Hujan dan Pelangi, chapter 1: Mulai melangkah

Hujan baru saja berakhir, meninggalkan beberapa genangan air dilubang

jalanan yg rusak. Perlahan sinar matahari yg sedari tadi bersembunyi dibalik awan hujan itu kini mulai mencoba memberikan sinarnya lagi. Mencoba memberi kehangatan dibumi.

Rintik hujan yg kini masih tersisa tak menghalangi kedua gadis kecil itu untuk terus berlari kecil, menyusuri jalanan dengan tas diatas kepala mereka masing-masing. Langkah kaki mereka yg semakin tidak seimbang, membuat salah satu diantara mereka tertinggal. Ia terlihat sudah cukup kelalahan dan kemudian menurunkan tas diatas kepanya. Dan memegang kedua lututnya sambil mengatur irama pernapasannya.

” Tu..nggu…hah..hah.”

Gadis yg paling kecil diantar keduanya itu berteriak dengan nafas tak
beraturan. Ia merasa sudah tidak mampu lagi untuk berlari menyusul
gadis yg masih terus berlari didepannya.

” ng?”

Gadis dengan poni samping itu menoleh sebentar kebelakang setelah
mendengar teriakan tadi. Ia dengan cepat berlari kembali kebelakang
menghampiri temannya yg masih memegang lututnya dan menatapnya sambil
membungkuk.

Ia bisa mendengar suara gadis itu yg sedang mengatur nafasnya. Ia
kemudian berjongkok didepan gadis yg masih menunduk itu. Dan mengambil
tasnya yg tergeletak di aspal jalanan itu.

” maaf ya. Aku pikir tadi kamu masih berlari disamping aku,”

Mata sendunya menatap gadis yg masih menunduk dengan nafas yg belum
beratur itu. Kemudian ia bisa mendengar suara isak tangis pelan dari
gadis didepannya itu. Ia sedikit tertegun saat mendengar suara isakan
tangis temannya yg ada dihadapannya. Ia jadi sangat merasa bersalah.

” Ja-jangan ting-ggalin aku…”

Balas gadis itu sambil sesenggukan. Gadis yg memiliki poni samping dan
memiliki postur lebih tinggi itu kemudian mendekap gadis didepannya yg
masih sesenggukan itu. Ia juga mengeluarkan butiran kecil disudut
matanya.

” aku janji ga akan ninggalin kamu…Zara.”

Kedua gadis itu mulai berjalan seusai gadis yg satunya dirasa sudah
cukup membaik. Mereka tersenyum satu sama lain sambil bergandengan
tangan menyusuri jalanan. Gerimis yg sedari tadi menemani langkah kaki
mereka, kini perlahan mulai menghentikan tetes butiran airnya.
Menciptakan sebuah keajaiban dilangit yg ada diatas kepala mereka.
Sebuah lengkungan cahaya dengan warna yg begitu indah. Sebuah pelangi.

Mereka berdua menghentikan langkah kakinya. Dan sama-sama memandang
keindahan pelangi itu. Mereka masih terus menatap keatas dan terlihat
mereka mulai menarik ujung bibir mereka masing-masing secara
berlawanan.

” Zara…kamu mau cepet sampai rumah ngga?”

Gadis yg dipanggil Zara itu menoleh setelah mendengar suara dari teman
disebelahnya itu. Gadis yg bernama Zara itu tersenyum lebar saat
melihat temannya itu sedang berjongkok dan membelakanginya.

” ayo naik!”

Tanpa menunggu lebih lama lagi Zara langsung naik kepunggung temannya
itu. Ia melingkarkan tangannya dileher sahabatnya itu. Tak lama
setelah temannya itu mulai berdiri dan langsung berjalan. Walau ada
raut seperti keberatan. Dia tetap menggendong Zara

” Devi?”

” ng?. Kenapa?”

” emang aku ga berat ya?”

” enggak. Tapi nambah berat dibanding kemarin…hehehe.”

Mereka berdua tertawa pelan dan masih menyusuri jalanan dengan seragam
sekolah mereka yg masih berwarna putih merah. Zara semakin mempererat
pegangan tangannya.

