Izinkan Aku Menyangimu

Siang itu terlihat sekelompok siswi SMP Harapan Mandiri sedang berjalan di halaman sekolah menuju pintu gerbang sekolah sambil bercanda ria.

“Hoi Bil, lo jadi jalan sama Patrick?” tanya Jeje pada Nabilah.

“Jadi dong, kami kan mau nonton film romantis terbaru dibioskop,” jawab Nabilah dengan antusiasnya.

“Cie cie yang mau jalan sama cemewewnya,” goda Beby tak mau kalah.

“Ish apaan sih kalian,” ucap Nabilah malu.

“Iya Bil, pokoknya lo harus cerita ke kita nanti ya! Betul gak Ay?” timpal Shania gak mau kalah.

“Iya Bil pokoknya lo harus cerita ke kita nanti!” ucap Ayana menanggapi Shania.

Terlihat seorang cowok berpakaian seragam putih abu-abu di seberang sekolahan.

“Noh cowok lo dah nunggu tuh buruan samperin!” seru Jeje.

Nabilah pun mulai mempercepat langkahnya lari lari kecil menuju cowoknya.

“Pokoknya lo utang cerita sama kita!” teriak Jeje.

Nabilah pun menoleh kebelakang dan berteriak, “Gue pasti bikin kalian iri!”

Ruas jalan pertama berhasil Nabilah seberangi, kemudian dia menyeberangi ruas jalan kedua tapi dari arah timur melaju sebuah sepeda motor sport dengan kecepatan yang sangat kencang.

“Nabilah awas!” teriak teman – temannya Nabilah.

Bukannya menghindar tapi Nabilah malah berdiri mematung di tengah jalan, entah takut atau kenapa Nabilah malah diam dan menoleh ke arah si pengendara motor dan pandangan mereka bertemu. Si pengendara motor yang panik mencoba menghindari Nabilah dengan membelokkan stang motornya tapi karena jaraknya sudah sangat dekat dan kecepatan laju motornya sangat kencang tabrakanpun tak dapat dihindari, akhirnya stang motor itu menyerempet tubuh Nabilah hingga membuat tubuh gadis cantik itu terpental hingga wajanya membentur pohon yang tumbuh ditrotoar pembatas jalan kemudian pingsan dan si pengendara motor pun kabur.

“Cepat panggil ambulans,” teriak orang – orang panik.

Tak lama kemudian ambulans pun datang dan Nabilah langsung dibawa ke rumah sakit.

Setibanya dirumah sakit Nabilah langsung dilarikan ke UGD. Teman – teman Nabilah  juga tak lupa mengabari kedua orang tua Nabilah.

 

~oOo~

 

Kedua orang tua Nabilah sudah berada dirumah sakit dan langsung menuju UGD.

“Bagaimana keadaan Nabilah?” tanya papa Nabilah begitu mereka menemui teman – teman Nabilah yang sedang menunggu di depan UGD.

“Belum tau om kami masih menunggu Nabilah ditangani UGD,” jawab Jeje.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nabilah bisa tersrempet motor?” kali ini giliran mama Nabilah yang bertanya. Teman – teman Nabilah pun menjelaskan kronologi kejadiannya.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya Nabilah dipindahkan keruang rawat inap. Nabilah masih belum sadarkan diri.

“Gimana keadaan anak saya dok?” tanya papa Nabilah setelah dokter selesai memeriksa Nabilah.

“Anak bapak tidak mengalami luka yang cukup serius hanya lecet dan memar akan tetapi…” ucap dokter menggantung.

“Tapi kenapa dok!? tolong beritahu saya!” ucap papa Nabilah semakin cemas mendengarkan ucapan dokter yang menggantung.

“Maaf pak, akan tetapi anak bapak mengalami kebutaan,” jelas sang dokter.

“Apa! Buta dok!” ucap papa dan mama Nabilah bersamaan, mama Nabilah tak kuasa menahan tangis mendengar ucapan dokter, tidak terkecuali teman – teman Nabilah juga terkejut mendengat penjelasan dokter.

“Akibat benturan yang keras yang dialami Nabilah pada bagian wajahnya menyebabkan kornea matanya rusak sehingga dia mengalami kebutaan,” jelas dokter.

“Apakah masih bisa disembuhkan dok?” tanya papa Nabilah lagi.

“Kemungkinan masih bisa disembuhkan dengan cara donor kornea mata dan mencari donor kornea mata terbilang susah juga biayanya tidak sedikit,” ucap dokter memberi secerca harapan.

“Begitu ya dok,” ucap papa Nabilah.

“Kalau begitu saya permisi bapak dan ibu,” pamit dokter.

“Iya sihlakan dok dan terima kasih sudah merawat anak kami,” ucap papa Nabilah.

“Iya pak itu sudah kewajiban saya, bapak dan ibu yang sabar, saya permisi,” dokter pun berlalu meninggalkan kamar inap.

“Kasihan Nabilah pa,” ucap mama Nabilah meratapi anak semata wayangnya.

“Iya ma, mama yang sabar ya?” papa Nabilah coba memberi semangat.

“Mama akan mencoba untuk bersabar, tapi bagai mana dengan Nabila pa?”

“Kita harus memberi dia semangat ma dan selalu menjaganya”

Hening semua diam dengan pikiran masing – masing sampai akhirnya Shania buka bicara pamit pulang.

“Om tante kalau begitu kami pamit dulu ya,” ucap Shania.

“Om dan tante yang tabah ya menghadapi musibah ini,” timpal Beby.

“Semoga Nabilah cepat siuman ya om tante,” tambah Ayana.

“Kami pulang dulu om tante,” sambung Jeje.

Sedangkan pacarnya Nabilah hanya diam saja.

“Bapak dan ibu yang sabar ya,” ucap wali kelas Nabilah.

“Terima kasih semuanya telah membawa Nabilah kerumah sakit,” jawab papa Nabilah.

 

~oOo~

 

Malam harinya mama Nabilah terlihat sedang tidur disamping ranjang dimana Nabilah berbaring sambil terus mengenggam tangan Nabilah. Tiba – tiba Nabilah menggerakan jari – jarinya reaksi bahwa dia siuman. Sontak mama Nabilah mengetahui hal itu terkejut.

