Cinta Palsu, Part 7

“Michelle!”

Mereka berdua berhenti ketika seseorang memanggil Michelle.

“Anin? Kenapa?”

“Hey…tugas kelompok kita belum selesai, kenapa kamu malah pacaran sih!”

“He?” Aldo langsung menatap tajam ke arah Michelle

“Hey…gue ini cuma ke kantin, lagipula dia ini kan bukan pacar gue, tapi pelayan gue!”

“H-Hoi!” Aldo seperti ingin menegur Michelle

“Ya-ya terserah, tapi setidaknya kita kerjain dulu tugas ini Le!”

“Hem…yaudah, kalau gitu sehabis dari kantin gue langsung ke kelas deh,”

“Bener yah? Jangan keluyuran sama dia terus,”

“Ya, bawel…,” Michelle kemudian menghiraukannya dan pergi lebih dulu

“Hey, tunggu!” ucap Aldo

Kemudian…

*

*

“Fyuh…akhirnya kita bisa duduk sekelompok sekarang,”

“Gue kan udah bilang bakalan langsung ke kelas,” ucap Michelle

“Ya…tapi kenapa gw juga ikut ke kelas lo Chelle!” ucap Aldo

“Pfftt…,” wanita itu tampak menahan tawanya

“Ek! Mereka semua keliatannya ngeliatin gw,” ucap Aldo bersuara pelan

“Jelas lah! Lo kan pacarnya tuan putri sekolah ini,” ucap wanita itu

“He? Bukan-bukan!”

“Oh ya kita belum kenalan. Ekhem! Kenalin nama gue Anin,” Anin tampak mengulurkan tangannya

“Eh…,” Aldo tampak kebingungan

“Apa maksud dari tuan putri?” tanya Aldo

“Hueeee! Gue gak di waro!” ucap Anin

“Dah jangan bahas hal yang gak jelas. Sekarang kita kerjain tugasnya cepet!” ucap Michelle

“Huft…oke kita mulai,”

Anin mulai mengeluarkan kertas folio itu.

“Oke sekarang…,” Michelle mengeluarkan pensilnya, begitu juga dengan Anin

Mereka terdiam sambil terus menatap ke arah kertas itu.

“Eh-Kapan mulainya?” tanya Aldo

“Duuuh…sampai kapanpun kita gak akan bisa kerjain tugas ini,” ucap Anin

“Lah, kenapa?” tanya Aldo lagi

“Karena kita berdua sama sekali gak ngerti soal Matematika!” jawab Anin lagi

“Khu-khu…sebenarnya sih gue ngerti, tapi ya…gue gak akan memperlihatkan kemampuan itu di depan pelayan gue,” ucap Michelle menyombongkan diri

*Tuk!

“Aduh!” Michelle langsung memegang dahinya yang terkena sentilan oleh Aldo

“Jangan cuma ngomong, dasar…,” Aldo kemudian menarik kertas folio itu

“Lo bisa kerjain soal Matematika ini?” tanya Anin

“Gw um…sebenarnya gw gak ahli dalam Matematika, tapi selagi ada buku paket di depan kita sih…itu bisa diatur,”

“Kalau gitu pelayan, kita mulai kerjain tugasnya sama-sama!” *Brak!

Michelle menggebrak meja.

-Aldo POV-

Perasaan gak enak mulai muncul ketika gw sampai di depan kelasnya Michelle. Orang-orang itu keliatannya pada ngeliat ke arah gw dengan tatapan…bisa dibilang tatapan penasaran. Mungkin mereka bukan penasaran sama gw, tapi mereka penasaran sebenarnya mau ngapain gw main ke kelas orang.

“Cepetan! Bentar lagi bel nih!”

“Iya-iya Anin ku sayang…,”

“Chelle!” panggil Gw

Sepanjang perjalanan gw udah panggil nama dia berulang-ulang sampai mulut gw berbusa, tapi dia tetep aja kagak ngewaro gw. Sampai akhirnya sekarang gw ada di dalem kelasnya Michelle.

“Dasar…malah bawa-bawa gw lagi,”

“Al…Eh, um…gak apa-apa kan gue manggil lo Al? Kan udah kenalan,” ucap Anin

“Serah,”

“Ekhem! Kalau gitu gimana cara ngerjain soal yang ini?”

