Pengagum Rahasia 2, Part 35

“G-Gre!?”

“Hai…,”

Orang itu ternyata adalah Gracia. Ia pun membantu Deva untuk kembali berdiri.

“Kamu ini, gak perlu sampai se-kaget itu kali,”

“Orang mana yang gak kaget dalam keadaan mencekam begini, Huft…,”

“Mencekam gimana?”

“Ya liat sendiri, tempat ini gelap kan, dan juga…,”

“Halah penakut banget sih,” potong Gracia

“Hemm…jadi kenapa? Malam-malam begini kita kebetulan ketemu,” ucap Deva

“Ini bukan kebetulan, sebenarnya aku tadi datang ke rumah kamu,”

“He? Eeeehhhhhhh!”

“Ng-ngapain datang ke rumah!?” ucap Deva

“Nyariin kamu,”

“Se-simpel itukah jawaban kamu Gre, kenapa gak besok aja sih…,”

“Justru besok siangnya kita harus siap-siap,”

“Siap-siap?”

“Ah tempat ini gak cocok untuk kita ngobrol, gimana kalau kita ke Cafeteria sekarang?”

“Um, tapi…,”

“Aku yang traktir,” potong Gracia lagi

****

-Cafeteria-

“Thankyou ya coklatnya,”

“Gak masalah kok, lagipula aku yang bayar ini kan,”

“S-Sebenarnya bukan karena aku gak punya uang atau apa, tapi…aku baru pulang dari acara,”

“Ah? Seriusan?”

Deva kemudian mengangguk.

“Ya ampun kenapa kamu gak bilang,”

“Habis tadi kamu tiba-tiba ngagetin tanpa alasan yang jelas,”

“Hehe, kamu sendiri sih gak baca Line dari aku,”

“Line?” ucap Deva

Lantas Deva pun langsung mengecek Handphonenya.

“A-Ah sorry ya Gre, tadi seharian aku bener-bener gak pegang Handphone,”

“Iya-iya gak apa-apa kok,”

“Jadi…?” tanya Deva kembali

“Kamu ingat kan soal makan malam bersama itu?”

“I-iya?”

“Jadi…kapan?” tanya Gracia lagi

“A-Aku…besok mungkin…tadi kan kamu bilang besok kita harus merencakan apa tuh…,”

“Besok? Yakin?”

“Y-ya mungkin…,”

“Eh tunggu sebentar, kenapa kamu tadi tanya lagi? Ya mungkin aku yakin besok waktu yang tepat,” ucap Deva kembali

“Hey…,” Gracia menyentuh hidung Deva dengan telunjuknya

“Aku tau kamu kerja disana, emangnya gak capek yah kalau pulang kerja terus langsung datang untuk makan bersama?”

“Ha-Ah…kamu tau, Gre?”

“Yap, restoran Van Molet kan?”

“Um…,” Deva mengangguk

“Kenapa kamu bisa tau Gre?” ucap Deva mengulangnya

“Kamu ini…restoranku sama restoran Van Molet itu bisa dibilang bekerja sama, lagipula restoran itu kan punya keluarganya kak Veranda,”

“WAH! SERIUSAN!?” ucap Deva sambil berdiri

“Iya, masa kamu gak tau sih,”

“Ek-Gak tau, aku beneran gak tau Gre,”

“Hem…,” Gracia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas

Deva kembali duduk di kursinya.

“Jadi…eng…gimana?” tanya Deva

“Aku sih oke kalau kamu mau besok, tapi kamu sendiri…,”

“Aku gak apa-apa kok, lagipula selepas hari minggu besok kan hari-hari sekolah dan aku gak punya banyak waktu luang,”

“Yah, aku tau itu. Jadi sudah diputuskan, besok sehabis kamu pulang kerja, kamu langsung datang aja ke restoranku lewat pintu belakang,”

“Pintu belakang?”

“Eh? Kamu gak tau ya? Bukannya waktu itu kita juga pernah kerja sama?”

