JERITAN RUMAH NO. 14

Sisa sisa air hujan di dedaunan berjatuhan dan matahari pun mulai memancarkan cahayanya lagi. Suasana kampus yang ramai membuat kehangatan setelah hujan di sebuah Universitas kota Pontianak. Mahasiswa maupun mahasiswi sibuk dg tugas mereka masing masing tanpa terkecuali dari anak Falkultas Sosiologi yg mendapat tugas akhir dari dosen.
Di pojokkan dekat anak tangga menuju tingkat 2, terdapat seorang anak yg lagi asik menari di temenin temannya yg hanya tersipu melihat dia menari.

“eh, Nal. Kamu gak malu sama anak anak yg lain” ucap Ve yg merasa aneh dg temannya 

“bodo amat, Ve. Suruh siapa kamu muter lagu dangdut.” jawab Kinal

“o iya Nal, gimana dg tugas akhir kita?” tanya Ve

“eemmm gimana ya? Anggota kelompok yg lain belum ngumpul.” balas Kinal

tak lama kemudia,datanglah 6 orang lagi wanita dg wajah yang berseri seri.

“noh anak yg lain” ujar Ve seraya menunjuk ke arah mereka.

“lama amat sih kalian.” samber Kinal.

“maaf. Tadi kami ke kantin dulu.” kata Rona.

“kamu juga. Sebagai ketua kok, telat” ujar kinal kepada Melody.

“ya aku ikut mereka aja.” jawab Melody cuek.

yona hanya terdiam melihat tingkah kinal yg begitu.

“kenapa sih,aku harus sekelompok sama dia.” ujar Yona pelan

ternyata perkataan yona di dengar Kinal. Kinal pun menghampiri yona.

“eh, maksud kamu apa” Kinal mendorong Yona hingga jatuh

“eh eh udah jangan bertengkar.” ujar Frieska menahan Kinal

Lidya pun membantu yona yg terjatuh.

“eh, Kinal. Kamu tu sok banget sih jadi orang.” ucap Yona

“wah, minta di hajar ni anak.” Kinal mulai terbawa emosi.

“UDAH! CUKUP!” Teriak Sisil.

mereka pun terdiam.

“Melody, sampaikan tempat kita penelitian.” ucap Sisil menarik tangan Melody.

“oke. Kita akan melakukan penelitian di luar kota yaitu di desa Kenang . Dan besok kita berangkat dan aku harap juga Kinal sama Yona kompak.” ucap Melody

yg lain hanya menganguk. Kinal dan Yona sama sama memalingkan muka satu sama lain. Kali ini mereka di beritugas mencari tau cara sosialisasi orang desa. Kelompok yg di ketuai Melody dan anggotanya ada Sisil, Rona, Lidya, Yona, Ve, Kinal dan adiknya Melody Frieska.

Ke esokan harinya mereka pergi dg dua mobil. Mobil pertama di muat oleh Melody, Frieska,Ve dan Kinal. Mobil kedua di muat oleh Sisil, Rona, Yona dan Lidya. Mereka pun berangkat kesebuah desa yang agak di pedalaman kota Pontianak.

Setelah 1 jam perjalanan,mereka pun sampai di desa tersebut yaitu desa Kenang. Sesampai di desa, mereka langsung menuju rumah penginapan yg telah di sewa Melody.

“wah rumahnya gede juga.” ucap Frieska sambil keluar mobil

“iya dong, di desa ini cuma ini satu satunya rumah penginapan.” ucap Melody mengeluarkan barang bawaannya.

tiba tiba ada yg menepuk pundak Ve.

“AAA….!!” Ve kaget langsung memeluk Kinal yang di dekatnya.

yg lain pun mendekati Ve dan Kinal.

“ada apa sih?” ujar Rona.

“itu apaan?” ucap Ve yg masih menutup matanya.

yang lain pun melirik ke arah orang tersebut,  ternyata adalah

“ooh. Pak Amit” ucap Melody.

“ha pak Amit?” Ve membuka matanya.

“pak Amit ini adalah perawat rumah ini.” Melody memperkenalkan pak Amit.

“saya kesini hanya ingin memberikan kunci rumah.” pak Amit memberikan kunci ke pada Melody.

“makasih pak.” ucap Melody.

“satu lagi nak. Jangan sekali kali masuk ke rumah itu.” ujar pak Amit seraya menujuk.

pak amit menunjuk kearah rumah samping tempat Melody dan yg lain menginap. Mereka pun melihat rumah itu. Memang suasana rumah itu agak angker,mungkin karena telah lama di kosongkan. Ternyata tempat menginap Melody dan kawan kawan agak jauh dari rumah warga, yang dekat hanya rumah kosong itu.

“ih, agak serem ya rumahnya.” ucap Lidya

“kenapa pak, kita gak boleh ke sana?” tanya Kinal

“pokoknya jangan ya jangan.” ucap pak Amit dengan nada agak menekan.

“baik lah pak. Terima kasih ya pak.” ucap Melody.

“sama sama neng.” jawab pak Amit

setelah itu pak Amit pergi, Melody dan yang lain pun masuk ke rumah penginapannya itu.