“Ugh, kepalaku sakit,” keluh Nabilah sambil memegang kepalanya.

“Nabilah kamu sudah sadar sayang,” ucap mama Nabilah senang.

“Dimana ini kok gelap?” tanya Nabilah.

“Kamu dirumah sakit sayang,” jelas sang mama.

“Ma kok gelap? Mati listrik ya?” tanya Nabilah cemas.

“Maafkan mama sayang,” ucap mama Nabilah mulai menangis.

“Mama kenapa nangis?”

“Maaf sayang, ka-kamu buta sayang,” ucap mama terbata dengan berat hati memberitahu Nabilah apa yang menimpanya.

“Apa! Buta!” Nabilah shock mendengar ucapan mamanya.

“Maafkan mama tidak bisa menjagamu dengan baik,” ucap mama Nabilah sambil terisak.

“Gak! Nabilah gak mau buta ma! Gak mau!” tangis Nabilah pecah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Mama Nabilah langsung memeluk Nabilah.

“Maafkan mama sayang,”

“Ya Allah kenapa hal ini bisa terjadi padaku?” batin Nabilah.

Keesokan harinya Nabilah sudah bisa pulang kerumahnya.

 

~oOo~

 

Seminggu kemudian.

Nabilah yang merasa bosan dikamarnya memanggil ART nya.

“Bi! Bibi!” teriak Nabilah.

Dengan tergopoh – gopoh bibi datang kekamar Nabilah, “Iya non ada apa?” tanyanya sopan.

“Bi Nabilah bosen dikamar terus, antar Nabilah ke teras ya?” pinta Nabilah.

“Ayo sini non bibi bantu,” Nabilah pun berjalan dengan dibantu dengan tongkat dituntun bibi ke teras. Sesampainya diteras depan rumah Nabilah duduk dikursi yang memang tersedia untuk santai.

“Makasih ya bi,”

“Iya non sudah kewajiban bibi membantu dan menjaga enon,” balas bibi.

“Iya udah bibi balik lagi aja kedalam, Nabilah mau sendirian aja dulu,” pinta Nabilah.

“Enon gak mau bibi temani?” tawar bibi.

“Enggak bi, Nabilah kepingin sendiri aja,” jawab Nabilah mantap.

“Ya sudah kalau begitu, kalau non butuh apa – apa panggil bibi ya,”

“Iya bi makasih,” kemudian si bibi pun masuk kedalam rumah.

Kini Nabilah hanya sendirian di teras depan rumahnya meratapi dan merenung apa yang menimpanya saat ini. Semenjak dia mengalami kebutaan tidak ada satupun temannya yang datang bermain ataupun menjenguk keadaannya seperti saat ini hanya duduk sendirian merasakan hembusan angin sore yang lumayan dingin.

Kemudian mama Nabilah muncul dari dalam rumah.

“Loh sayang, kamu kok sendirian di teras sih?” tanya mama Nabilah melihat anaknya duduk termenung sendirian.

“Iya ma lagi pengen sendirian aja nih,” jelas Nabilah.

“Gak mau mama temani?” tawar sang mama.

“Kan Nabilah dah bilang tadi ma, Nabilah pengen sendirian dulu,” ucap Nabilah datar.

“Ya udah kalau kamu ingin sendirian, tapi kalau kamu butuh apa – apa cepat pangil mama atau bibi ya,”

“Iya ma,” jawab Nabilah singkat.

“Kalau begitu mama masuk dulu ya,” kemudian mama Nabilah pun masuk kedalam rumah meninggalkan Nabilah sendirian lagi. Nabilah melanjutkan lamunannya. Sampai akhirnya ada seseorang berada didakatnya tapi dia tak menyadari kehadiran orang tersebut.

“Hai,” sapa orang asing itu.

“Hah!” Nabilah terkejut menyadari bahwa ada seseorang didekatnya.

“Maaf aku tak bermaksud membuatmu terkejut,” ucap orang itu.

“Siapa kamu? Mau apa kamu kesini hah!” ucap Nabilah kesal. Gimana gak kesel? Tiba – tiba ada orang asing yang gak dikenal bikin kaget, ditambah Nabilah buta.

“Maaf aku gak maksud mengejutkanmu. Aku baru pindah kesini terus aku jalan – jalan sekitar sini terus aku liat kamu sendirian ya udah deh aku samperin,” jelas orang itu.

“Aku gak percaya!” ucap Nabilah masih judes.

“Ngapain aku bohong? Aku lagi jalan – jalan cari teman baru, nah kebetulan aku liat kamu sendirian, kamu mau gak jadi temanku?” pinta orang asing itu didengar dari suaranya dia seorang cowok.

“Hah!”

“Kok kamu kaget kaya gitu? Aku belum punya teman disini, maka dari itu kamu mau gak jadi temanku?” pinta orang itu lagi.

“Emang kamu mau berteman orang seperti aku?” tanya Nabilah balik.

“Loh kenapa enggak? Ada yang salah?” tanya orang asing itu heran.

“Emangnya kamu mau temenan sama orang buta?” ucap Nabilah tertunduk sedih.

“Maaf aku gak bermaksud membuat mu sedih,” ucap orang asing itu tak enak hati.

“Gak papa kok,”

“Namaku Harris tapi aku bisa panggil Ais,” ucap cowok itu memperkenalkan diri.

“Namaku Nabilah, salam kenal, makasih udah mau berteman denganku,” sore itu pun Nabilah lalui dengan ngobrol dengan Harris teman barunya.

“Oh iya kamu sekolah dimana?” tanya Nabilah.

“Aku sekolah di SMA Harapan kelas 3,” jelas Harris.

“Wah SMA ya? Berarti lebih tua dari aku dong, kalau klo begitu aku harus manggil kakak dong, aku panggil Kak Ais aja ya”

“Terserah kamu sih mau manggil gimana?”

Tiba – tiba mama Nabilah keluar dari dalam rumah.

“Eh ada tamu,” sapa mama Nabilah ramah.

“Eh maaf tante, perkenalkan nama saya Harris, tapi biasa dipanggil Ais, saya baru saja pindah kesini, rumah saya diujung block sana, dekat simpang,” jelas Harris.

“Oh orang baru yah. Bagus deh Nabilah jadi ada temannya. Ayo dilanjut lagi ngobrolnya biar tante ambil minuman dan cemilan teman ngobrol,”

“Ah jadi ngerepotin tante,” ucap Harris sopan.

