Simple Story, Part1

images (17)_20170310150226595

~oOo~

 

Di sebuah pagi yang cerah, ditambah dengan pemandangan rerumputan liar yang tumbuh begitu lebat di sekitar lapangan, seorang pria berbadan tegap, berwajah yang cukup rupawan, sedang menduduki sebuah dahan pohon akasia. Pria tersebut menatap nanar kearah sekitar, sambil sesekali ia melihat langit atas berusaha memastikan kalau cuaca memang sedang cerah.

Seluruh badan dari pria tersebut tertutupi oleh baju baja yang sering disebut dengan armor atau perlengkapan berperang. Sebuah pedang terlihat di pinggangnya yang ditutupi oleh kantung pedang besi. Entah seberapa berat satu set baju baja tersebut. Di kepalanya, ia terlihat mengenakan sebuah helm baja yang memiliki penutup bagian wajah di depannya.

 

Kini penutup wajah tersebut sedang diangkatnya dan diletakkan tepat di atas helm tersebut. Pria tadi menuruni pohon akasia dan berjalan menuju tepi dari lapangan yang luas ini. Jalan setapak yang dibuat oleh warga desa yang tinggal tak jauh dari lapangan ini sangat membantu dirinya.

 

Kedua kakinya melangkah menjauhi lapangan. Suara khas baja yang terdengar karena pijakan kakinya terus berpindah, kedua matanya menatap kesekeliling, entah kapan ia terakhir kali datang ke tempat ini, ia pun tak ingat. Di depan, terdapat sebuah gubuk kecil yang sering dijadikan tempat berkumpul anak-anak desa yang bermain ke lapangan.

 

Disana jugalah terdapat sebuah kuda putih yang sedang diikat oleh tali yang terhubung ke gubuk kecil tersebut. Pria itu tersenyum kecil ketika ia sudah melihat kuda putih kepunyaannya itu, dengan cepat diraihnya sadle kuda tersebut dan mulai menaikinya.

 

Tali yang sebelumnya mengikat kuda putih itu dilepaskan olehnya dan di letakkannya di depan. Tali kekang berwarna kecoklatan yang terbuat dari kulit ini segera di tariknya, membuat sang kuda bersuara nyaring. Derap keempat kaki kuda tersebut mulai terdengar begitu keras hingga sang kuda dan pemiliknya kembali menuju tempat asal mereka.

 

~oOo~

 

Di sebuah lapangan pribadi, seorang pria lain sedang berlatih pedang bersama temannya. Keringat terlihat mengucur dari pelipis hingga terlihat jelas di lehernya. Ia mengusap kerigat yang ada di dahinya kemudian kembali bersikap siap untuk berlatih.

 

Suara derap langkah kuda yang mendekat memasuki kawasan kerajaan terdengar, membuat keduanya menghentikkan latihan tersebut untuk sementara waktu. Pria yang sebelumnya berlatih kini telah menghabiskan satu botol air mineral miliknya, sementara lawan berlatihnya hanya duduk-duduk santai di tengah lapangan.

 

“Bagaimana?” Tanya pria tersebut sambil membuang botol minum kosongnya ke tempat sampah.

 

“Aku sudah melihat-lihat. Dan kurasa benar itu adalah lapangannya, kulihat lapangan itu dijaga oleh penduduk sekitar. Apa kau yakin hendak merebutnya, Niko?”

 

Pria yang bernama Niko tersebut terdiam, dan kemudian tertawa kaku menanggapi perkataan saudara sepupunya itu. Tawa yang begitu dipaksakan, membuat seluruh pelayan pun ikut heran.

 

“Tentu saja yakin, Fino. Apa kau pernah melihatku bermain-main, hm?”

 

Fino, nama pria yang menunggangi kuda tadi, segera turun dari kudanya dan memberikan tali kekang yang dipegangnya kepada penjaga kuda yang sudah mengabdi kepada keluarganya selama kurang lebih setengah dari umurnya.

 

“Kalau begitu kita kesana esok hari, lebih baik kau ajak Aldy bersama kita. Aku akan berbicara dengan kak Veranda terlebih dahulu di dalam,”

 

“Baiklah. Akan kubujuk dia agar ikut juga,”

 

Dalam silsilah keluarga, ayah dari Fino merupakan anak sulung, hal tersebutlah yang menyebabkan Fino menjadi pangeran utama di kerajaan ini. Kedua sepupunya, Aldy dan Niko merupakan anak dari dua orang adik ayahnya.