“desa kenang rt 6 rw 9 nomor 13.” S.isil membaca plang di depan pintu

yg lain pun masuk ke dalam rumah.

“suasanya kok begini” ujar kinal sambil menghempaskan kopernya ke lantai

“ya ini rumah bekas rumah orang Belanda.” ucap Melody.

“pantesan artnya beda.” ujar Lidya

“oke kita bagi kamar karena kamarnya ada 4. Frieska sama aku,Lidya sama yona di atas. dan rona sama sisil, Ve sama Kinal di bawah. Mengerti” ucap Melody

rumah itu di penuhi dg lukisan dan patung ciri khas eropa.

“Nal. Rumahnya kok agak serem ya” ujar Ve

“dasar penakut. Biasa aja kali.” ucap Kinal sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

di dapur

“ternyata rumah ini ada jalan menuju rumah itu.” batin Frieska

ternyata penginapan mereka bersambungan dengan rumah kosong itu. Tapi jalannya di segel dengan dua papan menyilang.

Tiba tiba frieska kaget melihat bayangan melintas di kaca rumah kosong itu. Seketika bulu kuduk Frieska berdiri

“itu apaan ya?” batin Frieska.

Frieska pun celingak celinguk memantau rumah kosong itu. Tiba tiba sesuatu jatuh di dapur membuat Frieska kaget dan berlari ke ruang utama sambil memanggil kakaknya.

“kakak Melody!” teriak Frieska.
mendengar teriakan frieska yang lain menghampirinya.

“ada apa dek?” ucap Melody.

“tadi aku melihat bayangan melesat cepat di rumah kosong itu.” ucap sinka seraya memeluk kakaknya.

“ah, cuma perasaan kamu aja kali.” ujar Kinal.

“iya.” tambah Yona.

“beneran. Kayaknya rumah itu berhantu deh.” ucap Frieska.

“eh, Frieska. Pagi-pagi gini mana ada hantu. Yang ada tukang jual bubur.” ujar Yona.

“udah dek. Mungkin itu perasaan kamu aja.” Melody menenangkan adiknya.

“satu lagi. Ternyata rumah ini sama rumah kosong itu punya jalan penghubung. Tapi sekarang sudah di tutup.” ucap Frieska.

“berarti rumah ini sama rumah kosong itu ada sesuatu.” ujar Sisil.

“udah, udah. Dari pada ngomong yang aneh-aneh, mending kita mulai penelitiannya. Mumpung masih pagi juga ni.” ujar Lidya.

“oke. Aku setuju.” Yona setuju.

Mereka pun mempersiapkan barang atau bahan untuk penelitian. Mereka pun mulai tanya tanya kepada warga sekitar tetang organisasi dan sistem kemasyarakatan desa Kenang. Dari pagi hingga sore mereka sudah mendapatkan sejumlah informasi dari warga. Hingga tinggal satu warga lagi.

“bu, boleh nanya gak?” ujar Melody.

“iya ada apa dek?” ucap ibu setengah baya.

“emm.. Maaf sebelumnya. Rumah di ujung sana yg nomor 13 & 14,  kok menyatu dan kenapa cuma nomor 14 yg di pakai?” ujar Melody.

Ibu itu memandang suaminya sambil berbisik dan bekedip sekali kali.

“gimana, bu?” ucap Kinal memecah kesunyian.

“jadi, begini….” ucap ibu itu terpotong.

Ternyata perkataan ibu itu terpotong gara gara ia melihat pak amit melintas. Dengan segera ibu dan suaminya itu masuk rumah. Melody dan yang lain pun menjadi binggung. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke penginapan karena matahari sudah hampir tenggelam di cakrawala.
Sesampai di penginapan mereka masing-masing masuk kamarnya.

“Yon. Kenapa ya? setiap warga yg kita tanya tentang rumah ini sama rumah kosong itu langsung bertingkah aneh. Seperti ada sesuatu gitu.” ucap Lidya.

“aku juga heran Lid.” ucap Yona merebahkan tubuhnya di kasur.

Pukul menunjukkan 9 malam. Tapi mereka masih belum keluar dari kamar masing-masing,mungkin kelelahan.

“rona. Aku ke dapur dulu ya. Mau masak buat makan malam.” ucap Sisil.

“oh. Oke. Ntar aku nyusul.” ujar Rona yg masih asik memeluk guling.

Akhirnya sisil keluar dari kamar dan langsung menuju dapur.

“gini amat rumahnya. Mana di sana patung di sini patung lagi. Kalau di jual udah bisa buat buat kos-kosan ni.” gumel Sisil sendiri.

Sisil pun mulai memasak sambil memperhatikan sekitarnya.

“lama lama serem juga ni rumah kayak ada hawa hawa yg aneh.” ucap Sisil seraya memegang bulu kuduknya.

Tapi Sisil tak memperdulikannya lagi dan mengambil mangkok. Mangkok yang di ambil di taruh di dekat potongan sayur yg telah di potongnya. Setelah menaroh mangkok, ia mengambil pisau yg terjatuh. Ketika dia kembali lagi, ia melihat bahwa mangkok yg di taruh tidak ada di tempat. Ia pun mencarinya lagi.

“padahal tadi aku taruh disitu. Kok gak ada.” ucap Sisil mencari mangkok tersebut.

