Pengagum Rahasia 2, Part 33

Tanpa diduga, Deva dibawa oleh pegawai itu ke suatu ruangan yang terlihat seperti ruangan boss.

“Permisi pak, ini ada yang mau melamar pekerjaan,”

“Hmm?” Lelaki paruh baya itu membuka koran yang menutupi wajahnya lalu melihat ke arah Deva

“Anak SMA?” ucap lelaki itu

“Saya permisi dulu pak,” Pelayan yang mengantar Deva pun pergi

Kini tinggal Deva seorang diri yang ada di ruangan tersebut, ia pun langsung menghadap boss disana.

“Silahkan duduk,” ucap lelaki itu

“B-Baik pak,”

Setelah mempersilahkan duduk, lelaki itu mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada Deva.

“Jadi…kenapa kamu pengen bekerja disini? Gak sayang sama sekolahnya nanti banyak bolos,”

“Ah anu…sebenarnya saya kesini juga atas saran teman saya pak,”

“Temannya?”

“Iya, namanya Kinal,”

“Oh Kinal toh, jadi kamu orang yang disaranin sama Kinal,”

“Hah?” Deva tampak kebingungan

“M-Maksud bapak?” tanya Deva

“Baik, kalau begitu saya harus menguji skill kamu terlebih dahulu sebelum bekerja,”

“Ah-eh…baik pak,” Deva hanya menuruti perkataan lelaki itu

~oOo~

Teng! Teng! Teng!

Lelaki itu memukul-mukul panci disana guna memberikan perhatian ke semua pegawai.

“Mulai sekarang kalian punya rekan baru disini, jadi tolong bimbing dia,”

“Baik pak,” ucap semuanya

“Veranda!” teriaknya

“Ve!?” batin Deva

“I-Iya boss! Saya disini!” Gadis yang dipanggil itu pun menghampiri si boss

“Eh! D-Deva!?”

“Ah-Ha-hai…,” balas Deva

“Oh, kalian sudah saling kenal yah, bagus kalau begitu. Nah Ve, tolong bimbing dia ya,”

“B-Baik boss,” Ve hanya menurutinya

Setelah lelaki itu meninggalkan Deva, Ve terlihat langsung membawa Deva ke suatu tempat.

“S-Sayang…kenapa kamu ada disini!?” tanya Ve namun ia seperti waspada sambil melihat ke sekelilingnya

“Eng…seharusnya kan aku yang nanya gitu Ve,” balas Deva

“A-Aku…umm…,” wajah Ve tiba-tiba memerah

“Seharusnya kamu gak disini Dev,” ucap Ve lagi

“Eh?”

Ve terlihat membelakangi Deva sekarang.

“Aku…,” ucap Ve menggantung

“Ve? Apa ada masalah?”

“Eng-nggak! Udah pokoknya kamu gak boleh ada disini!” bentaknya kemudian Ve pergi meninggalkan Deva

“Loh!? Kok dia jadi…,”

“Deva kan?” sapa seseorang di belakang Deva

“Ah iya,” balas Deva lalu berbalik

“Kenalin, nama gw Luthfi,”

“Eh ya…,” balas Deva sambil menjabat tangannya

“Santai aja, gw juga baru beberapa bulan kerja disini kok,”

“Oh ya-ya,”

“Um Ve…udah kenal lama ya sama dia?” tanya Luthfi

“eng…ya bisa dibilang begitu, dia temen kakak gw,”

“Oh…,”

“Oke kalau gitu sekarang kita mulai masak. Biar gw yang bimbing lo, karena keliatannya Ve lagi gak enak badan,” ucap Luthfi kembali

“Boleh-boleh…,”

Luthfi yang menjadi pembibing Deva mulai mengajarkan semua hal yang ia ketahui. Di mulai dengan cara membersihkan sayuran, serta cara memotong lauk serta sayur yang baik dan benar.

Deva juga tampak menikmatinya, meskipun pada awalnya ia terpaksa bekerja di tempat tersebut, namun perkiraannya jauh berbeda dengan apa yang Deva pikirkan sebelumnya. Di samping itu, Ve…

“Dev…,”

“Ve! Jangan diem terus, ini masih banyak pesenan!” ujar orang di belakang Ve

“Eh i-iya mbak!” balas Ve

“Haduh kamu ini kenapa sih, biasanya kamu yang paling cepet kalau lagi kerja, kok sekarang malah jadi yang paling loyo. Lagi ngintip siapa sih?”

“Ah, eng…nggak ada kok, kalau gitu aku mau lanjut kerja dulu,” Ve langsung pergi ke pos nya

Sementara itu…

“Wah-wah, keliatannya lu udah biasa di dapur nih,”

“Ya begitulah,” ucap Deva sambil terus memotong sayuran

“Kalau pekerjaannya kayak gini sih, gw gak sekolah pun kayaknya gak masalah,”

“Lah gak bisa gitu lah Dev,”

“Ahaha iya-iya gw paham kok, kalau lu gimana?”

