Noor, part 2

Tak terasa bel tanda pulang sekolah telah berbunyi.

Semua siswa berbondong-bondong menuju parkiran untuk mengambil motor mereka.

“Lu ngapain sih yup ngikutin gue?” tanya Rezza setelah naik ke motornya.

“Aku mau ikut ke rumah kamu,” jawab Yupi yang dari tadi mengikuti Rezza.

“Gausah, gue anterin lu pulang aja.” Rezza menyodorkan helmnya pada Yupi. “Cepetan naik!”

“Tapi-“ ucap Yupi.

“Nggak ada tapi-tapian, masalah tadi gue masih bisa selesaiin sendiri,” potong Rezza sambil menarik tangan Yupi.

~oOo~

“Kamu beneran bisa selesaiin sendiri?” tanya Yupi setelah turun dari motor Rezza dan melepaskan helmnya.

“Emang kamu juga yakin kak Melody bakalan percaya sama penjelasan kamu?” lanjut Yupi.

“Enggak sih, tapi kalo Gre sendiri yang jelasi, gue yakin dia bakalan percaya,” jawab Rezza sambil meraih helmnya dari tangan Yupi.

“Tuh kan! Gimana kalo kak Melody masih tetep marah? Nggak percaya sama penjelasan Gre.”

“Udah, percaya aja sama gue, masalah ini bakalan selesai hari ini juga.”

“Yaudah deh kalo gitu, hati-hati pulangnya.”

“Masa gitu doang? Ciumnya mana?”

“Ihhh…, orang lagi khawatir malah disuruh nyium,” ucap Yupi cemberut.

“Gausah khawatir, gue nggak bakalan kenapa-kenapa,” Rezza mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Yupi.

“Bye,” lanjut Rezza lalu mulai memacu motor matic-nya.

“Bye,” ucap Yupi perlahan sambil terus menatap Rezza dan memegang pipinya.

Hanya sekitar lima menit, Rezza sudah sampai di rumahnya. Namun ia tidak langsung masuk ke rumahnya, melainkan ke rumah Gre yang berada tepat di sebelah rumahnya.

Tanpa memberi salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu, Rezza langsung masuk ke rumah Gre. Ia masuk lewat pintu samping karena tau pintu depat pasti di kunci dari pagi sampai sore.

“Baru pulang?” tanya Gre menoleh ke arah Rezza yang telah bersandar di ambang pintu kamarnya.

“Nggak sih, baru mau berangkat,” jawab Rezza berjalan menghampiri Gre yang sedang berbaring di kasurnya.

“Hobi banget ya bikin orang kesel?” Gre menatap Rezza dengan wajah sengak.

“Itu mah bukan hobi lagi, tapi udah jadi skill,” Rezza meletakkan tasnya di kasur Gre lalu berjalan ke arah kulkas kecil yang berada di sebelah meja belajar.

“Gimana?” tanya Rezza setelah megambil soft drink dari kulkas Gre.

“Udah lumayan kalo sekarang, cuma masih agak mual,” jawab Gre sambil berusaha bangkit.

“Baru kek gitu aja nggak masuk sekolah, dasar amateur,” Rezza menghampiri Gre dan membantunya.

“Iya deh, yang udah pro soal gituan,” ucap Gre setelah berubah posisi menjadi duduk.

“Udah makan?”

“Udah tadi pagi dibeliin bubur sama temen kamu.”

“Berarti siang belom makan sama sekali?”

“Belom, takut muntah lagi.”

“Bego, gue ambilin roti ya, ada kan?”

“Ada kayaknya, liat aja sendiri.”

Kemudian Rezza memberikan soft drink yang tadi ia ambil pada Gre lalu pergi ke dapur.

Setelah sampai di dapur, Rezza langsung membuka kulkas lalu mengambil roti tawar dan juga selai coklat.

“Gre di mana?” tanya seseorang yang baru masuk dari pintu belakang.

“Kamar,” jawab Rezza seedikit menoleh ke orang itu.

“Aku tunggu di sana,” ucap orang itu saat melewati Rezza.

Beberapa saat kemudian, Rezza kembali ke kamar Gre dengan membawa dua potong roti yang sudah diolesi selai coklat dan juga segelas susu putih.

“Nih minum dulu, baru abis itu makan biar nggak muntah,” suruh Rezza sambil memberikan susu putih yang tadi ia buat pada Gre.

