Janjiku Untuk Desy Part 12

jkhgl

Pagi ini terasa sangat sejuk. Semilir angin pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar, diikuti cahaya sang mentari yang memancarkan sinarnya. Udara yang begitu sejuk membuatku membuka mata perlahan, kemudian bangkit dari ranjang dan duduk. Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar dan kuhirup udara pagi yang begitu sejuk itu. Perlahan-lahan oksigen mulai masuk melalui lubang hidungku, kemudian masuk ke dalam paru-paruku. Hah… benar-benar menyejukkan.

Kulihat jam sudah menunjukan pukul 05.55 WIB. Waktunya untuk bersiap pergi ke sekolah. Aku beranjak dari ranjang, kuambil handuk yang menggantung di lemari pakaian, kemudian masuk ke kamar mandi. Kutanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuhku, lalu kunyalakan shower. Deras air dingin mulai keluar dari ujung shower tersebut, membasahi permukaan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki. Tak lupa aku membasuh badanku dengan sabun, membuat seluruh tubuhku menjadi licin dan harum. Mandi kali ini terasa sangat menyenangkan, kuharap awal hariku ini juga menyenangkan.

“Cides, mandinya udah belum?! Kita sarapan dulu, aku dan Mamah sudah menunggu di ruang makan!”

Sebuah suara dari lantai bawah memekakan telingaku. Suara tersebut berasal dari seorang gadis yang sudah tinggal di rumah ini bersama kedua orang tuaku. Ya, dia adalah adikku. “Iya, Okta! Ini aku lagi pake seragam dulu!” kujawab panggilan itu dengan sedikit berteriak.

Aku segera merapikan seragamku yang sudah kupakai tersebut. Lalu memasukan beberapa buku ke dalam tas dan beranjak meninggalkan kamar. Kulihat sudah ada Okta dan Mamahku sedang duduk manis di depan meja makan. Di meja makan tersebut sudah ada tiga lapis roti tawar dengan selai cokelat kesukaanku, ditambah lagi tiga gelas susu putih menjadi pelengkap.

“Selamat pagi, Mamah, Okta!” sapaku seraya duduk di kursi.

“Kamu berangkat bareng sama Okta, Des?” tanya Mamah.

“Tidak, Mah. Okta mau berangkat sendiri ke sekolahnya,” jawab Okta saat aku ingin menjawab pertanyaan Mamah barusan.

“Ish… kamu main motong pembicaraan saja, yang ditanya Mamah ‘kan aku.” Aku memajukan bibirku seperti bebek.

“Biarin, sama adik harus ngalah, dong. Wlee….” Okta menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku hanya mendengus sedikit kesal.

“Sudah-sudah, kalian ini pagi-pagi sudah bertengkar.” Mamah mencoba melerai pertengkaran kami berdua. “Kalian berangkat ke  sekolah naik apa pagi ini?”

“Aku naik bus, Mah,” jawab Okta sambil melahap roti tawarnya.

“Kalau aku pingin naik kereta,”jawabku seraya menenggak segelas susu putih sampai habis, karena roti tawarnya sudah habis kumakan.

“Kalau kamu naik kereta, kamu harus segera berangkat, Des, nanti ketinggalan kereta,” kata Mamah.

“Iya, Mah. Ini aku mau berangkat.” Aku langsung beranjak dari tempatku dan mulai pergi berangkat ke sekolah. Sebelum itu, aku memberi salam pada Mamah dan Okta. Kemudian mulai berangkat menuju sekolah.

Pagi ini aku berangkat ke sekolah menggunakan kereta. Biasanya, aku kalau ke sekolah naik bus bersama Okta. Tapi karena Okta ingin berangkat sendiri, jadinya aku berangkat sendiri, deh. Aku memilih mencoba naik kereta karena menurut orang-orang, lebih cepat naik kereta dibanding naik bus atau angkot. Selain itu, dengan naik kereta juga bisa terhindar dari kemacetan. Secara di jam pagi seperti ini jalanan pasti sangat ramai oleh kendaraan.

Stasiun yang baru saja kudatangi terlihat ramai, karena mereka bepacu dengan waktu untuk melakukan aktivitas supaya tidak terlambat. Aku mulai mengantre membeli tiket, walau antreannya sedikit panjang. Kulihat jam di tanganku menunjukan pukul 06.30. Masih sempat.

Sepuluh menit aku mengantre, akhirnya aku mendapatkan tiket sesuai dengan tujuanku. Aku mulai masuk lebih dalam ke area stasiun, dimana banyak orang menunggu kereta datang. Kulihat ada kursi kosong di dekat orang yang sedang berjualan. Aku pun mulai duduk di kursi kosong tersebut sambil menunggu kereta datang.

Kereta tak kunjung datang, aku mulai bosan. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu sambil menatap orang-orang yang terlihat sudah letih menunggu kereta yang tak kunjung datang. Mataku tak henti-hentinya menelisik setiap orang yang menunggu, hingga pada akhirnya mataku tertuju pada seorang pemuda yang sedang duduk di sisi depanku sambil bersandar di sebuah tiang penyangga. Dia memakai seragam sekolah SMA, namun seragamnya berbeda denganku. Kemeja putihnya sedikit dikeluarkan, sehingga terlihat seperti berandalan sekolah. Celana panjang abu-abunya sedikit kusut, tapi masih terlihat rapih. Wajahnya sedikit tak terlihat karena dia menunduk, menatap sebuah buku di tangannya, entah buku apa itu.

Entah kenapa mataku terus tertuju pada pemuda itu. Aku sedikit merasakan gejolak aneh dalam diriku. Gejolak yang tak bisa dijelaskan kata-kata. Kulihat jam di tanganku, sudah menunjukan pukul 07.12, kereta pun tak kunjung datang. Aku mengumpat pada diriku sendiri, “Kok lama banget ‘sih kereta datangnya?! Aku ‘kan jadi telat.”

Kulihat lagi pemuda yang sedari tadi kulihat. Dia perlahan-lahan menegakkan kepalanya, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak sengaja dia menoleh ke arahku, aku diam terpaku dibuatnya. Sejurus kemudian, dia menunjukan senyum tipisnya. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Duh, kenapa dia senyum ke arahku?” batinku.

Tak berapa lama, kereta yang kutunggu pun datang. Orang-orang yang sudah lama menunggu mulai berdesakan masuk ke dalam gerbong kereta. Aku mulai masuk ke gerbong kereta di urutan kedua. Kulihat pemuda yang tadi kulihat sudah tidak berada di tempatnya. Mungkin dia sudah masuk ke gerbong lain.

Dalam situasi desak-desakan seperti ini, aku tidak mendapatkan tempat duduk. Alhasil aku harus berdiri sambil berdesakan dengan para penumpang lain hingga sampai di stasiun berikutnya.

