Cherry Blossoms, (1)

Banner Cherry Blossoms Chapter 1

Di malam yang indah, di kota nan jauh disana. Terlihat sebuah rumah yang megah dan mewah, dikelilingi oleh taman yang hijau nan luas.

Didalamnya, terlihat pria dewasa sedang duduk di ruangan makan dan disamping nya ada pelayan laki-laki berdiri menemaninya.

Sesekali dia melirik makanan yang sudah siap dan kembali menatap tablet yang dipegangnya.

“Ayah.”

Pria itu menoleh. Melihat seorang anak laki-laki berdiri memakai jas hitam ditemani oleh seorang perempuan yang berdiri dibelakangnya.

“Anakku, silahkan duduk disana,” ucapnya sambil menunjuk kursi yang berada diujung meja.

Anak itu mengangguk, kemudian berjalan menuju tempat yang dituju. Perempuan itu mengikuti anak itu dari belakang.

Setelah sampai, anak itu duduk di kursi dan menatap makanan yang tersedia, kemudian menatap pria itu.

“Ayah.”

Pria itu tidak menoleh.

“Ayah.”

Pria itu masih menatap tablet.

“AYAH!” teriak anak itu.

Pria itu akhirnya menoleh dan memberikan tabletnya ke pelayan yang berada disampingnya.

“Anakku. Kenapa kamu jauh sekali? Ayolah, mendekat kesini.”

Anak itu menghela nafas kasar, kemudian bangkit dan menuju tempat duduk dekat pria tersebut disusul oleh perempuan yang bersama anak itu.

Anak itu duduk di kursi dekat pria yang dia sebut “Ayah”, sedangkan perempuan itu berdiri dibelakang kursi.

“Bagaimana nilai ujian kamu nak?” tanya pria tersebut.

“Itu udah lama banget yah. Tentu saja, nilaku sempurna,” anak itu mengambil garpu dan sendok. “Selamat makan.”

Pria tersebut menggelengkan kepalanya, kemudian dia ikut menyantap makan malam yang telah dihidangkan.

Selama 3 menit, mereka berdua masih menyantap hidangan tersebut. Merasa ada yang janggal, anak itu kemudian membuka suaranya.

“Kenapa ayah ngajak makan malem bareng? Biasanya juga ayah sibuk dengan pekerjaan.”

Pria tersebut menghentikkan proses makannya. Dia meletakan sendok dan garpu diatas piring kemudian meminum segelas air.

“Rivan,” panggil pria tersebut.

“Iya?”

“Kamu ingin sukses bukan? Seperti ayah?”

“Tentunya.”

Pria itu menopang dagunya dengan kedua punggung tanganya yang dieratkan dan menatap serius anak itu.

“Kamu tahu, rahasia ayah bisa sukses seperti ini?”

“Ceritakanlah.”

“Mandiri,” Pria itu kemudian mengambil gelas dan meminum air didalamnya.

Anak itu masih menunggu. Tapi, pria tersebut sudah melanjutkan makannya.

“Gitu aja?”

Pria itu menoleh ke arah anak itu. “Begitulah,” dia melanjutkan makannya.

Anak itu menghela nafas kasar dan menaruh tanganya di kening. “Lalu, mau ayah apa?”

Pria itu kembali menoleh. “Kamu harus siap dengan apa yang akan terjadi.”

Dia melepaskan tangannya di kening. “Maksud ayah?” Anak itu menatap pria tersebut.

Pria tersebut memandang perempuan yang berdiri dibelakang kursi dan memberikan sebuah kode. Perempuan tersebut mengangguk.

“Kamu harus mandiri,” ucap pria tersebut memandang anak itu kembali.

“Bentar, Aku ma… Hmmmph,” ucapan anak tersebut terpotong karena perempuan dibelakangnya sedang membekap mulut anak itu dengan sapu tangan.

Setelah beberapa lama, akhirnya anak itu tenang dan tertidur.

“Cairan ini bekerja sampai kapan?” tanya pria tersebut.

“Mungkin sampai besok pagi, tuan,” balas perempuan itu.

Pria itu tersenyum kemudian berdiri dan mendekati anak itu. Dia mengelus lembut kepala anak itu, kemudian menoleh ke perempuan itu.

“Mulai rencananya.”

====|Cherry Blossoms|====

            Sinar pagi telah menyinari bumi walaupun tidak seluruhnya. Di bagian bumi yang telah disinari cahaya matahari pagi, seorang anak laki-laki tertidur pulas di jok mobil depan dengan mulut dilakban dan tangan diborgol.

Mungkin, kurang lebih 10 jam anak itu tertidur. Dia tidur dengan tenang dan nyaman.

Disampingnya ada seorang perempuan berkacamata sedang menyetir mobil yang dinaiki tersebut.

Sampai, dia membuka matanya, melihat pemandangan yang sangat asing. Dia mengumpulkan nyawanya, melihat ke depan.

Tubuhnya tegang. Dia baru ingat kejadian semalam. Dia mencoba berteriak tapi tak bisa didengar. Mencoba memberontak, tapi tangannya diborgol.

Dia menoleh ke samping, melihat perempuan sedang menyetir mobil sambil memasang earphone dan menyanyi.

Dia mencoba memberontak lagi, namun dihiraukan. Setelah beberapa lama mencoba, dia lemas dan menutup matanya. Dan seketika perempuan tadi menoleh ke arah anak itu.

“Masih tidur toh.”

Perempuan itu kembali fokus menyetir. Merasa ada suara dari perempuan itu, anak itu kembali memberontak.

Tidak mau lagi dihiraukan, kedua tangannya memukul pundak perempuan itu.

“Ih! Apaan sih!”

Akhirnya perempuan itu menoleh lagi, melihat anak laki-laki menunjukan lakban yang terpasang dimulutnya.

“Oh, mau dilepas?”

Anak itu mengangguk cepat, lalu memajukan kepalanya ke perempuan itu. Tanpa kasih sayang, perempuan itu menarik lakban dengan cepat.

“AAW!” Pekik anak itu.

Sambil mengelus bagian mulut dan sekitarnya yang dilepas dengan “lembut”, dia menatap perempuan itu dengan sinis.

“Kenapa Van?”

Perempuan itu tertawa kecil. Sedangkan anak itu masih menatap sinis dan mencoba membuka borgol yang dipasang dikedua tanganya.

“Jelasin semuanya kak. Kakak kan yang buat gua pingsan semalem?” tanya anak itu sinis.

“Yah, begitulah. Ini semua rencana tuan,” balas perempuan berkacamata itu.

“Rencana… ayah?”

“Yup. Kamu tau gak, kita dimana sekarang?”

“Emmm.. dimana?”

“Italia! Hahahahaha!” ucap perempuan itu dengan keras.

Sedangkan anak itu menatap kosong perempuan tersebut.

“B-Boong kok. Kita di Jakarta sekarang.”

“Hah!? Kok Jakarta? Kenapa Jakarta? Lah, Jakarta siapa?”

“Dibilang, ini semua idenya tuan. Kamu bakal tinggal sendiri di Jakarta.”

“L-lah, gua ditelantarkan gitu?”

“Yah, ada rumah sih. Walaupun kata tuan gak besar. Katanya sih biar tambah mandiri.”

“Mandiri lagi. Huft,” keluh anak itu.

Perempuan tersebut tertawa kecil, sedangkan anak itu hanya bisa pasrah menghadapi semua ini karena ayahnya yang menginginkan anaknya “Mandiri”.

Tiba-tiba mobil berhenti didepan rumah yang berwarna putih yang cukup besar. Perempuan tersebut mengambil kertas dari sakunya, lalu keluar dari mobil.

Anak itu kebingungan, lalu memutuskan untuk ikut pergi keluar.

“Ini rumahnya? Katanya kecil, kok gede gini?”

“Ya, kalau dari alamat sih bener. Cuma ya, kok bagus gini ya? Kata tuan, kecil sama jelek loh rumahnya,” balas perempuan itu sambil mengambil sesuatu dari saku celananya. “Coba kamu telpon tuan,” ucapnya sambil menyodorkan handphone.

Dengan tangan yang masih diborgol, dia mengambil handphone tersebut, kemudian mencari kontak yang dimaksud.

Tuuuut….Tuuuut

            “H-Halo? Siapa ini?” ucap seseorang dari balik handphone.

“Ini Rivan. Anakmu yang ganteng nelpon pake handphone kak Yona. Emangnya ayah gak nyimpen kontak kak Yona apa?”

“Oh kamu toh. Saya kira siapa. Tapi kok, Yona suaranya jadi kayak cowok gini? Ini handphone-nya Yona kan!? Jawab kamu!”

Anak yang bernama Rivan itu menghela nafas. “INI ANAKMU, RIVAN! KAN TADI UDAH DIBILANG!” teriak anak itu.

“Eh. Rivan toh. Kirain perampok. Ada apa anakku?”

“Pertama, kata kak Yona, aku bakal tinggal di Jakarta. Itu beneran?”

“Bener kok.”

“Kedua, alasannya?”

“Mandiri. Ayah kira kamu udah tau.”

Rivan terlihat sangat lesu setelah mendengar jawaban tersebut. “Ketiga, alamat yang ayah kasih ke kak Yona itu bener gak?”

“Bener kok. Catnya putih kan?”

“Iya.”

“Pagernya hitam.”

“Iya.”

“Gak sebesar rumah yang di Bandung.”

“B-Bener sih.”

Yaudah, kalo takut salah, coba aja kuncinya dulu. Oh iya, Yona ada?”

“Ada. Mau ngomong?”

“Iya.”

Rivan langsung memberikan handphone ke Yona yang dari tadi terlihat kebingungan karena percakapan Rivan dengan ayahnya.

Rivan yang sedari tadi memandang rumah yang cukup besar untuk ditinggali sendirian, langsung terkejut karena teriakkan perempuan disebelahnya.

“APA!? Sebentar! Sial dimatiin!” ucap Yona kesal.

“Nape kak?” tanya Rivan datar.

Yona menghela nafasnya. “Kita bakal tinggal berdua.”

“Hah?”

====|Cherry Blossoms|====

            Bruk!

Seorang anak menjatuhkan kardus berwarna coklat diatas meja. Dia menghela nafasnya, kemudian membuka kardus tersebut dan mengeluarkan barang-barang yang ada didalamnya.

“Yang ini taruh sini aja lah,” ucapnya sambil menaruh sebuah figur di ujung meja.

Sedari tadi dia membereskan barang yang berada dalam kardus, terdengar suara ketukan pintu.

Tok Tok… Kreek

            Sebuah pintu kayu coklat baru saja dibuka oleh seorang perempuan.

“Udah beres Van?”  tanya seorang perempuan yang baru membuka pintu itu yang tak lain adalah Yona.

“Dikit lagi,” jawab Rivan sambil membereskan figurnya.

Kemudian Yona masuk kedalam kamarnya dan memerhatikan sekeliling kamar tersebut. Disana tampak banyak sekali barang barang mahal tersusun rapih di kamarnya.

“Ini… kok banyak banget barang kamu?”

“Harusnya gua yang nanya kak. Lagian bukan gua yang minta.”

“Iya sih,” Yona menggaruk leher yang tidak gatal. “Yaudah kalo udah selesai kebawah, makan siang dulu.”

Rivan hanya membalas dengan anggukan tanpa menatap Yona. Merasa dicuekkan, Yona pun meninggali Rivan sendirian di kamar.

Setelah selesai membereskan barang dari kardus, perhatiannya tertuju ke arah handphone yang tergeletak diatas kasur.

Dia segera menghidupkan handphone tersebut dan duduk di pinggiran kasur. Dibukanya aplikasi chat yang dulu pernah ia gunakan. Dia menatap layar dengan serius lalu menghela nafasnya.

“Masih gak berubah ya,” ucapnya pelan.

Dia mematikan handphonenya kemudian memasukkan kedalam saku celana. Dia bergegas turun ke lantai bawah untuk menyantap makan siang.

“Wuih, makanannya enak nih kayaknya,” ucap Rivan seraya turun tangga. “Masak sendiri kak?”

“Iya dong,” Yona sudah siap duduk di kursi. “Ayok cepet sini. Keburu dingin.”

“Kenapa gak beli aja kak?” Rivan mengambil posisi duduk.

“Belom kenal tempatnya. Takutnya malah nyasar,” ucapnya santai. “Udahlah, makan dulu.”

“Iye-iye.”

Mereka pun makan dengan khidmat tanpa ada perbincangan. Sampai selesai makan, Yona membersihkan piring yang tadi digunakan. Sedangkan Rivan duduk santai di sofa ruang tamu.

