Annihilation part 31

cover

Dada Krishna berdegup kencang saat dilihatnya Shani yang berada tepat di depannya. Ini adalah kali pertama ia melihat orang yang sudah melahirkannya. Sorot mata Ibunya begitu lembut, sama seperti yang Para Malaikat ceritakan, senyumnya sangat tulus, dan aura yang dipancarkan seolah mengundang siapa saja untuk akrab dengannya tanpa perlu merasa rendah diri

“Kemarilah Krishna”

Mendengar suara lembut itu, Krishna langsung menghampiri Ibunya. Shani sudah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Selama beberapa saat lamanya, Krishna hanya bisa diam terpaku. Ia tahu semestinya ia langsung berlari ke pelukan Ibunya, tetapi entah kenapa ia tak bisa melakukannya. Mungkin karena ia belum terbiasa saja

“Kalau Krishna belum ingin memeluk Ibu, Ibu bisa mengerti” kata Shani pada akhirnya

Ditariknya kembali tangannya dengan tetap tersenyum

“Bisa melihat putraku berada di hadapanku, itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih karena sudah mengundangku kemari, Gabriel” Shani mengarahkan pandangannya sejenak kearah Malaikat di belakang Krishna, yaitu Gabriel

“Aku juga senang bertemu denganmu, Ibu” sahut Krishna

Shani mengelus kepala Krishna lembut..

“Krishna, ajaklah Ibumu ke kamarmu” perintah Gabriel

Krishna mengangguk patuh lalu berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan arah kepada Ibunya, meninggalkan puluhan Malaikat yang masih berada di aula.

“Ibu, dimana Ayah ?” tanya Krishna di sela-sela mereka berjalan menuju kamarnya

“Dia sedang dalam perjalanan kesini, pasti nanti kau akan bertemu dengannya” jawab Shani

Tak lama kemudian, akhirnya mereka sudah sampai di depan kamar Krishna

CKITT

Pintu terbuka, dan terlihatlah kamar megah nan mengagumkan tersebut. Kamarnya itu terdiri dari dua ruangan, ruang tidur yang berisi satu ranjang besar dan ruang depan dengan meja tulis serta lemari-lemari buku. Sebuah pintu menghubungkan antara ruang tidurnya dengan ruang tidur Gabriel. Diluar kamarnya, terdapat balkon yang sangat nyaman, disana terdapat sebuah meja kayu kecil dengan vas bunga berisi mawar putih. Ada juga dua kursi panjang yang dilapisi bantal-bantal empuk sehingga bisa digunakan untuk membaca buku sambil merebahkan badan

Dari atas balkon tampak pemandangan hutan lebat yang menenangkan serta bukit kecil di kejauhan. Bahkan danau yang biasa digunakan Para Malaikat untuk bermain bisa terlihat dari kamarnya. Padahal jarak Istana dengan Danau itu sangatlah jauh

“Ini kamarmu, Nak ?” Shani mengernyitkan dahinya

“Iya, Ibu”

“Besar sekali kamarmu” Shani memandang kagum sekeliling kamar Krishna

“Ya, begitulah Bu”

“Sejak kecil aku sempat berpikir, kenapa semua kemewahan dan perlakuan istimewa selalu saja diberikan kepadaku, padahal aku ingin seperti Malaikat lainnya yang bisa bebas bermain tanpa berlatih ilmu senjata” Krishna mengungkapkan isi hatinya

Shani mendengarkan dengan seksama curhatan putranya

“Barulah aku mengetahui semua perlakuan spesial tersebut karena aku adalah seorang yang diramalkan oleh-Nya untuk membasmi Para Iblis untuk selamanya” gumam Krishna panjang lebar

“Maafkan aku sayang, karena sudah melahirkanmu untuk menanggung beban yang sangat besar” Shani merasa bersalah terhadap putranya sendiri

“Ini bukan salah Ibu, mungkin memang sudah takdirku” jawab Krishna

“Bahkan aku belum yakin bisa mengalahkan Iblis, ilmu senjataku masih jauh dari kata hebat”

“Jangan khawatir, Nak. Ayahmu akan mengajarkannya setibanya ia sampai disini” Shani merasa bersimpati kepada putranya itu.

“Percuma, Ibu. Gabriel, Rafael dan Malaikat hebat lainnya sudah sering mengajarkanku ilmu-ilmu senjata dan Roost, namun kemampuanku tidak berkembang sama sekali”

~

WUSSSH

Api Fira muncul di depan gerbang Surga, sontak ratusan Malaikat penjaga yang berilmu tinggi langsung sigap dan menarik pedang mereka masing-masing. Memang Gabriel tidak memberitahu akan kedatangan Kelvin. Wajar saja penjaga-penjaga itu langsung bersiaga ketika ada Iblis yang datang.