***

Sebuah rumah yg tidak terlalu besar itu kini sudah ada didepan mata
mereka berdua. Devi mulai menurunkan Zara dari punggungnya.

” aku pulang dulu ya,”

” kenapa ga main dulu?”

” nanti takut hujan lagi…hehehe.”

” yaudah hati-hati.”

Gadis bernama Devi itu hanya mengangguk pelan. Kemudian mulai beranjak
meninggalkan pagar rumah itu. Meninggalkan sahabatny yg memang sudah
sampai rumahnya.

Zara tersenyum simpul memandang sahabatnya itu walau dalam hitungan
detik bayangan orang itu akan menghilang, karena dia sudah sampai
ditikungan.

Keduanya mulai saling menatap dan melambaikan tangannya masing-masing
sebelum mereka melangkahkan kakinya untuk sama-sama menghilang dari
pandangan mereka masing-masing.

Zara mulai memasuki pekarangan rumahnya. Berjalan pelan menuju pintu
depan. Masih dengan senyum manisnya yg masih dia bawa. Tak butuh waktu
lama untuk dia sampai didepan pintu itu dan dia mengetuk pelan pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Mulai terdengar balasan dari dalam
rumah, saat ia sudah mengucapkan salamnya untuk yg ketiga kalinya. Dan
beberapa saat kemudian ia bisa melihat pintu rumah itu terbuka dan
memperlihatkan sosok perempuan yg tak lain adalah mamanya.

” anak mama sudah pulang?”

Sambutnya diiringi pelukan hangat darinya. Tapi beberapa saat kemudian
mamanya mulai mengerutkan dahinya.

” Zara ujan-ujanan lagi?”

Mamanya terlihat menatap Zara dengan raut wajah khawatir. Perlahan
kedua tangannya dia taruh dipipi anak perempuannya itu.

” hehehe. Abisnya tadi Devi ga bawa jas ujan, jadi aku simpen jas ujannya,”

Mamanya hanya menghela nafas pelan, kemudian tersenyum.

” besok-besok nunggu hujan reda dulu ya?”

Zara hanya mengangguk pelan dengan pinta mamanya itu. Tak lama setelah
itu mereka mulai meninggalkan teras rumahnya untuk masuk kedalam
rumahnya.

***

Malam telah datang, memberikan kesempatan untuk mereka yg lelah
beraktivitas mengistirahatkan tubuhnya. Membiarkan suara deru
kendaraan menghentikan bisingnya.

Zara menatap langit-langit kamarnya. Sambil mendengarkan alunan musik
dari musik player dikamarnya. Namun tiba-tiba suara dari kendaraan yg
ada diluar rumahnya menjadi perhatiannya. Ia dengan cepat membangunkan
tubuhnya, kemudian mulai berlari kecil kearah musik player itu dan
mematikannya.

Dia dengan cepat keluar dari kamarnya menuju ruang depan. Ia bisa
melihat mamanya masih sibuk menyiapkan makanannya dimeja makan dibantu
oleh kakaknya. Ia hanya tersenyum saat mamanya menggelengkan pelan
kepalanya melihat kelakuannya. Begitu juga dengan kakaknya yg hanya
menatapnya sambil tersenyum.

” Papppaaaa!”

Suara itu menggema di ruang depan. Siapa lagi kalau bukan suara dari
Zara ketika ia melihat Papanya baru pulang kerja. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, ia langsung memeluk Papanya itu dengat erat. Dan ia bisa
merasakan elusan lembut dari papanya dikepalanya.

” Papa baru pulang kerja Zara. Lagi capek itu,”

Zara menoleh kebelakang dan melihat kakaknya disana dengan sebuah
tangan yg seperti siap untuk membuatnya tertawa sampai mengeluarkan
air mata.

” Papa. Itu kak Kyla…”

Zara semakin erat memeluk papanya itu. Ia menggeleng pelan saat
kakaknya sudah semakin dekat dengannya. Papanya hanya menggeleng pelan
melihat kelakuan kedua putrinya itu.

