IDFWU 2

libur

 

“Kamu mau ke mana? Buru-buru banget,” tanya Sinka sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Luki.

“Ada urusan penting,” jawab Luki lalu mempercepat langkahnya.

“Urusan apa?” Sinka menahan tangan Luki dengan tiba-tiba.

“Yang pasti bukan urusan situ,” Luki melepaskan tangan Sinka yang menahannya lalu melangkah pergi.

“Sombong lo, anjing!” ucap Sinka sedikit berteriak.

Luki hanya mengangkat tangan kanannya sampai sejajar dengan telinga lalu mengacungkan jari tengahnya sebentar tanpa memperlambat langkahnya.

Sinka yang kesal langsung berlari ke arah yang berlawanan dengan Luki.

~oOo~

“Yup!” Luki berteriak setelah kembali menutup pintu depan rumahnya.

“Abang!” teriak Yupi sambil berlari ke arah Luki.

Luki menangkap Yupi lalu menggendongnya.

“Kok pake baju kaya gini? Mau jalan-jalan?” tanya Luki sambil menggendong Yupi ke ruang keluarga.

Yupi hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Emang kak Gre udah pulang?” tanya Luki heran.

“Aku yang mau ajak Yupi jalan-jalan,” ucap seseorang yang tengah berdiri di ruang keluarga.

Luki menghentikan langkahnya setelah melihat orang itu.

“Maafin Yupi bang, kak Celin gamau Yupi suruh pulang,” bisik Yupi dengan wajah sedikit ketakutan.

“Gapapa, ini bukan salah Yupi kok,” ucap Luki sambil tersenyum menatap Yupi.

“Kenapa kamu boong?” Celin berjalan ke arah Luki dengan mata yang berkaca-kaca.

“Yupi bawain tas abang ke kamar terus tunggu di atas ya,” Luki menurunkan Yupi dan memberikan tasnya.

Yupi hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum berlari ke kamar Luki.

“Tau alamat gue dari siapa?” tanya Luki.

PLAK!!

Yupi yang mendengar suara tamparan itu langsung berlari ke arah Luki.

“Jangan sakiti abang!” teriak Yupi sambil berdiri di depan Luki dan membentangkan tangannya.

“Abang gapapa kok, Yupi tunggu di kamar aja ya, abang mau ngobrol dulu sama kak Celin,” ucap Luki sambil berlutut dan memutar badan Yupi ke arahnya.

“Abang beneran gapapa?” tanya Yupi dengan wajah khawatir.

“Iya gapapa, udah sana Yupi ke atas dulu,” jawab Luki dengan tersenyum.

Sesaat setelah Luki berdiri, Celin langsung memeluknya sambil menangis.

“Kenapa harus boong?!” tanya Celin sambil terus menangis dan memeluk Luki.

“Gatau, udah kebiasaan boong jadi kayaknya itu cuma boong refleks aja,” jawab Luki seakan tak bersalah.

“Nggak mungkin! Pasti ada alesannya,” Celin melepaskan pelukannya namun masih tetap menangis.

“Bentar gue inget-inget dulu,” Luki berjalan ke arah sofa dan duduk.

“Nggak ada,” ucap Luki menoleh ke arah Celin yang masih menangis.

“Pasti ada! Everything always happens for a reason,” Celin berjalan ke arah Luki dan duduk di sebelahnya.

“Itu buat orang lain, buat gue nggak berlaku,” Luki memalingkan wajahnya dari Celin.

Kemudian hening, yang terdengar hanya suara tangisan Celin.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berubah dalam ruang keluarga itu. Celin masih tetap menangis dan Luki masih memalingkan wajahnya, hanya saja sekarang Yupi sudah berada di tengah tangga menyaksikan kejadian drama itu.

“Kamu kenapa jadi gini sih?!” Celin berusaha mengusap air matanya dan menatap Luki.

“Harusnya gue yang nanya kaya gitu, kenapa situ kaya gini?! Apa untungnya buat situ dateng jauh-jauh ke sini?! Cuma mau nanyain kenapa gue boong?!” bentak Luki sebelum berjalan ke arah Yupi.

“Aku kaya gini karna aku sayang sama kamu,” Celin mencoba tersenyum menatap Luki.

Luki tidak menghiarukan Celin, ia hanya diam sambil menggendong Yupi ke kamarnya.

“Terserah kamu mau percaya apa enggak, yang pasti aku udah jujur soal perasaan aku sendiri,” ucap Celin saat Luki membuka pintu kamar Yupi.

Luki berhenti sebentar sebelum akhirnya tetap masuk ke dalam kamar Yupi.

“Kenapa abang kaya gitu? Kan kasian kak Celin,” tanya Yupi saat Luki meletakkannya di atas kasur.

Luki masih tetap diam, ia pergi ke belakang pintu untuk mengambil sepasang sepatu untuk Yupi.

“Abang minta maaf ya sama kak Celin,” pinta Yupi saat Luki memakaikan sepatu untuknya.

