Pengagum Rahasia 2, Part 37

Ckeeess!

Motor matic itu di nyalakan.

“Gak apa-apa nih gw pinjem motor lu Gre?”

“Iya bawa aja, tapi kalau di pinjemnya sampai besok kamu harus jemput aku pagi-pagi ya,”

“Iya-iya, nanti gw jemput kok,”

“Hem…pinjem motor orang udah kayak pinjem sepedah aja,”

“Y-yah…karena hal ini sedikit…umm…penting,” balas Deva

“Emangnya mau dipake kemana sih?” tanya Gracia lagi

“Eng…Ah, mau jemput kak Melody di Cafeteria, ya itu…,” Jawab Deva

“Huft…kalau gitu hati-hati, karena Cafeteria itu kan lewat jalan raya, kalau ke tilang kan bisa diambil motor papiku,”

“Iya-iya,”

“Dan…umm…,” wajah Gracia tiba-tiba memerah.

“Thankyou ya udah mau bantuin aku,” lanjutnya

“Oh…,” Deva menatap Gracia

“Ya,” lanjut Deva

Setelah itu Deva berpamitan pada Gracia kemudian pergi.

~oOo~

*Bem…Bem…Bem…

Ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang mewah.

“Banyak banget mobil yang parkir, apa mungkin proses tunangannya masih jalan?”

“Eh-Umm…,” Deva seperti mencari tempat untuk memarkirkan motornya

Setelah lama mencari, ia pun memutuskan untuk memarkirkan motornya di belakang semak-semak disana.

“Gak di standarin lagi, duh…,” Deva masih ragu dengan tempat parkirnya

“Kenapa gw malah mikirin motor, yang terpenting adalah nasib gw!”

Deva menghiraukan motor maticnya dan kemudian menyelinap ke dalam rumah itu lewat belakang.

“Hmm…kalau dari belakang sini…kamar dia berarti ada di jendela yang itu,”

“Tapi besar kemungkinan juga itu kamarnya si kampret Aaron,”

“Ditambah lagi cara untuk naik ke sananya pun susah,” pikirnya

Deva yang masih bimbang pun kini mencoba untuk menaiki pagar rumah yang ujungnya tajam itu. Ia sangat berhati-hati dan ditangannya sudah disiapkan batu kecil yang lumayan banyak.

Ketika ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan beridiri di pagar tersebut, ia mulai mengambil ancang-ancang untuk melempar batu tersebut ke kaca disana.

“Semoga dia ada di kamar,”

*Syung!

“TAK!

“Buset! Kayaknya gw salah lempar batu!”

“Kalau sekenceng itu sih bisa kedengeran sama yang lain,”

“Ah bodo amat!”

Deva kembali melempar batu tersebut,

*SYUNG!

Cekreeeeeek!

“EH AWAS!”

*Pltak!

            Tiba-tiba kaca jendela itu terbuka dan tanpa sengaja batu yang dilemparnyapun mengenai seseorang.

“A-Ahkk..aww…,”

“Mampus Gw!” Deva buru-buru turun dari pagar

“Loh Deva!”

“HE!?” Deva langsung melihat ke arah jendela tersebut

“V-Ve!”

Deva yang sudah terlanjur turun dari pagar pun kini berusaha untuk naik kembali ke pagar tersebut.

“K-Kenapa kamu ada disini!?”

“Ek…Aku bakalan bawa kamu pergi dari sini,” ucap Deva namun ia tampak ragu

“Ha-Hah? Tapi Dev…,”

“Cari sesuatu yang bisa kamu iket ke jendela itu,” potong Deva

“Maksud kamu aku harus turun dari sini?” tanya Ve balik

“Iya,”

“Um…Aku takut Dev,”

“Gak apa-apa! Kalau kamu jatoh aku tangkep kok,”

“Um…,” Ve langsung mencari-cari sesuatu di belakang

Lalu Ve pun hilang dari pandangan Deva.

“Ayo cepet…,” gumam Deva yang sudah mulai gelisah

Sekitar beberapa menit, Ve pun kembali muncul dan langsung melempar sebuah kain dari atas sana.

“Lah ini selimut!?” pikir Deva

“Dev…tangkap aku ya,” ucap Ve yang terlihat sedang mengikatkan selimut itu pada besi di jendelanya

“Oh-Ya!” balas Deva

Setelah Ve mengikatnya, ia mulai turun perlahan.

“Hati-hati…jangan liat ke bawah!” ucap Deva

“Ek-AHK!” Ve langsung memejamkan matanya ketika melihat ke bawah

“H-hey! Jangan liat ke bawah!” ucap Deva lagi

“Aku gak bisa Dev!” balas Ve

*Stratch!