” dah…dah. Makan dulu, baru nanti main dikamar. ”

Pinta Papanya sambil merangkul kedua putrinya itu untuk berjalan
menuju meja makan. Dia hanya tersenyum saat putrinya yg lebih tua itu
sedang mencoba menakuti adiknya.

***

” bhahhahha…ampun kak…bhaaahaha…ampun…ampun,”

Zara terus meronta saat kakaknya itu terus menggelitiki kakinya.
Matanya sudah mengeluarkan butiran kecil dipinggirnya. Bukan karena ia
menangis, itu karena ia sudah cukup lelah tertawa karena gelitikan
itu.

” kan tadi udah janji, kalau ga bakal ganggu Papa pas pulang kerja?”

Kakaknya menghentikan sejenak aktivitas menggelitiki kaki adiknya itu.

” iya…iya. Zara minta maaf, ”

” minta maafnya sama Papa, bukan sama kakak,”

” iya. Tapi kakak janji ga gelitikin aku lagi kan?”

Kakaknya hanya mengangguk tanda setuju. Kemudian mulai menjauhkan
tangannya dari kaki adiknya itu.

” kakak kekamar dulu ya. Jagan lupa minta maaf sama Papa, ”

Sebuah senyuman hangat dari Zara mengantarkan kakaknya pergi dari
kamar Zara. Zara menyeka butiran kecil yg ada dipinggir matanya, itu
akibat ulah dari sang kakak tadi.

Zara berjalan menuju pintu kamarnya. Dia ingin menemui Papanya untuk
meminta maaf. Ia mulai menuruni anak tangga itu, ia berjalan menuju
ruang keluarga karena ia yakin Papanya masih disana.

Mata bulatnya langsung menemukan keberadaan orang yg dia cari saat
sudah sampai diruang keluarga. Ia berlari kecil untuk menghampiri
Papanya itu. Dan saat sudah dekat ia langsung memeluknya dari samping.
Papanya yg sedang bersantai itu kemudian menoleh kearah sampingnya. Ia
bisa mendapati putri kecilnya itu sedang memeluknya sambil tersenyum
manis.

” Zara kenapa belum tidur?. Besok masih sekolah kan?”

” Zara mau minta maaf sama papa, ”

Papanya hanya menatapnya heran dengan tingkah purtinya itu. Tapi
kemudian ia tersenyum dan mengelus lembut rambut dari putrinya itu.

” emm. Maaf ya Pa kalau Zara sering membuat Papa merasa terganggu
dengan tingkah Zara. Zara sebenarnya hanya ingin selalu dekat sama
Papa, ”

Zara menatap Ayahnya itu dengan senyum yg masih belum memudar.

” Papa juga ingin selalu dekat sama semua anggota keluarga, termasuk Zara…”

” Kalau gitu Zara istirahat dulu. Papa juga mau istirahat. ”

Zara mengangguk dengan cepat dan mulai melepaskan pelukannya. Ia mulai
berjalan meninggalkan ruang keluarga itu. Dan saat dia ingin menaiki
tangga, ia menengok sebentar kearah Papanya. Dan ia bisa melihat
papanya masih tersenyum kearahnya.

Zara sudah tak nampak lagi dari ruang keluarga. Meninggalkan Papanya
seorang diri disana. Papanya masih menatap kearah tempat terakhir
putrinya itu terlihat.

” begitu cepatnya kamu menjadi dewasa…Zara. Papa selalu bangga sama kamu.”

Bisik Papanya pelan. Kemudian ia mulai beranjak dari tempat duduknya
tadi untuk menuju kamarnya.

***

Di sebuah Ayunan yg ada disebuah taman menjadi tempat Zara dan Devi
duduk. Mereka berayun pelan di Ayunan itu. Tawa pelan dari mereka
menjadi irama yg begitu indah. Suara tawa yg tulus dari keduanya
adalah hal yg pasti terdengar indah oleh orang dewasa yg merindukan
masa kecilnya.

Zara mulai menghentikan ayunannya diikuti juga oleh Devi. Mereka
saling menatap satu sama lain.

” kenapa Zara?”

Devi mencoba membuka suara lebih dulu. Ia ingin tau kenapa sahabatnya
itu menghentikan ayunannya.

