Love Taste Chocolate Part 3

Terlihat Sinka sedang menyapu membersihkan halaman sekolah. Hari ini Sinka kebagian piket.

Disisi lain

Rizal sedang memperhatikan Sinka dari lantai 2 tetiba datang seorang cewek langsung nembak Rizal. Set dah cewek jaman sekarang gak malu – malu lagi ngungkapi perasaannya -_-a .

“Rizal aku menyukaimu maukah kau menjadi pacarku?” tembak cewek itu langsung.

“Sori gue dah punya pacar,” jawab Rizal datar.

“Gak mungkin!” kaget cewek itu.

“Lo liat cewek itu?” ucap Rizal sambil menunjuk Sinka yang sudah selesai membersihkan halaman sekolah.

“Dia pacar gue,” ucap Rizal.

“Gak mungkin cewek aneh itu pacarnya Rizal!” batin cewek tadi karena merasa malu kemudian cewek itu pun pergi meninggalkan Rizal.

“Sinka!” panggil Rizal dari lantai 2 dimana tadi dia memperhatikan Sinka.

“Rizal,” ucap Sinka tersenyum manis melambaikan tangan.

“Cepat naik kekelas ya!”

“Iya! Aku baru selesai nih. Tapi aku dipanggil wali kelas sebentar! Tunggu ya!”

“Oke,”

“Sinka cepat keruangan saya!” teriak Pak Sagha selaku wali kelas Sinka.

“I-iya pak!” ucap Sinka kaget.

Skip

Di kelas Sinka

“Pantai?” ucap Sinka sediki terkejut dan binun.

“Iya, gue mau ngajak lo pergi kepantai liburan semester nanti,” ucap Rizal.

“Liburan semester?” tanya Sinka lagi.

“Bentar lagi kan liburan semester lo lupa?”

Sinka terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu.

“Lo gak suka pantai ya?” tanya Rizal.

“AKU SUKA KOK! SUKA BANGET MALAH!” teriak Sinka.

“Tapi… katanya liburan nanti aku makin banyak pelajaran tambahan, Gak papa kan?” sambung Sinka gugup.

“Lo ini, orang yang dapat pelajaran tambahan itu, orang yang nilainya jelek?” ejek Rizal.

“Kenapa tadi dipanggil wali kelas?” sambung Rizal.

“Ah gak papa kok,” jawab Sinka ngeles.

“Sebenarnya tadi…” batin Sinka.

«««Flash Back«««

“Sinka saya khawatir dengan nilaimu belakangan ini turus menurun?” tanya pak Sagha.

“Mmm…” Sinka hanya terdiam.

“Di tengah semester kemarin nilaimu hancur sekali, makanya ujian semester nanti nilaimu harus lebih baik. Kalau tidak, kamu harus mengikuti pelajaran tambahan dan kamu gak bisa liburan,” tegas pak Sagha.

“Jadi kamu harus lebih giat lagi belajarnya!” tegas pak Sagha.

»»»Flash back end»»»

“Kenapa jadi gini sih?” batin Sinka.

“Rizal gak boleh tahu masalah ini,” batinnya lagi.

“Sinka lo kenapa? Kalau lo gak suka kepantai, kita gak usah jadi ke kepantainya,”

“Eh!” kaget Sinka.

“Mau dimanapun tempatnya, asalkan gue bisa berduaan sama lo,” ucap Rizal.

“Ri-rizal,” ucap Sinka.

“Aku harus belajar lebih giat lagi supaya bisa liburan berdua bersama Rizal!” batin Sinka.

~oOo~

Keesokkan harinya

“Tolong sampai ujian akhir semester ini jangan ganggu aku dulu ya,” pinta Sinka.

“Apa! Lo gak mau diganggu! Kenapa?” ucap Rizal kaget.

“Ma-maksudnya…”

“Maksudnya lo ingin lebih fokus belajar dulu gitu?” sambung Rizal.

“Humm,” jawab Sinka mengangguk.

“Itukan lama,”

“Iya,” jawab Sinka.

“Kalo gitu pulang sekolah nanti kita belajar sama,” tawar Rizal.

Skip

Pulang sekolah

Sinka dan Rizal belajar bersama dikelas yang sudah sepi.