“Aaaaaaaakkkkkk!”

Ve terjatuh dan berteriak keras.

*Gebrak!

(……………………………………………………………………………………)

“Ung…,”

“Hey…bangun…,”

            Suara itu terdengar samar di telinga Ve.

“Hung…uwah!” Ve tersadar

“D-Deva!” ucap Ve

“udah aku bilang, aku bakalan tangkep kamu,”

“A-Aku takut Dev!” Ve memeluk erat tubuh Deva

“H-hey Sheesssh…jangan disini, sebaiknya kita pergi dulu,” ucap Deva

“Gara-gara kamu teriak tadi, kayaknya bakalan ada orang yang datang kesini,” lanjutnya

Ve mengangguk.

*Hup!

            Deva menggendong Ve disana.

“Pegangan yang kuat,”

Ve hanya diam sambil memeluk leher Deva.

Mereka langsung pergi mengendap-ngendap dari kediaman Ve.

Motor matic yang Deva simpan dibelakang semak-semak tampak masih aman dan tidak seorang pun yang ada di sekitar semak-semak tersebut.

“Rumah kamu gak ada CCTV nya kan?” tanya Deva

“HAH! A-ada Dev,”

“What!? Mampus kita!”

“Tapi cuma ada di bagian depan aja, sama di bagian tamannya. Asalkan kamu gak lewat kedua jalur itu sih gak masalah,”

“Duuh…aku lupa lagi tadi masuk lewat mana,”

“Kalau gitu ayo cepetan pergi!” ucap Ve

Deva buru-buru menaiki motor matic itu, bersama dengan Ve disana.

“udah siap?”

“Um…Dev, kenapa kamu ngelakuin ini?”

“Hmm?” Deva sedikit menoleh

“Karena aku cinta sama kamu…,” Jawabnya

Ve tampak diam.

Namun tak lama kemudian Ve langsung memeluk Deva dari belakang. Air mata itu langsung bercucuran membasahi baju Deva.

“Aku sayang sama kamu Devaaaa!”

“H-hey, jangan nangis nanti ada yang datang lagi,”

“Um…,” Ve mengelap air matanya

*Ckeeeesss…

            Motor matic itu dinyalakan, kemudian Deva pun pergi dari tempat itu.

~oOo~

Di sebuah rumah yang tampak sepi dan hening…

“Maaf ya Ve, aku gak punya tempat lain selain disini…,”

“Gak apa-apa kok Dev, mungkin Melody bisa kasih solusi untuk kita,”

“Justru itu, aku takut kak Melody malah gak terima soal apa yang kita lakukan ini,”

“Eng…,” Ve terdiam

“Sebelumnya…tadi aku gak tau kalau kamu ada di kamar, udah selesai ya proses pertunangannya?”

Ve kemudian menggelengkan kepala. “Belum Dev,”

“Loh!?”

“Justru keluarga dari Mereka baru aja datang,”

“Wah! Kalau mereka tau kamu udah gak ada di kamar gimana!? Terlebih lagi mereka baru datang dari tempat yang jauh lagi,”

Ve terdiam.

“Aku gak peduli Dev, aku gak peduli lagi sama mereka,”

“Umm…,” Deva jadi sedikit ragu sambil menatap Ve

“Eng…aku…boleh panggil kamu sayang lagi kan, Dev?”

“E-Ah?” Deva menengok ke arah Ve

“Heh,” Deva mengendus. “Kalau gitu aku boleh panggil kamu pipi?”

“H-Huh? Pipi?” tanya Ve balik

“Karena aku gak akan biarin pipi bakpaoku ini pergi,” ucap Deva sambil mencubit pipi Ve

Ve tersenyum dan kemudian langsung memeluk Deva.

“Ek…sekarang kita masuk dulu,” ujar Deva

“Em,” Ve mengangguk

Mereka berdua pun masuk ke dalam.

*Cekleeeeek!

*DOOOOOOOR!

“BWAH!” Ve dan Deva terkejut

“HAHAHAHA!” orang-orang itu menertawai Deva disana.

