Death Lullaby, Part5

Chapter four

Ada dua hal yang membuatku terkejut, yang tertama adalah reaksi Naomi saat mendengar nama Anin. Apa yang membuatnya begitu takut hingga langsung bertukar tempat dengan Shinta, bahkan Shinta sendiri sama terkejutnya denganku.

“Kenapa Naomi tiba tiba tukar tempat ?” tanya Shinta, yang menanyakan pertanyaan yang sama dengan apa yang kupikirkan.

“Nggak tahu ? aku nggak tahu kenapa Naomi bisa takut,”

“Takut ?”

Hal kedua yang membuatkku terkejut adalah Naomi yang ketakutan. Aku tak pernah melihat Naomi takut sebelumnya,karena Naomi adalah orang paling berani yang kukenal. Naomi tak takut terhadap Anjing galak yang ada di gang belakang Sekolah kami dulu, Naomi tak takut untuk mengikuti uji nyali yang dulu diadakan sekolah, malahan Naomi lah yang menang.

“Bohong lu, Naomi kan nggak takut apapun,” ucap Shinta yang mempertegas rasa terkejutku. Tapi jika nama Anin berhasil membuat orang seperti Naomi ketakutan, ada sesuatu yang belum kuketahui, hal apa yang mungkin membuat Naomi ketakutan ?

“Shin, apa kau tahu sesuatu tentang Anindhita ?”

Meski ingatan mereka berbeda, tapi mungkin Shinta mengetahui sesuatu tentang Anin, sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagiku.

“Anin ? dari klub renang ?”

“Kau tahu sesuatu ?”

“Chris, lu udah macarin Frieska kan ? gue juga tahu lu punya affair sama Ikha, jadi lu ngapain nyari tahu tentang Anin ?”

Tatapan Shinta kepadaku sekarang adalah tatapan yang menghakimi, tajam menusuk. Dia memahami ini dengan cara yang salah, Anin memang membuatku tertarik, tapi bukan seperti yang Shinta kira.

“Aku nyari tahu tentang Anin bukan buat itu,”

“Buat apa ? buat lu tidu…”

“Shin, ini buat Frieska,”

Lagi lagi aku memberikan kebohongan yang sama dengan yang kuberikan pada Natalia, sekali lagi hal itu berhasil membuat seorang gadis menurunkan pertahanannya, Shinta membenarkan posisi duduknya, dia lalu memandangiku sambil menumpukan dagunya dengan tangan kiri, dia sedang menimbang kebenaran dari ucapanku.

“Bohong,” dari nada bicaranya dia tak sepenuhnya tak percaya padaku, dia ingin alasan yang bisa dia percaya.

“Apa kamu merhatiin Frieska akhir akhir ini ? apa kamu merhatiin kalo dia lebih murung dari biasanya ?”

“A…,”Shinta tak menjawab pertanyaanku, karena dari apa yang kuketahui, wanita tak akan terlalu memperhatikan seseorang yang dia kenal sebatas nama. Lagipula wanita itu pandai dalam menyembuyikan perasaan mereka.

“ Aku coba cari tahu kenapa,” aku membuka ucapanku dengan nada yang rendah, aku melakukannya untuk memberi kesan “sedih”, Shinta masih diam, tatapannya berubah dari menyelidik menjadi penasaran.

“Dan ada sesuatu tentang masalah tentang Anin, masalah yang buat Frieska sebagai ketua klub renang merasa bertanggung jawab atau bersalah.” Aku melanjutkan kebohonganku, dan aku berhasil mendapat perhatian Shinta.” Aku nggak tahu apa itu, dan meski aku bukan cowok yang bener, tapi aku peduli terhadap Frieska…jadi tolong bantu aku,”

Pupil matanya membesar yang menandakan dia tertarik dengan ucapanku barusan, aku tak tahu dalam konteks positif atau tidak. Dia menjilat bibirnya yang menunjukan dia ingin mengucapkan sesuatu tapi membatalkan niatnya, dia merapikan rambutnya pertanda dia gelisah, mungkin ada pergulatan batin baginya mendengar alasanku.

