About a Girl

About a Girl for KOG

۩ About a Girl ۩

Kring, Kring, dan Kring.

Bunyi ini sudah menjadi tradisi ditelinga gue, tempat dimana gue bekerja sekarang. Sebuah tempat pengaduan masyarakat yang dibuat oleh Pemerintah tempat gue tinggal. Kalau pengaduannya seperti pemberitahuan adanya gangguan diruas jalan, adanya aktifitas preman atau pengemis yang mengganggu dan meresehkan warga hal itu akan gue maklumin, karena memang itulah tujuan tempat gue bekerja sekarang dibangun.

Tapi yang gue dapat adalah sebuah sesi curhat yang tidak penting, kalau gue mau maki udah gue maki-maki kali penelponnya. Tapi gue dan karyawan lain dihimbau untuk menjaga lisan dan sabar kalau mendapatkan telepon seperti itu.

Terkadang, saat ada telepon yang seperti itu gue jawab didalam hati saja.

“Saya baru putus sama pacar saya, tapi saya masih sayang dia. Namun… dia udah punya pacar baru, saya harus gimana?” Gue jawab dalam hati.  “Perkosa mantan lo itu sampai hamil, terus lo tanggung jawab, nikah deh.”

“Hayooo nama saya siapa hayooo, kalau bisa nebak baru deh gue ngasih keluhan gue?”, gue jawab dalam hati. “BODO AMAT!

Pemerintah gak becus! Masih banyak korupsi dimana-mana!

Gaji saya disimpan Istri!

Hp gue disita nyokap!

Saya harus belok kanan atau kiri buat menentukan masa depan?

Keperjakaan saya hilang!

Minta nomor HP cewek dong!

Bumi itu datar atau bulat sih ?!

Saya pengen berhijab, tapi saya cowok. Saya harus bagaimana?

Pacar saya ternyata Lesbian!

Masa fanfic-nya lama sekali di-update! Itu gimana sih authornya?!

Twitter gue di-follow nyokap dan nyokap pacarnya gue! gimana nih?!

Halo, pesen 2 dada ayam KFC mas.

Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya yang tidak penting. Dan jati diri tempat gue bekerja sudah diubah seenak jidatnya oleh masyarakat, gak ada yang bener sama sekali.

“Kenapa Yon?”

Gue lalu menoleh kesamping melihat gadis yang tengah melepas Headset dan ditaruh dilehernya. Namanya Yona, mungkin dia bertanya ketika melihat gue yang terlihat lesu seperti ini.

“Biasalah Yon, kayak gak tau aje.”

“Haha sekarang apa? Kalo aku tadi ada penelpon bapak-bapak gitu curhat sama aku, dia pengen nikah lagi tapi masih punya istri.”

Gue jadi tertawa mendengar ucapannya. “Lu aje yang jadi bini keduanya Yon.”

“Dihh, OGAH!” jawabnya dengan ekspresi geli.

“Dion, Yona. Itu masih banyak telepon, malah santai-santai kalian,” salah satu Manager mulai menegur kami berdua dari belakang.

“I-iya pak,” gue dan Yona kembali memasang Headset dan melanjutkan pekerjaan kami, dan akhirnya gue kembali mendengar keluhan-keluhan yang sama sekali tidak bisa gue pikirkan jalan keluarnya.

Tombol biru berkedip membunyikan suara Kring yang kecil, tanda ada yang mulai menelpon, gue dengan lesunya menekan tombol itu dan melanjutkan tugas gue.

Call Center pengaduan kota, ada yang bisa kami bantu,” ucapan salam yang sudah menjadi ritual tiap kali gue menerima telepon.

“Ini, Traffic Light di perempatan jalan rusak. Jadinya kendaraan gak teratur, saya tadi lewat situ kesusahan dan hampir saja mau ditabrak motor pas mau nyebrang. Saya mohon Traffic Light nya dibetulin jadi biar teratur gitu.”

Akhirnya,” batin gue mulai bersyukur mendapat telepon yang mengerti arti tempat gue bekerja ini.

Gue lalu mengambil formulir pengaduan yang terletak di samping komputer, “Baik, Mbak. Bisa beritahu kami dimana tempatnya itu?”

Suara wanita itu lalu memberitahukan alamat perempatan Traffic Light itu berada. Gue catat alamatnya serta isi pengaduan dan keluhannya. Setelah selesai gue kembali berbicara.

“Terima kasih atas informasinya, keluhan anda akan kami tangani secepatnya.”

“Sama-sama.”

Komunikasi pun terputus, kemudian gue memanggil salah satu pegawai yang bertugas untuk mengumpulkan formulir pengaduan. Setelah itu gue bernafas lega berkat telepon tadi yang telah memberi gue kesan benar-benar bekerja di tempat ini. Gue kembali mengingat suara wanita yang menelpon tadi, suaranya lembut, sopan, dan sukses membuat gue semangat gegara membuat gue bekerja menjadi tidak sia-sia.

Tombol biru berkedip kembali, dan langsung saja gue tekan untuk mendengar keluhan lainnya.

Call Center pengaduan kota, ada yang bisa kami bantu?”

“Pacar saya matre banget!! sekarang dia minta dibeliin tas dan Hp baru. Gimana ini?”

LEMPAR KE LAUT !!” teriak gue didalam hati.

۩ About a Girl ۩

Jam pulang kerja gue buru-buru pergi keparkiran motor, karena gue liat awan udah kayak berminggu-minggu enggak mandi, hitam-hitam gimana gitu.

“Dion! Dion!”

Helm gue terpasang setengah gara-gara mendengar teriakan itu, gue menoleh kedepan dan melihat Yona berlari menghampiri gue. Gue turun dari motor dengan kondisi kepala seperti Alien yang terkena tumor otak, helm masih menempel setengah.

“Kenapa, Yon?”

“Ini…” Yona mengangkat sebuah benda kecil lalu, “Aduhh!!” dia tersandung dan jatuh.

Gue memiringkan bibir. Entah kenapa gue sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Dengan gaya Alien kena tumor otak gue pun menghampirinya.

“Aduuuuh sakiiitt,” keluhnya sambil melihat lutut yang lecet.

“Perasaan gue dari dalam kantor lu jatuh melulu…” gue cengengesan.

“Uuuuuh,” dia malah ngambek, pipi dikembungin, mulut dimanyunin.

“Yaudah, sini gue bantu,” gue menawarkan pertolongan walau gue tau ini bakalan sia-sia.

“Enggak!” tuh kan, gue tau pasti dia bakal menolaknya.

Gue melepas helm, menggaruk-garuk kepala sambil melihat dia yang mencoba berdiri. Dan saat dia sudah berdiri tiba-tiba… “Aduuuh!!” yap! Dia lagi-lagi jatuh, kali ini kesamping gara-gara sepatunya.

“Sakit…” keluhnya sambil melihat lengan tangan kirinya.

Gue taruh helm dibawah dan tanpa perlu menawarkan pertolongan gue langsung menolongnya. Gue pegang kedua lengannya dan gue bantu nih cewek untuk berdiri.

“Udah ditolongin kenapa masih manyun gitu?” gue terkekeh melihat ekspresinya.

“Kamu pasti mau nyari kesempatan kan megang-megang aku?”

“Yeeee kalee, kalau gue biarin harus berapa kali lagi gue nonton lo jatuh kesana kemari.”

“Hmmm yaudah makasih.”

“Sama-sama, terus ada urusan apa tadi?”

“Oh iya, nih,” Yona menyerahkan sebuah kunci, “Kunci motor kamu ketinggalan dimeja tadi.”

“Eh?” gue memeriksa kantong celana dan kayaknya itu emang kunci motor gue, gue pun cengengesan, “Makasih-makasih, untung lo datang. Kalo enggak naik turun lagi gue buat ngambil nih kunci.”

“Sama-sama, makanya disimpen baik-baik.”

“Iya-iya hehe, makasih sekali lagi ya. kalau gitu gue pulang dulu.”

“Iya,” dia tersenyum dan mengangguk.

Kami berdua berbalik badan dan belum selangkah kaki gue berjalan gue mendengar suara yang tak asing untuk telinga gue.

“Aduuuuh!”

Gue menoleh dan memiringkan bibir, tuh cewek jatoh lagi. Karena merasa nih anak bakalan tewas gara-gara jatuh melulu akhirnya gue menemukan ide bagus setelah dia berdiri.

“Tunggu disini, Yon.”

“Hmm? Ngapain?” tanyanya sambil membersihkan debu-debu dibadannya.

“Udeh tunggu aje disini.”

Gue menuju motor, gue hidupin dan gue hampirin tuh anak.

“Naik.”

“Loh? Ngapain? Mau nganterin aku pulang?”

“Kagak, helm cuma 1 gini. Yuk gue anter ampe depan, ditempat lo biasa nunggu jemputan.”

“Yeee deket gitu, gak usah repot-repot. Tapi makasih ya sebelumnya,” dia tersenyum, berjalan, dan… GEDEBUK! “Aduuuuuuuh!” dia terjatuh lagi gara-gara kakinya nyenggol ban motor gue.

“Aduh Yon, gak tega gue lama-lama. bener dah.”

“Uuuuuh!!” dia terlihat kesal dan memukul-mukul kakinya sendiri.

Gue bantu dia berdiri dan kali ini dia setuju untuk gue anter sampe depan gerbang. Sesampainya disitu dia langsung duduk dihalte menunggu teman yang ampir tiap hari datang menjemputnya.

“Makasih ya, Dion.”

“Iya, gue pulang dulu ya?”

“Iya hati-hati ya.”

Gue lalu memandang wajahnya dan merasakan sedikit kejanggalan, Yona yang gue liatin mukanya alisnya mulai gak sinkron, seperti timbangan ada yang naik ada yang turun.

