IDFWU

libur

 

Semua orang di ruangan itu sibuk berkenalan dengan orang-orang yang baru mereka temui, hanya ada satu orang yang terlihat tidak bersemangat untuk memperkenalkan dirinya. Orang itu hanya duduk di kursinya yang ada di barisan paling belakang sambil mengutak-atik kameranya. Orang itu menoleh sedikit saat mendengar kursi yang berada di sebelahnya di geser.

Terlihat seorang perempuan dengan jaket bermotif panda sedang tersenyum ke arah orang tadi.

“Hai…,” sapa perempuan itu dengan senyum yang lebar sehingga membuat giginya yang gingsul terlihat.

Orang itu hanya membalas sapaan si perempuan dengan senyum yang terlihat dipaksakan lalu kembali mengutak-atik kameranya.

“Kamu lagi ngapain?” tanya perempuan tadi kembali menggeser kursinya.

“Liat-liat foto,” jawab orang itu tanpa menoleh.

“Kenalin, aku Sinka Juliani,” si perempuan menjulurkan tangannya ke arah orang itu sambil tersenyum.

“Luki,” orang itu menyalami tangan Sinka sambil tersenyum sedikit.

Sinka sedikit memiringkan kepalanya sambil menatap Luki dengan heran.

“Himawan, Luki Himawan,” ucap Luki lalu melapaskan tangan Sinka.

“Dari tadi aku liatin kok diem aja, nggak ikut kenalan kaya yang lain?”

“Males mau gerak.”

“Ohh….”

Kemudian hening, Luki kembali fokus dengan kameranya sedangkan Sinka hanya menatap Luki dengan heran.

“Kamu suka Photography ya?” tanya Sinka memecah keheningan antara ia dan Luki.

“Nggak juga, biar nggak diem aja tangannya makannya pegang-pegang kamera,” jawab Luki menoleh ke arah Sinka sambil tersenyum.

“Ohh…,” Sinka mengangguk paham dengan jawaban Luki.

“Kalo aku suka banget sama panda, andai aja di Indonesia boleh pelihara panda di rumah, pasti aku udah pelihara banyak,” lanjut Sinka yang terlihat sedang membayangkan sesuatu.

“Nggak nanya,” ucap Luki sambil berdiri dari kursinya lalu pergi keluar ruangan.

Beberapa hari setelah perkenalan itu, mereka jarang bertemu lagi.

Karena datang terlalu awal, kini Luki sedang tidur disalah satu bangku taman untuk menunggu kelas dimulai. Baru beberapa menit ia memejamkan matanya, sudah ada seseorang yang menganggunya.

“Hai,” sapa orang itu yang membuat Luki sedikit kaget.

Luki memebuka satu matanya menatap orang yang menyapanya sebelum bangkit dari posisi tidurnya.

“Kamu kok jarang keliatan, kemana aja?” tanya orang itu sambil duduk di sebelah Luki.

“Nggak kemana-mana, lagi males aja masuk ke kelas,” jawab Luki tanpa melihat ke arah orang yang duduk di sebelahnya.

Kemudian Luki bangkit dari bangku dan bersiap untuk pergi.

“Mau kemana?” orang yang tadi duduk di sebelah Luki juga ikut berdiri dan menahan tangannya.

“Sarapan.”

“Aku ikut!”

“Gausah, situ duduk-duduk aja di sini.”

“Kenapa gaboleh?”

“Di kantin banyak asap rokok, ntar situ bau rokok pas masuk ke kelas.”

“Gapapa, pokoknya aku ikut! Titik!”

“Serah deh,” ucap Luki melepaskan genggaman orang itu lalu mulai berjalan ke arah kantin.

Orang itu pun berjalan mengikuti Luki di belakangnya tanpa banyak bicara.

“Kamera kamu mana? Kok nggak dibawa?” tanya orang yang berjalan di belakang Luki.

“Lagi males bawa,” jawab Luki tanpa menoleh ke belakang.

“Oiya, nama situ siapa? Gue lupa,” sambung Luki sedikit menoleh.