“Kak, nanti mau jalan-jalan gak?”

“Gak, capek dari kemarin ngurus ini sama beresin rumah. Mau tidur aja seharian.”

“Yeh, gimana sih. Yaudah gua sendiri aja ya.”

“Terserah yang penting kakak mau tidur sekarang,” balasnya lesu sambil berjalan menuju kamar.

Rivan sudah siap dengan pakaian perginya dilengkapi dengan earphone berwarna putih yang selalu ia bawa keluar rumah.

“Kunci gak ya?” ujarnya berdiri kebingungan di halaman rumah. “Kunci aja lah. Lagian katanya mau tidur seharian.”

Rivan pun mengunci pintu rumah tersebut dan pergi meninggalkan rumah. Dia berjalan kaki sambil memandangi pemandangan sore ditemani lagu Ray of Light – MONKEY MAJIK.

“Enaknya kemana ya? Gak ada motor sih, gak bisa jauh-jauh,” ujarnya kepada dirinya sendiri.

Akhirnya dia memutuskan untuk ngalir. Kemanapun arus membawanya, dia akan terus mengikutinya. Asal tidak lupa dengan jalan pulang.

5 menit sudah dia berjalan dan akhirnya sampai ke taman yang cukup besar dengan pepohonan yang rindang. Dia menatap kagum, dia baru tahu bahwa masih ada taman sebesar ini di ibukota.

Dia memasuki area taman tersebut dan berjalan memutari taman tersebut. Setelah menemukan spot yang nyaman untuk merenung, dia akhirnya duduk di salah satu kursi kayu di tengah taman.

“Enak juga kalau deket tempat ginian dari rumah,” dia mengadahkan kepalanya keatas sambil menutup mata. “Jadi inget dulu.”

“Aww!”

Teriakan itu terdengar sampai ke telinga Rivan. Dia menoleh ke sumber suara dan melihat seorang perempuan terjatuh sampai barang bawaannya yaitu buku menjadi berserakan.

Dengan rasa kemanusiannya, dia menghampiri perempuan tersebut dan berniat untuk menolongnya.

“Gapapa? Sini gua bantuin,” ujar Rivan sambil mengambil buku yang berserakan di tanah.

“E-Eh? G-Gapapa kok. Makasih ya,” balas perempuan itu.

Rivan membalasnya dengan senyum kemudian melanjutkan membereskan buku yang berserakan.

“Nih, lain kali hati-hati,” ucap Rivan sambil memberikan buku-buku tersebut.

“Hehe. Makasih ya,” perempuan itu menerima buku-buku tersebut.

Perempuan itu kemudian menatap ke langit sore. Rivan pun mengikuti arah pandang perempuan tersebut.

“Indah ya?” tanya perempuan itu.

“Ya, indah.”

“Sayang sekali, bukan pohon sakura yang tumbuh disini,” ucap perempuan tersebut. “Lagian juga ini bukan jepang.”

“Mau bagaimana lagi kan?”

“Ah iya, kenalin nama aku…” ucap perempuan tersebut sambil menyodorkan tangan.

“Hmm? Ya?”

“Kamu dulu dong. Hehe,” ucapnya sambil tertawa.

“Lah, yaudah,” Rivan membalas jabatan tersebut. “Gua Rivan.”

“Semanis coklat, selembut sutra. Aku Shani,” balas perempuan bernama Shani tersebut. “Jadi, kenapa kamu kesini Rivan?”

“Ke taman ini? Emangnya kenapa?”

“Kalau aku liat-liat,” mukanya terlihat serius. “Kamu ada masalah ya?”

“Eh?”

“Saat datang ke tempat ini, kamu jadi keinget masalah itu lagi. Bener kan?”

“Tau dari mana?”

“Yah, hehe,” ucapnya tertawa. “Ibu aku psikolog. Aku diajarin dikit sama ibuku. Jadi bisa nebak gitu.”

“Oh, gitu. Gak sepenuhnya salah sih,” balas Rivan sambil menatap Shani. Dulu itu-“

“Bentar! Aku baru inget!” ucap Shani kaget.

“I-Inget apa?”

“Aku disuruh pulang sekarang!” Shani terlihat sangat gelisah. “Yaudah Rivan. Sampai ketemu lagi,” ucapnya seraya meninggalkan Rivan.

“E-Eh? Bentar!”

Tapi telat sudah. Gadis yang bernama Shani itu sudah lari ke arah luar taman. Rivan pun menghela nafasnya.

“Kalau gitu mending gausah ngasih tau. Malu dah gua,” ucapnya lesu.

Rivan pun mendongkakan kepalanya ke atas dan memandangi langit oranye tersebut.

“Masalah itu ya,” ucapnya pelan.

            “Kayaknya gua juga harus pulang. Udah sore.”

Akhirnya Rivan berjalan pulang ke rumah. Diperjalanan, dia memasang kembali earphone dan berniat mendengarkan lagu melow. Sampai akhirnya dia sadar, handphone nya sudah habis baterai.

Sampailah Rivan di rumahnya. Butuh waktu yang lebih lama daripada saat dia berangkat. Karena dia samar mengingat jalan pulang.

“Kak Yona udah bangun belom ya?” ucapnya sambil memasukan kunci rumah.

Ceklek

“Waduh, kayaknya masih ngebo ini,” ujarnya sambil memandangi seisi rumah yang gelap.

Rivan memencet saklar yang membuat ruangan menjadi terang. Dia berjalan menuju kamar Yona dan mengetuk pintu kamar tersebut.

“Kak? Udah sore loh,” ucapnya sambil mengetuk pintu.

Tapi tidak ada respon yang diberikan. Rivan pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya.

Ceklek

Dia memasuki kamar yang gelap tersebut. Memencet saklar lampu dan dengan sekejap kamar tersebut menjadi terang.

Terlihat seorang perempuan terkulai lemah diatas kasur. Perempuan itu memakai baju kaos hitam dan celana pendek yang membuat Rivan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nyenyak gini liatnya enak juga,” Rivan menyeringai memandangi muka Yona yang tertidur nyenyak.

Beberapa saat kemudian, Rivan meninggalkan Yona di kamarnya dan pergi keluar rumah lagi.

====|Cherry Blossoms|====

Langit yang bewarna oranye kemerahan mulai berganti menjadi hitam pekat yang menandakan malam sudah tiba.

Rumah bewarna putih yang ditinggali Rivan dan Yona sudah terlihat terang. Di saat malam, rumah tersebut terlihat sangat mewah karena lampu yang menerangi rumah tersebut sangat elegan.

Didalam rumah tersebut, Yona baru saja keluar dari kamar setelah tidur selama 2 jam. Dengan muka bantalnya, Yona berjalan menuju dapur dimana terlihat Rivan sedang duduk di kursi meja makan.

“Eh, kakak kesayangan udah bangun. Makan dulu sini,” ujar Rivan yang sudah siap dengan hidangan malam di meja makan.

“Ini… makanan kamu yang buat?” ujar Yona sambil menunjuk makanan diatas meja.

“Kagak lah. Mana bisa gua masak. Gua beli deket sini tadi,” ujarnya seraya Yona duduk berhadapan dengan Rivan.

“Met makan. Ati-ati masih panas sotonya,” Rivan mulai menyantap makanan tersebut dengan lahap. Yona tersenyum melihat tingkah Rivan.

Mereka menikmati proses mengisi perut tersebut dengan khidmat. Tak jarang Rivan tersedak karena terlalu lahap makan.

“Oh iya Van,” Panggil Yona memecah keheningan.

“Hmm?” Rivan berdehem pelan.

“Besok kamu sekolah-“

Belum selesai Yona menyelesaikan ucapannya, Rivan langsung tersedak mendengar kata “Sekolah”.

“A-Ah! Iya! S-Sekolah gua gimana kak? Kan gua udah daftar yang disana. Trus urus- Uhuk!” Rivan kembali tersedak.

“Etdah, minum dulu,” ujar Yona sambil memberikan segelas air mineral ke Rivan.

Rivan meminum air tersebut lalu menghela nafas lega.

“Oke. Kamu gak usah khawatir soal sekolah kamu. Kamu udah didaftarin di sekolah sini. Dan besok kamu udah mulai sekolah,” ucap Yona santai.

“B-Bentar. Emangnya hari ini hari apa?”

“Minggu. Besok udah masuk tahun ajaran baru.”

“Lah. Cepet banget.”

“Lama gitu dibilang cepet. Lanjutin makannya ayo! Urusan sekolah tinggal berangkat aja besok pagi,” ucap Yona sambil melanjutkan makannya.

“Seragam? Buku?”

“Seragam udah dikirim kan tadi? Trus besok masih MOS. Buku nanti katanya dibagiin.”

“Lah pantes tadi ada seragam SMA,” batin Rivan.

Mereka melanjutkan proses makan tersebut. Selesai makan, Yona membereskan peralatan makan sedangkan Rivan pergi ke kamarnya.

“Haaah,” keluh Rivan sambil menghempaskan tubuhnya diatas kasur.

Dia memandangi langit-langit kamarnya lalu menghadapkan kepalanya ke kanan.

“Sekolah baru ya,” monolognya sambil memandangi meja belajarnya.

“Au ah ngantuk. Biarkan masalah besok jadi masalah buat gua besok.”

Rivan menutup matanya kemudian memeluk guling. Tak lama kemudian dia mulai terlelap di kesunyian malam ibukota ini.

                                                    ====|Cherry Blossoms|====        

            Suasana pagi yang indah, cukup indah, sangat indah, tak terkecuali suasana pagi di ruang makan dimana Rivan dan Yona tinggal.

Di meja makan telah disiapkan 2 potong roti berisi meses dan segelas susu putih hangat yang baru saja dibuat Yona.

“Kak, nanti gua berangkat gimana?” tanya Rivan sambil mengambil sepotong roti.

“Nanti dianter kok. Pulang nya juga dijemput,” jawab Yona sambil memainkan handphonenya.

“Yeh, yaudah lah. Asal jangan telat nanti jemputnya.”

Yona hanya berdehem pelan sedangkan Rivan melanjutkan sarapannya dengan tenang.

Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka berdua memasuki mobil dan berangkat menuju sekolah Rivan.

Tidak ada percakapan selama perjalanan ke sekolah. Yona fokus menyetir sedangkan Rivan memandang ke arah luar jendela mobil kayak baru diputusin pacar.

Tak sampai 10 menit mereka sampai ke tempat tujuan. Dari dalam mobil, Rivan memandangi sekolah yang cukup besar itu dengan tatapan yang tak dapat dipercaya olehnya.

Lah? Lebay ya?

            “Nanti kakak jemput ya,” ujar Yona dengan tatapanya masih ke depan.

“Iye-iye. Yaudah gua masuk dulu,” balas Rivan sambil membuka pintu mobil.

“B-Bentar!” Yona menahan tangan kanan Rivan.

“Hmm? Kenap-“

Belum sempat Rivan membalas, pipi kanan Rivan dicium singkat oleh Yona.

“Hehe. Yaudah sana. Hus hus,” usirnya sambil mendorong tubuh Rivan keluar dari mobil.

Rivan melongo karena kejadian yang tak pernah ia harapkan atau ia pikirkan akan terjadi. Dia pun berjalan seperti zombie ke arah lapangan sambil mengelus pipi kanannnya.

“HEH KAMU!”

Sebuah teriakkan perempuan berhasil membuat Rivan kembali sadar.

“Kamu kenapa jalannya kayak gitu!? COWOK BUKAN!?”

“S-Saya?” Rivan menunjukan dirinya sendiri

“BUKAN! PACAR KAMU!”

“T-Tapi saya gak punya pacar.”

“JOMBLO!” ucapnya tanpa rasa kasihan sedikitpun, “Sini Kamu!”

Rivan pun langsung mendekat ke arah perempuan itu dengan tergesa-gesa.

“K-Kenapa sist?” Tanyanya terbata-bata.

“Sist-sist. Lu kira ol shop. Panggil saya ‘Kak’! Mengerti kamu!?”

“Mengerti kak!”

“Bagus! Sekarang kamu push-up 100 kali!”

“Lah? Kenapa kak?” Tanyanya keheranan.

“Muka kamu ngeselin!” ucap perempuan itu sambil menunjuk muka Rivan, “Cepet! Atau kamu mau lompat dari atap sekolah!?”

“Enggak kak!”

“Yaudah! Cepetan push up!”