“Lu…apanya?” timbal Luthfi

“Sekarang lo udah kelas berapa?” tanya Deva lagi

“Oh, gw sekarang udah semester 5 di unpad,”

“Hah! U-udah kuliah!?”

“Yap,” balasnya lagi

“Ya ampun kenapa gak bilang daritadi sih, jadi gw bisa lebih sopan kalau nyapa lo bang,”

“Gak usah panggil bang juga kali, gw juga masih muda nih,”

“Hahaha gitu ya,”

“Eh…gimana soal Ve?”

“Ha?”

“Kan tadi lo bilang udah kenal lama sama Ve?” tanya Luthfi lagi

“I-iya sih, tapi…apa maksud dari pertanyaan lo tadi?” ucap Deva sambil menggaruk kepalanya

“Ya gw tanya pendapat lo soal dia gimana? Apa kebiasaan dia kalau lagi di rumah,”

“Eng…dia itu sedikit manja, dan kayaknya gak semua orang tau sifat asli dia, Hahahahaha!”

“Hah? Apa maksudnya sifat asli dia?”

“Wah! Eng…sorry, tadi gw salah ngomong,” ucap Deva

“Yah…padahal lu cerita-cerita aja tentang dia ke gw, biar gw bisa tau tentang dia lebih banyak lagi,”

“Ooooohhhh…sebenarnya lo su…,”

“A-Anu Luthfi!” panggil seseorang dari kejauhan

Perkataan Deva terhenti karena gadis yang memanggil Luthfi itu.

“Oh Ve, Kenapa!” balasnya

“Umm…aku butuh bantuan disini,”

“Oke!” balas Luthfi berteriak

“Lo lanjutin ya potongin sayurnya, soalnya itu sayur mau dipake nanti,” ujar Luthfi

Deva hanya mengangguk.

Pandangannya itu masih terfokus ke arah Ve dan Luthfi disana, namun di samping itu ia juga masih fokus terhadap sayuran di tangannya.

“Akhem,”

“EH!” Deva terkejut

“Sorry, gw ngagetin lo ya?”

“Eh Anu…nggak kok,” balas Deva

Wanita itu tersenyum. “Kenalin, nama gw Resya, gw kepala koki disini,”

“Oh,” Deva membungkuk

“Hey, gak perlu kayak gitu juga kali,” ucap Resya

“Eh-Hehe…,”

Deva kembali fokus ke arah Ve dan Luthfi.

“Mereka akrab banget ya,” ucap Deva

“Hem…cemburu ya? Hahaha…,”

“Hue! Kagak kok,” bantahnya

“Hahaha…Jelas lah mereka akrab, lagian mereka berdua kan udah tunangan,” ucap Resya

“HAH!”

~oOo~

Langit yang tadinya terang kini menjadi gelap, hanya terlihat sinar bulan yang di atas sana. Deva mengelap keringatnya sambil terus berjalan keluar dari restoran. Sungguh hari yang cukup melelahkan namun cukup menyenangkan karena tempat bekerja yang cocok dengannya. Ketika ia sampai di luar restoran, ia dikejutkan oleh seseorang disana.

“Boom!”

“Hemm…,”

“Lah, gak kaget ya?”

“Mau apa sih kak Kinal,” tanya Deva dengan lemas

“Loyo amat sih, gak suka yah kerja disini?” ucap Kinal

“Huft…gak juga, lagipula sekarang Deva tau alasan kenapa kak Kinal maksa Deva untuk kerja disini,”

Kinal menngendus tertawa. “Jadi lo udah tau ya sekarang,”

Deva mengangguk. “Um,”

“Jadi sekarang lo mau apa Dev? Apa lo bakalan diem aja, atau ngelakuin sesuatu?” tanya Kinal

“Dev,” panggil seseorang di belakang

Deva yang tengah berbincang dengan Kinal pun berhenti sejenak dan berbalik kebelakang. Tidak lain dan tidak bukan, orang yang memanggil Deva ternyata adalah Ve.

“Ada yang mau aku bicarain sama kamu,” ucapnya

Deva masih terdiam, lalu ia kembali membalik ke arah Kinal.

“Hadapi…,” bisik Kinal sambil tersenyum

Lalu setelah itu Kinal pun pergi.

“Um…sebelum hari semakin malam, sebaiknya kita pulang sekarang Dev,” ujar Ve

Deva kembali memalingkan pandangannya, namun ia juga menuruti perkataan Ve.