“Hei, duduk disini saja.” Suara seseorang dari dekat pintu masuk gerbong membuatku menoleh ke arahnya. Aku sedikit tersentak saat melihat siapa orang itu. Dia adalah pemuda berseragam SMA yang tadi kulihat di stasiun.

“Duduk disini saja.” Dia mempersilahkanku untuk duduk di bangku kosong yang sebelumnya sudah ia tempati.

“Emm…. Kamu gimana?”

“Tenang saja, aku bisa berdiri saja sampai stasiun berikutnya.”

Aku sedikit salah tingkah saat pemuda itu tersenyum ke arahku. Aku pun duduk di tempat duduk yang ia tempati sebelumnya. Dia berdiri sambil tangannya memegang pegangan besi panjang di langit-langit gerbong. Dari tempat duduk yang kutempati, aku bisa melihat postur tubuh orang itu. Tinggi tubuhnya agak sedikit pendek dibanding denganku, tapi postur tubuhnya sedikit tegap hingga terlihat agak maco.

Aku jadi penasaran dengannya. Kucoba untuk berkenalan dengannya, namun tiba-tiba desakan penumpang dalam gerbong ini semakin menjadi. Hal itu membuat pemuda tersebut harus terpaksa menggeser tubuhnya agar tidak terhimpit. Tapi itu juga membuatku menjadi tidak bisa berkenalan dengannya, karena posisi pemuda itu tertutup oleh penumpang lain.

Hingga sampai ke stasiun berikutnya, tempat dimana aku harus turun karena sekolahku berada dekat dengan stasiun ini, aku tidak berjumpa lagi dengan pemuda itu. Mungkin saja saat turun tadi dia langsung pergi entah kemana. Entahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya.

Keesokan harinya..

Aku pergi berangkat sekolah kembali menaiki kereta. Entah kenapa aku jadi senang naik kereta, mungkinkah ini karena pemuda yang aku temui kemarin ya? Mungkin. Yang jelas aku mulai menikmati perjalanan ke sekolah menggunakan kereta.

Stasiun yang sama seperti kemarin, adalah tempat aku menunggu kereta datang. Seperti kemarin, aku duduk di bangku dekat orang berjualan sambil memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu kereta datang. Mataku terus menelisik setiap orang yang ada di stasiun ini, hingga pada akhirnya pandanganku tertuju pada seorang pemuda yang kutemui kemarin pagi. Dia duduk bersandar di tiang penyangga sambil membaca sebuah buku.

Sejak kemarin aku belum tahu nama dan sekolahnya dimana, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya soal kemarin. Aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Namun, baru saja berdiri, dia sudah berdiri juga sambil membawa bukunya. Dia menoleh ke segala arah. Kemudian pandangannya tertuju padaku. Aku terdiam. Dia berjalan ke arahku dan duduk di kursi sebelahku yang ternyata aku baru menyadari kalau kursi di sebelahku itu kosong. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, aku pun duduk.

Jam di tanganku menunjukan pukul 07.12, kereta pun belum kunjung datang. Kalau seperti ini terus, aku akan terlambat sampai ke sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, jadwal kereta yang memaksaku untuk menunggu. Di sampingku, pemuda itu masih tertuju pada buku bacaan yang dibacanya, membuatku jadi penasaran dengan buku yang dibacanya. Aku pun mencoba mengobrol dengannya.

“Hei!” sapaku ramah. “Lagi baca buku apa?”

Dia menutup bukunya, lalu memperlihatkan bukunya padaku. Di buku tersebut tertulis sebuah judul Love and Psychopath. “Aku sedang membaca buku ini. Apa kamu mau baca juga?”

“Eh, tidak, terima kasih.”

Dia membuka kembali bukunya dan membacanya. Kenapa aku terlihat gugup untuk berbicara? Padahal aku hanya ingin mengetahui siapa namanya.

“Namaku Martinus Aryo.” Tiba-tiba saja dia berbicara menyebutkan namanya, seakan-akan tahu dengan apa yang aku maksud. Itu membuatku salah tingkah. “Kamu bisa panggil aku Aryo.”

“Nama kamu siapa?” lanjut pemuda yang bernama Aryo itu.

“Namaku terlalu panjang untuk diberitahukan,” jawabku.

“Tidak apa-apa. Asalkan namamu tidak sepanjang Tol Cipularang, hahaha.”

Dia tertawa. Tawanya terdengar renyah, serenyah biskuit macan jika dikunyah. Tanpa sadar aku juga ikut tertawa.

“Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan. Itulah namaku.”

“Hmmm, panjang juga. Biar kutebak, pasti nama panggilanmu Desy?”

“Eh, bagaimana kamu tahu?”

“Dari rangkaian nama panjangmu itu, nama Desy lebih mudah diingat selain Maria.”

“Iya juga ‘sih.”

Seketika kami terdiam sejenak. Tidak ada percakapan lagi untuk sementara waktu. Aku mencoba untuk mengobrol dengannya lagi tetapi aku kebingungan mencari topik obrolannya. Masa bodo. Aku harus mencoba mengobrol dengannya, mumpung dia ada di sebelahku.

“Oh ya, kamu sekolah dimana?”

Baru saja akan mengobrol lagi dengannya, dia sudah berdiri dan berjalan ke depan rel kereta. Tak berselang lama, sebuah suara klakson kereta terdengar, kemudian kereta yang kutunggu-tunggupun datang. Orang-orang yang menunggu pun langsung berdesakan masuk ke dalam gerbong termasuk Aryo. Aku pun tak tinggal diam. Aku langsung ikut berdesakan masuk ke dalam gerbong. Kulihat Aryo masuk ke dalam gerbong yang sama denganku. Tak berselang lama aku pun sudah berada di dalam gerbong tetapi aku tidak menemukan Aryo disana.

“Dia kemana?”

*****

Malam ini terasa dingin. Dalam suasana seperti ini lebih enak menghabiskan waktu dengan meringkuk di atas ranjang serta diselimuti balutan selimut guna menghalau udara dingin malam hari, kemudian mulai masuk ke alam mimpi. Namun, hal itu tidak kurasakan sedikitpun. Aku terjaga di malam hari. Mataku tidak bisa diajak bekerja sama untuk masuk ke alam mimpi. Pikiranku melayang kemana-mana, terfokus pada satu objek yang mulai mengganggu pikiranku.

“Hmmm… kenapa aku mulai memikiran dia?”

Entah kenapa sosok Aryo mulai terlintas di pikiranku. Sosoknya yang misterius membuatku menjadi penasaran. Walau pertemuanku dengannya di stasiun waktu itu terbilang singkat, aku bisa merasakan gejolak aneh dalam diriku, gejolak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apa mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Entahlah. Tetapi mana mungkin aku bisa langsung jatuh hati padanya, padahal baru pertama kali aku berkenalan dengannya. Ah, mungkin itu cuma ilusiku saja.

Sosok pemuda itu terus-menerus terngiang di kepalaku. Berkali-kali aku mencoba untuk tidur tetapi percuma saja, aku tak bisa tidur. Baru kali ini aku mengalami hal seperti ini, dan rasanya begitu tidak enak. Aku tidak boleh berdiam diri saja, aku harus melakukan sesuatu.