“Enggak kok, tante tinggal sebentar ya,”

Kemudian mama Nabilah pun masuk kedalam rumah untuk mengambil minuman dan cemilan. Tak berapa lama mama Nabilah sudah kembali lagi.

“Ini minuman dan cemilannya silahkan ya,”

“Makasih ya tante,”

“Iya sama – sama, ayo dilanjut lagi ngobrolnya, tante masuk dulu ya mau bantu bibi di dapur,”

Obrolan sore itu pun berlanjut, tak terasa sudah mau magrib.

“Wah sudah mau magrib nih Bil, kakak pulang dulu ya,” pamit Harris.

“Yah kok cepat banget sih kak? Aku kan masih pengen ngobrol sama kakak,” keluh Nabilah.

“Wah klo kakak gak pulang nanti dicariin orang rumah gimana?”

“Hmm ya udah deh klo gitu,” ucap Nabilah lesu.

“Hey jangan sedih dong? Kakak janji besok bakal datang lagi kesini nemeni kamu main,”

“Bener yah janji!” ucap Nabilah semangat.

“Iya kakak janji tapi sepulang sekolah ya?”

“Makasih ya kak dah mau temeni aku,”

“Iya sama – sama. Kalo gitu mari kakak antar kedalam,”

Harris pun menuntun Nabilah masuk kedalam rumahnya Nabilah. Sesampainya di dalam Nabilah dituntun duduk disofa ruang keluarga. Lalu mama Nabilah muncul dari dapur.

“Tante saya pamit pulang ya sudah magrib takut dicari orang rumah,” pamit Harris pada mama Nabilah.

“Oh begitu ya. Makasih loh udah nemeni Nabilah main,”

“Iya tante sama – sama. Klo gitu Nabilah, tante, saya pulang dulu ya assalamu’alaikum,” pamit Harris.

“Iya wa’alaikumsalam,” jawab Nabilah dan mamanya bersamaan.

 

~oOo~

 

Keesokan harinya sesuai janji Harris kembali menemani Nabilah dirumahnya. Sampai Harris menanyakan sesuatu hal.

“Bil, kakak mau tanya satu hal, tapi kakak harap kamu jangan marah ya?”

“Emang kakak mau tanya apa?”

“Apa kamu terlahir, maaf, buta?” tanya Harris hati – hati.

Nabilah terdiam cukup lama.

“Bil, maaf kalau pertanyaan kakak buat kamu tersinggung,” ucap Harris merasa tak enak.

“Enggak kok kak, aku gak marah. Sebenarnya aku gak buta dari lahir kak. Malahan seminggu yang lalu aku masih bisa melihat,”

“Jadi kenapa kamu bisa, maaf, sampai buta?” tanya Harris hati – hati walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa penyebabnya Nabilah sampai menjadi buta.

“Jadi seminggu yang lalu…” Nabilah pun menceritakan kesadian yang menimpanya.

“Terus gimana dengan orang yang nyerempet kamu?

“Dia kabur begitu saja! Tapi aku sempat melihat wajahnya! Sebelum dia menyerempetku, aku bisa melihat matanya dibalik helmnya itu! Aku tidak akan melupakannya! Dia yang membuat aku jadi buta!” geram Nabilah penuh emosi!

Degh!

“Maafkan aku Nabilah,” batin Harris.

“Kak, kok diam aja?” tanya Nabilah.

“Eh, oh itu kakak turut sedih mendengar ceritamu tadi,”

“Udah ah kok jadi sedih – sedihan gini, oh iya katanya kakak janji mau bantui aku belajar,”

“Ah iya sampe lupa,”

Sore itu pun Harris membantu Nabilah belajar dengan cara membacakan buku – buku pelajaran Nabilah.

 

~oOo~

 

Beberapa hari kemudian terlihat Harris pulang sekolah. Seperti biasanya kalau pulang sekolah dia pasti melewati depan sekolahanya Nabilah tapi kali ini dia naik angkutan umum, semenjak kejadian itu dia menyimpan motornya, kan bisa berabe kalau ada yang ngenalin motornya. Didalam angkot yang sedang melaju dia melihat Jeje temannya Nabilah sedang bermesraan dengan pacarnya Nabilah. Ingin rasanya Harris ngelabrak mereka tapi dengan alasan apa? Yang ada Jeje jadi curiga, jadi dia membiarkannya begitu saja.

Sore harinya kembali lagi seperti biasa Harris datang ke rumah Nabilah untuk menemaninya belajar. Selesai belajar mereka pun mengobrol. Sampai Harris menceritakan apa yang dilihatnya tadi siang.

“Eh Bil tadi siang kakak pulang lewat depan sekolahanmu, terus kakak liat temen kamu jalan sama pacar kamu lho,” ucap Harris hati – hati.

Nabilah diam.

“Maaf kakak gak maksud buat kamu sedih,”

“Ah enggak kok kak, Nabilah gak papa kok, biarin aja mereka, yang penting sekarang Nabilah ada yang nemeni yaitu kakak,”

“Kamu bisa aja,” ucap Harris tersipu.

 

~oOo~

 

Malam harinya dirumah kontrakan Harris dia coba menghubungi orang tuanya.

“Halo, Assalamu’alaikum ma ini Ais,” sapa Harris.

Wa’alaikumsalam, ya Allah Ais kamu kemana aja sih! Bikin mama khawatir aja! Kamu lagi dimana? Kapan kamu pulang? Mama sudah kangen banget sama kamu! Kamu itu anak mama satu – satunya sayang,” ucap mama.

“Iya ma nanti Ais pulang. Ais masih ada urusan ma,” jelas Harris.

“Urusan apa sih sampai seminggu gak pulang?” ucap mama Harris heran.

“Ais nabrak orang ma,”

Astaghfirullahal’azim Ais kok bisa?” ucap mama Harris kaget.

Harris pun menceritakan kejadiannya.

“Jadi mau kamu apa sekarang?”

“Ais minta tolong sama mama carikan donor kornea mata untuk cewek yang Ais tabrak,” pinta Harris.