 

Fino melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong istana tersebut, ia hendak menuju ruang pertemuan namun keinginannya itu segera dihilangkan mengingat kakak sepupunya itu lebih sering berada di perpustakaan pribadi ketimbang ruang pertemuan.

 

Sesampainya di depan sebuah pintu yang tinggi, Fino segera disambut oleh beberapa pelayan yang mulai membukakan pintu untuknya, ia hanya tersenyum kecil dan kemudian memasuki ruangan tersebut. Banyak sekali buku-buku di dalam sana, baru saja Fino hendak melangkah ia pun melihat sebuah buku di lantai dan mengambilnya.

 

‘Son of God’

 

“Kak Veranda?” Panggilnya dengan suara yang cukup lantang.

 

Seorang wanita cantik berpakaian anggun dengan rambutnya yang dibiarkan terurai begitu saja membuat kedua mata Fino terpaku menatapnya. Dia adalah Jessica Veranda, kakak sepupunya yang berusia sekitar 2 tahun lebih tua dibandingkan dirinya.

 

Ve, panggilan dari Veranda, berjalan dan kemudian duduk santai di salah satu kursi sambil membaca sebuah buku yang sedaritadi memang dipegang olehnya. Fino menunjukkan buku yang ditemukan olehnya tergeletak di lantai, kemudian berjalan dan meletakkan buku tersebut diatas meja.

 

“Ada yang ingin kubicarakan,” ucap Fino

 

“Bicara saja. Kakak akan mendengarkan,”

 

Fino berdeham sedikit untuk menghilangkan rasa canggungnya ini. Entah kenapa ketika ia berhadapan dengan kakak sepupunya yang satu ini pasti dirinya akan menjadi gugup, seakan-akan sedang menghadap seorang ratu. Dan lagi, Ve merupakan Putri satu-satunya dari kerajaan ini.

 

“Niko berencana hendak membangun sesuatu di tanah lapang sebelah selatan. Aku juga kurang tahu apa yang sedang dikerjakan olehnya,”

 

“Kakak mengerti. Dan akan kakak pikirkan mengenai hal tersebut. Sekarang kamu cepat ke ruang belajar karena sepertinya waktu belajarmu akan dimulai 30 menit lagi,”

 

“Ah? Ya, aku dan Aldy juga Niko. Kami bertiga belajar bersama hari ini,” ucap Fino

 

“Oh begitu? Baguslah. Cepat pergi kesana, nanti malam saat jam makan malam kakak akan beritahu mengenai hal ini,”

 

Fino mengangguk kecil dan mulai berjalan ke pintu besar. Ketika ia berjalan, suara Ve yang memanggil namanya membuatnya terpaksa berhenti berjalan dan berbalik menatap kakak sepupunya itu.

 

“Devils kembali. Rahasiakan itu dari dua saudaramu, dan kamu harus bersiap untuk menghadapinya,”

 

DEG!!

 

Seakan-akan mengerti perkataan Ve, Fino hanya mengangguk gugup dan kemudian berbalik keluar dari ruangan tersebut. Kepalanya menjadi pusing seketika ketika ia mendengar perkataan kakak sepupunya itu tadi. Devils adalah sebutan atau julukan yang diberikan kepada suatu kelompok organisasi yang selalu menindas kota ataupun desa-desa.

 

Sesampainya di ruang belajar, Fino sudah mendapati Niko dan Aldy yang sedang duduk di bangkunya masing-masing. Sebelah tangannya dipakai untuk memegangi kepalanya yang masih saja berputar sedaritadi. Tak henti-hentinya ia meringis kesakitan ketika guru di depan sedang menjelaskan.

 

“Tuan Fino, apa anda baik-baik saja?” Tanya guru tersebut

 

“Ah ya. Saya baik-baik saja. Lanjutkan pelajarannya,”

 

Guru tersebut mengangguk kecil lalu kembali menjelaskan segala materi yang akan dijelaskannya pada hari ini. Niko dan Aldy tak berhenti untuk mencatat, namun berbeda dengan Fino yang masih memegangi kepalanya. Pandangannya berputar-putar seakan-akan kini ia berada di komediputar.

 

Sebuah tangan menangkap tubuh Fino, ketika dirinya nyaris saja bertabrakan dengan lantai dingin. Aldy lah yang memegangi tubuh sepupunya itu, perlengkapan perang yang sudah dilepaskan oleh ketiganya membuat mereka jadi tak susah untuk bergerak.