Ia pun mencarinya hingga ke depan pintu yg di maksud oleh frieska tadi pagi.

“ini pintu yg di maksud Frieska.” batin Sisil.

Betapa tekejutnya sisil melihat mangkoknya ada di depan pintu itu. Dia masih gak percaya dan memeriksa mangkok itu dengan seksama.

“ini benar mangkok aku.” ucap Sisil sambil menatap mangkoknya.

Tiba tiba ada yg melintas cepat di belakang Sisil. Ia kaget hingga langsung memutar badannya.

“siapa itu?”

“Rona?” ucap Sisil sambil berjalan pelan pelan.

Tiba tiba air menetes dari langit langit rumah.

“air apaan ni. Perasaan gak ada hujan deh.” batin Sisil.

Sisil pun memandang ke atas. Seketika ia kaget karena melihat mahluk berambut pajang, muka yg buruk rupa,berbaju copang canping sambil membuka mulut yg lebar hingga air liurnya menetes.

“AAA!!!” teriak Sisil seraya terduduk.

Mahluk yg menyeramkan itu telah menampak diri.

“ada apa,sisil?” ucap rona datang.

Sisil hanya masih melotot,terdiam dan gemeteran.

“kamu kenapa?” ucap Rona lagi.

“mungkin kamu tidak percaya apa yg barusan aku lihat.” ujar Sisil.

“emangnya apa?”

“sudah lah lebih baik kita masak dulu.” ucap Sisil mencoba menengkan dirinya.

Sisil masih terbayang dg rupa mahluk yg pertama kali di liatnya itu. Baunya yg bagaikan kuburan baru dan muka yg pucat, mata yg berdarah dan penuh luka itu.
Saat melamun,sisil sekali kali memandang rumah kosong itu. Dan ketika ia melihat lagi tiba-tiba ia melihat mahluk itu di rumah kosong itu. Seketika itu sisil menutup matanya.

Di kamar Melody dan Frieska.

“dek. Kamu gak mau mandi?” ucap Melody.

“enggak ah, kak. Besok aja.” ujar Frieska.

“ya udah kak mandi dulu ya.” ucap Melody seraya mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Saat Melody bersiap-siap mandi, tiba tiba ada yg aneh di dalam bak air.

“suara apa ya? Kok seperti ada yg bergerak di dlm air.” melody memeriksa bak mandi tersebut.

Melody pun pelan pelan memeriksanya & apa yg terjadi, yang keluar adalah tangan yg langsung menerkam & menyelamkan wajah Melody ke dlm air.
Frieska kaget melihat Melody yg masuk ke dalam kamar karena tidak ada tanda tanda dia membuka pintu.

“eh, kakak kok cepat banget mandinya?” ujar Frieska.

Melody tidak memperdulikannya dan langsung memakai bajunya. Muka Melody keliatan pucat dan rambutnya yg masih basah.
Setelah itu Frieska dan Melody merebahkannya di kasur.

“kak. Aku boleh meluk kakak gak?” ujar Frieska.

Melody hanya tersenyum. Frieska pun memeluk kakaknya.

“badan kakak kok dingin banget ya.” batin Frieska.

Frieska pun mulai menutup matanya sambil memeluk kakaknya.
Tanpa di sadari Frieska, Melody meneteskan air mata. Tapi yg keluar bukan air mata, melainkan darah.

“kok cuma kita sih yang makan ni.” ucap Rona seraya menyatap makanan.

“mereka tadi makan di warung desa.” ujar sisil.

“habis makan kita langsung tidur ya.” tambah sisil.

“lah. Kenapa?” ujar rona.

“aku ngerasa gak enak ni.” ucap sisil.

Selesai makan mereka langsung masuk kamar dan istirahat. Malam semakin larut membuat kabut semakin tebal.

Pagi harinya suasana sedikit mendung dan matahari tidak menampakkan dirinya. Mereka semua turun untuk sarapan bareng. Tapi kinal dan yona masih lagi acuh.

“Frieska,kakak kamu melody mana?” ucap kinal.

“dia masih tidur. Mungkin dia kecape’an.” ucap frieska.

“Ve mana Ve?” ujar lidya.

“dia mau mandi tu.” ucap Kinal seraya menunjuk ke arah Ve yg sudah siap mandi.

Walaupun rumahnya penginapan besar tapi kamar mandi dan wc nya cuma satu. Itu pun terletak di ruang tengah. Ve pun masuk ke kamar mandi dg santai dan mulai mengambil gayung. Tapi dia ngerasa aneh di dlm bak mandi. Di merasa ada yg seperti rambut. Ve pun mengangkatnya.

“HAA….!” teriak ve.

Tenyata itu adalah melody dg muka yg penuh cakaran dan biru. Semua anak yg lain pun menghampiri ve.

“ada apa ve?” ucap kinal.

Ve hanya terduduk di pojokan seperti orang yg terkena serangan jantung.
Ve hanya menunjuk ke arah bak mandi. Betapa terkejutnya mereka melihat melody yg ngambang tak bernyawa. Frieska tak percaya dan langsung berlari ke kamarnya. Di kamar,frieska tak menemui melody. Frieska pun langsung menangis dan tak percaya bahwa kakaknya sudah meninggal.