“yah…tapi aku gak pernah tau ada pintu belakang disana,”

“Hemm dah lupakan, Ah…udah waktunya aku pergi,” ucap Gracia sambil melihat arlojinya

“Um…,” Deva pun berdiri mengikuti Gracia

Deva kemudian menggandeng tangan Gracia.

“Aku gak perlu dianter, jangan anggap aku ini cewek manja Dev,”

“Ah! I-iya maaf…,” Deva melepas tangan Gracia

“Oh, atau kamu yang kepengen pegangan tangan?” ucap Gracia yang alisnya tampak naik turun itu

“Ek-Kagak kok!”

“Hihi…kalau gitu sampai jumpa lagi besok Dev,”

“Y-yah Bye…,” balas Deva

Ia masih memandang dari kejauhan ke tempat Gracia.

“Fyuh…besok ya,” pikir Deva

“Mas-mas, tagihannya,” ucap seseorang dibelakang

“WAH! Dia gak bayar!” ucap Deva terkejut

“Ahaha! Santai aja kali…,”

“AHA! K-Kak kinal!?”

“Yo!”

~oOo~

“Jadi…siapa cewek tadi?”

“Ah, dia cuma temen sekolah,”

“Tapi keliatannya pembicaraan yang tadi bener-bener serius,”

“kagak kok…ahaha…,” Deva tertawa kecil

“Heh,” Kinal mengendus. “Jadi gimana?”

“A-Apa?” ucap Deva

“Gimana soal kemarin?”

“Kemarin…Oh, yang itu…,” Deva tampak baru mengingatnya

Deva menggelengkan kepalanya. “Bahkan Deva gak tau apa dia bisa menerimanya atau malah kecewa…,”

“Huh? Kecewa?”

“Yah, bahkan dia sampai nangis…,”

“Hemm…,” Kinal mengelus-elus dagunya

“A-Anu kak Kinal, apa ada sesuatu yang mau kak Kinal omongin sama Deva?”

“Gak ada, cuma sekarang gw jadi sedikit penasaran sama kejadian kemarin itu. Jadi…lo apain dia?”

“Y-yah kak Kinal tau, ung…Deva…putusin dia…,” ucap Deva sambil memalingkan pandangannya

“Woah! Hebat lo Dev,”

“He-hebat!?”

“Sebelumnya gak ada orang yang pernah putusin dia,”

“M-Maksud kak Kinal?”

“Yah…setau gw sih, kebanyakan cowok yang pacaran sama dia bakal berakhir di tempat sampah,”

“HUE! Sampai berakhir di tempat sampah!?”

“Dia itu bisa dibilang cewek kelas atas, dan kebanyakan cowok yang pacaran sama dia itu malah dia maanfatin untuk kepentingannya sendiri,”

“B-begitukah? Tapi…Ve, um…maksudnya dia gak pernah berbuat jahat sama Deva, bahkan dia keliatannya baik-baik aja waktu sama Deva,”

“Itulah yang membuat gw kagum sama lo, bahkan tadi lo bilang kalau dia sampai nangis histeris gara-gara lo putusin, Wah! Kayaknya lo benar-benar cowok yang dia idamkan selama ini,”

“He-Eh… -gak gitu juga kak, Deva ini cuma cowok miskin biasa,” ucap Deva

“Jangan bilang begitu, kamu itu cowok yang baik kok,” Kinal mengelus pipi Deva

“…disini banyak orang,” wajah Deva memerah

“Haha! Gampang banget digoda,”

“Sheessh! Kenapa kita harus bahas ini sih!” ucap Deva bersuara pelan

“Oke Fine…kita bahas yang lain aja gitu?”