“Kenapa mandangin aku kayak gitu?” tanyanya.

Gak gue jawab dan gue mendekatkan wajah gue kewajahnya, kepala dia mundur kebelakang, wajar sih.

“Lo gak pake soft lens?”

“Eh?” tuh anak tertegun, “Kok kamu tau?”

“Ya taulah, kan tiap hari gue ngeliatin lo. Hmm pantesan lo dari tadi kerjaan jatoh melulu hari ini,” gue menarik kepala gue dan memiringkan bibir.

“Hehehe… iya tadi buru-buru pergi, jadi lupa mau make, lalu lupa juga bawa kacamata. Ya gitu.”

“Oh gitu, rabun dekat?”

“Iya… tapi kok kamu bisa sadar gitu sih kalau aku pake soft lens? Padahal kan aku gak pernah bilang.”

“Udah dibilangin gue tiap hari ngeliatin lo, apalagi kita kerja bersebelahan. Ya gue sadarlah, tuh warna mata lo beda gitu, kemarin biru sekarang coklat.”

“Oh haha kok aku merasa kayak diperhatiin gitu ya?” tuh anak tertawa.

“Biasa aje kali, tiap kita ngobrol kan gue mandangin muka. Kayak sekarang,” gue cengengesan.

Yona tertawa dan memukul pelan tangan gue, “Awas nanti naksir loh.”

“Ya bagus, jadi gue gak diledekin adek gue lagi.”

“Haha maunya, kenapa diledekin?”

“Ya, katanya sih ada cewek yang naksir sama dia. Jadi itu melulu yang disombongin, entah itu bener atau kagak. Gue gak pernah liat cewek yang dia maksud datang kerumah soalnya.”

“Jadi penasaran mau ngeliat adek kamu yang sering kamu ceritain hehe.”

“Beeh! Jangan, lo belum tau orangnya kayak gimana.”

“Hihi adek sendiri digituin, oh iya kamu beli buku dimana sih? Sering banget aku ngeliat kamu bawa buku.”

“Oh itu, gak jauh kok dari sini. Lumayan lah.”

“Dimana?”

Sekarang gue malah ngobrol sama nih cewek dan lupa ceritanya untuk pulang, jadi nafas gue untuk berpamitan tadi sia-sia jadinya. Tak beberapa lama kemudian ada bunyi klakson menarik perhatian kami dan itulah temen Yona yang ampir tiap hari menjemputnya.

“Kalau gitu aku pulang ya, Yon,” pamitnya sambil berdiri dari bangku.

“Iya, Yon.”

“Hehehe,” nih anak tiba-tiba ketawa.

“Kenapa?”

“Enggak, lucu aja rasanya manggil panggilan diri sendiri,” ujarnya.

“Oh… iya juga sih hahaha… Ngomong-ngomong temen lo itu siapa namanya?”

“Itu?” Yona menunjuk temennya yang didalam mobil, “Melody, kenapa?”

“Oh enggak, salam ya? hehehe.”

“Udah ada yang punya, kasian deh,” lidahnya keluar, melet gitu buat ngejek.

“Ya… suruh dia putus gih sama pacarnya.”

“Yeee maunya,” dia pun tertawa lepas.

“Yona ayooo,” gue menoleh dan melihat Melody memanggil dari dalam mobil.

“Iya-iya, aku pulang dulu ya Dion,” pamit Yona sekali lagi.

“Iya, hati-hati.”

“Iya,” katanya, tapi yah… “Aduuuh!” tuh kan, baru nyampe di-trotoar aje udah jatoh.

Gue bantu lagi untuk berdiri dan gue bantuin juga dia buat masuk kedalam mobil. Setelah itu akhirnya Yona pergi bersama temannya itu. Sedangkan gue akhirnya bisa benar-benar pulang. Diperjalanan gerimis sudah turun, gue berpikir mungkin gue ke toko buku aje sebentar. Itung-itung nyari buku komik baru lagian kalau hujan gue bisa nyantai didalam, mau pulang pun gue bawa jas hujan. Motor gue arahkan kesana dan beberapa menit kemudian gue menyeringitkan dahi.

“Buset, macet apaan nih?”

Gue melihat kendaraan-kendaraan didepan memadati jalan, lalu gue liat traffic light yang gak hidup sama sekali diperempatan jalan.

Oh iya, ini kan alamat tadi yang diberitau sama yang nelpon,” batin gue.

Daripada terjebak dan keburu diguyur hujan akhirnya gue memilih langsung singgah ke toko buku, lagian jaraknya udah deket. Sesampainya disana dan hendak memasuki toko hujan pun mengguyur, fiuuh untunglah gue tepat waktu. Sebuah lagu Wintergatan berjudul Marble Machine menyambut gue saat memasuki toko, tau darimana gue hal tersebut? Noh dilayar TV yang nemplok didinding nunjukin videonya.

Gue menuju rak bagian komik, hmm tidak ada yang baru dan sepertinya gue merasa sia-sia datang kesini. Gue hendak keluar akan tetapi ada yang menarik perhatian gue, yaitu rak-rak novel sekarang bertambah 2 rak nya dari yang terakhir kali gue liat waktu kesini. Gue kepengen liat-liat siapa tau ada yang baru dan bisa dijadikan bacaan membunuh waktu selama dirumah.

Gue lihat dan melihat, aktifitas ini gue lakuin sambil berjalan miring kesamping menyerupai kepiting, hanya saja tangan gue gak ada penjapit gede layaknya Mr. Krab. Gaya ini terus gue lakuin sampai pada akhirnya gue menabrak seseorang disamping, bukunya jatuh berhamburan dan orang yang gue tabrak mati tak berdaya… oh enggak dia sehat-sehat saja hanya saja tampaknya dia kaget.

“Maaf-maaf,” gue berjongkok untuk memungut bukunya.

“Iya.”

Gue pungut terus tuh buku. Pungut-pungut-pungut dan pungut hingga gue kecapean. Kenapa? BUKUNYA BANYAK BANGET!! Gila nih orang. Selesai gue pungut langsung gue kasih aje tuh bukunya yang berjumlah 13 buah, tebel lagi. Luar biasakan?

“Sekali lagi maaf ya?”

“Iya,” orang itu menyambut bukunya dengan kedua tangan dan dia adalah seorang gadis berambut sebahu.

“Gak repot bawanya mbak?”

“Enggak,” dia menggeleng, “Maaf ya aku mau ngambil buku yang ini,” dengan sopan dia meminta gue bergeser.

Gue bergeser dan dia mengambil 2 buku, gue geleng-geleng kepala. Sekarang gaya dia membawa bukunya aje udah sampai menyentuh dagu gitu buat menahan buku yang dibawanya.

“Mas.”

“Ya?”

“Bisa minta tolong gak ambilin buku itu,” pintanya.

Gue kaget.

“Mbak, mbak, Istigfar mbak, nyebut-nyebut. Itu aje mbak udah repot bawa 15 buku ini mau ditambah lagi.”

Gadis itu memiringkan bibirnya.

“Habis gimana dong? Gak ada keranjang.”

Ya kali ada keranjang disini, lo nya aja yang mabok!” komentar gue dalam hati.

“Titip dikasir dulu kan bisa mbak,” gue memberi saran.

“Hmm bener juga ya, terima kasih ya.”

“Sama-sama.”

Gadis itu pergi dan gue menggeleng-geleng kepala, kayaknya tuh cewek adalah orang kaya. Bagaimana gue bisa ngambil kesimpulan ini? tuh 1 buku mungkin harganya ratusan lebih, dan tadi dia ngambil 15 buku. Ya hitung saja ya sendiri, gue kadang kejang-kejang melihat angka yang angka nol-nya melebihi 4.

Gue lanjutkan mencari novel dan tangan gue mengambil buku berjudul Girl on the Train. Gue mau lihat sinopsis-nya yang ada dibelakang buku sampai pada akhirnya ada suara yang mengalihkan perhatian gue.

“Ceritanya bagus itu.”

Gue menoleh dan melihat gadis itu sudah kembali.

“Ini?” gue menunjukan buku yang gue pegang.

“Iya, bukunya Paula Hawkins itu malah bentar lagi mau dijadiin film loh.”

“Oh ya?” gue mulai tertarik, “Ceritanya tentang apa ya?”

Gadis itu kemudian menceritakan ringkasan buku yang gue baca, untung saja gak semua isi diceritainnya kalau enggak ya gue taruh lagi, udah di-spoiler ya gak asik jadinya nanti.

“Hmm gitu,” gue memanggut-manggut, “Kalau buku yang ini?” gue lalu mengambil buku berjudul Beautifull Aurora, gue penasaran karena sampulnya keren banget apalagi nama pengarangnya sama kayak gue, yaitu Dion.

“Jangan! Ceritanya jelek banget itu! aku aja nyesel beli bukunya dulu.”

“Kok gitu?” gue penasaran.

“Ceritanya mudah ditebak, apalagi aku gak suka dengan pengarangnya.”

“Kenapa?”

“Dulu aku penah datang ke acara bedah buku dan ada dia disitu, orangnya genit banget! Semua cewek dikedip-kedipinnya. Mesum deh pokoknya.”

“Oh gitu,” gue memanggut-manggut.

“Apalagi judulnya itu, masa L nya ada 2? Beautiful kan L nya 1, itu 2. aku yakin pengarangnya sering bolos mata pelajaran bahasa Inggris.

“Iya juga sih,” gue liat buku Beautifull Aurora dan memang huruf L nya ada 2.

“Jangan dibeli deh, rugi. Aku aja pengen rasanya membakar semua buku karangan dia disini.”

Gue menuruti nasihatnya, dianya sampai berapi-api gitu ngomentarinnya. Hanya saja… kok tiba-tiba gue merasa sedih ya? padahal gue gak ada hubungan apa-apa dengan pengarang buku Beautifull Aurora ini.

