“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 25

Naomi kini tengah memasak bubur untuk Robby, setelah Shani pamit pergi untuk kuliah. Ia pun beranjak memasak untuk Robby. Naomi terdiam memikirkan pembicaraannya bersama Shani tadi..

“Kenapa lagi?”

“Mereka udah putus kak..”

“K-kok bisa?”

Shani menghela nafasnya, “Aku gak tau gimana cerita yang jelasnya. Aku cuma tau kalau Shania main belakang sama temen aku.”

“Robby tau sendiri soal Shania itu?” Naomi mengelus tangan Robby yang tengah tertidur dengan lembut.

Shani mengangguk, “Iya kak. Kata Viny sih, waktu dia jalan bertiga gitu gak sengaja ngeliat Shania sama temen aku.”

“Kapan putusnya mereka?”

“Ngg, seminggu yang lalu deh kak,” jawab Shani.

Naomi menghela nafasnya, lalu menatap Robby yang tengah tertidur. Adiknya yang satu ini, memang terlihat kuat dari luar tetapi di dalamnya rapuh sekali. Ia selalu menunjukkan pada orang-orang bahwa dirinya kuat, padahal tidak sama sekali..

Naomi mengelus wajah Robby dengan lembut, Robby pun menggeliat tetapi masih dalam keadaan tidurnya.

“Kamu tau Shan, kakak sayang banget sama dia. Dia ini selalu nunjukkin sama orang-orang kalau dia itu kuat, tapi kalau udah sendiri, dia pasti ngeluapin semuanya. Kadang, aku sebagai kakaknya ngerasa gimana gitu. Ngerasa kayak gagal jadi kakak.”

“Kak jan-,”

“Hh, ngeliat dia yang nunggu dengan setianya di sini. Bertahan sendiri, walaupun ia gak tau gimana kabarnya. Kurang apa lagi sih dia ini? Kadang aku juga kesel sama dia. Dia ini bodoh banget jadi cowok,” ucap Naomi sambil tertawa dengan hambar.

Naomi menghela nafasnya, mengelap matanya yang berair dengan ibu jarinya tangan kanannya. Ia merasakan tangan Shani yang memegang pundaknya.

“Kakak gak boleh ngomong gitu. Robby pasti dengernya marah kalau kak Naomi ngomong gitu. Robby emang orangnya gitu, mungkin aku belum kenal lama sama dia. Tapi dari semua cerita yang aku dengerin dari yang lainnya, aku bisa nyimpulin kalau Robby itu orangnya yang kuat.” Shani tersenyum manis pada Naomi.

Senyuman itu menular pada Naomi, bibirnya terukir mengangkat ke atas.

“Ngg, kak aku boleh nanya?” suara Shani memelan seperti takut(?).

“Nanya aja Shan, emang mau nanya apa sih? Segala minta izin dulu, kayak apa aja deh.” Naomi terkekeh menanggapi kelakuan Shani.

Shani megusap leher belakangnya sambil tersenyum kikuk.

“Ngg, aku boleh tau tentang k-kak Ve?”

Dahi Naomi berkerut, “Ve.. kakaknya Shania?”

Shani menganggukkan kepalanya, “Iya kak. Apa aku boleh tau tentang kak Ve? Aku dengar, kak Naomi itu temannya kan?”

“Emang kenapa Shan?”

“Ada yang pengen aku tau kak.”

Naomi mengangguk, “Yasudah, kalau begitu kita keluar. Kita bicarain ini di ruang tengah aja.”

Setelah itu mereka berdua pun keluar dari kamar Robby, menuju ruang tengah.  Mereka duduk di sofa ruang tengah, Shani memasang indra pendengarannya tajam ketika Naomi menceritakan semua tentang Ve, kakak Shania itu..

Shani terdiam tengah memikirkan sesuatu entah apa itu, kemudian ia pamit pulang karena ia ada kelas hari ini. Setelah Naomi mengucapkan terima kasih pada Shani dan mengantarkannya ke depan pintu, Shani pun meninggalkan Naomi di apartement Robby.