” kalau besok kita udah besar. Apa kita masih bisa melakukan hal seperti ini?”

” kok nanya gitu?. Kan kita masih anak-anak. Aku belum kepikiran sampai segitu,”

” kan misalnya, ”

Devi menatap Zara yg sedang memandang kearah langit itu.

” emm. Akan aku pastikan kita tetap akan melakukannya.”

Devi mengatakannya dengan mantap. Zara menoleh kearah Devi dan Devi
juga melihat kearahnya. Senyum mereka bertemu saat itu juga.

” udah belum mainnya?”

Suara itu langsung mengalihkan perhatian mereka berdua. Dilihatnya
kakak dari Zara sedang berjalan menuju kearah mereka berdua.

” Iya, udah kak. Ayo Ra, kita pulang sekarang.”

Zara hanya mengangguk menyetujui ucapan dari Devi. Mereka dengan cepat
juga menuju kearah kakaknya.

Mereka berdua malah memeluk Kyla secara bersamaan. Membuat Kyla hampir
saja terjatuh kebelakang. Namun itu tak membuat Kyla marah, ia malah
terlihat senang. Ia merasa memiliki dua adik saat keduanya memeluknya.
Sebuah senyuman bahagia terpancar darinya. Lalu dia juga mendekap
keduanya dalam pelukan hangatnya.

” udah sore. Kita pulang sekarang ya?”

Kedua gadis kecil itu hanya mengangguk pelan dan kemudian keduanya
melepaskan pelukannya. Membiarkan Kyla menggandeng ereat tangan
adiknya dan orang yg juga sudah dia anggap adiknya sendiri itu.
Menuntun keduanya dengan kedua tangannya. Melewati jalanan dibawah
langit senja dengan senyuman yg tidak sama sekali berpudar.

Langit berwarna orange itu menjadi saksi sebuah keindahan yg telah
Tuhan ciptakan. Keindahan akan sebuah keharmonisan sebuah hubungan.
Tidak perlu menuntut lebih, semua pasti indah saat kita menyadarinya.
Bahkan hal kecil yg sering kita abaikan.

***

Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan  untuk Zara dan Devi dan
juga teman seangkatannya. Dan untuk kali ini Zara bisa mengungguli
Devi untuk mendapat hasil yg terbaik disekolahnya. Namun bukan berarti
hasilnya Devi jelek, ia hanya kalah satu poin dari Zara.

” selamat ya. Aku kalah…hehehe, ”

Zara melihat kearah Devi yg menghampirinya setelah pengumuman kelulusan tadi.

” iya makasih ya. Tapi aku sebenarnya cuman sedikit beruntung…hehe, ”

” ah iya. Aku kan udah janji bakal ngegendong kamu kalau aku kalah, ”

Zara sedikit menarik kedua ujung bibirnya secara berlawanan saat
melihat Devi sudah berjongkok didepannya sambil membelakanginya. Zara
menepuk pundak sahabatnya itu, dan membuat sahabatnya itu menoleh.

” kamu kan udah sering ngegondong aku, sekarang biar aku yg ngegendong kamu?”

Zara kini juga berjongkok didepan Devi sambil menunjuk kearah
punggungnya sendiri. Memberi kode agar sahabatnya itu segera naik ke
punggungnya.

BRRUKKKK!

Keduanya malah tersungkur kelantai karena Zara tidak kuat memopang
berat dari Devi dan sekarang menjadi pusat perhatian beberapa teman
sekelasnya.

” Devi…Zara, ”

Beberapa teman sekelasnya langsung membantu mereka berdiri. Zara malah
cengengesan walau ada sedikit luka di lututnya. Devi hanya menatapnya
khawatir.

” ini kalian lagi ngapain sih?”

Salah teman sekelas mereka mulai bersuara untuk memberikan pertanyaan.

” itu, aku mau ngegendong Devi. Eh, Devinya berat banget…sumpah. ”

Teman sekelasnya hanya cekikikan mendengar ucapan dari Zara tersebut.
Dan Devi hanya memanyunkan bibirnya dan pura-pura ngambek. Walau ia
tau, Zara pasti mengetahui kepura-puraannya tersebut.