Apa mungkin karena nama gue dan pengarangnya sama? Hmm I don’t Know.

Lalu tak lama kemudian dia melanjutkan mencari buku dan gak tau juga nih cewek kenapa malah ngerekomendasiin buku-buku yang bagus menurut dia dan menyuruh gue membeli dan membacanya. Gue sih mau aje membeli semua buku yang dia rekomendasiin, hanya saja dia tidak tahu 1 hal dari gue.

Apakah itu? fu-fu-fu… GUE MANA ADA DUIT!! Blegug sia.

Setelah sekian banyak buku yang dia rekomendasiin gue juga kepengen merekomendasikan sesuatu hanya saja proses mengingat buku yang bagus tersendat dipikiran gue, yang ada malah gue kepengen merekomendasiin buku komik. Haaaaaah, semesta kayaknya mempersulit gue untuk membalas kebaikannya.

“Kayaknya yang ini saja dulu, nanti aku bisa kesini lagi buat beli. Terima kasih ya,” gue sudahi saja basa-basi rekomendasi ini.

“Hmm iya,” dia tersenyum tipis dan mengangguk.

Suara ribut-ribut diluar menarik perhatian kami berdua dan diluar terlihat 2 pengendara motor tampaknya sedang berkelahi ditengah deras hujan.

“Kayaknya ada tabrakan,” gue berspekulasi saat melihat ada 2 motor yang jatuh.

“Iya, gara-gara traffic nya itu. padahal aku udah nelpon call center pengaduan kota buat menanganinya.”

“Oh,” gue memanggut-manggut dan terkejut, “Heh? Nelpon call center pengaduan kota?”

“Iya,” dia mengangguk sambil melihat buku di rak.

“T-tunggu, jangan-jangan mbak ini yang nelpon tadi jam setengah 4 ya?”

“Heeh?” gadis itu menoleh dan tertegun, “Kok tau aku nelpon jam segitu?”

“Ya… soalnya saya kerja disitu, dan tadi sore saya nerima telpon pengaduan yang kayak mbak bilang.”

“Serius?”

Gue mengangguk.

Mungkin sedikit awkward, setelah saling memastikan akhirnya terkuak sudah. Gadis inilah yang tadi menelpon, gue langsung berterima kasih dan dia malah keheranan. Lalu gue beritahu alasannya kenapa gue berterima kasih dia langsung tertawa dan tertarik ingin mengetahui keluhan-keluhan apa saja yang gue terima.

Kami berdua sekarang malah asyik ngobrol dan berbagi cerita sampai pada akhirnya kami mencapai fase perkenalan diri masing-masing. Namanya pun unik, karena salah satu kata namanya mengingatkan gue akan duo group asal Indonesia yang salah satu lagunya membuat gue menggelinjang, geli-geli dan kejang-kejang, judul lagunya itu Teman tapi mesra.

Dan nama gadis ini adalah Ratu Vienny Fitrilya.

۩ About a Girl ۩

3 bulan sejak itu setiap gue ketoko buku gue selalu bertemu dengan Vienny, katanya sih rumah dia didekat situ dan sering mampir ketoko buku. Anaknya asyik juga diajak ngobrol apalagi dia suka mengomentari sesuatu yang menjadi kebiasaan orang Indonesia, dan kamu biasa menghabiskan waktu di-etalase toko buku yang ada tempat duduknya.

“Nah, kalau kita berduan gini. Pasti kita dikira lagi pacaran atau apa sama orang terdekat kita kalau melihat kita seperti ini,” ujarnya.

“Haha iya juga sih.”

“Bukan pake sih lagi tapi emang iya.”

“Haha kok tau hal gituan, Vin?”

“Soalnya aku sering digodain sama temen aku saat meliat aku sama adik aku jalan-jalan berduaan di Mall. Seperti ‘Cie-cie jalan dengan cowok’ gitu.”

“Oh adik kamu laki-laki?”

“Iya, apalagi adik aku tingginya sepantaran dengan aku, wajar sih jadi salah paham,” dia mengangguk dan menyeruput minuman dengan sedotan.

“Emangnya kamu gak ada pacar gitu?”

Dia menggeleng kepalanya, “Kamu?”

“Kalau ada tiap hari Sabtu gini aku udah pulang kerumah dan bersiap-siap mau ngapel,” gue terkekeh dan mengaduk cappuccino panas yang gue pesan.

“Kasian,” dia tertawa pelan, “Emang gak ada yang kamu suka?”

“Gak tau juga, kamu?”

“Hmm aku gak tau, soalnya gak ada cowok yang ngedeketin aku,” dia tertawa kecil.

Gue juga tertawa, “Kenapa?”

“Mungkin karena aku males aja, saat ada cowok deket gitu bawaannya pengen ngusir. Kepala aku blank dan bingung mau ngapain.”

“Oh gitu, tapi kalau kamu seperti itu terus nanti dikira judes loh.”

“Hihi iya juga sih.”

“Tapi kenapa dengan aku kamunya anteng-anteng saja?”

“Hmm gak tau juga, mungkin karena aku liat kamu gak ada niat gitu mau deketin aku menjurus ke hal tadi.”

“Haha tapi misalnya kalau iya gimana?”

“Ya kalau gitu siap-siap saja kunilai kamu itu gimana,” dia cekikikan dan melanjutkan ucapannya, “Lagian aku juga gak mudah naksir sama orang.”

“Iya juga ya, rata-rata cewek semua gitu.”

“Hihi sok tau.”

“Bukan sok tau sih, soalnya ada temen kantor yang bilang gitu. Kalau cewek itu 70% gak mudah naksir atau jatuh cinta gitu.”

“Oh ya? siapa namanya?”

“Ngapain juga harus mau tau namanya?” gue terkekeh.

“Basa-basi obrolan kan gitu,” Vienny mengaduk minumannya sambil tertawa.

“Hahaha,” gue tertawa sejenak, setelah dirasa pas jeda waktunya kemudian gue menjawab, “Namanya Yona.”

“Yona? lucu juga namanya.”

“Iya, anaknya juga lucu. Ceroboh gimana gitu hehe.”

“Ouuhhh,” nih anak tiba-tiba memincingkan matanya dan tersenyum memandang gue, “Kamu suka ya sama dia?”

“Eh, kenapa bisa berpikiran seperti itu?”

“Aku liat kamu senyum-senyum gitu.”

“Haha kurasa kamu juga salah satu dari orang yang kita komentarin sedari tadi.”

“Hmm maksudnya?”

“Ya itu tadi, kan aku senyum karena mengingat dia memang lucu karena kecerobohannya. Wajar kan aku tersenyum? Kecuali wajahku datar, ya kamu bayangkan sendiri gimana jadinya aku mengucapkan itu dengan wajah datar. Lagipula masa aku nyebut namanya sambil senyum dibilang naksir?”

“Haha iya sih, tapi yaaah siapa tau kan?”

“Lebih baik ganti topik.”

“Boleh aja,” nih anak malah asyik ngeliat jalan, mana sambil gigit ujung sedotan lagi.

“Gak ada niat jadi penulis, Vin?”

Dia menoleh dan melepas sedotan dari mulutnya, “Penulis?”

“Ya, penulis. Gak ada niat gitu?” habis itu gue mulai menyeruput minuman.

“Belum ada sih, kenapa emangnya?”

“Oh enggak sih, aku mikirnya kamu ini suka banget baca buku. Biasanya sih kalau sudah membaca beragam jenis cerita gitu biasanya ingin membuat cerita versi diri sendiri. Kayak aku gini.”

“Kayak kamu?”

“Ya, aku dari dulu ingin membuat komik tentang… hmm tentang… agak susah dijabarkan sih. Pokoknya seperti Death Note, tapi tidak seperti Death Note gitu, lalu mau aku gabungkan dengan unsur komik lain. Seperti Marvel ataupun DC Comic yang ada tema Universe atau paralel, Dragon Ball yang ada adegan berkelahi, lalu Bakuman yang penuh ambisi dan Drama. Ya pokoknya gabungan dari komik-komik itu, tapi versi aku sendiri.”

“Oh terinspirasi gitu ya?”

“Ya begitulah.”

“Lalu udah kamu lakuin?”

“Belum hehe, aku nyerah.”

Dia ikutan tertawa, “Kenapa?”

“Aku gak pandai nge-gambar hehe.”

“Makanya belajar ngegambar,” nih anak lalu menopang kepalanya dengan tangan, “Menulis ya… hmm mungkin nanti kucoba diwaktu senggang. Banyak sih cerita yang ingin kusempurnakan gitu, karena setiap bacaan yang kubaca rasanya ada yang kurang.”

“Nah itu maksud aku, menyempurnakan kekurangan cerita dari cerita yang dibaca. Tapi jangan cerita yang kamu baca itu yang ceritanya disempurnakan, gunakan kekurangan cerita itu untuk ceritamu sendiri, versi kamu sendiri.”

“Haha iya-iya, hmm menurutmu cerita Zombie yang dibalut Drama bagus gak?”

“Zombie yang dibalut drama?”

“Iya,” dia mengangguk.

“Itu sih udah ada kayaknya, The Walking Dead contohnya. Itu Drama loh sebenarnya, zombie malah dipakai untuk pemanis cerita, ya walau dicampur unsur Survival sih.”

“Tapi aku mau mencoba membuat cerita Zombie, yang ada drama, tapi juga ada misteri. Seperti mencari penyebab terjadinya wabah, aku ingin membuat cerita Zombie yang benar-benar realistis.”

“Ya coba saja,” gue menyeruput minuman.

“Menurut kamu enaknya virus itu berasal dari mana?”

“Hmm hewan percobaan mungkin, tapi jangan monyet. Itu sudah dipakai buat film 28 Days Later kalau gak salah. Kalau dari manusia udah bosen. Tapi bukannya Virus terlalu mainstream?”