Alasanku itu memang sebuah kebohongan, tapi tidak untuk bagian aku peduli dengan Frieska. Aku ingin memecahkan masalah ini, dan setelahnya pergi bersamanya ke photobox, janji kecil yang ingin aku tepati.

“Jadi…buat Frieska ?”

Aku memberikan sebuah anggukan sebagai respon.

“Yang ikut klub renang itu Naomi, jadi gue nggak tahu banyak soal itu,”

“Apa kau yakin…tak tahu apapun ?” aku mengengam tangannya, aku mendekatkan wajahku, menatap matanya erat erat, aku berusaha mendesaknya.

Shinta menarik tangannya dan mundur menjauh, napasnya menjadi berat, dan dia menatapku dengan pandangan berbeda dari sebelumnya.

“ Gue beberapa kali gantiin Naomi di klub renang, tapi satu hal yang gue lihat, Frieska nggak suka kalo ada pacar dari anggota klub, yang datang ke kolam berenang, meski Cuma nganterin,”

“Kenapa ?”

“Ntahlah, tapi ada yang bilang semenjak Anin pernah dijemput pacarnya ke kolam berenang, Frieska ngelarang hal itu,”

“Tapi…”

“Iya, lu sering datang ke kolam berenang kan ?”

Apa yang dikatakan Shinta cukup mengejutkanku, jika benar Frieska melarang anggotanya untuk membawa pacar mereka ke kolam berenang, tapi masih membiarkanku datang kesana, hal itu pasti menimbulkan kecemburuan, atau rasa kesal dari anggota lain. Mereka akan menganggap Frieska bertindak seenaknya, hal itu akan menimbulkan krisis kepercayaan bagi anggotanya.

“Udah berapa lama ?”

“Hmm..dua bulan mungkin,” ucap Shinta dengan nada yang tak yakin.

“Apakah pernah ada masalah, atau ada anggota yang mempertanyakan hal itu ?”

“Ya…,” Shinta menahan ucapannya.

“Tolong,”

“Iya, Anin lah yang memprotes hal itu,”

“Anin ? Anindhita ? kau yakin,”

“Ya…gue lah yang melerai pertengkaran mereka,”

“Bertengkar ? maksudmu mereka…”

“Frieska tak suka Anin memprotes ucapannya, lalu mereka bertengkar, semenjak itu Anin di skors oleh Frieska,”

“Kamu serius ? kamu tak sedang main main terhadapku kan ?”

Aku sadar bahwa aku sudah melewati batas saat raut wajah Shinta berubah ketakutan, aku baru saja membentaknya, aku terbawa emosi. Bodohnya aku, peraturan pertama dalam melaksanakan tugas adalah jangan pernah membawa emosi dalam tugas. Dengan aku yang mendesak dan membentaknya, aku baru saja melakukan kesalahan yang fatal.

“Terserah mau percaya atau nggak ? itu hak lu, gue yakin lu nggak percaya.”

Aku beruntung Shinta belum pergi meninggalkanku, dan dia tak berbalik marah kepadaku. Dia bisa saja melakukannya, karena aku baru saja memperlakukannya dengan tidak sopan. Tapi tidak, dia duduk disana menatapku.

“Frieska pacar lu jadi hal ini pasti mengejutkan buat lu.”

Nada suara Shinta normal, pupil matanya juga berada di ukuran normal, laju napasnya normal, tak ada gesture aneh yang dia lakukan saat bicara, dan dia menatapku. Tak ada tanda tanda yang menunjukan Shinta berbohong, atau mungkin dia pembohong yang sangat, sangat hebat.

Detik itu juga hipotesa yang coba kubuat hancur, jika perkataan Shinta benar, masalah ini jauh lebih rumit dari pada yang kukira. Aku perlu memastikan ucapan Shinta dulu, dan jika itu benar maka mungkin saja, Anin…aku masih belum bisa memastikan, siapa dia didalam kasus ini.

Terlebih jika itu benar, lalu mengapa Frieska berkata dia tak mengenal pria yang ada di foto waktu itu, jika ucapan Shinta benar, harusnya dia tahu lelaki yang pernah mengantarkan Anin. Jika Frieska berbohong, kenapa dia melakukannya, apa gunanya Frieska menyembunyikan fakta bahwa pria itu adalah pacar Anin.