“Baiklah mama akan coba bantu,”

“Makasih ma, maaf selama ini Ais selalu merepotkan mama,”

“Kamu kan anak mama sudah sewajarnya,”

“Udah dulu ya ma,”

“Eh tunggu dulu nomor kamu ganti ya? Nanti gimana mama bisa hubungi kamu?”

“Nanti Ais sms nomor Ais yang bisa mama hubungi,”

“Kamu jaga diri ya sayang dan jangan lupa hubungi papamu dia juga khawatir sama kamu,”

“Iya ma setelah ini Ais hubungi papa kok. Udah dulu ya ma Assalamu’alaikum,”

Wa’alaikumsalam,”

Kemudian Harris pun menghubungi papanya.

“Halo, Assalamu’alaikum pa ini Ais,”

Wa’alaikumsalam, Ais kemana saja kamu hah! Kenapa gak pulang! Masalah apa lagi yang kamu buat!” cerca papa Harris.

“Maaf pa,” ucap Harris pilu.

“Nak kalau kamu ada masalah cerita sama papa, biar papa bantu sebisanya,” ucap papa Harris melembut.

“Maaf pa kalau selama ini Ais selalu bikin ulah dan menyusahkan papa,”

“Iya nak, papa sudah memaafkanmu. Nah sekarang ceritakan masalah yang kamu hadapin,”

Harris pun menceritakan kejadian yang di alaminya.

Astaghfirullah Ais kamu ini, kenapa bisa sampai seperti itu?”

“Maaf pa Ais khilaf,”

“Jadi sekarang kamu mau bagai mana?”

“Pa tolong carikan donor kornea pa untuk gadis yang Ais tabrak,” pinta Harris.

“Kamu taukan cari donor kornea itu sulit? Ya sudah nanti papa usaha carikan,”

“Makasih pa,”

“Iya nak, kamu sudah hubungi mamamu? Dia begitu mencemaskanmu,”

“Sudah pa,”

“Bagus kalo begitu,”

“Sudah dulu ya pa,” Harris pun mengakhiri pembicaraan tersebut.

 

~oOo~

 

Tiga hari kemudian, seperti biasa sore harinya Harris main kerumah Nabilah, mereka lagi ngobrol santai di ruang keluarga tiba – tiba ada telpon masuk.

“Ma, mama ada telpon,” teriak Nabilah memanggil mamanya.

“Ya ampun sayang mama juga dengar, gak usah teriak – teriak,” ucap mama sewot.

“Hehe,” Nabilah hanya cengengesan.

Percakapan ditelpon.

“Halo, Assalamu’alaikum,” sahutan dari seberang telpon memberi salam.

Wa’alaikumsalam,” jawab mama Nabilah.

“Apa benar ini  rumah Nabilah?,” tanya orang diseberang telpon.

“Iya benar ini rumah Nabilah. Maaf ini siapa ya?” tanya mama Nabilah.

“Ini dokter Ridwan yang kemarin merawat Nabilah dirumah sakit,”

“Oh dokter Ridwan, ada perlu apa ya dok?”

“Saya ingin menyampaikan kabar gembira untuk Nabilah,”

“Apa itu dok?” tanya mama Nabilah penasaran.

Alhamdulillah Nabilah mendapatkan donor kornea mata bu,”

“Hah! Yang benar dok?” tanya mama Nabilah tak percaya.

“Benar bu, ada seseorang yang tidak menyebutkan namanya memberi tahu saya bahwa ada donor kornea untuk Nabilah. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah saya cek kepengadaan donor ternyata benar adanya dan juga semua biaya sudah dilunasi,” jelas dokter Ridwan.

Subhanallah” ucap mama Nabilah terkejut mendengar penjelasan dokter Ridwan.

“Jadi kapan Nabilah bisa kerumah sakit untuk melakukan operasi bu? Saran saya secepatnya, besok juga bisa, saya sudah menyiap kan team,”

“Saya akan beri tahukan Nabilah, terima kasih infonya dokter,”

“Sama – sama bu. Kalau begitu saya permisi dulu bu,” telpon pun terputus.

“Siapa yang telpon ma?” Tanya Nabilah.

“Oh itu tadi dokter Ridwan, yang merawatmu dirumah sakit waktu kamu kecelakaan,”

“Memangnya dokter Ridwan telpon ada apa ma?”

“Dokter Ridwan tadi kasih tahu kalau kamu dapat donor kornea mata,”

“Hah yang benar ma?” tanya Nabilah tak percaya.

“Benar sayang,”

Alhamdulillah, sebentar lagi aku bisa melihat kembali kak!” Ucap Nabilah girang.

“Syukurlah, kakak turut senang dengarnya,”

“Kata dokter kalau kamu sudah siap, besok kamu bisa dioperasi sayang,” jelas mama Nabilah

“Kalau begitu Nabilah siap ma!” jawab Nabilah mantap.

“Oke mama kasih tau papa ya,”

“Kak aku jadi gak sabar pengen liat wajah kakak,”

“Ah wajahku jelek pasti kamu ilfil melihatnya,” ucap Ais merendah.

“Ah masa sih? Aku gak percaya!” ucap Nabilah tak percaya.

“Beneran,”

“Loh kalau yang kaya kamu gini jekek, terus yang ganteng itu gimana? Hahaha” ucap mama Nabilah tertawa.

“Tuh kan mama aja bilang gitu! Nabilah jadi makin penasaran sama kakak,”

“Hahaha,” Harris tertawa melihat Nabilah penasaran.

“Ih kakak kok malah ketawa sih?” sewot Nabilah ngambek menyilangkan tangannya dan menggembungkan pipinya.

“Maaf, maaf, duh jangan ngambek dong,”

“Kakak sih,”

“Cup cup cup jangan ngambek lagi ya, nanti imutnya overload hehe,” goda Harris sambil mengelus rambut Nabilah.

“Ish tuh kan diledekin lagi,”

“Maaf deh maaf,”

“Kak boleh gak aku raba wajah kakak, aku pengen tau wajah kakak tuh seperti apa?” pinta Nabilah.

“Hush kamu ini ada – ada aja,” larang mama Nabilah.

“Gak papa kok tante,” kemudian Nabilah pun meraba wajah Harris sambil membayangkan bentuk wajahnya Harris.

“Gimana wajah ku?”

“Menurutku wajah kakak ganteng,”

“Kamu ini ada – ada aja, wajah kakak biasa saja gak ada yang special,” elak Harris.