Semua petualangan masa-masa indah dibangku sekolah dasar resmi
berakhir sampai disini. Meninggalkan jutaan kenangan dalam setiap
ingatan mereka masing-masing. Sebuah lembaran baru sedang menunggu
untuk diwarnai tanpa harus menutup lembaran lama. Beranjak untuk
menyusun kepingan mimpi yg lebih serius, menyusun angan untuk mencapai
sebuah tujuan yg lebih baik. Hari esok sedang menanti mereka.

™~ HUJAN DAN PELANGI ~™

” Zara! ”

Zara menoleh untuk mencari sessorang yg memanggil namanya tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk ia menemukan sosok orang yg memanggil
namanya barusan. Ia tersenyum saat sudah mengetahui siapa orang itu.

” Devi?. Aku pikir kamu ga jadi sekolah disini?”

” kamu ini gimana?, kan kita udah sepakat ”

Zara hanya tersenyum manis, sebelum akhirnya mereka berjalan
berdampingan melewati gerbang sekolah mereka yg baru. Melewati
beberapa orang yg juga sepertinya sedang ingin berkenalan dengan teman
barunya. Mereka berdua berjalan menuju salah satu bangku yg ada diarea
sekolah itu. Duduk disana dan tak lama kemudian terdengar seperti
bunyi peluit.

Mereka baru menyadarinya kalau itu bunyi untuk memanggil anak-anak
baru yg ingin bersekolah di sekolah ini. Dengan sigap keduanya juga
berlari menuju tempat dimana tadi bunyi peluit itu berbunyi.

Terik matahari yg menyengat itu seperti membakar seluruh siswa yg
sedang mengikuti upacara pembukaan MOS itu, tanpa terkecuali Zara dan
Devi yg sedaritadi terus mengusap keringat dipelipisnya. Sudah cukup
lama mereka di ‘panggang’ akhirnya upacara pembukaan MOS itu berakhir.
Membiarkan mereka yg tadi ikut untuk sedikit mengistirahatkan tubuhnya
atau sekedar meninum minuman yg mereka bawa.

Zara terlihat mengipas-ngipaskan topi dari separuh bola yg tadi dia
pakai itu. Begitu juga dengan Devi yg bersandar dibawah pohon seperti
orang pingsan. Zara yg melihat kelakuan sahabatnya itu langsung
menghampirinya dan menempelkan minuman dinginnya kepipi sahabatnya
itu. Dan itu berhasil membuat Devi terperanjat kaget. Zara hanya
tertawa pelan, lalu memberikan minuman air mineral dingin itu padanya.

” rambut aku kebakar ga Ra?”

Devi mulai menyentuh rambutnya yg terasa panas itu. Mungkin karena
efek topi setengah bola yg terbuat dari plastik yg tadi dia pakai.

” iya kayaknya. Bentar biar aku siram pakai air minum, ”

Zara mulai mengambil air minumnya tadi dan membuka tutupnya. Devi yg
mengerti itu juga langsung memegang botol air minum itu. Mereka saling
tarik-menarik.

” yah tumpah…”

” ga jadi nyiram rambut aku dong?”

Zara hanya memanyunkan bibirnya. Ia melihat botol air minumnya itu
sudah tak terisi air lagi. Devi menepuk pundak sahabatnya itu yg masih
melihat kearah botol minumannya.

” nanti aku ganti deh, ”

Devi mencoba memberi solusi. Namun Zara enggan untuk membalas ucapan
sahabatnya itu.

” enggak!”

” kalau diganti ini mau?”

Zara lalu menoleh kearah Devi. Senyumnya melebar saat sebuah coklat
batangan yg masih utuh itu berada didepan matanya. Dengan cepat ia
merebut coklat itu dari tangannya Devi.

” giliran gitu aja cepet, ”

” biarin. Tapi makasih ya, kebetulan aku belum makan coklat hari ini. ”

Devi tersenyum memandang sahabat dekatnya itu sedang memakan coklat
pemberiannya. Namun tak lama setelah itu bunyi peluit kembali
terdengar. Mereka saling menatap satu sama lain. Dan menghela nafas
pelan.