“Baiklah, terima kasih atas bantuannya,”

Aku bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.

“Mau kemana ? nanya langsung ke Frieska ?”

“Tidak, aku harus mencari tahu lagi.”

“Cari tahu apa ? lu nggak percaya sama gue ?”

Dari nada dan ekspresinya, jelas Shinta kesal, dan itu akan buruk untuk mengakhiri sebuah pembicaraan. Aku pun maju mendekat dan mengusap rambutnya, mencoba menenangkannya.

“Maaf kalau kamu pikir aku tak percaya, aku percaya, tapi aku harus memastikan kepercayaanku itu,”

Shinta mendorong tanganku, dan mundur menjauh. Dari ekspresi yang bisa aku baca, dia tak nyaman, atau mungkin gelisah.

“Lu mau ngapain ?  mau coba deketin gue ?”

“Aku, aku… hanya tak ingin mengakhiri pembicaraan kita dengan kau kesal padaku,” jawabku, berusaha tak membuat pemikirannya kepadaku semakin buruk.

“Udah..ah, gue…harus..pergi…bye,”

Shinta membereskan barang barangnya, memasukkan mereka kedalam tas, dan berjalan pergi. Mencium wangi rambutnya saat dia berjalan melewatiku, itu aroma yang menyenangkan, tapi aku tak seharusnya memikirkan itu.

“Shin..” panggilku saat dia belum terlalu jauh.

“APA…” balasnya sedikit berteriak.

“Thank you,”

Dia tak membalas, dia hanya berjalan pergi.  Aku rasa dia tak lagi kesal padaku, karna aku bisa melihat senyum simpul kecil, saat dia berbalik dan pergi. Gadis cantik itu pergi, seperti yang dilakukannya dulu. Melihat punggungnya menghilang, sebuah pemikiran aneh terlintas. Pada siapa aku jatuh cinta dulu, siapa yang menerima perasaanku, dan punggung siapakah yang dulu pergi itu. semua pemikiran itu harus kuhentikan, karena ak harus melakukan sesuatu.

Akan lebih mudah menanyakan langsung pada Frieska, tapi aku tak bisa melakukannya. Pertama ada kemungkinan jika Frieska tak menjawab dengan jujur perkataanku, sebagai bentuk pembelaan diri, juga jika dia benar benar berbohong sebelumnya, dia akan kembali berbohong untuk menutupi kebohongannya yang pertama.

Kedua, dia pasti akan bertanya maksudku bertanya seperti itu, mengapa tiba tiba aku mencurigainya. Mengapa aku tiba tiba bertanya tentang Anin dan pacarnya, dan juga bagaimana aku tahu akan hal itu.

Jadi karena bertanya kepada Frieska bukanlah pilihan, pilihan lainku adalah Ikha, aku yakin dia tahu sesuatu tentang hal ini. Aku mengirimkan sebuah pesan padanya, setelah mendapat balasan, sekali lagi aku pergi ke cafe kucing itu.

pawfe, sungguh sebuah pun dan nama yang buruk untuk sebuah cafe. Aku mengerti maksud dan bagaimana nama itu bisa hadir dan digunakan di dunia ini. Bagaimana mereka mengabungkan kata paw dan cafe, dan alasan kenapa memilih kedua kata tersebut. Tapi jika Bu Rahma guru bahasa inggrisku melihat nama cafe ini, aku yakin dia tak segan segan memberi nilai F-.

Tapi sudahlah, itu tak terlalu penting. Itu hanyalah sedikit lamunanku sebelum, Ikha datang kali ini dengan seragam biasa.

“Kangen ya ?” ucap gadis lucu yang langsung mengelus kucing yang sedang berbaring diatas meja.

“Kau tahu, aku tak perlu menjawab itu,”

“Kenapa ? bilang aja kali kalo kangen,”

“Iya, aku rindu padamu,”

Dia mendekatkan wajahnya, dan memberikan sebuah kecupan dipipiku.