“Sinka,” jawab orang itu mempercepat jalannya sehingga ia berada di sebelah Luki.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah sampai di kantin, suasana kantin tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang saja di situ.

Setelah memesan makanan, mereka berdua duduk di meja yang berada di luar kantin.

Luki mengeluarkan sebungkus rokok dari tasnya dan menyalakan sabatang.

“Bisa berhenti nggak liatin gue kaya gitu? Risih gue,” tanya Luki memalingkan wajahnya.

“Maaf,” ucap Sinka sambil menunduk.

Luki mengeluarkan kameranya dari dalam tas lalu bersiap memotret Sinka.

Uhuk… uhuk…

“Napa?” Luki mengerutkan dahinya sambil menatap Sinka yang baru saja batuk.

“Enggak, gapapa kok,” jawab Sinka sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian Sinka kembali terbatuk.

“Kan udah dibilang kalo di kantin banyak asap rokok, ngeyel sih,” ucap Luki lalu membuang rokoknya jauh-jauh.

“Kok di buang?” tanya Sinka menatap Luki dengan heran.

“Situ mau batuk-batuk terus?” tanya Luki dengan wajah sengak.

Sorry ya,” ucap Sinka sambil menunduk.

“Ini mas pesenannya,” ucap ibu kantin sambil meletakkan makanan di atas meja.

Luki langsung menyantap nasi goreng pesanannya. Sinka hanya melongo saat melihat Luki menyantap nasi gorengnya, ia seakan melihat orang yang baru bisa makan setelah satu minggu puasa tanpa buka dan sahur, ato bahasa singkatnya Luki makan dengan bringas.

Saat Luki makan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telinga seluruh umat manusia, suara perut kelaparan. Luki langsung menatap Sinka sambil terus mengunyah nasi gorengnya, sedangkan Sinka langsung memalingkan wajahnya berpura-pura melihat sekitar.

Tanpa berkata apa-apa, Luki langsung berdiri dan masuk ke kantin.

“Nih makan,” suruh Luki sambil meletakkan sebuah sendok ke atas meja dan menggeser nasi gorengnya ke arah Sinka.

“Nggak, gausah, aku gapapa kok,” jawab Sinka tersenyum.

“Udah makan aja, daripada situ pingsan ntar,” ucap Luki lalu meminum es teh yang ia bawa.

“Enggak, aku gapapa kok, beneran,” Sinka kembali menggeser nasi goreng itu ke arah Luki.

“Ah iya! Mana mungkin situ mau, itu kan sisa makanan gue, bego emang.”

“Nggak kok bukan gara-gara itu, itu kan punya kamu, kamu aja yang makan biar kenyang.”

“Yaudah, nih makan roti aja, buat ganjel-ganjel perut biar nggak kelaperan,” Luki menyodorkan roti yang baru mau ia buka.

Sinka terdiam, ia hanya menatap Luki dengan heran.

“Ini cowok kenapa sih? baru juga kenal tapi sok care gini,” ucap Sinka dalam hati.

“Malah ngelamun, cepetan makan,” suruh Luki yang sedikit mengejutkan Sinka.

“Eh iya, makasih,” ucap Sinka lalu mengambil roti itu dan memakannya.

Luki kembali memakan nasi gorengnya yang tinggal setengah.

~oOo~

“Dari mana?” tanya seorang gadis bertubuh kecil saat Luki masuk ke rumahnya.

“Ngerjain tugas,” jawab Luki melewati gadis itu.

“Yakin ngerjain tugas? Bukan G-R-A-F-F-I-T-I-an lagi?”

“Hmmm….”

Dengan tekat menghindari keributan, Luki terus belajan menuju kamarnya.

Gadis kecil tadi adalah adik Luki, namanya Shania Gracia namun teman-temannya selalu memanggilnya Gre.

Gre menatap Luki yang berjalan ke kamarnya dengan geram, hubungan adik berkakak itu memburuk setelah kepergian kakak pertama mereka, Johan. Gre selalu menyalahkan Luki atas kematian Johan setahun yang lalu.