“Tumben perhatian,” Gre menerima susu putih itu sambil menatap Rezza dengan heran.

“Bukan perhatian, ini namanya tanggung jawab,” ucap Rezza setelah metelakkan piring berisi roti ke atas meja.

“Kamu diapain sama Rezza semalem?” tanya orang tadi.

“Nggak diapa-apain kok,” jawab Gre setelah meminum susu putih tadi.

“Kalo nggak diapa-apain, kenapa sampe kaya gini?” orang itu menatap Gre dengan khawatir.

“Kak Melody kenapa sih? Aku beneran nggak diapa-apain kok sama Rezza,” ucap Gre tersenyum.

“Gini deh, aku ceritain kejadian semalem,” lanjut Gre.

Gre menceritakan semua kejadian yang terjadi semalam kepada Melody dengan detail, mulai dari saat ia diputuskan oleh pacarnya secara tiba-tiba, mengajak Rezza ‘minum’ di luar, sampai akhirnya mereka sangat mabuk dan menginap di rumah teman Rezza.

“Trus tadi pagi pas kamu pulang, kenapa bisa mintah-muntah sama mukanya pucet gitu?” tanya Melody penasaran.

“Dan kenapa Rezza nggak ikut pulang bareng kamu?” lanjut Melody.

“Tunggu bentar, aku belom selesai ceritanya kak,” jawab Gre tersenyum.

“Jadi waktu jalan ke rumah temennya Rezza, aku udah muntah banyak banget, pas sampe di sana sebenernya langsung di suruh makan biar nggak pucet pas pulang, eh ternyata malah pas pulang tetep aja muntah-muntah, mukanya juga tetep pucet.

“Kalo yang kenapa Rezza nggak pulang bareng aku, itu soalnya dia tidur lagi abis bangunin sama nyuruh aku pulang,” lanjut Gre.

“Gimana caranya Rezza bangunin kamu? Bukannya dia juga mabuk?” Melody menatap Rezza dengan dahi yang mengerut.

“Dia namparin aku, nih.” Gre menunjukkan kedua pipinya yang masih sedikit memerah. “Aku juga gatau gimana caranya dia bisa bangun, mungkin dia nggak tidur.”

“Ohh…, jadi gitu, kakak pikir kamu diapa-apain sama Rezza,” ucap Melody menatap Rezza yang tengah tiduran di sebelah Gre.

“Emang kak Melody mikir aku diapain sama Rezza?” tanya Gre dengan wajah heran.

“Diperkosa,” jawab Melody dengan polosnya.

Rezza dan Gre hanya terkekeh mendengar jawaban dari Melody.

“Kak Melody ada-ada aja, nggak mungkin lah aku diperkosa sama Rezza, dia kan sukanya sama cowok,” Gre tersenyum lalu mencubit pipi Rezza.

“Ah! Perih bego!” teriak Rezza sambil bangkit dari tidurnya.

“Kenapa sih?” tanya Gre menatap Rezza dengan heran.

“Tabok,” jawab Rezza dengan ekspresi malas.

“Sama siapa?” Gre mengernyitkan dahinya.

“Masih sakit?” Melody menghampiri Rezza dengan muka bersalah. “Kakak minta maaf  ya.”

“Nggak,” Rezza memalingkan wajahnya dari pandangan Melody.

“Yaudah, yuk pulang, kakak obatin pipinya,” ajak Melody sambil memegang tangan Rezza.

“Gausah, gue gapapa,” tolak Rezza melepaskan tangan Melody.

“Kalo gitu kakak pulang duluan,” ucap Melody lalu berjalan keluar kamar Gre.

“Oiya, ntar malem kakak mau keluar sama Naomi,” lanjut Melody sebelum keluar kamar.

“Ah iya kak, adeknya kak Naomi jadi pindah ke sini?” tanya Gre sambil memakan roti yang tadi Rezza bawa.

“Jadi, kenapa emang?” tanya Melody.

“Gapapa kok,” jawab Gre tersenyum.

Melody kembali berjalan keluar kamar Gre.

“Tidur kuy, ngantuk gue,” ajak Rezza sambil melepas jaket dan kaos kakinya.

“Lepas dulu seragamnya kalo mau tidur, ntar kusut,” suruh Gre sebelum menghabiskan susu putih tadi.

“Selow, tinggal setrika masalah selesai,” ucap Rezza kembali berbaring di sebelah Gre.