 

Di kerajaan, siapapun yang sudah memasuki kawasan aman kerajaan dilarang keras mengenakan pakaian perang, terkecuali ketika hendak berlatih atau menguji kemampuannya. Hal yang sama juga diperlakukan bagi Fino, ia memberikan semua armor yang dipakainya pada penjaga gerbang kerajaan tadi.

 

“Hei, kau kenapa?” Tanya Aldy pada Fino yang nyaris tak sadarkan diri.

 

“Mu….Musuh bebuyutan kita…. kembali ….”

 

Perkataan lemah dari Fino membuat Aldy tertegun, ia sesegera mungkin berdiri untuk menopang tubuh sepupunya itu. Niko yang ikut melihatpun menjadi heran sendiri, pasalnya selama ini Fino jarang sekali terkena penyakit apapun itu.

 

“Saya akan mengantarkan Fino untuk beristirahat. Nanti saya akan kembali lagi kesini,” ucap Aldy

 

Pak guru tersebut hanya mengangguk dan membiarkan Aldy pergi sambil memapah tubuh Fino keluar dari ruang belajar. Di sepanjang perjalanan, pikirannya mulai kacau ketika mengingat perkataan Fino mengenai ‘musuh bebuyutan’ mereka yang sudah lama menghilang kini kembali.

 

“The Devils is back, huh?” Gumamnya sambil terus berjalan.

 

Seorang pelayan membukakan pintu kamar Fino tepat ketika Aldy sudah berdiri di depan pintu kamar. Ia segera meletakkan tubuh sepupunya itu di kasur dan membiarkan pelayan yang bertugas untuk selanjutnya. Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut pelayan itu hanya dijawab singkat oleh Aldy yang kemudian pergi menuju ruang belajarnya.

 

Para pelayan tersebut langsung memencar menuju berbagai arah untuk mengambil keperluan obat-obatan. Ada yang ke lantai bawah untuk mengambil sebuah baskom, ada yang ke lemari untuk mengambil handuk kecil, dan lainnya.

 

Di ruang belajar, Aldy yang sudah kembali duduk pun menjadi sasaran utama Niko untuk bertanya mengenai apa yang terjadi pada Fino, namun Aldy hanya membalasnya dengan perkataan singkat sambil mencoba tersenyum, meski Niko tau itulah salah satu alasan mengapa ia agak takut ketika berbicara kepada Aldy yang mirip seperti Gay.

 

“Ya, pelajaran hari ini selesai. Kita bertemu esok hari, ya,” ucap sang guru

 

“Bisa kah kita bertemu lusa, pak? Karena besok sepertinya saya dan kedua saudara saya ingin melakukan pengecekan tempat di arah selatan. Bagaimana?” Tanya Niko

 

“Baiklah jika itu mau kalian, jadi besok kelas diliburkan. Baiklah kalau begitu saya pamit, permisi,”

 

Setelah guru tadi keluar dari ruang belajar, Niko segera melompat dari tempat duduknya, kemudian menduduki meja yang berada di depan Aldy. “Sebenarnya ada apa dengan Fino? Dia sakit?” Tanya Niko pada Aldy.

 

“Entahlah, akupun tak yakin. Sudahlah cepat sana bersiap dan bersihkan dirimu, kita bertemu di jam makan malam,” ucap Aldy

 

Niko hanya dapat terdiam sambil terus memandang punggung Aldy yang berjalan keluar ruang belajar dengan tanda tanya besar. Dirinya sangat ingin pergi untuk menemui Fino dan menanyakannya sendiri, tetapi entah mengapa seperti ada yang melarangnya. Tapi siapa? Siapa?

 

“Niko. Lihat Fino dimana?” Tanya Veranda yang melewati ruang belajar tepat ketika Niko mulai keluar dari ruangan tersebut.

 

“Saat belajar dia pingsan dan kemudian dibawa Aldy ke kamarnya. Kurasa dia masih disana, kak,”

 

“Ah begitu. Yasudah makasih banyak infonya,” Ve memutar arah dan kemudian menaiki tangga rumahnya menuju lantai atas.

 

~oOo~

 

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, seisi istana pun mulai berdatangan dari berbagai arah, terutama para pangeran dan putri dari kerajaan ini yang sedang berpencar. Ve duduk di samping ayahnya, di sampingnya lagi ada Aldy yang duduk disana. Niko duduk di sebelah ayahnya, namun Fino tampak duduk sendiri tanpa orangtua.

 

“Erm… Fino,” panggil ayah Ve

 

“Iya, Om?”

