Cinta dan Hidup, CHAPTER 4

NAOMI POV

Flashback

“Kak, Kakak yakin jalannya ini, soalnya ini gelap banget”, Ucap seorang gadis yang memakai baju mirip Panda.

“Kakak gak yakin juga, Cuma gak ada salahnya nyoba kan”, Ucap gue yang gak yakin.

“Wah Bro ada cewek cakep tuh”, Ucap Preman dengan codet di pipinya.

“Yoi bro, kita godain yuk”, Ucap Salah satu dari mereka.

“Beta ikutan”, Ucap Lelaki dengan logat Ambon.

“Kak, Sinka takut”, Ucap Sinka yang mulai menangis.

Mereka mendekati kami, Sinka memang bisa melakukan Beladiri tetapi jika menghadapi 3 orang mabuk itu sama saja melawan batu.

“Wah neng ikut abang yuk”, Ucap Preman tersebut.

Preman tersebut menarik Sinka membuat gue Panik, dan ikutan menangis.

“Wah Bro jadi nangis gitu”, Ucap Teman Preman tersebut.

“Coeng kebiasaan loe pada ganggui cewek”, Ucap lelaki datang entah dari mana.

“Oi Co ini ada cewek cakep boleh ni”, Ucap Preman tersebut.

Lelaki itu melihat lekat kearah kami berdua, matanya menampilkan misterius dan kemudian sedikit terkejut.

“Wah Bahaya loe pada bang Bon, Cok, Udah lepasin mereka, di DW ada Ciuh tuh sama billing gue masih ada, mainin saja sono”, Ucap Lelaki itu.

“Serius loe Co, loe yang bayar kan”, Ucap Preman tersebut.

“Yaelah bang liat aja sono”, Ucap Lelaki itu, kemudian ketiga preman tersebut berjalan meninggalkan kami.

Sinka yang masih menangis kemudian diberikan minuman mineral yang dibelinya dari warung 24 Jam.

“2 Idol Kenapa bisa ditempat seperti ini?”, Tanya Pria itu, Gue kaget ternyata dia mengenal kami berdua.

“Kami mencari Angkot mau ke Kalideres dan pulang”, Ucap Gue.

“Dudut udah jangan nangis gitu”, Ucap Pria itu sambil mengelus kepala adik gue.

“Loe mengenal kami berdua?”, Tanya Gue.

“Yaelah, Shinta Naomi dan Sinka Juliani gue itu wota jadi gak mungkin gue gak kenal ama kalian berdua”, Ucap Pria itu, kemudian Pria itu memberikan kami Sate yang tadi dibelinya.

“Ya udah tunggu ya, pas banget ini masih jam 11 Malam jadi masih ada yang gue kenal angkot”, Ucap Pria itu.

“Min, Imin, Ido masih Narik kan, hubungin dia dulu”, Ucap Pria itu.

Tak lama kemudian datanglah angkot berwarna hijau dengan tujuan Kalideres.

“Bro gue ikutan ya lumayan jalan-jalan dan uang rokok”, Ucap Pria itu.

“Kak, Kenapa gue nyaman didekatnya ya padahal baru kenal”, Ucap Sinka yang tepat di sebelah pria itu yang sedang asik becanda dengan pengemudi angkot dan beberapa penumpang disitu.

“Maaf Ya mbak tuh temen gue kurang obat jadi sedikit gila”, Ucap Pengemudi itu.

“Dasar loe Eek Kutu”, Ucap Pria yang di ejek tadi.

“Udah Do, Min loe pada sama-sama eek dan kutil kuda jadi jangan berantem”, Ucap Pria itu, kemudian sendal langsung bersarang dikepala pria itu.

“Imin Gila, awas aja loe tar gue masukin loe ke rumah sakit Jiwa ya”, Ucap Pria itu dengan kesal.

“Mbak mau kemana?”, Tanya Pengemudi Angkot itu.

“Mau ke Hati mu Bang ke”, Jawab Pria yang menolong kami tadi.

“Sue loe kok”, Ucap Pengemudi Angkot tersebut.

Kami pun sampai di Kalideres dan beruntungnya kami tidak membayar ongkos pengemudi juga dengan santainya mengiya kan kami tidak memberi ongkos.

“Kalian berdua hati-hati ya”, Ucapnya

“Apakah kita bisa berjumpa lagi?”, Tanya Sinka

“Bisa, kan gue sering ke teater”, Ucap Pria itu dengan senyuman tipis, dengan wajah kumal tetapi memancarkan aura tulus.

