Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part 27

Robby termenung menatap langit di dalam kamarnya. Sedari tadi pikirannya melayang pada Shania, perempuan yang selama ini mengisi ruang di hatinya.

Semenjak kemarin ketika ia meminta Shania kembali padanya, ia terus memikirkannya jawaban Shania yang diberikan padanya..

Flashback On.

“Ngg, Shan?”

“Ya?”

“Kamu..” Robby menatap dalam mata Shania, “..mau gak kita kayak dulu lagi?”

Shania terdiam. Otaknya tidak bekerja sama sekali, degup jantungnya semakin cepat berpacu. Bahkan hanya seperti itu, Robby bisa membuat jantungnya berdegup kencang.

“Ngg, apa Rob?”

Robby menghela nafasnya, “Kamu ngelamun ya?”

Shania menggelengkan kepalanya, “Enggak.”

“Oke, aku ulang. Dengerin baik-baik.”

Shania menajamkan indra pendengarannya. Matanya pun tak lepas dari mata Robby.

“Shania.. kamu mau balik lagi sama aku kayak dulu? Kita mulai lagi semuanya dari awal, yang cuma ada kita berdua..”

Shani terdiam mematung. Pandangannya lurus menatap Robby, yang sedang menatapnya dengan tatapan lembut.

“Shan?” Robby menyentuh tangan Shania.

Shania tersentak lalu ia berdehem, “K-kamu yakin?”

“Ya, aku yakin.”

Shania menghela nafasnya, “Aku butuh waktu Rob..”

“Baiklah, aku bakalan ngasih waktu kamu buat ngejawab pertanyaanku itu.” Robby turun dari ayunan itu, “Aku bakalan nunggu kamu Shan.”

“Beri aku waktu selama satu minggu buat ngejawab pertanyaan kamu,” ucap Shania.

Robby mengangguk, “Baiklah, aku bakalan nunggu jawaban kamu minggu depan,” Robby berbalik menatap Shania dengan senyuman tipis, “Aku harap jawaban kamu nanti bukan hal yang terlihat buruk.”

“Aku pulang ya Shan.” Pamit Robby.

Shania hanya menganggukkan kepalanya, lalu Robby pun keluar rumah meninggalkan Shani di halaman belakang rumahnya sendiri..

Flashback Off.

Sudah lima hari berlalu, sekarang tinggal dua hari lagi Shania memberikan jawabannya pada Robby. Robby sangat berharap sekali Shania kembali bersamanya, tetapi pilihan ada ditangan Shania. Jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain memasrahkan dirinya..

~

Dua hari sudah berlalu, hari ini hari yang ditunggu oleh Robby. Pasalnya hari ini Shania akan menjawab pertanyaannya. Perasaannya tidak karuan bukan main, ia terus saja memikirkan apa yang dipilih oleh Shania nanti.

Apakah ia akan memilih kembali bersamanya, atau malah sebaliknya, Shania akan tetap pada pendiriannya untuk sendiri..

Robby melirik pada jam dinding yang tertempel dalam kamarnya. 18.17. lebih baik ia siap siap sekarang. Ia pun beranjak bangkit menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, dan menyiapkan dirinya..

Sedangkan di tempat lain, atau lebih tepatnya di sebuah rumah sakit. Seorang perempuan berjalan keluar dari kantin rumah sakit sambil membawa bungkus makanan yang baru saja dibelinya.

Ia masuk ke dalam sebuah ruangan. Dilihatnya sebuah seorang perempuan masih terbaring tak berdaya dengan keadaan masih tak sadarkan diri di bangsal yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Shani..”

Shani yang menaruh bungkus makanan di samping bangsal pun menoleh, “Kenapa Shania?”

Shania berusaha bangkit dari rebahannya, Shani pun membantunya untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur.

“Mau muntah?” tanya Shani yang melihat Shania menutup mulutnya.

Shania mengangguk. Dan dengan sigap Shani mengambil bak sampah kecil di bawah bangsal, yang memang sudah disiapkan. Ia pun menyerahkannya pada Shania. Shani mengurut pelan punggung Shania, membantunya mengeluarkan isi dari perutnya. Setiap kali setelah melakukan kemo pasti selalu begini, memang itu adalah salah satu efek dari kemo yang dijalaninya. Dan Shania juga selalu tidak mamu memakan makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, makanya biasanya setelah selesai kemo Shani selalu membelikan makanan untuknya.

“Udah Shan,” ucap Shania yang mendorong pelan bak sampah kecil tersebut.

Shani menaruh kembalik bak sampah tersebut di bawah bangsal Shania.

