Love Is You (1)

“Ku kan selalu berada disisimu, mencintai dengan tulus. Cintaku sempurna bila denganmu, dan hanya kamu yang ku inginkan bersamaku, selamanya..” -Y.A-.

“Kau yang selalu berada disisiku, kau yang selalu berikan aku bahagia. Aku berharap kamu lah yang menjadi cinta sejatiku, menemaniku sampai akhir hayatku.” -C.Y-.

~oOo~

Ku dorong benda kaca berbentuk persegi dengan tulisan open di tengahnya. Bisa dibilang inilah rutinitasku, seminggu sekali pasti aku menyempatkan untuk datang ketempat ini. Aroma harum masakan mulai menusuk hidungku saat melangkah kedalam restoran kecil ini. Meskipun restoran kecil tapi makanan yang disajikan disini benar-benar enak, cocok dengan lidahku.

Tembok berwarna coklat terang berhias gambar kupu-kupu kecil berwarna emas, terlihat sangat indah, tidak terlalu mencolok dan enak dipandang. Meja-meja berbentuk lingkaran dengan empat kursi yang tersusun didalamnya juga tak terlalu banyak, bila dihitung munkin hanya dua belas meja saja.

Aku pun memilih duduk di meja samping jendela yang mengarah ke sebuah jalan samping restoran. Meja nomor tujuh ini tempat favoritku. Baru beberapa saat duduk, tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiriku sambil membawa sebuah catatan serta buku berwarna hitam, biasanya itu buku daftar menu restoran ini.

“Mas Yoga, mau pesan yang seperti biasa atau ingin coba menu lain?” tanya wanita itu.

“Yang biasa aja Mba, minumnya lemon tea aja deh.”

“Baik kalau begitu, spaghetti tuna chili minumnya lemon tea.” Wanita itu mencatat menu yang biasa aku pesan di catatannya. “Kalau begitu mohon tunggu sebentar.”

Wanita itu pun pergi meninggalkan mejaku, dan sekarang aku disini duduk sendiri dimeja nomor tujuh. Ku ambil handphone yang ditaruh di saku celana sebelah kanan, lalu ku cari sebuah aplikasi streaming musik yang biasa aku pakai. Tak lupa aku sambungkan headset putih kesayanganku ke handphone lalu ku pakai headset itu. Playlist akustik mungkin cocok untuk malam ini.

Selagi menunggu aku pun memperhatikan seisi restoran ini, ada beberapa orang yang duduk dimeja depan, lalu di ujung kanan sana juga ada beberapa anak SMA yang sedang berkumpul masih dengan seragam mereka. Mungkin mereka baru pulang les, lalu menyempatkan makan malam bersama direstoran ini.

Restoran ini bisa dibilang cocok untuk kantung pelajar maupun mahasiswa. Maka tak aneh bila melihat pemandangan para anak SMA ataupun mahasiswa lebih sering terlihat di restoran ini daripada para pekerja kantoran.

Dari kejauhan terlihat seorang pria membawa nampan dengan sepiring makanan dan segelas minuman diatasnya, nampaknya itu pesananku. Benar saja ia datang kemejaku dan meletakan sepiring spaghetti tuna chilli beserta segelas lemon tea. Harum sekali aromanya, nampaknya malam ini lidahku akan dimanjakan setelah seminggu lamanya tak menyantap hidangan ini.

Setelah cukup lama berdiam ditempat ini satu persatu pelanggan mulai meninggalkan restoran, jam pun menunjukan pukul sembilan malam sebentar lagi nampaknya tempat ini akan tutup. Setelah selesai membayar aku pun berniat meninggalkan tempat ini juga. Saat ingin membuka pintu keluar, tiba-tiba terlihat seorang gadis masuk kedalam restoran dengan kepala tertunduk, ia pun menabrak bahu ku lalu duduk disebuah meja.

Gadis itu duduk di meja nomor delapan, tepat di belakang meja yang tadi kutempati. Ia duduk dengan menempelkan kepalanya diatas meja, nampaknya ia menangis, tadi sempat kulihat air mata mengalir dipipinya.

Seorang pegawai restoran pun menghampirinya, dari gerakan tubuhnya yang menunjuk-nunjuk pergelangan tangan ia mungkin mengatakan kalau restoran ini sebentar lagi akan tutup. Tapi gadis yang baru masuk itu tak menjawabnya.