“Kenapa duduknya harus sedekat ini?” keluh Sinka karena konsentrasinya buyar akibat Rizal duduk terlalu dekat.

“Memangnya gak boleh?” tanya Rizal cuek.

“Habisnya kamu sih. Kamu sendiri gak belajar?” Sinka malah balik tanya.

“Belajar. Nih lagi baca buku,” ucap Rizal santai.

“Baca doang,” batin Sinka.

“Dari tadi lo gak selesai – selesai?”

“Habisnya kamu deket terus sih, aku kan jadi gak konsen,” batin Sinka.

“Jangan-jangan lo gak mengerti ya?”

“Bu-bukan begitu,” elak Sinka.

“Bagian mana yang lo gak ngerti? Yang ini?” tanya Rizal

“Ya,” jawab Sinka mengangguk.

“Kalau soal yang ini, pakai rumus yang ini,” jelas Rizal.

“Kenapa jantungku gak karuan kaya gini bila berada didekatnya,” batin Sinka tidak mendengarkan penjelasan Rizal.

“Rumus?” tanya Sinka binun.

“Lo ngerti gak? Lo pakai rumus yang ini,” ucap Rizal kemudian menunjukan rumus yang ada didalam buku. Sinka pun memperhatikan rumus yang diajari Rizal. Tapi itu akal – akalan Rizal saja. Rizal mendekatkan wajahnya ke arah Sinka. Wajah mereka begitu dekat. Sinka yang terkejut memalingkan wajahnya kesamping wajahnya memerah karena malu.

“Sinka,” panggil Rizal.

“…”

“Sinka Juliani,” panggil Rizal lembut sambil memainkan rambut Sinka. Kemudian memeluk Sinka dari belakang.

“Boleh aku menciumu?” goda Rizal mesra.

“Tu-tunggu aku tujuh belas tahun,” jawab Sinka gugup.

“Tujuh belas tahun?” tanya Rizal pelan.

“I-iya,”

“Aduh gimana ini?” batin Sinka.

“Okelah kalo begitu gue tunggu sampe lo cukup umur,” ucap Rizal kemudian mengecup pipi kanan Sinka yang chubby wajah Sinka langsung memerah.

“Aku begitu menyangimu sampai ingin menangis rasanya,” batin Sinka.

~oOo~

Keesokkan harinya pulang sekolah Sinka langsung pamit keruangan wali kelas.

“Aku duluan ya!” pamit Sinka.

Rizal hanya bisa terdiam melihat Sinka pergi.

“Pak aku tidak mengerti pelajaran ini,”

“Yang mana?” tanya Pak Sagha.

“Semuanya!” jawab Sinka.

Diperjalan pulang didalam bis pun Sinka masih terus belajar. Hingga tiba dirumah pun dia melanjutkan belajarnya.

Tiba – tiba ada telpon masuk dari Rizal.

“Halo Rizal?” Sinka menjawab telpon dari Rizal.

“Hai. Lagi apa?” Tanya Rizal.

“Aku lagi belajar,”

“Udah makan belom? Jangan lupa makan!” tanya Rizal lagi.

“Iya sudah makan kok tadi,”

Merekapun asik mengobrol.

Bla bla bla

tik tok tik tok tik tok

Tak terasa waktu berlalu hampir tengah malam

~oOo~

Keesokan harinya dikelas.

“Jadi nelpon dan Line pun gak boleh?” tanya Rizal heran.

“Humm,” Sinka mengangguk.

“Lo serius?”

“Hari ini sudah 1 menit lewan 1 dekit terbuang sia sia” ucap Sinka.

“Jadi gue sia-sia?” batin Rizal.

“Sinka lo baik-baik aja kan?” tanya Rizal.

“Aku baik-baik aja!” ucap Sinka agak keras.

“…”

“Beneran?” ucap Rizal.

“Ya,”

“Kenapa lo bilang lo baik-baik saja? Gue gak ngerti dengan lo?” batin Rizal

Skip

Pulang sekolah

Di koridor sekolah

Sinka berjalan menuju ruang wali kelas ditemani Yupi. Akan tetapi Sinka berjalan sambil melamun.

“Sinka kamu agk apa-apa? Kamu terlihat linglung?” tanya Yupi heran.

“Kenapa?” tanya Sinka sambil meleng.