Singkat cerita mereka berdua pun pulang bersama, Ve yang fokus mengemudikan mobilnya itu sedari tadi tidak melirik ke arah Deva, bahkan tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut mereka. Sampai pada akhirnya, mereka berdua berada di kediaman Ve.

“Kenapa…kesini?” ucap Deva

“Ikut aku Dev,” ajak Ve

Deva kembali menuruti perkataan Ve dengan mengkituinya. Sampai akhirnya mereka pun kini berada di kamar, ya…tempat itu merupakan kamar Ve.

*Ceklek!

Ve tampak menutup pintu kamarnya.

“E-Gaah! Kamu gak punya niatan aneh kan!?” ucap Deva

Ve menggelengkan kepala.

Lalu ia tampak duduk di pinggiran kasur sambil mengajak Deva.

“Kamu…udah kenal sama Luthfi ya,” tanya Ve sambil menundukan kepala

“Um, ya,” balas Deva

“Jadi…menurut kamu gimana?”

“Dia, yah…kamu cocok kok sama dia,” Jawab Deva

Tiba-tiba Ve langsung menatap tajam ke arah Deva. Air matanya keluar perlahan dan menetes ke pipinya.

“Aku tau sekarang kamu pasti benci sama aku Dev…,”

Wajahnya kini memerah dan air mata terus keluar dari matanya. Memang air matanya tidak dapat terbendung lagi.

“Hem, gimana ya…,” ucap Deva

“Sebenarnya aku juga bingung mau ngmoong apa, ahahaha…,” lanjut Deva sambil menggaruk kepala

“Kenapa kamu selalu menyembunyikan perasan kamu Dev, aku gak suka itu! Aku tau sekarang kamu pasti sakit hati kan!” Ve semakin histeris di hadapan Deva

“Gak gitu juga sih, lagipula aku tau kamu itu orang yang baik Ve,”

“A-Aku baik!?” ucap Ve

“Eh?” Deva terlihat kebingungan

Lalu Ve tampak mengambil sesuatu di lemari dekat kasurnya tersebut. Setelah mengambil barang itu, Ve langsung memperlihatkannya pada Deva.

“Ini Dev, kamu tau kan ini apa?” ucap Ve menunjukan barangnya

“Hmm…,” pandangan Deva terfokus ke arah benda itu

-Flashback-

“Jaga kalung ini baik-baik Dev,”

———————————————————

*TIDIT!

            Suara klakson mobil yang begitu keras bercampur dengan suara hujan. Namun suara hujan tidak terdengar lagi ditelinganya.

-Flashback Off-

“Uh…,” Deva tiba-tiba memegang kepalanya

“D-Dev…,” ucap Ve sambil mengelus pipi Deva

“Kalung itu…,” ucap Deva menggantung

“Ini punya kamu Dev,” ucap Ve

“Sekarang aku ingat semuanya…,”

“Ya Dev, akulah orang yang udah nabrak kamu waktu itu,”

“Akulah orang yang udah bikin kamu lupa ingatan Dev,”

“A-Aku…aku gak pantas disebut orang yang baik,”

*Grek!

            Deva beranjak dari kasur itu.

“Maaf Ve…aku harus pergi,” ucap Deva tanpa memandang Ve sedikit pun

“Tunggu! Deva!”

Deva berlari keluar kamar secepat mungkin, ia bahkan meninggalkan kalung tersebut.

*

*

JDUAR!

            Rintik hujan mulai turun mengguyur tubuh pemuda itu. Namun ia masih terus melanjutkan perjalanannya.

*Kring-Kring

            Seperti suara bel sepeda yang terdengar ditelinganya namun sedikit samar. Ia sesekali melihat kebelakang untuk melihat situasi disana. Ketika ia melihat kebelakang untuk yang ketiga kalinya, seseorang yang mengenakan sepeda tampak seperti mengejarnya dari belakang.

“Deva!” teriaknya

Deva…

Ia tidak memiliki cukup tenaga untuk berlari, lantas ia hanya bisa berjalan santai sambil menghiraukan orang dibelakangnya. Namun tak lama kemudian, orang yang memanggil Deva itu akhirnya bisa memblok jalan Deva dengan sepedanya.

“Tunggu!” ucapnya

“Kenapa kamu menghiraukan aku kayak gitu Dev!” ucapnya berkata keras

            Orang yang mengejar Deva, bukan lain dan bukan tidak yaitu Ve sendiri. Ia terlihat seperti kelelahan dan semakin lama tubuhnya itu melemas.

“Kenapa kamu gak mau denger penjelasan aku Deva…,” Air matanya kini bercampur dengan hujan yang mengguyur tubuhnya

*Gubrak!

            Sepedanya terjatuh dan tubuhnya perlahan merasakan kehangatan.