Akhirnya, dengan sangat amat terpaksa sekali, Rivan mengambil posisi push up di depan kakak kelas itu.

“1..2..3..”

“Yang bener! Ulang lagi!”

“Cih. Cantik tapi galak,” gumam Rivan pelan.

“SAYA DENGER YA! Push up kamu nambah 100!”

“Tolonglah hamba ya tuhan,” batin Rivan tersiksa.

            Rivan terus melakukan siksaan tersebut sedangkan seniornya berdiri dihadapannya sambil memandang tajam Rivan.

“23..24..25..”

“KALIAN! SEKARANG PUSH UP 100 KALI!”

Sebuah teriakkan seorang perempuan yang lain muncul disusul oleh 3 orang siswa kelas 10 yang langsung mengambil posisi push up disamping Rivan dan langsung melakukan push up.

“40..41..42..”

Dari sisi lain, terihat seorang perempuan (yang lain) berambut panjang dengan tatapan tajam mendekat ke arah Rivan dan siswa lain yang dihukum. Dia berjalan di depan para siswa yang dihukum sambil melipatkan kedua tangannya di dada.

Perempuan itu berhenti.

Berhenti didepan Rivan.

Celingak-celinguk gak jelas.

“Kamu, berdiri,” ucap perempuan itu sambil menunjuk Rivan.

Dengan cepat, Rivan pun berdiri dan memandang perempuan itu.

“Alhamdullilah. Nikmat apa lagi yang kau dustakan?” Batin Rivan.

“Kamu langsung kesana aja,” ucap perempuan itu datar sambil menunjuk gedung sekolah.

“I-Iya kak. Makasih,” Rivan pun langsung berjalan ke gedung tersebut.

Perempuan itu memandang punggung Rivan yang semakin jauh, jauh, dan jauh. Dia tersenyum kecil melihat lari Rivan yang aneh.

“BIDADARI PENYELAMAT, TERIMAKASIH!” Batin Rivan lagi.

            “Mi, kok lu suruh pergi sih?” tanya perempuan disebelah perempuan yang dipanggil “Mi” itu.

“Gak usah sok galak deh ama anak baru,” perempuan itu kemudian menatap 3 orang sisa yang masih menjalani hukuman. “KALIAN ULANG LAGI DARI AWAL!” perempuan itu menunjuk 3 orang yang tak beruntung itu.

“I-iya kak!”

“Gak jelas,” batin kedua perempuan senior didekatnya.

Sementara itu, Rivan masih berjalan cepat memasuki area gedung sekolah.

“Sekarang gua kemana dah,” ucapnya sambil menaruh kedua tangan di pinggang dan celingak-celinguk gak jelas.

“Hei.”

Seseorang menepuk pundak Rivan dari belakang. Reflek, Rivan pun menoleh ke belakang dan terlihat seorang perempuan dengan rambut digerai tersenyum ke arahnya.

“Kamu anak baru kan?” ucap perempuan itu dengan senyumnya yang masih mengembang, “Oh iya, nama kakak Veranda. Panggil Ve aja.”

“A-ah, I-Iya kak Ve. Nama saya Rivan,” balas Rivan dengan terbata-bata.

“Nah! Bener Kan!” ucap Ve dengan semangat, “Soalnya dari tadi aku salah nebak siswa mulu, hehe.”

“O-oh gitu. Jadi, saya kemana ini kak?”

“Ah! Sudah kuduga! Pertanyaan ini akan datang!” balas Ve dengan penuh semangat sambil menyatukan 2 telapak tangannya. “Kamu nanti lurus kesana, sampe depan pintu yang besar terus masuk deh! Gampang kan?” lanjutnya sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

“I-iya. Kalau gitu saya permisi dulu. Makasih ya kak Ve,” balas Rivan sambil pergi meninggalkan Ve.

“Sama-sama! Inget ya! Pintu yang Besar! BESAR!” teriak Ve.

Rivan tidak membalas ucapannya melainkan pergi dengan cepat agar menjauh dari Ve.

“Kok ngeri ya?” Batin Rivan.

Dan, sampailah Rivan didepan pintu yang dimaksud. Pintu yang terbuat dari kayu dan diukir dengan motif yang sangat tidak dapat dimengerti oleh orang seperti Rivan.

“Huft, Bismillah.”

Cekrek

“Permisi…”

Pintu tersebut pun terbuka. Terihat sekumpulan siswa dan siswi sedang duduk lesehan diatas lantai dan juga ada beberapa siswa yang berdiri mengawasi tempat tersebut.

“Kamu, siswa baru kan?” Tanya seseorang didekat Rivan.

“Hmm? E-eh, iya kak.”

“Yaudah, duduk disana,” senior itu menunjuk ke arah tengah aula.

“Oke kak.”

Rivan pun berjalan ke tempat yang ditunjukkan oleh senior tersebut. Kemudian, dia akhirnya duduk lesehan disebelah cowok yang sedang memainkan handphonenya.

Rivan pun berniat untuk mengajak kenalan cowok tersebut. Dengan modal nekat, dia mencoba membuka percakapan.

“H-hei,” panggil Rivan seramah mungkin.

Cowok itu menoleh ke arah Rivan dan menatapnya dengan penuh kecurigaan.

“I-itu, lu suka anime ya?” tanya Rivan sambil menunjuk wallpaper handphone cowok itu bergambar anime.

“Kenapa emangnya? Lu mau ngejek gua!?”

“Enggak kok. Gua juga suka anime,” balas Rivan.

“Walau cuma dikit.”

“Oh? Emangnya suka anime apa?” tanyanya menantang.

“Anu…itu…love li-“

“LOVE LIVE?” cowok itu mendadak bangkit dari duduknya.

“I-iya..” balas Rivan gugup.

“WAH! SPESIES LANGKA INI!” cowok itu pun kembali duduk. “Nama gua Heza. Sekarang lu jadi temen gua. HAHAHAHAHAHA!” cowok yang bernama Heza langsung merangkul Rivan.

Seisi aula pun menatap jijik kedua cowok yang tampak akrab ini. Bahkan para cewek yang didekatnya pun langsung menjauh.

“Salah milih orang nih. Kenalan gek belom gua,” Batin Rivan.

“Oke teman-teman! Mohon perhatiannya!” Teriak seseorang di depan aula.

Seisi aula pun langsung menoleh ke sumber suara. Heza juga melepas rangkulannya sedangkan Rivan bernafas lega.

“Kepada para siswa baru, selamat datang di SMA 1! Yeeeey!” Seluruh orang yang di aula bertepuk tangan dengan meriah. Sedangkan Rivan kebingungan tapi dia ikut tepuk tangan.

“Jadi, perkenalkan, nama saya Frieska. Singkat aja ya, jadi hari ini kalian akan diberikan materi dan MOS yang sesungguhnya akan dimulai besok. Hehe,” ujar perempuan tersebut.

“Wih cantik juga ya.”

“Waduh, udah kelas 12 lagi.”

“Tisu gua mana ya?”

Banyak bisikan-bisikan yang terdengar dari para siswa baru yang membuat Frieska terkekeh. Sedangkan Rivan masih kebingungan sendiri.

“Emangnya udah pada kumpul semua ya?”

Akhirnya para panitia MOS yang merupakan kakak kakak kelas mulai menyampaikan materi. Guru juga ikut diundang untuk menyampaikan materi tentang sekolah. Mulai dari sejarah sekolah, siapa yang membuat, sistem, dan ekskul.

Dan sekarang, semua murid kelas 10 sudah keluar dari aula dan menyebar ke area sekolah dan luarnya.

“Jadi lu mau masuk ekskul apaan?” tanya Heza yang duduk disamping Rivan sambil menyeruput teh lemonnya.

“Gak tau. Gak minat gua sama ekskul disini,” Rivan menyenderkan tubuhnya di tembok. “Gak berbobot.”

“Yeh, sok berbobot lu Sul,” ejek Heza.

“Sul?” tanya Rivan kebingungan.

“Nama lu Samsul kan?” tanya Heza polos.

“Astaghfirullah,” Rivan memijit keningnya. “Gua kan belom kenalan.”

“Gua sih nebak-nebak aje,” Heza terkekeh.

Tiba-tiba, sesuatu bergetar didalam saku celana Rivan.

Ternyata itu handphonenya!

Dia pun mengambil handphone tersebut dan membaca sebuah pesan yang baru saja diterimanya.

“Dah. Gua balik duluan ye,” ucap Rivan sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan.

“Yo! Hati-hati di jalan, Jono!” Teriak Heza.

“Rivan! Nama gua RIVAN!” Balas Rivan teriak.

“Oh! Yowes lah, Saeful!”

Rivan pun mempercepat langkah kakinya menuju gerbang sambil mengelus dadanya.

“Yang sabar gan.”

Di depan gerbang terlihat seorang perempuan seperti sedang menunggu seseorang. Sesekali ia melirik ke jam tangan miliknya kemudian mendengus kesal.

Sedangkan Rivan, dia meihat perempuan itu dengan perasaan takut dan cemas.

“Tadi itu senior yang bantuin gua kan yak? Bilang makasih gak yak?” Batin Rivan.

Dengan keberanian yang ia kumpulkan, akhirnya dia memutuskan untuk menyapa senior perempuan itu.

“Permisi kak,” ujar Rivan dengan sopan.

“Hmm?” Perempuan itu menoleh ke arah Rivan. Kemudian dia tersenyum dan eksresinya langsung berubah menjadi galak dengan cepat.

“Mau apa kamu?” tanyanya ketus.

“Errr… itu… saya mau berterima kasih tadi kakak udah bantuin saya,” balasnya sambil tersenyum.

Senyuman perempuan itu pun kembali mengembang. “Oh? Tapi, didunia ini gak ada yang gratis loh.”

“M-maksud kakak? Mau minta imbalan?”

Perempuan itu mengangguk mantap sambil menatap dalam mata Rivan.

“Sebelum itu,” perempuan itu mendekat ke arah Rivan. “Kamu tau nama saya?”

“Err.. enggak kak.”

“Masa sih?” perempuan berbisik membuat jarak antara mulutnya dan telinga Rivan sangat dekat. “Coba.. Ingat-ingat lagi~”

Dengan jarak mulut dan telinga Rivan yang sanat dekat, membuat Rivan sontak kaget dan menjauhan dirinya dari perempuan itu.

“Anu… gimana ya?” ucap Rivan kebingungan.

“Kalau kamu lupa, kamu bakal dapet hukuman loh,” perempuan itu mengedipkan mata sebelah kanannya.

Rivan tampak kebingungan. Dia mulai celingak-celinguk mencari bantuan. Tapi yang ada orang-orang malah menjauhinya entah kenapa.

“Hayo… gimana?”

Perempuan itu menjadi semakin dekat dengan Rivan. Kemudian, dia memegang pipi kanan Rivan. “Kalau gitu, ak-“

“RIVAN!”

Teriakan seorang perempuan (lagi-lagi) membuat Rivan dan senior itu menoleh ke arah sumber suara.

“Kak Yona?”

Perempuan yang dipanggil Yona itu langsung berjalan mendekati Rivan dengan muka yang terlihat marah. Senior perempuan tersebut langsung saja melepaskan tangannya dari pipi Rivan.

“Kamu ngapain masih disini!? Kakak kan udah chat ke kamu!” ujar Yona dengan nada tinggi.

Rivan hanya terdiam melihat Yona yang terlihat sangat marah. Sedangkan perempuan itu mendecik kesal karena rencananya telah diganggu.

“Dan lu!” ucap Yona sambil menunjuk senior itu. “Lu ngapain sama dia, hah!?”

“Serah-serah gua dong!”

“Bentar, kayaknya gua kenal sama lu,” ucap Yona sambil meneliti perempuan itu. “Oh! Lu! Iya-iya!”

“Kenapa gua, HAH!?”

“Lu Shinta Naomi! Yang dulu sering gangguin Rivan dulu!” ucap Yona geram.

“Shinta Naomi… Hah!? Kak Nao!?” ujar Rivan.

Perempuan yang dipanggil Shinta Naomi itu langsung membetulkan rambutnya dan menatap Yona.

“Oh.. lu yang disewa nemenin Rivan ya, Viviyona Apriani!?”

“Hahahaha,” Yona tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi masih inget toh.”

“Gua gak bakal lupain lu, Viona!”

“Anu.. kakak-kakak yang cantik, jangan ribut disini ya… ini masih di sekolah,” ujar Rivan pelan.

Naomi dan Yona langsung menoleh ke Rivan dengan tatapan tajam.

“Ah! Lanjutin aja deh!”