“Yang mana sih?” Michelle ikut-ikutan

Singkat cerita gw bersama dengan dua curut itu berhasil mengerjakan soal matematika tersebut. Cukup memakan waktu sampai-sampai gw telat masuk ke kelas. Dan yang gw dapat setelah menyelsaikan soal tersebut hanyalah…

“Simpan ini baik-baik ya, karena lo adalah pelayan gue,”

“Apaan nih, gantungan kunci?”

“Ya, itu asli dari singapur,”

“Huft…kalau gitu gw ke kelas dulu ya Chelle,”

Michelle langsung masuk ke dalam kelas tanpa membalas kata-kata gw.

“Mampus gw! Ini kelas udah dimulai kayaknya,”

Tanpa basa-basi lagi, gw langsung lari ke kelas selagi koridor sekolahan tampak sepi.

-Skip-

-Kreeeeekk-

“Permisi…,”

Gw perlahan masuk ke dalam kelas.

“Hey kamu!”

“Bwah!”

Sempak! Suaranya bener-bener keras sampai-sampai gw kaget dan diliatin semua orang.

“Kamu ini! Sekarang sudah masuk jam kelas!”

“M-Maaf pak…,”

“Kalau begitu cepat maju ke depan dan jawab soal SPLDV di depan!”

“Hah?”

Gw liat soal di papan tulis itu, ternyata soalnya gak beda jauh dari soal yang sebelumnya gw kerjain bareng-bareng dua curut itu. Gw mulai sedikit tenang karena hukumannya cuma mengerjakan soal, yang bisa dibilang soal tersebut udah gw kerjain sebelumnya.

Cukup lama gw ngerjainnya, karena sengaja… Biar jam pelajaran Matematika cepat selesai.

Gw liat murid-murid yang lain juga pada ngedukung gw untuk kerjain soal matematika di depan. Bukan memberi semangat buat ngerjain soalnya, tapi lebih ke menyemangati untuk ngerjain soalnya dengan waktu yang lama. #SMA Trick…

#Baduum…Tssss

Setelah gw selesai mengerjakan soal tersebut, gw langsung duduk di kursi gw dimana…gak ada siapapun yang duduk sebangku sama gw, mengingat Nadse sekarang udah kembali ke tempat asalnya, bersama-sama dengan si Jepang itu.

“Ekhem! Jago juga lu…,” ucap seseorang di depan

“Eh Ham, sorry ya tadi…,”

“Jangan dipikirin, santai aja kali,” ucapnya memotong

Setelah selesai, guru matematika itu langsung mengecek jawaban yang gw tulis. Gw liat dia cuma mangut-mangut aja sambil jalan bulak-balik merhatiin jawaban yang gw tulis itu.

“Bagus…,”

Bagus-bagus pala lu peang!  Makannya jangan meremehkan kemampuan gw!

“Lain kali jangan terlambat lagi ya,”

“Baik pak,”

~oOo~

Gak kerasa bel sekolah udah bunyi lagi. Seperti biasa gw berencana untuk keluar kelas paling terakhir, tapi setelah dilihat-lihat lagi…

Mustahil gw bisa keluar paling akhir…

“Akhem!”

“A-Ah…Anu…Ay, Nads? Kenapa?”

*Grek!

            Sekarang mereka berdua tiba-tiba narik kursi terus duduk di pinggir gw.

“Eh…um, kayaknya sekarang udah waktunya gw pulang jadi…,” Gw perlahan berdiri

“Eits! Mau kemana lo!” Nadse tiba-tiba nahan gw

“Duduk!” bentak si Jepang

Kini gw hanya bisa pasrah, gw juga belum tau apa permasalahannya.

-Author POV-

“Anu…,”

“M-Mau ngapain ya?” tanya Aldo baik-baik

“Hey…kita berdua mau lo gabung ke kelompok tiga,” ucap Nadse

“Kelompok tiga?” tanya Aldo lagi

“Lo gak merhatiin pak kumis ya? Tadi kan pak kumis nyuruh buat kelompok, dan satu kelompoknya itu terdiri dari 3 orang,” ucap Ayana

“Pak kumis?” tanya Aldo lagi

“Guru matematika kita!” ucap mereka berdua bersamaan

“Buset dah, kualat lu sebut dia pak kumis,” ucap Aldo

“Emang bener berkumis kan?” ucap Ayana

“I-iya sih…,”