Tok… tok… tok…

“Masuk!” teriak Luki yang sedang membuka bajunya yang sedikit basah akibat guyuran air hujan.

Kemudian masuklah seorang anak kecil dengan baju tidurnya, dia adalah adik terakhir Luki, namanya Cindy Dea Yuvia ato lebih sering dipanggil Yupi.

“Abang dari mana?” terlihat raut wajah khawatir saat Yupi bertanya.

“Ngerjain tugas, kok kamu belom tidur?” Luki mendekat ke arah Yupi lalu menggendongnya.

“Beneran? Bukan gambar-gambar lagi?” tanya Yupi saat Luki meletakkannya di atas kasur.

“Enggak kok,” jawab Luki tersenyum dan mengelus pipi Yupi.

Setelah memakai baju lagi, Luki kembali mendekati Yupi dan duduk membelakanginya. Yupi langsung bangkit dan memeluk Luki dari belakang.

“Ah iya, tadi sore ada yang nyariin abang,” ucap Yupi dengan antusias.

“Siapa?” tanya Luki sambil mengubah posisi Yupi menjadi di atas pangkuannya.

“Kak Celin, tapi tadi Yupi gatau abang lagi di mana, jadi Yupi suruh ke sini lagi besok pagi,” jawab Yupi dengan polosnya.

Note: Celin di sini bukan member JKT48, kalo yang pernah baca MSMK pasti tau siapa.

Shit! Kaga tau apa kalo orang itu kesalahan terbego gue dimasa lalu,” batin Luki.

“Aduh…, abang gabisa kalo besok pagi,” ucap Luki berpura-pura sedih.

“Yaudah besok Yupi suruh kak Celin buat dateng lagi malemnya ato besoknya lagi.”

“Eh gausah, besok Yupi bilang aja kalo abang udah nggak di sini lagi, udah pindah ke Bali gitu.”

“Emang abang mau pindah ke Bali?”

“Enggak, itu buat boongin dia aja.”

“Kata kak Gre boong itu gabaik, Yupi gamau boong,” ucap Yupi lalu memalingkan wajahnya.

Luki terlihat sedang memikirkan rencana untuk membujuk Yupi agar mau berbohong, sedangkan Yupi masih memalingkan wajahnya.

“Yupi sayang…, Yupi sayang kan sama abang?” tanya Luki sambil menolehkan kembali wajah Yupi.

“Ihhh!! Abang mah gitu, suka maksa-maksa” ucap Yupi dengan ekspresi cemberut.

“Maksa apa? Abang nggak maksa apa-apa kok,” Luki tersenyum sambil terus membelai pipi Yupi.

“Yaudah deh besok Yupi bilangin ke kak Celin kalo abang udah nggak di sini,” Yupi menyingkirkan tangan Luki dari pipinya dan langsung memeluk Luki.

“Nah gitu dong.”

“Tapi minggu depan abang harus temenin Yupi jalan-jalan.”

“Iya minggu depan abang temenin.”

“Janji?”

“Iya, abang janji.”

Satu jam kemudian, Luki keluar kamar dengan menggendong Yupi yang sudah tertidur.

Setelah meletakkan Yupi ke kamarnya, Luki turun ke lantai bawah karena mendengar suara TV yang masih menyala. Sesampainya di ruang TV, Luki melihat Gre sudah tertidur pulas di atas sofa. Ia pun menggendong Gre ke kamarnya dengan perlahan agar tidak membuatnya terbangun.

Setelah meletakkan Gre di atas kasur dan menyelimutinya, Luki duduk di sebelah Gre sambil memandanginya.

“Abang minta maaf kalo bikin kamu kecewa, abang bakalan berusaha nggak bikin kamu sama Yupi kecewa lagi,” ucap Luki sambil memegang pipi Gre.

Good night,” sambung Luki lalu mencium kening Gre dan keluar dari kamarnya.

 

*to be continue*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s