“Kau tahu, kadang aku nyesel nggak ngajak ngomong kamu lebih awal. Kita satu kelas dikelas satu, kamu dulu Cuma berjarak beberapa meja dariku,”kata kata itu meluncur dari bibir yang beberapa detik yang lalu hangat dipipiku, Ikha memandangku, lagi dengan gundah.

Aku menarik dagunya hingga jarak kami dekat, aku dekatkan bibirku ke pipinya dan berbisik di daun telinga miliknya.

“Kembalikan lagi senyum di bibirmu, aku benci saat melihat mereka tertekuk,”semua itu dari semua hal yang bisa kukatakan, tak penting, senyuman indahnya yang penting.

Saat wajah kami masih dekat, dia membalas bisikanku.

“Dari semua hal, kau jatuh cinta pada senyumku. Kau cowok aneh,”

Dan sebelum aku menarik wajahku, aku membalasnya untuk yang terakhir.

“Aku, tak bisa memilih rasa cintaku,”

Dia mundur, dan kami saling memandang. Aku bisa memandang bola mata coklat indah dan senyum menawan itu seharian tapi, bukan untuk itu aku mengajaknya bertemu.

“Jadi ngajakin ketemuan Cuma buat ngombalin aku nih ?”

Dia membiarkan kucing itu pergi, mengembalikan semua perhatiannya kepadaku. Dia merapikan sedikit poninya yang berantakan dengan jari, sambil terus tersenyum padaku, dan aku terjebak semakin dalam pada hal yang membuatku menaruh hati padanya.

“Tidak, tentu tidak. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” jawabku.

“Apa ?”

“Aku ingin tahu, apa benar Frieska melarang pacar dari anggota klub renang ke ruang klub ?”

Aku langsung jujur dengan tujuanku, tak ada basa basi mungkin karena aku percaya kepadanya.

“Meski aku tahu apa jawaban atas pertanyaanmu itu tapi tidak,aku tak akan mengatakannya,” Ikha mengatakan itu semua dengan wajah datar, menghilangkan senyuman yang tadi menghiasi wajahnya, dia melakukan itu seperti tak ada yang salah dalam kata katanya.

“Kenapa ?”

“Frieska…dia temanku, dan aku tak mungkin bicara dibelakangnya,”

“Tapi…”

“Apa yang terjadi diruang klub renang, hanya boleh diketahui oleh anggota klub renang,”

Aku memperhatikan ekspresi dan gerak tubuhnya, apapun yang menandakan dia sedang bercanda atau ingin mengerjaiku. Tapi dia memandangku dengan tatapan yakin, tak ada gerakan mata yang berlebihan, tak ada tanda tanda dia berusaha menahan tertawa, bahunya tegap pertanda dia tak ragu akan ucapannya.

“Apa kau benar benar melakukan ini sekarang ?”

“Melakukan apa ? Chris, aku tak mengerti maksud ucapanmu,”

“Apakah kau marah ? atau…”

“Kenapa kau selalu berpikir masalah ada pada orang lain selain kamu ?”

Perkataannya membuatku merasa bingung dan aneh dengan perubahan sikapnya yang mendadak, beberapa detik lalu dia adalah gadis cantik dengan senyuman tercantik yang kutahu, sekarang wajahnya…dingin.

“Apa yang terjadi ?”

“Tak ada,” kali ini ucapannya benar benar datar, dan ada nada dingin dalam ucapannya itu, seperti aku melakukan sesuatu yang menyinggungnya.

“Apa yang harus kukatakan ? apa yang harus kuucapkan agar kehangatan kembali pada kata kata mu ?”

“Karena aku cinta padamu, maka aku harus membuatmu sadar jika kadang jawaban yang kau cari itu dekat,”

Setelah selesai dengan kata kata yang dingin, dia melanjutkan itu dengan tindakan dingin yaitu pergi tanpa bicara, aku mencoba menahannya tapi dia mengangkat tangannya, menyuruhku berhenti. Dan seperti anjing yang pintar aku menurut, membuatku menjadi seseorang yang bodoh.

Setelah dia keluar dari pintu cafe, dan aku melihat punggungnya menghilang aku dilanda oleh gelombang gundah. Dia baru saja berubah dari sehangat sore hari, menjadi es batu yang kosong.