Ah, mungkin sedikit berjalan-jalan keluar rumah sekedar menghirup udara bisa membuat pikiranku tenang.

Aku pun beranjak dari ranjang dan meninggalkan kamarku yang sedikit luas ini. Kulangkahkan kaki menuju garasi, dan kudapati ada sebuah mobil dan sepeda terparkir disana. Kuambil sepeda kesayanganku berwarna merah dan kutuntun keluar garasi. Kunaiki sepedaku itu dan mulai berjalan-jalan meninggalkan rumah.

Jalan-jalan di malam hari seperti ini terasa menenangkan, semilir angin malam yang berhembus membuat pikiran, hati, dan jiwa terasa tenteram. Tetapi jangan sampai berlama-lama menikmati udara dingin malam, bisa masuk angin.

Aku tidak tahu kemana aku harus membawa tubuh tinggi ini berjalan-jalan. Aku hanya menggoes pedal sepedaku sesuai dengan naluri yang hendak membawaku kemana. Memang terlihat agak aneh sih, jalan-jalan di malam hari tanpa tahu arah dan tujuan yang jelas, tetapi itulah caraku untuk menenangkan pikiran.

Tanpa terasa sepeda yang aku kayuh ini sampai di sebuah mini market di luar komplek perumahan. Mini market yang bertuliskan Indoapril di atasnya menjadi tempat perberhentianku. Kuparkirkan sepedaku di lahan parkir mini market yang luas, kemudian mulai masuk ke dalamnya. Mungkin dengan membeli minuman bisa membuat pikiranku tenang.

“Selamat malam. Selamat datang di Indoapril.” Seorang wanita muda di depan meja kasir memberi ucapan selamat datang kepadaku, disertai senyum ramah menghiasi bibir tipisnya.

Aku membalasnya dengan senyum yang tak kalah ramah dengan wanita itu. Kulanjutkan langkahku menuju sebuah lemari pendingin yang di dalamnya terdapat bebagai macam minuman dingin dan segar. Banyak minuman disini, namun aku bingung mau pilih yang mana. Sekaleng kopi, memang enak minum kopi, tapi kalau diminumnya di malam hari seperti ini kemungkinan aku semakin tak bisa tidur. Sebotol minuman teh, memang enak juga minum teh, tapi sepertinya aku sedang tidak tertarik minum teh. Bagaimana kalau susu? Memang enak juga minum susu, tapi kalau aku minum susu sekarang, bisa-bisa aku malah tertidur di mini market ini.

“Aduhhh aku bingung..” Aku sedikit frustasi karena tak kunjung mendapat minuman yang aku inginkan. Alhasil, dengan teknik ‘cap-cip-cup’, aku pun mencoba memutuskan untuk memilih minuman itu.

Cap-cip-cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau dicup.”

Telunjuk tangan kananku berhenti di area minuman teh. Tidak tidak. Aku sedang tidak tertarik minum teh. Aku coba lagi melakukan cap-cip-cup.

Cap-cip-cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau dicup.”

Kali ini telunjuk tangan kananku berhenti di area minuman bersoda. Aishhh…?! Kenapa malah ke minuman bersoda, minuman itu ‘kan tidak ada di opsiku. Hmmm, tidak beres nih. Oke, kucoba sekali lagi.

Cap-cip-cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau dicup.”

Telunjuk tangan kananku berhenti di area minuman kopi. Ya, sudah diputuskan bahwa aku akan membeli satu minuman kopi. Aku mengepalkan tangan kananku dan sedikit bersorak kemenangan seperti di anime atau manga. “Yoshhh!”

Kuambil sekaleng kopi yang terdapat di salah satu rak lemari pendingin itu, kemudian mulai membawanya ke kasir sekalian bayar. Aku menyerahkan kopi yang baru saja kuambil ke penjaga kasir yang sudah menunggu. Penjaga kasir itu menyapaku dengan ramah. Aku membalasnya dengan senyuman dan menatap penjaga kasir itu. Namun, seketika aku terlonjak kaget melihat siapa penjaga kasir itu. Dia seorang pemuda yang kalau dilihat-lihat umurnya tidak beda jauh denganku. Pemuda yang kemarin kutemui di stasiun. Kenapa dia ada disini, dan juga kenapa dia memakai seragam mini market ini?

Pemuda itu memegang kopi kaleng yang baru saja kuambil, kemudian bagian barcode di kopi kaleng tersebut dia tempelkan ke alat scanner. Bip! Begitulah suara yang ditimbulkan scanner tersebut saat pemuda itu memindai barcode kopi kalengnya. Namun, entah kenapa suara bip tersebut menimbulkan gejolak aneh yang terjadi dalam diriku. Gejolak yang tak bisa dijelaskan kata-kata.

“Semuanya jadi Rp 7000,-. Mau isi pulsanya sekalian?” ucap pemuda itu.

Aku masih terdiam melihatnya. Aku masih tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya, apa mungkin dia adalah jodohku? Oke, itu sedikit berlebihan. Mungkin ini hanya kebetulan saja.

“Mbak.” Aku tersadar dari lamunanku saat pemuda itu mulai menegurku kembali. Aku pun merogoh kantong celanaku dan mengambil uang sebesar Rp 7000,-, lalu menyerahkannya ke pemuda itu.

“Terima kasih. Silahkan datang kembali ke Indoapril.”

“Emm… sepertinya kita pernah bertemu.” Aku mencoba memberanikan diri untuk mengobrol dengannya. Ya, hanya untuk memastikan kalau dia adalah pemuda yang kutemui di stasiun kemarin.

“Ya. Kita pernah bertemu sebelumnya di sebuah stasiun,” ucap pemuda itu tersenyum. “Namamu Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan, benar ‘kan?”

“Eh, bagaimana kamu tahu namaku?”

“Waktu di stasiun kita saling memperkenalkan diri, masa kamu lupa?”

Aku berpikir sejenak, apakah aku benar berkenalan dengannya saat di stasiun? Tak lama kemudian akupun ingat akan hal itu. Kalau tidak salah dia bernama Martinus Aryo. Duh, bodohnya aku, kenapa bisa lupa seperti ini ya?

“Kamu Aryo ‘kan?”

Dia tersenyum dengan manisnya dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan meninggalkan meja kasirnya dan menghampiriku yang masih mematung tak percaya akan bertemu lagi dengannya. Dia mengajakku untuk mengobrol di luar mini market. Aku dan dia pun duduk di kursi yang sudah disediakan oleh mini market ini sambil menaruh kopi kaleng yang baru saja kubeli di atas meja.

“Jadi kamu sebenarnya kerja disini?” tanyaku saat dia sudah menceritakan dirinya kalau dia bekerja di mini market ini. Dia menjawabnya dengan anggukan kepala. “Tapi kenapa kamu bekerja, padahal kamu ‘kan masih SMA?”