“Kan aku bilang realistis, masa virusnya dari mahluk luar angkasa kan?”

“Iya juga sih hehe… hmm mungkin anjing.”

“Anjing?”

“Ya, anjing rabies gitu. Tapi selain rabies dia sudah terjangkit virus lain, jadi 1 anjing membuat virus menyebar dan disebarkan juga oleh orang yang terjangkit… ya kira-kira begitulah. Aku gak terlalu paham soalnya.”

“Hmm kupertimbangkan deh.”

“Oh iya udah baca buku Dilan belum?”

“Dilan?”

“Iya,” gue mengangguk, “Berarti belum baca ya, kamu saja nanya balik hehe.”

“Hehe, emang ceritanya tentang apa?”

“Baca aja, bagus kok. Itung-itung gantian aku yang sekarang ngerekomendasiin.”

“Hmm iya deh, eh iya sekarang jam berapa?”

“Mau jam 4,” gue melihat jam tangan.

“Aduh! Aku pulang dulu ya,” Vienny lalu beranjak dari tempat duduk.

“Buru-buru amat?”

“Soalnya nanti malam aku mau pergi sekeluarga.”

“Liburan?”

“He’em, tempat kamu kerja gak libur?”

“Selasa nanti hehe.”

“Kasian hehehe, kalau gitu aku pulang dulu ya Dion. Takut mama aku nyariin.”

“Mau kuanter?”

“Gak usah, kan deket,” tolaknya dengan halus.

“Oh yaudah deh, hati-hati dijalan, Vin.”

“Iya.”

Setelah kepergian Vienny, gue mulai bingung apa yang mau gue lakuin. Minuman gue masih panas, setengah pun belum kupinum. Daripada lama-lama gue pinum aje dah, habis itu pulang, soalnya gue salah satu manusia gak mau rugi.

Gue ambil cangkir dan langsung gue pinum.

“PANAAAASS!!!!” Ya, gue baru sadar gue ini bukan Limbad.

۩ About a Girl ۩

Sepulangnya dirumah gue melihat 2 orang manusia sedang mengubek-ngubek baju dan dimasukan kedalam koper. Yang 1 namanya Nur Leffy Ibrahim yang satunya lagi namanya Amanda Dwi Arista. Kalau Manda itu sepupu gue, sedangkan Leffy adik kandung gue. Dan… kenapa gue malah perkenalan keluarga?

“Ett be-Dion-Dion, udah pulang lu?” Manda mulai mempertanyakan pertanyaan bodoh.

“Belum, entar ya keluar dulu, nanti pas gue ketuk pintu lo langsung bukain.”

“Yeee segitunya,” Manda mencibir.

“Udah tau baru pulang pake ditanya lagi. Ada apa nih packing-packing segala?” gue lalu duduk dikursi untuk membuka sepatu.

“Bandung, Braaay! Hambredee-hambredeee,” jawab Leffy yang tampak ceria dan gue bingung bahasa apa yang barusan adik gue ucapkan, hambredee itu apa?

“Oh, berapa hari lo disana?”

“Sampai tanggal merah berubah jadi hitam,” jawabnya sembarangan karena itu gue ngelempar kaos kaki juga sembarangan, kemukanya.

Selagi Leffy sewot Manda lalu berbicara.

“Ikut gak Yon? nanti biar sama-sama aje perginya besok.”

“Masih kerja, nanti aje gue nyusul. Lalu nape lo disini Man?”

“Nih ngejemput Leffy, besok pagi berangkat rame-rame dari rumah gue.”

“Oh gitu, pantes rasanya kayak kenal gitu mobil diluar.”

“Oke sip!” Leffy menepuk-nepuk kopernya, “Tutupin Mand, gue ganti baju dulu.”

“Tinggal nutup aje malas lu!” gerutu Manda dan mengaitkan resleting koper.

Leffy tidak perduli dan terus melangkahi tiap anak tangga menuju kamarnya dilantai 2, ya itulah adek gue. Gue juga berniat berganti baju dan menuju lantai 2. Sesampainya dikamar, gue terkejut! Karena tiba-tiba ada lagu System of a Down berjudul Toxicity, gue cari-cari sumber suara sampai akhirnya gue tahu darimana suara ini berasal.

Ternyata dari HP gue.

Gue lihat HP dan menyeringitkan dahi, karena lagu yang gue pakai itu buat nada telepon, dan yang nelpon gue adalah Yona. Lalu apa yang harus gue lakukan? Ya gue angkatlah!

“Halo, kenapa Yon?”

– “Dion, kamu dimana?”

“Dikamar, ada apa?”

– “Kamu besok sore sibuk gak?”

“Kagak kayaknya.”

– “Bener?”

“Iya, kenapa?”

– “Besok kerumah aku bisa gak?”

“Ngapain?”

– “Kendarain aku.”

“Hah?” gue kaget.

– “Iya, bisa ya?”

Gue diem dan menyeringitkan dahi, gue korek kuping gue dalam-dalam pake kelingking lalu gue kembali berbicara.

“Ngendarain lo?”

– “Iya.”

Oke, sepertinya gue gak salah denger.

“K-kenapa gue harus ngendarain lo?”

– “Soalnya besok orang tua aku pergi gitu hehe.”

Waduh! Kenapa ini? orang tua gak ada lalu gue diminta ngendarain dia… Otak mesum gue mulai meracuni pikiran. Apa ini merupakan kode? Tapi masa sih Yona seagresif ini?

“K-kok… maksudnya apa nih? Bahaya Yon, kok lo jadi gini sih?”

– “Gakpapa, ada pengaman kok.”

Oke! Ini mulai erotis, gue bingung kenapa nih teman kerja gue mendadak ‘Berani’ seperti ini?

– “Halo? Dion?”

“A-a-a i-iya, halo…”

– “Bisa gak? Soalnya udah dibeliin papa aku tadi siang.”

BUJUBUSET! Ayahnya sendiri sudah berkonspirasi dengannya dengan membelikan gue pengaman! Mungkinkah ayahnya capek ditanya mertuanya kapan Yona menikah, dan mereka bertiga pun melakukan siasat licik seperti ini, yaitu menjebak gue pas ‘Mengendarai’ Yona, dengan itu artinya gue harus menikahinya untuk bertanggung jawab!

GILA! JAMAN SUDAH EDAN! Tapi gue pengen juga sih… TAPI INI SUDAH EDAN!!!………., Tapi gue juga mau sih… katanya enak pas proses bikinnya…, POKOKNYA INI GILAAA!!!” batin gue mulai bertarung antara sisi mesum dengan sisi sok suci.

“Aduuh, Yona… bukannya gak mau… tapi gue belum siap jadi ayah…”

– “Loh, maksudnya?”

“I-itu tadi, n-ngendarain lo… i-itu.”

– “Iya ngendarain aku,” jelasnya mantap.

“T-tapi Yon…”

– “Kan kamu dulu pernah bilang pande bawa mobil.”

“Mobil?” alis gue mulai naik sebelah.

– “Iya.”

Gue diem sebentar untuk mencerna kata-katanya.

“Tunggu-tunggu… jadi maksud kamu ngendarain kamu itu maksudnya mobil?”

– “Iya mobil maksudnya. Masa itu aja gak ngerti sih? Aku udah dibeliin loh tadi, hasil patungan dari gaji aku juga, kan dulu aku pernah bilang sama kamu hehehehe.”

Gue diem dan ini untuk pertama kalinya gue kepengen nabok mahluk yang bernama wanita.

KENAPA KATA ‘MOBIL’NYA ELU HILANGIN, YONA?! KENAPA?!! APA SUSAHNYA SIH BILANG ‘KENDARAIN MOBIL AKU’! APA SUSAHNYA?! SEKARANG GUE MALAH KECEWA KARENA UDAH MEMBAYANGKAN GAYA-GAYA YANG NANTI GUE LAKUIN PAS ‘NGENDARAIN’ ELO!!!batin gue berteriak sekencang-kencangnya.

– “Diyon-yon-yon-yon, Diyooon,” panggilnya lagi dengan nada yang dibuat-buat lucu.

Gue keki, gue jawab ketus aje, “Ape?”

– “Kok gitu sih ngomongnya…” nadanya suaranya mulai cemberut.

“Ya habisnya lo tadi…”

Belum gue lanjutin gue malah mendengar suara isak gitu, tau kan suara narik-narik ingus gitu pas nangis?

“Yona?”

– “Jadi kamu gak mau ya?” nadanya sendu dan suara isak itu semakin jelas terdengar.

Gue yang mendengar itu entah kenapa jadi merasa bersalah, padahal gue gak salah apa-apa, tapi… ah sudahlah. Intinya wanita selalu benar, kampret bener dah.

“Iya deh iya.”

– “Bener?”

“Iya, besok sore kan?”

– “Iya, makasih ya,” nadanya mulai tenang walau suara isak itu masih terdengar.

“Iya jangan nangis gitu dong.”

“Nangis?” nada suaranya keheranan gitu.

“Iya, lo nangis kan?”

– “Enggak, aku pilek. Ini udah berapa tisu yang aku habisin buat hidung aku,” balasnya enteng dan gue gondok.

“Oke! Gue besok sore kesana! Dah ya! gue mau mandi! Kayaknya kepala gue mendidih!”

– “Oke! Hehehe!” dia membalasnya dengan suara ceria.

Langsung gue matiin! Udah 2 kali gue dibuat salah paham sama nih cewek! Gila, kehormatan gue sebagai pria sejati langsung hancur dibuatnya menjadi pria sok tahu! Apa salah Baim ya Tuhan! Eh salah, apa salah Dion ya Tuhan!!

“Nape lu? Galak amat tuh muka.”