Akhirnya, Yona dan Naomi berdebat dengan pembicaraan yang tidak jelas. Sedangkan Rivan memilih menjauh dan menunggu perdebatan selesai.

“Hmm? Itu cewek… kayaknya kenal,” ucap Rivan sambil memandang 2 perempuan yang sedang mengobrol tidak jauh dari Rivan berada.

Rivan masih menatap kedua perempuan tersebut. Sampai, perempuan yang berpipi tembem terlihat sedang berpamitan kepada temannya kemudian dia meninggalkan temannya itu.

Saat sedang berjalan, perempuan berpipi tembem itu berhenti saat melihat Rivan. Rivan pun ikut melihat perempuan itu. Tak lama kemudian, dia berlari menuju Rivan.

“AAAAAAAA! RIVAAAAAN!” teriak perempuan itu menuju Rivan sambil merentangkan kedua tangannya.

Rivan yang tidak bisa menghindar langsung mendapat pelukan dari perempuan berpipi tembem itu. Antara senang atau kaget, yang penting dia menikmatinya.

“Iiih! Kangen tau!” ujar perempuan itu.

“Err… Sinka ya?”

“Wih! Masih inget ya!” balasnya dengan nada lucu.

“Hehe,” Rivan cengengesan mendapat jawaban lucu itu.

“RIVAN!”

Teriakan kedua perempuan membuat seseorang yang dipanggil “Sinka” dan Rivan menoleh.

Sedangkan, kedua perempuan itu yang tak lain adalah Yona dan Naomi mulai mendekat ke arah Rivan dan Sinka.

“Kamu ngapain peluk-pelukan!?” ujar Yona sambil menarik Rivan lepas dari pelukan Sinka.

“Kamu juga Dut! Ngapain meluk-meluk!?” Naomi juga menarik Dudut untuk melepaskan pelukannya.

“Ih! Ci Omi mah!” ucap Dudut ngambek. “Eh ada kak Viona juga!” Dudut pun tersenyum melihat Yona.

“Eh! Ada Sinka!” Yona membalas senyumnya.

“Cih! Udah Dut! Kita pulang!” ucap Naomi sambil menarik Dudut atau Sinka itu.

“Eeeeh! Ci Omi!” keluh Sinka.

Yona dan Rivan hanya bisa melihat Sinka dan Naomi yang mulai pergi menjauh.

“Jadi… pulang kak?” tanya Rivan.

Yona tak menjawab. Dia mendengus kesal dan mulai berjalan. Rivan pun mengikutinya dari belakang.

Cewek ngambek ya gitu.

====|Cherry Blossoms|====

            Duduk di teras rumah, sambil mendengarkan lantunan musik yang indah. Menatap langit malam yang mulai dihiasi oleh titik-titik cahaya yang menyebar dan ditemani oleh secangkir teh hangat yang baru saja dibuat.

Indah bukan?

Tidak bagi Rivan.

Rivan berada di kamarnya. Dia sedang menyiapkan barang-barang untuk keperluan MOSnya.

“Ini..Itu..Udah,” ujarnya sambil memasukan barang-barang ke dalam tas.

“Sekarang, bujuk kak Yona,” Rivan beranjak dari duduknya lalu menuju Yona yang berada di teras rumah.

Rivan sampai di teras rumah. Disana, terlihat Yona sedang melakukan aktivitas menatap langit malam yang dijelaskan diatas.

“Kak,” panggil Rivan.

“Hmm,” Yona berdehem pelan.

“Ngegalau mulu,” Rivan duduk di kursi samping Yona. “Cepet tua loh.”

“Apa hubungannya emang?”

“Hubungin aja. Siapa tau ada hubungannya,” canda Rivan.

“Gak jelas.”

“Hehe.”

Susana pun menjadi hening. Yona masih memandang langit, sedangkan Rivan sedang mencari topik pembicaraan.

“Kak.”

“Hmm.”

“Itu sekolah swasta atau negri sih?”

“Negri berbasis swasta.”

“Oh.”

Hening kembali. Rivan menjadi semakin kebingungan. Walau dia tau sebenarnya Yona sedang ngambek tapi tetap susah untuk membujuknya.

“Kak.”

“Hmm.”

“Mie kuah atau mie goreng?”

“Pizza.”

“Oh.”

Pembicaraan pun makin tak jelas. Rivan tampak frustasi, sedangkan Yona masih terdiam menatap langit malam.

“Kak, ngambek ya?”

“Ngambek kenapa?”

“Itu, cemburu liat gua dipeluk kan?”

Yona langsung beranjak dari tempat duduknya. “K-kenapa cemburu!? Emang kamu siapa?”

“Yeh, santai aja kali,” balas Rivan. “Nih kak, gua punya cerita.”

Yona langsung duduk kembali untuk mendengar cerita Rivan.

“Dahulu, hidup 2 ekor kucing. Mereka hidup dengan damai,” Rivan menyenderkan punggungnya. “Suatu hari, salah satu kucing itu kesal dengan kucing yang satu lagi. Akhirnya dia pun pergi jauh.”

Yona masih fokus mendengar cerita Rivan.

“1 tahun mereka berpisah. Kucing yang pergi akhirnya kangen dan ingin menemui kucing yang satu lagi. Tetapi, dia tak menemukannya.”

“Terus?”

Rivan mengehela nafasnya kasar. “Akhirnya kucing itu cari kucing lain.”

Yona menatap Rivan kebingungan. “Udah?”

“Udah,” balas Rivan santai.

“Dih. Gak jelas,” Yona langsung menatap kedepan. “Ayah sama anak gak beda jauh,” Yona tersenyum.

Rivan hanya terkekeh. “Keturunan gitu.”

“Yaudah, cepet tidur. Besok kan masih MOS.”

“Iye-iye,” Rivan pun beranjak dari duduknya. “Met bobo ya kak.”

“Iye. Met-met selamet.”

Rivan pun langsung berjalan menuju kamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur. Mengingat betapa mudahnya ia meluluhkan hati Yona.

Terkadang memang ada perempuan yang hatinya mudah luluh.

-o0o-

“Yak! Kita sudahi pelajaran kali ini! Bubar, Jalan!”

Setelah mendapat perintah untuk bubar, seluruh siswa dan siswi kelas 10 pun membubarkan dirinya dari barisan.

“Huft, capek juga ya,” Seorang lelaki duduk di kursi taman. “Ya gak, Jon?”

“Nama gua Rivan!” koreksi Rivan.

“Iye-iye, Rivan.”

Rivan memincingkan matanya ke arah lelaki itu. “Lu ngapain deket-deket gua sih?”

“Lu sendiri yang nyapa gua duluan,” balasnya santai.

“Iya sih. Kok saya menyesal ya,” ucap Rivan sambil menepuk jidat, sedangkan lelaki itu hanya terkekeh.

“Yak! Semuanya! Tolong baris lagi!” Teriak sang ketua OSIS.

“Baru aje istirahat,” keluh Rivan sambil beranjak dari tempat duduknya disusul oleh lelaki yang ada disebelahnya.

Setelah semua siswa dan siswi sudah rapih dengan barisannya, sang ketua OSIS pun membuka suaranya.

“Jadi, setelah tadi kalian belajar baris-berbaris, pada sesi terakhir MOS ini, kita akan bermain drama!”

Semua siswa dan siswi pun terkejut, begitu juga dengan Rivan yang tidak suka dengan drama apapun itu.

“Jadi drama ini bakal berkelompok ya,” sang ketua OSIS pun mengambil selembar kertas dari sakunya. “Akan kakak bacakan anggotanya. Nanti kumpul setiap kelompok diarahkan sama kakak yang lain.”

Semua siswa dan siswi pun manggut-manggut mendengar penjelasannya. Mereka semua mendengar dengan seksama nama-nama anggota kelompok itu.

Sudah beberapa menit semenjak di umumkan nama anggota-anggota kelompok, tapi Rivan masih saja belum terpanggil. Bahkan, teman pertamanya, Heza, sudah dipanggil di awal-awal.

Dan pada akhirnya, nama Rivan dipanggil pada kelompok terakhir. Dia tidak mendengar nama lain selain namanya karena menurutnya tidak penting.

“Eh?” ucap Rivan saat sampai ketempat kelompoknya berkumpul.

“Waah! Ada Rivan!”

“Eh, ada Sinka,” ucap Rivan.

“Siapa Sin?” tanya seseorang perempuan disebelah Sinka.

“Eh iya. Kenalin nih, Rivan sepupu aku,” ujar Sinka.

Perempuan itu memandangi Rivan dengan serius. “Kamu… yang di taman itu ya?” tanya perempuan itu.

“Taman? Oh, berarti lu-“

“Iya! Aku Shani!” ucapnya semangat.

“Err… ya gua tau kok. Gua-“

“Kamu Rivan kan!? Wah! Kebetulan banget!”

“I-Iya,” jawab Rivan sambil mengelus lehernya.

“Wih! Udah pada kenal nih!” ujar Sinka sambil memandangi mereka berdua.

“Iya nih! Takdir kali,” jawab Shani.

Sinka dan Shani terkekeh sedangkan Rivan memandang anggota lainnya yang terdiri dari 3 perempuan dan 1 laki-laki.

“Seperti yang lu pada denger, gua Rivan, ini Shani dan ini Sinka,” ucapnya sambil menunjuk Shani dan Sinka.

“Ah iya, aku Nadila,” ucap seorang perempuan berkacamata.

“Aku Ayana!”

“Vienny.”

“Rey.”

Suasana pun menjadi canggung.

“Ya jadi, soal dramanya-“

“YAK! WAKTUNYA 1 MENIT LAGI!” teriak senior perempuan di depan lapangan.

“SERIUS LU?” batin Rivan.

“Oke-oke, jadi ceritanya-“

“Cinderella aja!” usul Sinka.

“Jangan! Gua gak-“

“30 DETIK!”

“OKE! CINDERELLA AJA!” teriak Rivan panik. “Yang jadi narator siapa?”

“Kak Vienny aja!” usul Ayana.

“Bentar, kita tuh-“

“10 DETIK!”

“OKE YANG NAMANYA KAK VIENNY JADI NARATOR!”

“Hmmm,” Vienny hanya berdehem.

“Oke! Tiap kelompok harap kumpul di lapangan ya! Duduk boleh kok!”

Seluruh siswa dan siswi pun mengikuti suruhan dari kakak senior mereka dan mereka diberikan waktu untuk tampil maksimal 10 menit.

Selama pementasan, banyak kelompok yang mementaskan drama mereka dengan bagus walau dengan persiapan yang kurang walaupun ada juga beberapa yang gak jelas.

“Baiklah! Sekarang waktunya untuk kelompok yang terakhir!”

Kelompok terakhir atau kelompok yang salah satu anggotanya adalah Rivan mulai berjalan ke depan untuk mementaskan dramanya.

Vienny pun yang ditunjuk sebagain narator sudah bersiap sedangkan yang lain malah kebingungan untuk memerankan perannya.

Rivan akan menjadi pangeran, Nadila akan menjadi Cinderella, Shani menjadi ibu tiri dan Ayana menjadi saudara tiri. Sisanya, akan improvisasi.

Drama mode : On

“Suatu hari, hiduplah seorang Cinderella yang hidup bersama saudara tirinya dan ibu tirinya yang sangat kejam. Ia selalu menyiksa Cinderella setiap hari,” ucap sang narator sambil memberi kode ke teman-temannya.

“T-tidak! K-kenapa aku selalu disiksa!?” teriak Nadila dramatis.

            “Wih! Improvisasinya keren juga,” batin Rivan.

            “Hei kamu Cinderella! Kenapa kamu tidak bekerja? Dasar pemalas!” hardik Ayana sambil menampar Nadila.

Plaak!

Semua penonton bahkan Rivan dan teman-temannya terkejut kalau Ayana menampar Nadila dengan kencang. Sedangkan Nadila hanya bisa mengelus pipinya antara beneran kesakitan atau akting.

“Emm, Ayana, kayaknya kelebihan deh,” bisik Shani pelan.

“Eh? Duh, khilaf saya.”

“CINDERELLA! KAMU GAK BAKAL DIKASIH UANG JAJAN!” Teriak Shani.

“Tidaaaak! Mamah! Jangan begitu!” pinta Nadila memelas.

“Lah!? Uang jajan apaan!?”

“Tiba-tiba, datanglah seorang pangeran yang tidak begitu tampan tapi kaya mengunjungi mereka berdua,” ucap sang narator sambil memandang Rivan.

