Hate love, part 3

Pagi-pagi sekali yupi berniat ingin menjaili Darrel dengan mengagetkan nya di kamar yang Darrel tempati. Saat ia keluar dari kamarnya dan ia melihat Darrel sudah rapih dan sedang mengobrol dengan seseorang. Saat orang itu berbalik,

“Ha? Orang itu lagi?” Ucap Yupi pelan.

“Hai yupi selamat pagi,” Ucap orang itu dan tak lain adalah Shani. Orang yang berhasil membuatnya cemburu. Mengapa sepagi ini Shani sudah ada di hotel milik Darrel?, pikir yupi.

“Ha..hai shan,” Balas Yupi.

“Yaudah Rel, aku pulang dulu ya. Dimakan loh itu makanan nya, mm.. Yupi aku pamit  pulang dulu ya,” Ucap shani sambil melambaikan tangan nya pada yupi dan beranjak pergi.

Yupi kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh atau menyapa Darrel. Darrel yang mengerti kalau Yupi itu cemburu, hanya tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya.

~o~

Yupi POV

“Shani itu kan mantan nya Darrel, terus kenapa dia masih perhatian dan ngirim makanan buat Darrel? Apa shani juga masih sayang sama Darrel? Tanya Miko aja gitu ya.. Tapi kalo aku tanya Miko. Nanti Miko tau kalo aku suka sama Darrel. Aaahh kayaknya gejala Amor deliria nervosa mempan juga di kehidupan aku.” Gumam Yupi.

Tak ingin terus larut dalam carut-marut persoalan yang terus memenuhi kepala nya. Yupi pun memilih untuk menonton kartun kesukaannya. Meski umur nya kini sudah terhitung bukan sebagai anak-anak lagi tapi Yupi masih menyukai film kartun. Menonton kartun sendirian membuat Yupi mengantuk dan akhirnya tertidur.

~o~

Darrel POV

Aku berjalan keluar kamar. Saat ku lihat pintu kamar yupi tertutup rapat. Apa yupi masih tidur? Ah kan tadi yupi melihat ku dengan shani. Apa gadis kecil bermata seperti hazelnut itu cemburu? Lucu sekali dia.

Aku memasuki ruang kerja kun dan mulai mengecek semua laporan dari karyawan ku yang bekerja di hotel ini. Tugas ku adalah mengawasi mereka agar hotel ini tidak pernah sepi dan berjalan sesuai dengan apa yang telah aku rencanakan.

Tarif yang aku patok untuk satu kamar hotel disini memang terlihat fantastis. Aku menerima bayaran setara dengan pelayanan terbaik dari hotel disini. Pemandangan disini sangat menakjubkan. Saat menginap di kamar VIP kalian bisa melihat sunsire dan sunset saat membuka jendela kamar.

Aku ingin mengajak Yupi pergi ke pantai nanti sore. Untuk menikmati pemandangan sunset di Lombok Yupi pasti sangat menyukainya. Jingga disini menawarkan jingga yang tak biasa. Aku akan mengajak yupi gadis kecil bermata hazelnut itu nanti.

Sebentar, pikiran ku malah melayang di persoalan yang seharusnya tak aku pikirkan. Aku barusan sedang menghitung pendapatan hotel ku minggu ini. Tapi aku lupa tidak mencatat kan hasil hitungan ku. Ah bodohnya, mengapa aku menjadi begitu lalai karena memikirkan jingga. Bukan jingga, tapi yupi.

Aku menyadari ada sepasang mata yang mengawasi ku. Mata itu terlihat sangat dekat dengan ku. Miko.

“Pak boss mikirin apa sih pak? Mba shani ya? Apa pak boss ga bosen mikirin mba shani move on pak.. Mba shani sudah memiliki keluarga yang bahagia,” Ucap Miko.

“Diem ko ah,” Jawab ku.

“Mikirin mba shani atau mba yupi pak boss?” Miko menaik turunkan alisnya yang hitam dan tebal itu.

Aku hanya terdiam, menyebut nama yupi dalam hati.

“Siapa sih pak yang membuat bapak jadi gak fokus kaya gini? Cerita-cerita lah,”

“Gaji bulan depan potong ya ko”

“Eittss santai, gaji gak masalah. Yang penting cerita dulu dong Rel”

“Yupi. Gue kepikiran Yupi.”