“udahlah! Sebenarnya banyak orang yang pengen satu kelompok sama lo, karena lo keliatannya ahli dalam hitung-hitungan,” ucap Nadse

“B-bwaaaahh! Ahahahaha! Mana ada…,” balas Aldo tertawa

“Hiss beneran! Banyak kok yang pengen satu kelompok sama lo! Cuma karena di kelas ini yang kenal sama lo itu cuma kita berdua, jadi ya…,” ucap Ayana menggantung

“Hmm…,” Aldo membalasnya dengan wajah datar

“Jadi gimana?” tanya Nadse lagi

Pandangan Ayana tampak seperti memelas di hadapan Aldo.

“He-hey…kan ada banyak yang pinter di kelas ini,” Aldo sedikit menjauh dari Ayana

“Bullshit lah! Yang pinter juga biasanya mereka gak mau berkelompok gitu,” ucap Nadse

“W-What? Wahahaha…,” Aldo seperti tidak percaya dengan kata-kata Nadse

“udahlah terima aja lo jadi kelompok kita, cepet jawab! Sebelum tuan putri lo datang ngejemput lo!” ucap Ayana

“Tuan putri? Siapa?” tanya Aldo

“Siapa lagi kalau bukan si anak tentara itu…,” ucap Nadse

“M-Maksud lo Michelle?” ucap Aldo

Mereka berdua mengangguk.

“Tuan putri avaan!?”

“Iya lah! Orang dia yang punya sekolah ini,” ucap Ayana

“WHAT!” Aldo sangat terkejut mendengar penjelasan dari Ayana

“Lagipula banyak kok cowok yang pengen jadi pacarnya dia,” ucap Ayana lagi

“K-Gah! Gw gak pacaran sama dia!” bantah Aldo

“Hmmm?” Nadse tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Aldo

“Semua murid di sekolah ini udah sering membicarakan tentang hubungan lo sama dia…Tau?” ucap Nadse

“Hubungan apaan!? Gw serius gak pacaran sama dia!” Jelas Aldo lagi

“Huft…udahlah! intinya lo harus masuk ke kelompok kita, Oke?” ucap Nadse lagi

“I-iya kalau gitu…,”

“Bye-Bye!”

Belum selesai Aldo berbicara, mereka berdua tampak pergi meninggalkan kelas.

*Bruk!

            Suara yang terdengar seperti benturan.

“Dia udah nunggu lo di dalem,”

“Jangan macem-macem di kelas gue ya!”

Suara yang lebih tedengar seperti percakapan antara 3 orang murid di luar kelas. Aldo hanya mendengarnya dari dalam kelas sehingga pembicaraan Mereka tampak kurang jelas.

Lantas Aldo pun mulai membereskan tasnya lalu pergi.

“Gak usah gw beresin kali ya kelasnya,” pikir Aldo

“Akhem!”

Mendengar suara itu, Aldo langsung menengok.

“Kebiasaan…datang paling akhir, pulang juga paling akhir…,”

“Huft…Chelle,”

Aldo menghela nafas ketika tau orang yang ada di dalam kelas selain dirinya itu adalah Michelle.

“Siapa juga yang datang paling akhir, gw biasanya datang pagi kok,”

“Hem…iya-iya serah lo deh,” balas Michelle

“Umm Chelle, ada sesuatu yang mau gw omongin sama lo,” ucap Aldo

Michelle langsung menatap tajam ke arah Aldo.

~oOo~

“Em…yah,” Aldo menggaruk kepalanya

“Gw disini um…gw cuma mau memperjelas hubungan persahabatan kita. Yah seperti yang lo tau, semua murid di sekolah ini udah…,”

“Gue paham kok,” potong Michelle

“A-Ah?” Aldo tampak kebingungan

“Gue tau kalau mereka itu sering gosipin kita berdua, tapi kenapa lo harus pusingin hal seperti ini? Lagipula lo itu bukan siapa-siapa di kehidupan gue,”

*DEG!

            Mendengar kata-kata itu, jantung Aldo seperti berhenti berdetak.

“Y-yah, mungkin lo gue anggap teman? Atau…,” ucap Michelle

Raut wajah Aldo yang tadinya muram tiba-tiba menjadi tersenyum.