“Kak besok temani aku operasi ya?” pinta Nabilah.

“Iya besok kakak ijin sekolah untuk temani kamu operasi,” ucap Harris menyanggupi.

Karena besok Nabilah melakukan operasi jadi Harris pulang lebih cepat agar Nabilah bisa istirahat.

 

~oOo~

 

Malam harinya dikontrakan Harris mamanya menelpon.

Assalamu’alaikum,” salam mama.

Wa’alaikumsalam,”.

“Kamu kapan pulang sayang? mama dah kangen banget sama kamu! Kamu tega sama mama? Gak kasihan sama mama?” ucap mama sedih.

“Iya ma Ais segera pulang kalau urusan Ais selesai,”

“Kamu nunggu apa lagi sih? Kamu sudah dapat donor kornea untuk gadis mu itu sayang,”

“Tapi ma Ais dah janji besok mau nemani dia operasi!”

“Jangan sayang, justru kalau dia sudah bisa melihat lagi dan dia mengenali kamu itu berbahaya, nanti dia terkejut melihat kamu,” mama memberi alasan.

“Begitu ya ma?”

“Iya sayang ini demi kebaikkan kamu dan gadismu itu, kamu pulang yah?”

“Iya ma, Ais pulang setelah dia selesai operasi tapi gak sampai dia bisa melihat lagi kok,”

“Terserah kamu. Pokoknya mama tunggu kedatanganmu,”

“Udah dulu ya ma,” Harris mengakhiri telpon tersebut.

 

~oOo~

 

Keesokan paginya Harris datang kerumah Nabilah untuk menemaninya operasi.

“Gimana Bil, kamu sudah siap?” tanya Harris.

“Sudah kak! Aku dah gak sabar pengen bisa ngelihat lagi,” ucap Nabilah semangat.

Nabilah sekeluarga juga ditemani Harris berangkat menaiki mobil keluarga Nabilah. Ditengah perjalan menuju rumah sakit terjadi perbincanggan.

“Kak kalo aku dah bisa ngelihat lagi orang yang aku pengen liat setelah mama dan papa adalah kakak,” pinta Nabilah.

“Kan dah kakak bilang wajah kakak jelek kamu pasti ilfil deh liatnya,”

“Loh kalau yang kaya kamu jelek terus yang ganteng itu gimana lagi?” ucap papa Nabilah.

“Tuh kan papa juga bilang kaya gitu sama kaya mama, Nabilah jadi makin penasaran sama kakak,” Harris hanya tertawa mendengar ucapan Nabilah.

Tak lama akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Nabilah pun langsung dibawa keruang operasi. Kedua orang tua Nabilah dan juga Harris menunggu dengan cemas diluar ruangan operasi. Beberapa jam menunggu akhirnya operasi selesai Nabilah pun dipindahkan keruangan lain. Tapi sebelum Nabilah dipindahkan keruangan lain Harris malah menghilang, tadinya dia izin pergi sebentar akan tetapi tidak pernah kembali.

“Nabilah kamu sudah siap?” tanya dokter Ridwan.

“Tunggu sebentar dok. Ma apa kak Ais ada disini?” tanya Nabilah.

“Tidak ada sayang, tadi dia izin pergi sebentar tapi sampai sekarang belum kembali,” ucap mama Nabilah .

“Kalo gitu Nabilah mau tunggu kak Ais dulu,”

“Aduh jangan sayang, kan kamu bisa liat dia nanti. Sekarang buka dulu penutup matamu ya,” pinta mama Nabilah.

“Baiklah kalo gitu. Saya sudah siap dokter,”

“Oke Nabilah kamu harus ikuti instruksi saya,” ucap dokter Ridwan.

“Baik dok,” jawab Nabilah mematuhi dokter.

“Pertama saya akan melepaskan perban yang melingkar dikepalamu, kemudian kapas yang menutup matamu, tapi matamu harus tetap dalam keadaan tertutup ya,” perintah dokter Ridwan. Nabilah menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian dokter melepaskan perban yang melingkar dikepala Nabilah, setelah itu melepas kapas yang menutup mata Nabilah.

“Sekarang buka matamu secara perlahan, kalau masih kabur coba tutup matamu dan buka kembali, ingat ya lakukan secara perlahan,” jelas dokter.

Nabilah mengikuti perintah dokter membuka matanya secara perlahan tapi pandangannya masih kabur kemudian dia menutup matanya lagi dan membukanya lagi secara perlahan Nabilah menangkap bayangan yang ada di depannya. Terlihat sebuah objek yang diketahui sebagai mama dan papanya.

“Mama! Papa!” ucap Nabilah bahagia.

“Iya sayang ini mama dan papa,” ucap mama terharu mengetahui Nabilah sudah bisa melihat kembali.

“Mama! Papa! Nabilah sudah bisa melihat lagi ma pa!” ucap Nabilah juga terharu.

“Iya sayang kamu sudah bisa melihat lagi,” ucap papa Nabilah juga terharu.

“Makasih ya Allah sudah mengembalikan penglihatanku,” batin Nabilah.

Dari luar masuk seorang perawat membawa seikat bunga.

“Permisi apa benar pasien bernama Nabilah?” tanya suster tersebut.

“Iya benar ada apa ya sus?” tanya mama Nabilah.

“Oh ini bu ada yang menitipkan bunga untuk Nabilah,” ucap suster.

“Wah dari siapa ya sus?” tanya mama Nabilah lagi.

“Maaf bu saya tidak tahu,”

“Jangan – jangan dari kak Ais ma!” duga Nabilah.

“Seperti apa orang yang memberikan bunga itu sus?” tanya papa Nabilah.

“Orangnya sudah tua pak, setelah menitipkan bunga ini orang tersebut langsung pergi,” jelas suster.

“Begitu ya sus. Kalau begitu terima kasih ya suster,” ucap papa Nabilah.

“Sama – sama pak, bu, kalau begitu saya permisi,” suster itu pun berlalu.

“Sayang kamu kenapa sedih?” tanya mama Nabilah melihat putrinya murung.

“Kenapa kak Ais pergi ya ma setelah Nabilah bisa melihat lagi?” tanya Nabilah heran.