Mereka pun mengurungkan niat untuk meneruskan observasinya. Mereka berkemas dan membawa mayat melody. Frieska tak henti mengangis di depat mayat kakaknya.

“lid,kamu sama yona dan rona membawa barang ke dalam mobil. Aku,sisil dan ve mengangkat mayatnya melody.” ucap kinal.

Setelah barang barang sudah di mobil. Lidya dan yona mencoba menghidupkan mobil tapi gak bisa menyala. Mereka pun membuka mesin mobil tapi tidak ada yg rusak. Mereka pun berniat untuk meminta pertolongan warga. Tapi dengan seketika hujan turun. Mereka pun tidak menyerah mereka tetap ingin meminta bantuan warga. Ketika sisil dan ve sudah setengah jalan tiba tiba petir mengelegar yg membuat ve dan sisil takut. Mereka pun kembali lagi ke penginapan. Di tengah hujan dan petir ada sedikit percekcokan di antara mereka di ruang utama.

“sudah aku bilang kalau rumah ini ada apa apanya.” ucap yona.

“itu cuma kecelakan aja. Masa’ di kira aneh aneh.” sanggah kinal.

Frieska hanya bisa mengangis,tak bisa berbuat apa apa.

“kalau kecelakaan kenapa mukanya penuh cakaran?” ujar ve.

“mungkin dia ke pleset.” ucap kinal.

“kalau ke pleset pasti dia jatuh kebawah,bukan ke dalam bak mandi.” ucap yona.

“baiklah aku akan ceritakan sebenarnya dg rumah ini. Kalian percaya atau gak percaya terserah.” ujar sisil.

“emangnya apa?” ucap kinal.

“sebenarnya bukan kita aja yg menghuni rumah ini.” ucap sisil.

Kata sisil tadi di iringi petir. Satu sama lain pun saling memandang.

“maksud mu?” ujar ve.

“ada mahluk astar penghuni rumah ini. Semalam dia memuculkan diri. Mungkin dia terganggu dg kedatangan kita.” ucap sisil.

“jadi?” ujar lidya.

“sepertinya mereka bukan hanya mengganggu tapi mereka juga ingin mengrusir kita dg cara menghabisi kita.” ucap sisil.

“tu kan nal. Aku sudah bilang bahwa rumah ini seram.” ucap ve seraya memeluk kinal.

Hingga sore hujan gak reda reda. Frieska tertidur mungkin kelelahan. Kinal pun melirik mayat melody.

“lah. Mayat melody mana?” ucap kinal.

Semuanya pun baru menyadari bahwa mayat melody tidak ada di dekat mereka lagi. Mereka pun mencarinya kemana mana hingga di sebuah sudut ruangan yg gelap mereka melihat mayat melody yg lagi di jaga seorang wanita dg rambut yg panjang dan tangan yg kering serta kuku yg panjang. Wanita itu terus mengelus ngelus rambut melody.

“siapa kamu?” ucap yona.

Wanita itu tidak menjawab. Hujan yg deras dan cahaya petir yg menerangi wajah mayat melody.
Tiba tiba suara gamelan terdengar yg membuat mereka semua heran. Padahal tidak ada yg memainkan gamelan atau memutar lagu gamelan.

“woy! Siapa kamu? ” ucap kinal.

Wanita pun melirik ke arah mereka dg memutar kepala 180 derajat seraya tertawa dg mulut yg terbuka lebar.
Seketika mereka teriak yg di sertai listrik mati yg membuat seluruh ruang gelap dan mereka berlari entah kemana. Mereka masing masing menyelamatkan diri.
karena mereka kaget mereka pun masing masing menyelamatkan diri tanpa memikirkan satu sama lain. Karena listrik mati jadi semuanya gelap. Ve,yona,lidya bersenyembunyi di kamar,yg pasti bukan kamar mereka. Rona,kinal,sisil berlari ke sebuah ruangan yang gelap. Seketika listrik hidup kembali tapi hanya betenaga kecil,jadi tidak terlalu terang.

“yang lain mana?” ujar yona.

“aku gak tau.” sahut lidya.

“itu tadi apaan?” ucap ve seraya memeluk yona.

“mungkin dia penghuni rumah ini.” ucap lidya.

“udah ve. Jangan takut. Kita kan sudah bersama.” ucap yona.

Tiba tiba suara berasal bawah tempat tidur.

“apaan tu.” ucap ve yg semakin kuat memeluk yona.

“aku juga gak tau.” ujar yona.

Mereka pun memeriksanya. Pelan pelan mereka melirik ke kolong tempat tidur. Ternyata itu adalah mahluk tadi dg wajah yg penuh dendam.

“AAA!” mereka kaget.

Yona dan lidya berhasil melarikan diri kecuali ve.

“yona! Lidya! Tolong!” teriak ve dalam kamar.

Yona dan lidya pun sadar bahwa ve masih di dalam kamar.

“yon. Ve masih di dalam.” ujar lidya seraya menahan yona.

“o iya.” ujar yona.

Mereka pun segera berlari menuju kamar. Mereka melihat ve yg merangkap seraya memegang kakinya.

“ve. Kamu kenapa?” ujar lidya.