            “Ehem, wahai sang permaisuri. Aku adalah-“

“Aaaaa! Pangeraaaan!” teriak Ayana dan Shani gembira.

“I-iya, aku adalah sang pangeran!” ucap Rivan gagah.

“Tiba-tiba lagi, munculah seorang lelaki misterius datang untuk membunuh pangeran.”

“AKU LAH LUCIFER! SANG DEWA KEMATIAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU PANGERAN!” teriak Rey.

“LAH? KOK GINI SIH!?”

            “Aaaaa! Pangeran, aku takut!” Shani dan Ayana bersembunyi dibalik Rivan.

“TERIMALAH INI! KAMEHAMEHA!” teriak Rey sambil menirukan kamehameha Goku.

“KOK KAMEHAMEHA!?”

            “Pangeraaaan!” Nadila berlari kedepan Rivan seolah melindunginya dari serangan Rey.

“Aaaah!” Nadila jatuh dan langsung dipapah oleh Rivan. “Pangeran, hiduplah dengan bahagia,” ucap Nadila yang seketika matanya tertutup. Sedangkan Rivan menangis sedih menatap Nadila yang tergeletak lemah.

“KENAPA LU MAU IKUT IKUT KAYAK GINIAN SIH!?”

            “Dari arah selatan, munculah seorang penyihir yang bertujuan untuk mengalahkan sang dewa kematian.”

“Haaah! Aku adalah penyihir es! Namaku Elsa!” ucap Sinka mantap.

“ELSA SIAPA!?”

            “Sial! Elsa!”

“Mati kamu dasar dewa kematian! Hyaaah!” Sinka mengayunkan tangannya ke hadapan Rey.

“Tidaaak! Aku matiiii!” teriak Rey histeris.

Sedangkan Rivan masih tertunduk sedih memikirkan drama ini sambil menahan tubuh Nadila.

“Kalian juga! Dasar ikan teri! Hyaaah!” Sinka mengayunkan tangannya ke arah Shani dan Ayana.

“Aaaaa! Aku matiiiii!” teriak Shani dan Ayana.

“Astaghfirullah.”

            “Setelah kematian dewa kematian, saudara dan ibu tiri, Elsa mengajak sang pangeran untuk pergi.”

            “Hei,” Sinka menepuk pundak Rivan dan membuat Rivan melihat Sinka. “Tinggalkan dia! Ayo ikut bersamaku!”

Rivan yang tak mau harus mengikuti skenarionya mengangguk terpaksa kemudian berjalan disamping Sinka yang gembira sedangkan dengan Rivan dengan wajah sedihnya.

“Dan akhirnya mereka berdua hidup bahagia selamanya.”

-Fin-

            Drama mode : Off

-o0o-

“Rivan.”

“Hmm? Shani?” Rivan menoleh ke sumber suara.

“Hehe, ngapain sendirian?” Shani duduk disebelah Rivan.

“Menenangkan diri sambil nunggu kakak gua,” balas Rivan lemah.

“Oh. Ngomong-ngomong, tadi dramanya seru ya. Sampe menang juara favorit segala,” ucap Shani memandang Rivan.

“Gak tau gua apa yang dipikirin kakak seniornya sampe menang juara favorit.”

“Kamu harusnya bersyukur dong!” Shani mengerucutkan bibirnya. “Kamu dijemput kakak kamu?”

“Iya, kalo lu?”

“Aku dijemput papah,” balas Shani tersenyum.

“Oh gitu,” Rivan melanjutkan memandang langit yang sedari tadi ia lakukan.

“Baru kali ini, aku seneng karena punya banyak temen,” ucap Shani pelan.

Rivan menoleh bingung ke Shani yang tersenyum sambi memeluk lututnya.

“Eh! Itu papah aku!” Shani bangkit dari duduknya. “Aku duluan ya, Rivan!” Shani melambaikan tangannya ke Rivan kemudian berlari.

“Iye! Hati-hati!” teriak Rivan.

Rivan pun kembali memandangi langit biru sambil memikirkan sesuatu.

“Baru kali ini juga, ada orang sok akrab banget ama gua.”

====|Cherry Blossoms|====

Di bawah langit yang cerah, dengan angin sepoi paginya, sebuah mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolah yang baru terbuka sedikit.

“Inget! Sekolah yang bener!” ucap seorang perempuan dengan tegas.

“Iye. Santai aja kak Yona-ku cantik,” balas lelaki tersebut.

“Yaudah.”

Cup

“Belajar yang rajin ya, Rivan,” ujarnya sambil tersenyum.

Lelaki bernama Rivan itu akhirnya keluar dari mobil tersebut sambil memegang pipi kanannya yang baru saja dicium oleh Yona.

“2 kali kejadian nih,” ucapnya sambil mengelus pipi.

Dilihatnya jam tangan miliknya. Jam 6:00. Memang sengaja Rivan datang pagi hanya sekedar untuk mengecek di kelas mana dia akan ditempatkan.

Dia menyusuri koridor sekolah yang sepi karena sepertinya baru dia saja yang datang ke sekolah. Dia berjalan dengan tenang dan pelan sambil memerhatikan keadaan sekolah yang cukup besar itu.

15 menit berlalu. Satu per satu dia mengecek nama yang tertera di pintu kelas tetapi dia sekali tidak menemukan namanya.

“Yang terakhir ini,” ucapnya berdiri di depan kelas yang baru saja dia datangi.

Dia membaca kertas yang ditempel di depan pintu dan dia mendapatkan namanya. Tanpa basa-basi dia langsung memasuki kelas tersebut.

Kreeek

            Terlihat seorang perempuan cantik dengan geraian rambut yang panjang sedang membaca sebuah buku agak tebal di depan kelas.

Ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga lalu menoleh ke arah pintu kelas yang baru saja dibuka.

“Hmm? Rivan?”

“Shani?”

Mata mereka saling bertatapan. Sebuah senyum pun terlihat di mulut perempuan itu.

“Kamu di kelas ini juga?” tanya Shani.

“Emangnya lu gak liat di daftar?”

“Aku liat namaku doang,” ucapnya sambil terkekeh. “Duduk sebelah aku aja ya,” pintanya.

“Errr…gak usah. Gua mau di-“

“Iiiih! Disini aja!” ujarnya sambil menunjuk kursi sebelahnya yang kosong.

“Yaudah deh,” Rivan berjalan menuju kursi tersebut.

“Kok dateng pagi?” tanya Shani.

“Mau ngecek kelas,” Rivan duduk di kursi sebelah Shani. “Kalo kesiangan nanti rame.”

“Wih! Sama dong!” ujarnya semangat.

“Yaudah, gua mau tidur dulu. Nanti bangunin kalau udah masuk pelajaran,” Rivan menaruh kedua tangannya diatas meja lalu menidurkan kepalanya.

“Lah Van? Eh!?”

Belum sempat Shani membangunkan Rivan, dia sudah tidur dengan nyenyak.

“Kebo banget sih,” dengus Shani kesal. “Tapi dia lucu kalau tidur gini.”

Akhirnya Shani melanjutkan aktivitas membaca bukunya sedangkan Rivan sudah masuk ke alam mimpinya.

-o0o-

            “Van, Rivan! Bangung!” ucap Shani sambil menggoyangkan badan Rivan.

“Heh? Udah mulai?” balasnya sambil mengucek matanya.

“Udah! Tuh gurunya didepan!”

Rivan membetulkan posisi duduknya dan juga membetulkan mukanya agar terlihat lebih ganteng(?).

“Perkenalkan, nama saya Dea. Panggil saja bu Dea,” ujar guru tersebut.

“Ya bu!”

“Saya sebagai wali kelas X-E dan juga guru kimia kalian,” bu Dea duduk di kursi depan. “Ibu akan absen nama kalian, nanti angkat tangan yang namanya dipanggil.”

“Siap bu!”

Bu Dea pun mengabsen nama-nama murid yang berada di kelas tersebut. Semua murid mengangkat tangannya ketika nama mereka dipanggil.

Rivan yang masih setengah sadar, hanya bisa mendengar namanya sedangkan nama yang lain dia tidak dengar.

“Masuk semua ternyata. Bagus-bagus,” Bu Dea memanggut-manggut. “Baiklah, kita mulai pelajarannya.”

Bu Dea berjalan ke papan tulis dan mulai menerangkan pelajaran kimia. Dengan perlahan dia menjelaskan dasar-dasar dan materi tentang pelajaran itu.

Rivan, walaupun mengantuk tapi dia masih bisa menangkap pelajaran ini dengan jelas. Shani juga terlihat serius memerhatikan pelajaran. Sedangkan anak yang berada di barisan belakang malah tertidur.

“KALIAN YANG DIBELAKANG! JANGAN TIDUR ATAU LARI DI LAPANGAN 100 KALI?” teriak bu Dea.

“Eit copot!” para murid yang tadinya tertidur menjadi sadar karena teriakkan bu Dea. “Maap bu!”

Bu Dea menatap sinis murid-muridnya. “Kalau kalian gak niat belajar, mending keluar aja sana. Tapi jangan harap nilai kimia kamu terisi.”

Murid-murid pun meneguk ludahnya ketakutan.

“Serem ini guru.”

Bel istirahat pun mulai bergema di area sekolah. Menandakan sebuah kehancuran atau lebih tepatnya keramaian di kantin. Tidak berbeda dari sekolah lain, ketika isitirahat kantin sekolah ini juga ramai dipenuhi murid-murid.

“Rivan, kamu gak ke kantin?” tanya Shani yang sudah berdiri di depannya.

“Gak. Gua mau di kelas aja,” balasnya datar.

“Yaudah, aku ke kantin dulu,” ujarnya sambil berlari keluar kelas.

Setelah kepergian Shani, Rivan sekarang malah kebingungan untuk berbuat apa di kelas yang sepi ini. Dia mengedarkan pandangan ke seisi kelas dan terlihat seorang perempuan berkacamata bulat sedang membaca buku.

“Hobi cewek disini baca buku semua ya?”

            5 menit berlalu, Rivan menatap papan tulis yang berisi coretan-coretan yang dibuat oleh guru kimianya tadi. Dari arah pintu kelas, terlihat Shani datang tanpa membawa apapun.

“Udah?” tanya Rivan.

“Apanya?” balas Shani kebingungan.

“Katanya mau jajan? Apa tadi makan disana?”

“Oh iya!” Shani menepuk jidatnya. “Lupa, hehe,” Shani tertawa kecil sambil menjulurkan lidahnya sedikit.

“Aku ke kantin dulu ya!” ujarnya sambil meninggalkan kelas.

“Terus tadi ngapain?” gumam Rivan pelan.

Rivan menggelengkan kepalanya kemudian dia mengeluarkan handphonenya yang berada di saku celananya. Tak sampai semenit, Shani kembali dengan nafas yang tidak teratur.

“Kenapa lagi?” tanya Rivan.

“Kenapa ya?” tanya Shani balik.

“Tadi katanya mau ja-“

“Oh iya!” ia kembali menepuk jidatnya. “Kan mau jajan ya!” Shani pun langsung berlari keluar kelas dengan terburu-buru.

“Aneh,” ucap Rivan sambil menyalakan handphonenya.

Pintu kelas pun kembali terbuka. Dan orang itu yang tak lain lagi adalah Shani.

“Kenapa lagi!?”

“Dompet aku ketinggalan!” ucapnya sambil ngos-ngosan.

Rivan pun menepuk jidatnya dengan perasaan sangat kesal. Shani berjalan pelan menuju tasnya lalu mengambil dompetnya.

“A-aku…Ke kantin dulu!” ucapnya dengan nafasnya yang masih tak teratur.

Rivan tidak membalasnya. Dia bermain handphonenya yang tadi baru ia nyalakan. Lagi-lagi, pintu kelas terbuka tapi bukan Shani yang muncul, melainkan seorang laki-laki.

“Lu!” ucap laki-laki itu menunjuk ke Rivan.

Rivan pun menoleh ke arahnya. “Heza?”

“WAAA! SAMSON!” ujarnya bahagia.

“NAMA GUA RIVAN WOI!” teriak Rivan sambil menggrebak mejanya.

Sedangkan perempuan yang sedari tadi membaca buku di kursi tengah masih fokus membaca walaupun dari tadi ada kejadian kejadian aneh.

“Cowok sekarang aneh-aneh ya.”

o0o

            “Yak! Kalian semua! Perkenalkan nama saya Restu. Saya akan menjadi guru olahraga kalian,” ucapnya sambil men-dribble bola basket yang dia pegang. “Singkat aja, sekarang kita akan belajar permainan bola besar.”