Dan

Gubrak! Sinka nabrak tembok!

“Aku baik – baik aja,” ucap Sinka.

Skip

Setelah selesai urusannya dengan wali kelas Sinka pun menuju kelas yang sudah sepi.

“Tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi aku pasti bisa liburan sama Rizal,” batin Sinka sedang berdiri dijendela kelas lantai dua. Terlihat Rizal sedang berjalan pulang dihalaman sekolah

“Rizal,” batin Sinka melihat Rizal.

“Akhir-akhir ini kita gak bisa mengobrol,” keluh Sinka.

“Rizal!” teriak Sinka memanggil Rizal, tetapi Rizal tidak menoleh.

“Apa terlalu jauh ya? Jadi gak kedengaran?” batin Sinka kemudian pun Sinka berlalu.

Di halaman sekolah Rizal pun menoleh kearah jendela kelas tapi Sinka sudah tidak ada disana.

“Seharunya lo manggil gue sekali lagi Sinka,” keluh Rizal kemudian pergi.

~oOo~

Keesokan harinya

Diperpustakaan sekolah, Sinka sedang belajar, tidak banyak siswa di dalam perpustakaan.

“Hai. Apa kabar?” sapa Rizal.

“Baik,” jawab Sinka.

“Belakangan ini seperti ada tembok diantara kita?” ucap Rizal.

“…” sinka hanya diam.

“Minggu depan aku ingin jalan denganmu. Bisakan?” tanya Rizal.

“Tapikan minggu depan udah ujian,”

“Aku tau itu,”

“Gimana kalau setelah ujian selesai?” tawar Sinka.

“Aku maunya minggu depan!” ucap Rizal serius.

“Kalau gak bisa mendingan kita putus!” sambung Rizal.

Degh!

“Ba-baiklah.” jawab Sinka.

“Okelah kalo begitu. Jangan lupa ya minggu depan aku tunggu ditaman kota jam 4 sore,” ucap Rizal.

“Oke,” ucap Sinka.

~oOo~

Seminggu kemudian dirumah Sinka.

“Besok yah jam 4?” gumam Sinka sambil melihat kalender.

“Ya ampun ternyata sore ini. Karena terlalu banyak belajar, aku sampai lupa hari,” keluh Sinka.

“Masih sempat nih belajar bentar,”

Tapi karena belakangan ini bergadang dan terlalu lelah belajar Sinka pun tertidur.

Tik tok tik tok tik tok waktu pun berlalu.

“Aku ketiduran!” ucap Sinka panik.

“Hah! Udah jam 7!”

“Hari sudah malam,” Sinka sambil melihat keluar jendela kamarnya hari sudah gelap.

Sinka pun langsung berlalri ke taman kota tempat janjian bertemu dengan Rizal. Sesampainya di taman kota. Rizal pun sudah tidak ada disana.

~oOo~

Keesokan harinya disekolah.

Sinka mengungu Rizal dipintu gerbang Sekolah. Tak lama pun Rizal datang. Sinka pun langsung meminta maaf.

“Rizal!” panggil Sinka.

“Aku minta maaf soal kemarin!” ucap Sinka penuh penyesalan. Rizal hanya lewat begitu saja.

“Aku…” ucap Sinka dipotong Rizal.

“Stop! Jangan diteruskan lagi,” ucap Rizal tanpa melihat Sinka.

“Sepertinya gak ada artinya lagi kita pacaran,” sambung Rizal.

Degh!

Rizal balik badan menatap Sinka dengan tajam.

“Mulai sekarang gue gak akan ganggu lo lagi. Lo bisa belajar sesuka hati lo!” ketus Rizal.

Degh!

~oOo~

Saat ujian berlangsung.

Sinka terlihat sangat sedih mengingat perkataan Rizal.

“Kenapa?” batin Sinka mulai menangis. 😥

“Kenapa jadi gini sih? Aku menyayanginya. Aku begitu menyayanginya,” batin Sinka sedih air matanya jatuh membasahi lembar jawaban ujian. 😥

Skip

Setelah ujian Sinka mendatangi Rizal dibangkunya yang sedang membaca buku.

“Rizal,” panggil Sinka dari belakang Rizal. Rizal menoleh.

