Death Lullaby, Chapter two.

kznnm5fq

Tak ada hal yang aneh didalam loker Anin. Hanya ada baju ganti, handuk, buku panduan, dan kotak make up (mungkin). Aku mencoba menyingkirkan barang barang itu, karena mungkin ada sesuatu dibaliknya. Tapi tak ada apapun, tak ada yang bisa kugunakan sebagai petunjuk.

Tunggu dulu, ada sebuah foto dibalik pintu loker. Foto Anin dengan seorang laki laki.

“Kau kenal siapa dia ?” tanyaku sambil menunjuk lelaki didalam foto.

“Tidak, aku rasa pacarnya,”

“Boleh ?”

“Tentu,”

Aku mencabut foto yang ditempelkan dengan selotip itu, membalikannya dan bingo.

“Anin dan Aldi….love forever,”

“Jadi benar itu pacarnya,”

“Ya aku rasa begitu,”

“Trus kenapa kita tak punya foto seperti itu ?”

“Sayang, aku tak perlu pengingat betapa aku menyukai kamu. Kita tak perlu foto aku sedang mencium pipimu, bukannya kau sendiri yang bilang nggak suka hal hal seperti itu,”

“Tapi…”

Frieska menundukan wajahnya, nampaknya kata kata indah tak cukup untuk kali ini.

“Baiklah,”

“Hah ?”

Frieska mengangkat wajahnya kembali.

“Hari minggu kita ke photobox,”

Aku tak percaya aku mengajaknya kencan duluan, tapi aku rasa itu bukanlah hal yang buruk.

“Janji ya ?”

“Ya janji,”

“Pinky swear ?”

Dia mengangkat kelingking kanannya, dan aku mengaitkan kelingkingku disana. Setelah melakukan itu dia tersenyum, dan aku suka itu.

“Sekarang apakah ada anggota yang bersaing atau pernah bertengkar dengan Anin ?”

“Kenapa ? apa kamu pikir anggotaku yang membuat Anin keluar ?”

Wajah Frieska kembali serius saat mendengar pertanyaanku tadi, nada suaranya juga meninggi membuatku menyadari satu hal.

“Aku hanya mencoba mencari pentunjuk,” jawabku.

“Tidak, semua anggota timku adalah siswi yang baik. Kami bekerja sama dan membantu satu sama lain,”

“baiklah, aku percaya. Kalau begitu aku harus mencari petunjukku ditempat lain,”

Tentu saja yang diucapkan Frieska tak sepenuhnya benar, aku yakin Anin punya musuh di klub renang. Bukan berarti Frieska berbohong, dia hanya punya kepercayaan penuh pada anggotanya. Dia percaya bahwa semua anggota tim saling mendukung, dia adalah pimpinan yang baik.

Dan karena aku tak bisa menemukan informasi yang aku butuhkan, aku mengirim pesan pada salah satu anggota klub renang yang kukenal, dan mengajaknya untuk bertemu.

“Aku pergi dulu ya,”

“Tapi kan…”

“Tim ini butuh kamu, kita masih bisa ketemu hari minggu. Sekarang kamu harus membimbing semua anggota mu, jadilah kapten yang baik.”

“Ya udah,”

Frieska melangkah pergi kembali ke kolam, langkahnya lambat menandakan dia kecewa. Tapi akan sulit mencari informasi lebih dari Frieska. Dia pasti akan melindungi anggotanya, itu menjadi sifat alaminya sebagai pimpinan.

Dari kejauhan aku melihat dia melanjutkan latihannya bersama tim renang miliknya. Aku harus mencari informasi ditempat lain, sambil memikirkan kata kata terakhir jika Melody benar benar melakukan apa yang dia katakan.

Aku menunggu di cafe yang berada di dekat sekolah, menunggu latihan klub renang selesai. Memesan lemon tea di cafe dengan kucing yang berkeliaran bebas. Meski tempat ini cafe, tapi dia berada didalam lorong. Sedikit sulit menemukan tempat ini, membuatnya seperti cafe esklusif hanya bagi yang tahu tempatnya.