Gue menoleh dan melihat keberadaan adek gue diambang pintu, pake gaya-gayaan lagi ngelipat tangan dan ketawa-tawa.

“Sana lu, muka lu bikin emosi,” gue mengusirnya.

“Munafik lo, mentang-mentang gue lebih ganteng 2 ons dari lo.”

“Gue lagi gak kepengen muntah, sana lo.”

“Bentar lagi gue juga mau pergi, gue mau ngomong.”

“Ya ngomong aje,” gue beranjak dari tempat tidur untuk kedapur.

“Eh! Usah berdiri, lo disitu aje duduk!” cegahnya tiba-tiba.

“Nape?”

“Udeh duduk aje.”

“Aneh-aneh aje lo,” tapi gue iyain aje, kayaknya bokong gue jatuh cinta sama nih kasur.

Setelah gue duduk tuh anak langsung berbicara.

“Bang, lo tau kan lebaran itu memiliki momen saling memaafkan?”

“Nenek moyang kita pun tau Lef, Lef,” gue memiringkan bibir.

“Tapi! Tentu saja momen memaaf-memaafkan itu gak perlu nunggu lebaran idul fitri tentunya. Iya gak? Iya gak?” ujarnya sambil memainkan alis.

“Iye,” gue iya-iya-in aje.

“Nah karena itu Bang, gue mau lo maafin gue.”

Alis gue naik sebelah.

“Kenapa?”

“Lo seminggu yang lalu baru beli X-Box kan?”

“Udah tau nanya,” gue memiringkan bibir.

“Nah, karena itu maafin gue sekarang.”

“Emang kenapa?”

“Tadi siang gue sama Manda mainin X-Box lo, ada sempat-sempat hang gitu lalu gue geplak-geplak terus dan sampai sekarang gak mau hidup, rusak kayaknya.”

Gue diem.

“Maafin gue lah ya? abang kan baek,” pintanya dengan senyum dan memain-mainkan alis.

Gue masih diem, dia pun ikutan diem.

Setelah hening selama 10 detik gue mulai mengeluarkan suara.

“Hahahahahahahaha.”

“Hahahahahahahahaha,” dia juga ikutan ketawa.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA,” suara tawa kami bergema diseantro rumah.

“SINI LO!” gue langsung aje ngejar dia.

“MAND! NYALAIN MOBILNYA!”

Tuh kutu kayaknya sudah bekersama dengan Manda, Manda sudah bersiap didalam mobil dan langsung meluncur ketika tuh tungau loncat masuk kedalam mobil. Gue keki setengah mati didepan pagar rumah, X-Box yang gue beli setelah 5 bulan nabung umurnya gak sampai seminggu.

Kampret bener dah!

۩ About a Girl ۩

Sore hari yang sesuai dijanjikan, gue datang kerumahnya Yona dan disambut dengan karpet merah. Gak disambut juga sih, emang karpet rumahnya dia ada yang merah gitu warnanya.

“Emang mau kemana?” gue tanyain setelah duduk dikursi tamu.

“Gak kemana-mana, palingan keliling komplek rumah aku. Kan luas jalannya.”

“Lah ngapain? Mau pamer ke tetangga lo punya mobil.”

“Ih bukan!”

“Terus ngapain juga nyuruh gue kesini ngendarain mobil lo?”

“Bukannya minta kendarain sih…”

“Lalu?”

“Emm hehehe,” dia malah cengengesan, “Ajarin aku pake mobil dong.”

“Yaelah, dibeli-beli gak pande rupanya.”

“Habisnya kan gak enak sama temen aku, masa dijemput dia melulu kan pas pulang. Apalagi sekarang teman aku pergi ke Bandung tadi pagi.”

“Kan bisa sama gue.”

“Gak mau.”

“Kenapa?”

“Kamu pasti mau dipeluk dari belakang pas ngegonceng aku.”

“Kok kesannya gue ngarep gitu ya?”

“Hehehehe.”

“Yaudah, kapan mau belajarnya?”

“Sekarang, yuk.”

“Gak sabaran amat.”

“Ihh ayoook,” tangan gue ditariknya buat berdiri, yaudah deh.

Gue lalu dianternya menuju garasi rumahnya.

“Ini dia!” dia menepuk garasi dengan senyum puas.

Gue cengok.

“Lalu?”

“Hehe entar ya, garasinya dibuka dari dalam.”

Kemudian dia masuk kedalam rumah, selang beberapa menit kemudian dia membuka garasi dan gue diem. Lalu ngapain juga tadi dia keluar dulu sambil nepuk garasi? Entahlah.

“Bantu keluarin,” pintanya dengan permintaan ambigu, apa dulu nah yang dikeluarin? Hehehe, tapi gue rasa mobilnya gak mungkin yang lain.

Gue liat mobilnya, sedan hitam, hmm gue gak tau mereknya dan gue gak perduli lagian gak penting juga buat gue kasih tau mereknya kecuali gue mau berfantasi dengan kekayaan. Setelah gue keluarin tuh benda roda empat, Yona masuk dan meminta gue menjelaskan bagian-bagian yang penting didalam mobil.

“Ini kopling.”

“He’em,” dia mengangguk.

“Ini gas.”

“He’em,” dia mengangguk lagi.

“Ini radio.”

“Itu aku juga tau,” dia merengutkan mukanya.

“Angguk-angguk aje, kan gue ngejelesin.”

“He’em-he’em,” dia benar-benar ngangguk… anak pinter.

Setelah beberapa komponen didalam mobil gue jelaskan, lalu gue menunjuk diri sendiri.

“Ini aku.”

“Terus?”

“Ada kamu ciahahaahahha,” gue lalu menjedot-jedot pelan kepala gue kesetir.

“Hehehe,” lah dia malah cengengesan, “Nanti kalau aku udah bisa bawa mobil aku mau nabrak kamu ah.”

“Loh?”

“Ya itu tadi, gombal segala hehehe.”

Gue memiringkan bibir, ini sama aje gue nyari mati ngajarin dia ngendarain mobil kalau ujung-ujungnya buat nabrakin gue. Mobil lalu gue keluarin sampai keluar pagar, dan dijalan inilah nanti menjadi jalur latihannya. Emang luas sih jalannya.

“Mau gue contohin dulu atau mau langsung coba?”

“Contohin-contohin!” pintanya dengan semangat.

“Oke, liat gue baik-baik.”

“Oke!”

“Eh kan tadi gue bilang liat gue baik-baik.”

“Loh, ini udah diliat kok.”

“Bukan liat kaki sama tangan, tapi liat muka gue.”

Tuh anak menyeringitkan dahi memandang muka gue, “Terus?”

“Keren gak? Hehehe,” entah kenapa gue bisa narsis kali ini.

“Hehe,” Yona tersenyum, senyumnya mengembang sehingga matanya menjadi sipit, “Jadi bener-bener kepengen ngelindes kamu pake mobil.”

“Errrr, yaudah, liat nih baik-baik.”

“Hihi, iya pak guru,” balasnya mantap.

Lalu gue contohin dia cara mengendarai mobil yang normal, kalau gak normalnya sih mau gue ajarin nge-drift langsung ataupun meluncur dari gedung ke gedung kayak film Furious 7, itupun kalau selamat. Setelah itu dia sendiri yang ingin mencoba.

“Siap?” gue mulai bertanya setelah berganti posisi.

Bismillah,” ucapnya sambil menghembuskan nafas.

Gas perlahan-lahan dia tekan seiring dengan mobil yang melangkah maju. Gue tersenyum puas karena tampaknya Yona sudah bisa mengerti dengan sekali lihat… kok berbanding terbalik dengan gue ya? gue aje butuh 2 hari dulu sewaktu belajar mobil.

Gue merasa gagal jadi manusia.

“Hehehe bisa-bisa,” dia menoleh kearah gue dengan riang gembira.

“YON-YON! NGE-REM YON!”

“Eh?”

GUK…NGEEEEEEEKKKK!

Mobil berhenti, gue diem, dia diem, tak lama kemudian kami saling berpandangan.

“Tadi bunyi apa?”

Gak gue jawab, muka gue datar, gue turun dari mobil dan mengintip dari bawah mobil. Yona turun dan menghampiri gue.

“Dion, kenapa?” tanyanya.

Gue berdiri dan memegang bahunya.

“Yona.”

“Apa?” dia tampaknya tertegun dipegang bahunya semesra ini.

“Selamat.”

“Selamat? Selamat apanya?”

“Selamat, telah membunuh anak anjing dengan sempurna.”

“Heh?!” dia melotot.

Yona lalu berjongkok untuk mengintip kolong mobilnya, dia berdiri dan wajahnya datar seperti gue.

“Itu anak anjing tetangga aku.”

“Dan bersatu dengan aspal gara-gara kegencet.”

“Jadi gimana nih?” Yona panik.

“Ya mana gue tau!” gue juga ikutan panik.

Ya, hari pertama Yona belajar mobil sudah menyebabkan korban jiwa. Anak anjing pula, dengan semangat pembunuh bayaran kami langsung melakukan aksi melenyapkan target. Gue angkat tuh mayat anak anjing dengan kardus yang gue temuin, Yona mengawasi keadaan, lalu gue buang tuh mayat diantara pepohonan.

Setelah itu? YA KABUR! Gue langsung tancap gas mumpung belum ada satu pun saksi mata disitu.

“Aku berdosa Dion… kasian anak anjing itu…” ungkapnya dengan nada sendu.

“Ya namanya juga musibah.”

“Yaudah kita ke KFC yuk, biar lupa.”

“Oke deh.”

Gue bingung, ngapain juga harus ke KFC? Enteng bener perasaan kesitu langsung lupa, kasiannya engkau anak anjing, dilupakan begitu cepat hanya karena KFC. Dan buat PECINTA ANJING INDONESIA yang membaca ini… ITU YONA YANG NABRAK!BUKAN GUE! SUMPAH!