Perlu diketahui bahwa Fira hanya bisa digunakan tiga kali dari masing-masing Iblis. Aidan sudah memakai dua kali, jadi hanya tersisa satu lagi kunjungannya ke Surga. Sementara Kelvin, ini baru pertama kalinya ia mengeluarkan Fira dari dalam tubuhnya.

“.. Iblis, apa tujuanmu kemari ?”

“Heei.heei.. tenang.. aku tidak bermaksud menyerang kalian..”

“Lalu ? apa yang kau lakukan disini ?”

“Cepat pergi ! atau aku tidak akan segan-segan mengeluarkan Roostku”

Beberapa Malaikat penjaga sudah bersiap menyerang Kelvin, bahkan ada diantara mereka yang sudah mengarahkan pedangnya ke leher Kelvin

“Aku diundang oleh Gabriel untuk datang kesini menemui putraku, itu saja” balas
Kelvin santai, padahal pedang sudah terhunus ke dekat lehernya

“G..G..Gabriel ?!”

“Haah.. ternyata Malaikat itu belum memberitahukan kepada penjaga gerbangnya.. dasar menyebalkan” gerutu Kelvin kesal

“Apa buktinya ?!” beberapa diantara mereka belum percaya

“Tanyakan saja sendiri pada pemimpin kalian itu”

Akhirnya setelah menyita waktu cukup lama, Kelvin diizinkan masuk oleh para penjaga itu, tentunya setelah si penjaga menemui Gabriel terlebih dahulu. Kelvin merasa geram karena ia tertahan disana cukup lama

“Dimana arah Istana kalian ?” tanya Kelvin di udara, sejauh mata memandang ia hanya melihat daerah hijau yang penuh dengan rumah-rumah di antaranya, di bagian timur terdapat danau, di bagian barat, terdapat pegunungan-pegunungan curam. Tidak satupun terlihat bangunan megah yang bernama Istana

“Kau terbang lurus saja dari Gerbang ini, kira-kira sejauh 100 km” Kelvin langsung membelalakkan matanya kaget, ia tak menyangka jaraknya sejauh itu

“Astaga, betapa jauhnya”

“Jika terbang, akan terasa cepat” ucap penjaga itu

“Yasudah, terimakasih atas informasinya”

Kelvin terbang lurus menuju kearah Istana. Di saat ia terbang, banyak pandangan-pandangan aneh dari Para Malaikat di bawah sana, wajar memang, karena sayapnya begitu mencolok dengan warna hitamnya. Banyak dari mereka yang memasang wajah ketakutan, mungkin mengira
bahwa Kelvin akan menyerang Surga

Akhirnya setelah melakukan perjalanan udara selama kurang lebih satu jam, Kelvin dapat melihat Istana megah itu yang sedikit tertutupi kabut-kabut putih

“Akhirnya sampai juga” Kelvin menghela nafas lega

~oOo~

“Kalian mengerti ?”

“Mengerti !!!”

“Baguslah, hari ini latihan selesai, silakan kembali ke Istana”

Para Iblis itu membubarkan diri mereka

“Aku pamit..”

“Heeei.. tunggu dulu”

“Ada apa ?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu”

“Tidak bisakah kita bicara lain waktu ? Yang Mulia sudah memanggilku”

“Sebentar. Sebentar saja”

“Hah.. baiklah..”

Kedua Iblis itu adalah kedua guru yang melatih beberapa Iblis tadi dalam latihan.

“Ve, bisakah kita kembali seperti dulu ?”

“Seperti dulu ? maksudmu ?”

“Kita kembali berhubungan sebagai sepasang kekasih. Kita sudah tidak terpisah oleh Klan kali ini”

“Tidak bisa. Aku tidak berniat lagi dengan yang namanya cinta”

“Kenapa ?”

“Urusan kerajaan lebih penting”

Kedua Iblis itu adalah Razkal dan Ve. Si Iblis pria sedang membujuk si Iblis wanita untuk kembali bersama dengannya sebagai sepasang kekasih. Keduanya sedang berada di lapangan latihan kala itu, mereka baru saja selesai melatih beberapa Iblis muda
dalam ilmu Roost

“Ayolah, aku sangat mencintaimu..”

“Mencintaiku ? kau bilang mencintaiku ? kemanakah kau ketika aku berkata hal yang sama kepadamu tepat setelah Kerajaan Iblis terpecah ?!!”

“I..it..itu karena kita berbeda Klan saat itu”

“Dengan kau berkata begitu, itu sudah menunjukkan bahwa kau lebih mementingkan Kerajaan daripada diriku..” Ve sudah tersulut emosi, memang ia masih memendam perasaan terhadap Razkal, namun akal sehatnya menahannya untuk kembali berhubungan dengan Iblis pria itu

“Iya !! aku akui pada saat itu memang aku mementingkan kerajaan, namun sekarang.. aku menyesal mengambil keputusan itu”

“Sudahlah.. anggap saja kau tidak mengenal denganku. Kita hanya sebatas rekan sesama bawahan setia Yang Mulia Aidan. Itu saja” Ve baru saja ingin pergi dari hadapan Razkal sebelum si Iblis pria menahan lengan Ve

“Ve.. tu..tunggu !!”