Entah mengapa hati ku trenyuh, nampaknya ia sedang dalam masalah berat. Aku pun menghampiri pegawai restoran itu dan mencoba bernegosiasi dengannya. Beruntung, pegawai restoran itu mengijinkan gadis itu diam disana sebentar. Aku pun mengambil kursi dan duduk persis didepan gadis itu.

Kupesan satu hot lemon tea, sambil menunggu gadis itu puas menumpahkan segala emosinya. Terdengar ia masih menangis sesenggukan, mungkin kalau masih ada pengunjung disini dan melihat kami, mereka bakal menyangka kalau kami ini sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Kemungkinan besar aku lah yang akan di cap jelek oleh mereka, karna tega-teganya membuat seorang gadis menangis.

Kurang lebih setengah jam berlalu, lemon tea miliku pun telah habis. Kini gadis itu sudah mulai berhenti menangis, ia perlahan mengangkat kepalanya dan mata kami saling tatap. Matanya hitam pekat, rambutnya panjang dengan model poni rata, entah mengapa ia terlihat sangat menarik, terimakasih Tuhan sungguh indah ciptaan-Mu ini. Buru-buru ia kembali menunduk dan mengelap air mata serta merapikan rambutnya yang sedari tadi berantakan. Kupanggil seorang pelayan dan kupesan segelas teh hangat.

Gadis tadi hanya menunduk, ia tak kembali mengangkat kepalanya. Sampai akhirnya seorang pelayan yang membawakan teh hangat datang ke meja kami. Suara pelayan itu mencuri perhatian sang gadis.

“Silahkan satu gelas teh hangat nya.”

“Tenang, aku yang bayar minumannya, silahkan diminum dulu,” kataku.

Gadis itu tak menjawab, ia hanya mengambil gelas itu dengan kedua tangannya. Ia genggam sebentar, namapaknya ingin merasakan kehangatan dari teh yang tadi ku pesan, setelahnya ia pun meminum teh itu.

“Terimakasih,” katanya.

“Sama-sama.”

Ia pun hanya menunduk sambil memperhatikan segelas hot lemon tea yang digengamnya. Tiba-tiba seorang pegawai restoran ini kembali menghampiri kami berdua. Ia mengatakan kalau restoran ini akan tutup, para pegawainya pun beberapa sudah meninggalkan tempat ini juga.

“Baik, kami akan pulang, terimakasih untuk waktunya,” kataku.

“Sama-sama, Mas Yoga.” Pegawai itu langsung pergi meninggalkan-ku dengan gadis ini dan kembali ke dapur.

“Hey, restoran ini mau tutup, gimana kalau kamu pulang ke rumah? Lagian udah malam juga,” kataku kepada gadis itu.

Ia hanya mengangguk kemudian beranjak dari kursinya dan pergi menuju pintu keluar, aku mengikutinya dari belakang, nampaknya ia akan baik-baik saja. Saat di parkiran restoran, kami berdua berpisah. Aku pergi menuju mobilku sementara dia terus berjalan menuju jalan raya depan restoran, mungkin gadis itu berniat menunggu taxi. Ku putuskan untuk menunggu dia sebentar, paling tidak memastikan gadis itu aman.

Sudah sepuluh menit menunggu gadis itu belum beranjak dari tempat tadi, sementara para pegawai restoran pun sudah pulang. Hanya tersisa mobilku saja di parkiran ini, sebelumnya sih sempat ada beberapa motor yang terparkir milik para pegawai restoran. Apa aku temui saja gadis itu dan menawarkan untuk mengantarkannya pulang? Ya sepertinya itu bukan ide yang buruk, kasian juga gadis cantik seperti dia kalau pulang sendirian malam-malam begini.

Akhirnya kunyalakan mesin mobilku, pelan-pelan ku injak pedal gass hingga akhirnya mobil ku berhenti disamping gadis itu. Ku buka kaca sebelah kiri, ku lihat gadis itu dan ia pun balas menatapku.

“Mau aku anter pulang?” Dia tak menjawab, malah memalingkan wajahnya. “Daripada nunggu taxi lama.”

Gadis itu tak menjawab, apa gadis secantik ini bisu? Bisa saja sih, tapi kayanya ga mungkin. Terpaksa akupun keluar dari mobilku dan berjalan ke arahnya. Pintu mobil sebelah kiri aku buka, gadis itu menatap ku.

