Cinta Palsu, Part 6

Prank!

Suara itu terdengar begitu keras.

“Chelle!”

Aldo berlari dari ruang makan menuju dapur.

“T-Tangan lo berdarah!”

“Ek! Sheesshh…,” Michelle merintih

“Biar gw bersihin dulu darahnya!”

“Gak! Lo gak usah ikut campur!”

“Ya ampun lo ini kenapa sih, nanti kalau lukanya kagak dibersihin bisa-bisa bernanah!”

Aldo langsung menarik lengan Michelle. Kemudian perlahan ia mencuci darah yang ada di lukanya.

“Seharusnya kita cuci tangan lo di kamar mandi, bukan di washtafle kayak gini,”

“B-berisik! Jangan ceramahin gue terus!”

“Huft, iya-iya gw gak akan ngomong apa-apa lagi,” balas Aldo sambil terus mencuci darah itu

“Jangan kasih tau papi soal ini, please…,”

“Kalau gak mau papi lo sampai tau kejadian ini, makanya cepet bersihin darahnya,”

“Um…,” Michelle tampak acuh sambil membuang mukanya dari Aldo

“Gimana piring sama mangkoknya? Udah selesai semua?” tanya Michelle

“Belum lah…,”

“Karena lo tadi tiba-tiba teriak, gw langsung lari kesini dan ninggalin semua piring-piringnya di meja. Lagian kenapa juga sih lo bisa berdarah gini?” tanya Aldo balik

“G-Gue tadi…,” ucap Michelle menggantung

“Ngelamun ya?” ucap Aldo

“Umm…,” Michelle tidak menjawabnya

Disamping itu, Aldo juga melihat ke arah piring-piring yang pecah itu.

“Lain kali lo harus lebih berhati-hati, ya?” Aldo mengelap tangan Michelle menggunakan handuk kecilnya

“Hmph!” balasnya acuh

“Yap! Sekarang tinggal dikasih plester lukanya,”

“Kalau gitu sekarang lanjutin kerjaan lo, piring-piringnya cepet bawa kesini!”

“Ah? I-Yaaaaa…kalau gitu biar gw yang lanjutin cuci piring ya,”

“Gak usah! Lagian jari gue juga gak kenapa-kenapa tuh!”

“Oh…gak kenapa-kenapa ya?”

Aldo langsung menarik tangan Michelle dan memegang jari telunjuknya.

“Ek! Lo mau ngapain!” ucap Michelle

*Fuuuuuuh….

“Akh! P-Perih! J-Jangan di tiup-tiup!”

“Luka ini tuh akibat kena serpihan kaca dari piring-piring yang pecah. Gw gak akan biarin lo cuci piring lagi untuk sementara,”

“Cih!” Michelle langsung membelakangi Aldo

“Terserah lo aja deh!” ucap Michelle dengan acuh

Aldo kemudian mengantar Michelle ke kursi disana. Lalu setelah itu ia kembali membawa piring-piring kotor yang ada di meja tersebut dan langsung mencucinya.

*Brush…

Keran itu dinyalakan.

“Kenapa lo gak diem aja di ruang keluarga sambil nonton bareng sama papi lo?”

“Kan enak tuh bisa selonjoran kalau di sofa,” tambah Aldo

“G-Gue gak bisa biarin lo disini sendirian,” Jawabnya

“Santai aja, gw udah terbiasa dengan hal seperti ini. Kalau lo pengen tau, dulu gw pernah jadi anak kos dan hal seperti ini sudah biasa di kehidupan gw,”

“Gue gak mau tau dan gak nanya,”

“Ah-Haha…ya deh,” balas Aldo sambil tertawa

“Jangan cari perhatian papi terus ya, Al…,”

*Trank!

            Aldo berhenti mencuci piring itu dan langsung menatap ke arah Michelle.

“K-Kenapa!?” ucap Michelle dengan wajah yang memerah

“Jarang-jarang lo panggil nama gw, itu sedikit…yah…,”

“Gw sedikit bahagia karena itu, ahaha…,” lanjutnya

“U-Um…,” Michelle hanya menundukan kepalanya

~oOo~

Jam dinding menunjukan pukul 20.00. Aldo yang tengah membereskan barang-barangnya itu tampak sudah siap untuk pulang.

“P-Permisi Om,”

“Loh, sudah mau pulang yah?” pria itu menurunkan koran yang sedang ia baca

Tangan Aldo tampak ingin bersalaman dengan pria itu.

“Tidak-tidak perlu salim,” ucap pria itu

Lalu pria itu langsung mengusap-usap kepala Aldo dengan lembut.