“Sialan! Ngapain sih kak Mel!?” ucap Deva

“Hahaha! Ini rencananya Kinal,” ucap Melody

“Akhirnya gw berhasil ngangetin lu Dev,” ucap Kinal

“Baru pulang bukannya disediain kopi kek, atau makanan kek,” ucap Deva

“Selain itu…lo punya nyali juga untuk bawa cewek yang udah punya tunangan,” ucap Kinal sambil melirik ke arah Ve

“Ak..Aku belum tunangan!” balas Ve

“Huh?” Kinal dan Melody tampak kebingungan

“Kalau gitu bagus dong,” ucap Kinal lagi

“Bagus-bagus apanya, sekarang Deva bingung musti ngapain,” ucap Deva

“Salah sendiri pake nyulik Ve segala,” ucap Melody

“Tunggu sebentar, kak Kinal lagi ngapain sih disini!?” tanya Deva

“Gw kan mau nginep disini, ada pekerjaan penting yang harus gw lakukan bareng kakak lu,” Jawab Kinal

“A-Ah…,” Deva terdiam

“Eh kalau gitu kamu masuk dulu gih,” ujar Deva

“Eng…um…,” Ve tampak malu

Lantas Deva pun mengajaknya masuk ke kamar.

“Jangan macem-macem lu!” ucap Kinal

“Berisik! Deva bawa Ve ke kamar karena ada 2 Cewo disini,”

“Cewo!?” ucap Kinal dan Melody bersamaan

“Cewek-kecowok-cowokan,”

*Brak!

            Deva langsung menutup pintu kamarnya.

“WOY!” Kinal langsung berteriak dan berusaha membuka pintu kamar Deva, begitu juga dengan Melody

“Awas kamu Dev!” ucap Melody

Sementara itu di dalam kamar…

*

*

“Fyuh…emang kampret mereka berdua,”

“Ung…,” Ve tampak duduk dipinggiran kasur itu

“Hmm? Kenapa Ve? Kalau mau makan nanti aku buatin steak deh,”

“Bukan itu Dev…,”

“Huh?”

Ve menarik nafas panjang.

“Aku gak tau, yang aku lakukan ini benar atau salah,”

“Aku telah menghianati keluargaku, tapi aku juga gak mau kalau dijodohkan begitu. Karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai,”

Deva tersenyum lalu duduk disamping Ve.

“Aku sadar kalau yang kita lakukan ini salah, tapi mungkin…,”

“Mungkin seiring berjalannya waktu, mereka pasti bakalan sadar?” lanjut Deva

“Kenapa kamu yakin soal itu Dev,”

“Karena kekuatan pipi tidak akan pernah salah,”

“ISH! Masih aja bercanda yah!” Ve tampak ingin memukul Deva

“EH! Stop-Stop, cuma bercanda aja kali,”

“Hmph!” Ve acuh dan memalingkan pandangannya

“Ngomong-ngomong…kamu…kenal sama…Ki-nal?” tanya Ve

“Yups! Aku juga udah tau tentang kamu sama kak Kinal,”

“Umm…,” Ve tampak membelakangi Deva

“Itu sedikit memalukan,” ucap Ve

“Yeee…kamu kali yang gak peka, dasar pipi!”

“Huh!” Ve langsung berbalik ke arah Deva dengan menggembungkan pipinya

“Dev…,”

“Hm?” Menoleh

Disana Ve terlihat mengusap-usap bibirnya dengan jari telunjuknya sambil memejamkan mata.

“H-Hey…kita baru pulang kan, capek tau,” balas Deva dengan wajah yang sedikit memerah

“HM!” Ve masih memejamkan mata sambil terus menunjukan bibirnya itu

“EK! Um…,” Deva kemudian memejamkan mata dan mendekat

Tangan Deva mulai mengelus pipi Ve.

*BRAK!

“Woi cepetan ke meja makan! Gw udah nyiapin makan malamnya!”

Kinal yang tiba-tiba membuka pintu kamar Deva hanya melihat mereka berdua sedang duduk berjauhan sambil menundukan kepala. Nafas Deva tampak terengah-engah seperti habis berlari sprint.

“Kenapa lo?” tanya Kinal

“Lain kali…ketuk dulu kak,” ucap Deva pelan

“Um, Sorry…kalau gitu cepetan keluar! Daripada makanannya keburu habis,”

“I-iyah…,” balas Deva lagi

Kinal tampak pergi dari kamar Deva dengan membiarkan pintunya terbuka.

“Hihi…kayaknya kamu benar-benar mengharapkan itu ya Dev?”

“Ha-AH!? Nggak kok,” balas Deva

“Kalau gitu aku mau langsung ke meja makan,” Ve beranjak dari kasur

Sementara Deva masih terdiam disana.