“Wihh akhirnya move on juga nih orang kaya. Apa yang bikin pak boss suka sama yupi? Bukannya pak boss gak suka ya sama orang berisik.”

“Yupi itu beda,”

“Dia keliatan nya kayak masih kecil loh pak. Bapak yakin pacaran sama bocah? Umurnya berapa sih pak?”

“Gak tau juga. Gak pernah tanya umur. 15 atau 16 mungkin.”

“Masih bocah pak. Umur bapak sekarang itu 21 tahun. Nanti malah ditangkap Kak seto lagi dengan tuduhan pedofilia”

“Gaji beneran di potong ya,”

“Bapak masih sayang nyawa saya kan? Beberapa bulan lagi nikah pak. Lagi butuh duit. Gak usah lah pake acara potong gaji segala”

Aku hanya menghembuskan nafas dengan kasar.

“Ya udah yang penting cepet cari pacar pak. Inget umur. Tuh kan lupa, itu file udah di tanda tangan kan pak?” Miko mengambil file yang berada di meja kerja ku. Aku mengangguk pelan.

“Ajak jalan pak. Terus tembak. Traktiran gak boleh lewat” Ucapnya lalu keluar dari ruangan ku.

Aku hanya terdiam merenungkan apa yang dikatakan Miko pada ku barusan. Namun aku tak yakin, karena Umur ku dengan Yupi terpaut sangat jauh itupun jika yupi benar berusia 15-16 tahun. Tapi mata hazelnut nya selalu membuatku tak fokus. Apa aku tanyakan saja berapa umur yupi sebenarnya?

Aku pun mencoba untuk fokus dengan pekerjaan ku.  Namun hasilnya nihil, aku masih tak bisa untuk fokus. Senyum dari pemilik mata hazelnut itu selalu membayangiku. Apa aku jatuh cinta pada Yupi? Tidak. Itu tidak mungkin. Aku hanya mengagumi nya saja.

Aku bertaruh dengan hati ku sendiri kalau aku tidak jatuh cinta pada Yupi. Hati ku masih milik Shani seutuhnya. Tak peduli dia sudah berkeluarga sekarang. Aku masih menyayangi Shani. Sangat menyayangi nya malah. Tapi getaran saat aku berada di dekat Shani, aku rasakan juga saat berada di dekat Yupi.

~o~

Yupi POV

Aku terbangun dari tidur siangku. Ku lihat tv masih menyala, namun sudah bukan menayangkan film kartun kesukaan ku lagi. Sepertinya film itu sudah selesai saat aku tidur tadi.

Aku memainkan handphone ku dan ku lihat ada pesan masuk dari Darrel.

DarrelAlanna : Bayi, keluar kamar dong. Kita liat jingga di langit yuk.

Bayi? Tidak salah? Umur ku sudah 19 tahun! Dan dia memanggilku bayi. Tapi tunggu, jingga di langit? Bagaimana bisa ada jingga di langit padahal ini baru jam 3 sore. Dia pasti hanya membodohi ku saja agar keluar kamar.

Aku pun memilih untuk membersihkan tubuh ku terlebih dahulu dan bersiap. Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik ajakan nya. Setelah siap aku keluar kamar, kulihat Darrel sedang menunggu di lobby hotel.

Darrel menggandeng tanganku erat sekali. “Mau liat jingga kan? Yuk ke pantai”

Bagai terhipnotis aku langsung mengangguk senang. Jingga sepertinya selalu membuatku terhipnotis. Entah karena ajakan melihat jingga atau yang mengajak untuk melihat jingga. Entahlah.

~o~

Darrel POV

“Saat aku menggenggam erat tangannya, darahku seperti berhenti mengalir. Apa yang aku rasakan ini? Gadis kecil ini selalu membuatku nyaman. Apa perkataan Miko harus aku lakukan? Mengajaknya jalan lalu menyatakan perasaan ku padanya. Ah tidak-tidak itu tidak boleh. Yupi terlalu kecil untuk ku. Mungkin aku bisa menganggap yupi sebagai adik kecil ku saja. Bukan pacar.

Tapi aku merasa aneh. Perasaan ku pada Yupi sangat berbeda dengan saat aku berpacaran dengan Naomi, Natalia, dan Gracia. Perasaan sayang ku pada Yupi sepertinya mengalahkan perasaan sayang ku pada Shani.”