***

Sebuah papan pengumuman itu kini menjadi perhatian murid-murid baru.
Mereka ingin tau apa kelas mereka. Zara dan Devi juga ada disitu.
Wajah mereka terlihat sumringah saat tau bahwa mereka satu kelas.
Mereka pun berjalan meninggalkan papan pengumuman itu dan mulai
mencari kelas mereka.

Diantara murid-murid baru yg lain, hanya Devi dan Zara yg begitu
sangat akrab. Mereka selalu bersama dimanapun mereka berada. Bahkan
saat ketoilet pun, hanya saja yg satu menunggu diluar.

Sebuah pemandangan indah dimana saat langkah mereka searah dan selalu
berdampingan. Tidak ada yg didepan dan tidak pula ada yg tertinggal
dibelakang. Tangan mereka selalu berpegangan untuk saling melangkah
bersamaan. Walau kadang keduanya memiliki langkah yg berbeda, tapi
mereka selalu berusaha untuk sejajar.

***

” ada yg bisa mengerjakan soal yg ada didepan?”

Seorang Ibu guru itu sedang melihat kearah para murid, menunggu hingga
ada yg mengangkat tangan untuk mengerjakan soal dipapan tulis.

Terlihat dua gadis yg duduk dibarisan tengah langsung mengangkat
tangannya secara bersamaan. Ibu guru itu memandang mereka berdua
sambil tersenyum.

” jadi siapa yg mau maju?. Zara atau Devi?”

Kedua gadis itu langsung berdiri dan sedikit menjadi pusat perhatian
beberapa murid dikelas itu.

” Zara aja bu, ”

Devi berbicara cukup lantang hingga ia yakin suaranya akan terdengar
dikelas sebelah.

” Devi bu. Dia aja. ”

Suara Zara terdengar tak kalah lantang dari Devi.

Guru itu kembali tersenyum dan mengambil spidolnya untuk menulis
sesuatu dipapan tulis. Sebuah soal baru. Dan tak lama setelah itu Ibu
guru itu mulai berbicara lagi.

” kalian maju berdua…”

Devi dan Zara saling memandang, kemudian kedua tersenyum bersamaan dan
mulai melangkah menuju papan tulis. Dan bukan hal yg mengejutkan lagi,
keduanya sukses menaklukan soal matematika itu dengan cepat dan hampir
secara bersamaan.

Guru itu kembali tersenyum dengan anak didiknya itu. Bel istirahat
telah terdengar dari ruang kelas itu. Memaksa Guru itu untuk pergi
meninggalkan kelas itu.

Zara dan Devi terlihat sedang merapikan alat tulisnya yg masih
berserakan diatas meja.

” eh, kalian kok bisa bener turus pas ngerjain soal. Rahasianya biar
pinter apa sih?”

Seorang gadis kini berdiri disamping meja Zara dan Devi. Zara
memandang gadis itu sambil tersenyum. Dia mulai membuka mulutnya untuk
membalas ucapan gadis sekelasnya itu.

” it…”

” tadi Zara yg ngasih tau. Kalau aku sebenarnya juga belum bisa
ngerjain soal yg tadi kalau tanpa bantuan Zara, ”

Devi memotong ucapan Zara yg belum selesai itu. Zara mulai mencari
kaki sahabatnya itu untuk dia injak karena telah berbohong. Dan
sekarang ia jadi bingung untuk mengklarifikasi perkataan Devi tadi.

” hebat ya Zara. Kalau boleh kita belajar bareng bertiga. Siapa tau
aku bisa jadi kayak kamu,”

” enggak juga kok. Sebenarnya Devi ini lebih hebat loh, dia lagi
pura-pura aja tadi. Iya, boleh banget kalau mau, ”

Zara terlihat masih mencari kaki Devi untuk dia injak karena telah
membuat kebohongan. Namun sampai sekarang masih belum ia temukan
keberadaan kakinya Devi.

” wah makasih ya. Kalau gitu aku duluan kekantinnya.”