*

*

-Meja Makan-

“Dev cepetan duduk! Makanan lu nanti malah dihabisin manusia pipi di pinggir gw,”

“Hey! Siapa yang kamu panggil manusia pipi!” balas Ve namun tampak malu-malu dihadapan Kinal

“Mau kemana Dev?” tanya Melody

“Mandi…,” balas Deva singkat

“Mau ikut?” tanya Deva

“Wah! I-iya aku ikut Dev!” balas Ve

“Aku gak nawarin kamu….Huft…,” Deva langsung masuk ke kamar mandi

“Dih, tadi kan ditawarin mandi bareng,” ucap Ve

“Awas aja kalau kalian sampai mandi bareng…,” ucap Melody sambil menatap tajam Ve

“He-Um…Gak akan Mel,” ucap Ve lagi

“Ya ampun kenapa dia harus mandi dulu dih, padahal makanannya udah jadi,” ucap Kinal

“I-itu sedikit wajar, karena seharian ini dia ada dijalanan,” ucap Ve

“Huh? Tau darimana?” tanya Kinal lagi

“K-Karena…umm…,” Ve tidak menjawabnya dan malah memalingkan pandangannya dari Kinal

“Kita bahas soal itu nanti, yang terpenting sekarang kamu mau gimana Ve?” tanya Melody

“Aku…,”

“Aku gak tau…,” Jawab Ve

“Aku seneng Deva tiba-tiba bawa aku pergi dari rumah, tapi aku juga gak tau harus ngapain setelah ini. Bagaimana kalau keluargaku malah nyariin aku, dan hal yang terburuknya adalah mereka bisa sampai nyari ke sini,”

“Tinggal ngomong aja kalau lo udah punya pacar,” ucap Kinal

“He…,” Ve langsung menatap tajam ke arah Kinal

“Dari dulu pikiran kamu itu gak pernah berubah, itulah kenapa kamu selalu menyelsaikan masalah dengan apa adanya,”

*Gebrak!

            Kinal menggebrak meja itu.

“Gw gak tau apa yang ada dipikiran lo itu, tapi apa yang gw katakan ini memang benar kan! Lo cuma sayang sama Deva kan! Kenapa lo malah memutar balikan fakta!?”

“A-Aku…,” Ve terdiam

*BRAK!

“KALIAN BERDUA RIBUT DI MEJA MAKAN! CEPET KELUAR!” bentak Melody

“WA! S-Sorry mel…,” ucap Kinal

Ve masih terdiam.

“Keterlaluan! Bisa-bisanya kalian ribut disini!” ucap Melody kembali

Sementara itu di dalam kamar mandi…

*

*

“Fyuh…untung gw gak makan dulu tadi. Kalau nggak gw bisa ikutan perang dunia ke 4,”

“Ve memang cewek yang agresif, dan kak Kinal benar-benar cewek yang bernyali dan keliatannya berani menghadapi apapun yang menurutnya itu buruk. Tapi kak Melody…,”

“Mereka belum tau perubahan terakhir dari kak Melody yang sebenaranya, Super Sayian Melody,”

~oOo~

Di malam hari, Ve tampak termenung sambil duduk di teras rumah. Ia duduk sambil memainkan bola kecil ditangannya itu.

“Ekhem!” seseorang dibelakang Ve tampak mencoba untuk mengailhkan perhatiannya

Namun Ve masih tetap diam.

Lantas orang itu datang menghampiri Ve.

“Angin malah gak baik buat lo, mendingan masuk ke dalam,”

“Gak perlu Nal…,”

“Aku masih betah disini…,” Jawab Ve lagi

“A-Ah…soal tadi dimeja makan, gw minta maaf ya,” ucap Kinal

“Gw gak bermaksud untuk ngebentak lu tadi, tapi…,”

“Aku tau Nal, yang kamu katakan itu emang benar. Tapi…,” potong Ve

“Tapi semuanya sudah terlambat, aku gak akan pernah bisa berkata seperti itu di depan orangtuaku,” Jelas Ve

“Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah percaya sama Deva,” lanjutnya

Kinal kemudian mengusap pundak Ve.

“Ayo masuk!” bentak Kinal

“Ha-Ah?” Ve langsung menatap Kinal

“Gw udah banyak menderita karena kehilangan masa lalu gw, dan sekarang gw gak mau kalau sahabat gw itu sakit karena udara malam yang dingin ini,”

“Eng…umm…,” Ve mengangguk

“Er! Gara-gara tadi juga gw harus minta maaf sama Melody,”

“Ya, hihi…,” Ve tersenyum

*WAAAAAAHHHHH!

“EH DEVA!”

Mereka berdua terkejut karena mendengar Deva teriak.

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

5 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 37

  1. cepetan di lanjut ceritanya. Gw setuju kalau deva sama ve. Soalnya dari sekian cewek menurut gw yg bener2 cinta sama deva cuman ve.dia udah berkorban banyak dan ngebuktiin cintanya sama deva.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s