Awal perjumpaan gue dengan Pria itu, pria yang pertama kali membuat hati gue dan adik gue bergetar tidak karuan, pertama kali membuat gue dengan tulusnya menyayangi dan menutup hati kepada semua lelaki.

Tetapi semua sirna ketika pria itu ternyata adalah pria yang selama ini dicari Ve, pria yang selama ini gue cintai.

Cinta itu tidak harus memiliki, saat melihat orang yang dicintai bahagia disitulah gue tau bagaimana rasanya bahagia itu.

Cinta itu sederhana, dimana saat kita berkorban dan saat kita jadi dewasa akan cinta.

NORMAL POV

“Jessi gimana dengan Skripsi loe?”, Tanya Marco kepada Veranda yang sedang mengerjakan Skripsi.

“Sudah BAB 4, doain aja 2 bulan lagi selesai”, Ucap Veranda yang memakai kaca matanya yang membuat dia menjadi semakin manis.

“kamu gak kuliah Co?”, Tanya Veranda

“Entar Jam 3, mau tidur dulu”, Ucap Marco sambil tidur di Sofa sebelah Veranda.

“Dasar”, Ucap Veranda sambil tersenyum manis.

“Cie Cie yang semakin mesra”, Ucap Wanita yang mirip dengan Veranda Cuma lebih tua.

“Ehh Mami”, Ucap Veranda kemudian dia berjalan menuju kearah mamanya dan memeluknya erat.

“Makasi ya Mam atas semua yang mama berikan kepada Ve”, Ucap Ve.

“Sama-sama sayang, apa pun itu demi senyuman mu”, Ucap Mamanya Ve , ciuman indah diberikan Mamanya Ve di kening sang anak membuat Ve semakin bersyukur telah diberikan anugrah yang sangat sempurna.

.

“Iya Mam, aku udah kuliah sekarang, sekalian Kerja juga”, Ucap Marco, dia menerima Telepon dari Ibu nya.

“Iya taunya aku, aku yang salah sudah lari dari masalah”, Ucapnya lagi dengan nada memelas.

“Mam taunya aku, aku yang salah dan selalu salah, tetapi bisa tidak sekali saja berikan aku izin untuk membuktikan dan memperbaiki semua hal yang selama ini aku sia-siakan”, Ucapnya lagi.

“Aku tidak akan kembali kerumah Kakak Mam, sampai kapan pun sebelum aku mencapai tujuan ku”, Ucap nya dengan nada keras.

Marco pun menghela nafas setelah menerima telepon dari sang ibu, dia tau semua keegoisan dan keras kepalanya membuatnya menyesal nanti, tapi semua itu akan dia terima karena sudah itulah resikonya.

“Kamu kenapa co?”, Ve yang sejak tadi memperhatikannya, akhirnya bertanya dengan takut-takut.

“Biasa masalah keluarga, mungkin aku terlalu egois dengan semua hal, ketidak dewasaan ku membuat ku terjatuh ke lubang yang sama”, Ucap Marco dengan menyesal.

Veranda yang tidak tau akar permasalaannya hanya bisa memeluk erat pria itu, membantu kehangatan hati dan hanya itu yang bisa dia berikan kepada pria yang sangat dicintainya itu.

“Ya sudah, kamu bersiap-siap, ini sudah jam berapa nanti kamu telat kuliah”, Ucap Veranda.

“Siap Bu Bos”, Ucap Marco dia pun langsung menuju ke kamarnya dan berganti baju kemudian tidak lupa berpamitan pergi kuliah.

“Jangan tebar pesona ya tar di kampus”, Ucap Veranda.

“Yaelah wajah pas-pasan gini mah mana ada yang mau”, Ucap Marco yang sadar diri.

“Ada buktinya aku dan “ Veranda tidak menyelesaikan omongannya.

“Dan siapa?, Kuntilanak ya”, Ucap Marco dengan candaan garingnya.

“Untung saja tidak keceplosan”, Batin Veranda.

“Yo Bunda, Sinka”, Sapa dia kepada dua gadis cantik yang sedang duduk di Kantin Kampus.

“Hei Kak, ada masalah ya kenapa wajahnya murung gitu?”, Tanya Sinka yang sedang meminum minuman soda yang baru saja dibelinya.

“Gak apa-apa hanya kurang tidur saja”, Elaknya.

“Makanya jangan suka begadang”, Ucap Naomi yang sedang asik membaca Modulnya.

“Namanya juga cowok, pasti suka begadang”, Ucapnya lagi.