“Ya, aku mulai bekerja sejak kelas 1 SMA agar aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku di kota ini. Kamu tahu sendiri ‘kan hidup di Jakarta itu tidak semudah yang kita pikirkan? Untuk sekedar mencari makan saja harus mencari uang terlebih dahulu,” jelas Aryo seraya menatap jalanan yang terlihat tidak terlalu ramai. “Terlebih lagi, aku sendirian hidup di kota ini. Tanpa orang tua ataupun saudara yang menemaniku.”

“Memangnya mereka kemana?”

“Orang tuaku tinggal di Bandung bersama dengan adikku. Sebenarnya aku punya saudara yang tinggal di kota ini, tetapi aku tidak mau merepotkan mereka semua. Aku ingin hidup mandiri, tanpa harus merepotkan orang lain.”

Aku yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Anak SMA seperti dia harus mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan dia mulai bekerja sejak kelas 1 SMA dan hidup sendirian. Jalan hidupnya pasti sangat keras, perjuangannya untuk bertahan hidup di kota yang keras ini pasti sangat besar. Sementara aku? Huh… aku hanyalah seorang gadis yang selalu meminta uang jajan ke orang tuaku setiap harinya, hanya untuk membeli barang-barang yang tidak berguna. Oke, abaikan saja soal itu, karena sekarang aku merasa malu pada diriku sendiri.

Aku jadi salut dengan perjuangan dia. Dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya hingga sekarang ini. Padahal anak SMA seperti dia pada umumnya menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah, bercengkrama dengan sesamanya di sekolah, dan mengejar cita-citanya. Tapi berbeda dengannya, kalau dilihat dia tidak merasakan sebagian dari itu semua, pasti waktunya terbagi antara sekolah dan bekerja. Kalau tidak seperti itu, mungkin saja dia tidak akan bisa bertahan di kota yang keras ini.

“Kalau kamu mulai bekerja dari kelas 1 SMA, berarti kamu sudah kelas berapa sekarang?” tanyaku padanya lagi sambil menenggak kopi kalengku.

“Saat ini aku sudah kelas 3 SMA,” jawabnya sambil tersenyum padaku.

“Eh…” Aku tanpa sengaja menyemburkan air kopi yang baru saja kuminum. Hal itu membuat bajuku sedikit basah. Aryo yang melihatnya hanya tertawa. “Eh, maaf kak. Seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan kakak, tapi aku tidak tahu kalau kakak udah kelas 3 SMA.”

“Hahahaha… santai saja, Des. Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Panggil dengan nama saja juga tidak apa-apa kok.”

“Tidak. Mamahku mengatakan, kalau sedang berbicara dengan orang yang lebih tua satu atau dua tahun ke atas harus memanggilnya dengan sebutan kakak.”

“Oh begitu ya. Ya sudah, terserah kamu saja mau manggil aku dengan sebutan apa, hehehe,” ucap Kak Aryo sambil manggut-manggut dan tersenyum kepadaku. Kuaki senyumnya begitu manis jika dipandang, walaupun dia tidak seganteng Lee Min Ho. Tapi ternyata dia baik juga.

“Biar kutebak, pasti kamu sekarang kelas 1 SMA?” tanya Kak Aryo.

“Bagaimana kakak bisa tahu?” Aku balik bertanya.

“Hanya menebak saja, hehehe.”

Tanpa sadar obrolan yang kami lakukan semakin panjang. Kami berdua mengobrol banyak hal, mulai dari sekolah kami masing-masing yang jelas berbeda, pelajaran-pelajaran di sekolah, teman-teman di sekolah, bahkan sampai ke hal pribadi yang dimiliki kami masing-masing. Aku merasa adanya jalinan kedekatan diantara kami berdua, bahkan aku bisa merasakan kami begitu dekat seperti dua ekor angsa yang sama-sama saling mengepakkan sayapnya untuk menjalin kedekatan satu sama lain.

Entah kenapa gejolak dalam hati ini semakin besar. Tidak tahu kenapa aku merasa sangat nyaman mengobrol bersama Kak Aryo, mengobrol bersamanya membuatku betah berlama-lama di tempat ini, sampai-sampai aku tidak menyadari jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 00.25 WIB. Seharusnya aku segera pulang, tetapi tubuh ini tidak bisa diajak untuk bergerak karena obrolan yang kami lakukan begitu hangat.

Apa mungkin aku sedang jatuh cinta? Padahal aku baru kenal dengannya. Apa mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Cinta yang timbul hanya dengan sekali memandangnya saja, cinta dari mata yang kemudian turun ke hati. Cinta yang dapat membuat hati semakin bergejolak, apalagi saat berbicara empat mata dengannya. Jika memang benar aku sedang jatuh cinta, biarkanlah aku terus merasakannya, karena aku sangat merasakan cinta itu semakin masuk ke dalam relung hati yang terdalam. Jika memang aku sedang jatuh cinta, aku berharap bisa membagikan cinta yang kumiliki kepadanya agar dia juga bisa merasakan cinta yang kurasakan. Jika sampai itu terjadi, aku berharap cinta dapat menyatukanku dengannya.

“Desy, sudah jam 00.30 nih, kamu nggak pulang?”

Aku sedikit terperanjat mendengar yang diucapkan Kak Aryo. Kulihat kembali jam di tanganku, benar saja sudah jam 00.30. Sudah sangat larut malam, atau bisa dikatakan sudah mendekati subuh. Aku harus segera pulang, mungkin saja orang tuaku sedang cemas karena menemukan kamarku dalam keadaan kosong. Akupun segera bergegas untuk pulang, namun sebuah tangan menggenggam erat tanganku. Kulihat tangan siapa itu yang ternyata adalah tangan Kak Aryo.

“Sebentar, Des. Aku mau memberikanmu sesuatu sebelum kamu pulang.”

Kak Aryo masuk kembali ke mini market. Aku pun duduk kembali menunggu dia datang lagi. Tak sampai 5 menit, Kak Aryo sudah kembali lagi. Di tangan kanannya terdapat sebuah buku note kecil. Di bagian sampul note kecil itu terdapat sebuah pola barcode dan di bawahnya terdapat angka-angka. Angka yang ditunjukan di bawah barcode itu adalah 3 9 1 4 2 0 1. Aku bingung maksud dengan angka-angka di barcode itu, angka-angkanya terlihat tidak seperti pada barcode biasanya, seperti barcode ini dibuat sendiri dan disengaja.

“Ini buat kamu, Des.” Kak Aryo menyerahkan buku note kecil itu padaku. Aku pun menerimanya.

“Apa ini, kak?”

“Hanya sebuah cindramata sebagai tanda pertemuan dan pertemanan kita.”

“Hmmm, begitu ya. Lalu maksud dari barcode ini apa?”