“Kamu ini laki-laki yang baik, sering-sering main kesini ya,”

“Ha? M-maksud Om?”

“Saya ini pulang setiap 3 bulan sekali, sedangkan mamanya Michelle sudah lama meninggal. Jadi siapa yang akan mengurus kehidupannya?”

“P-Papi!” ucap Michelle dengan wajah yang memerah

“Jadi untuk itu saya harap kamu menjaganya dengan baik ya,”

“Hua! O-Om ini…saya ini kan cuma temannya Michelle disekolah,” ucap Aldo

“Jangan khawatir, lagipula sudah lama saya menginginkan cucu,”

“Bwah!” Aldo sampai terjungkal mendengar kata-katanya

“Papi! Kenapa papi malah…,”

“Hahahaha…,” Papi Michelle tertawa

“Sudah-sudah, sekarang papi mau istirahat. Kamu juga belajar sana,” suruhnya pada Michelle

Lalu pria itu pun pergi ke lantai atas meninggalkan mereka berdua disana.

“Halaah…papi lo orangnya humoris ya,”

“Ke-Ka….Ek…,”

“Hmm? Kenapa?” tanya Aldo

“Kenapa lo muncul dikehidupan gueeeeeeeeee!” teriak Michelle

“Gaaah! Apa salah gw!?” balas Aldo

“Huh!” Michelle langsung membelakangi Aldo

“N-Nah…kayaknya lo harus istirahat yang banyak, kalau bisa luka lo yang tadi di kasih betadine juga ya,” ujar Aldo

“Kalau gitu gw pamit,” Aldo pergi dari kediaman Michelle

“Um…hati-hati…,” ucap Michelle bersuara pelan

“Oh ya satu lagi,”

“AH!” Michelle tampak terkejut

“Lo daritadi belum ganti baju, seragamnya kan masih dipake sampai besok. Eh kenapa muka lo jadi merah begitu kayak cacing besar alaska,”

“iiiihh! Gue tau itu! Udah sana pergiiiiii!”

“He? Kenapa?”

“Pergiiiiiiiiii!” teriaknya

“I-iya jangan marah gitu lah, gw mau pergi ini…,” Aldo kini telah benar-benar pergi dari kediaman Michelle

Sementara itu…

“Duuh…sebenarnya apa yang terjadi disini…,”

Ia menyentuh dadanya yang berdegup keras itu.
———————————————————————

*Kreeeek…

“Aldo pulang!”

“Ya ampun kakak! Kenapa sering banget pulang jam segini!”

“Oh jadi kamu kangen ya sama kakak? Ulululululululu…,”

“Ish jangan mempermainkan Okta!”

“Ya-ya, udah minggir…kakak capek mau istirahat,”

“Aldo mandi dulu!” ujar ibunya

“Iya bu Aldo tau…,”

Aldo langsung pergi menuju kamarnya sambil membawa handuk di jemuran itu. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur dan mulai berbaring. Ia juga mengingat kembali kejadian-kejadian yang ia alami seharian ini dengan senyum simpul yang memancar di wajahnya.

“Dia mengingatkan gw ke masa lalu disana…,”

Ketika ia mengambil guling itu, handphonenya tiba-tiba berkedip.

“Huh? Tumben ada yang nge-chat gw di Line,” Aldo mengambil hpnya

“Siapa nih? Ay?”

*Hai-hai, gimana? Udah dapat 2 orang belum?

Begitulah isi pesan Line di handphone Aldo.

“Oh…ini dari si jepang kampret itu toh,”

“Cih! Biar gw bales dengan kata-kata yang sesuai!”

~oOo~

Di pagi hari…

“Sampai ketemu lagi di rumah kak! Jangan lupa pakai kacamatanya!”

“Iya Okta ku sayang…,”

“Hmph! Di lain waktu okta gak bakalan buatin kakak sarapan!”

“Hmm..serah…,”

Mobil itu pun pergi.

“Huh…hari rabu…masih beberapa hari lagi menuju hari minggu,”

“STOP!”

Seseorang menghentikan langkah Aldo.

“Oh, si jepang…,”

“Hiiih! Bisa berhenti panggil gue jepang!?”

“Hah? Bukannya emang dari jepang ye?”

“I-Iya gue tau itu! Gue emang keturunan jepang!” ucapnya dengan wajah memerah

“Yaudah…,” Aldo melewati gadis itu

“Tunggu dulu ih!”

“Apalagi sih…,”

“A-Apa maksud dari chat yang kemarin itu!”