“Serah…,”

“Hmm, karena tadi gw yang tanya, sekarang giliran lu deh yang nanya,” ucap Kinal

“Oke…,” ucap Deva

“ngomong-ngomong, kak Kinal udah kenal lama ya sama Ve? E-Eh…malah kesebut namanya,” lanjutnya

“Hey, cara untuk melupakan seseorang itu bukan dengan tidak menyebut namanya, gimana sih lo,” ujar Kinal

“O-oh…sorry…,” Deva menggaruk kepalanya

“Um…kembali ke pertanyaan, soal tadi kayaknya kak Kinal udah kenal lama sama Ve,”

“Begitulah,”

“B-begitulah? Maksud kak Kinal?”

“Hmm…bisa dibilang selama 2 semester pas waktu gw masih di Unpad, gw sama dia itu bisa dibilang sahabat,”

“Sahabat!? Tapi kenapa bisa? Terus waktu itu kak Kinal bilang gak terlalu kenal sama dia,”

“Karena gw males bahas tentang dia, paham?”

“Um, oke lanjut,” ucap Deva

“Ceritanya panjang, tapi entah kenapa semenjak hari itu dia gak pernah mau ketemu sama gw lagi, bahkan dia gak berani liat muka gw,”

“Loh!? A-Apa maksudnya di hari itu? Apa ada masalah kak?”

“Yah…ceritanya bermula ketika semester pertama saat mau UAS,”

“em…,” Deva mulai menyimak

“Jadi waktu itu dia merupakan mahasiswa yang cerdas, Sedangkan gw merupakan mahasiswa apa adanya,”

“Pfftt…,” Deva menahan tawanya

“Heh jangan ketawa!”

“S-Sorry-sorry, lanjutin kak,” ucap Deva

“…nah saat mau UAS, gw minta Ve untuk nyuri dokumen tentang soal UAS yang akan keluar, ini ceritanya gw udah sahabatan deket sama dia,”

“Hemm…benar-benar ilegal,” ucap Deva menganggapi

“Alasan gw minta dia untuk melakukan operasi ini karena…dia merupakan mahasiswa tercerdas di semester 1 dan 2, bisa diblang cumlaude deh. Jadi banyak dosen yang percaya sama dia dan gak mungkin ada dosen yang curiga sama dia,”

“Oh…ternyata kak Kinal cerdik juga, tapi kejam juga manfaatin sahabat sendiri,”

“Hey…dia itu memang sahabat gw, bahkan orang tua dia udah kenal sama gw,”

“E-Eh, begitu ya,”

“Nah sehabis itu, gw gak nyangka ternyata dia berhasil dapet soal UAS itu, entah bagaimana cara dia ngambil soal itu gw gak tau,”

“Tapi seminggu setelah ujian selesai…,”

*JDAR!

            Gemuruh petir terdengar keras.

“Kenapa jadi horror begini ya,”pikir Deva

“Kayaknya kita harus pulang, biar gw yang anterin lo,” ucap Kinal

“He-Eh! Ceritanya belum beres!”

“Oh, penasaran ya?”

“Iya lah! Orang ceritanya udah setengah jalan! Anti klimaks banget nih kak Kinal!”

“Hemm…oke,”

Kinal kembali menaruh kunci mobilnya di meja itu.

“Yah setelah seminggu kemudian, gw sama Ve di panggil ke ruangan rektor,”

“Ruang rektor!? I-itu berarti…,”

“Yap, ini bukan lagi di panggil ke ruangan dosen, tapi dipanggil ke ruangan rektor,”

“T-terus?” Deva tampak semakin penasaran

“lo tau, pak rektor ngacam gw sama Ve kena DO,”

“Terus-Terus!?”

“Eh tunggu dulu, kenapa kak Kinal juga bisa ikut kena? Bukannya bukti kalau yang bawa soal UAS itu si Ve?”

