Kosong, Part9

“Udah pada siap?” Tanya seseorang.

“Kalo gue sih siap, cuman ada 1 kendala,” Ucap Firman.

“Kendala apaan?, si Agus sama temen-temennya?” Tanya Orang itu.

“Iya,”

“Kalo itu gak usah lu pikirin, gue tau banget dia kayak gimana, dia gak bakal ikut turun kok,” Ucap orang itu.

“Yaudah, yuk berangkat.”

-=o0o=-

Melody,Ve,dan Naomi sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Ve mengajar les, saat sudah sampai di tempat les, Naomi melihat adiknya sedang berkumpul, Melody juga melihat Zara,Feni,dan Nabilah, Mereka ingin menghampiri namun Ve sudah menunggu mereka, mereka pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri.

“Turun sekarang?” Tanya Ikhlas.

“Iya, nyok nyok,” Jawab Agus.

Mereka pun langsung menuruni tangga menuju ke Turbin, Ikhlas melihat seseorang sedang duduk di sebuah saung, Ikhlas pun menghampiri orang itu dan langsung menyapanya.

“Malam Bapak Ramdan,” Ucap Ikhlas, orang itu pun menoleh, namun orang tidak mengenali Ikhlas dan langsung bertanya, “Siapa ya?” Tanya Ramdan.

“Behh, poho sia ka aing, Daw,” Ucap Ikhlas.

(Poho = Lupa, Sia(Sunda Kasar) = Kamu, Aing = Aku)

“Emang lu siapa?” Tanya Ramdan.

“Bentar-bentar,” Ucap Ikhlas dan langsung melepas kacamatanya dan sedikit mengacak-acak rambutnya.

“Masih lupa ente? Kalo masih lupa sini oe tampol dulu sekali,” Ucap Ikhlas.

“Weleehh!! elu Klas, idup lagi rupanya,” Ucap Ramdan dengan nada yang sedikit berat.

“Behh,” Ucap Ikhlas sambil memasang wajah segaris.

Sorry-sorry, lu make kacamata sejak kapan?” Tanya Ramdan.

“Setahun lalu,”

“Emang buat apaan lu make kacamata?” Tanya Ramdan lagi.

“Biar keren aja, hehe”

 

-=o0o=-

“Mel, Mi, tadi kalian ngeliatin apaan sih?” Tanya Ve.

“Itu tadi ngeliat yang lagi ngumpul gitu, ada si Zara, Feni,” Jawab Melody.

“Emang ada apa?” Tanya Ve lagi.

“Tadi ada si Agus juga, kalo ada dia pasti mau ada yang berantem lagi,” Jawab Naomi.

 

-=o0o=-

“Gimana Man?, dah siap?” Tanya seseorang.

“Udah dong, lawannya aja culun kek gitu langsung libas aje dah, hahaha” Ucap Firman sambil sedikit tertawa.

“Yaudah langsung ke TKP aje,” Ucap Lukman, Mereka langsung mengendarai kendaraan mereka masing-masing, butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat yang Ikhlas ucapkan tadi, mereka langsung memarkirkan kendaraan mereka di belakang sebuah Sekolah Dasar, di sana juga ada beberapa motor milik Ikhlas dan teman-temannya, mereka berjalan menuruni tangga menuju ke Turbin.

 

-=o0o=-

“Oh iya, Nyi lu ngapain di sini?” Tanya Ikhlas kepada seseorang.

“Aku kan satu sekolah sama mereka,” Jawab orang itu, menunjuk ke arah Fadli, Treffy, dan Gilang. Ratu Vienny Fitrilya, ya orang yang 1 motor dengan Gilang tadi, dia salah satu teman Ikhlas saat ia menghilang selama 1 tahun.

“Oh, pindah pas semester 2?, sama kayak gue?” Tanya Ikhlas.

“Iyaa..” Jawab Viny.

“Emang lu sekolah di mana?” Tanya Ikhlas.

“SMAN 42,” Jawab Gilang.

“Gue kagak nanya lu, gue nanya ke die,” Ucap Ikhlas sewot.

“Di SMAN 42, kalo kamu di mana?” Ucap Viny.

“SMAN 12,” Jawab Agus santai.

“YANG DITANYA GUE BANGSAT, BUKAN ELU!!” Teriak Ikhlas di samping telinga Agus.

“Hehe, biar cepet aje jawabnya gitu,” Ucap Agus.

 

-=o0o=-

Malam hari, setelah kejadian di Turbin.

“A-ah, pelan-pelan Zar, sakit tau,” Ucap Ikhlas sambil menahan sakit yang ada di tangannya.

“Makanya jangan sok kayak tadi lagi,” Ucap Zara sambil memukul tangan Ikhlas.