“Serah deh,” ucap Gre lalu berbaring membelakangi Rezza.

“Hmmm,” Rezza hanya bergumam sambil memeluk Gre.

“Eh?!” Gre sedikit terkejut saat Rezza memeluknya.

“Kamu meluk aku bukan karna kamu lagi ‘pengen’ kan?” tanya Gre sedikit menoleh ke belakang.

“Santai aja, gue nggak nafsu sama lu.” Rezza mempererat pelukannya. “Kecuali kalo lu telanjang.”

“Dasar,” ucap Gre terkekeh lalu memegang tangan Rezza yang memeluknya.

Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka, yang terdengar hanyalah suara kipas angin kecil yang berada di atas meja belajar.

“Za,” panggil Gre tanpa bergerak sama sekali.

“Hmmm,” gumam Rezza.

“Kamu pernah nggak sih kepikiran buat cari pacar?” tanya Gre sambil mengelus-elus tangan Rezza.

“Kenapa lu tiba-tiba nanya kek gitu?”

“Gapapa, pengen aja.”

“Kalo buat sekarang, gue nggak butuh yang kek gitu.”

“Kenapa?”

“Punya lu ama Yupi udah cukup buat gue.”

Tiba-tiba Gre berbalik badan, kini wajahnya dengan Rezza sangatlah dekat. Bahkan mereka bisa merasakan nafas dan detak jantung satu sama lain.

“Tapi kan kita bukan pacar kamu,” ucap Gre.

“Buat gue nggak ada bedanya,” Rezza tersenyum sambil membuka matanya sebentar.

“Iya sih, kamu kan aneh, selain kamu mana ada yang suka peluk sama cium sahabat ceweknya sendiri,” Gre menatap Rezza dengan wajah sengak.

“Nah tuh tau, kalo gue bisa lakuin apa yang biasanya orang pacaran lakuin ke sahabat gue sendiri, ngapain gue harus cari pacar?” ucap Rezza membuka matanya.

“Kalo lu mau cari pacar lagi ya sono, gue bantuin ntar,” lanjut Rezza lalu menutup kembali matanya.

“Kayaknya kalo aku punya pacar lagi, dia bakalan cemburu lagi deh sama kamu, kaya yang kemaren.”

“Ngapain harus cemburu sih sama gue?”

“Menurut kamu, emang ada cowok yang nggak bakalan cemburu kalo tau pacarnya suka ditidurin sahabatnya kaya gini?”

“Bedain antara tidur bareng sama ditidurin.”

“Ah iya ding, tapi…, kalo kaya gini emang masih bisa disebut tidur bareng?” tanya Gre mengernyitkan dahinya.

“Buat gue sih masih, gatau kalo yang lain,” jawab Rezza sambil cengengesan.

“Dah, cepetan tidur,” lanjut Rezza.

“Iya bawel,” ucap Gre lalu membenamkan kepalanya ke dada Rezza dan memeluknya dengan erat.

~oOo~

“Kamu yakin gamau ikut aja?” tanya Melody menatap Sinka yang berdiri di sebelah Naomi.

“Nggak deh kak,” jawab Sinka tersenyum.

“Yaudah kalo gitu, kamu di sini aja sama Rezza, gapapa kan?” tanya Naomi memegang pundak Sinka.

Sinka hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi kok malah aku yang nggak yakin ya?” Melody menatap Sinka dengan khawatir lalu mengambil smartphone-nya. “Aku suruh Najong nginep sini aja deh jagain kamu, aku takut kamu diapa-apain sama Rezza.”

“Gausah kak, ntar malah ngerepotin,” Sinka menahan Melody yang hendak menelfon Najong.

“Udah gapapa, lagian Najong paling semangat kalo disuruh ke sini,” ucap Naomi melepaskan tangan Sinka dari Melody.

“Ya kan mel?” lanjut Naomi dengan senyum menggoda.

Melody hanya menatap Naomi sambil mengernyitkan dahinya.

Beberapa menit kemudian Najong sudah berada di depan rumah Rezza.

“Mau pada ke mana emang?” tanya Najong menghampiri Melody, Sinka dan Naomi.

“Jenguk Achan,” jawab Naomi menoleh ke arah Najong.

“Emang udah pulang?” Najong menat Naomi dengan heran.

Naomi hanya mengangguk pada Najong.

“Yaudah hati-hati, jan malem-malem pulangnya,” Najong menghampiri Melody lalu mencium keningnya.