“Untuk itu kamu bisa memecahkan maksud dari barcode itu sendiri. Tidak perlu memberitahukan jawabannya padaku, kamu simpan baik-baik saja jawabannya dan juga kamu bisa menggunakan buku itu sebaik-baiknya jika sedang membutuhkannya,” jelas Kak Aryo.

Aku terdiam sejenak. Aku masih tidak mengerti dengan yang dimaksud Kak Aryo, terlebih lagi memecahkan maksud dari barcode itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Kak Aryo saat ini, tetapi bagaimanapun aku akan mencoba memecahkan maksud dari barcode ini dan menggunakan buku note ini dengan sebaik-baiknya.

“Baiklah kalau begitu, aku antar kamu pulang ya. Tidak baik gadis pulang sendirian di malam hari, terlebih lagi ini sudah menjelang subuh.”

“Tidak usah, kak. Aku bisa pulang sendiri.”

“Jangan menolak. Aku mencemaskan keselamatanmu kalau kamu pulang sendirian.”

“Eh…”

Aku kaget mendengarnya. Kak Aryo mencemaskan keselamatanku? Saat itu juga aku merasa gejolak dalam hatiku semakin besar, aliran darah semakin naik menuju kepalaku. Aku menundukkan kepala, malu rasanya setelah tahu dia mencemaskanku.

“Emmm… baiklah, kak. Tapi kakak balik lagi kesininya gimana?”

“Aku bisa jalan kaki kok. Lagian jarak dari sini ke komplek perumahanmu tidak terlalu jauh,” ucap Kak Aryo. Kemudian dia berjalan menuju sepedaku yang masih terparkir dengan kokohnya. “Kamu naik sepeda ‘kan, biar aku saja yang mengendarai sepedanya, kamu tinggal dibonceng di belakang.”

“Eh?” Aku tidak menyangka Kak Aryo akan mengantarkanku pulang, terlebih lagi naik sepeda berdua bersamanya. Ini pertama kalinya aku dibonceng oleh seorang laki-laki, biasanya aku sering dibonceng atau membonceng sesama teman perempuanku. Aku jadi gugup sekali.

Kak Aryo sudah naik di sepedaku, dia sudah bersiap untuk menggoes pedalnya. Akupun menghampirinya dan naik ke atas sepedaku di bagian belakang. Karena sepedaku ini tidak ada jok duduk di bagian belakang, jadinya aku menopangkan kedua kakiku di besi yang tidak terlalu panjang diantara sisi ban sepeda. Kupegang pundak Kak Aryo supaya tidak jatuh saat sepeda mulai melaju. Tak berapa lama, Kak Aryo memberi isyarat untuk segera berangkat, aku menjawab dengan anggukan kepala dan memegang erat pundak Kak Aryo. Sepedapun mulai melaju meninggalkan mini market menuju rumahku.

Sepanjang jalan, senyum terus mengembang di bibirku. Aku merasa sangat senang malam ini. Aku berharap bisa merasakannya lagi di esok hari, atau mungkin selamanya?

*****

Sejak pertemuanku dengan Kak Aryo di mini market itu, hubungan pertemanan kami semakin erat. Aku sekarang menjadi sering berkunjung ke kosannya hanya sekedar bermain PS bersama kalau saat pulang sekolah atau saat Kak Aryo sedang libur bekerja. Begitupun dengannya, aku juga sering mengajaknya berkunjung ke rumahku, walau jarak rumahku lumayan agak jauh tapi Kak Aryo sangat antusias berkunjung ke rumahku. Memang di rumahku tidak punya banyak permainan yang bisa dimainkan, tapi waktu yang ada bisa kugunakan untuk berbincang-bincang dengannya. Ya, dengan hal itu bisa semakin mempererat hubungan pertemanan kami.

Satu tahun lebih aku menjalin pertemanan dengannya, gejolak dalam hati ini malah semakin besar saja. Bagaimana tidak, dengan jalinan pertemanan yang sudah lumayan lama ini, rasa sukaku padanya semakin besar. Kak Aryo selalu memberi perhatian padaku dalam berbagai hal, entah apapun itu. Lalu, dia juga selalu sabar menghadapiku jika aku sedang marah, dia berusaha menenangkan amarahku dengan caranya sendiri. Semua hal yang Kak Aryo lakukan itu membuatku semakin luluh. Bagaikan sebutir pil ekstasi yang meracuni otak, yang kemudian menciptakan sensasi seperti melayang-layang terbawa angin.

Ya, aku sudah semakin jatuh ke dalam cinta yang diberikan olehnya. Aku suka dia, aku suka apapun yang dia lakukan padaku, aku suka semua yang ada dalam dirinya. Dia seperti menghipnotisku untuk jatuh semakin dalam ke cinta yang diberikan olehnya. Aku cinta dia, benar-benar mencintainya. Namun, apakah aku bisa mendapatkannya, memilikinya secara utuh? Jika aku bisa mendapatkannya, itu akan menjadi sebuah berkah yang sangat indah buatku. Karena bagaimanapun dia adalah cinta pertama yang kupunya sekarang. Tapi, jika misalnya aku tidak bisa mendapatkannya, jalinan pertemanan kami mungkin akan terus berjalan walau nantinya rasa cinta itu akan hilang.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku sudah tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Perasaan ini, rasa cinta ini sudah semakin besar, bahkan lebih besar daripada rasa suka yang biasa. Benar kata pepatah, kalau cinta pertama itu adalah cinta yang begitu sangat berarti dibanding cinta-cinta lainnya. Aku sudah tidak bisa menahan gejolak rasa cinta yang semakin menggetarkan dada. Ingin rasanya kuungkapkan rasa cinta ini padanya. Ingin rasanya kudekap tubuhnya supaya dia bisa merasakan cinta yang begitu hangat yang kumiliki. Ingin rasanya kucium bibirnya agar rasa cinta ini menjalar masuk ke dalam tubuhnya dan menetap selamanya di dalam hatinya. Tetapi, apa yang bisa kulakukan oleh gadis sepertiku? Mengungkapkan cinta itu padanya langsung? Banyak orang di negri ini mempersepsikan kalau saat hendak mengungkapkan rasa cinta ke lawan jenis, si pria harus jadi yang lebih dulu mengungkapkan rasa cintanya. Namun, apakah hal itu benar adanya?

“Bagaimana caranya ya, mengungkapkan perasaanku padanya?”

Aku mengeluhkan tentang perasaan yang sedang kualami sekarang. Gadis lain terlihat sedang duduk di sebelahku di sebuah bangku taman kota, mendengarkan dengan seksama keluh kesah yang kualami tentang sosok pria yang aku sukai.

“Menurutmu apa aku harus mengungkapkan perasaanku langsung padanya, Naomi?” Ya, gadis itu bernama Naomi. Temanku yang sudah aku kenal sejak aku duduk di bangku SMP, namun dia lebih tua 2 tahun dariku.

“Ya, aku rasa kamu harus segera ungkapin perasaan kamu, keburu dia suka dengan gadis lain,” jawab Naomi yang berparas sangat cantik itu.