Sore ini… yah gue bisa mengerti arti dosa.

۩ About a Girl ۩

Beberapa hari kemudian Yona sudah bisa membawa mobilnya sendiri dan karena tempat kerja kami libur selama 2 minggu maka gue yang sering nemenin dia jalan kemana-mana. Gue sih suka aje karena kadang gue ditraktirnya hehehe.

“Dirumah kamu ada siapa?” tanyanya saat perjalanan pulang.

“Ya sendiri.”

“Loh, adik kamu?”

“Dia lagi liburan di Bandung.”

“Oh gitu, kamu gak kesana?”

“Mau sih, tapi mikirnya bentar lagi mau puasa. Pas hari itu saja nanti.”

“Hmm-Hmm,” dia bergumam sambil mengangguk-angguk, gue merasa lucu ngeliat tingkah dia kalau kayak gitu.

“Langsung pulang kerumah kan?”

“Emm kerumah kamu aja yuk?”

“Ngapain?” gue menyeringitikan dahi.

“Ya bertamu aja, kan selama ini kamu yang terus kerumah aku.”

“Oh…”

“Bisa?”

“Bisa sih, tapi kayaknya besok saja ya?”

“Kenapa?”

“Kan udah malem, gak enak lah masa cewek cowok berduaan dirumah.”

“Tapi ini baru jam setengah 7,” ujarnya sambil melihat jam tangan.

“A-a-a-a gak enak sama orang tua lo maksudnya, masa dari kemarin kita jalan-jalan melulu kan?”

“Loh, orang tua aku malah seneng malah. Kan mereka yang bilang sendiri sama kamu.”

“E-e-e-e i-itu…”

Gue gegalapan mencari alasan, gue sih mau aje nerima dia kerumah gue tapi masalahnya adalah RUMAH GUE BERANTAKAN! Ya tau sendiri lah ya 2 ekor bujangan (Gue dan adik gue) yang tinggal dirumah kondisinya kayak gimana, itu handuk habis mandi aje gue taruh dikursi tamu. Apalagi baju kotor adek gue itu, menggunung didepan TV. Belum lagi abu rokok dimana-mana, sejak orang tua gue balik dan tinggal di Bandung, rumah mereka disini udah sukses menjadi kandang ayam sama anak-anaknya.

“Hihi.”

Gue mendengar Yona ketawa, gue noleh dan ternyata bener dia ketawa ngeliatin gue.

“Kenapa?”

“Enggak lucu aja ngeliat kamu. Emang rumah kamu kenapa? berantakan atau…”

“Atau apa?”

“Atau ada cewek lain yang mau bertamu dirumah kamu malam ini?”

Opsi pertama sih betul, opsi kedua ini yang terlalu mengada-ngada.

“Berantakan sih hehe,” gue menggaruk-garuk kepala, “Lagian mana ada cewek yang mau bertamu kerumah gue.”

“Hmm terus cewek yang rambutnya sebahu yang sering kamu temuin di Toko buku?”

“Oh itu cuma temen ngobrol biasa, dia sering ke toko buku langganan aku jadi ya…”

Gue tiba-tiba tidak melanjutkan penjelasan gue, dahi gue mengkerut dan menoleh. Yona mendelikan matanya kekanan melihat gue.

“Tau darimana?” gue langsung bertanya, ya soalnya gue sama sekali tidak pernah menceritakan tentang Vienny sama nih anak.

“Emm tau darimana ya,” dia menoleh kearah luar jendela dan memangku kepala, lebih tepatnya dia membelakangi gue.

Gue bingung, tapi karena gue tau sifat Yona kayak gimana kayaknya gue tau caranya gimana dia bisa memberitahu gue tanpa perlu banyak bertanya. Caranya? Nih liat.

“Lo… ngikutin gue ya?” oke, udah gue lakuin, dan mari kita tunggu reaksinya.

Dia menoleh dan sedikit melotot.

“Mana ada aku ngikutin kamu! kan dulu kamu pernah ngasih tau alamat toko buku itu, terus pas aku mau kesana bareng temen aku, aku selalu ngeliat kamu berduaan dengan cewek itu di etalase toko! Jangan GR deh.”

Gue pengen ketawa, tuh kan. Tanpa perlu gue tanya lebih lanjut dia sendiri yang ngasih tau. Tapi gue tahan sebisa mungkin untuk tidak ketawa, soalnya gue takut dia marah lalu gue dituruninnya disini.

“Oh gitu, tapi cewek itu emang temen kok.”

“… tapi kok akrab gitu…”

“Wajar kan? Temen. Kayak gue ngobrol sama lo gini, kalo orang lain liat pasti kita dikiranya akrab.”

“Tapi kayak pacaran gitu…”

“Pfftt! Hahahahahahahaha!” gue spontan ketawa.

“Kok ketawa sih?” dia merengut dan memukul lengan gue pelan.

“Hahaha enggak-enggak, soalnya gue teringat apa yang gue omongin sama temen gue dulu.”

“Ngomongin apa?”

“Hehe jadi gini…”

Gue pun menjelaskan perihal sewaktu gue dan Vienny mengomentari kebiasan orang yang selalu mengira orang yang berduaan itu pasti sedang dekat, akrab ataupun berpacaran, ya karena itulah gue tertawa karena Yona tadi berpikiran kalau gue dan Vienny seperti orang yang berpacaran padahal gue dan Vienny gak merasa begitu.

Setelah gue jelasin tuh anak diem.

“Hehe jadi ya gitu, gue sama dia temenan doang. Sering share-share soal buku malah. Buku yang dulu lo pinjam dari gue itu juga rekomendasi dari dia dulu.”

Yona memanyunkan bibir, “Bener?”

“Iya, kenapa? cemburu?” gue sedikit usil.

“Dih! GR!” tangan gue langsung ditoyornya.

“Haha kalau mau sama-sama saja nanti ketoko buku, gue kenalin, tapi untuk sekarang sih enggak.”

“Kenapa?”

“Katanya sih liburan, gak tau juga kapan pulangnya. Mungkin selama liburan dikampus dia selesai, kayak dikampus adek gue yang juga libur.”

“Gitu… terus lebih enakan ngobrol sama siapa? Dia atau aku?”

“Ngapain lo nanya-nanya gitu?” gue terkekeh-kekeh.

“Kan nanya aja, emang gak boleh?” mukanya langsung masam.

“Ya soalnya kayak mau ngebandingin gitu.”

“Gak mau jawab juga gakpapa kok.”

Jieeeh dia ngambek, pake lipat tangan segala lagi. Tapi berhubung gue udah lama kenal sama dia kayaknya gue harus nyenengin dia dikit.

“Sama lo lah, gak usah ditanyain lagi.”

Dia menoleh, “Bener?”

Gue tersenyum dan dengan tangan kiri gue memberanikan diri mengelus kepalanya.

“Iya,” gue memperjelas semuanya.

Gak ada perlawanan! Aseeek! Gue mendelikan mata dan dia tersenyum memandang gue yang kepalanya masih gue elus-elus.

“Kalau gitu besok aku kerumah kamu ya?”

“Iya,” gue mengangguk.

Gue lepas elusan tangan gue dan kembali kesetir.

“Nggg…”

“Nape?”

Tangan kiri gue diraihnya dan diletakkannya kembali ke-kepalanya.

“Elus!” pintanya.

“Hahaha,” gue tertawa, “Hihihi,” begitu juga dia.

Melihat dia seperti ini membuat gue merasa nyaman, selain tingkahnya yang ceroboh akan tetapi sifatnya yang Moody juga bikin gue tertawa melihatnya, ya seperti ini. kami berdua terus tertawa sampai pada akhirnya.

Mee…NGEEEEEEEEK!!!

Mobil gue rem dan berhenti, gue diem, Yona diem. Gue turun dari mobil dan dengan penerang dari HP lalu gue mencoba mengintip kebawah.

“Dion…” Yona sudah memanggil.

“Ya…” gue berdiri dengan ekspresi datar.

“Lagi?” tanyanya.

Gue mengangguk.

“Korbannya?”

“… Kucing… kucing peliharaan malah… ada kalung dilehernya…”

“Oh…”

“Ya…” gue mengangguk.

“Cepet-cepet-cepet!” Yona turun dari mobil.

Gue dan Yona panik. Dan seperti sebelumnya dengan tingkah pembunuh bayaran kami berdua segera melakukan aksi melenyapkan target. Dan buat PECINTA KUCING INDONESIA yang membaca ini…

Iya, gue pelakunya.

۩ About a Girl ۩

Siang hari esoknya Yona benar-benar datang kerumah gue, terlebih lagi dia membawa bahan-bahan makanan untuk dimasak. Gue lega seenggaknya kedatangan dia sesaat sesudah gue selesai beres-beres rumah. Rumah gue sekarang bersih, kinclong. Tapi itu semua akan berubah kalau kamar Leffy dibuka yaitu kamar adik gue.

Kalau ditanya “Kenapa?” itu karena gue naruh benda-benda kotor yang gue bersihkan kekamar dia semua. Yah… hitung-hitung balas dendam gegara X-Box gue yang dirusakinnya.

Gue yang selesai mandi kemudian menghampiri Yona yang ada didapur.

“Masak apa, Yon?”

“Masak-masak sendiri, makan-makan sendiri,” dia malah nyanyi.

“Deh, ada yang bisa gue bantu gak?”

“Hehe,” kemudian dia mengikat rambutnya, gue malah terpesona, level kewanitaanya bertambah 3x lipat.

“Telurmu coba pecahin.”

“Hah?” gue reflek menutup selangkangan gue memakai tangan.

“Itu udah kutaruh dimeja, kuambil dari kulkas kamu tadi,” tunjuknya pake pisau kearah meja.