Zara dan Devi hanya mengangguk dan tak lama setelah kepergian teman
sekelasnya itu. Zara sudah menemukan kakinya Devi. Dan…

” Zara! ”

Itu suara dari Devi yg berteriak karena kakinya diinjak oleh Zara.
Zara dengan cepat berlari keluar kelas dan ikiuti oleh Devi
dibelakangnya. Ya begitulah. Terkadang keusilan itu yg malah membuat
mereka terlihat semakin akrab.

<b> ™~ HUJAN DAN PELANGI ~™</b>

Pemandangan langit berwarna orange itu menjadi perhatian dua gadis yg
sedang duduk disalah satu bangku taman. Dengan sebuah senyuman yg tak
pernah lepas dari keduanya.

” katanya kamu pingin jadi Dokter ya?”

Gadis yg memiliki postur lebih kecil itu menatap lagi sahabat
disebelahnya itu. Dia mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan
itu.

” hehehe…tau darimana?”

” dari kak Kyla kemarin, ”

Gadis yg tak lain adalah Zara itu hanya tersenyum simpul mendengar
balasan dari Devi. Devi kemudian mengalihkan pandangannya, ia kembali
melihat kearah langit.

” kalau gitu, pas kamu jadi Dokter aku ga mau ketemu kamu, ”

Devi masih menatap kearah langit senja itu tanpa menoleh kearah
sahabatnya saat ia mengatakan itu. Zara yg mendengar itu merasa heran,
sekaligus merasa bersalah saat Devi tidak ingin menemuinya saat nanti
sudah Jadi Dokter.

” kok gitu sih?”

Devi mulai melihat kearah Zara yg menatapnya sendu itu. Kemudian ia
tertawa kecil melihat raut wajah sahabatnya itu.

” aku ga pingin sakit soalnya, ”

Zara hanya memukul pelan bahu sahabatnya itu saat mendengar alasan
konyol dari dia yg mau menjauhinya pas jadi Dokter.

” bercanda Zara…kita tetap jadi sahabat sampai tua, sampai keriput
bahkan sampai nanti kita pergi kedunia lain, ”

Semilir angin lembut yg tiba-tiba menerpa wajahnya Zara, membuatnya
sedikit ingin mengeluarkan air matanya. Namun ia tahan dengan
berpura-pura mengusap matanya dengan alasan terkena debu. Padahal ia
terenyuh mendengar perkataan sahabatnya itu.

” kamu gapapa?”

Devi terlihat khawatir saat melihat Zara sedang mengusap kedua
matanya. Ia dengan cepat menyentuh kedua pipi sahabatnya itu.

” aku minta maaf, kalau malah bikin kamu nangis, ”

” enggak, bukan itu. ini tadi kena debu, ”

Zara mengelak. Namun Devi masih memegang kedua pipinya.

” jangan di ucek-ucek. Biar aku tiupin ya?”

Dengan cepat Zara mengangguk akan pinta sahabatnya itu. Ia mulai
menjauhkan tangannya yg tadi ia gunakan untuk mengucek matanya. Sebuah
tiupan lembut dari Devi menerpa kedua matanya secara bergantian. Ia
tersenyum. Bagitu juga dengan Devi yg mulai menjauhkan wajahnya.

” makasih ya. Oh iya, kalau cita-cita kamu apa?”

Devi diam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan dari Zara. Tapi
kemudian ia mulai menarik ujung bibirnya secara berlawanan dan mulai
bersuara.

” aku pingin jadi Psikolog, ”

Zara tertegun, karena saat dulu waktu SD Devi pernah mengatakan kalau
dia ingin menjadi Desainer.

” dulu katanya pingin jadi Desainer, kok sekarang jadi psikolog? ”

” aku masih bingung buat nentuin itu, ”

Zara hanya menghela nafas pelan. Kemudian menatap wajah samping sahabatnya itu.

” aku juga sebenarnya masih ragu dengan keinginanku itu. ”

Hanya terdengar suara tawa pelan dari keduanya sebelum mereka
sama-sama diam menikmati indahnya langit senja.