Luki tidak membalas ucapan Yupi, ia hanya diam selama memakaikan sepatu Yupi.

Sesaat setelah Luki selesai memakaikan sepatu, Yupi memegang kedua pipi Luki dan menolehkan ke arahnya.

“Maafin kak Celin ya bang,” Yupi memandang wajah Luki dengan ekspresi memelas.

“Abang nggak marah kok sama kak Celin, abang cuma kesel aja tadi,” Luki tersenyum lalu menggendong Yupi kembali.

“Tapi abang udah bikin kak Celin nangis,” ucap Yupi sambil cemberut.

“Yaudah iya, abang bakalan minta maaf.”

Luki keluar dari kamar Yupi dan kembali ke ruang keluarga, di sana sudah ada Gre yang masih memakai seragam sekolahnya sedang duduk bersama Celin.

Yupi yang melihat Gre sudah pulang langsung berusaha turun dari gendongan Luki, setelah berhasil turun, ia berlari ke arah Gre.

“Kak Gre ayo jalan-jalan!” teriak Yupi sambil menarik-narik tangan Gre.

“Kak Celin juga ikut ya,” lanjut Yupi menoleh ke arah Celin.

“Emang mau jalan-jalan ke mana?” tanya Celin sambil tersenyum.

“Ng…, ng…, gatau,” jawab Yupi dengan ekspresi polosnya.

“Kamu ini, gatau mau ke mana tapi udah ajak-ajak,” ucap Gre sambil mencubit pipi Yupi.

“Hehehe…,” Yupi hanya cengengesan seakan tak bersalah.

Luki, Gre dan Celin hanya tersenyum melihat tingkah Yupi.

“Yaudah kak Gre ganti baju dulu, baru kita jalan-jalan,” Gre berdiri lalu berjalan ke kamarnya.

“Nggak kuliah?” tanya Gre saat berpapasan dengan Luki di ujung tangga.

“Kaga, tadi udah ngundurin diri,” jawab Luki tanpa menoleh.

“Hah?! lu udah gila ya? emang lu mau ngapain kalo nggak kuliah?” Gre menatap Luki dengan ekspresi heran.

“Di rumah paling, desain ama motret kalo ada order-an,” Luki menoleh ke arah Gre lalu tersenyum.

“Serah deh,” Gre kembali berjalan ke kamarnya.

“Lagian abang bisa jadi lebih fokus jagain kamu ama Yupi kalo di rumah,” ucap Luki yang juga kembali berjalan ke arah Yupi dan Celin.

Ucapan Luki membuat Gre berhenti sejenak sebelum akhirnya masuk ke kamarnya.

“Kenapa kamu ngundurin diri?” tanya Celin saat Luki duduk di sebelahnya.

“Harus banget gue ngulang omongan gue?” Luki menatap Celin dengan sengak.

“Buat gue keluarga itu nomer satu, gue cuma gamau adek-adek gue tumbuh tanpa kasih sayang di lingkungan keluarga,” lanjut Luki menoleh ke arah Yupi yang sedang berlari-lari sambil tertawa.

“Emang orang tua kalian ke mana?” tanya Celin juga ikut melihat Yupi.

“Orang tua gue udah pisah setahun setelah Yupi lahir, meskipun mereka masih sering ngirim duit sebulan dua kali, tapi gue gatau mereka di mana,” jawab Luki tersenyum.

“Maaf, aku gatau,” ucap Celin sambil menunduk.

“Gapapa, cepet ato lambat situ juga bakalan tau soal itu,” Luki berdiri dan menghampiri Yupi.

~oOo~

Sekarang Luki, Celin, Gre dan Yupi sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan, lebih tepatnya di timezone.

Luki menghampiri Gre yang sedang duduk berdua dengan Celin.

“Kamu temenin Yupi main gih, abang mau ngobrol bentar,” suruh Luki kepada Gre.

Setelah Gre pergi untuk menemani Yupi bermain, Luki duduk di sebelah Celin.

Hening, suasana canggung yang cukup kuat membuat Luki dan Celin enggan untuk memulai percakapan.

“Tau gue masih hidup dari siapa?” tanya Luki tanpa menoleh ke arah Celin.

“Aku liat kamu pas event di JEC bulan kemaren,” jawab Celin yang juga tidak menoleh.

“Dari mana situ yakin kalo itu gue? kan bisa aja itu orang lain yang cuma mirip,” Luki menatap Celin dengan heran.

“Nggak ada di dunia ini yang mirip kamu, nggak peduli gimana pun kamu rubah penampilan kamu, aku bisa pastiin itu kamu ato bukan.”

“Terus tau alamat gue dari siapa?”

“Dari Rezza, awalnya sih dia gamau kasih tau, tapi aku paksa terus sama bilang gimana perasaan aku ke kamu sekarang.”

Tanpa berkata apa-apa, Luki berdiri dan mencari kedua adiknya. Sedangkan Celin hanya tersenyum ke arah Luki.