“Oh.. telur… telur ayam maksudnya?”

Dia menoleh, “Iya, emang telur apa lagi?” tanyanya polos.

“O-oh… oke,” gue emang rada suka salah paham dengan ucapan dia yang aneh-aneh atau kadang kurang lengkap.

Setelah ini-itu akhirnya kami makan, dan njir! Enak banget, gue sampe lupa napas itu kayak gimana caranya. Gue makan dengan mem-babi-buta sampai pada akhirnya gue mendengar suara tawa.

“Hehe enak ya?” tanyanya.

“I-iya hehe, enak,” gue mengangguk malu-malu.

Dia tersenyum.

“Yaudah habisin aja, aku bikin banyak kok. Gak usah malu-malu.”

Oke! Karena udah dibilang gitu gue buang urat malu gue dan menambah lagi dengan beringas, semua gue hantam sampai tetes terakhir.

Untung saja ini dirumah, kalau di rumah makan mungkin gue udah ditinggalin Yona. Malu dapat partner makan seperti ini. Setidaknya dengan ini gue bisa tau kalau Yona bisa masak. Gue? palingan telor ceplok doang.

Dan semenjak hari itu, esok dan esoknya lagi dia terus datang hanya saja gue mencegah dia untuk tidak belanja bahan masakan, tapi kami berdua pergi bersama-sama. Ya kali dia melulu jadi gue punya ide, gue yang beli bahan dia yang masak.

Gue emang jenius!

Sekarang adalah hari terakhir liburan dan nanti malam si Tungau lompat a.k.a Leffy a.k.a adek gue bakalan pulang ditemenin orang tua gue kesini, katanya sih mau ngeliat rumah yang ada disini. Untung saja Yona ampir tiap hari datang jadi gue sering bersih-bersih, dan sial bagi Leffy karena gue menaruh semua baju kotor dan benda-benda kotor lain kedalam kamarnya.

Anggap aje balas dendam gegara X-Box gue dirusakinnya.

Oh iya, sekarang gue lagi didapur. Biasalah ngeliatin Yona masak, siapa tau bisa curi-curi ilmu masak dari dia. Tapi baru mau nengok tiba-tiba HP gue berbunyi.

“Siapa?” tanya Yona sambil mengibas-ngibas sayur mentah yang dicuci.

“Pak Gery, gue angkat dulu ya?” pak Gery adalah atasan gue sama Yona ditempat kerja kami berdua.

“He’em.”

Gue keluar dapur untuk menerima telepon, ada 3 menit kali gue telponan udah kayak mie instan aje. Sesudah nelpon gue balik kedapur.

“Kenapa pak Gery nelpon?”

“Biasalah ngasih tugas,” gue lalu menghampirinya, “Ini sayurnya diapain?”

“Mau bantu?”

“Hehehe.”

“Hihi yaudah, potong-potong aja. Batang yang paling ujung dibuang ya?”

“Oke.”

Sekarang gue malah membantunya, tapi gak apa sih. Untuk pandai memasak harus dimulai dari yang kecil-kecil dulu, ya bantu memasak. Kata nyokap gue sih gitu. Sayangnya itu gak gue terapkan dari kecil, karena gue dari kecil bersama adek gue hobi ngembat makanan yang udah dimasak didapur.

Dan sekarang seperti biasa. Gue sama Yona makan, gue lupa napas, dia ketawa ngeliat cara gue makan, gue malu, dia bilang gak usah malu-malu, yaudah gue hantam terus. Setelah selesai makan gue mau mengajak dia nonton diluar.

“Emang mau nonton apa?”

“Ya apa kek.”

“Hmm terlalu awal, malam aja.”

“Kenapa?”

“Soalnya…”

Mendadak turun hujan deras, gak heran sih daritadi mendung gue liat.

“Nah, itu hehe,” ujarnya menunjuk jendela yang diterpa hujan.

“Yaudah deh, kalau gitu malam aje. Nonton yang ada dulu di TV.”

“Oke, eh iya ambilin bantal dong,” pintanya.

“Iye-iye.”

Gue lalu keatas untuk mengambil bantal dan saat kembali gue udah ngeliat Yona duduk anteng didepan TV. Gue kasih dia bantal dan langsung dipakenya, gue lalu duduk disebelah dia yang lagi berbaring dan memilih-milih channel.

“Nanti aku pulang dulu ya ganti baju?” tanyanya setelah mendapat channel yang diinginan.

“Iya, nanti biar gue aje yang kesana.”

“Pake jaket, nanti malem pasti dingin gara-gara ujan.”

“Iye-iye.”

“Sekalian potong rambut mau gak?”

“Potong rambut?”

Dia menadahkan kepalanya dan memandang gue, “Iya potong rambut.”

“Mau dipotong apalagi? Rambut lo udah pendek gini.”

“Bukan rambut aku, tapi rambut kamu,” paha gue ditoyornya.

“Oh emang kenapa?”

“Berantakan gitu hihi, potong aja ya? biar rapi, apalagi besok kita masuk kerja dan kamu pernah ditegur pak Gery gara-gara rambut kamu itu.”

“Hehe iya-iya.”

“Yon Diyon-yon, Diyoooon,” cara manggil sok lucunya dilakukan lagi.

“Apa?”

“Tangan kanan kamu.”

“Kenapa dengan tangan gue?” gue memeriksa tangan kanan gue.

“Hup!” tangan gue ditangkapnya dan diarahkan kekepalanya, “Elus hehe.”

“Hahaha,” gue iyain aje, lagian gue sebenarnya suka ngelakuin ini, serasa punya pacar ciahahahahahaha.

Tak ada suara lagi yang dikeluarkan, Yona gue liat khusyuk menonton. Detik ketemu menit, menit ketemu menit lagi, entah berapa kali satuan waktu itu bertemu gue udah mulai merasa jemu. Sampai pada akhirnya Yona mengeluarkan suaranya.

“Tadi pak Gery ngasih kamu tugas apa?”

“Oh itu, katanya sih hari Rabu gue diminta ke Surabaya.”

“Ke Surabaya? Ngapain?”

“Gak tau, katanya sih besok mau dijelasin. Mau dipindah tugaskan kali hehe.”

“APA?!”

“Bujubuset!”

Nih anak tiba-tiba beranjak dari pembaringan yang sukses bikin gue kaget setengah mati.

Gue diem.

Dia diem.

Sedikit terjadi adu pandangan antara kami berdua, dan gue bertambah heran karena dia ngeliatin gue alisnya mengkerut gitu.

“Kenapa Yon?”

Alisnya makin mengkerut, “… Gak boleh.”

“Hah?”

Tangan kanan gue digenggamnya tiba-tiba.

“Gak boleh! Pokoknya kamu gak boleh pergi kesana! Gak boleh!”

“Eh-eh? Kenapa?” sekarang alis kami sama-sama mengkerut.

Dibalik deras hujan yang menurunkan air ini sekarang berbarengan dengan turunnya air mata dari kedua mata Yona. Ya, dia nangis gue tentu saja bingung atau jangan-jangan… oke disituasi ini gue gak boleh terlalu banyak bicara.

“Jangan pergi…”

“Yon, kok…” gue gak tega nyebut kata ‘Nangis’, jadi gue elus-elus aje kepalanya. Kenapa gue elus? Namanya juga kesempatan.

Tuh anak nerima aje elusan tangan gue, tapi semakin gue elus semakin maju dianya. Gue elus makin cepat dia bertambah majunya, jangan-jangan tangan gue ini baterai kali ya?

“Dioon, jangan pergi ya…” tuh anak langsung meluk pergelangan tangan gue.

Gue kaget, muka gue memerah.

“T-tapi gue kan disuruh…”

Belum selesai gue ngomong nih anak nangis sekenceng-kencengnya. Kayak anak kecil yang gak diajak bokapnya ke DUFAN. Gue bingung, gue emang baru mengalami situasi ini tapi gue tau ini situasi apa, ya dia ini kayaknya gak mau gue menjauh dari dia.

Setelah tangisannya sedikit reda gara-gara gue usap terus punggungnya dia kembali berbicara.

“Jangan pergi, jangan tinggal disana…”

“Iya-iya, gue telpon pak Gery dulu ya. biar jelas kenapa gue ke Surabaya, ya? jangan nangis.”

Dia mengangguk dan semakin erat memeluk gue. gue mengeluarkan HP dan gue taruh dikuping kiri karena tangan kanan gue sibuk ngelus punggung dia.

– “Halo, kenapa Dion?” suara pak Gery sudah terdengar.

“Ah pak, saya mau nanya nih.”

– “Nanya apa?”

Gue lalu bertanya perihal alasan gue disuruh pergi ke Surabaya sekarang, daripada nunggu besok gue takutnya Yona bakal nabrak gue pake mobil biar gue sekarat dan gak bisa pergi kekantor besok. Setelah mengetahui alasannya gue ingin segera menyudahi percakapan ini.

“Oh gitu, terima kasih pak. Sudah dulu ya pak, Assallamualaikum.”

– “Waalaikumsallam.”

Hubungan telepon terputus dan gue langsung memanggil Yona.

“Yona.”

“Ng…” dia menadahkan kepalanya dengan wajah sendu.

Gue tersenyum tipis dan membetulkan poni yang menutup wajahnya.

“Tadi udah dikasih tau alasannya.”

“Apa?”

“Nanti gue kesana sama Pak Gery dengan Ega juga. Kami mau memonitoring cabang disana.”

“Jadi?”

“Iya, gue gak dipindah tugaskan. Hanya memonitoring saja, 2 hari.”

Mendengar itu Yona tersenyum dan membenamkan wajahnya didada gue.

“Syukurlah.”

Gue tersenyum dan mengusap-usap pundaknya. Gue lihat adem ayem aje dianya, gue pengen nyoba tapi gimana caranya kepala gue ini gue benamkan kedada sendiri? Masa dipenggal dulu? Mati dong!