“Tapi aku ‘kan cewek, masa cewek duluan yang ungkapin perasaannya ke cowok.”

Naomi menghela nafas sejenak, “Kalau kamu emang suka sama dia, ungkapin perasaan kamu langsung padanya. Jangan menunggu dia duluan yang ungkapin perasaannya, kamu juga belum tentu tahu ‘kan dia punya perasaan yang sama atau tidak?”

Benar juga apa yang dikatakan Naomi. Jika kita punya perasaan kepada seseorang yang disukai, ungkapkan saja perasaan itu ke orangnya sebelum orang yang kita suka itu lari dari kamu. Namun jujur saja, aku merasa gengsi jika harus mengungkapkan perasaanku duluan. Sepertinya aku juga sudah termakan oleh persepsi tentang itu dari banyak orang.

“Hmmm….” Aku berpikir sejenak, mencoba membuang segala macam persepsi soal itu yang terus terbayang-bayang di kepalaku. Apa mungkin aku bisa mengungkapkannya? Jika memang bisa, aku harus membuang rasa gengsi itu, walaupun nantinya aku akan merasa sedikit malu. Tapi demi dia aku rela melakukannya.

“Kamu benar juga, Naomi. Aku akan mencoba mengungkapkan perasaanku padanya.”

Ujung bibir Naomi terangkat, membentuk sebuah ukiran senyum yang terlihat indah. Dia merangkul bahuku dan sedikit menepuk pelan. “Nah gitu dong, itu baru temanku.”

~~~~~~

Memang ya kalau seseorang sudah memiliki perasaan yang begitu mendalam ke sesamanya, dia pasti akan rela melakukan apa saja agar perasaannya tersampaikan.

Cinta. Satu kata yang membuat seseorang tergila-gila. Satu kata yang bisa membuat seseorang terbuai ke dalamnya, membuat logika dan perasaan jadi tidak sinkron. Memangnya apa sebenarnya arti cinta yang sesungguhnya? Menurutku, cinta itu adalah misteri, yang datang dengan sendirinya dan sulit diprediksi kehadirannya. Kenapa itu bisa terjadi? I don’t know. Well, I was feel it now, and I’m love it.

Hari ini adalah Malam Minggu, malam dimana banyak orang menghabiskan waktunya dengan ber-weekend ria bersama teman, keluarga, ataupun pacar (?). Malam ini juga aku bertekad untuk mengungkapkan perasaanku kepada laki-laki yang aku suka, Kak Aryo.

Aku sangat gugup untuk melakukannya. Dalam hati aku bertanya, “Apa aku bisa melakukannya? Kalau nantinya dia hanya memberikan harapan palsu padaku bagaimana?” Aku takut. Jika benar itu terjadi, aku tidak mau menampakkan wajahku padanya lagi. Sungguh, aku akan merasa malu.

Drrttt…. Drrttt….

Suara getaran handphone di atas meja belajar mengagetkanku saat sedang memilah-milah baju mana yang akan kugunakan untuk malam minggu bersama Kak Aryo. Kuambil handphone-ku yang terus berisik itu. Kulihat sebuah nama tertera di layar handphone. Aku tercekat. Kak Aryo meneleponku. Aku mulai bingung bagaimana cara memulai pembicaraan dengannya, karena saat ini aku merasa gugup. Sangat.

Kucoba untuk tenang, kemudian kuangkat panggilan telepon dari laki-laki yang sangat aku sukai itu.

“Ha…halo, Kak Aryo.”

Halo, Desy. Kamu udah siap-siap?

“I…iya, udah, kak. Kak Aryo sendiri udah siap belum?” Padahal sebenarnya belum siap.

Tentu saja aku udah siap, Des. Oh ya, malam ini kita ke taman kota, kan?

“I…iya, kak. Kan Kak Aryo sendiri yang ngajak aku ke taman, masa Kak Aryo lupa?”

Hehehe. Hanya memastikan ingatan kamu saja, Des.

“Hehehe.”

Seketika suasana sunyi menyeruak. Aku merasa sedikit canggung, terlebih lagi rasa gugup dalam diriku semakin menjadi-jadi. Kemungkinan hal ini juga dirasakan oleh Kak Aryo sendiri.

Hmm… Des.Well, percakapan pun dimulai kembali. “Aku berangkat duluan ke taman ya, aku tunggu kamu disana.

Aku sedikit merasa heran dengan yang diucapkannya. “Eh, Kak Aryo mau berangkat sekarang? Ini masih jam setengah 6 sore loh, kak.”

Nggak apa-apa kok, Des. Lagi pingin aja, lagian kamu sekarang belum dibaju kan?

Aku tercekat. Memang sih saat ini aku masih belum menggunakan pakaian yang akan kugunakan, hanya balutan handuk saja yang menutupi tubuhku. Bagaimana dia bisa tahu?

“Ba…bagaimana Kak Aryo bisa tahu? Kakak ngintip ya?”

Sembarangan kamu, hahaha.” Ada sedikit penekanan pada suara Kak Aryo saat berkata seperti itu.

“Terus dari mana kakak bisa tahu?”

“Feeling-ku mengatakan seperti itu, Des. Hehehe.

“Hahaha. Kak Aryo bisa aja.” Aku tersenyum.

Ya sudah, aku berangkat dulu ya. Aku tunggu di taman, bye Desy.

“Iya. Hati-hati Kak Aryo.”

Percakapan di handphone pun berakhir. Dengan itu juga aku harus segera bersiap-siap menyiapkan semuanya. Aku tidak mau menunggu Kak Aryo lebih lama lagi. Karena kalau terlalu banyak menunggu itu pasti tidak enak, kan.

Jam sudah menunjukan pukul setengah 7 malam. Setelah berpakaian dan membawa barang seperlunya ke tas kecilku, aku pun mulai berangkat menuju taman kota yang sudah kami janjikan. Senang rasanya malam minggu ini aku bisa nge-date dengan Kak Aryo. Di malam ini juga aku sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Masa bodo dengan berbagai macam persepsi banyak orang bahwa laki-laki yang harus duluan mengungkapkan perasaannya ke perempuan. Toh aku benar-benar sudah tidak menahannya lagi.

And then, disinilah aku, di sebuah taman kota tempat pertemuanku dengan Kak Aryo. Taman kota di malam minggu seperti ini terlihat ramai. Banyak orang yang bercengkrama di taman yang luas ini. Ada dari mereka yang berjalan-jalan, duduk-duduk saja di bangku taman yang tersedia sambil menikmati indahnya danau buatan, bahkan ada juga pasangan muda-mudi yang asik pacaran.

Aku memperhatikan seluruh penjuru taman berusaha untuk mencari Kak Aryo yang sudah menungguku. Aku jalan-jalan sedikit mengitari taman ini, dan kemudian aku pun berhasil menemukannya. Kak Aryo sedang duduk di bangku taman dekat dengan danau buatan itu. Dia duduk menatap indahnya danau sambil memainkan gitar.