“Mau makan dulu?” tawar Shani.

Shania menggeleng, “Enggak. Aku cuma pengen keluar sebentar.”

“Kamu baru aja sadar Shania, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu.”

“Aku mau ketemu sama Robby. Aku ada janji sama dia hari ini,” ucap Shania.

“Kamu seharusnya ngerti sama keadaan kamu sendiri Shania,” ucap Shani yang menatap malas Shania.

“Aku mohon. Kali ini aja, please..” Shania menatap Shani dengan wajah melasnya.

Shani menghela nafasnya, “Baiklah, tapi aku yang nganterin kamu. Dan kamu juga harus ganti baju, jangan pakai baju dari rumah sakit kayak gitu.”

Shania tersenyum senang, “Makasih Shaniii. Shani emang baik!” Shania pun merentangkan tangannya.

Shani yang mendengar itu hanya tersenyum, dan mendekat pada Shania yang langsung memeluknya. Setelah dirasa cukup, Shani pun melepaskan pelukkannya terlebih dahulu.

Shani berjalan menuju tasnya yang ada di sofa, ia mengambil baju yang sengaja dibawanya, “Yasudah, sekarang lebih baik kamu ganti baju dulu. Mau dibantu atau sendiri aja?”

“Aku bisa sendiri kok,” sahut Shania.

Shani mengangguk, lalu memberikan baju ganti beserta celana panjang pada Shania. Ia pun membantu Shania menuju toilet yang ada di dalam ruangan tersebut. Setelah selesai Shania berganti baju, Shani membantunya keluar.

“Kamu tunggu dulu di sini. Aku mau bilang sama dokter dulu,” ucap Shani yang mendudukkan Shania di bangsal.

Shania mengangguk, “Jangan lama-lama ya!”

“Iya,” jawab Shani tanpa menoleh pada Shania, ia pun keluar ruangan yang ditempati oleh Shania tersebut.

Shania menunggu Shani dari ruangan dokter yang menanganinya, ia mengitari pandangannya di dalam ruangan. Dan tak sengaja pandangannya tertuju pada jam yang ada di sana. 19.03. Mungkin Robby sudah menunggu dirinya, batinnya.

Tak berapa, pintu kamar pun terbuka. Muncullah sosok Shani yang masuk ke dalam.

“Ayo, kita berangkat.” Shania mengangguk, ia pun bangkit dari duduknya. “Shani, kita ke rumah dulu ya. Minjem mobil Nabilah, kamu bisa nyetir kan?”

“Iya bisa kok, tenang aja. Kalau enggak bisa, aku enggak tanggung jawab deh ya.” Shani terkekeh pelan dengan jawabannya.

“Shaniii, aku serius!” Shania memberengut kesal pada Shani.

“Iya, bisa kok. Udah ah, yuk berangkat.”

Mereka berdua pun keluar ruangan tersebut, mereka berjalan keluar rumah sakit mencari taksi terlebih dahulu untuk pulang ke rumah Shania..

~

Shania termenung menatap keluar kaca mobil, setelah tadi sampai di ruamh. Ia dan Shani langsung berangkat memakai mobil milik Nabilah. Dan kini mereka tengah di perjalanan, sebentar lagi mereka akan sampai di tempat yang dijanjikan.

Shania menyandarkan tubuhnya pada jok, “Shani..”

“Ya, kenapa?”

“Kamu masih punya perasaan sama Robby?” tanya Shania.

Shani melirik Shania sekilas, “Enggak.”

“Jangan bohong Shani,” ucap Shania.’

“Bener-,”

“Jangan bohong Shani.”

Shani menghela nafasnya, “Kenapa kamu nanyain kayak gitu?”

Shania termenung menatap keluar kaca, “Aku ngerasa kamu pantas buat gantiin posisi aku.”

“Maksud kamu?”

“Shani.. aku mau kamu sama Robby ya?”

Shani terdiam. Ia tidak membalas perkataan dari Shania. Hatinya ingin mengatakan iya, tetapi otaknya berpikir kembali bahwa kebahagiaan Shania itu Robby.

“Shan-,”

“Aku gak bisa,” ucap Shani memotong ucapan Shania.

“K-kenapa?” Shania menatap Shani yang tengah fokus mengemudi itu.

“Robby milih kamu Shania. Bukan milih aku, dia lebih milih kamu daripada aku.”

Shania menggeleng tersenyum, “Dia milih kamu kok. Udah tenang aja.”

“Aku gak mau ya Shania. Jangan aneh-aneh deh,” ucap Shani sebal.