“Yona.”

“Hmm?”

“Hehehe,” gue lalu mencoba mengintip wajahnya yang dia benamkan.

Dia melirik dan tertawa kecil, tangannya pun langsung digunakannya untuk menggencet hidung gue.

“Sejak kapan?”

“Apanya?”

“Gak usah pura-pura gak tau, dari sikap kamu ini aja kita udah tau apa yang gue maksud.”

“Ish,” mulutnya sedikit dimanyunin dan dada gue dipukulnya pelan, akan tetapi dia tersenyum lagi.

“Jadi kapan?”

Mukanya dibenamkan lagi untuk menutup wajahnya, “Pas kuliah…” ucapnya.

“Kuliah?”

Dia mengangguk-angguk yang membuat dada gue kegelian gimana gitu.

“Oh… kalau aku dari 8 hari yang lalu.”

“Heh?” dia menarik kepalanya untuk memandang gue.

“Iya hehe,” gue pertemukan kedua kening kami dan gue goyang-goyang habis itu gue lepas.

Tapi dia masih cengok gitu.

“Bener?”

“Iya,” gue mengangguk.

Lama terdiam akhirnya dia sedikit tersenyum, dan isak suaranya muncul lagi.

“Jangan nangis! Udah gede pun.”

“Hehehe,” dia menyeka sedikit air matanya.

“Etciee cieee hehehe,” gue pun menggodanya.

“Apa sih,” dada gue dipukulnya lagi.

“Hehe,” gue mengusap kepalanya lagi, “Jadi udah lama ya, maaf ya gak sadar-sadar.”

“Iya, aku juga gak pernah ngasih kode gitu. Jadi wajar kok.”

“Untung saja ada pak Gery, kode kamu keluar akhirnya haha.”

“Hihihi,” dia cekikikan, kayak kuntilanak ngeliat baju diskonan. Baju kuntilanak-kuntilanak gitu.

“Kalau boleh tau kenapa?” gue penasaran.

“Karena udah lama kenal kamu, kan kita dari SMP ketemu melulu sampai kerja gini.”

“Iya juga ya, tapi kerja ini kan gara-gara rekomendasi kamu.”

“Iya sih hehe, gara-gara itu kita berhenti kuliah,” ujarnya.

“Haha gakpapalah, kan bisa lanjut lagi. Umur masih muda gini, jadi semenjak kuliah ya… semester pertama?”

“Dari SMA kelas 3 sih, tapi aku baru yakinnya pas kuliah.”

“Wow! 3,5 tahun dong.”

“4 tahun Dion, gimana sih?!”

“Hehe nge-tes doang, siapa tau kamu lupa cara berhitung.”

“Kamu tuh… eh kok manggil aku pake kamu sekarang?”

“Ya…” gue mendelik keatas, “Suasananya baru sih, jadi boleh dong ganti panggilannya.”

“Hihihi dasar.”

“Jadi selama itu kamu baru bisa…”

“Iya, kan dulu aku pernah bilang kalau cewek itu gak mudah suka sama orang. Tapi aku kan udah kenal kamu sejak lama jadi aku udah tau sifat kamu itu kayak gimana, jeleknya gimana, baiknya gimana, beda dengan kamu kan? Tadi kamu bilang 8 hari yang lalu.”

“Iya sih hehe.”

Yona sedikit tertawa, “Apa alasannya?” dia semakin erat memeluk gue.

“Ya… tiba-tiba suka saja gitu, apalagi pas kamu masak.”

“Jadi gara-gara masakan aja nih?”

“Ya gak juga sih hehe, susah disebutin pokoknya. Tapi intinya kan sekarang kita berdua… ya hehehe sama gitu, ehem-ehem, perasaannya ciahahaha,” gue benar-benar malu ngomongin ini, kalau ada adek gue pasti gue diejek-ejeknya.

“Hahaha dasar.”

“Hehehe.”

Lama kami tertawa kayak orang gila yang baru setengah sembuh tapi sudah di-vonis sembuh oleh dokter. Setelah tertawa kami terdiam, kami saling memandang kemudian kami tertawa lagi. Yah, gila ringan.

“Jadi gimana?” gue mulai bertanya.

“Diyoon-yon-yon-yon, Diyooooon,” dia malah nyanyi menggunakan panggilan sok lucu dia terhadap gue, pake nusuk dada gue pake ujung jari lagi.

“Gimana? Malah nyanyi,” gue cengengesan.

“Malu tau! Kamu dong yang ngomong,” pintanya.

“Hehe tapi gak perlu ditanya pun pasti kita tau apa yang mau aku tanyain.”

“Iya juga sih hehe.”

“Jadi gimana?” gue bertanya sekali lagi.

Dia tersenyum dan mencubit-cubit baju gue, tak lama kemudian dia mengangguk-angguk.

“Akhirnya, lepas juga masa lajang.”

“Lebay!” dia tertawa dan memukul-mukul dada gue, hanya saja kali ini keras bukan main dan sukses membuat gue mau bengek dibuatnya.

“Eh sakit! Nanti aku mati gimana? Kan nanti malam mau nonton.”

“Mulai deh, gak usah ngomong-ngomong mati kenapa coba? Itu mobil aku udah berapa kali makan korban?” gerutunya dengan mimik wajah yang lucu.

“Hehe bahaya sekali ya?” gue cengengesan.

“Hihi,” dia kemudian menempelkan kepalanya lagi dipundak gue dan diusap-usapnya memakai kepala, “Diyon-yon-yon-yon, Diyoooon.”

“Hahahaha,” gue tertawa lepas.

Yah gue rasa biarpun hujan lebat diluar, tapi itu sama sekali tidak mengganggu gue dan Yona. Apalagi sekarang kami mempunyai ‘Status’ baru yang malas gue sebutin karena terlalu norak untuk diumbar. TV masih hidup sedari tadi dan acara sebelumnya sudah habis. Sekarang di TV menampilkan group band lawas yang pernah menghentak era 90-an. Gue suka lagu itu dan sekarang gue bersama Yona menikmati lagu tersebut yang mengalun didalam gendang telinga kami.

Sebuah lagu berjudul About a Girl, dari Nirvana.

۩ About a Girl ۩

Malam harinya gue sudah bersiap-siap untuk kerumah Yona karena gue udah janji mau mengajaknya nonton nanti malam. Sekaligus menghabiskan waktu dihari liburan terakhir ini.

TOK! TOK! TOK! Bunyi pintu diketuk dan gue langsung saja membukanya.

“Eh udah datang,” senyum gue mengembang melihat kedua orang tua gue sudah datang.

“Gimana kabar kamu, Dion? Kenapa gak nyusul adik kamu ke Bandung?” tanya Ibu gue saat gue menyium tangannya.

“Banyak kerjaan Ma hehe,” habis itu gue mencium tangan ayah gue.

“Wih! Rapi ya, padahal ayah khawatir nih rumah kayak kapal pecah kalau ditinggalin kalian berdua,” komentar ayah gue saat melihat isi rumah.

Gue celingak-celingukan.

“Mana tuh anak?”

“Oh itu…”

Hello Brother! Kangen ya?” tuh anak langsung muncul dibalik pintu dan langsung saja gue piting kepalanya.

“Betulin tuh X-Box gue! main ngerusak-rusak aje lo!”

“Alalalala sakit-sakit!” keluhnya sambil menepuk tangan gue.

“Haha barang kamu yang mana lagi yang dirusakkin?” Ayah gue bertanya sambil menarik koper dari pintu.

“Tuh! X-Box! Baru beli seminggu udah dirusakin.”

“Dasar, Leffy kamu jangan gitu atuh hobi nya,” Ibu gue langsung mencubitnya, haha! gue ada supporter!

“Iye-iye! Bang! Lepasin! Susah napas gue ini!”

“Betulin dulu!”

“Iye-iye!”

Setelah itu gue lepas, biarpun adek gue ini hobi merusak tapi dia juga punya keahlian membetulkan barang karena itu gue merasa tenang.

“Kamu mau kemana Dion?” Ibu gue bertanya.

“Mau pergi kerumah temen bentar, pergi dulu ya? udah janji soalnya.”

“Haah coba kek pacar kamu, usia kamu udah matang loh buat nikah.”

“Hehe gampang itu.”

“Beeh! Cewek mana yang mau sama dia?” Leffy menyeletuk, gue memiringkan bibir dan gue tendang aje bokongnya.

“Udah-udah, yaudah Dion. Jangan malam-malam, besok kamu kerja kan?”

“Iya, Ayah sama Mama berapa hari disini?”

“Sehari aja, nganterin Leffy.”

“Oh,” gue memanggut-manggut, kalau 2 hari rencananya mau gue kenalin mereka berdua sama Yona tapi yah… mungkin nanti kalau ada kesempatan lain.

“Yaudah aku pergi dulu.”

Setelah berpamitan gue keluar rumah dan saat menutup pintu gue bisa mendengar suara teriakan Leffy dari luar.

“KAMAR GUEEEEE!!!!”

Ya, gue rasa dia sudah melihat isi kamarnya yang gue jadiin tempat sampah.

Hmm yah, gue jalanin aje kehidupan gue sekarang.

[ T A M A T ]

۩ About a Girl ۩

[Celotehan]

Timeline cerita ini terjadi sudah lama sebelum cerita Beautifull Aurora III, chapter 01.

– Delusi secukupnya.

Iklan

4 tanggapan untuk “About a Girl

  1. bahasanya ringan enak dibaca walau ada ucapan yg sedikit kasar.,
    overall bagus, tapi terkesan buru”., kalau ini cerita bersambung chemistry antara yona dan dion akan semakin terasa.,mungkin krn ini cerita selingan dari b.a 3 ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s