Kak Aryo bisa main gitar? Selama kami dekat, dia tidak pernah menunjukkan keahliannya bermain gitar, baru sekarang saja aku mengetahuinya. Kuhampiri Kak Aryo disana karena aku begitu penasaran dengan keahliannya. Lagipula aku tidak mau dia menungguku terlalu lama.

Sebelumnya tak ada yang mampu.

Mengajakku untuk bertahan.

Dikala sedih.

Sejenak aku menghentikan langkahku. Sayup-sayup aku mendengar suara alunan lagu yang berasal dari tempat Kak Aryo berada. Aku mengenal lagu itu, lagu dari Sherina Munnaf – Cinta Pertama dan Terakhirku terdengar sangat indah masuk ke gendang telingaku. Suara Kak Aryo bernyanyi senada dengan petikan gitar yang ia mainkan, membuatku menjadi semakin dekat menghampirinya.

Sebelumnya ku ikat hatiku.

Hanya untuk aku seorang.

Sekarang kau disini hilang rasanya.

Semua bimbang tangis kesepian.

Alunan lagu itu semakin jelas terdengar seiring dengan semakin dekat langkahku kepadanya. Aku sudah berada tepat di belakang Kak Aryo. Terlihat dengan jelas dia bernyanyi sambil memetikan gitarnya. Wajahnya menunjukkan sebuah senyuman saat aku menoleh ke arah samping. Aku pun ikut terseyum. Bibirku bergerak mengikuti alunan lagu yang dia nyanyikan.

Kau buat aku bertanya.

Kau buat aku mencari.

Tentang rasa ini.

Aku tak mengerti.

Akankah sama jadinya.

Bila bukan kamu.

Lalu senyummu menyadarkanku.

Kau cinta pertama dan terakhirku.

Alunan lagu tersebut pun berhenti. Kak Aryo menoleh ke belakang, mungkin dia sedikit merasa terkejut karena aku ikut bernyanyi juga. Senyum mengembang di bibirnya, terlihat sangat manis. Dia menggeser posisi duduknya, mempersilahkanku untuk duduk.

“Bangku kosong disebelahku ini kupersembahkan untuk tuan putri,” ucap Kak Aryo seraya menyimpan gitarnya di atas tanah dan membungkukan badan.

Kak Aryo bertingkah seperti seorang pangeran yang memanjakan sang putri. Hal itu membuatku tertawa, terlihat lucu sekali. Aku pun duduk di sebelahnya.

“Terima kasih, pangeran.”

Dia tersenyum.

Kak Aryo memandang danau buatan di taman ini yang tepiannya disinari oleh lampu taman yang membuat permukaan air danau itu memantulkan cahayanya. Kami saling terdiam satu sama lain. Mungkin karena grogi.

Aku memandang wajah samping Kak Aryo. Ternyata dia terlihat tampan juga. Kemeja kotak-kotak berwarna merah dibalut jaket berwarna hitam, serta celana jeans membuat aura ketampanannya meningkat. Walau rambutnya sedikit acak-acakan tetapi aku menyukainya.

“Kamu terlihat cantik malam ini, Des.”

“Eh?”

Aku tercekat mendengar ucapan Kak Aryo yang tiba-tiba, membuatku salah tingkah. Padahal dari rumah aku hanya memakai sebuah kaos berwarna putih dengan gambar Micky Mouse, disertai rok berwarna krem dengan panjang selutut. Terlihat sangat biasa saja penampilanku malam ini, tapi Kak Aryo memuji penampilanku dengan kata “cantik”.

“Memangnya aku kelihatan cantik, kak?”

Kak Aryo mengangguk. Dia menatap ke arahku. “Kamu cantik, Desy.”

Aku tersipu malu.

“Te..terima kasih, kak.”

Angin malam di taman ini berhembus sedikit kencang, membuat tubuh merasakan sensasi dingin yang menusuk kulit. Aku memeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku, berusaha untuk menghalau udara dingin. Namun, tak lama kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang menimpa pundakku. Tubuhku pun perlahan menjadi hangat. Aku menoleh ke sesuatu itu. Jaket hitam sudah dengan antengnya berada di tubuhku.

“Emm…kak?”

“Aku nggak mau kamu kedinginan.” Dia tersenyum. Rupanya Kak Aryo menyelimuti tubuhku dengan jaketnya. Hal itu membuatku tersipu malu.

Suasana hening kembali menyeruak. Rasa bingung mulai menggelayuti diriku, karena aku tidak tahu bagaimana memulai percakapan lagi dengannya. Apa mungkin rasa cinta ini membuatku jadi grogi seperti ini?

“Des, menurutmu sebuah janji bisa menyatukan sepasang insan?” Kak Aryo tiba-tiba bertanya. Percakapanpun dimulai kembali.

“Hmmm.” Aku berpikir sejenak mencoba mencerna pertanyaan Kak Aryo. Lalu aku menjawab, “Menurutku bisa saja, asal kedua insan tersebut saling mencintai.”

Aku tidak tahu jawabanku benar atau tidak. Aku hanya mengungkapkan apa yang teelintas di pikiranku saja.

“Hmmm… Begitu ya. Aku juga setuju denganmu,” kata Kak Aryo.

“Memangnya kenapa, kak?”

“Nggak kok, Des, hehehe.”

Keheningan mulai terjadi lagi. Aku masih tidak tahu bagaimana mengobrol dengannya. Biasanya aku dan dia tidak terlihat canggung sama sekali kalau sedang ngobrol, tetapi kali ini beda. Apa mungkin Kak Aryo juga memiliki perasaan yang sama denganku? Jika benar, aku akan sangat senang sekali. Hmmm, apa mungkin aku langsung ungkapkan saja?

“Kak.”

“Des.”

Eh?!

Aku terkejut, begitupun dia. Kami berbarengan memanggil nama kami, sungguh suatu kebetulan atau mungkin berjodoh?

“Kakak duluan, deh,” kataku mempersilahkan Kak Aryo untuk bicara.

“Nggak, kamu duluan, Des,” balas Kak Aryo.

“Kakak dulu aja.”

“Baiklah kalau begitu.” Dia tersenyum. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku. Digenggamnya tanganku dengan lembut, membuatku tersipu malu dan menundukkan kepala. Apakah mungkin?

“Des, sudah lama sekali kita menjalin pertemanan. Banyak suka dan duka kita lewati bersama. Kamu sangat baik, perhatian, peduli terhadap orang lain, walau agak sedikit nyebelin. Tapi aku suka, hehe.”

Aku semakin tersipu malu. Entah apa yang aku rasakan saat ini.

“Dengan jalinan pertemanan ini juga, membuat perasaanku berubah padamu. Aku sangat menyukai dirimu, baik kelebihan atau kekuranganmu. Bahkan dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku punya janji untuk mengajakmu hidup bersama di sebuah kapal yang disebut bahtera rumah tangga. Dan aku yang akan menjadi kapten kapal tersebut supaya kapal yang kita naiki berlayar mengelilingi dunia.”

Kak Aryo memotong pembicaraannya, membuatku semakin penasaran dengan kelanjutannya. Jujur saja, aku semakin tersipu malu. Mungkinkah ini?