“Heh, gw kira lo menganggap gw ini cuma kecoa yang tiba-tiba muncul di kehidupan lo,”

“Huh? Emang,” balas Michelle

“Bwah! Awas lu ya!”

“Eh-eh jangan cubit pipi gue lagi! Dasar!” Michelle menyerang Aldo lebih dulu

“Tapi…gue gak nyangka lo sampai memikirkan hal itu sampai sejauh ini, sampai lo pengen tanya langsung ke gue,” ucap Michelle

“Hal…itu?” ucap Aldo

“ya, gosip-gosip yang beredar itu loh,” Jelas Michelle

“Y-yah, gw cuma gak mau kalau mereka sampai salah paham,”

“Heh,” Michelle mengendus. “Jangan kegeeran ya, lagipula gue gak punya perasaan sama lo,”

“Ahahaha! Yap, gw juga gak punya perasaan sama lo,” balas Aldo

“Pffft…kenapa gue jadi pengen ketawa ya,” ucap Michelle

“ya—sudah…mendingan kita pulang sekarang,” ucap Aldo

“Hem…,” Mihcelle hanya diam

Mereka pun pulang bersama dan melewati gerbang sekolah bersama-sama.

“Kalau mereka masih ngomongin hal tentang itu, sebaiknya lo abaikan aja,” ujar Michelle

“Yah….gw tau,” balas Aldo

“Oh ya, soal tawaran lo untuk jadi anggota jurnalis…,”

“Eh, lo mau ikut!?” ucap Aldo

“Emm…klub jurnalis itu kan foto-fotoin hal yang menarik? Apa ada rekreasinya juga gitu?”

“Rekreasi?”

“Iya, misalnya klub jurnalis mau mengadakan tour ke sekolah lain, atau ke tempat wisata dan mencari semua hal yang menarik dalam tempat wisata itu, kemudian dicetak dalam bentuk foto,”

“Buset dah, bahasa lo jadi muter begini,” ucap Aldo

“Gak ngerti ya?” ucap Michelle

“Jadi intinya lo pengen tanya kalau klub jurnalis itu cuma foto-fotoin kegiatan sekolah untuk dokumentasi aja, atau juga foto-fotoin tempat lain yang misalnya seperti tempat wisata, begitu?”

“Iya…gitu deh,”

“Kalau soal itu sih…kayaknya wisata rekreasi gitu juga ada, yah paling seringnya sih bikin dokumentasi tentang kegiatan disekolah lain. Itu yang gw tau,” Jelas Aldo

“Sebenarnya percuma lo tanya gw tentang hal ini, disekolah gw dulu gak ada klub jurnalis,”

“Hmm…gitu ya,” balas Michelle

“Eh ada deng, cuma gak terlalu populer dikalangan semua murid,” ucap Aldo kembali

“Terus waktu dulu lo ikutan klub apa?”

“HA?” Aldo sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut

“Em…gw…eng…gw ikutan…PMR! Yah gw ikutan PMR!” ucap Aldo

“Heh,” Michelle mengendus

“HUEE! Kenapa lo ketawa!”

“Klub lo cemen banget, kayak bukan laki aja,” ucap Michelle kembali

“Y-ya biarin lah! Bagus kan gw bisa ikutan PMR! Nanti kalau lo terluka bisa gw obatin, tapi bukan luka hati ye?”

“Pffft…bullshit!” Michelle langsung berjalan lebih cepat dan meninggalkan Aldo dibelakang

“Hey! Yah…malah ditinggal gw,”

Kini Michelle telah jauh dari hadapan Aldo.

*Prok-Prok-Prok!

Aldo langsung melihat kebelakangnya ketika mendengar suara tepukan tangan.

“K-Kak Yona!” Aldo perlahan mundur

“Hey-hey kenapa? Kenapa muka lo jadi merah begitu?”

Yona menghampiri Aldo disana.

“J-Jangan macem-macem kak! Glek…,” Aldo menelan ludahnya

“Gw ini cowok yang polos! Jangan coba-coba…,”

“Ayolah! Kenapa lo malah menghindar dari gue!” Yona langsung menarik tangan Aldo

“Ek!” Tangan Aldo bergetar ketika dipegang oleh Yona

“Gue cuma mau nawarin lo untuk jadi anggota OSIS, gimana?”

“G-gak tertarik kak!” balas Aldo

Keringat dingin mulai bercucuran dari leher Aldo.