“Ayo, tenang aja gratis kok, kamu bisa percaya sama aku.” Ya, aku tak tahan dengan kelakuannya, bisa bahaya kalau dia lama-lama diam disini.

Akhirnya gadis itu masuk kedalam mobilku dengan sendirinya. Setelah ia masuk ku tutup lagi pintunya, lalu berjalan memutari mobil dan masuk melalui pintu sebelah kanan. Mobil pun melaju meninggalkan restoran itu, gadis ini masih saja terdiam. Akupun berdehem sedikit, dan ia menengok ke arahku.

“Sorry, kalau boleh tau rumah kamu dimana?”

“Dari perempatan sana belok kanan, masuk perumahan.” Akhirnya dia mau bicara juga.

Gadis itu masih saja duduk terdiam dengan tangan yang ditaruh diatas pahanya. Emm… kenapa ia harus memakai dress seperti itu, mana memperlihatkan paha mulusnya lagi, errr. Buru-buru kutepis pikiranku itu.

Kulihat kembali wajahnya, ia hanya menunduk sibuk dengan pikirannya sendiri. Nampaknya sebelum kami berdua bertemu direstoran ia mengalami kejadian yang sangat menyakitkan, diputusin pacar mungkin?

Problem anak muda sekarang banyaknya seperti itu bukan? Bukannya sok tau, tapi memang kenyatannya begitu, beberapa teman sekolahku pun kadang seperti itu. Diputusin pacar, lalu bapernya berhari-hari.

Saat melalui portal komplek gadis itu memberitahu rumahnya. Tidak jauh dari pintu masuk perumahan, mungkin hanya dua ratus meter saja. Sampai akhirnya kami berdua berhenti disebuah rumah berwarna putih dengan pagar hitam.

“Disini?” dia mengangguk.

Akupun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Setelah ia keluar ia mengucapkan terimakasih, lalu pergi masuk kedalam rumah.

~oOo~

Rutinitas setiap bangun tidur untuk anak jaman sekarang mungkin mengecek handphone mereka. Itu juga yang dilakukan gue kali ini, baru bangun tidur langsung kuraih handphone yang tergeletak diatas meja.

“Ga, jemput gue ya, males bawa motor.”

“Lanjut ke rumah gue Ga,” langsung datang satu pesan baru yang isinya mirip dengan pesan sebelumnya.

Pesan-pesan itu berasal dari sebuah grup bentukan salah satu temanku. Grup ga penting, sudah berapa kali aku keluar dari grup itu dan ujung-ujungnya tetap di invite lagi.

“Emangnya gue babu lo pada?” balasku.

“Please Ga, gue males bawa motor nih,” kata Vicky, anak yang chat pertama kali tadi.

“Suruh Farel kek, dia bawa mobil kan biasanya,” kataku.

“Nope, rumah Vicky sama Ari ga searah, kan lu yang searah sama mereka, lagian gua udah ada Edo yang nebeng,” jawab Farel yang tiba-tiba ikutan nimbrung.

“Iya-iya, entar gua jemput lo pada.” Ya dengan terpaksa aku menuruti keinginan Vicky dan Ari, iya terpaksa doang.

Akhirnya ku letakan kembali handphone ku diatas meja. Grup yang bernama jomblo jomblo bahagia 4 itu emang merepotkan. Ah iya, empat disitu tuh artinya udah empat kali ngebuat grup ini. Dulu namanya emang jomblo jomblo bahagia doang, terus gua keluar, eh ga  lama di invite ke grup baru namanya jomblo jomblo bahagia 2, nyusahin emang.

Saat akan pergi ke sekolah sesuai permintaan Vicky dan Ari, aku pun menyimpang ke rumah mereka dahulu. Pertama rumah Ari yang jaraknya ga begitu jauh dari rumahku. Keluar perumahan, tinggal lurus lewatin satu perempatan doang dari sana ga jauh rumahnya Ari, persis pinggir jalan.

“Akhirnya datang juga,” kata Ari yang baru masuk kedalam mobil.

“Nyusahin, kenapa lo ga bawa motor coba?” tanyaku.

“Males,” katanya sambil nyengir seperti kuda, menjijikan.