“aku kepleset.” ucap ve.

Saat mereka fokus dg ve,mereka tidak menyadari bahwa kuntilanak itu ada di belakang ve.

“ve di belakang mu!” teriak yona.

Ve pun meloleh ke belakang.

“AAA!” teriak ve.

Dengan cepat ve di tarik oleh kuntilanak itu.

“ve!” teriak yona dan lidya.

“tolong aku!” teriak ve.

Kuntilanak itu menyeret ve hingga dekat kasur. Yona dan lidya pun mencoba mendekati ve. Tapi langkah mereka terhenti oleh lemari yg goyang dengan sendirinya. Pelan pelan lemari tua itu mulai jatuh tepat di atas kepala ve.

“tolong aku!” teriak ve.

“awas ve!” teriak mereka.

Lemari itu pun mengarah ke ve.

“AAA!” teriak ve.

Dengan cepat lemari itu menghantam kepala ve hingga kepalanya hancur dan darahnya muncrat ke baju yona dan ve. Ve pun kejang kejang dg kepala yang sudah hancur gara gara di timpa lemari yg tua dan berat.

“ve…” ucap yona seraya memeluk lidya.

“kita kehilangan satu teman lagi dg tragis.” ucap lidya seraya meneteskan air mata.

Setelah melody yg mati,sekarang ve. Ve mati dg kepala yg setengah hancur hingga darah di mana mana.
Kuntilanak itu hanya tertawa.

“yon. Kita harus keluar dari sini.” ujar lidya.

“ve gimana?” ucap yona.

“biarin dulu. Kita harus minta pertolongan.” ucap lidya.

Mereka pun keluar dari kamar tersebut. Mereka mencari teman temanya yang lain. Mereka pun mencari di mana mana.

“lid. Itu kan frieska.” ucap yona.

Ternyata dari tadi frieska hanya menunggu mayat kakaknya.

“frieska.” ucap lidya seraya menghampiri frieska.

Mereka pun mendekati frieska. Mereka pun terus memanggil frieska,tapi frieska tidak memperdulikannya. Mereka pun menupuk pundak frieska. Betapa terkejutnya mereka ketika pundak frieska di tepuk kepalanya berguling ke lantai.

“frieska!” ujar yona seraya mengeluarkan air mata lagi.

Ternyata frieska sudah tewas dg tragis juga sama seperti ve. Kepala frieska di penggal,matanya yg sudah di cungkil hingga kedua mata frieska entah kemana. Mulutnya yang di sobek hingga terbuka lebar. Yg lebih mengheranka tidak ada darah di mana pun di sekitar mayat frieska.

“lid. Teman teman kita.” ujar yona.

“aku tau. Ini semua maksudnya apa? Kita harus keluar dari rumah ini.” ucap lidya.

Mereka berdua bergegas menuju pintu. Tetapi dg segera pintu di rantai dan di gembok.

“ni siapa yg ngegembok?” ujar yona.

“tolong! Tolong!” teriak lidya ke arah luar.

Tetapi usaha lidya tidak berhasil karena rumah pengintapan mereka jauh dari rumah warga desa.
Yang membuat mereka heran siapa yg merantai dan menggembok pintu utama.

“kita ada di mana ni?” ujar sisil.

“aku juga gak tau. Coba kita lihat di luar.” ucap kinal.

“Itu ada jendela.” ucap yona menunjuk ke arah jendela.

Mereka bertiga pun melihat ke luar. Mereka terkejut karena mereka ada di rumah kosong sebelah penginapan mereka.

“kenapa kita bisa di sini?” ujar sisil.

“aduh. Aku bingung dg ini semua. Aku ingin keluar dari sini.” ucap rona.

“ya sama lah. Sekarang kita cari jalan keluar dari rumah ini.” ucap kinal.

Hi hi hi

kuntilanak itu tertawa seakan akan bahagia di atas penderitaan mereka.

kinal,sisil dan rona mulai menjelajahi rumah kosong tersebut. Ruang demi ruang mereka masuki,tetapi mereka tidak menemukan pintu.

“gimana ni? Di setiap ruangan kok gak ada pintu yg menuju keluar.” ujar sisil.

Sementara itu tawa kuntilanak semakin jelas di telinga mereka.

“ya,udah. Coba kita ke ruang itu.” ucap kinal seraya menuju suatu ruang.

“ayo,sil.” ucap rona menarik tangan sisil.

Mereka pun masuk ke ruang tersebut. Mereka heran dg suasana ruangan tersebut. Ruang tersebut ada berbagai sesajen dan cermin yg besar.

“ruang apa ini?” ujar kinal.

“ini seperti tempat persembahan deh.” sahut sisil.

Tanpa mereka sadari,rona mendekati cermin besar tua tersebut.

“kenapa tu rona?” ujar sisil.

“ron. Kamu kenapa?” ucap kinal.

Rona pun mulai melengokan badannya dan menari tarian jawa.

“eh. Kamu kenapa? Malah asik nari lagi.” ucap kinal.

Tapi rona tak memperdulikannya. Rona terus menari di depan cermin.

“LINGSER WENGI,SLIRAMU TUMEKING SIRNO,” rona mulai bernyayi.