Aku mencoba memikirkan perkataannya sebelum pergi, mencoba paham rangkaian kata yang mungkin merubahnya secepat Wally mencoba menarik Barry dari speedforce. Apa dia tahu apa yang kulakukan selama ini, seperti Frieska yang tahu sedikit tentang hal yang kusembunyikan darinya, apa mungkin Ikha juga demikian.

Bagian mana dari rahasiaku yang diketahui oleh Ikha, Klub hamster itu, kasus Anin yang coba ku cari tahu jawabannya, atau yang paling buruk tentang gadis lain disekolah. Jika itu benar apa ini sebuah perpisahan ? ini terlalu baik untuk sebuah perpisahan bukan. Jika dia ingin melemparku dengan gelas yang ada diatas meja pun mungkin tak cukup.

Lalu apa maksudnya dengan kata cinta yang dia ucapkan, apa itu bermaksud menyakitiku untuk terakhir kali, seperti menaikkan harapanku lalu menjatuhkannya dengan pergi. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya, begitu banyak pertanyaan dan aku tak punya jawaban untuk satupun, belum lagi rasa kosong yang kurasakan.

“Maaf mas ingin pesan apa ?” ucap mbak pelayan yang terlambat datang.

“Maaf mbak, saya pulang aja,” ucapku menolaknya.

Mbak pelayan itu menatapku sebentar, mungkin dia menyaksikan aku dan Ikha, mungkin dia berpikir jika aku baru saja diputuskan hubungan oleh Ikha dan sekarang merasa sedih. Mata mbak itu menerawangku sebentar sebelum akhirnya mengangguk, memberi sinyal kalau tak apa kali ini aku pergi tanpa memesan apapun.

“Permisi,”

Aku bangkit lalu pergi.

-/-

Karena aku tak bisa mendapatkan jawaban apapun yang membantu dari Ikha, aku mencari cara lain untuk mendapatkan bukti dari ucapan Shinta. Sekolahku memiliki cctv disetiap ruangan, aku sempat berbicara pada ketua security sekolah dan meminta izin untuk melihat rekaman cctv, tapi itu ditolak dengan alasan butuh izin khusus untuk melihat rekaman cctv, sebuah izin yang bahkan Melody tak bisa berikan padaku.

Dengan cara legal bukan lagi pilihan, aku harus beralih ke opsi lain. Dan sekarang aku duduk satu meja dengan opsiku itu. Dengan tatapan mata yang terus berganti antara wajahku dan layar laptopnya, rambutnya sudah acak acakan, dan seragamnya hampir tak lagi mirip seragam sekolah, banyak bercak noda makanan, debu, mungkin oli, dan bercak kehijauan yang aku tak tahu asalnya, jika bukan karena lambang sekolah dibagian lengan aku tak akan bisa mengenali apa yang dipakainya sebagai seragam.

“Jadi lu mau rekaman cctv ?” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

“Iya,”

“Tapi ini kan kasus lu Chris, dan karena gue udah bantu lu nyari info soal Anin, gue nggak punya kewajiban lagi bantu lu, iya kan ?”

Sagha mengingatkanku lagi dengan peraturan kedua klub ini, yang berbunyi setiap anggota klub harus membantu anggota lain satu kali untuk tiap kasus.

“Gimana kalo kau anggap ini bantuan sebagai kawan ?” ucapku mencoba bernegosiasi.

“Nggak gue lagi ngerjain sesuatu,”

“Ayolah,”

“Chris peraturan kelima,”

Kali ini dia mengingatkanku pada peraturan kelima, dan jika Sagha mulai mengunakan peraturan sebagai alasan, akan percuma terus terusan memintanya.

Dengan Sagha juga bukan pilihan, aku harus beralih kepilihan yang terakhir, pilihan yang berusaha tak kupilih. Tapi dengan aku butuh bukti untuk memastikan ucapan Shinta, aku harus membuang egoku, dan meminta bantuannya.