Setelah menjemput Ari, mobil pun langsung bergegas ke rumah Vicky. Padahal ini anak rumahnya bisa dibilang deket sama sekolah, cuma satu kilometer doang.

Setelah sampai di parkiran sekolah, tidak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam baru juga tiba dan parkir disamping mobilku.

“Baru dateng juga kalian?” kata seorang cowok yang baru keluar dari mobil itu, Farel orangnya.

“Padahal rumah lebih deket lo lo pada,” sambung Edo yang baru juga keluar dari mobil Farel.

“Nih lama nungguin si Vicky,” balas gue.

“Ya sorry, udah yuk ah cabut ke kelas,” kata Vicky.

“Gue ke perpus bentar ya, ngembaliin buku,” kata Edo.

“Ok, kita duluan ke kelas,” kata ku, kami berempatpun pergi ke kelas masing-masing

“Eh Ri!” cowok berkacamata itu menoleh kepada Vicky yang tadi memanggilnya, “diem mulu lo, sakit perut hah?”

“Lagi baca artikel doang,” jawab Ari.

Kebiasaan Ari tiap pagi emang gitu, baca artikel yang dipublish disebuah website online. Isinya palingan berita yang lagi update.

Aku dan Vicky pergi ke kelas XI Science 3 sementara Ari dan Farel ke kelas XI Science 2. Yup, waktu naik ke kelas sebelas kita berlima pisah, tapi masih tetap tetanggaan lah kelasnya. Ah iya, Edo juga kelas Science3 sekelas denganku.

Bel sekolah pun berbunyi, hampir semua murid sudah berkumpul didalam kelas. Pagi ini seperti biasa, kelas sedang ribut-ributnya, maklum masih pagi tenaga masih banyak dan yang utama adalah guru yang mengajar belum datang.

“Guys… aku dapet WA dari Bu Indah, katanya dia ga akan masuk, ada tugas tapi suruh ngambil di ruang piket,” kata seorang cewek berambut pendek, Viny orangnya. Yup dia ketua kelas di XI Science 3.

“BEBAS! Langsung ke lapangan yuk, minjem bola futsal dulu,” teriak seorang cowok dari pojok kanan kelas, itu Vicky.

“Ya elah Ky, masih pagi tau udah mau keringetan aja,” kata Edo.

“Ya elah, kan biar sehat,” jawab Vicky, “Ga, lu mau ikut gak?”

Gue cuma menggeleng, dan kembali menikmati lagu lewat earphone yang tersambung ke handphoneku. Playlist berjudul akustik dari sebuah aplikasi streaming musik yang kupilih saat ini.

Gaduh-gaduh pun perlahan mulai berkurang, nampaknya Vicky dan beberapa anak lain sudah pergi meninggalkan kelas. Ku lihat sekeliling, Edo masih ada di kursi depan, membaca sebuah komik yang ia bawa dari rumah. Beberapa murid cewek juga sudah pergi meninggalkan kelas, kalau boleh aku tebak, kantin tujuan utama mereka.

Kayanya ini waktu yang pas banget buat lanjutin tidur. Baru saja terpejam tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Bukan murid dari kelasku, suaranya aga berat, mirip seorang guru yang ku kenal. Saat ku angkat wajahku benar saja, sudah ada seorang guru dengan badan gemuk, Bu Lia, bagian kesiswaan.

“Loh kok kelas kosong gini?” kata Bu Lia.

“Ga ada gurunya Bu, lagi pada ke kantin palingan,” kata Viny sang ketua kelas, berani juga ya dia ngomong begitu.

“Haduh kalian ini, sudah dapat tugas?” tanya Bu Lia.

“Sudah Bu,” jawab Viny.

“Sudah selesai?” Viny menangguk.

“Itu di meja guru tugas-tugasnya Bu.”

Tunggu sejak kapan tugasnya sudah selesai, padahal dikasih tau juga belum. Seingat ku tumpukan buku yang ada didepan itu adalah tugas matematika kemarin, hanya saja belum diambil oleh pemilik-pemiliknya. Pinter juga ini ketua kelas ngelesnya.

“Ya sudah, ini ada murid baru tadinya ibu mau langsung kenalin, tapi murid-murid dikelas cuma segini,” kata Bu Lia.

“Suruh masuk aja Bu,” kata Viny.

“Cewek atau cowok Bu?” tanya seorang murid cowok di meja paling depan dari barisanku.