Ini adalah cat cafe, ada banyak kotak yang ditempel di dinding, yang berfungsi sebagai rumah kucing. Meja berwarna putih dengan gambar wajah kucing besar ditengahnya, banyak foto kucing dan kucing yang berkeliaran.

Aku bukanlah penggemar tempat ini, tapi inilah tempat favorit dari orang yang sedang kutunggu.

16.21 WIB

Dia akhirnya datang dengan senyum diwajahnya. Dia masih memakai seragam sekolah, aku bisa melihat tas sekolah mengantung dipunggungnya.

“Udah lama ya ?” ucap gadis berambut panjang yang duduk didepanku.

“Nggak, aku juga baru sampai.” Aku tak mungkin jujur dan  mengatakan aku sudah bosan dengan kucing dan cafe ini karena sudah menunggu lama.

“Jadi kenapa ngajak ketemuan ? kangen ? jangan nakal ntar Frieska marah,”

“Udah nggak usah dipikirin, pesan aja dulu.”

Saat melihat buku menu, senyuman itu tak hilang dari wajahnya. Aku tak tahu kenapa, mungkin dia juga terlalu banyak makan gula seperti Sagha.

“Gimana kabar Mou ?”

“Baik, dia gendutan sekarang,” jawabnya dengan antusias.”Jadi kangennya sama Mou ? bukan sama aku ?”

“Tentu aku kangen, kan sudah pernah kubilang  kalo kamu punya senyuman terbaik yang pernah kulihat,”

“Ihh gombal,”

Gadis didepanku kembali menyembunyikan senyum dan tawanya dibalik buku menu. Itu mengecewakan karena aku suka dengan senyuman manis yang dia punya.

“Ya udah kalo kangen, besok ke taman yuk. Sekalian ngajak Mou jalan jalan, biar kurus.”

“Males, capek,”

“Jangan males males, ntar gendut kayak Mou,” ucapnya dengan ekspresi serius.

“Biarin gendut mah enak,”

“Ihh nggak bisa dibilangin,” dia mencubit tanganku, sambil melihatku dengan tatapan sebal.

“Iya…iya..ampun, besok kita jalan,”

Setelah mendengar pernyataan menyerah dariku akhirnya dia melepaskan kuku kukunya dari kulitku. Ada beberapa bekas cubitan ditanganku, berwarna merah dan ada satu yang mengeluarkan sedikit darah.

“Sakit pe’a,”

“Pe’a pe’a ginikan kamu sayang,”

Bagaimana mungkin aku bisa kesal dan marah pada senyuman dan tatapan manis itu. Dia benar benar tahu bagaimana mengunakan senyumannya itu. Senyuman yang sama dengan yang muncul dimimpiku. (terdengar terlalu roman picisan, tapi itu benar benar terjadi)

“Iya sayang, sekarang pesanlah biar kamunya gendut,”

“Jangan dong, ntar pas berenang berat,”

Itu dia, dia mulai membicarakan klub renang sehingga aku bisa bertanya padanya tentang klub renang. Tapi itu tak bisa langsung tentang Anin, yang pertama aku harus mengiring pembicaraan ini lebih dalam pada topik klub renang.

“Kan bagus kamu bisa jadi pelampung,”

“Ihh…ihh..ih…”

Aku mengangkat kedua tanganku menghindari cubitan dan kuku kukunya yang tajam itu.

“Eh ngomong ngomong soal klub renang, kami baru buat jaket baru buat audisi nasional,”

Dia membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan jaket putih dengan tambahan garis emas dibagian tangan.

“Liat deh bagus ada nama aku, Ikha,”

“Ah jelek,”

Ini lebih bagus dari yang aku kira, dengan Ikha yang menyinggung tentang audisi nasioal. Aku punya kesempatan bagus menyinggung tentang Anin.