 

“Om tau, ayah kamu bukanlah orang yang lemah. Jangan terlalu bersedih begitu, inilah guna om selaku pamanmu,”

 

“I-Iya.. Om,” Fino berkata demikian sambil mencoba untuk tersenyum. “He’s fine, okey? Ayolah Fino berpikirlah positif untuk sebentar saja!!!”Β  Fino membatin sambil terus tersenyum.

 

“Oh iya, pah, om, kak Veranda, Fin, Aldy, besok Niko akan memulai rencana pembangunan di lapangan selatan. Bagaimana menurut kalian?” Tanya Niko

 

Ve menyudahi makannya lalu mengelap mulutnya yang mungil dengan sapu tangan. “Meminta persetujuan memanglah mudah, Niko. Tapi apakah kamu yakin dapat membangun segala sesuatunya sendiri? Kamu sendiri tau, bagian Selatan itu banyak sekali penduduk desa yang bergantung pada lapangan tersebut, dan sekarang kamu mau merebutnya?”

 

“Bukan merebut, melainkan hanya merenovasi lapangan tersebut menjadi sarana hiburan. Aku rencananya akan membuka cabang cafeku di sana, kurasa akan laris,” jawab Niko

 

“Jujur saja, sepertinya aku tak dapat menetujui rencanamu, Niko. Karena bagiku lapangan itu memang sudah biarkan saja jadi lapangan, sepertinya akupun pernah ke sana dulu. Jadi kemungkinan lapangan itu berisi segala ingatan kecilku,” ucap Fino

 

“Banyak anak-anak yang senang bermain di lapangan itu. Kurasa akan lebih baik jika kau menjadikannya sebagai lapangan yang lebih layak,” komentar Aldy

 

Ayah Niko berfikir sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. Beliau tampak memikirkan sesuatu. “Jadi begini saja. Kamu Niko, kamu tidak akan melakukan proyek tersebut karena telah gagal mendapatkan dua persetujuan saudara-saudaramu. Dan lagi setelah ayah pikir-pikir benar perkataan Aldy tadi, lebih baik merenovasi lapangan tersebut menjadi layak dibandigkan dengan membangun cafe,”

 

“Dan ada masalah satu lagi,” Ve berdiri seraya menunjukkan sesuatu dari surat kabar yang dibeli olehnya tadi pagi. “Ini ada beberapa bukti kalau Devils sudah kembali. Kejadian yang sama juga terjadi di desa sebelah, mereka mengaku melihat tiga orang wanita berpakaian hitam merah layaknya seragam The Devils,”

 

Aldy tampak membersihkan mulutnya kemudian bersuara, “kemungkinan itu adalah member baru Devils, karena beberapa anak dari desa utara sangat tertarik dengan organisasi tersebut,”

 

“Lebih baik kita mempersiapkan rencana. Besok, aku akan berjaga di desa utara, Aldy berjaga di desa Selatan, Niko berjaga di Timur, dan kak Veranda berjaga di Barat. Bagaimana?” Jelas Fino

 

“Siapkan satu assistent untuk kak Veranda. Bagaimanapun juga, dia itu adalah wanita,” ucap Niko

 

“Kakak akan mengajak sahabat kakak, Shania namanya. Kalian tentu saja mengenalnya kan?”

 

“Itu lebih baik,” ucap Aldy

 

“Jadi semuanya sepakat kan? Baiklah, bagaimana pendapat para raja?” Tanya Fino

 

Kedua orang tua tersebut mengangguk bersamaan, tanda kalau mereka menyetujui ide Fino untuk menjebak para Devils jika menyerang lagi. Fino tersenyum puas dan kemudian berpamitan untuk menuju kamarnya, disusul Aldy, Niko, dan yang terakhir adalah Veranda.

 

Di dalam kamarnya, Ve tampak sedang menulis sesuatu di sebuah buku usang kepunyaannya sejak dahulu. Ia tersenyum kecil ketika akhirnya Quil sejenis alat tulis kuno yang terbuat dari sebuah bulu binatang diletakkannya di atas celupan tinta hitam.

 

“Semakin banyak anggota Devils maka akan semakin banyak juga musuhku. Selamat tinggal,”

 

Ve menutup buku tersebut dan kemudian meletakkannya di rak di sela-sela buku pelajarannya yang lain, kemudian dirobohkannya tubuh ke atas kasur empuk miliknya. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar.