“kamu nyayi lagu apa sih?” ucap kinal.

Rona pun setengah sadar dan memegang kepalanya. Tapi tak lama kemudia dia menari kembali dan bernyayi.

“LINGSER WENGI,SLIRAMU TUMEKING SIRNO… OJO TANGI NGGONMU GOLING AWAS JO NGETORO…. AKU LAGI BANG WINGO WINGO… JIN SATAN KANG TAK UTUSI….DADYO SEBARAN WOJO LELAYU SEBET.”

“kamu kok nyayi seperti sinden?” ucap kinal.

“iya. Aku jadi merinding dengarnya. Dalam situasi gini kamu malah menari dan nyayi lagu jawa.” ucap sisil.

Tiba tiba suasana ruangan berubah,sedikit sesak dan tercium bau kuburan.
Sisil pun mulai mengingat sesuatu.

“jangan,jangan. Itu lagu yg di ceritain rona waktu itu?” ujar sisil.

“lagu apaan sil? Ni ruangan berubah hawanya.” ucap kinal.

“itu judulnya lingser wengi. Konon itu adalah lagu untuk memanggil kuntilanak.” ucap sisil.

Seketika kinal terkejut dan melirik ke arah rona. Dengan pelan pelan rona melirik ke arah mereka dengan mata yg melek dan hidung berdarah.

“rona. Kamu gak kenapa kenapa kan?” ucap sisil mencoba mendekat.

Ketika kinal dan sisil ingin meraih rona. Tiba tiba rona di peluk oleh rambut kuntilanak dan di tarik ke dalam cermin. Rona pun berteriak. Sisil dan kinal mencoba menariknya,tapi kuntilanak tersebut menarik rona dg kuat sehingga tubuh rona masuk ke dalam cermin seutuhnya.

“rona!” teriak sisil seraya menangis di depan cermin.

Saat itu juga darah mengalir dari bawah cermin.

“udah sil. Sekarang kita harus keluar dari tempat terkutuk ini.” ucap kinal menarik tangan sisil.

Kinal dan sisil keluar dari ruang tersebut. Mereka menuju dapur rumah kosong tersebut.

“kinal. Lihat tu,” ucap sisil menunjuk ke jendela.

Kinal pun melihat pemandang di luar.

“siapa dia?” ujar kinal.

Tapi ada yang lebih mengagetkan kinal.

“ve? Melody? Frieska?” ucap kinal seakan gak percaya.

“jadi mereka sudah tewas juga.” ucap sisil memeluk kinal.

Mayat ve,melody dan ve di bawa oleh seseorang yang serba hitam. Dia berniat membuang mayat itu ke dalam sumur tua. Sebelum mayat tersebut,dia memotong motong tubuh ve,melody dan frieska. Melihat itu,kinal dan sisil hanya menutup mata karena tidak kuat meliat teman mereka di perlakukan seperti itu.

Kepala frieska langsung di buang,lalu perutnya di bobos dan kedua kakinya di potong potong dan di buang.

Kepala ve yg sudah hancur dibelahnya menjadi dua,hingga darahnya muncrat.

Sedangkan mayat melody di potong jadi 2 bagian. Tangannya di patahkan dg cara di tarik hingga suara tulangnya patah di terdengar. Melihat itu sisil teriak. Teriakkan sisil di dengar orang tersebut. Orang tersebut menyadari keberadaan mereka. Dengan segera kinal dan sisil berlari.

Orang tersebut langsung menyelesaikan pekerjaanya dan mengejar sisil dan kinal.

Sementara itu yona dan lidya memutuskan untuk membuka pintu sambungan rumah itu. Setelah itu,mereka langsung masuk dan menuju rumah kosong tersebut. Yona dan lidya mencari teman temanya yg lain.
Yona dan lidya menyelusuri tiap ruang hingga mereka berbenturan.

“siapa kalian? Orang atau hantu?” ucap yona.

“ini aku. Kinal.” ucap kinal.

“kinal. Sisil.” ucap lidya.

Mereka ber4 pun pelukkan.

“rona mana?” ujar lidya.

“dia sudah tewas.” ucap kinal sambil menunduk.

“astaga.” yona kaget.

“aku juga sudah tau dg ve dan frieska. Ternyata ada orang di balik ini semua. Dia sepertinya seorang psikopat dan mayat teman teman kita di potong lalu di buang di sumur.” ucap kinal.

“jadi. Ada seseorang di balik ini.” ujar yona.

“iya. Kami lagi di kejar sama orang tersebut. Sebaiknya kita bersembunyi.” ucap sisil.

Mereka ber4 pun mulai bergerak. Tepat di depan mereka sudah berdiri sesosok orang itu dg memegang golok.

“mau kemana kalian?” ucap orang itu.

“siapa kamu? Mengapa kamu melakukan ini kepada kami?” ucap kinal.

Orang itu hanya terdiam dan berjalan menuju mereka. Mereka ber4 pun langsung berlari menyelamatkan diri.

“kalian tidak bisa kemana kemana. Kalian akan mati hahaha….”

orang itu pun bergerak mencari mereka.
“jangan lari kalian! Aku bisa mencium darah segar kalian!” teriak orang itu.