“Cewek, yaudah ibu suruh masuk aja ya anaknya,” kata Bu Lia.

~P.o.V C.Y

Hahhh…. deg deg-an, ok tenang. Yup ini bukan kali pertama kamu pindah sekolah. Dulu waktu SD aku pernah pindah sekolah gara-gara kerjaan orangtuaku, dan kali ini terulang kembali. Santai, seperti biasa kamu tinggal perkenalkan diri kamu, berusaha bersikap baik dihari pertama agar dapat teman. Ok Yupi, kamu harus tenang.

“Hey… Cindy, cepat kemari.” Seorang guru bertubuh gemuk itu kembali memanggilku, kalau tidak salah namanya Bu Lia. “Ayo cepat kemari.”

“Ah iya Bu.”

Aku pun mulai melangkah kedalam kelas Science 3 yang berisikan murid-murid yang setiap hari akan ku temui sampai lulus dari sekolah ini. Katanya sih kalau udah kelas sebelas, waktu naik ke kelas dua belas teman sekelasnya bakal sama, kata kepala sekolah sih tadi gitu.

Aku pun masuk kedalam kelas Science 3, berjalan mengekor dibelakang Bu Lia. Saat sudah masuk hanya ada satu kata yang pas untuk menggambarkan kelas ini, SEPI! Iya sepi banget, masa cuma ada sepuluh orang dikelasnya, padahal aku liat kelas sebelah kayanya ada tiga puluh orang. Apa ini kelas elit?

“Cindy, perkenalkan diri kamu.” Aku mengangguk.

“Halo semua, nama aku Cindy Yuvia, kalian bisa panggil aku Cindy atau Yuvia boleh juga Yupi,” kataku.

“Yupi aja deh, lucu!” kata cewek berambut pendek, aku tersenyum kepadanya, kayanya dia anak yang baik.

“Aku pindahan dari Jakarta, salam kenal semuanya.”

“Ah iya Cindy, kelas ini sepi bukan karna muridnya cuma segini, sisanya pada diluar maklum guru yang ngajar katanya ga masuk.” Aku mengangguk tanda paham. “Ah iya Viny bantu carikan dia tempat duduk.”

“Siap Bu!” Oh jadi cewek berambut pendek itu namanya Viny.

“Kalau gitu saya tinggal ya Cindy, semoga betah dikelas ini.” Aku tersenyum kepada Bu Lia.

“Hey Yupi! Sini duduk sebelah aku aja, kosong kok,” Viny kembali memanggilku.

Aku tesenyum ke arah Viny dan melangkah ke mejanya, duduknya dimeja ketiga barisan paling kanan persis sebelah tembok, favorit!

“Kenalin, aku Ratu Vienny, kamu bisa panggil aku Viny.” Dia mengulurkan lengannya, tentu aku sambut dengan hangat.

“Cindy Yuvia.”

“Aku panggil kamu Yupi aja ya,”

“Boleh kok,” kayanya aku bakal berteman baik dengan Viny.

Setelah aku duduk, beberapa murid yang ada dikelas menghampiriku, mereka mengajaku berkenalan. Ada Gracia, Desy, Bagas, Aldy, banyak deh. Meskipun masih bisa dihitung pake jari sih hahaha. Tapi aku belum berkenalan dengan dua cowok diujung barisan sana, yang satu lagi asik baca komik, yang satu tidur, ya sudah lah nanti ku ajak kenalan. Bukannya apa-apa tapi aku cuma pingin kenal teman sekelasku saja, untuk akrab atau engganya ya gimana nanti.

“Eh Yupi, kantin yuk beli cemilan,s ekalian ngajak kamu keliling-keliling,” kata Viny.

“Boleh deh, yuk,” kataku.

Akhirnya aku dan Viny pun meninggalkan kelas sepi itu, haha konyol juga sih sepi banget kelasnya. Tapi dikantin kok rame juga padahal ini masih jam pelajaran. Viny bilang ada yang lagi pelajaran olahraga, mungkin praktiknya udah beres jadi pada ngumpul dikantin, beberapa juga ada anak kelas science3.

Saat di kantin Viny membeli beberapa snack seperti keripik, sedangkan aku membeli roti bakar dan segelas susu, maklum belum sarapan. Baru saja hendak mencari tempat duduk tiba-tiba seorang cewek menghampiri Viny.