 

“Semuanya akan berubah di esok hari. No more friend,”

 

***

 

Keesokan harinya, Aldy, Niko, Fino dan juga Ve sudah bersiap di atas kuda masing-masing lengkap dengan armor mereka. Tak berapa lama kemudian, Shania datang dengan kuda putih berambut hitam yang ditungganginya.

 

Bunyi derap langkah kuda tersebut membuat Fino menoleh dan tersenyum kecil ketika mereka semua kini telah lengkap. Setelah sedikit berdeham, Fino menatap sekeliling untuk memastikan lagi.

 

“Jadi hari ini, kita akan melindungi desa-desa yang ada di sekitar kerajaan. Sesuai perintah kemarin malam, semuanya sudah ada tugasnya masing-masing. Jadi sekarang tinggal melakukannya saja, kuharap semuanya melakukan segalanya dengan baik.” Ucap Fino

 

Semuanya mengangguk serempak. “Tiga pasukan yang sudah ditugaskan untuk mengirimkan kabar, kumohon dengan sangat kini waktunya sudah tiba. Jangan karena ini hanya sebuah misi kecil, dan kalian meremehkannya. Jangan pernah remehkan Devils, mengerti?”

 

Setelah mengatakan itu, Fino pun menarik tali kekang kudanya agar mulai berjalan keluar dari area kerajaan. Niko dan Aldy sempat mengobrol sedikit saat mereka masih searah, akan tetapi mereka segera berpisah di perempatan dimana setiap jalan memisahkan desa-desa yang mereka tuju.

 

“Jika ada sesuatu, cepat sampaikan. Aku tak mau mengambil resiko, apapun itu resikonya,” ucap Fino

 

Semuanya mengangguk serempak dan kemudian kembali menjalankan kuda mereka menuju kearah yang telah ditentukan. Fino ke Utara, Aldy ke Selatan, Niko ke timur, sedangkan Ve dan temannya Shania bergegas pergi ke arah Barat.

 

Suara derap kuda yang tak begitu menganggu para warga desa membuat kedatangan Fino dengan para pasukannya memasuki desa Utara sangat di terima oleh para penduduk. Desa ini bernama desa Raitaku, atau terkenal dengan julukan ‘Desa Listrik’. Julukan itu bukanlah sebuah lelucon belaka, semuanya ada asal-usulnya.

 

Konon, pada jaman dahulu kala, seorang wanita cantik datang ke desa tersebut sebagai pendatang yang ramah terhadap warga desa lainnya. Pada awalnya wanita tersebut sangat disukai oleh para penduduk sampai-sampai dijadikan bunga desa, akan tetapi semuanya berubah ketika para Devils menyerang.

 

Wanita tersebut maju paling depan untuk melindungi desa, akan tetapi seseorang dengan jubah hitamnya segera meluncurkan kekuatan kegelapannya dan membuat wanita tadi tak sadarkan diri. Para penduduk desa hendak melakukan perlawanan, akan tetapi ketika melihat siapa lawan mereka, semuanya kembali terdiam.

 

Wanita itupun dibawa pergi dengan sebuah kuda hitam, dirinya diletakkan di belakang ditambah ikatan tali yang melilit tubuhnya. Orang berjubah tadi mengamati desa sejenak dan kemudian segera menarik kudanya pergi.

 

Setidaknya itulah yang diceritakan para penduduk desa Utara yang menjadi saksi asli kejadian tersebut ketika Fino turun untuk sekedar meminum coklat panas di sebuah kedai. Fino terdiam sambil meminum coklatnya ketika dua orang warga tersebut berkomentar mengenai pendapat mereka.

 

“Jadi, apakah kalian pernah melihat wanita itu lagi?” Tanya Fino

 

Keduanya menggeleng.

 

“Tapi aku pernah melihat di hutan, wanita yang mirip sekali dengannya. Tetapi dia berbeda, wajahnya terlihat lebih muda dibandingkan wanita waktu itu,” ucap salah satunya.

 

“Wanita itu seakan-akan menghilang ditelan bumi. Kami sempat berencana untuk menyelidikinya, tetapi sesuatu seperti menghalangi kami. Contohnya adalah hantu kabut malam hari waktu itu,” tambah yang lainnya.

 

“Jadi seperti itu rupanya. Bisakah aku meminta ciri-cirinya? Mungkin saja aku akan bertemu dengannya nanti,”

 

Kedua warga setempat itupun mengangguk senang dan kemudian segera menggambarkan wajah wanita yang mereka ceritakan tadi pada selembar kertas yang telah disediakan oleh salah seorang prajurit Fino.