“Kakak kapan MVP?”, Tanya Sinka

“2 kali teateran lagi biar bisa MVP”, Jawabnya

“Tar mau MVP siapa?”, Tanya Sinka.

“Ya Oshi gue lah, Kakak loe atau Mpries tar”, Ucap Marco dengan gampangnya tanpa menyadari bahwa wajahnya Naomi sudah memerah.

“Beruntungnya”, Ucap Sinka dengan pelan

“Beruntung gimana, kan fansnya Naomi bukan gue saja”, Balas Marco yang ternyata mendengar perkataan Sinka tadi.

“Eh Gak kenapa-kenapa kok Kak”, Balas Sinka dengan Panik sambil menutup mulutnya yang keceplosan ngomong.

“Ada-ada aja loe dut”, Ucap Marco, sambil mengelus ujung kepalanya Marco.

Sinka Terkejut dengan kelakuan orang itu, wajahnya merah dan dia memegang ujung kepala yang dielus oleh Marco.

Marco pun memasuki Kampus meninggalkan kedua gadis yang masih asik terdiam tak berkutik, beberapa menit kemudian mereka tersadar dan ikut memasuki Kampus. Seperti biasa Hal yang paling membosankan terjadi kembali jika tidur maka badannya akan merah-merah disebelahnya kanannya ada Naomi dan disebelah kirinya ada Sinka membuat dia menjadi tidak bisa bergerak bebas.

“Jessi tolong aku”, Batin Marco lemas melihat keadaan, jika dilihat sesasat maka dikeadaan Marco sangat enak karena dikelilingi oleh Malaikat membuat siapa saja menjadi iri tetapi semuanya salah, karena bagi Marco mereka berdua jika didalam kelas seperti Malaikat Maut yang bisa saja kapan saja menarik nyawanya.

2 jam kemudian kuliah selesai membuat Marco menjadi lega dengan semua keadaan, semua mahasiswa masih melihat kearah Marco dengan pandangan iri, sedangkan Marco hanya berjalan dengan Cuek ditambah dia sedang berjalan dengan dua Malaikat.

“Co, Ve nunggu loe di kantin, jadi kita kesana”, Ucap Naomi sambil memegang Hape nya.

“Yaudah yuk kesana”, Ucap Marco cepat, mereka bertiga berjalan menelusuri Lorong kampus menuju Kantin kampus, di Kantin terlihat gadis yang memakai kaca mata sedang asik dengan Labtopnya sedangkan disekitarnya banyak cowok yang melihat kearah dia.

“Hei Ve”, Sapa Naomi, kemudian dia duduk didekat Veranda.

“Kalian tidak sadar, dari tadi diperhatiin mahasiswa disini?”, Tanya Marco yang sedikit risih dengan keadaan sekarang, semua mahasiswa memperhatikan ketiga gadis itu.

“Hei Naomi, nanti malam ada waktu gak”?, Tanya salah satu mahasiswa yang memegang bola basket dan berseragam basket.

“Emangnya ada apa Rio?”, Tanya balik Naomi.

“Mau ajak nonton saja”, Ucap Percaya diri Pria yang bernama Rio tersebut, Sinka hanya senyum-senyum tidak jelas melihat cowok kesekian kalinya yang bakalan di tolak sang Kakak.

“Maaf Rio, hari ini kami mau on air di Televisi jadi maaf banget ya”, Ucap lembut Naomi.

“Bohong”, Batin Sinka.

“Ok lain kali boleh ya”, Ucap Rio lagi.

“Sip jika ada waktu ya”, Ucap Naomi lagi.

“Sinka kenapa semakin manja sama kamu co?”, Bisik Veranda yang melihat Sinka yang sedang dekat sekali dengan Marco.

“Biarin saja mungkin dia merindukan seorang Abang jadi dia manja sama gue”, Bisik Marco ke Veranda sambil mengelus ujung kepalanya Sinka, sedangkan Sinka asik memakan makanan yang di depan Marco.

“Bilang saja si Dudut suka juga dengan kamu Co, dasar gak peka”, Batin Veranda, Ve sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa dengan sifat lelaki yang dicintainya dan beberapa temannya.

“Aku harus berbicara kepada gadis yang mencintainya supaya tidak ada yang tersakiti”, Batin Veranda, yang hanya pasrah melihat pria itu sedang memanjakan gadis lain.

“Naomi sini deh bentar”, Panggil Veranda.

Mereka berdua pun sedikit menjauh dari Marco dan Sinka.

“Ada apa Ve?”, Tanya Naomi.