Aku berdiri didepan pintu yang bertuliskan klub IT, ini adalah Pilihan terakhirku. Aku sangat berharap Sagha mau membantuku, tapi bocah gula itu menolak dan disinilah aku. Jika saja aku tak butuh rekaman cctv itu, atau ada cara lain mendapatkannya, aku tak perlu ada disini, Menelan egoku.

Aku mengetok pintu ruangan itu, kaki tak bisa berhenti gelisah karna sejujurnya aku ingin melangkah menjauh dari tempat ini. Aku memandangi pintu itu, berharap itu tak akan terbuka sehingga aku punya pembenaran untuk pergi dari sini. Mungkin dia sedang makan siang, pikirku mencoba memikirkan alasan dia tak ada diruangannya sekarang, itu dan dia tak datang sekolah atau diserang oleh penjahat antar dimensi, aku tak tahu aku hanya tak ingin bertemu dengannya.

Pintu terbuka, berdirilah satunya mahluk yang keberadaannya kupertanyakan, cinta pertamaku Viviyona apriani.

“Hei, apa yang mungkin membawamu kemari ?” ucap Yona.

Dia masih secantik dulu, dengan mata bulat bola mata sehitamnya yang menatapku dengan tajam, sedikit senyum dibibir tipis rasa ceri miliknya, hanya rambutnya yang berbeda dari yang ku ingat mereka sekarang berwarna coklat dan panjang sebahu.

Dia memakai rompi hitam yang melapisi seragamnya, rompi yang hanya dipakai oleh anggota klub IT, rok sekolah yang dipakainya cukup pendek membuatku bisa menatap kaki jenjang putih miliknya, kaos kaki dipakainya cukup tinggi tak bisa menutupi itu.

“Hei pesek,” jawabku.

“Apa itu rayuan barumu ? apa kau masih mencoba “Get in my panties ? bukankah kau sudah punya Frieska, dan gadis gadis lain, Chris apa kau…menjijikkan” lidahnya masih setajam dulu, senyuman sinisnya makin lebar, membuat eskpresinya bukan lagi menilai tapi menghakimi.

Bukan lidah tajamnya yang membuatku tak ingin datang kemari, atau sifatnya yang menghakimiku, tapi fakta bahwa aku jatuh cinta padanya. Bahwa aku pernah mencoba menmbuatnya jatuh cinta padaku, dan bagaimana aku tetap mencoba meski dia telah menolakku. Semua itu hingga hari, membuatku tak ingin datang kemari dan membangkitkan lagi rasa cinta yang telah coba kukubur dalam dalam.

“Tidak, aku ingin meminta tolong kepadamu,”

“Minta tolong ? ayolah Chris, kalau mau bohong yang bagusanlah,” Yona memandangku, mungkin mencoba menilai apakah aku benar benar serius.”Serius ?”

Aku hanya mengangguk, sebagian karna itu lebih mudah dilakukan, sebagian karna aku terlalu sibuk terpesona olehnya.

“Ya udah masuk,”

Aku mengikutinya masuk dan ruangan itu tak berbeda dari apa yang kuingat. Beberapa komputer yang berjajar didinding, kecuali satu yang merupakan komputer milik Yona. Sebuah meja panjang dengan beberapa komputer yang belum selesai dirakit, beberapa kotak berisi bagian komputer yang belum dipasang. Meja itu biasa digunakan mereka untuk merakit, atau memperbaiki komputer. Ruangan ini mirip dengan lab komputer milik sekolah, hanya spesifikasi komputer yang jauh lebih bagus, dan kursi yang jauh lebih nyaman yang membuatnya berbeda.

“Kemana yang lain ?” tanyaku yang melihat keadaan yang sepi karena tak ada anggota lain.

“Aku sedang mengerjakan progam baru, jadi aku meliburkan klub sampai minggu depan,”

“Oh…”

“Jadi apa yang kau inginkan ?”

Aku mengingikanmu Yona, aku ingin melakukan banyak hal bersama dan kepada dirimu. Tentu aku tak bisa mengatakan itu, dia langsung memintaku pergi jika aku mengatakan hal itu. Yona adalah beberapa orang yang tahu kebenaran tentang OSIS, dan keberadaan klub suruhan mereka. Yona sering menjadi informan bagi OSIS, hingga akhirnya berhasil menemukan kebenaran dibalik klub hamster. Melody membiarkan Yona mengetahui hal itu selama dia bisa menjaga rahasia.