Setelah Shani tidak terlihat lagi, Naomi pun masuk ke dalam kembali, ia berniat untuk memasakkan bubur untuk Robby sarapan..

“Kakak?” Naomi tersadar dari lamunannya ketika Robby memanggilnya. Naomi pun membalikkan tubuhnya, menatap Robby yang tengah meneguk minuman itu.

“Udah bangun?” tanya Naomi.

Robby mengangguk dan meletakkan gelas di atas meja pantry, “Kakak ngapain ke sini?”

“Cuma mau ngecek kamu, dari kemarin perasaan kakak gak enak. Oh iya, ini kakak masak bubur. Dimakan ya. Abis itu, minum obat. Kamu demam tuh, untung Shani tadi malam ke sini.”

“Gak laper kak. Kakak aja deh yang makannya. Shaninya mana kak?”

“Jangan gitu Robby. Udah pulang tadi.”

“Oh gitu ya..”

~

Shania berjalan dengan gontainya menuruni tangga rumahnya. Entah kenapa ia merasa kepalanya sangat pusing sekali. Sesekali, matanya terpejam merasakan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

“Sshh, sakit banget sih,” desis Shania sambil memegangi kepalanya.

Shania berjalan menuju rak tempat obat-obat biasa Nabilah menyimpan berbagai macam obat yang ia beli. Shania membuka lemari tersebut dan mencari-cari obat untuk meredakan sakit kepalanya.

Setelah mendapatkan obatnya, ia pun langsung meminumnya. Ia terdiam sejenak, perlahan pusingnya menghilang. Shania menghela nafasnya lega, ia menaruh gelas yang dipegangnya di meja makan. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

Ia mencuci mukanya, kemudian ia menatap pantulan dirinya yang ada di cermin. Shania terdiam ketika menatap pantulan dirinya yang terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya memucat, ia pun terlihat agak kurus akhir-akhir ini. Ia tersenyum miris mengingat dirinya yang bahagia ketika itu. Dan tiba-tiba darah keluar melalui hidungnya. Shania dengan perlahan memegang darah tersebut untuk memastikan apa yang ia lihat sekarang ini salah.

Tangannya gemetar ketika melihat yang ia sentuh di tangannya adalah darah sungguhan. Air matanya lolos seketika, dengan gemetar ia pun membasuh darah tersebut dan juga membersihkan yang ada hidungnya. Ia keluar kamar mandi menuju kamarnnya. Berbagai macam pikiran negatif pun mulai menghampirinya, membuat perasaan takutnya kini muncul..

~

Keesokkan harinya, kini Robby telah kembali menjalani aktivitas kuliahnya. Ia sedang berjalan menuju kantin setelah tadi telah menyelesaikan mata kuliahnya yang pertama pagi ini. Tetapi baru saja ia berada di kantin, sebuah tangan kini menggapai lengannya. Sontak membuatnya menoleh, dahinya berkerut.

“Aku mau ngomong sama kamu.”

Robby perlahan melepaskan genggaman orang tersebut. Tetapi kembali tangannya digapai oleh orang tersebut. Dan ia pun ditarik menjauh dari kantin. Ia bukannya tidak ingin memberontak, tetapi bersikap kasar pada perempuan sangat tidak pantas menurutnya. Jadi ia lebih baik menurut saja.

Sampai pada akhirnya, ia pun kini dibawa ke taman yang lumayan sepi. Ia pun didudukkan di bawah sebuah pohon besar. Pandangan matanya menatap kearah lain.

“Kenapa sih Rob? Kan kita udah minta maaf sama kamu, jangan kayak gini terus. Dan apa kamu lupa permintaan aku kemarin? Kalau ada apa-apa selesein dengan kepala dingin, bukan dengan cara kemarin.”

Robby hendak bangkit berdiri, tetapi tubuhnya kembali ditahan.

“Hh, aku minta maaf nyembunyiin ini semua dari kamu. Bukan aku gak mau bilang sama kamu, tapi aku gak mau kamu jadi balik lagi kayak dulu..”

Robby menghela nafasnya melihat perempuan yang di depannya ini tengah terisak pelan. Ia pun bangkit, dan mensejajarkan tubuhnya di hadapannya.