Kinal, Yona, Lidya dan Sisil langsung berlari dan ber sembunyi. Mereka bersembunyi di ruang bawah tangga. Suara jalan orang itu semakin jelas tetapi lama kelamaan menghilang.

“dia kok hilang.” bisik Sisil. “sstt… Diam.” bisik Kinal.

Druakk….

Pintu ruangan itu di dobrak. Sehentak mereka kaget.

“di sini rupanya kalian.” ujar orang itu.

Dengan berani Kinal memukul orang itu hingga terpental ke lantai. Mereka pun lari, tetapi kaki Yona di tahan. Yona memberontak, tetapi di tidak bisa. Sisil dan Lidya membantu Yona. Dg kekuatan mereka akhirnya bisa terlepas. Saat mereka berlari untuk menyusul Kinal. Tiba tiba pisau besar menancap di punggung Lidya.

“aaa! Tolong aku.” rintih Lidya sambil melirik ke punggungnya.

Dengan cepat orang itu mencabut pisaunya dan menendang lidya.

“Lidya!” teriak Yona.

Saat orang itu menghampiri Lidya, cahaya petir menghiasi rumah gelap itu. Bukan petir yg membuat kaget mereka tapi wajah pembunuh itu.

“pak Amit.” ujar Lidya.

 

“iya. Emang kenapa? Kali ini kalian tidak akan ku biarkan hidup.” ujar pak Amit.

Sisil, Yona dan Kinal Melihat itu sehentak kaget juga.

“apa maksud bapak dg semua ini, ha!” teriak Kinal.

“itu bukan urusan kalian. Yang pasti aku akan membunuh kalian.” ujar pak Amit.

Saat pak Amit terlena mengobrol, Lidya mulai menjauh dari pak Amit dg punggung penuh Darah. Ternyata Lidya di ketahui pak Amit. Dengan cepat pisau memotong tangan Lidya.

“aa tangan ku!” teriak Lidya.

“berisik!” teriak pak Amit.

Seketika pak Amit memotong kepala Lidya. Kepala Lidya pun berguling dg mata yg melek. Darah terus mengalir. Kinal, Sisil dan Yona hanya bisa menangis melihat satu temannya mati lagi.

“ini bukan waktu yg tepat. Kita harus pergi. Aku akan minta pertolongan kepada warga dan kalian ber2 hadapi pak Amit. Secepat mungkin aku kembali.” ujar Kinal.

Sisil dan Yona hanya menganguk sambil menghapus air matanya. Kinal memecahkan jendela lalu melompat keluar. Sisil dan Yona pun berniat menghampiri pak Amit.

“ini saatnya kami mengakhirnya.” ujar Sisil.

“dasar Bocah!” teriak pak Amit.

Dengan cepat Yona menendang pisau di tangan pak Amit dan pisau itu terlempar entah kemana.

“kurang ajar!” pak Amit memukul Yona.

Lalu Sisil memukul pak Amit. Ternyata Sisil mempunyai ilmu bela diri silat.

“lumayan juga. Tapi kamu akan mati.” ujar pak Amit.

Pak Amit mulai membaca mantra. Dengan sangat cepat ruangan mulai sesak dan kuntilanak melayang layang di atas mereka. Kuntilanak itu meluncur dengan cepat menuju Sisil. Kuntilanak itu berhasil masuk ke dalam tubuh Sisil.

“Sisil!” teriak Lidya.

Tak lama kemudian Sisil berubah aneh dia tertawa ala kuntilanak, matanya putih semua dan pak Amit terus membaca mantra. Sisil mulai teriak gak jelas sambil mecolok matanya sendiri hingga ke dua matanya keluar. Darah mengalir dari hidung, kuping dan matanya itu. Yona hanya menangis ketakutan. Sisil mematahkan tangannya sendiri lalu ia menusuk perutnya sendiri hingga semua organ perutnya keluar. Yona mulai bergerak mundur berlahan. Pak Amit pun berhenti membaca mantra. Sisil melayang ke atas dan kuntilanak itu keluar dari tubuh Sisil. Tubuh Sisil jatuh ke lantai dan tak bernyawa lagi.

“sekarang giliran mu.” ujar pak Amit kepada Yona.

Yona dengan segera berlari ke loteng paling atas dan dia di kejar pak Amit. Sementara itu Kinal berlari menuju rumah warga di tengah hujan deras. Karena rumah warga cukup jauh.

Kinal pun sampai di perumah warga.

“tolong! Tolong!” teriak kinal.

Mendengar suara Kinal, warga keluar rumah.

“ada apa dek?” tanya salah satu warga.

“tolong pak, tolong. Tolong kami.” ucap Kinal sambil menangis.

“tolong apa? Dan kenapa?”

“nanti saja saya menjelaskannya. Cepat kalian harus ikut aku ke penginapan kami.” Kinal menunjuk penginapannya.

Tanpa pikir panjang para warga pun mengikuti kinal.

Sementara itu, Yona berlari ke loteng dg rasa yang benar benar takut. Saat dia berjalan mundur, tiba tiba pak Amit mencekiknya dari belakang.

“kena kau.” ujar pak Amit.