“Ya jelas gw kena lah! Lo tau Dev, nilai gw itu gak mungkin lebih dari C, dan saat UAS semester 2 itu nilai gw rata-rata AB, dosen jelas pada curiga kan,” Jelas kenal

“Oh, begitu toh…,”

“Terus?” lanjut Deva

“Yah karena gw merasa bersalah, disana gw langsung memberanikan diri untuk berkata jujur. Gw ceritain semua hal yang sebenarnya terjadi antara gw dan Ve,”

“Dan akhirnya keputusan pun berubah, gw lah yang di DO disana sedangkan Ve selamat,”

*Glek!

            Deva menelan ludahnya.

“Ternyata hukuman untuk mahasiswa yang melanggar peraturan di perguruan tinggi itu sangat berat,”

“Jelas lah, semua perguruan tinggi pasti punya hukuman berat kan kalau mahasiswanya melanggar peraturan,”

“Um,” Deva hanya mengangguk

“Jadi, itu yang membuat persahabatan kak Kinal sama Ve jadi retak,” ucap Deva

“Belum sampai disitu, gw masih punya 1 minggu untuk berada di kampus. Dan selama seminggu itu gw berusaha untuk menjauhi dia, bukan karena gw benci sama dia tapi karena gw bersalah,”

“Gw bersalah dan gw harus bikin dia jadi benci sama gw, apapun caranya. Dengan begitu semua orang yang tadinya jengkel dan benci sama dia lama-lama jadi tau apa yang sebenarnya terjadi,”

“Benci…sama dia? Maksudnya benci sama Ve?”

“Yap, karena Ve itu mahasiswa cumlaude, ketika ada berita bahwa dia nyuri soal UAS kan jadinya berabe,”

“Iya juga sih…,” pikir Deva

“A-Ah lanjut kak…,” ucap Deva

Kinal menarik nafas panjang.

“Jadi semenjak itu, gw anggap persahabatan antara gw sama dia udah gak ada,”

“Padahal seharusnya yang merasa bersalah itu kan gw, kenapa dia harus merasa bersalah atas semua yang terjadi di masa lalu?”

“M-Mungkin kak Kinal juga merupakan sahabat terbaik buat dia,” ucap Deva

“Ah…mana ada, gw ini kan suka manfaatin dia waktu di kampus, ahahahaha…,”

“Ek-Yaelah kak…,” Deva ikut tersenyum mendengar guyonan itu

“Ah kita harus pulang, gw gak tau hujannya kapan turun karena langit malam sekarang,”

“Oh ya, Deva pikir juga begitu,”

“Kalau gitu ayo,” ajak Kinal

Mereka pun pergi dari Cafeteria.

~oOo~

*JDUAR!

            Rintik hujan yang begitu deras mengguyur mobil Kinal. Beruntung mereka telah sampai di kediaman Deva dengan selamat.

“Aaaakkkk!” Kinal berteriak karena hujan mengguyur badannya

Deva juga tampak buru-buru masuk ke dalam rumah.

“Duh…basah semua baju gw,” ucap Kinal

“Hosh…Ah-Hah…,”

“Eh? Nafas lo berat banget Dev, lagi sakit ya?”

“A-Ah nggak kok, Deva cuma kecapean aja,”

*Ceklek!

“Eh kalian! Ayo cepet-cepet masuk!” ujar Melody yang membuka pintu itu

Mereka pun masuk ke dalam.

*

*

“Nih minum dulu,” Melody memberikan air hangat pada mereka

“Ah Thankyou ya mel,” ucap Kinal

“Ngomong-ngomong Dev, tadi kamu seharian ada dimana?” tanya Melody

“Biasalah mel, dia pasti ngedate sama cewek,” ucap Kinal

“HE!” Deva yang tengah meminum air itu sedikit terkejut

“Woah! Baru putus sama Ve langsung jadian sama orang lain,” ucap Melody kembali

“K-kagak-kagak!” bantah Deva

“Heh,” Kinal mengendus

“Btw, gw boleh nginep disini sampai besok gak Mel? Kayaknya hujannya bakalan lama,” ucap Kinal

“Ah iya juga, jangan pergi kemanapun kalau lagi hujan besar kayak gini meskipun naik mobil,” ujar Melody

“Ahaha bener juga tuh,” ucap Deva juga

“Heh…,” Kinal menatap tajam ke arah Deva

“A-Apa!?” ucap Deva yang menyadarinya

“Jangan harap gw bakalan tidur di kamar lo Dev,”

“He? Eeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhhh!” Deva sungguh terkejut dengan perkataan Kinal

“Gw denger dari Melody kalau lo sering tidur bareng sama Ve,”

*BLURRRRRBBBBB!