“Jangan samakan gue dengan monster buas yang biasa hidup di alam bebas, gue ini cewek yang manis dan baik hati,”

“Y-yah, kak Yona baik hati kok, ahaha…,” Aldo menggaruk kepalanya sambil memalingkan pandangannya dari Yona

“Ya ampun gue jadi sedikit cemburu gara-gara tuan putri sekolah ini udah rebut hati lo dari gue,”

*Bluuuuurbb!

“Wahaha! Kak Yona ini, jangan bercanda kak! Ahaha!”

*Cups!

Yona mencium pipi Aldo.

“BWAH! KAK YONA!” Aldo kini semakin menjauh dari Yona

“Masih gak percaya?” ucap Yona

Wajah Aldo yang memerah itu kini mundur perlahan-lahan dari Yona.

“Huh…kenapa juga gue harus godain lo disini,”

“Yah! Kenapa kak Yona malah godain Aldo!?” ucap Aldo juga

“Dah lupakan soal tadi,”

“HE! Main lupain aja! Terus ini gimana!” tunjuk Aldo ke arah Pipinya

“Ngomong-ngomong lo pulang sendirian, mau bareng gak?”

“K-Eng…,”

“Jangan nolak…,” Yona tiba-tiba mempelototi Aldo

“Ehk!”

~oOo~

*Kleneng!

Lonceng itu berbunyi.

“Cafe ini lagi…,”

“Ya…anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue karena udah jailin lo,”

Aldo masih melihat-lihat kesekitar cafe tersebut.

“Santai aja, gak ada seorang pun pegawai di cafe ini yang liat ketika gue godain lo kemarin,”

“Bukan itu!”

“Hm?”

“Gw cuma…gw hanya memastikan kalau gak ada lagi anak SMA 35 selain kita,”

“Heh,” Yona mengendus. “Takut digosipin ya?”

“Buahahaha! Kenapa juga harus takut digosipin? Lagipula kalau memang ada murid dari SMA 35 yang liat kita berduaan begini, mereka gak akan mungkin langsung ngira kita pacaran,”

Yona menarik nafas panjang, kemudian ia mulai meminum teh hangat yang ia pesan.

“Ternyata apa yang gue liat ini benar-benar berbeda dari data itu,”

“Data?”

“Jangan coba lo tanya soal data yang gue bilang ini, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah…kenapa lo harus berubah,”

“!?!?” Aldo terlihat kebingungan

“Mencoba melupakan masa lalu bukan berarti lo harus merubah sikap lo di tempat yang baru, sehingga orang-orang baru disekitar lo akan terbiasa dengan sikap lo yang baru juga,”

Aldo yang tadinya akan memakan ice cream yang ia pesan itu kini tiba-tiba terdiam.

“Jangan bicara seolah-olah kak Yona tau segala hal tentang Aldo…,” ucap Aldo

“Hah? Gue memang tau segalanya,” balas Yona seperti menyombongkan diri

Aldo terlihat kebingungan dan yang ia lakukan sekarang hanyalah menatap ke arah Yona.

Sementara Yona terlihat mengorek-ngorek saku bajunya. Lalu ketika ia mendapatkan benda tersebut, ia langsung melemparnya ke meja dan benda itu nampak seperti sebuah kertas foto.

Vizkian Deva…lahir ditahun 1999 yang berarti seakrang dia sudah berumur 16 tahun. Merupakan salah satu pemain basket andalan dari SMA 48, dan selalu dipasangkan dengan orang yang berada di posisi Point Guard. Dan orang itu adalah…,”

Aldo Gilindra Abiyoga…,”

Aldo kini terlihat semakin kebingungan dan juga ia seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yona. Ia menelan ludahnya seakan-akan ia mulai sedikit takut berada di dekat Yona.

Lalu Yona terlihat melempar satu buah kertas foto lagi ke meja tersebut.

“Cewek itu…Cindy Dea…,”

*Brak!

“G-Gw harus pergi…,” ucap Aldo secara tiba-tiba

Tanpa berpamitan, Aldo langsung pergi dari Cafe tersebut meninggalkan Yona sendirian. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, ia hanya melupakan segala hal yang terjadi padanya hari ini.

Sementara itu, Yona…

*Surp!

“Jadi cewek ini yah…,”

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

4 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s