“Mama juga gak tahu sayang, padahal dia sangat dekat denganmu,” ucap mama Nabilah juga bingung.

“Apa jangan – jangan!?” batin Nabilah menduga.

“Ma, pa, seperti apa sih wajah kak Ais?” tanya Nabilah serius.

“Hmm gimana ya menurut mama wajahnya ganteng,”

“Maksud Nabilah gimana matanya, hidungnya atau rambutnya,”

“Dia memiliki tatapan mata yang tajam tapi lembut, alisnya yang tebal dan rambutnya pendek dan rapih,” tutur papa menjelaskan ciri – ciri Harris.

Degh!

“Gak salah lagi itu memang dia,” batin Nabilah.

“Sayang kamu kenapa? Kok keliatan kaget gitu,” tanya mama melihat perubahan sikap Nabilah.

“Kak Ais ma…” ucap Nabilah menggantung.

“Kenapa dengan dia sayang?” tanya mama.

“Kak Ais, dia lah orang yang nyerempet Nabilah sampai jadi buta,”

“Hah!” mama dan papa Nabilah kaget mendengar penjelasan Nabilah.

“Kak Ais kenapa kakak pergi?” ucap Nabilah sedih.

“Mungkin dia pergi karena dia tahu kalau kamu bisa melihat lagi kamu bakal ngenali dia sayang, orang yang udah nabrak kamu” ucap mama.

“Justru Nabilah sayang ma sama kak Ais setelah apa yang dilakukannya selama ini,”

“Papa salut sama Ais, dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab,”

“Mama pun akan marah kalau tahu dia yang membuat kamu buta, tapi dia rela berkorban untuk kamu sayang dia selalu memanmu juga dia membantumu belajar, mama jadi terharu melihatnya,”

Di ujung koridor rumah sakit tampak Harris sedang memperhatikan Nabilah dari jauh.

“Maafkan aku Nabilah aku memang pengecut gak berani menemuimu,” batin Harris kemudian dia berlalu.

 

~oOo~

 

Keesokan harinya Nabilah sudah kembali bersekolah. Nabilah jalan dengan santai masuk kesekolahnya menelusuri halaman sampai koridor sekolah menuju kelasnya padahal semua orang memperhatikannya.

“Pagi semuanya,” sapa Nabilah pada teman – teman kelasnya.

Teman – teman Nabilah terkejut melihat kedatangannya.

“Loh pada kenapa sih semuanya kaget ngeliat gue?” ucap Nabilah santai. Teman sekelas Nabilah hanya diam.

“Pagi Ay, Beb, Nju. Loh Jeje mana kok gak ada?” sapa Nabilah pada teman – temannya kemudian duduk disebelah Ayana teman sebangkunya.

“Eh Bil dah sehat lo?” ucap Ayana terkejut melihat Nabilah.

“Alhamdulillah gue dah bisa ngelihat lagi,” ucap Nabilah santai.

“Sori ya Bil kita gak jenguk lo waktu lo sakit,” ucap Beby.

“Santai ae mba kaya sama siape aje lu ah,” ucap Nabilah dengan logat betawinya.

“Sebenarnya kita dilarang sama Jeje tuk ngejenguk lo,” jelas Nju alias Shania.

“Loh kok? Kenapa?” tanya Nabilah.

“Iya, dia iri sama lo, karena lo pacaran sama Patrick,” ungkap Ayana.

“Oh itu gue dah tau,” ucap Nabilah santai.

“Hah, lo tau dari mana?” tanya Shania.

“Ada deh,” jawab Nabilah.

“Jeje mana kok belom datang?” sambung Nabilah.

“Dia gak datang hari ini juga katanya dia mau pindah sekolah,” ucap Ayana.

“Loh kenapa?” ucap Nabilah heran.

“Dia dah tau kalo lo hari ini dah sembuh dan masuk sekolah. Dia gak enak sama lo, gegara ya lo tau sendiri lah,” jelas Shania.

“Ya ampun Jeje sampe segitunya? Beneran deh gue gak papa,” ucap Nabilah. Kemudian dia mengambil smart phone nya dan menelpon Jeje.

“Ck, Gak dia angkat,” ucap Nabilah.

“Dia segan kali sama lo,” ucap Shania.

“Ay telpon Jeje gih, gue mau ngongomong sama dia,” pinta Nabilah.

“Oke,” kemudian Ayana menelpon Jeje dengan smart phone nya.

“Halo Ay gue dengar Nabilah dah balik kesekolah ya? Barusan dia nelpon gue tapi gak gue angkat,” jawab Jeje menerima telpon dari Ayana.

“Iya dia udah balik kesekolah, dia mo ngomong sama lo,” balas Ayana.

“Gak ah gue takut, gue malu,segan sama dia,” ucap Jeje.

Nabilah pun merebut telpon Ayana.

“Je kok lo gak masuk sih? Kita jadi kurang nih,” seru Nabilah.

“Gue, gue,” ucap Jeje terbata-bata.

“Lu mau pindah sekolah cuma gegara lo segen sama gue?” tanya Nabilah.

“Gue dah jahat sama lo Bil,” ucap Jeje memelas.

“Gue gak papa kok Je, gue gak marah sama lo. So, besok lo balik kesekolah ya? Gue kangen sama lo,” pinta Nabilah.

“Beneran Bil lo gak marah sama gue?” tanya Jeje tak percaya.

“Iye bawel, gue kangen elo,”

“Oke besok gue balik kesekolah deh,”

“Nah gitu dong,” panggilan telpon pun berakhir.

Bel sekolah pun berbunyi pertanda pelajaran jam pertama dimulai. Kemudian masuklah wali kelas Nabilah pelajaran pun dimulai. Sampai akhirnya wali kelas memberikan pertanyaan tapi tak ada satu siswa pun yang menjawab. Dan Nabilah pun akirnya mengangkat tangannya dan berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Semua orang heran melihatnya bagaimana bisa Nabilah yang buta dan tidak sekolah selama sebulan lebih bisa menjawab pertanyaan dengan benar.

“Jawaban kamu benar Nabilah, hebat! Bagaimana kamu bisa menjawab dengan benar Nabilah?” tanya wali kelas juga merasa takjub.

“Iya Bil lo kan buta dan gak sekolah beberapa bulan ini, kok lo bisa jawab dengan benar?” Tanya salah satu teman sekelas Nabilah.