“Jadi semua anggota ikut audisi nasional ?” tanyaku.

“Nggak sih Cuma yang masuk tim inti,”

“Kalo kamu punya jaketnya berarti kamu tim inti ?”

Dia mengangguk tapi dia menundukan wajah, dan sekilas aku bisa melihat setitik rasa sedih dibola matanya. Mungkinkah ?

“Kenapa kok sedih ?”

“Nggak cuman kelilipan dikit,”

Ikha mengunakan sapu tangannya untuk menghapus rasa sedih yang muncul ditatapannya. Tentu aku tahu jika tak ada debu yang membuat matanya kelilipan, aku merasa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman.

Ikha adalah gadis dengan perasaan yang paling bisa kumengerti. Dia orang yang ekspresif, aku bisa langsung tahu jika dia sedang merasa senang ataupun sedih. Bola mata berwarna biji kopi miliknya itu adalah pisau bermata dua, itu gampang membuat orang jatuh hati padanya, dan itu juga yang membuatku gampang mengetahui isi hatinya.

“Kau ingat apa yang kukatakan valentine lalu ?”

Dia telah selesai membersihkan debu kesedihan dari matanya, itu tak serta merta membuat dia mengembalikan senyum ke wajahnya. Sekarang eskpresi yang ada diwajahnya hanyalah eskpresi biasa, datar dan tak menarik.

“Kalau kita berdua selalu jujur kalau punya masalah,”

“Lalu kenapa kamu nggak jujur dan kasih tahu aku apa yang membuat kamu sedih,”

“Aku…cuman ngerasa nggak pan…tes..”

Aku mengambil tisu yang ada diatas meja dan mengelap air mata yang sempat turun ke pipinya yang bulat, tak lupa aku merapikan poni miliknya yang berantakan.

“Ceritakan semuanya, kenapa kamu merasa tak pantas. Aku tahu kamu, kamu bukan orang yang malas latihan. Jadi apa yang buat kamu merasa tak berhak dengan posisi kamu di tim inti ?”

Aku selalu benci bagian aku mengintrogasi wanita, aku tak pernah suka bertanya pada mereka dan membuat mereka menjawab pertanyaanku dengan perasaan terpaksa. Tapi aku butuh jawaban.

“Aninlah yang seharusnya…,”

“Anin ?”

Aku berpura pura tak mengenal Anin didepannya, akan lebih mudah bertanya lebih jauh. Lagipula aku tak bisa mengatakan alasanku bertemu dengan Frieska tadi adalah bertanya tentang Anin.

“Dia anak kelas satu, tapi punya potensi yang hebat. Dialah yang seharusnya berada di tim inti, bukan aku.”

“Hei, lihat aku. Pasti ada alasan Frieska memilih kamu daripada dia, dia tahu kamu sudah berusaha keras,”

“Tapi…”

“Tapi ? apa dugaan aku salah ? kamu sebenarnya malas latihan, dan karena itu kamu nggak pantas,”

“Bukan tapi..”

Pembicaraan ini mulai berjalan kearah yang tak seharusnya, Ikha mulai emosianal dan aku tak mengharapkan itu.

“Hei…hei…maaf jika aku salah bicara, aku tak seharusnya mengomentari hal yang bukan urusanku.”

“Nggak kok, aku juga salah….”

“Kamu nggak salah, itu adalah tim renang kamu dan yang tahu tentang itu adalah kamu,”

“Dasar, udah berapa cewek sih kamu gombalin,”

Tentu saja aku tak akan menjawab hal itu, selain karena aku sendiri tak tahu, aku terlalu sibuk memandangi senyuman dan mata indah gadis yang berada didepanku.

Sisa hari kami habiskan dengan bermain dengan kucing, mungkin lebih tepatnya aku memandangi Ikha yang bermain dengan kucing kucing yang berada disini. Tapi tak apa itu menyenangkan.