“Aku…, Aku benar-benar menyukai pantai. Aku mau pergi ke pantai bersamamu!” ucap Sinka.

“Kenapa lo baru bilang sekarang,” Rizal sambil terus membaca buku.

“Kata wali kelas kalau nilai semester ini jelek aku tidak bisa liburan dan harus ikut pelajaran tambahan, makanya aku aku,” ucap Sinka sesegukan.

“Eh?” Rizal terkejut kemudian menoleh kearah Sinka.

“Aku, aku mau pergi dengan Rizal,” Sinka mulai menangis 😥

“Aku mau ke sungai atau ke gunung atau kemanapun asalkan itu dengan Rizal!” ucap Sinka menangis.

“Semua itu sudah terlambat,”

“Maaf, hiks,” ucap Sinka masih menangis.

“Aku, aku tidak bisa liburan dengan Rizal karena hiks, karena aku dapat pelajaran tambahan liburan nanti,” sambung Sinka

“Apa?”

“Hiks aku minta maaf,” ucap Sinka terisak-isak masih terus menangis.

“Sinka, mulai sekarang kalau lo punya masalah cerita ke gue, biar gue bantu,” ucap Rizal.

“Memangnya belum terlambat?” tanya Sinka tangisnya mulai reda.

“Angkat tangan lo seperti ini. Dan ucapkan ‘Aku berjanji tidak akan mengulainya lagi’ ” ucap Rizal sambil mengangkat tangannya. Sinka pun meniru gerakan Rizal.

“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” janji Sinka mendikte perkataan Rizal.

“Kalau begitu walaupun telat satu hari. Happy sweet saventeen Sinka Juliani!” ucap Rizal kemudian memasangkan cincin kejari manis Sinka.

“Ulang tahun?” Sinka binun.

“Kemarin ya?” ucap Sinka terkejut.

“Jangan-jangan lo lupa ya?” tanya Rizal.

“Jadi itu…’Aku mau minggu depan kita jalan’ ” Sinka teringat perkataan Rizal.

“Rizal,” Sinka menarik baju Rizal kemudian cup! Kecupan tepat dibibir :* asek kissu kissu

Skip

Sepulang sekolah.

Sinka dan Rizal jalan berdua di koridor sekolah.

“Akhirnya kamu harus mengikuti kelas tambahan,” ucap Rizal.

“Habisnya aku sedih banget sampai-sampai aku gak konsentrasi belajar eh malah nangis saat ujian,” curhat Sinka manyun.

“Tapi Rizal juga kan ikut kelas tambahan,” sambung Sinka.

“Habisnya perubahan sikapmu belakangan ini buatku bingung dan jadi gak konsen belajar,” Ucap Rizal.

“Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Sinka.

Mereka pun melihat pengumuman dimading.

PENGUMUMAN!

BAGI SISWA YANG MENGIKUTI KELAS TAMBAHAN DIADAKAN DI GEDUNG BELAKANG SEKOLAH

“Kelas tambahannya ada di gedung belakang sekolah?” ucap Sinka.

“Dah lama yah gak kesana semenjak kejadian itu,” curhar Rizal.

“Masih ada gak yah?” sambung Rizal.

Di kelas tambahan

“Wah ternyata masih ada,” ucap Sinka.

“Bilik rahasianya masih ada,” kenang Rizal.

“Bikin kangen aja,” kenang Sinka.

“Iya membuat kangen aja,” kenang Rizal.

“Eh,” Sinka menemukan potongan Real Cacao salah satu coklat yang rasanya pahit kemudian tersenyum dan tertawa pelan.

“Tempat ini dimana dulu aku sering bertemu dengan Rizal,” batin Sinka mengenang kejadian dulu.

“Hihihi,”

“Aku pikir cinta itu manis,” batin Sinka.

“Kenapa ketawa?” tanya Rizal.

“Aku begitu menyayangimu,” ucap Sinka manja.

Rizal pun medekatakan wajahnya ke wajah Sinka dan IYKWIM :*   😉 hehe

Kenapa cinta itu jadi pahit ketika cinta itu terasa manis?

Itu lah Cinta rasanya seperti coklat terkadang manis terkadang pahit? 🙂

 

Tamat.

 

-Harris Marwin-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Love Taste Chocolate Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s