“Vin..” Viny mendongak sambil menghapus air matanya, “Maafin aku. Tapi aku lagi pengen sendiri, nanti pelan-pelan juga balik lagi kayak Robby yang dulu.”

Viny mengatur nafasnya, lalu menatap Robby. “Tapi kalau ada perlu apa-apa bilang sama aku ya?”

Robby menganggukkan kepalanya, “Iya Nyi, aku bakalan bilang sama kamu.”

“Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu ya? Inget tuh. Jangan suka lupa.” Viny pun meninggalkan Robby entah kemana. Sedangkan Robby kembali pada tujuan awalnya, ke kantin..

~

Seminggu telah berlalu, kini suasana Robby dengan teman-temannya tengah kondusif. Dengan perlahan Robby memaafkan dan meminta maaf pada teman-temannya tentang sikapnya kemarin. Itu semua berkat dorongan Shani dan Viny lah yang membuat Robby kembali berbaikkan pada mereka. Gre yang tahu masalahnya pun, mendorong Robby juga mendekati teman-temannya. Tetapi tidak ada Benny, karena memang setelah itu Benny entah malu atau apa. Ia tidak bertemu dengan mereka semua.

Kini Shani tengah berjalan menuju sebuah café sekedar untuk melepaskan penatnya, tugas akhir-akhir ini membuatnya pusing. Shani duduk di ujung yang bersampingan dengan kaca, yang menampilkan pemandangan di luar sana.

“Cappucinonya satu, fish and chips satu, mozzarella cheese stick satu, ah iya cake in jar ada mba?” Shani menutup buku menu café tersebut.

“Kebetulan masih ada mba.”

“Yaudah, itu satu juga ya mba.”

“Baik. Saya ulangi ya mba. Fish and chips satu, mozzarella cheese stick satu, cake in jar satu, sama cappuccino satu. Apa ada tambahan yang lain lagi mba?”

Shani menggelengkan kepalanya, “Enggak ada mba.”

“Yasudah, mohon tunggu sebentar ya mba.” Pelayan tersebut kembali ke dalam untuk menyajikan pesanan milik Shani.

Selagi menunggu pesanannya datang, Shani mengeluarkan sebuah novel yang sengaja ia bawa. Shani mulai larut dalam bacaannya, hingga akhirnya pesanannya pun datang. Ia mengesap minumnya sebentar, kemudian ia melanjutkan kembali aktivitas membacanya.

Bunyi lonceng yang berada di pintu café tersebut tidak dihiraukannya. Shani asik larut dalam bacaannya, sesekali menyuap dan meneguk pesanan miliknya. Hingga perhatiannya tersita pada orang yang tengah duduk di hadapannya.

Dahi Shani berkerut, ia menutup bukunya dan menatap heran orang yang kini berada dihadapannya.

“Hai Shani. Apa kabar?” sebuah senyuman terukir di wajah manis orang tersebut.

Shani berdehem kemudian menegak minumannya terlebih dahulu, “Baik. Ada apa ya?” Shani menatap heran orang yang berada dihadapannya ini, ada yang aneh pikir Shani.

“Hehe, bagaimana dengan Robby? Apa dia baik-baik saja?”

“Dia baik.” Shani membetulkan posisi duduknya. “Sebenarnya ada apa? Apa yang kamu inginkan Shania?” Shani meneliti wajah Shania yang terlihat pucat dan agak kurus(?).

Shania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Gak ada apa-apa Shani. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih dekat, apa gak boleh?”

Dahi Shani mengkerut, “Boleh saja. Aku hanya heran saja dengan kamu yang tiba-tiba datang tanpa pemisi duduk di depanku, dan tentunya ingin mengenal diriku. Ada apa sebenarnya?”

Shania menghela nafasnya, dirinya terlihat gusar dan kacau. Tatapannya matanya pun menyiratkan kesedihan. Ada apa sebenarnya? Pikir Shani.

“Aku boleh cerita?” Shania menatap dalam mata Shani.

“Baiklah, kamu mau cerita apa?” Shani menyiapkan indra pendengarannya.