“Gimana bisa lo jawab pertanyaan itu bil? Secara lo tau sendirikan,” tanya Ayana.

“Walaupun kemarin saya buta tapi pendengaran saya masih bagus. Ada seseorang yang sangat baik mau membantu saya belajar dengan cara dia membacakan buku-buku pelajaran dan saya mendengarkanya dengan seksama. Akan tetapi setelah saya bisa melihat lagi orang tersebut malah pergi entah kemana?” jelas Nabilah.

“Wah kok bisa gitu?” tanya wali kelas.

“Saya juga tidak tahu bu,” jawab Nabilah.

“Apa jangan jangan dia orang yang nabrak elo Bil?” tanya Shania.

“Bisa jadi soalnya kak Ais memiliki ciri-ciri si pengendara motor,” jelas Nabilah.

“Oh jadi namanya kak Ais toh,” goda Ayana sambil menaik-naikkan alisnya.

“Udah deh itu lanjutin lagi belajarnya,” ujar Nabilah.

 

~oOo~

 

Sepulang sekolah Nabilah bergegas pulang kerumahnya mengganti pakaian santai kemudian pergi keluar rumah. Nabilah pun mencari informasi tentang keberadaan Harris.

Setibanya dirumah yang pernah dibilang Harris, Nabilah langsung menekan bel rumah tersebut.

“Permisi, kak Ais,” panggil Nabilah.

Tak lama menungu muncul seseorang, dilihat dari penampilannya dia tukang kebun.

“Tunggu sebentar,” ucap orang itu kemudian pagar rumah yang lumayan tinggi itu pun terbuka.

“Eh non Nabilah. Cari siapa non?” tanya tukang kebun itu.

“Permisi pak, kak Ais nya ada?” tanya Nabilah.

“Oh den Harris. Dia sudah tidak tinggal disini lagi non. Semenjak non Nabilah bisa melihat lagi dia pergi,” ucap tukang kebun itu.

“Begitu ya pak. Kalo boleh tau dia pergi kemana ya pak?” tanya Nabilah.

“Wah bapak gak tau tuh non,”

“Begitu ya pak,” ucap Nabilah lesu.

“Tunggu bentar ya non,” Nabilah mengangguk kemudian tukang kebun itu masuk kedalam rumah. Tak lama dia sudah keluar lagi sambil membawa sebuah kartu.

“Ini non,” memberi kartu tersebut.

“Apa ini pak?” tanya Nabilah.

“Itu kartu nama majikan bapak yang mempunyai rumah ini. Siapa tahu beliau tahu info tentang den Harris,” jelas tukang kebun itu.

“Oh begitu ya pak, terima kasih banyak ya pak, ini,” ucap Nabilah sembari memberi uang warna biru kepada tukang kebun itu.

“Aduh non kok repot – repot?” ucap tukang kebun itu segan.

“Uang rokok pak. Sekali lagi terima kasih,” ujar Nabilah.

“Semoga non ketemu dengan den Harris ya,”

“Aamiin,” kemudian Nabilah pulang kerumahnya.

 

Sesampainya Nabilah dirumahnya dia langsung memanggil mamanya.

“Ma… Mama!” teriak Nabilah.

“Ya sayang ada apa?” jawab mamanya yang lagi ada didapur.

“Mama dimana?” teriak Nabilah lagi karena dia hanya mendengar suara mamanya tapi tidak melihat mamanya.

“Mama didapur sayang lagi bantuin bibi masak ada apa sih teriak – teriak gitu,”

Tak lama muncul lah Nabilah didapur.

“Ma kita pergi ke alamat ini yuk, cari tau info kak Ais,” jelas Nabilah sambil memperlihatkan kartu nama yang baru dia dapat.

“Kartu nama siapa itu?” tanya mama Nabilah bingung.

“Ini loh ma pemilik rumah tempat kak Ais tinggal kemarin, rumah yang di ujung blok sana,” jelas Nabilah.

“Oh ya udah nanti coba ajak papamu kalau dia sudah pulang,” Nabilah mengangguk mengerti.

 

~oOo~

 

Sore harinya papa Nabilah pulang.

“Assalamu’alaikum, papa pulang,” salam papa Nabilah memasuki rumahnya.

“Papa! Kita pigi yuk ke alamat ini,” seru Nabilah begitu papanya baru selangkah masuk kedalam rumah.

“Kamu ini, salam papa gak dijawab malah langsung nyerbu kaya gitu emangnya ada apasih?” tanya papa Nabilah heran.

“Hehe, wa’alaikumsalam pa, kita pigi ya ya ke alamat ini,” ucap Nabilah manja merayu papanya.

“Alamat siapa itu?” tanya papa bingung.

“Ini alamat pemilik rumah yang ada di ujung blok sana tempat kak Ais tinggal kemarin,” jelas Nabilah.

“Ngapain kita kesana?” tanya papa lagi.

“Nyari info kak Ais atuh pa,”

“Ooo, ya udah nanti malam kita kesana ya,” ucap papa mengelus kepala Nabilah.

 

~oOo~

 

Malam harinya Nabilah beserta papa dan mamanya pergi ke alamat yang ia dapatkan tadi siang. Alamat yang mereka cari terletak dipinggiran kota. Alamat yang mereka cari tidak terlalu sulit butuh 30 menit pergi kesana. Sesampainya disana.

“Assalamu’alaikum permisi,” ucap papa Nabilah meberi salam.

“Wa’alaikumsalam,” jawab empunya rumah.

“Permisi pak, apa benar ini rumah bapak Broto,” tanya papa Nabilah begitu ketemu seseorang laki-laki membuka pintu rumah tersebut.

“Iya bener itu saya sendiri, ada perlu apa ya pak?” tanya pak Broto.

“Perkenalkan saya Herman ini istri dan anak saya Nabilah. Maksud kedatangan kami adalah…” ucap Papa Nabilah memperkenalkan keluarganya dan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Oh begitu. Ya Harris memang anak yang baik dan ramah, jadi kami tidak menaruh curiga padanya. Dia datang ingin menyewa rumah kami. Saya rasa dia orang berada karena rumah yang kami sewakan cukup besar dan mahal, dia membayar tunai untuk sewa 1 tahun tapi baru beberapa bulan dia menyewa tepatnya setelah Nabilah kembali bisa melihat lagi dia pamit memulangkan kunci rumah.”