“WADAW!!, jangan dipukul Zar, sakit ini,” Ucap Ikhlas sedikit menjauhkan tangannya dari Zara.

“Jangan berantem-berantem lagi ya, aku tuh gak mau Kakak kenapa-napa,” Ucap Zara.

“Iye-iye, yaudah gue ke kamar dulu, mau istirahat.” Ucap Ikhlas, Zara mengangguk menanggapinya, Ikhlas berjalan menuju kamarnya.

“Hp..hp… nah ketemu, Agus…Agus… nah,” Ucap Ikhlas dan langsung menelpon Agus.

 

Sementara di tempat Agus, Agus sedang duduk di rumahnya bersama dengan Allan, Riki, Robby, Farrel, Gilang, Treffy, Restu, dan Fadli. Agus melirik ke arah Hpnya, ada nama Ikhlas di sana.

“Kebetulan, siap-siap, hahaha,” Ucap Agus sambil sedikit tertawa, yang lain pun mengangguk dan langsung menahan tawa, mengingat kejadian tadi.

Agus : Ada a…

Ikhlas : KAMPREEETTTT!!!!!, SIALAN LU!!, GUE DIKEROYOK MALAH DIKETAWAIN, BUKANNYA DIBANTUIN, AWAS AJE LU KALO KETEMU, KAGAK BAKAL GUE LEPASIN, SIAP-SIAP AJE.

Tut..Tut…Tut

Ikhlas mematikan telepon secara sepihak, Agus dan yang lain pun langsung tertawa terbahak-bahak.

“Hahahahaha” Tawa mereka pecah setelah mendengar ocehan Ikhlas yang sudah lama tidak mereka dengar.

 

-=o0o=-

Di parkiran sekolah, Ikhlas sedang duduk di motornya, Ikhlas sedang menunggu seseorang, dari kejauhan Ikhlas melihat sebuah motor yang mendekatinya, ia langsung berdiri, saat motor tersebut sampai Ikhlas langsung menarik orang itu.

BUK!

BUK!

BUK!

“KAMPRET!!, AWAS AJE LU KALO SEKALI LAGI!!” Teriak Ikhlas dan langsung berjalan meninggalkan orang yang ia pukul, orang itu langsung berjalan menuju kelasnya juga, saat ia sampai di kelasnya, ia mendapat pertanyaan dari 3 temannya.

“Gus, muka lu kenapa?” Tanya Allan yang heran melihat luka memar di wajah Agus, padahal semalam saat dia main ke rumah Agus, dia tidak melihat memar di wajahnya.

“Dipukulin orang tadi,” Ucap Agus.

“Siapa? Biar kita bantai,” Ucap Robby.

“Yakin?”

“Iye, emang anak mana?” Tanya Robby.

“Yaudah, ikutin gue.”

Mereka berjalan menyusuri koridor, menuju kelas orang yang tadi memukul Agus, mereka langsung masuk ke kelas ‘X-2’.

BRAK!

“MANA ORANG YANG TADI MUKULIN TEMEN GUE ?” Teriak Allan.

Ikhlas yang sedang tertidur langsung terbangun karena kaget mendengar sebuah teriakan, Ikhlas melihat ke arah orang yang berteriak tadi, sedangkan Agus sedang bersusah payah menahan tawanya.

“NAH!!, WOI SINI LU BERTIGA!!” Teriak Ikhlas ke Allan, Robby, dan Riki. Ikhlas langsung berlari ke arah mereka, sedangkan mereka bertiga sudah kebingungan melihat Ikhlas yang menghampiri mereka dengan nafsu yang menggebu-gebu.

 

SKIP!

“Sialan lu Gus, malah ketawa bukan ngebantuin,” Ucap Robby kesal.

“Lu sendiri yang bilang mau ngebantai orangnya, hahaha,” Ucap Agus.

“Kenapa gak bilang kalo si Ikhlas yang mukulin lu, kita juga kena gara-gara lu ngerjain dia kemarin,” Ucap Allan.

Saat sedang mengobrol datang Restu dan Farrel sambil memegangi kepala dan tangan mereka, ya.. sama halnya seperti Agus dan yang lain. Mereka juga terkena oleh Amukan Ikhlas yang tidak jelas tadi.

“Lu berdua kenapa? Si Ikhlas?” Tanya Agus.

“Iye bang, gila ntu anak tenaganya gede banget,” Ucap Farrel sambil memegangi tangannya yang ia gunakan untuk menahan pukulan Ikhlas.

“Lu juga kena bang?” Tanya Restu ke Agus.

“Iye, pas pagi, di parkiran,” Jawab Agus.

“Ooo”

 

Bersambung…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s