“Iya bawel,” ucap Melody mencubit pipi Najong.

Kemudian Naomi dan Melody berkangkat ke rumah temannya yang bernama Ayana Shahab atau yang sering dipanggil Achan. Sedangkan Najong dan Sinka masih berdiri di depan pintu rumah Rezza.

“Ngapain liatin gue kaya gitu?” tanya Najong menatap Sinka dengan heran.

“Kamu pacarnya kak Melody?” Sinka malah balik bertanya pada Najong.

“Kayaknya nggak perlu gue jawab lu udah tau,” jawab Najong sambil berjalan masuk ke rumah Rezza.

Sinka langsung mengikuti Najong setelah menutup pintu depan, mereka berjalan ke ruang tengah dan menonton TV.

“Ngapain lu berdua di sini?” tanya Rezza yang baru sama masuk ke rumahnya lewat pintu samping.

“Lah? Lu kaga tau kalo disuruh jagain Sinka?” tanya Najong menoleh ke arah Rezza.

Rezza menggeleng dengan wajah bingungnya.

“Dicariin malah udah di sini, dasar,” ucap Gre menghampiri Rezza dengan membawa dua botol beer.

“Ngapain ke sini malem-malem?” lanjut Gre menoleh ke arah Najong.

“Nih jagain Sinka, adeknya kak Naomi,” jawab Najong menunjuk Sinka yang duduk di sebelahnya.

“Jadi kamu adeknya kak Naomi?” tanya grre sambil berjalan ke arah Sinka.

“Iya,” jawab Sinka tersenyum.

“Kenalin, Shania Gracia, panggil aja Gre,” ucap Gre menjulurkan tangannya.

“Sinka Juliani,” Sinka menyalami tangan Gre dengan senyuman.

“Kenapa nggak ikut sekalian ato di rumah aja?” tanya Rezza menghampiri Gre.

“Di rumah aku nggak ada orang, aku juga nggak kenal sama temen-temennya kak Naomi kalo mau ikut,” jawab Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Emang di sini lu ada yang kenal?” Rezza menatap Sinka dengan satu alis naik.

Sinka langsung tertunduk mendengar pertanyaan dari Rezza.

“Sok banget lu kalo ngomong,” ucap Najong menatap Rezza dengan sinis.

“Yaudah, aku pulang aja kalo gitu,” Sinka berdiri dan menatap Rezza dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.

“Eh jangan, kamu di sini aja gapapa, kita ke rumah aku aja abis ini,” ajak Gre menahan Sinka yang hendak pergi.

“Makasih, tapi kayaknya aku pulang aja gapapa kok,” Sinka tersenyum ke arah Gre lalu melepaskan tangannya.

“Udah, pokoknya kamu ikut aku ke rumah, ntar aku suruh Yupi dateng biar rame,” ucap Gre tersenyum pada Sinka.

“Ah iya, nih,” lanjut Gre sambil memberikan satu botol beer pada Rezza.

“Gue nggak dikasih?” tanya Najong.

“Nggak! Beli aja sendiri kalo mau, wleek,” jawab Gre menjulurkan lidahnya.

“Yuk, sin,” lanjut Gre.

Sinka hanya mengangguk lalu mengikuti Gre ke rumahnya.

Rezza yang dari tadi berdiri langsug duduk di sebelah Najong setelah Gre dan Sinka keluar dari rumahnya.

“Za,” panggil Najong sambil menoleh ke arah Rezza.

“Hmmm,” gumam Rezza tanpa menoleh.

“Lu kalo ngomong mikir dulu nggak sih?” tanya Najong mengernyitkan dahinya.

“Tergantung,” jawab Rezza yang masih tidak menoleh.

“Tergantung apaan?”

“Tergantung sama siapa gue ngomong.”

“Trus lu tadi pas ngomong sama Sinka mikir kaga?”

“Kaga.”

“Lah? Gimana sih?!”

“Gimana apanya?”

“Lu kan ngejar kak Naomi udah lama.”

“Ya trus hubungannya sama adeknya apaan?”

“Lu masih belom sadar kalo baru aja lu sia-siain peluang dapetin kak Naomi?”

“Maksut lu?”

“Maksut gue, kalo hubungan lu sama Sinka itu bagus, kesempatan lu dapetin kak Naomi kan jadi lebih gede.”