“Gue tau loe sama Sinka sayang juga kan sama Marco”, Ucap Veranda cepat tetapi dengan senyum manisnya, Naomi yang mendengarnya tidak bisa menyangkalnya karena semua itu benar adanya.

“Maaf ya Ve, gue bukan mau mengkhianati loe Cuma hati ini gak bisa diajak kerja sama”, Ucap Naomi.

Veranda mengerti dengan sang sahabat karena itu juga dia rasakan sejak dahulu, akhirnya Veranda mengajak Naomi dan Sinka berkumpul di rumahnya untuk membicarakan tentang ini semua, dengan cepat Naomi menyetujui itu.

“Gue tidak bisa selalu lari, gue harus menyelesaikan masalah gue dan keluarga gue, mau sampai kapan gue harus egois”, Batin Marco, yang teringat akan sang Ayah yang sedang sakit karena tidak ada kabar selama sebulan penuh sejak dirinya lari dari rumah.

“Ya Tuhan, ampuni lah dosa ku, dan lindungi kedua orang tua ku”, Doanya kepada sang MahaKuasa dengan air mata menetes di wajahnya.

“Marco saatnya makan malam”, Panggil seorang wanita dewasa.

“Iya Tan sebentar”, Ucap Marco sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya.

“Loh kok ada Dudut dan My Oshi Bunda Naomi si?”, Tanya Marco yang heran di meja makan sudah bertambah dengan adanya Sinka dan Naomi.

“Mereka berdua mau menginap disini Co”, Ucap Veranda.

“Oh”.

VERANDA POV

Jika diakui wajahnya tidak tampan, sama sekali tidak keren dia itu egois, keras kepala Cuma sifat baik dan tidak memilih untuk berbuat baik dan tulus itu lah hal yang membuat banyak wanita mendekat kearahnya secara tidak sadar.

Itu lah yang terjadi kepada kami bertiga, gue, Naomi dan Sinka kami memang cantik bak bidadari tetapi bukan berarti kami mencari cowok itu yang tampan dan keren, kami mempunyai hal yang sama dengan menyukai orang yang sama.

Sekarang disini lah kami, dikamar gue kamar yang penuh dengan warna pink dan nuasana girly membicarakan satu hal yaitu cowok, kami memang bodoh tetapi demi kebahagian kami, kami rela berbuat hal bodoh.

“loe yakin Ve hanya kita bertiga yang menyukai pria itu?”, Tanya Naomi

“gue juga tidak yakin, dia itu sama sekali tidak peka jadi tidak tau bagaimana cewek bisa suka sama dia dan apakah cewek itu suka sama dia”, Ucap gue

“Benar banget itu”, Ucap Sinka

“Untung saja Kak Ghaida sudah Grad kalau tidak kian, bukannya hanya Kak Ve yang rugi kami juga karena dia itu sangat mengagumi sosok Ghaida”, Ucap Sinka dan disetujui kami berdua.

“Jadi asal muasal kalian berdua bisa suka dan kenal sama dia bagaimana?”, Tanya Gue.

Naomi akhirnya menceritakan semua tentang perjumpaan dirinya dengan Pria itu, sedangkan Sinka hanya menambahkan sedikit dari cerita itu.

“Apa lagi dia sangat baik dengan anak Team T, alasannya si karena mereka masih kecil-kecil”, Ucap Naomi.

“Hal yang paling gue takuti itu dimana semua Oshinya suka sama dia”, Ungkap jujur gue melihat tingkah baiknya kepada semua member terutama kepada Oshinya.

“Gue rela berbagi dengan kalian asalkan jangan ada pertengkaran diantara kita”, Ucap Gue akhirnya memberikan usulan gila.

“Loe serius Ve?”, Ucap Naomi tak percaya.

“gue tidak pernah seserius ini, tinggal kalian lah membuat dia jatuh hati kepada kalian berdua”, ucap ve dengan serius.

“Kalau soal itu gampang”, Ucap Sinka.

Kami bertiga akhirnya sepakat dengan keputusan kami dan komitmen kami akan hubungan aneh kami bersama pria itu.

“Pagi Kak”, Ucap Sinka yang baru saja keluar dari kamar Ve.

“Hooaaammm Pagi dut, sini duduk disamping gue”, Ucap Marco yang sedang nonton TV, Sinka pun mendekat kearah Marco dan duduk disebelahnya.

“Ini sarapan dulu”, Ucap Marco sambil memberikan roti lapir yang baru saja dia buat.