“Hah? Yang mana?” tanya Aldo balik

“yang itu tuh…yang pedang menyerang benteng,” wajahnya masih memerah

“Kan lo nanya tentang sistem reproduksi, ya gw jawab kayak gitu,” ucap Aldo

“T-Tapi gue beneran nanya, bukan main-main!”

“Masa iya gw harus jawab secara detail. Yang begitu tuh bagusnya di praktekin, bukan di tanyakan secara teori,”

“P-Praktek!?”

“Yup,”

Wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi pucat.

“P-Praktik…,”

“Hoi-hoi…jangan pingsan disini,”

“Aldo!”

“HUA!” Aldo terkejut ketika seseorang memanggilnya dari belakang

“Halaah Nads, kenapa sih pagi-pagi gini udah ngagetin orang?”

“Lo habis ngapain Ayana hah?” ucap Nadse

“K-Kagak di apa-apain kok! Dia sendiri yang salah,”

“Hemm…,” Nadse langsung membantu Ayana untuk berdiri

“A-Awalnya aku tanyain dia soal perekrutan anggota klub jurnalis yang baru, tapi tiba-tiba obrolan kita malah menjurus ke hal yang…Kyaaaaaaa!” Ayana menjerit dengan wajah yang memerah

“HE-hey, jangan membicarakan hal yang tidak jelas kebenaranya!” ucap Aldo

“udahlah, dia emang begitu orangnya. Sekarang biar gue yang urus dia,” ucap Nadse

“A-Ah, thankyou ya…,” balas Aldo

“Sekarang lo juga harus urus dia,” tunjuk Nadse ke arah belakang Aldo

“Hmm?” Aldo berbalik

*DUK!

“UHUK!”

Gadis di belakang memukul perut Aldo dengan keras.

“Haah…perut gw…mau muntah!”

“Bye Al…,” ucap Nadse sambil membawa Ayana

“Lo terlambat!” ucap gadis yang memukulnya itu

“M-Michelle…uhuk!”

“Lo itu pelayan gue, kenapa sih pake telat segala datangnya!” ucap Michelle

“P-Pelayan apaan!”

“Hmph! Seharusnya lo bersyukur karena ada cewek cantik yang rela nungguin lo di depan gerbang sekolahan selama hampir setengah jam,”

“J-jadi lo nungguin gw?” tanya Aldo

“Ya! Karena lo adalah pelayan gue!”

“He-hey, apa gak ada alasan yang jelas untuk hal itu?”

“Yuk ke dalem, kelas hampir dimulai,” ajak Michelle dengan menghiraukan perkataan Aldo

“Tapi kita kan gak sekelas,” ucap Aldo

“Kelas kita kan se-arah, udah deh jangan banyak tanya,”

“Huft…oke dah,”

Mereka berjalan melewati gerbang bersama.

“Ngomong-ngomong gimana soal luka lo yang kemarin?” tanya Aldo

“Heh,” Michelle mengendus, “Liat ini…,” ucapnya menunjukan jari

“Wah, udah di kasih plester ternyata,”

“yah…karena lo terus-terusan ingetin gue untuk plesterin luka ini,”

“Jelas lah, biar cepet sembuh…,” ucap Aldo sambil tersenyum. “Mana sini liat?” ucap Aldo lagi

“Nih,” Michelle memberikan lengan kanannya

Lalu Aldo langsung memegang pergelangan tangan Michelle dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyentuh jari Michelle.

“Lo itu gimana sih? Lukanya dimana…pleseterinnya dimana…,”

“E-Eeehh!? Maksud lo?”

“Yang luka itu jari telunjuk, tapi lo malah plesterin jari tengah,”

“Haaah! Duh…lagi-lagi gue ceroboh!”

“Yee…kemarin mau dibantuin malah nolak, jadinya begini kan,”

“Berisik! Jangan ceramahin gue!”

“Haaaa…ya-ya gw gak akan ceramahin lo lagi,” balas Aldo dengan wajah datar

“Oh hampir lupa, lo mau gak masuk klub jurnalis?”

“Eh?”

“Klub jurnalis chelle, paling juga foto-fotoan,”

“Gak,”

“Bwah! Singkat bener!”

“Bye…gue ke kelas duluan,” ucap Michelle yang tampak sudah masuk ke dalam kelas

“Huft…ternyata sulit juga untuk cari anggota. Sekarang gw tau apa yang dirasakan si jepang itu,”

~oOo~

Bel sekolah sama sekali tidak terdengar namun kelas telah berakhir karena jam dinding yang menunjukan pukul 10.00.

“ekhem!”

“Eeeeeehhhh!?”