“Kamu disuruh ambil tugas Vin di ruang piket.”

“Ok thanks ya, aku kesana langsung,” jawab Viny. “Itu anak kelas kita, Acha namanya.”

Akupun mengikuti Viny keruang piket, tidak jauh ternyata dari kantin. Viny pun masuk kedalam ruangan itu, sedangkan aku berdiam diri diluar. Kulihat sekitar, suasana sekolah ini enak juga, beberapa tanaman diletakan di pot yang ada di lorong kelas. Ada taman juga nampaknya ditenga-tengah bangunan ini.

Sekarang aku sedikit paham, bentuk sekolah ini bagaimana. Di depan setelah gerbang tersedia lapangan cukup luas, tempat upacara bendera mungkin karna ada tihang bendera. Dari gerbang belok kiri, tersedia parkiran motor dan mobil. Kalau ngelewatin lapangan kita masuk gerbang kecil lagi dan udah berada dibangunan sekolah, bentuknya persegi ditengahnya ada taman yang dikelilingi kelas-kelas gitu. Jadi didepan kelas itu ada taman.

Nah kalau kelas aku barusan diluar bangunan utama yang berbentuk persegi ini, oiya bangunan utama ini ada dua tingkat jadi ya gitu deh luas juga. Tapi kalau kelas aku ada disebelah kiri dari bangunan utama, berjajar bersama kelas lainnya. Ada enam kelas dengan dua tingkat, tiga dibawah tiga lagi diatas.

Kalau sebelah kanan dari bangunan utama ada barisan ruangan yang ternyata ruangan eskul. Oiya deket parkiran juga ada gedung olahraga, keren ini sekolah kayanya aku ga salah pilih sekolah. Hahaha gila ya aku udah hapal banget sama denah sekolah ini.

“Yup, kelas yuk,” kata Viny yang baru keluar dari ruang piket.

“Yuk.”

“Oiya tadi serius banget liat denah sekolahnya.” Aku cuma tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihku, hahaha. Sekarang tahu kan penyebab kenapa aku hapal banget sama denah sekolah ini, ya aku tadi liat gambar denahnya yang ditaro samping ruang piket hahaha.

BRUKKK!!!

“Duh!”

“Liat-liat dong!”

“Lah kok jadi aku, kan dia yang nabrak.”

Terjadi keributan didepanku, suara Viny itu. Duh sakit banget lagi, pake jatuh segala, tunggu-tunggu minumanku?

“Yah basah.” Sial minumanku tumpah, dan sekarang seragamku basah! “Errr…. Kalau jalan liat liat dong!” Tanpa sadar emosiku tersulut.

“LOH?! Kan situ yang nabrak kok saya yang salah?” cowok itu kembali membela, tunggu-tunggu wajahnya, kaya familiar. “Eh bentar!”

Pandangan kami berdua bertemu, kita berdua sama sama diam, aku mencoba mengingat siapa dia. Sial wajahnya sangat familiar tapi aku lupa melihatnya dimana!

“Udah sana, husss husss pergi!” usir Viny.

Viny mendorong-dorong cowok itu untuk pergi, dan akhirnya cowok itu pergi tapi masih menatapku, dan aku pun masih menatapnya juga.

“Yup kita ke WC yuk, baju kamu basah gitu,” kata Viny.

“Ah iya baju aku basah! Gimana nih Vin, mana ga bawa baju lagi.” Aku panik, jelas panik mana mungkin aku harus beraktifitas disekolah dengan baju seperti ini, benar-benar memalukan!

“Tenang aku bawa baju olahraga untungnya, kamu pake baju olahraga aku aja, aku pinjemin.” Aku mengangguk tanda setuju, mau ga mau aku menerima tawarannya.

Akhirnya Viny pun meminjamkan baju olahraganya. Dengan terpaksa aku harus melalui hari pertama disekolah, belajar dengan seragam olahraga yang kebesaran. Maklum tubuh Viny lebih tinggi dariku.

“Ngeselin emang dia tuh, padahal dia yang salah tapi dia ga mau ngaku!” kesal Viny.

Serius wajahnya benar-benar familiar. Ya ampun Yupi, kenapa kamu jadi pelupa seperti ini!

*TBC*

 

-Yoga Ariski-

Semoga suka, maaf klo banyak typo masih pemula hehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s