“Makasi”, Ucap Sinka dia menerima dan memakan roti tersebut.

“Ve sama Naomi belum bangun?”, Tanya Marco.

“Belum Kak, tadi malem mereka begadang”, Ucap Sinka.

“Kebiasaan”, Ucap Marco sambil memakan roti ke tiganya.

“Laper atau doyan Kak”, Ucap Sinka heran.

“Doyan dut, soalnya manis apa lagi ada kamu makin manis deh ni Roti”, Ucap Marco asal, tapi berdampak kepada Sinka.

“Ah Kakak ini bisa saja ngegombalnya”, Balas Sinka, Marco hanya bisa senyum melihat wajah merah wanita itu.

“Imutnya”, Ucap Marco sambil mengelus kepalanya Sinka.

“Kak”, Ucap Sinka

“Ya?”, Tanya Marco

“Gak jadi deh”, Ucap Sinka lagi, kemudian dengan berani dia tidur dipangkuan Marco, sedangkan Marco hanya cuek saja karena dia menganggap itu hal biasa.

“Co loe liat adek gue gak si dudut?”, Tanya Naomi.

“Ni lagi tidur, mana paha gue dibuat jadi bantal lagi”, Ucap Marco dengan jujur.

Dengan langkah cepat Naomi mendekat kearah kami, dan melihat sang adik dengan tenangnya tertidur, ditambah lagi kepalanya dielus-elus oleh Marco.

“Gercep banget ni anak Panda”, Batin Naomi.

“Mana Dudutnya Naomi?”, Tanya Ve yang baru saja keluar dari kamar.

“Tuh, lagi keenakan di manja-manjain”, Ucap Naomi sambil menunjuk kearah Marco yang sedang asik menonton TV.

“Hadeh dasar tidak peka”, Batin Veranda.

“Udah gak apa-apa, mungkin dia lagi capek, Jess, Bunda”, Ucap Marco sambil mengelus pipinya Sinka semakin membuat Sinka nyaman dengan posisi tidurnya.

“Dasar”, Ucap Veranda.

“Loe sarapan dulu Jess”, Ucap Marco

“Baru bangun, sebentar lagi”, Ucap Veranda yang kemudian pergi menuju ke Kamar mandi.

Sejam kemudian Sinka akhirnya terbangun dari tidurnya dan akhirnya sadar bahwa dia tertidur di Paha Pria yang diidamkannya tersebut.

“Mmmaaf Kak”, Ucap Sinka terbata-bata dengan wajah meronanya.

“Santai saja Dut”, Ucap Marco dibarengin dengan senyuman.

“Jessi”, Panggil Marco

“Apa Co?”, Jawab Ve dari ruang makan.

“Sini deh”, Ucap Marco

Ve mendekat dengan penasaran, Naomi dan Sinka sudah pulang sejak tadi karena hari ini Team K3 akan perform jadi Naomi akan bersiap-siap, dengan sifat iseng Marco mencium pipinya Veranda membuat Pipinya Veranda merona.

“MARCO ISENG BANGET SI”, Teriak Veranda membuat Marco dan Aaron tertawa karena Aaron sedang bermain PS bersama dengan Marco.

“Bang, loe beruntung banget tau”, Ucap Aaron

“Beruntung gimana?”, Tanya Marco.

“Loe bisa buat Kakak gue takluk, dan beberapa wanita cantik juga”, Ucap Aaron.

“wanita lain gimana?”, Tanya Marco yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh adik Veranda.

“Lupain aja deh”, Ucap Aaron pasrah melihat orang yang tidak peka didepannya itu.

“Tapi gue juga heran deh, wajah gue jelek gini, gak keren sama sekali dan kumel, Cuma kenapa kakak loe mau sama gue?”, Tanya Marco yang nyadar diri.

“Tidak semua wanita yang melihat pria itu dari wajahnya saja, wanita itu melihat dari ketulusan bukan dari tampang OK tapi terakhir nyakiti”, Ucap Aaron.

 

 

Twitter

–@KingHarem

Iklan

2 tanggapan untuk “Cinta dan Hidup, CHAPTER 4

  1. Sorry nih thor, kayaknya para member di cerita ini lebih baik menggunakan kata ‘aku-kamu’ dalam dialog mereka. Sekedar saran aja thor, ane lebih dapat feel bacanya dengan begitu, tapi terserah ente deh mau ikut saran barusan yg ane bilang atau enggak. Anyway, cerita ini jadi ‘harem’ hehehe karena ada kata ‘berbagi’ yang dikatakan Ve 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s