“Hey! Jangan pingsan lagi!”

“M-Mau apa lo!” ucap gadis itu

“Yah gw…,” lelaki itu menggaruk kepalanya

“Gw mau minta maaf soal obrolan yang kemarin, sebenarnya gw cuma mau jailin lo. Ahaha…,”

“Eng-um…,”

“Gw bakalan bantuin lo cari anggota deh,”

“Janji?” tanya gadis itu

“Janji,”

“Kalau gitu mulai sekarang gue boleh manggil nama lo ya, um…Al,”

“iya boleh-boleh,”

“Lo juga harus panggil nama gue, jangan panggil jepang terus!”

“Iyaaaaaah,”

“Hmph!” gadis itu pergi

*Puk!

“Uh!” Aldo terkejut karena seseorang menepuk pundaknya

“Yo,”

“E-Eh…,” Aldo jadi terlihat gugup

“Kita belum kenal sejak dari awal lo masuk kesini, jadi…perkenalkan nama gue Ilham,”

“Ah…Aldo,” balas Aldo sambil menjabat tangannya

“Yah, sorry ya kalau gw udah buat banyak masalah di kelas ini,” ucap Aldo

“Lah kagak kok, gue liat lo itu orang yang rajin dan gak neko-neko. Eh ke kantin lah, bosen disini mulu,”

“Oh-Ok,” Aldo menyetujuinya

Namun ketika mereka berdua baru melewati pintu kelas…

“Ek…Chelle?” ucap Aldo

“Anterin gue…,” ucap gadis di depan mereka

“T-Tapi gw mau ke…,”

“udah ayo!” ia langsung menarik tangan Aldo

“Loh hey! Aaaahhh…sorry ya ham!” teriak Aldo

“Ya! Hati-hati di jalan!” balas Ilham berteriak

Kemudian…

*

*

“Ah Chelle, kita mau kemana?” tanya Aldo

Mereka kini berada di dekat lapangan basket.

“Duuh…kemana lagi tuh orang,”

“Siapa?” tanya Aldo lagi

“Guru olahraga,”

“Dih, naksir sama guru olahraga ya?”

“Gak lah! Gue mau ketemu sama dia karena nilai olahraga gue ada yang kosong,”

“Oh…kenapa?”

“Y-yah…waktu praktik renang bulan kemarin…umm…,”

“Hmm…berarti pas gw belum jadi murid disekolah ini ya,” ucap Aldo

“Ya, begitulah,” ucap Michelle

“Jadi kenapa?” tanya Aldo kembali

“Em…waktu praktikum renang kemarin…gue gak ikut,”

“Hemm…begitu toh,” ucap Aldo sambil mengusap dagunya

“Gak bisa renang ya?” lanjutnya

“Ek! G-Gue bisa renang kok!” Jawab Michelle, namun wajahnya tampak memerah

“Michelle,” panggil seseorang

“Eh, itu…,” Aldo menyenggol Michelle

“Ah, pak Riko,” ucap Michelle langsung menyalim tangan guru di depannya, begitu juga dengan Aldo

“Um…jadi gimana soal nilai saya pak,” ucap Michelle

“Kamu ini…yasudah seperti biasa saja, buat makalah tentang olahraga,”

“B-Baik pak,” ucap Michelle sambil menunduk

“Setidaknya kamu datang ke kolam renang pun akan saya kasih nilai, kenapa kamu gak pernah datang ke tempatnya?” tanya pak Riko

“A-Anu pak…,”

“Saya tau kamu belum bisa berenang, tapi kalau kamu berbaur dengan kawan-kawan di kelasmu  bisa saja kamu terbiasa berenang,”

“Baik pak,” balas Michelle lagi

“Kalau begitu saya permisi dulu,”

Pak Riko pun pergi.

“Yah…jadi?” ucap Aldo

“Ek…umm…ya gue emang gak bisa berenang! Jadi jangan ejek gue!” teriaknya

“Eeeehh!? Tapi gw gak bilang apa-apa,”

“Hmph!” Michelle acuh dan membelakangi Aldo

“Jangan bohongin gw chelle, lain waktu gw bisa ajarin lo kok,” ujar Aldo

“Um…,” Michelle terdiam lalu mengahadap ke arah Aldo

“Janji?” ucap Michelle

Aldo kemudian mengangguk.

“Nah, kalau gitu gw mau ke kantin,”

“T-Tunggu…gue juga mau ke kantin,”

“Hemm…yaudah cepetan,”

Mereka pun pergi ke kantin bersama.

 

TO BE CONTINUE…

Author : Shoryu_So

Iklan

Satu tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s