“Gue masih nggak liat inti dari saran lu.”

“Gini ya, orang tuanya kak Naomi sama Sinka kan di Bandung, itu artinya mereka di sini cuma berdua.”

“Tunggu dulu, dari mana lu tau orang tua merka di Bandung?”

“Bego, kan gue sering anter jemput Melody ke apartment-nya kak Naomi.”

“Terus?”

“Hadeh….” Najong menatap Rezza dengan datar. “Kalo mereka cuma berdua di sini, itu berarti mereka nggak ada yang jagain di sini.”

“Arah omongan lu ke mana sih?” tanya Rezza dengan satu alis naik.

“Itu berarti lu harus bisa jadi penjaga mereka bego! Dan gimana carannya lu bisa jagain mereka berdua kalo hubungan lu sama Sinka jelek? Kak Naomi juga pasti bakalan tambah ngejauh dari elu kalo tau hubungan adeknya sama elu kek tadi!” jawab Najong dengan kesal.

“Ohh…,” Rezza menganguk paham mendengar jawaban dari Najong.

“Paham?” tanya Najong.

“Dikit, haha…,” jawab Rezza tertawa.

“Arghh! Serah lu deh,” ucap Najong memalingkan wajahnya.

“Udah lah, gausah mikirin itu, gue udah punya rencana sendiri,” Rezza meletakkan botol beer yang sudah kosong lalu berdiri.

“Emang gimana rencana lu?” tanya Najong menoleh ke arah Rezza.

“Gue bakalan perbaiki hubungan gue sama Sinka, siapa tau Naomi mau jadi pacar gue kalo hubungan gue sama Sinka bagus,” jawab Rezza mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Serah lu, anjing!” ucap Najong kembali memalingkan wajahnya.

“Hahaha…, udah lah, kuy renang, gerah gue dari tadi belom mandi,” ajak Rezza menarik tangan Najong.

~oOo~

“Siapa sih renang malem-malem gini?” tanya Yupi menoleh keluar kamar Gre.

“Palingan Rezza,” jawab Gre lalu meletakkan botol beer-nya karena sudah habis.

“Samperin yuk,” ajak Yupi beranjak dari kasur Gre.

Gre hanya mengangguk lalu ikut turun dari kasurnya, begitu juga dengan Sinka.

Sesampainya mereka di kolam renang, Gre langsung lompat ke dalam kolam karena ia memang hanya mengenakan celana pendek dan kaos dari tadi siang.

“Mau ikut nggak sin?” tanya Yupi menoleh ke arah Sinka yang berdiri di sebelahnya.

“Enggak deh, aku takut demam,” jawab Sinka dengan sedikit tersenyum.

“Yaudah, kita duduk di situ aja yuk,” ajak Yupi sambil menunjuk dua buah bangku di pinggir kolam.

“Renang nggak ngajak-ngajak, kebiasaan,” ucap Gre pada Rezza yang hendak keluar dari kolam.

“Buat apa gue ngajak elu renang di kolam lu sendiri?” tanya Rezza menatap Gre yang sedang beranang mundur.

Kemudian Rezza menghampiri meja yang berada di dekat Yupi dan Sinka duduk, di meja itu terdapat satu botol Chivas Regal yang tadi ia bawa dari rumahnya. Ia menuangkan minuman itu ke dua gelas kecil yang juga tadi ia bawa.

“Mau?” tawar Rezza menyodorkan satu gelas pada Yupi yang tiduran di kursi.

“Ntar aja aku ambil sendiri kalo pengen,” jawab Yupi menggelengkan kepala.

“Lu mau?” Rezza menyodorkan pada Sinka yang duduk di kursi sebelah.

“Emang itu apa?” tanya Sinka penasaran.

“Teh,” jawab Rezza setelah meminum habis gelas satunya.

“Gausah ajarin anak orang yang kaga bener,” ucap Najong menghampiri Rezza.

“Buat gue ini bener,” Rezza berbalik ke arah Najong lalu memberikan gelas yang tadi ia tawarkan pada Sinka.

“Buat elu mah emang kaga ada yang salah,” Najong meraih gelas itu dan langsung meminumnya.

Rezza tidak menghiraukan ucapan Najong, ia berlari ke arah kolam dan langsung melompat ke dalamnya.

“Itu punggung Rezza kenapa?” batin Sinka.

 

*to be continue*

Iklan

5 tanggapan untuk “Noor, part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s