“Jadi bapak tahu info tentang keberadaan Harris?” tanya papa Nabilah.

“Wah, maaf pak kami tidak tahu dimana dia berada. Seperti yang saya bilang tadi kami tidak menaruh curiga padanya jadi ya begitulah,”

“Begitu ya pak. Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya pak terimakasih atas bantuannya,” pamit papa Nabilah.

“Iya pak sama – sama, kami juga gak bisa bantu banyak,” kemudian Nabilah dan keluarganya pulang.

 

~oOo~

 

Keesokkan harinya sepulang sekolah Nabilah menemukan sepucuk undangan untuknya diteras rumahnya.

“Hmm undangan?” batinnya. Kemudian masuk kedalam dan memanggil mamanya.

“Ma, mama!” teriaknya

“Ya sayang ada apa sih? Hobi banget teriak – teriak!” ucap mama Nabilah.

“Ini keluarga kita dapat undangan,” ucap Nabilah sambil memperlihatkan undangan yang dia temukan.

“Undangan dari siapa?” tanya mama Nabilah.

“Gak tau. Nih,” ucap Nabilah sambil memberikan undangan pada mamanya.

“Marwin Corp.?” gumam mama Nabilah heran.

“Marwin Corp.? ” tanya Nabilah heran.

“Salah satu perusahaan besar di Indonesia,” jelas mama Nabilah.

“Untuk apa mereka mengundang keluarga kita?” Nabilah bertanya – tanya.

“Mama juga gak tau sayang,”

“Apa kita datang ke acara itu ma?”

“Nanti kita tanya papa,”

Sore harinya papa Nabilah pulang dari kantornya langsung disambut Nabilah.

“Pa kita dapat undangan nih,”

“Marwin Corp. ?” papa juga heran melihatnya.

“Kita pigi ya pa?” mohon Nabilah.

“Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka sampaikan sampai membuat acara seperti ini. Ya kita akan pergi keacara tersebut,” ucap papa masih heran juga takjub sampai – sampai keluarga kecilnya diundang oleh perusahaan besar tersebut.

“Yey beneran ya pa!” ucap Nabilah senang.

 

~oOo~

 

Hari H pada acara Marwin Corp. tiba Nabilah dan keluarganya pergi ke salah satu gedung mewah dimana acara tersebut diadakan. Banyak para tamu undangan berdatangan. Tak hanya Nabilah dan keluarganya saja yang diundang ternyata teman – teman Nabilah juga pak Broto turut diundang keacara mewah tersebut.

“Eh Bil elo diundang juga?” tanya Ayana terkejut melihat Nabilah datang.

“Loh kalian semua juga diundang?” Nabilah juga terkejut melihat teman – temannya ada diacara tersebut.

“Lo cantik banget Bil pake gaun gitu,” puji Jeje.

“Ah loh bisa aja je. Kalian juga pada tampil cantik.

“Jelas dong, kan acara mewah,” ucap Jeje.

“Eh BTW ada apa ya kita diundangan keacara semewah ini?” tanya Shania.

“Iya gue juga terkejut keluarga gue di undang keacara ini,” ucap Beby.

“Gue juga sama,” sambung Jeje.

“Kata bokap gue sih kayanya ada pengumuman penting,” ucap Nabilah.

Selagi Nabilah dan temannya mengobrol seorang MC muncul di atas panggung.

“Selamat malam para hadirin sekalian, selamat datang diacara syukuran Marwin Corp.” ucap MC memberi kata pembukaan.

“Malam ini pimpinan utama Marwin Corp. ingin menyampaikan pengumuman penting. Langsung saja kita sambut pimpinan Marwin Corp. beserta sang istri,”

Muncul dua orang dari balik layar diatas panggung itu. Semua orang bertepuk tangan menyambut kedatangan mereka.

“Selamat malam semua,” ucap Pimpinan Marwin Corp.

“Malam,” jawab para tamu undangan.

“Malam ini kami ingin menyampaikan pengumuman penting mengenai putra sematawayang kami,” Semua orang bertanya – tanya.

“Acara ini sebenarnya syukuran untuk putra kami. Jadi langsung saja kita sambut Harris Marwin,”

Muncul seorang cowok dibalik layar dan langsung menjadi pusat perhatian para tamu undangan terutama keluarga Nabilah dan teman – temannya.

“Eh bil dia kan… ” ucap Jeje.

“Maafkan aku?” ucap cowok itu.

“Maafkan karena ulahku telah membuatmu begitu menderita. Membuatmu dalam kegelapan. Kedua orangtua ku sudah capek berurusan dengan polisi karena ulah ugal – ugalan ku,” Nabilah terdiam tak percaya apa yang dilihatnya diatas panggung.

“Aku memang pengecut, aku pergi begitu saja meninggalkan. Aku takut kau membenciku begitu tahu siapa sebenarnya diriku,”

“Kak Ais,” mata Nabilah berkaca – kaca.

“Maka, izinkan lah aku menyayangi Nabilah?” ucap Harris.

Begitu Harris menyelesaikan kalimatnya Nabilah langsung berlari naik ke atas panggung dan langsung memeluknya. Semua orang terharu melihat adegan itu.

“Kak Ais,” ucap Nabilah menangis dalam pelukan Harris.

“Maafkan aku Nabilah?” ucap Harris.

“Gak kak, kakak gak perlu minta maaf, setelah apa yang kakak lakukan semuanya padaku, aku udah maafin kakak,”

“I love you,” ucap Harris Mesra.

“I love you too,” balas Nabilah.

 

Tamat.

 

@Harrismarwin

Iklan

4 tanggapan untuk “Izinkan Aku Menyangimu

  1. Nah gitu dong nulis, perasaan baru liat tulisan lu 😁
    Oiy berfaedah sekali banyak kata2 siraman rohani seperti assalamualaikum astagfirullah subhanallah 👍
    Dan kamu korban skandal Yaa ampe ada Patrick wkwkkwkw 😂
    Well , nice 👌

    Suka

  2. Hahaha, mantap thor! Untuk plot-nya sudah bagus walaupun cukup mudah ketebak hehe. Ane nantikan karya ente berikutnya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s