“Kak Gre jahat! Itu boneka aku!” Yupi berteriak sambil mengejar Gre.

Luki yang mendengar teriakan Yupi langsung menoleh ke arahnya, terlihat Yupi tengah berlari mengejar Gre yang sedang membawa sebuah boneka hiu kecil. Gre yang melihat Luki sedang berdiri langsung berlari ke arahnya dan bersembunyi di belakangnya.

“Kak Gre balikin boneka aku!” teriak Yupi sambil terus berusaha merebut boneka hiunya adri tangan Gre.

Gre hanya tertawa sambil terus berusaha menghalangi Yupi dengan tubuh Luki, harapan Luki agar bisa akur kembali dengan Gre untuk sesaat terwujud. Di tengah keributan kedua adiknya ini, Luki tersenyum sambil berharap bahwa kebahagiaan kecil ini akan selalu ada.

Gre yang terlalu fokus menghindar dari kejaran Yupi membuatnya tersandung kaki Luki, dengan cepat Luki memutar badannya dan menangkap tubuh Gre yang tengah terjun bebas ke lantai.

Waktu seakan berhenti untuk Gre dan Luki saat tatapan mereka bertemu, mengingat adik berkakak ini yang tidak pernah akur selama setahun terakhir membuat suasana canggung datang begitu cepat.

“Makanya hati-hati,” ucap Luki sambil membantu Gre kembali berdiri.

Gre hanya tertunduk diam, bahkan saat Yupi merebut kembali boneka hiunya.

~oOo~

Setelah puas bermain di timezone dan makan, kini Luki, Celin, Gre dan Yupi sedang berjalan-jalan di taman yang letaknya tidak jauh dari mall yang tadi mereka kunjungi. Yupi berjalan diantara Celin dan Gre sambil menggandeng tangan mereka, sedangkan Luki berjalan sendiri di belakang mereka bertiga.

Luki yang selalu membawa kamera langsung memotret mereka bertiga dari belakang, ia berhenti sejenak untuk melihat hasil fotonya. Terlihat seseorang yang tidak asing dimata Luki saat melihat hasil foto yang baru saja ia ambil, ia pun melihat ke arah orang itu dan menghampirinya.

Sorry buat yang tadi di kampus, nggak seharusnya gue kaya gitu,” ucap Luki setelah duduk di sebelah orang itu.

“Gapapa, lagian itu salah aku juga udah ngatain kamu kaya gitu,” orang yang tidak lain adalan Sinka itu memalingkan wajahnya.

Kemudian hening, rasa bersalah antara kedua manusia ini membuat suasana yang canggung menyelimuti mereka.

“Ke sini sama siapa?” tanya Luki.

“Sendiri,” jawab Sinka tanpa menoleh.

“Kamu sendiri sama siapa ke sini?” lanjut Sinka menoleh ke arah Luki.

“Adek sama temen,” jawab Luki sambil menunjuk ke arah orang yang ia maksut.

Kemudian mereka berdua bercocok sosial cukup lama tanpa ada rasa canggung lagi, Sinka yang belum pernah berbicara lama dengan Luki melihat sesuatu yang berbeda darinya, ia tidak melihat sosok Luki yang ia anggap cuek, dingin dan terkesan sombong.

Namun berbeda dengan Luki, selama berbicara dengan Sinka ia merasa ditarik kembali ke masa lalunya dengan Celin.

“Abang!” teriak Yupi sambil berlari ke arah Luki dan Sinka duduk.

Luki dan Sinka langsung menoleh ke arah teriakan Yupi.

Yupi terus berlari ke arah Luki sambil tersenyum dan langsung memeluk kakinya setelah sampai.

“Kok celananya basah?” tanya Luki saat Yupi memeluk kakinya.

“Iya barusan main air di sana,” jawab Yupi sambil menunjuk kolam yang tidak jauh darinya.

Beberapa saat kemudian Gre dan Celin sudah bersama Luki, Sinka dan Yupi.

“Oiya, kenalin ini adek gue, Yupi sama Gre,” Luki memperkenalkan kedua adiknya.

Kemudian Sinka bersalaman dengan Yupi dan Gre.

“Kalo ini Celin,” ucap Luki sambil menunjuk Celin.

“Sinka,” Sinka tersenyum saat bersalaman dengan Celin.

“Celin.”

 

*to be continue*

 

Note: gue baru inget kalo kalian (para pembaca) nggak ada yang tau siapa Celin, pasti bakalan susah ngebayangin gimana situasinya kalo kalian gatau siapa dan kaya gimana tokohnya, jadi untuk mempermudah imajinasi kalian, mungkin kalian bisa ganti Celin sama pacar, gebetan ato cewek yang kalian suka, ato terserah kalian yang penting ngebantu imajinasi kalian.

Kalo kalian masih mikir kenapa tokoh selain member JKT48 gue masukin dalam cerita gue, jawaban gue karena bukan member JKT48 yang jadi inspirasi gue buat nulis cerita ini, tapi dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s