***

” yeay hujan! ”

Devi menoleh kesamping dan melihat Zara sedang meloncat-loncat
didekatnya. Ia hanya menggeleng pelan.

” Zara, diliatin orang banyak tuh. Malu tau, ”

Devi mulai berkomentar melihat kelakuan sahabatnya yg seperti anak
kecil itu. Namun Zara seakan tidak peduli, ia malah berlari menerobos
hujan dan berteriak kegirangan.

Devi hanya terlihat pasrah dengan tingkah sahabatnya itu yg malah
berlarian ditengah rintik hujan yg cukup deras. Ia hanya melihat
sahabatnya yg memang sudah ada didepan gerbang sekolah dan berteduh
dipost satpam itu. Jarak dari ia berdiri sampai ke pos satpam itu
memang tidak terlalu jauh. Tapi ia enggan untuk mengikuti jejak
sahabatnya itu untuk menerobos derasnya air hujan. Ia hanya melipat
kedua tangannya dan menunggu hujan sedikit reda agar ia bisa menyusul
Zara untuk pulang.

Sekitar lima belas menit Zara menunggu Devi dipos satpam itu. Akhirnya
Devi mulai menyusulnya, membiarkan seragam sekolahnya sedikit basah
oleh air hujan.

” Kalau nanti kamu sakit gimana!. lain kali nunggu hujan reda dulu kan bisa!”

Devi sedikit meninggikan nada bicaranya dengan raut wajah khawatir
menatap kearah Zara. Dan Zara malah cengengesan melihat raut khawatir
dari Devi.

” enggak bakalan. Aku kan suka hujan. Jadi hujan ga bakalan ngebiarin
aku sakit karenanya, ”

Devi menghela nafas pelan. Kemudian memberikan jaketnya yg tadi dia
simpan didalam tasnya.

” pokoknya aku ga mau kamu sakit!”

” aku bawa payung Dev. Kamu mau pakai payung aku?”

Devi kembali memejamkan kedua matanya. Rasanya ia ingin memarahi orang
yg ada didepannya ini. Namun ia tak bisa melakukannya.

” itu ada pelangi Dev, ”

Seru Zara sambil menunjuk kearah langit dengan telunjuknya. Mata Devi
mulai mengikuti arah telunjuk dari sahabatnya itu. Sebuah keindahan yg
telah Tuhan ciptakan diatas sana, membuatnya tersenyum lebar.

” Pelangi dan hujan mungkin memang tidak bisa menyatu. Tapi mereka
selalu bisa bergantian untuk menciptakan sesuatu yg indah disana. ”

Suara dari Zara hanya diangguki pelan oleh Devi. Kemudian mereka
saling tersenyum, dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu karena
hujan memang sudah mulai reda.

****

ini belum berakhir

****

Ditulis oleh bocah belasan tahun=> @sigitartetavra

Pesan: jangan memulai sesuatu yang tidak ingin kamu akhiri. Dan
jangan pula mengakhiri sesuatu yang belum kamu selesaikan. Semoga
membantu untuk para pembaca.

Celotehan : saya bukan penulis. Tapi saya sedang menciptakan sebuah
karya tulis yg bisa dibaca oleh semua orang.

Jujur saya bener-bener ga tau mana yg namanya Devi, Zara, atau Kyla di
Idol group itu. Tapi saat saya mengingat-ingat nama mereka, saya jadi
teringat sesuatu.

Devi. Dulu saya punya adik kelas dengan nama yg sama pas SMP.

Dan kalau Zara dulu saya sempet ketemu anak kecil yg namanya Zahra,
dia sering minta digendong padahal baru kenal pas di Jogja. Ga
nyambung.

Kyla. Hah, saya beneran ga tau.

Saya nyari info dulu tentang mereka diinternet sebelum fanfict ini
keluar. Dan saya kayaknya masih butuh beberapa tokoh untuk dimasukkan
ke ff ini.

Pokoknya mari kita rubah dengan yg masih fresh. Maksud saya dengan
member-member baru.

Maaf telah menghilangkan waktu berharga anda dengan hal yg sangat
tidak penting ini. 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Hujan dan Pelangi, chapter 1: Mulai melangkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s