Deva pingsan di tempat.

“Hoi Dev? Deva!? Hoi DEVA!” teriak Kinal

“ya ampun…,” ucap Melody sambil menggelengkan kepala

“Yah pokoknya nanti gw bakalan tidur di kamar lo ya Mel,”

“Oke,” balas Melody

“Tapi kalau ada apa-apa bilang aku dulu nal, yah misal pengen ke toilet atau pengen minum, karena kalau kamu keluar kamar sendirian bisa gawat,”

“Gawat?”

Melody mendekati Kinal kemudian berbisik. “Deva punya sisi buas kalau lagi ngelindur,”

“KAGAK! Itu semua bohong!” teriak Deva secara tiba-tiba

“Lah? Udah sadar?” ucap Kinal

“J-Jangan mengatakan hal yang tidak jelas begitu kak!” ucap Deva

“Loh beneran kok, bahkan waktu itu Ve sampai…,” ucap Melody menggantung

“A-Apa!?” ucap Deva lagi

“Y-yah, Ve sampai umm…y-yaaaaahh…celana dia sampai basah banget,” lanjut Melody

*BLUUUUURRBBBB!

            Deva kembali pingsan.

“Basah?” ucap Kinal

“Ah…lupakan soal itu,” ucap Melody

“Tadi kamu bilang dia sering ngelindur?” tanya Kinal lagi

“Yah, tanpa dia sadari, bahkan ngelindurnya pun sampai jalan. Kalau kamu percaya, dia pernah tidur di pertigaan yang ada di depan sana,”

“What? Jauh amat ngelindur sampai sana,”

“Yah begitulah, maka dari itu aku sering bangun sekitar jam 12 san cuma untuk ngecek kamar dia,”

“Wah, jadi itulah kenapa lo tau kalau Deva sering tidur bareng sama Ve ya…,” ucap Kinal

“Yups! Tapi setidaknya kalau Ve yang tidur di samping dia, dia malah jarang banget ngelindur sambil jalan,”

“Kok bisa begitu ya?” pikir Kinal

“Entahlah,”

“Ngomong-ngomong nal, kamu harus mandi dulu,” ujar Melody

“Ya, gw tau kok,” balas Kinal

“Ambil handuk yang gambarnya beruang, jangan bawa handuk yang warnanya polos karena itu punya Deva,”

“Oke,”

Kinal pun bergegas pergi ke kamar mandi. Sementara Melody langsung mengangkat tubuh Deva ke kamar.

*

*

Jam 22.00…

“Hmm-Hmm..,” suara yang terdengar seperti seseorang bersenandung

“Loh?”

“Eh udah selesai mandinya Nal?”

“Mel, Deva mana?” tanya Kinal

“Dia udah di kamarnya,” Jawab Melody

“Lah udah sadar?”

“Belum, aku yang angkat badannya tadi,”

“Eh? Seriusan? Gak berat apa?”

“Alah udah biasa, lagian badan dia gak lebih berat dari lemari di kamar aku,”

“Jelas lah…,” balas Kinal

“ahaha…ngomong-ngomong kalau kamu mau pinjem baju, ambil aja di lemari, itupun kalau cukup,”

“Oke,”

~oOo~

Keesokan harinya…

“Huah…,”

Deva yang baru bangun itu membuka pintu rumahnya untuk mencari udara segar, namun sesuatu terjadi setelah ia membuka pintu…

“Boneka? Bukannya ini…,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

7 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s