Shania hanya terkekeh pelan, tak menanggapi ucapan dari Shani. Setelah itu, mereka pun telah sampai di tempat yang dituju. Di sebuah danau yang terdapat kenangan untuk Shania dan Robby di sini.

Dilihatnya mobil Robby telah ada, ia terlambat dengan janjinya. Shania keluar dari mobil setelah Shani memarkirkan mobilnya di samping mobil Robby.

“Keluar yuk.”

Shani menggeleng, “Kamu aja, aku enggak ikut.”

“Shani, setidaknya kamu ngeliat keluar deh. Bagus kok,” ucap Shania.

“Di dalam mobil aja.”

Shania menghela nafasnya, “Yaudah deh.” Shania berjalan mendekati danau tersebut, di sana sudah terdapat Robby yang tengah duduk di tepi danau.

Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Shania perlahan berjalan mendekat dengan perlahan menuju Robby. Ia mengendap-ngendap dari belakang, untuk menjahili Robby kali ini..

“Kamu gak perlu kayak gitu Shania,” ucap Robby yang masih menatap lurus ke danau.

Shania mengerucutkan bibirnya, “Kok tau sih?” dengan manjanya Shania memeluk Robby dari belakang, mengalungkan lengannya di leher Robby.

“Kedengeran tau.”

Shania terkekeh, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Robby yang memang sangat ia sukai. Dan tanpa sepengetahuan mereka, dari kejauhan Shani menatap mereka dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan.

Ada perasaan sakit yang menjalar di hatinya. Ia memang masih menyimpan perasaan itu pada Robby, tetapi kali ini Shania lebih butuh daripada dirinya. Mungkin lebih baik ia sekarang menahan dirinya saja.

Setelah itu, Shani kembali masuk ke mobilnya karena ia tidak mau hatinya tambah merasa sakit yang teramat dalam..

Shania melepaskan pelukannya, ia pun duduk di samping Robby. Jujur, ia sangat merindukan momen seperti ini saat bersama Robby.

“Robby, kamu udah lama nunggunya?”

Robby menggeleng, “Belum lama juga kok.”

Shania mengangguk. Lalu mereka berdua saling terdiam sambil menatap lurus pada danau. Malam ini, terasa indah sekali pasalnya bintang banyak bermunculan dan bulan yang sepenuhnya muncul.

“Bagaimana jawabanmu?” tanya Robby.

“Mungkin jawabanku tidak. Ada yang lebih baik bersamamu daripada aku.” Shania tersenyum getir seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Maksud kamu apa Shania?” Robby menoleh ke samping dan menatap Shania. Ia melihat wajah Shania yang terlihat pucat itu.

“A-aku gak bisa Robby.” Shania menundukkan kepalanya.

“Tapi kenapa?”

“Ada yang lebih pantas sama kamu daripada aku.”

“Tapi Shan..”

“Aku gak bisa maaf.”

Robby menghela nafasnya, “Siapa orang yang kamu sebut pantas dari pada kamu itu?”

“Shani. Dia lebih pantas dari pada aku,” ucap Shania.

“Robby.. aku punya permintaan sama kamu, boleh?” Shania menatap dalam mata Robby.

“Permintaan apa?” tanya Robby.

“Kamu sama Shani ya? Perlakukan Shani seperti halnya kamu memperlakukan aku, dan buat hatimu menjadi miliknya ya?”

“Kenapa kamu berkata seperti itu Shania?”

“Karena waktu gak akan lama lagi Robby,” desis Shania pelan yang tidak terdengar jelas oleh Robby.

“Kamu bilang apa tadi Shan?” tanya Robby dengan wajah bingung.

“Ah bukan apa-apa, kamu mau nerima permintaan aku kan?” Shania menunjukkan wajah melasnya, “Mau ya?”

Robby menghela nafasnya, “Aku gak tau kenapa kamu pengen banget kalau aku sama Shani. Kemarin aja minta ngejauhin, sekarang malah ngebet banget pengen sama dia. Ada apa sih sebenarnya?”

“Aku cuma mau jawaban ya atau tidak, bukan panjang lebar kayak gitu.”

“Aku gak tau.”

“Demi aku Robby, mau ya?” ucap Shania.

Robby menghela nafasnya kasar, “Baiklah, demi kamu.”

Shania tersenyum senang, “Ngg, boleh peluk?”

Robby mengangguk, “Tentu saja.”

Shania pun langsung memeluk erat Robby, mungkin setelah ini ia akan melihat seperti halnya kemarin ketika Robby dan Shani dekat. Tetapi tidak masalah baginya sekarang, karena Shani memang pantas menggantikan dirinya..

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s