“Apanya yang besar pak?” celetuk salah satu murid laki-laki.

“Ya, bolanya!” balasnya dengan nada yang ditekankan.

“Wuuu! Mesum!” teriak murid perempuan.

“Namanya cowok! Wuuu!” balas murid laki-laki.

“Sudah-sudah! Sekarang kalian pemanasan saja!” perintah pak Restu.

Setelah itu, semua murid kelas X-E melakukan pemanasan dibawah terik matahari. Ada yang melakukan pemanasan berpasangan ada juga yang sendiri(juombloo).

“Sekarang, kalian satu-satu coba teknik dribble. Bapak yakin kalian semua tahu dasarnya.”

Semua murid pun mengambil bola basket yang sudah disediakan di lapangan. Tak terkecuali Rivan. Ia dengan malasnya mengambil bola yang berada di pinggir lapangan.

“Bisa basket gak lu, Van?” tanya seseorang disamping Rivan.

“Hmm? Dikit sih,” balasnya malas.

“Nanti kita satu lawan satu dah!”

“Males gue Za,” Rivan mulai mendribble bola basket itu. “Nanti gua menang trus lu nangis gimana?”

“Kipak!” ejek Heza.

“Bodo!”

Semua murid pun mulai men-dribble bola basket yang sudah dipegangnya. Ada yang lancar ada juga yang bingung bagaimana caranya.

“Sekarang coba kalian dribble sambil lari lalu shoot!”

“Waduh pak! Kita kan belum diajarin apa-apa,” ujar salah satu murid perempuan.

“Justru itu!” pak Restu menatap langit biru. “Bapak ingin melihat kemampuan kalian sebelum bapak latih,” ucapnya dengan nada dramatis.

“Gak usah lebay pak!”

“Yaudah! Sana coba!”

Satu-satu murid kelas X-E mencoba apa yang diperintahkan pak Restu yaitu dribble sambil lari lalu shoot ke ring. Banyak dari mereka yang ternyata tidak bisa bermain basket dengan benar sampai ada yang malah menendang bola basketnya.

“Nih giliran gue,” ucap Heza sambil menatap Rivan. “Liat ye.”

Mula-mula ia men-dribble bola basket kemudian berlari dengan cepat dengan tangannya masih men-dribble bola itu. Kemudian dia men-shoot bola itu, dan..

Masuk.

“Wuih! Heza keren banget!”

“Ganteng banget iiih!”

“Kakoi! Sugoi! Ikeh-ikeh kimochi!”

Heza hanya bisa tersenyum kecil sambil menepuk tangannya.

“Hoki,” ujar Rivan.

“Wits! Santai dong gan. Buktiin aja nanti,” balas Heza.

Rivan pun memulai men-dribble bola basket, kemudian dia berlari lumayan cepat dan kemudian setelah cukup dekat dengan ring dia shoot bola itu.

TENG

            Bola basket tersebut gagal masuk kedalam ring dan malah memantul mengenai pinggiran ring.

“Dikit lagi,” ucapnya datar.

“Hahahaha. Tipis ya,” ujar Heza.

“Huft,” desah Rivan.

Rivan pun memilih untuk duduk di dekat ring sambil meminum air mineral yang sudah ia siapkan. Matanya langsung fokus ke arah perempuan yang sedang men-dribble bola basket.

“Shani,” batin Rivan.

            Perempuan bernama Shani itu kemudian berlari menuju ring. Setelah dekat dia mengambil posisi shoot dan..

Dug

            Dia terpeleset akibat salah posisi dan bola basket tersebut memantul didekatanya. Dengan cepat Rivan mendekati Shani yang terjatuh.

“Shan? Woi!” ucapnya sambil menepuk pipi Shani.

“Pingsan pak!” ucap Rivan ke pak Restu.

“Yaudah, bawa ke UKS,” perintah pak Restu.

Rivan menengok ke kanan dan ke kiri melihat teman-temannya yang terlihat menatap dia. “Saya?”

“Iya!”

“Kok saya?”

“Kamu deket dia.”

“Emang harus gitu ya?”

“Gak usah lama-lama! Cepet bawa!” teriak pak Restu emosi.

“Et..iya-iya pak,” Rivan pun menggendong Shani dengan kedua tangannya.

“Buset, berat juga.”

            Rivan pun berjalan menuju UKS sambil menggendong Shani yang sedang pingsan dengan hati-hati. Setelah sampai didepan UKS dia mencoba mengetuk pintu tersebut.

Tok tok tok

            “Iya? Ada apa?” ucap seseorang sambil membukakan pintu.

“Ini bu. Ada yang pingsan,” balas Rivan sopan.

“Waduh! Pingsan kenapa?” tanya penjaga UKS tersebut.

“Tadi jatoh.”

“Parah gak?”

“Enggak.”

“Udah lama pingsannya?”

“Err…mending dia di baringin dulu deh. Keberatan ini saya bawanya,” keluh Rivan.

“Oh, yaudah-yaudah.,” ucapnya sambil mempersilahkan masuk. “Baringin disitu aja,” penjaga tersebut menunjuk salah satu kasur yang kosong.

Dengan cepat, Rivan membaringkan Shani diatas kasur.

“Akhirnya, tangan gue,” ujarnya sambil merenggangkan tangannya.

“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya penjaga tersebut.

“Rivan.”

“Nah Rivan,” penjaga UKS tersebut menepuk pundak Rivan. “Kamu tolong jagain dia ya.”

“Maksudnya?” tanya Rivan kebingungan.

“Saya ada urusan diluar, penjaga lain pada gak masuk. Nanti saya minta izin ke guru kamu. Mau ya?” pinta penjaga tersebut.

“Err.. Yaudah,” ucapnya terpaksa.

“Gitu dong. Saya mau keluar dulu ya. Kamu jagain dia. Jangan diapa-apain loh! Ada cctv disini!”

“Tenang bu.”

“Yaudah, saya pamit dulu,” ucapnya sambil keluar dari UKS.

Sekarang, hanya Rivan dan Shani yang berada di ruang UKS. Rivan masih merenggangkan tangannya dan Shani terlihat tidur dengan pulas walaupun sedang pingsan.

“Ngerepotin aja sih lu,” ujar Rivan sambil memandang Shani.

-o0o-

                Seorang perempuan yang tertidur dengan nyenyak akhirnya menggeliat dan mencoba membuka kedua matanya dengan sangat berat.  Setelah sadar, dia mencoba duduk di atas tempat tidur tersebut.

“Aww!” keluhnya sambil memegang kepalanya yang masih sakit.

“Shan? Jangan dipaksa dulu,” ucap seorang laki-laki yang duduk disebelah kasurnya.

“Rivan? Ini dimana?” tanyanya kebingungan.

“UKS. Tadi lu pingsan,” jawab Rivan sambil mengambil air di meja. “Nih, minum dulu,” ucapnya menyodorkan segelas air mineral.

“Makasih,” Shani mengambil gelas tersebut dan meminumnya sampai habis. “Aku tidur berapa lama?”

“3 jam lah kira-kira,” Rivan mengambil gelas yang sudah kosong terbsebut dan menaruhnya di meja. “Ini aja udah waktu pulang.”

“Waduh. Ketinggalan banyak pelajaran!”

Rivan mengambil sebuah tas yang berada di bawah kasur tempat Shani tidur tadi. “Nih tas lu. Seragam lu ada didalem.”

“Ah iya, makasih Van,” ujarnya pelan.

“Masih pusing gak? Pulang sama siapa?”

“Udah enggak pusing. Aku pulang sama papah,” jawab Shani.

“Yaudah kalau gitu,” Rivan beranjak dari tempat duduknya. “Gua duluan ya.”

“Ah iya, Van. Makasih lagi ya.”

Rivan keluar dari ruang UKS sedangakn Shani masuk ke toilet untuk mengganti bajunya menjadi seragam sekolah.

Setelah selesai, ia keluar dari ruang UKS dan mendapati Rivan sedang berdiri menyender di tembok.

“Rivan? Gak pulang?” tanya Shani sopan.

“Gua nunggu lu. Takut jatoh lagi,” jawabnya dengan nada bercanda.

“Ish! Tadi kan kepeleset,” Shani menggembungkan pipinya.

“Hahaha. Yaudah gua anterin ampe jemputan lu. Ayok,” ajak Rivan sambil mulai berjalan.

Shani pun mengikuti Rivan dari belakang. Mereka menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Memang sudah waktunya pulang jadi murid yang berada disini tinggal sedikit.

“Disini aja Van,” ucap Shani saat sudah sampai di parkiran sekolah.

“Yakin?”

“Iya. Aku pulang duluan ya,” Shani berjalan meninggalkan Rivan.

“Eeeh!” belum sampai 10 langkah, keseimbangan Shani tidak terkendali dan membuat Shani terjatuh.

Dengan cepat Rivan langsung menahan tubuh Shani yang jatuh kebelakang membuat pandangan mereka bertemu.

“Langitnya indah,” batin Shani.

            “Masih berat,” batin Rivan.

            “Eh, maaf Van,” Shani langsung berdiri. “Aku duluan ya,” Shani kemudian berlari meninggalkan Rivan.

“Jangan jatoh lagi!”

“Enggak!”

“Dasar cewek,” ucap Rivan sambil menggelengkan kepalanya.

Rivan membalikkan badannya kemudian berjalan menuju mobil sedan hitam yang dari tadi sudah diparkir.

“Kak Yona?” ucap Rivan saat melihat Yona keluar dari mobilnya.

“Tadi siapa?” tanya Yona sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Temen,” jawab Rivan jujur.

“Yakin?” matanya menatap tajam Rivan.

“I-iya,” jawabnya gugup.

Kemudian Yona memasuki mobil sedan tersebut dan Rivan pun berniat untuk memasuki mobil itu juga.

“Dikunci?” ucapnya saat ingin membuka pintu mobil tapi tak bisa terbuka.

“Ah, kamu jalan kaki aja ya. Kakak ada urusan,” ucap Yona seraya membuka jendela mobil.

“Lah, kok-“

Belum sempat Rivan menyelesaikan ucapannya, mobil sedan tersebut sudah berjalan pergi meninggalkan Rivan yang masih di parkiran sekolah.

“Yailah,” gumam Rivan. “Dasar cewek.”

====|Cherry Blossoms|====

            Kriiiiiinggg….

Bel istirahat kembali bergema di area sekolah yang menandakan saatnya untuk isitirahat. Suasana di kantin pun menjadi ramai, berbeda dengan kelas yang ditempati Rivan.

Para murid di kelasnya kebanyakan sudah hijrah ke kantin atau tempat nongkrong yang biasa mereka tempati. Tetapi tidak dengan Rivan, ia masih sibuk memainkan handphonenya.

“Rivan, gak jajan?” tanya perempuan disebelahnya.

“Gak deh Shan. Duluan aja,” Rivan menoleh ke arah perempuan itu.

“Yaudah deh,” perempuan itu beranjak dari duduknya kemudia pergi keluar kelas.

Perempuan itu menyusuri koridor sekolah. Dengan perasaan senangnya ia sampai berjalan dengan sedikit melompat sehingga membuat keseimbangannya hilang.

“Kyaaaa!”

“Hup!”

Tanpa ia sadari ternyata Rivan menahan tubuh perempuan itu agar tidak jatuh ke lantai.

“E-eh? Rivan?” perempuan itu kembali berdiri.

“Shani-Shani,” Rivan menggelengkan kepalanya.

“Kamu ngapain?”

“Nemenin lu ke kantin, ayok,” ajak Rivan yang kemudian berjalan ke kantin.

Shani pun ikut berjalan disamping Rivan dan menyamakan kecepatan jalan kakinya.

“Kamu ngapain ikut aku?” tanya Shani polos.

“Firasat gua kagak enak,” jawabnya datar.

Shani hanya ber Oh-ria dan mereka pun melanjutkan perjalanannya ke kantin. Sesampainya di kantin, Shani langsung berjalan cepat ke salah satu penjual dan Rivan mengikutinya dari belakang.

“Lu mau beli roti?” tanya Rivan.

“Iya. Mbak roti isi coklatnya 2 ya!” jawab Shani seraya memesan roti. “Kamu gak mau coba roti ini juga?”

“Gak. Gua beli minuman aja,” jawabnya sambil mengambil salah satu minuman rasa buah yang tersedia.

“Loh? Loh? Dimana?” ujar Shani kebingungan.

“Kenapa?”

“Dompet aku kayaknya ketinggalan,” Shani tampak lesu.