“Darrel kok kamu diem aja? Liat itu matahari mulai tenggelam” Ucap Yupi

“Ah nggak papa kok yup, iya bagus banget ya.” Balas ku.

“Aku suka banget suara ombak, apalagi dengerin nya sambil liat sunset. Ternyata di Lombok beda banget ya pemandangan nya disini lebih indah.” Seru Yupi sambil berdiri lalu berlari-lari di hamparan pasir putih pantai.

“Anak kecil jangan lari-lari!” Ucap ku sedikit berteriak membuatnya menoleh. Wajah kesal nya membuat mata hazelnut nya itu membulat lucu.

“Aku bukan anak kecil! Dan berhenti panggil aku anak kecil. Umur aku 19 tahun bukan anak kecil lagi.” Kesal Yupi padaku.

Ha? 19 tahun? Mana mungkin? Yupi pasti berbohong, pikir ku.

Seperti nya Yupi mengetahui apa yang aku pikirkan melalui raut wajahku. Yupi mengeluarkan dompet nya dan memberikan KTP nya padaku. Ku lihat KTP itu. Foto yang terpampang disana memang Yupi.

“Aku udah besar bukan anak kecil lagii.” Rengeknya. Baru saja aku akan mempercayai kalau Yupi bukan anak kecil, tapi melihat tingkah dan rengekan nya, membuat ku ragu dan kembali mempercayai kalau Yupi itu memang anak kecil.

“Kamu memang anak kecil,” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Yupi menggembungkan pipinya, mata nya menatap ku. Seperti nya suara bising nya itu sebentar lagi akan keluar.

10 detik..
15 detik..
30 detik..

Yupi hanya terdiam. Tidak bereaksi apa-apa. Aku pikir dia akan berteriak. Tapi nyatanya Tidak. Dia hanya berjalan menuju hotel. Langit sudah gelap. Matahari sudah tidur, itu yang selalu yupi katakan jika pemandangan jingga sudah berakhir.

Aku pun mengikuti nya dari belakang. Yupi sedikit berlari saat menaiki tangga hotel. Mengapa dia tidak memakai fasilitas lift yang ada di hotel ini? Dan dia malah memilih untuk berlari-lari menaiki tangga. Hmm, gadis kecil bermata hazelnut ini memang sangat aneh.

~o~

1 bulan kemudian…
Kini aku mengajak Gadis kecil ku itu untuk snorkling. Melihat keindahan bawah air. Tapi..

“Nggak! Pokoknya aku gak mau snorklingg nanti kalau ada ikan hiu terus makan aku gimana? Kamu mau tanggung jawab?”

“Yup, pemandangan di bawah laut tuh indah banget loh. Kamu kan suka ikan hias, pasti nanti kagum deh. Ayolah mau ya?”

“Aku tunggu di kapal aja deh ya?”

“Yaudah deh, tapi nanti kalau kesini lagi harus mau ya snorkling”

Aku mulai berenang menuju dasar laut, yupi menunggu ku di atas kapal. Gadis mungilku itu takut akan dasar laut. Menurutnya, ia takut jika nantinya bertemu dengan hiu bergigi tajam seperti yang ada di film finding nemo. Ada-ada saja gadis gitu..

~o~

“Mba, kok mas Darrel belum naik-naik ya? Seharusnya 30 menit sekali mas Darrel naik ke permukaan untuk mengisi tabung oksigen nya. Tapi ini udah lebih dari 30 menit dan Mas Darrel belum naik ke permukaan.” Ucap Pemandu kegiatan Snorkling Darrel

“Ha? Terus gimana dong? Aaa pokoknya aku gak mau sesuatu terjadi sama Darrel.” Ucap Yupi, entah kenapa air matanya jatuh mengenai pipi nya itu.

“Iya mba, kita tunggu sebentar lagi. Jika Mas Darrel belum naik juga, kami akan mencari nya ke dasar laut.”

Yupi terlihat panik. Ia sangat ingin untuk menceburkan dirinya ke laut dan mencari Darrel. Tapi yupi tidak bisa berenang dan takut akan laut. Matanya menyisir luasnya laut. Dan…

Created by : @Amanda_zanuba

Iklan

Satu tanggapan untuk “Hate love, part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s