“L..Lepass.. !!” Ve memberontak

Namun cengkraman tangan Razkal lebih kuat daripada rontaan Ve

“Kumohon.. kembalilah padaku..” Razkal sepertinya benar-benar memaksa

WUSSSH

Dengan sangat terpaksa, Ve mengeluarkan Roost anginnya, sehingga membuat Razkal terpental jauh kebelakang

~oOo~

“Ibu, kudengar kau bisa meramal” Krishna pernah mendengar kabar-kabar dari Malaikat-malaikat lainnya jika Shani bisa meramal, dan yang ia tahu Shani adalah nama Ibunya

“Heei, darimana kau tahu kabar itu ?”

“Aku sedikit mencuri dengar dari beberapa Malaikat, Ibu”

“Dasar kau ini” Shani mengelus kepala putranya

“Hehe” Krishna sedikit tersenyum

“Meramal bukanlah kegiatan yang baik. Jangan suka bermain dengan ramalan, Sayang. Lagipula Ibu tidak begitu bisa, hanya hal-hal kecil saja”

“Jadi bagaimana dengan ramalan-ramalan tentang diriku ?”

“Ramalan tentangmu sangat berbeda, sayang. Lebih tepatnya jika Dia yang mengatakan, sudah pasti terjadi. Karena Dia adalah Yang Maha Kuasa”

“Oh. Aku mengerti sekarang, kukira ramalan tentangku dibuat oleh suatu Malaikat”

“Memangnya Gabriel atau yang lainnya tidak pernah memberitahumu bahwa Yang Kuasa sendiri yang meramalkan kedatanganmu ?” Krishna menggeleng

“Pantas saja kau bingung akan hal itu” ucap Shani

“Oh iya Ibu, bagaimana rupa ‘Yang Kuasa’ ?” tanya Krishna lagi

“Ibu juga tidak tahu, Sayang. Hanya Gabriel sajalah yang pernah melihat rupa-Nya”

“Apakah Ayah selalu bersikap baik kepada Ibu ?” Krishna seperti anak kecil
yang bertanya terus-menerus kepada Ibunya tentang berbagai hal

“Tentu saja, walaupun dia Iblis, tetapi hatinya seperti Malaikat, memang kadang kita sedikit bertengkar karena perbedaan pendapat. Namun hal itu tidak bertahan lama”

“Lalu, bagaimana awal pertemuan Ibu dengan Ayah ?” Krishna memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang kedua orangtuanya

“Panjang ceritanya”

“Kita punya cukup waktu”

“Baiklah, Ibu akan mulai…” namun disaat Shani mau bercerita

TOK TOK TOK

Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari arah luar, sepertinya ada seseorang yang ingin masuk

“Sebentar Ibu, aku membukakan pintu terlebih dahulu..”

“Eh tidak usah, biar Ibu saja. Kau diamlah disini” Shani menahan Krishna, ia lalu berjalan kearah pintu yang terletak cukup jauh dari tempat Krishna saat itu

Benar-benar kamar yang sangat luas

Shani membukakan pintu, dan terlihatlah sosok yang sudah tidak asing lagi baginya

“Kelvin !” pekik Shani riang karena akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu sudah datang

“Hai Shani, maaf membuatmu dan anak kita menunggu lama”

“Lama sekali kau ini, darimana saja kau ?” Shani memasang wajah cemberutnya

“Ada sedikit kejadian menyebalkan di gerbang Surga sana”

“Ada apa ?”

“Sudahlah, kuceritakan lain kali. Sekarang, dimana Krishna kecilku ?”

“Dia ada di dalam, masuklah”

Kelvin masuk ke kamar megah Krishna itu

“Bagaimana ? apakah dia tampan sepertiku ?” tanya Kelvin dengan penuh percaya diri

“Lihat saja sendiri, menurutku sangat mirip sekali”

“Benarkah ?”

“Ibu.. siapa it..” kalimat Krishna terhenti ketika dilihatnya sosok yang mirip
dengannya sedang berdiri di samping si Ibu

“Haai.. Krishna kecil” sapa sosok di samping Ibunya riang

“Inilah Ayahmu, sayang” ucap Shani

Dilihatnya sosok yang dikatakan Ayah itu dari atas sampai bawah, ia bisa merasakan aura kekejaman dari dalam tubuh si Ayah, meskipun saat itu ayahnya tengah tersenyum.

*To Be Continued*

created by : @KelvinMP_WWE
Follow IG : kelvinmandala
wattpad : KelvinMP_48
blog : mandalakelvin.wordpress.vom
Iklan

Satu tanggapan untuk “Annihilation part 31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s