“Bener kan,” Rivan mengeluarkan dompetnya dari saku celana. “Gua bayarin.”

“Eh? Beneran?”

“Iye,” jawab Rivan. “2 roti sama 1 minum ini totalnya berapa bu?”

“13 ribu aja mas,” jawab penjual itu.

Rivan mengambil selembar uang 10 ribu dan 5 ribu dari dompetnya kemudian memberikannya ke penjual tersebut.

“Nih kembalinya mas, makasih ya,” ucap penjual tersebut.

“Sama-sama bu.”

Rivan dan Shani pun meninggalakan tempat tersebut dan berjalan ke tengah-tengah kantin.

“Makasih ya Van,” ujar Shani pelan.

“Iye,” jawab Rivan sambil menyeruput minumannya. “Mau makan disini apa di kelas?”

“Ehmmm, di kelas aja deh. Disini rame banget.”

“Yaudah.”

Mereka berdua berjalan meninggalka kantin melewati segerombolan murid yang memenuhi kantin.

“Hati-hati,” ujar Rivan.

“Iya,” jawab Shani singkat.

Akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari gerombolan murid kelaparan yang ada di kantin. Saat ingin keluar dari area kantin mereka bertemu dengan seseorang yang sangat dikenal Rivan.

“Yoow! Ada Rivan!” panggil laki-laki itu.

“Lah? Tumben lu jajan Za,” balas Rivan.

“Harusnya gua yang ngomong gitu,” balas Heza sedikit menyindir. “Ini Shani ya kan?” tanya Heza sambil menunjuk Shani.

“Iya,” jawab Shani pelan sambil menunduk.

“Lucu juga lu Shan,” Heza memukul bahu Rivan.

“Kok gua yang dipukul?” tanya Rivan sewot. “Lah, Shan. Roti lu 1 lagi mana?” tanya Rivan melihat Shani hanya memegang 1 roti.

“Eh? Mana ya?” Shani tampak kebingungan melihat roti yang dipegangnya tinggal sebuah. “Kayaknya tadi jatoh pas lewatin orang banyak itu deh.”

“Duh,” Rivan menggelengkan kepalanya.

“Hahahahaha. Ceroboh banget lu,” Heza mengambil sebuah roti dari kantong kresek yang ia pegang. “Nih buat lu aja. Tadi gua kebanyakan beli.”

“Eh? Serius ini?” tanya Shani tak percaya.

“Iye, santai aja kali. Gua juga udah kenyang. Nih,” Heza menyodorkan roti tersebut ke Shani.

“Makasih ya,”  Shani mengambil roti tersebut.

“Lu balik ke kelas apa mau ke kantin lagi Za?” tanya Rivan.

“Balik ke kelas lah. Tadi kan gua bilang udah kenyang. Yuk,” ajak Heza.

Mereka bertiga berjalan menuju kelas dengan Shani yang berjalan menunduk karena merasa bersalah atas kejadian tadi.

-o0o-

            “Karena waktunya sudah habis, kita akhiri pelajaran ini,” ucap seorang guru membereskan bukunya. “Jangan lupa tugas kelompoknya besok dikumpulkan.”

“Ya bu!”

“Saya permisi dulu,” guru tersebut pun meninggalkan kelas.

Karena pelajaran sudah berakhir bertepatan dengan jam pulang sekolah, seluruh siswa pun membereskan baranganya dan bergegas untuk pulang ke rumah.

Rivan yang sudah siap pulang, berjalan ke depan kelas dan melihat ke papan tulis yang berisikan daftar nama kelompok.

“Heza, Nadila, Gua dan Shani,” gumam Rivan pelan.

“Weei! Kita satu kelompok!” teriak Heza sambil merangkul Rivan. “Nanti lu bisa kerjain gak? Besok kan dikumpulinnya?”

“Iye, bisa kalo gua mah. Kalo lu?” Rivan menanya balik.

“Gua juga bisa kok. Lu bisa gak Shan?” tanya Heza ke perempuan disebelah Rivan.

“Aku hari ini gak ada acara sih, jadi bisa,” jawab Shani tersenyum.

“Hebat-hebat! Berarti tinggal Nadila…nah itu orangnya! Nadila!” panggil Heza setengah beteriak.

Perempuan yang dipanggil Nadila menoleh kearahnya sambil tersenyum. “Ya, kenapa?”

“Nanti lu bisa kerjain tugas bareng kan?”

“Bisa kok,” Nadila mengangguk. “Emang mau kerjain dimana?”

“Di rumah gua aja. Mumpung keluarga gua lagi pergi!” ujar Heza semangat.

“Emangnya rumah lu dimana Za?” Rivan ikut nimbrung.

“Gak jauh kok dari sini. Nanti bareng aja langsung.”

“Gak bisa gua. Harus pulang dulu,” balas Rivan.

“Cemen lu ah! Yang lain gimana?” tanya Heza.

“Aku juga harus pulang,” jawab Shani.

“Sama, nanti aku dimarahin mama kalau langsung,” lanjut Nadila.

“Yah,” ucap Heza kecewa. “Yaudah lah. Nanti gua kirim alamatnya lewat Line.”

Mereka bertiga mengangguk setuju atas usulan Heza.

“Yaudah, nanti jam 4 gua tunggu dirumah gua,” ujar Heza. “Gua duluan ye.”

“Hati-hati Za!” teriak Shani.

“Shan, lu pulang sama ayah lu?” tanya Rivan.

“Hmm? Iya, kenapa emang?” Shani bertanya balik.

“Gak kenapa napa. Yaudah ayok balik, Nad, Shan,” Ajak Rivan.

Mereka berdua mengangguk setuju dan berjalan keluar kelas.

-o0o-

 Rivan : Za, gua udah didepan rumah lu.

Setelah mengirim pesan tersebut, Rivan langsung memasukan kembali handphonenya ke saku celana. Dia menunggu sambil mengetukkan jok motor yang ia gunakan untuk sampai ke tempat ini.

“Yooow! Udah lama nunggu?” panggil seseorang dari balik pintu.

“Lama banget. Ampe lumutan gua.”

“Lebay dah,” lelaki itu membukakan pagar rumahnya. “Motornya masukin kedalam aja.”

Rivan kemudian memasukan motornya kedalam halaman rumah lelaki tersebut dengan menuntunnya.

“Lu sendiri di rumah Za?” tanya Rivan sambil menstandard-kan motornya.

“Ada Bi Inah sih. Kalo keluarga pergi, trus kakak gua tau kemana,” jawabnya sambil memainkan handphonenya. “Masuk dah, sambil nunggu yang laen.”

Rivan mengangguk setuju, kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah tersebut. Interior rumah tersebut sangat klasik dilihat dari arsitekturnya hingga dekorasinya.

“Bi! Buatin minuman dong, nanti taruh di kamar aku ya,” pinta Heza kepada wanita paruh baya yang sedang mencuci piring di dapur.

“Iya den! Nanti Bi Inah anterin,” balas wanita tersebut.

Mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke kamar sang tuan rumah. Kamarnya berada di lantai 2 yang mengharuskan menaiki beberapa anak tangga agar sampai tujuan.

“Bentar-bentar,” ucap Rivan saat didepan pintu kamar Heza.

“Kenape?”

“Persiapan mental,” Rivan mengelus dadanya sambil menarik nafas panjang. “Oke, lanjutkan,” ucapnya mantap.

Heza nampak bingung melihat Rivan, kemudian ia memegang engsel pintu dan membuka pintu tersebut dengan perlahan.

Perlahan, sebuah pemandangan kamar yang biasa tercipta di kedua mata Rivan. Seketika ia langsung kaget melihat pemandangan yang biasa itu.

“Kenapa sih lu?” tanya Heza kebingungan.

“Kok kamar lu biasa aja?”

“Biasa gimana?”

“Ya, biasa.”

“Emang harus gak biasa?”

“Kan lu otaku akut.”

Heza tertawa mendengar ucapan Rivan. Kemudian ia memasuki kamarnya diikuti Rivan dari belakangnya.

“Gua sembunyiin lah,” ucapnya dengan bangga. “Gimana? Gak keliatan kan?”

“Wih, iya sih,” Rivan memandangi seisi kamar Heza.

“Yaudah lu duduk disitu dulu, gua kebawah dulu mau nyiapin sesuatu,” ucap Heza sambil berjalan keluar kamar.

Rivan pun duduk didekat meja yang sudah sediakan diatas lantai yang dilapisi karpet berbulu putih. 2 menit berlalu, terdengar suara kendaraan berhenti didepan rumah.

“Udah pada dateng kali,” batin Rivan.

Selagi menunggu teman-temannya datang, Rivan celingak-celinguk ke sekeliling kamar Heza. Dia berniat iseng untuk mencari sebuah barang-barang ‘otaku’ milik Heza di kamarnya.

“Waaah, ketemu juga,” ucap Rivan saat menemukan barang ‘otaku’ di bawah kasurnya.

Rivan memandangi barang ‘otaku’ milik Heza tersebut. Terlihat gambar seorang perempuan berambut putih sedang memegang bantal miliknya.

“Hoi, Van. Udah pada dateng nih,” ucap Heza saat membuka pintu kamarnya.

“Kebetulan Za! Gua nemu barang-“

Ucapan Rivan terhenti saat mengangkat poster tersebut karena Heza langsung menyekap mulutnya.

“Jangan kasih tau ke Shani ama Nadila,” bisik Heza pelan. “Atau lu bakal habis. ME-NGER-TI?”

“I-iya,” jawab Rivan ketakutan.

“Loh? Kenapa Za?” Shani muncul dari balik pintu.

“E-eh, ga-gak kenapa-napa kok. Udah, duduk dulu,” ucap Heza sambil menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.

“Beneran?” lanjut Nadila yang berada disebelahnya.

“I-iya, duduk aja udah,” ucap Rivan menggantikan Heza.

Mereka berempat pun duduk melingkar didekat meja bundar yang sudah disediakan sebelum mereka datang.

“Langsung mulai aja. Kertasnya yang bawa siapa?” tanya Heza.

“Aku yang bawa,” Nadila mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. “Nih, kerjain masing-masing ya. Kalau ada yang gak ngerti nanya aja.”

Mereka pun mengangguk dan mulai mengerjakan bagian-bagian mereka.

60 menit berlalu, mereka masih berkutat dengan soal-soal yang mereka kerjakan. Lain dengan Shani, yang mungkin terlihat fokus tetapi sebenarnya membaca sebuah buku.

“Shan,” Rivan memanggil Shani. “Ngapain?”

“Baca buku sastra,” jawab Shani polos.

“Soalnya?”

“Udah kok,” Shani menunjukan kertas soalnya.

“Coba aku cek,” Nadila mengambil kertas milik Shani.

Nadila membaca satu per satu soal yang dijawab Shani kemudian dahinya mengkerut.

“Ini, kamu ngasal ya?” tebak Nadila.

“Hehehehehe,” Shani malah terlihat cengengesan.

“Huft, udah jam segini lagi,” Nadila memandang jam tangan miliknya. “Yaudah sini punya kamu, aku kerjain nanti malem. Yang lain udah kan?”

Heza dan Rivan mengangguk kemudian memberikan kertasnya ke Nadila selaku penanggung jawab pr mereka.

“Aku pulang duluan ya, udah dijemput kakak aku,” pamit Nadila kepada yang lain.

“Gua anterin ya,” tawar Heza.

“Ikut dong gua,” Rivan ikut menyambar.

Akhirnya mereka bertiga keluar dari kamar Heza dan pergi ke bawah. Sedangkan Shani memilih untuk berdiam di kamar Heza sambil menopang dagunya di kedua tangannya.

Merasa bosan, ia mencoba melihat sekeliling kamar Heza lagi dan melihat sebuah poster bergambar perempuan kartun sexy tergeletak dibawah meja belajar.

“Ini apaan?” gumamnya saat melihat poster tersebut.

Sedari Shani memerhatikan dengan fokus poster tersebut, Rivan dan Heza kembali ke kamar.

“Eh, Heza. Ini apaan?” tanya Shani sambil menunjukkan poster yang ia pegang ke Heza dan Rivan.

Heza terlihat kaget melihat poster yang ia sembunyikan ditemukan oleh Shani sedangkan Rivan berusaha menahan tawanya.

“JANGAN DILIAT!” teriak Heza mengambil poster tersebut dari tangan Shani.

====|Cherry Blossoms|====

            Suasana pagi yang tenang di sekolah negeri berbasis swasta yang terletak di kota metropolitan ini. Hanya ada beberapa siswa yang sudah hadir di sekolah tersebut, dikarenakan waktu yang masih jauh dari bel masuk.