~oOo~

“Aku cinta kamu…Dev…,”

*Sreng-Sreng!

            Suara seperti seseorang memasak. Tak lama kemudian matanya yang terpejam perlahan terbuka.

“Ungh…,”

“P-Pusing…,”

“Hey ayo bangun, kita makan dulu,” ucap seseorang yang suaranya masih samar itu

Perlahan ia bangun sambil dibantu oleh lelaki yang ia sandari.

“Deva…,” ucapnya ketika melihat lelaki itu

“Makan dulu ya, nanti kamu bisa sakit,” ujarnya

“Um…,”

Gadis yang bukan lain yaitu Ve, ia memainkan rambutnya yang masih basah itu. Kepalanya masih terasa pusing, dan yang bisa ia lakukan hanyalah melihat kesekitar.

“Jangan pake pedes mas,” ucap Deva

“Iya dek,” balas tukang itu

“De-Va…,” ucapnya seperti memelas

“Hmm?” balas Deva

“A-Aku…,”

“Kalau masih pusing, jangan terlalu banyak gerak dulu,” ujarnya lagi

“Ini dek Nasi Gorengnya,”

“Oh, terimakasih mas,” ucap Deva sambil menerima piring itu

Deva pun mulai menyuapi Ve Nasi Goreng tersebut.

“Makan yang banyak, biar pipi tambah bulet,”

Ve terdiam sambil terus mengunyah.

“Kamu…gak makan, Dev?” tanya Ve

“Gak perlu, yang terpenting sekarang kondisi kamu,”

“Ini gak adil Dev, kamu juga harus makan,” Ve tampak merebut sendok itu

“Eeeeehhh!? J-Jangan Ve,” ucap Deva yang terlihat malu itu

“Aaaaaaa….,” ucap Ve

“Ya ampun…,” Deva menyerah dan kemudian membuka mulutnya

Singkat cerita mereka pun memakan Nasi Goreng itu bersama, sampai Nasi Goreng tersebut habis mereka pun berdiam sejenak di tempat itu.

Ve bergeser untuk lebih dekat dengan Deva. Bahkan kini ia sangat menghimpit Deva.

“Kamu…marah ya Dev?”

Deva terdiam.

“Aku tau….wajar kok kalau kamu marah,”

“Lagipula pertunangan itu, aku gak bisa nolak pertunangan itu Dev. Itu bukan hal yang aku mau,”

“Dan juga tentang fakta kalau aku orang yang nabrak kamu, itu juga pasti…,”

“J-Jangan di bahas terus Ve,” potong Deva

“Mungkin memang benar kalau aku marah dan kesal, tapi aku gak pernah marah soal siapa yang nabrak aku waktu itu,” lanjut Deva

“A-Apa maksud kamu Dev?” tanya Ve

“Aku anggap semua yang terjadi kemarin itu cuma kecelakaan.. Tapi yang bikin aku marah, soal kalung itu…,”

“Kalung itu, salah satu barang yang berhaga dikehidupan aku. Setelah kamu tau kalau itu kalung punya aku, kenapa kamu gak langsung kembaliin Ve,”

“Um…aku tau Dev, tapi aku takut….,”

“Aku takut kalau kamu marah pas aku kembaliin kalung punya kamu ini. Aku takut kalau kamu marah ketika kamu tau orang yang udah nabrak kamu itu siapa,” Jelas Ve

Deva yang tadinya meluapkan amarah, kini menjadi sedikit lebih tenang.

“Soal luthfi…,” ucap Ve pelan

“Ah, kalau soal itu…sebenarnya aku bingung mau ngomong apa, hahaha…,”

“Dev,” Ve tiba-tiba memegang tangan Deva

“Aku gak mau kita berpisah, karena aku masih sayang sama kamu,” ucap Ve

“Aku menjauh bukan karena aku benci sama kamu Dev,” ucap Ve lagi berterus terang

“Pertunangan ini, orang tua aku yang memutuskan semua ini,”

“Ya kalau gitu gak ada pilihan lain kan?’ ucap Deva

“Nggak! Aku gak mau Dev! Aku masih sayang sama kamu…,” Ve semakin menghimpit Deva disana

Deva mengusap wajahnya.”Terus kamu maunya kayak gimana? Kalau orangtua kamu udah memutuskan begitu, ya harus kamu terima. Lagipula keputusan orang tua itu kan yang terbaik,”

“enggak Dev! Aku gak mau!” Ve yang keras kepala itu membuat Deva jengkel

“Jadi kamu mau gimana sekarang? Kalau memang ada yang bisa aku bantu sih…,”

“Hamili aku Dev,”

“HUEEEEEEE!” Deva begitu terkejut sampai pedagang nasi goreng itu pun ikut terkejut

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s