Aku tak mengantarkannya pulang, Ikha bersikeras jika kami tak boleh terlihat bersama didekat sekolah ( kecuali cafe kucing, karena lokasinya yang tersembunyi). Sehingga aku hanya bisa memandangi punggungnya saat dia meninggalkan cafe lebih dulu dariku.

Aku berniat pulang sebelum sebuah pesan dari Sagha yang memintaku datang kembali ke ruang klub. Dalam pesannya Sagha berkata jika dia punya petunjuk tentang kasusku, sedikit motivasi bagiku untuk kembali menaiki tangga menuju ruangan klub.

Didalam ruangan klub semua orang hadir, termasuk om Thunder yang sedang sibuk dengan game dikomputernya. Tak seperti yang lainnya om Thunder secara sukarela menjadi anggota klub ini.

Sagha menjadi anggota klub sebagai bagian dari perjanjian yang dia buat bersama dengan Melody, dari yang Sagha ceritakan jika dia tak setuju menjadi anggota maka Melody akan melaporkannya pada polisi.Sagha pernah meretas komputer kepala tata usaha dan mengambil uang yang berada direkening sekolah dan membagikannya kepada kami semua para siswa, tak ada alasan khusus Sagha melakukannya hanya karena dia bisa.

Edho mau menjadi anggota klub ini karena dia terancam dikeluarkan karena tindak kekerasan yang dilakukannya. Dia sering berkelahi atau merusak properti sekolah, dan yang paling dikenang saat dia menghancurkan mesin soda yang berada dikantin dan membagikannya kepada para siswa; dan sama seperti Sagha dia melakukannya hanya kerena dia bisa.

Rizal ? aku tak terlalu tahu tapi dari apa yang kudengar dari Sagha, Rizal pernah membuat kecelakaan di Lab kimia dan hampir membunuh teman teman satu kelasnya. Dan menjadi anggota klub ini dan membantu OSIS merupakan bentuk penebusan dosanya.

Lalu om Thunder suatu hari dia menemukan ruangan klub ini dan berkata dia ingin menjadi anggota. Tentu saja awalnya kami berpura pura kalau ini adalah klub hamster, tapi om Thunder dengan mudahnya mengetahui identitas asli klub ini. Lalu kami terpaksa menghubungi Melody dan sejak saat itu dia menjadi anggota, oh ya nama aslinya Guntur lebih menyenangkan memanggilnya om Thunder.

“Oiii, gimana perkembangan kasusnya ?” ucap Om Gun tanpa berbalik dari layar komputernya.

“Aku masih perlu mencari bukti,” jawabku.

Aku mengambil sekaleng soda yang ada di kulkas lalu duduk disofa. Edho sedang mewarnai sketsa miliknya, sementara Rizal sedang membaca sesuatu dikomputer yang berada disebelah om Gun.

“Jadi apa petunjuknya Gha ?” tanyaku.

Sagha yang sedang memasang skrup pada sebuah kotak elektronik yang ada dimeja, berbalik dan melemparkan sebuah flashdisk padaku.

“Aku mencoba mencari apa yang bisa kutemukan tentang Anindhita,” ucapnya.

“Thanks,” aku memasukan Flashdisk yang diberikannya kedalam saku jaketku.

Sagha berbalik dan melanjutkan proyek ilmiahnya, setelah menyelesaikan keleng sodaku berdiri dan pulang karena aku sudah mendapatkan tujuanku.

“Hei, jangan bawa perasaan pada tugas kita,” ucap Om Gun saat aku berjalan melewatinya.

“Nggak, aku sudah belajar dari pengalaman,”

Aku merasa ada yang berbeda dari tatapan om Gun padaku, tatapannya terasa lebih mengerikan. Itu mungkin hanya perasaanku, tapi tatapan om Gun mengingatkanku pada seseorang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s