Sebuah pintu salah satu kelas dibuka oleh seorang perempuan berkacamata bulat dengan mata yang masih sayu.

“Rivan, tumben dateng cepet,” ujarnya saat melihat seorang lelaki duduk di kursi bagian depan.

“Hmm,” lelaki bernama Rivan itu menoleh. “Tadi pagi bangun kepagian, Nad. Daripada gabut mending ke sekolah langsung.

Perempuan yang dipanggil ‘Nad’ itu hanya memanggut-manggut kemudian berjalan menuju tempat duduknya yang berada agak jauh dari tempat duduk Rivan.

“Kertasnya udah?” tanya Rivan sambil mengeluarkan handphonenya.

“Udah,” dia merenggangkan tangannya. “Semalem ngerjain sampai bergadang,” ucapnya lesu.

“Shani ada aja sih.”

“Gak apa-apa kok, Van.”

Rivan hanya berdehem kemudian melanjutkan memainkan handphone miliknya sedangkan perempuan itu menadahkan kepalanya diatas meja.

Tak lama kemudian., datanglah seorang perempuan lagi dari arah pintu dengan semangatnya. Penghuni kelas yang baru saja 2 orang pun menoleh kearahnya.

“Pagi!” ucap perempuan itu.

Mereka berdua hanya berdehem mendengar sapaan pagi dari temannya tersebut. Perempuan yang baru saja datang itu tiba-tiba langsung mendekati seseorang yang matanya terlihat sayu dan kecapekan.

“Nadila,” panggil perempuan itu.

“Ya?” Nadila mengadahkan kepalanya.

“Itu…maafin Shani ya ngerepotin,” lirihnya pelan.

Nadila tersenyum melihat tingkah perempuan itu. “Gak apa-apa Shan. Kita kan temen, harus saling membantu.”

Shani tertular senyum Nadila kemudian berterima kasih dan langsung duduk disebelah Nadila untuk menghilangkan kebosanan. Sedangkan Rivan masih berkutat dengan handphonenya.

-o0o-

2 jam berlalu.

Sudah banyak murid yang datang ke sekolah dan apalagi sudah masuk jam istirahat yang dimana banyak murid menggunakan kesempatan ini untuk membersihkan pikirannya dari pelajaran.

“Mau kemana Van?” tanya Shani yang melihat Rivan berdiri dari tempat duduknya.

“Toilet,” jawabnya singkat.

Dia memanggut-manggut kemudian Rivan berjalan ke arah luar kelas dan menghilang dari pandangan dalam kelas.

“Shan,” panggil seseorang yang menghampiri Shani.

“Eh, Nadila. Duduk-duduk sini,” ucapnya menepuk kursi sebelahnya.

Nadila pun duduk disebelah Shani sambil tersenyum.

“Kamu baca buku apaan sih?” tanya Nadila yang baru saja duduk.

“Ini? Gak tau juga sih,” Shani cengengesan.

“Boleh liat sebentar gak? Penasaran.”

Shani mengangguk dan memberikan buku itu ke Nadila.

“Emmm… Shan, kamu emang ngerti bahasa buku ini?” tanya Nadila seraya membaca salah satu halaman buku itu.

“Hehe, walaupun itu bahasa Indonesia tapi kayaknya otak aku gak sampe,” jawabnya tertawa.

“Aku liat kamu sering banget baca buku ini. Kenapa kamu baca padahal kamu gak ngerti?” Nadila mengembalikan buku itu.

“Soalnya ini penting,” Shani menerima buku itu. “Ini pemberian Oma aku. Dirumah masih ada 5 loh,” ucapnya sambil menunjukan kelima jarinya.

“Oh, gitu toh. Penting banget ya?”

Shani mengangguk mantap. Kemudian mereka mengobrol ringan sambil menunggu jam istirahat selesai.

“Huy, cewek-cewek. Ke kantin gak?” tanya Heza yang sudah didepan mereka berdua.

“Boleh, kapten otaku,” jawab Shani.

“Kapten otaku?” Nadila kebingungan.

“Udah-udah gak usah dibahas apa Shan,” ucap Heza sewot.

“Bercanda,” Shani mengeluarkan sedikit bibirnya. “Yaudah, yuk.”

Mereka bertiga kemudian keluar kelas dan pergi ke kantin. Tak lama kemudian, Rivan datang ke kelas dan melihat ke 3 teman dekatnya menghilang.

“Gua ditinggal?”

-o0o-

Waktu terasa cepat.

Bel pulang sudah berbunyi.

Murid-murid terlihat sedang membereskan barang-barannya dan memasukannya ke dalam tas.

Tak jauh berbeda di kelas X-E, murid-murid kelas tersebut juga sedang membereskan barang-barangnya. Berbeda dari yang lain yang membereskannya dengan tenang, Shani terlihat gelisah saat mengecek barang di tasnya.

“Duh, dimana ya?”

“Kenapa Shan?” tanya Rivan.

“Buku aku hilang,” jawabnya masih fokus mengecek tasnya.

“Buku pelajaran?” Heza muncul dari belakang.

Shani menggeleng.

“Buku sastra tadi?” Nadila ikut bertanya.

“Iyaaaaaa,” ucapnya frustasi. “Dimana ya.”

“Yang lu bawa ke kantin tadi?” tanya Heza bergantian.

“Lah, lu pada ke kantin tadi?” Rivan ikut bertanya.

“Iyaaaaaa!” Shani nampak sangat frustasi. “Padahal itu buku penting banget,” ucapnya sambil terisak.

“Jangan nangis Shan. Mending kita cari ke kantin, siapa tau masih ada,” usul Nadila.

Dengan muka sedihnya Shani mengangguk dan mereka bertiga pergi ke kantin meninggalkan Rivan sendirian di kelas.

“Tadi ke kantin kagak diajak, sekarang juga. Nasib emang,” keluh Rivan.

Rivan pun ikut keluar kelas dan pergi entah kemana.

Langit sudah berwarna oranye yang menandakan sudah sore. Tapi mereka bertiga masih mencari buku milik Shani yang hilang.

“Hiks… Gak ketemu juga,” lirih Shani.

“Jangan nangis Shan,” ucap Nadila menenangkan Shani. “Pasti ketemu kok.”

“Gimana lagi Nad? Kita udah nyari dimana-mana tapi kagak ketemu,” ucap Heza frustasi. “Mana lagi Rivan? Ninggalin kita aja gitu?”

“Gak usah emosi Za,” ujar Nadila.

“Haaaaah,” erang Heza. “Tenang Shan, kita bakal nemuin buku lu.”

Shani mengangguk pelan sambil menangis.

Di arah berlawanan, terlihat seorang lelaki sedang memegang sebuah buku. Saat jaraknya sudah dekat ia angkat buku hijau muda tersebut.

Shani yang melihat buku tersebut, buru-buru langsung berdiri dan berlari mendekati lelaki itu lalu ia mengambil buku itu dan memeluknya dengan erat.

“Huaaaaaaa,” tangisnya sambil memeluk erat buku tersebut.

Nadila dan Heza pun ikut menyusul Shani yang duduk memeluk buku itu.

“Itu bukunya Shan?” tanya Nadila sambil mengelus punggung Shani.

Shani mengangguk pelan dan semakin erat memeluk buku itu.

“Nemu dimana Van?” tanya Heza yang berada didepan lelaki itu.

“Tong sampah belakang,” dia pun mendekati Shani. “Bangun Shan.”

Shani pun beranjak dari duduknya dengan tangannya masih memeluk erat buku kesayangan miliknya.

“Seneng?” tanya Rivan.

Shani mengangguk.

“Lain kali, kalo barang penting dijaga baik-baik! Masa tiba-tiba ada di tong sampah,” ucap Rivan sedikit emosi.

“Rivan! Siapa tau ada yang nemu trus dibuang,” bantah Nadila.

“Tetep aja salah dia kan. Gak jaga barang,” Rivan menunjuk ke Shani.

“Iya…” lirih Shani pelan.

Mereka bertiga sontak menoleh ke arah Shani yang menunduk.

“Iya, aku ceroboh. Aku bodoh. Aku ngerepotin. Aku tau kok,” ucapnya sedikit serak.

“Shani,” panggil Nadila.

“Gak apa-apa kok Nad. Aku emang ngerepotin kan? Dari dulu gitu kok. Bahkan temen-temenku gak mau temenan ama aku,” Shani mulai menangis kembali.

“Iya! Aku ngerepotin kalian semua! Dari bikin kalian capek,malu,pusing! Aku tau!” ucapnya sambil menangis. “Bener kan?”

“Gak gi-“

“Bener,” ujar Rivan.

Heza dan Nadila menoleh ke Rivan dengan tatapan marah sedangkan Rivan memasang muka santainya.

“Lu itu ngerepotin. Sering bikin kita pusing. Terutama gua,” Rivan mendekati Shani yang tampak menangis dengan pelan. “Tapi, masa kita bakal ninggalin lu,” Rivan mengelus pelan kepala Shani.

Mereka bertiga sontak kaget mendengar ucapan Rivan. Begitu juga dengan Rivan. Dia langsung melepaskan tangannnya.

“G-gua mau pulang dulu. Udah sore,” ucapnya gelagapan.

Shani melihat Rivan pergi menjauh dengan tatapan bingung. Sedangkan Nadila dan Heza tersenyum melihat tingkahnya.

“Santai aja Shan. Dia itu peduli ama lu,” ujar Heza.

“Maksudnya?”

“Dia malu-malu tadi. Yah, setidaknya dia ikhlas jadi temen lu,” Heza membenarkan posisi tas yang ia gendong. “Walaupun kita baru ketemu, tapi dia peduli banget ama lu.”

“Dasar cowok,” ejek Nadila.

Shani pun tersenyum mendengar penjelasan Heza. Kemudian ia berterima kasih dan pamit untuk pulang karena ayahnya sudah lama menunggu.

Di parkiran, ia melihat Rivan sedang duduk di motornya seperti sedang menunggu seseorang.

“Rivan,” panggilnya pelan.

Rivan menengok kearahnya.

“Makasih ya. Udah mau repot-repot bantuin aku. Sama aku juga minta maaf.”

“Gua gak marah kok,” Rivan tersenyum. “Cuma inget satu hal. Kita itu temen, dan temen itu harus saling membantu.”

Shani pun mengangguk tersenyum. “Ngomong-ngomong, kok kamu belum pulang?”

“Ada sebuah firasat.”

“Firasat?”

Tiba-tiba handphone Shani bergetar pertanda ada pesan masuk. Dengan cepat ia menyalakan handphone miliknya dan membaca pesan tersebut.

“Kenapa Shan?” tanya Rivan melihat muka Shani yang terlihat ketakutan.

“Tadi papah aku udah disini. Karena kelamaan dia pulang duluan,” ucapnya pelan. “Terus aku disuruh pulang sendiri.”

“Bener kan,” jawab Rivan dengan bangga. “Yaudah gua anterin pulang.”

“Gak ngerepotin?”

“Lu emang ngerepotin. Cepet naek,” ajak Rivan yang sudah menyalakan motornya.

Shani pun tersenyum lalu menaiki motor milik Rivan tersebut. Kemudian Rivan menjalankan motor tersebut.

“Kok kamu gak dijemput kakak kamu? Perasaan pas itu kakak kamu yang jemput.”

“Ya, akhir-akhir ini gua emang naik motor sendiri. Gak tau kenapa, gua disuruh naik motor sendiri.”

“Bisa gitu ya,” balas Shani terkekeh pelan.

Shani memandang langit senja yang terbentang luas. Dia menutup matanya membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa muka indahnya.

“Shan,” panggil Rivan.

“Ya?”

“Jangan diem doang. Rumah lu dimana? Gua kan gak tau.”

“Eh?”

-o0o-

            Sementara itu seorang perempuan bertubuh kecil terlihat sedang berdiri sambil menangis pelan di parkiran sekolah.

“Kak Vienny.”

====| To Be Continued |====

[ Bacotan Penulis ]

  1. Love live itu adalah sebuah anime. Info lebih lanjut cari di gugel.
  2. Gue ganteng.
  3. FF ini gak tentu updatenya kapan.
  4. Gue ganteng
  5. Jangan lupa follow twitter saya : @rivanngidol
  6. Gue ganteng.
  7. Kalau masih ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan di komentar.
  8. Gue ganteng

Sekian, Terimakasih 🙂

scs

Iklan

11 tanggapan untuk “Cherry Blossoms, (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s