“Tapi sebelumnya, jangan kasih tau siapapun tentang ini bisa? Aku baru memberitau padamu,” ucap Shania.

“Baiklah, aku tidak akan memberitau pada siapapun tentang masalahmu.”

Shania memalingkan pandangannya keluar jendela, Shani bisa melihat bahwa ada yang disimpan Shania. Terlihat ia sangat berat sekali untuk mengatakannya. Tetapi mengapa pada dirinya ia mau menceritakan masalahnya?

“Aku sakit Shan..”

“Maksud kamu?” Shani menatap bingung Shania.

Shania mengambil sebuah amplop cokelat yang ada di dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Shani. Shani dengan ragu mengambil amplop tersebut, ia dengan perlahan membuka amplop tersebut.

Matanya terus menelurusi tulisan-tulisan surat rumah sakit yang sedari tadi ia pegang. Setelah selesai, ia memasukkan kembali surat tersebut ke dalam amplop cokelat tadi. Dan kembali menyerahkan pada Shania. Ia menatap Shania yang tatapannya lurus keluar.

“Jadi.. apa kata dokter bisa disembuhin? Itu masih gejala kan?” tanya Shani hati-hati.

Shania menggelengkan kepalanya, “Aku gak mau berobat, semuanya sia-sia. Lebih baik begini.”

“Seharusnya kamu berjuang untuk kesembuhanmu, bukan malah begitu.”

“Tidak ada gunanya juga kalau aku sembuh.”

“Ada gunanya. Aku mau tau, alasan kenapa kamu memberitauku. Bukankah ini seharusnya kamu beritau keluargamu? Atau teman terdekatmu?”

Shania tersenyum, lalu ia menatap Shani, “Aku ingin mengenal dirimu Shani. Karena aku ingin berteman denganmu lebih dekat lagi, bolehkan?”

“B-boleh saja.”

“Baiklah, kalau begitu lebih baik sekarang kita menceritakan kehidupan kita masing-masing terlebih dahulu. Agar kita lebih megenal lagi,” ucap Shania.

Shani mengangguk, kali ini ia merubah pemikirannya terhadap Shania. Menurutnya Shania itu baik, agak cerewet, dan entahlah. Shani baru menemukan itu dalam diri Shania.

“Aku dulu yang cerita ya.” Shania pun menceritakan tentang kehidupannya, dari keluarga mana ia berasal. Bagaimana kehidupannya dulu sampai sekarang, dan terakhir tentang percintannya dengan Robby yang kandas ditengah jalan..

Shani pun terus mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut Shania, sesekali ia menanggapi dan bertanya pada Shania. Shani tersenyum miris mendengar cerita yang terakhir keluar dari mulut Shania.

Shani menghela nafasnya, “M-maafin aku Shan.”

“Maaf untuk?” tanya Shania yang sebenarnya tahu kemana arah pembicaraan Shani.

“Hh, aku udah mempunyai perasaan pada Robby. Dan aku juga telah merusak hubungan kalian,” lirih Shani yang menundukkan kepalanya.

Shania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Gakpapa. Kamu gak perlu minta maaf. Aku malah senang jika Robby bahagia sama kamu.”

“Tapi kan..”

“Aku gakpapa. Nanti kalau sudah waktunya, aku mau kalian berdua, disamping aku ya?” pinta Shania.

“Shania, jangan ngomong kayak gitu..”

“Aku hanya ingin melihat wajah orang yang aku cintai bahagia disaat waktunya tiba nanti,” ucap Shania.

“Kalau begitu, aku akan menemanimu untuk pergi ke rumah sakit bagaimana?” tawar Shani.

Shania mengangguk dan tersenyum, “Boleh saja. Lagian sekarang aku butuh teman buat cerita.”

Shani mengangguk. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menemani Shania ke rumah sakit sekedar hanya untuk check upataupun yang lainnya. Dan entah kenapa ia dengan mudahnya berkata seperti itu. Tapi ini mungkin bisa menjadi menebus kesalahan yang ia ambil sebelum Shania dan Robby bertemu..

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

3 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s