“Aku ingin melihat rekaman cctv sekolah,”

“CCTV ? kau tahu itu informasi rahasiakan ? lagipula kau bisa memintanya pada Melody, jika itu untuk memecahkan kasus yang diberikan OSIS.”

Pada kasus biasa aku pasti sudah melakukannya, tapi aku tak yakin Melody akan senang mendengar jika aku butuh rekaman itu karena aku curiga dengan adiknya. Aku mengelus daguku, luka yang kurasakan pagi ini. Mungkin Melody tak akan sebaik itu lagi.

“Aku rasa tidak, karena itu aku butuh bantuanmu.”

Pandangan Yona kembali berubah menghakimi, apa dia berpikir ini semua hanya alasan yang aku buat agar bisa berdua denganya.

“Baiklah, ruangan mana yang ingin kau lihat ?”

“Klub renang,”

“Klub renang ?” Suara Yona meninggi.

“Aku tak punya maksud apapun, aku hanya ingin memastikan satu hal,”

“Jelaskan hal apa yang ingin kau pastikan dengan rekaman CCTV klub renang,”

“Aku ingin memastika informasi yang kudapat tentang Frieska,”

“Oh, pantes kamu nggak berani minta rekamannya sama Melody,”

Akhirnya Yona mulai menekan keyboard komputernya, aku duduk disebelahnya, melihat bagaimana jarinya mulai bergerak intens mencoba membobol sistem kemanan sekolah yang sebenarnya dibuat oleh Sagha.

“Sial, sistemnya baru diupgrade Sagha bikin susah aja. Lagian apa yang mau kamu pastiin ? Frieska selingkuh,” ucap Yona tanpa melepas pandangannya dari layar.

“Nggak hanya apakah dia benar benar pernah terlibat pertengkaran dengan anggota lain,” jawabku meninggalkan detail tentang Anin.

Sistem yang dibuat Sagha cukup merepotkan Yona yang terlihat kesal saat “Access denied” atau “this action cannot be perform” muncul dalam kotak merah dilayar. Tapi Yona yang tak suka kalah terus mengetikkan perintah pada komputernya, hingga akhirnya daftar video CCTV sekolah muncul dilayar. Yona berhasil.

“Good job,” ucapku memberi selamat.

Yona hanya menaikkan jempolnya sambil bersandar pada bagian belakang kursinya. Aku mengalihkan pandanganku ke layar, dan mulai memainkan rekaman video satu persatu. Aku mempercepat adegannya, mencoba mencari apakah benar Frieska pernah melihat Anin diantar oleh pacarnya, atau dia pernah berteingkar dengan Anin.

“Udah ketemu ?”

“Masih dicari,”

Saat aku pikir ini semua sia sia, karena sudah setengah dari video kuputar dan aku masih belum menemukan apa yang aku cari. Rekaman bertanggal 17 desember lah yang kucari, aku melihat Anin datang bersama seorang pria. Aku mengenali pria yang bersama Anin dari foto yang ada dilokernya, Aldi.

Video terus berlanjut dan Frieska datang menghampiri Anin setelah Aldi pergi. Mereka terlibat pembicaraan serius, tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Apa ada audio dari rekaman CCTV nya ?” tanyaku pada Yona.

“Nggak, ini Cuma CCTV biasa.”

Aku kembali melihat rekaman yang kuputar dilayar. Dari gesture mereka berdua menunjukan bahwa pembicaraan itu sudah berubah menjadi pertengkaran. Anin mendorong Frieska dan Frieska membalas dengan sebuah tamparan. Beberapa anggota klub datang melerai dan Shinta lah yang datang pertama.

Rekaman ini memastikan bahwa memang pernah ada pertengkaran antara Frieska dan Anin. Juga membuktikan bahwa Frieska berbohong padaku waktu itu. sekarang yang harus kulakukan adalah mencari tahu kenapa. Lalu apa hubungan antara ini semua dengan lagu kematian yang meneror sekolah ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s