 

“Tuan, sepertinya ada kegaduhan di luar. Apa anda ingin saya menge-check nya?” Tanya prajurit tersebut.

 

Fino menoleh kearah kaca jendela yang memperlihatkan keadaan luar. Desa yang awalnya cukup rapi kini menjadi berantakan, Fino mengangguk cepat membuat prajurit tersebut pun akhirnya keluar dari kedai untuk melihat keadaan.

 

Tetapi baru saja beberapa langkah pergi, tubuh prajurit tersebut kembali masuk ke dalam kedai. Kini disusul dengan suara dentuman dari luar, membuat Fino terpaksa berdiri kemudian menatap sekeliling.

 

Sebagian dari kedai hancur entah terkena apa, sedangkan tubuh prajuritnya itu terkapar tak berdaya di ujung kayu yang menjadi bar di kedai tersebut. Seorang gadis datang, dirinya berjalan melewati pintu kayu yang telah rusak sepenuhnya, senyum jahatnya terlihat.

 

Gadis tadi sempat menatap Fino sejenak, tapi kemudian ia kembali berjalan menuju ibu-ibu yang menjadi bartender disana. Semua pelanggan kedai ini berlarian keluar dengan cepat, sedangkan sang ibu itu mencoba melayaninya dengan sedikit gemetar.

 

“A-Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ibu tersebut

 

“Aku ingin pesan seperti biasa. Kalau lama, kau tau akibatnya,”

 

Setelah mengangguk, ibu tersebut segera mencampurkan dua buah minuman pada satu tempat dan mengocoknya untuk membuat sebuah minuman. Gadis tadi tampak menunggu di depan meja bar, sebelah kakinya menendang wajah prajurit Fino yang masih terkapar disana.

 

“Hei, apa kau tau apa yang kau lakukan, hm?” Tanya Fino yang membuat gadis tersebut menoleh kearahnya.

 

“Kau berbicara denganku? Yakin?” Tanya gadis tersebut

 

“Memangnya aku berbicara pada dinding? Enyahlah dari sana, jangan apa-apakan prajuritku itu.”

 

Gadis tadi melihat sejenak kearah tubuh prajurit yang sudah tak berdaya itu kemudian menunjuknya dengan jari telunjuk sebelah tangannya. “Maksudmu bangkai ini? Dia prajuritmu, ha? Aku kasihan sekali melihatnya, hahaha…”

 

Tawa gadis tadi membuat Fino sedikit geram, namun dengan sekali tarikan nafas ia berusaha sedikit sabar. “Menyingkir dari sana, atau lihat akibatnya,”

 

“Bagaimana kalau aku tak mau menyingkir, huh? Apa yang akan kau lakukan? Menangis dan meminta pertolongan orang tuamu? Atau menangis meraung-raung di meja itu?”

 

Fino mengeluarkan pedangnya dengan sebelah tangan kemudian mengarahkannya pada gadis tersebut. Sedikit terkejut memang, tetapi gadis itu sebisa mungkin menutupinya, ia sangat pandai.

 

“Majulah.” Ucap Gadis tadi dengan nada meremehkan.

 

“Sayangnya aku tak ingin melawan seorang wanita,” Fino kembali memasukkan pedangnya kemudian berjalan keluar dari kedai.

 

“He-Hei! Beraninya, kau!”

 

Gadis tadi berlari mengejar Fino yang sudah mulai keluar dari kedai. Tangan kanannya menarik sebelah bahu Fino, dengan sigap tangan kirinya mengepal dengan sebuah aura berwarna hijau di sekitarnya. Fino mengelak, ia merunduk dan melepaskan tangan gadis tersebut dari bahunya.

 

Dengan cepat, gadis tadi melompat ke belakang untuk sekedar menjaga jarak dari Fino.

 

“Ugh…” gadis tadi tampak kesal.

 

“Aura mu itu .. mengingatkanku pada seseorang. Siapa dirimu sebenarnya?!” Tanya Fino

 

Diam. Hanya keheningan yang melanda semuanya.

 

“Aku … heheh, apa kabar, Fino?” Sapa gadis tadi dengan terkekeh kecil.

 

DEGGGG….

 

“Ka-Kau …”

 

BERSAMBUNG

Create by Seena

Iklan

3 tanggapan untuk “Simple Story, Part1

  1. Kalo bisa, walau mphe udh grad, sekalipun udh di taken org, tetep konsisten di pake mphe nya Jan tetiba pas udh g mber ntar di ganti sisil .
    Udah gitu aja sih, nice πŸ‘Œ

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s