania tersenyum bahagia.

“Tapi sebelum itu gw harus mandi dulu,”

“Mandi?”

“Karena gw masih belum mandi dari kemarin malam,”

“Oh-Ya…,” balas Shania

“Lo gak perlu pinjemin handuk ke gw,” ucap Deva yang mulai beranjak dari kursi

“Pake aja handuk aku, yang ada gambar beruangnya,” ucap Shania

“Sigh! Udah dibilang…,” balas Deva

~oOo~

Malam pun tiba…

(Pow! Pew! Pow!)

            Mereka berdua tampak masih bermain game.

“Ternyata Ibu ada rapat hari ini…,”

“Gitu ya?”

“Iya, makanya dia masih belum pulang jam segini,”

“udah jam 8 malam, kita harus istirahat,”

“Ya,” Shania mematikan Video gamenya

*Tok! Tok!

“Huh?” Deva menengok ke arah pintu

“Jangan kemana-mana, biar aku yang buka,” ucap Shania

Mendengar suara ketukan itu, Shania pun langsung pergi kesana untuk membuka pintu.

Lalu ketika ia membuka pintu itu…

“H-Hai Shan…,”

“Shani!?” ucap Shania yang terkejut akan kedatangan gadis itu

“Ngapain kamu ada disini!?” lanjutnya

“Um…Setelah dipikir-pikir, aku masih kepikiran soal Deva. Bahkan kemarin pun aku sampai gak bisa tidur,” ucap Shani

“T-Tapi kenapa kamu datang kesini!? Aku kan gak sembunyiin Deva! EH!” Shania langsung menutup mulutnya

“Sembunyiin Deva? Apa maksudnya?” tanya Shani

“Aha…bukan apa-apa. Kalau gitu ayo masuk,” ucap Shania

Mereka berdua kini berada di dalam.

“Sepi banget…,”

“Ya, ibu masih belum pulang karena ada rapat,”

“Oh, ternyata emang bener ada rapat ya. Kayaknya rapatnya membahas tentang Ujian Nasional nanti,” ucap Shani

“Hem, gitu ya…,” Shania tampak melihat-lihat ke semua penjuru ruangan

“Deva ada dimana!” batinnya

“Jadi Shan, tujuan utama kamu datang kesini…mau apa?” tanya Shania

“Sebenarnya aku mau nginep di rumah kamu, sekalian belajar private sama ibu kamu,” Jelas Shani

“WHAT!? Malam ini juga!?”

“Iya, sebelumnya juga aku udah bikin perjanjian sama ibu kamu,”

“Huft…,” Shania mengusap wajahnya

“Tapi karena ibu kamu keliatannya lagi sibuk, terlebih lagi soal rapatnya juga belum selesai…mungkin aku cuma mau nginep aja disini. Karena orang tuaku juga baru pulang dari luar kota, dan aku terlanjur bilang mau nginep di rumah temen,”

“U-Uh…yaudah, aku siapin dulu kasur untuk kita,” ucap Shania

“Mau ikut dong,”

“E-EH! Jangan dulu! Kamarku berantakan, nanti aku kabarin lagi pas udah selesai semua,”

“Oh-Um…,” Shani mengangguk

Sementara itu di tempat lain…

*

*

*Dert! Dert! Dert!

Handphonenya sedari tadi berbunyi, namun pemuda itu tidak pernah mengangkatnya.

*Jeglek!

“Deva!”

“Huh?” pemuda itu melirik

“J-Jadi kamu udah masuk kamarku duluan!”

“Oh-Shania…Gimana? Siapa yang bertamu tadi?’

“Shesh!” wajah Shania tampak memerah

“Hoi?” ucap Deva lagi

“Itu Shani…,” Jawab Shania

“Shani? Yang bener!?”

“Iya-katanya dia mau nginep…,”

“Lah!? Terus gimana!”

“Itulah yang jadi permasalahannya sekarang. Aku gak mungkin suruh dia pulang karena alasan tertentu, tapi kalau begini sih…Eh tunggu sebentar, sejak kapan kamu pake baju aku Dev!”

“Huh? Baju ini?” ucap Deva sambil menunjuk baju polos berwarna putih yang ia kenakan

“Dari tadi,” balas Deva

“Er! Itu baju untuk olahraga kali!”

“Baju olahraga yang kayak gini? Apaan,” ucap Deva dengan wajah datar

“Lupakan soal itu…yang terpenting sekarang, bagaimana caranya untuk meyakinkan Shani tentang kamu!”

“Meyakinkan gimana? Maksudnya lo mau bongkar semuanya di depan Shani? Dan bilang kalau gw bakalan nginep disini 1 malam, gitu?”

“Ya! Karena kita gak punya pilihan lain selain itu. Kalaupun aku bisa sembunyiin kamu dari dia, mau sembunyiin dimana!? Di kolong kasur?”

“Kolong kasur boleh juga,” ucap Deva

“Gak bisa Dev, banyak barang-barangku disana,”

“Hem…,” Deva tampak sedang memikirkan sesuatu

“Kalau gitu kita gak punya pilihan,” ucap Deva

“A-Apa kamu punya rencana?” tanya Shania

“Kita bakalan kasih dia surprise,” lanjut Deva

“Surprise apa!?” Shania semakin penasaran

“Lo liat aja nanti, biar gw yang urus…,”

*Brak!

            Deva menghempaskan tubuhnya ke kasur itu.

“S-Seenaknya aja!” ucap Shania yang wajahnya langsung memerah

“Entah kenapa gw jadi penasaran, kenapa kasur lo bisa sebesar ini…,”

“Itu karena waktu dulu, saudara ku sering datang untuk menginap berbulan-bulan. Tapi karena sekarang dia udah ada di jawa tengah, jadi jarang kesini lagi,” Jelas Shania

“Hmm…gitu ya,” balas Deva

Deva mulai memejamkan matanya setelah menyimpan Handphonenya di sampingnya.

Shanai tampak melihat ke arah Handphone Deva yang terus bergetar itu.

“Dev…kamu gak mau angkat telfonnya?”

“Gak,” balasnya singkat

“Mereka sekarang pasti lagi khawatir,”

“Itu pasti…,” balas Deva lagi

“Lagipula ini semua demi kebaikan gw dan juga kak Melody,” lanjut Deva

“Um, kalau gitu aku mau balik lagi ke Shani. Kamu jangan macem-macem di kamarku ya,”

“Ya,” balas Deva singkat

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s