Yona ingin memberontak tapi tidak bisa. Pak Amit semakin kuat mencekik Yona. Yona melirik jendela di belakangnya. Yona tersenyum sambil berkata.

“maafkan aku Kinal, aku sudah gak tahan. Kamu harus selamat.”

dengan cepat Yona menarik pak Amit ke jendela. Mereka pun jatuh dari loteng dg kepala duluan. Mereka mendarat di jalan setapak halaman depan. Kepala mereka sama sama pecah, dan mereka tewas di tempat. Darah di mana mana. Darah mereka bercampur dg air hujan yg mulai mereda.

Selang beberapa menit Kinal datang. Pas warga dan Kinal datang, mereka di sambut dg mayat pak Amit dan Yona yang mengenaskan. Dengan cepat Kinal menghampiri mayat Yona. Kinal menangis dengan histeris melihat semua temannya telah tewas. Para warga yg melihat itu pun tidak kuasa. Warga menelpon polisi dan ambulan. Para warga tidak menyangka, pak Amit yg begitu ramah dan baik di hadapan warga telah menjadi pembunuh yg kejam. Polisi melakukan olah tkp, mayat yg di potong potong telah di kumpulkan. Kinal masih terauma dan dia masih di rumah sakit. Setelah 2 hari berlalu, Kinal masih terauma dan kadang kadang mengigo tentang kuntilanak. “jangan! Jangan bunuh teman ku!” teriak Kinal di atas ranjang. Para suster mencoba menahan Kinal, tapi tidak bisa. Kinal memberontak dan berlari ke luar ruang rawatnya, dia berlari seperti di hantui. Kinal berlari sampai dia lompat dari lantai 3 rumah sakit. Dia jatuh di atas mobil. Semua orang yg melihatnya kaget melihat kejadian itu. Kinal juga mati di tempat. Semua para mahasiswi yg menginap di rumah itu semuanya mati tanpa tersisa satu pun. Semua kejadian ini sangat memukul keluarga mereka. Mereka mati dg tidak wajar. Siapa di balik ini semua? Apakah pak Amit?

FLASHBACK ternyata rumah no.14 itu adalah milik prof. Herry. Herry yg memberi tugas melody dan kawan kawan. Dia ternyata memelihara kuntilanak di rumah itu dan pak Amit sebagai penjaganya. Herry memelihara kuntilanak untuk menjaga dirinya. Barang siapa yg macam macam kepadanya akan di jadikan tumbal ke kuntilanak itu. Herry memberi tugas dan mengarahkan Melody dkk kerumah itu adalah rencana Herry dan Alasannya adalah mencoba kekuatan para pemudi itu dan memberi makanan spesial kuntilanak yaitu darah wanita perawan. Dan pas waktu malam kejadian itu, ternyata Herry sudah ada di tempat, dia memperhatikan semua kejadian itu. Setelah kejadian itu, malam jum’at. Herry kembali ke rumah itu, dia membawa sesajen dan janin umur 4 bulan. Dia menaruh semua itu di depan cermin besar tempat di mana Rona tewas. Dengan membakar kemenyan dan membaca mantra, kuntilanak itu menghinsap semua darah yg ada di janin itu. Setiap tahun Herry menyumbangkan janin ke Kuntilanak itu. Sampai kini kuntilanak itu masih diam di rumah no.14 itu. Dan semua kegiatan Herry dan rencana Herry tiada satu pun orang tau. TAMAT.

SEDIKIT INFO: pontianak berasal dari kata kuntilanak. Kenapa kuntilanak? Begini sekilas ceritanya. Suatu hari raja mempawah atau ketapang saya juga lupa jalan jalan di sungai kapuas. Saat dia jauh berdayung di hilir sungai kapuas dia mendengar ketawa kuntilanak. Karena dia risih maka dia menyuruh pelajurin menembakan mariam ke arah suara itu dan ketawa kuntilanak berhenti. Dan dia mendirikan kerajaan baru di hilir sungai yg di sebut kota kuntilanak, karena agak seram di umbah jadi pontianak. Dan setiap bulan ramadhan, para warga bermain meriam bambu yg bersautan antara seberang sungai kapuas kota pontianak untuk mengusir kuntilanak *mitosnya* konon ketika seseorang akan melahirkan, kuntilanak berada di bawah rumah untuk menunggu darah segar itu *bagi rumah lantai papan* dan supaya tidak di ganggu kuntilanak, maka di kolong rumah di beri gunting tepat di bawah tempat orang itu melahirkan. Dan satu lagi kenapa rumah orang melayu tinggi? Karena kuntilanak itu lah *alasan di atas* percaya atau tidak, mereka itu ada. Dan jangan mengusik mereka karena mereka juga mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Manusia di beri akal mereka juga di beri yg namanya amarah perasaan karena keturunan jin atau setan di ciptakan dari api.

Twitter : @mad_darwis

Cp : 089621715015

Iklan

2 tanggapan untuk “JERITAN RUMAH NO. 14

  1. haha saya pernah ke Pontianak, dan dulu pas malam sebelum Idul Fitri saya liat warga-warga ramai-ramai bermain meriam ditepi sungai kapuas. Dan cerita asal muasalnya emang begitu saya denger, membunyikan meriam untuk mengusir kuntilanak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s