“Hmm, Des…” Kak Aryo lagi-lagi memotong bicaranya. “Maukah kamu jadi pacarku, hmm, lebih tepatnya jadi pendampingku untuk menjalankan kapal itu?”

Aku terkejut mendengarnya. Aku seakan tidak percaya dengan yang dikatakan Kak Aryo. Ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku. Apakah ini sebuah keajaiban? Laki-laki yang aku suka ternyata memiliki perasaan yang sama. Aku tidak tahu mau berkata apa, yang jelas aku merasa sangat senang. Niatnya sih aku yang hendak mengungkapkan perasaanku duluan, tapi ternyata kenyataan berkata lain. Kak Aryo mengungkapkan perasaannya padaku. Terima kasih, Tuhan, Engkau memberikanku seseorang yang terbaik untukku.

Aku menatap wajah Kak Aryo, terlihat tatapan memohon, menunggu jawaban dariku. Karena aku juga memiliki perasaan yang sama, maka aku harus menjawabnya.

Aku tersenyum. Melepas genggaman tangan Kak Aryo, dan sedikit mundur. Kulihat dia menundukkan kepala, wajahnya terlihat sedikit sedih. Dalam hati aku sedikit tertawa. Lucu juga kalau sedang sedih seperti itu. Aku tersenyum lagi sambil memajukan posisi dudukku ke Kak Aryo. Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar, dengan cepat aku memeluknya.

“Aku juga suka Kak Aryo.” Kuungkapkan semua perasaanku padanya, agar dia juga mengetahui bagaimana perasaanku padanya. “Kakak begitu baik padaku, kakak sangat pengertian, kakak juga mengajariku bagaimana menjalani hidup. Kakak juga sangat sabar menghadapiku. Aku suka kakak, semua aku suka.”

Kak Aryo melepas pelukannya dan menatap wajahku yang sedikit berlinang air mata karena teeharu.

“Jadi?” tanya Kak Aryo.

Kujawab dengan anggukan kepala. “Iya, kak. Aku mau, kak, aku mau.. Kakak adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku juga ingin anak-anak kita kelak ikut berlayar di kapal bersama kita. Aku mau, kak..”

Air mataku menetes semakin deras. Aku merasakan begitu sangat bahagia malam ini. Laki-laki yang aku suka akhirnya bisa aku miliki. Dan juga, janji yang dia katakan tadi akan kucoba gapai bersamanya. Aku yakin, dengan janji itu bisa menyatukan ikatanku dengannya semakin kuat.

Kulihat Kak Aryo tersenyum memandangku. Disekanya air mata yang masih mengalir ini dengan kedua tangannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Hidung kami saling bersentuhan diikuti deru nafas yang sedikit kencang. Sedetik kemudian, bibir Kak Aryo menempel di bibirku. Aku sedikit tertegun. Kemudian membalasnya dengan lembut.

Ciuman pertama di hari jadian.

Setelah itu kami pun resmi menjadi sepasang kekasih. Dengan ini juga, aku harap hubunganku dengannya bisa berjalan lancar sampai kami mewujudkan janji itu kelak. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Dia memberikanku seseorang yang sangat berarti bagiku. Karena bagaimanapun, dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Dan aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku.

*****

“Nah, begitulah ceritanya. Kamu masih ingat soal itu, Yo?”

“Ya, aku masih ingat, Des.”

“Aku mengajakmu ke taman ini untuk mengingatkan kembali janji kita yang kita nantinya akan kita wujudkan. Kita sudah semakin dewasa. Kamu memiliki pekerjaan, dan aku juga akan mulai masuk universitas. Aku yakin, nggak berapa lama lagi janji kita akan terwujud.”

Aku tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala pacarku, Desy. Dia ikut tersenyum, senyum yang begitu indah. Dia menopangkan kepalanya di pundak kiriku. Aku cium rambutnya yang begitu wangi seperti bunga mawar yang mekar.

“Des, jalan kita masih panjang. Kita nikmati saja apa yang kita punya sekarang. Kamu harus sabar, aku yakin janji kita yang tumbuh di taman ini suatu saat nanti akan terwujud. Kita sama-sama saling berjuang mewujudkan janji kita. Kamu mengerti, kan?”

Desy mengangguk. “Iya, aku ngerti. Terima kasih ya, sudah menjadi bagian dari hidup aku. Entah bagaimana jadinya aku tanpamu.”

“Iya, sama-sama, hehe..”

Pagi itu, dapat kulihat dua ekor angsa yang saling mengepakkan sayapnya di danau buatan taman ini. Seperti dua angsa itu ikut merasakan apa yang sedang kami rasakan. Aku tersenyum melihatnya. Pandanganku beralih ke Desy, kudengar sayup-sayup sebuah alunan lagu yang keluar dari mulutnya. Sebuah lagu yang kami nyanyikan saat terjalinnya tali cinta yang kami ikat di taman ini. Mulutku pun bergerak mengikuti setiap lirik lagu yang Desy nyanyikan.

Sebelumnya tak mudah bagiku.

Tertawa sendiri di kehidupan.

Yang kelam ini.

Sebelumnya rasanya tak perlu.

Membagi kisahku saat ada yang mengerti.

Sekarang kau disini hilang rasanya.

Semua bimbang tangis kesepian.

Pagi itu, kuhabiskan waktuku dengan bernyanyi bersama Desy. Dengan panorama danau buatan yang begitu indahnya disertai berbagai macam burung yang bermain disana, dalam hati aku berkata, “Aku berharap bisa merasakan ini selamanya. Dia adalah pemberian-Mu yang sangat berharga. Aku ingin menjaganya dengan segenap hati. Terima kasih, Desy, kamu sudah hadir di hidupku.

Kau buat aku bertanya.

Kau buat aku mencari.

Tentang rasa ini.

Aku tak mengerti.

Akankah sama jadinya.

Bila bukan kamu.

Lalu senyummu menyadarkanku.

Kau cinta pertama dan terakhirku.

 

~To be continued~

 

Oleh: Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

 

Note:

Hai ^^ sudah lama aku tidak update ff ini. Maafkan daku ya, karena akhir-akhir ini sedang sibuk dengan kuliah dan tugas-tugas. Tapi akhirnya ff ini update lagi. Syukurlah ^^

Mungkin kalian bingung, kok part ini pake pov Desy? Kalo kalian baca part sebelumnya pasti ngerti kok. Hmmm, bagaimana menurut kalian di part ini? Tulis di kolom komentar ya ^^

Hmm, segitu dulu aja. Terima kasih yang sudah baca ff-ku ini. Tunggu part selanjutnya ya ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s