Aku Rasa Iya, Part5

q

Bukan Cerita Romantis…

Keadaan SMKN 5 Jakarta masih begitu tenangnya di pagi ini. Jam pelajaran pertama adalah kejuruan yang di ajarkan Pak Lukman. Tapi karena beliau ada kesibukan yang tak bisa di tinggalkan maka ia hanya memberikan tugas untuk kelas XI-TKJ. Banyak murid-murid tampak mengerjakan tugas dan banyak pula yang melakukan kegiatan-nya masing-masing.

Pada taman depan kelas masih terdapat Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi yang masih saja asik bercanda dan kadang saling ejek mengejek. Terutama Ido dan Jaya selalu mengungkit-ungkit panggilan baru Arii ala-ala Jepang pemberian dari Yupi. Ya, Arii-San. Hal itu membuat Arii selalu mengerutu, namun sebaliknya Ido, Gre, Shani tertawa ngakak. Berbeda dengan Yupi yang masih tertawa canggung mengingat ini karena ulahnya.

“Udah dong, jangan panggil gitu lagi,” protes Arii masih tak terima.

“Tapi tadi kamu semangat Ay dengernya.” Shani tertawa kecil.

“Tadi kan gak tau, elu Do. Yak.” Tunjuk Arii. “Manggil gitu lagi gua tampol lu!” Acam Arii menunjuk Ido dan Jaya.

Ido dan Jaya cekikikan. “Lu salah orang ngancem gituan,”

“Ay?” Panggil Shani yang di sebelahnya.

Arii menoleh malas, “Eng,”

“Hai, Arii-San.” goda Shani pura-pura melambaikan tangan di ikuti tawa yang lain.

“Weekend deh weekend, kalian boleh panggil gitu kalo weekend, ya? ya? Iya lah..” pinta Arii memelas.

“Diih. Di tawar, hahaha.” ledek Gre sembari ketawa.

Shani, Gre, dan Yupi tertawa geli melihat Arii memelas. Ido dan Jaya bergidig jijik pengen nampar mukanya lama-lama.

Ya, mereka masih terus saja begitu, menggoda dan menggoda Arii. Bodohnya lagi kenapa harus di tawar itu nama panggilan, sampe-sampe di perbolehkan bila weekend tiba.

Mereka mulai beranjak dari duduknya dan menuju kedalam kelas. Sesudah sampai di kelas, sesekali Ido ataupun Jaya menyeletuk memaggil Arii dengan panggilan barunya ala-ala Jepang tadi. Tentu seisi kelas bingung dan bertanya-tanya. Tapi setelah Jaya menerangkan, semua temanya akhirnya paham, dan sekarang endingnya adalah satu! Permohonan Arii musnah sudah karena seisi kelas menggodanya dengan panggilan itu. Menggoda? Bukan menggoda. Malah lebih mirip mem-Bully.

Sedih sekali…

~oOo~

Pada kelas 12 tepatnya 12 Akuntansi, suasana tampak begitu riuh karena banyak siswa-siswi yang mulai berhamburan keluar kelas setelah beberapa saat lalu bel istirahat telah berbunyi.

Di kelas itu tampak Ve dan Yona sedang berbincang sembari memasukan peralatan belajarnya ke dalam laci meja.

“Kita ke kantin ngga ni, Ve?” Tanya Yona sambil memakai cardigan-nya.

“Boleh deh. Laper juga ini perut,” Ve mengelus perutnya. “takut kurus ntar.” Yona menaikan alis melihat tingkah Ve.

“Kurus apanya? Gak sadar Itu pipi udah obesitas maksimal gitu, di bilang kurus,” Ledek Yona cekikikan.

“Ish.” Cemberutnya. “Ini pipi lucu namanya. Buktinya banyak cowok yang naksir.” Ve membela diri.

Yona yang sudah selesai mebereskan perlengkapan belajarnya mulai berjalan keluar kelas. Ve yang menyadari akan di tinggal pun bergegas menyusulnya.

“Banyak yang naksir sih iya.. Cuma lu Jomblo!” Yona agak berteriak setelah sampai di pintu kelas.

“Lu juga kali, Yon.” Balas Ve, “Hey, tungguin! Sesama Jomblo di larang saling mendahului.” Ve berlari kecil untuk mengimbangi langkah Yona.

Sedangkan di kantin, kini terdapat Arii, Ido, Gre, Jaya, Shani dan Yupi yang tengah duduk bersama pada meja kantin paling pojok. Terlihat di meja mereka banyak gelas dan piring sudah kosong tak berisi, alias menyisakan piring kotor.

“Weehh. Gila lu semua. Bel baru aja bunyi, kalian udah kelar makan? Cepet bener…” Seorang siswi yang baru datang tiba-tiba nyerosos panjang lebar.

“Anjirr! Kaget Je!” Ido mengelus dada, “kayak setan lu. Dateng gak permisi, gak apa, main ngagetin aje.” Dumel Ido pada Jeje. Yang lainya juga kaget.

“Gua ikut gabung sini ya sama Nabilah. Boleh gak?” Tanya Jeje.

“Ya udah duduk aja Je, Bil. Di lantai ye,” Jaya memperbolehkan. Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi cekikikan.

“Emang ini kantin punya nenek moyang lu? Songong ni anak.” Balas Nabilah yang sedari tadi diam.

“Ini nih iblis. Dari tadi sok kalem, ck ck ck. Cari moment rupanya, udah duduk sono.” Jaya mempersilahkan.

Jeje dan Nabilah pun ikut bergabung.

“Kalian udah pesen?”

“Belum Je. Ini meja juga belum di beresin, nah itu yang mau beresin.” Jelas Gre, ia menunjuk pegawai kantin yang menghampiri.

“Sempit, ini meja sebelah gua dempetin aja ya Bang? Rombongan gua semua ni,” Jaya bertanya pada pegawai kantin yang sibuk membereskan gelas dan piring kotor tadi.

“Mengko balikna maning, Yak? Lagi repot inyong kieh,” Pegawai kantin meperbolehkan. Entah bahasa apa dan cuma Jaya, dia dan tuhan yang tau.

Jaya mengangguk dan mengacungkan jempolnya pertanda menyetujui, ia pun mulai menyeret meja panjang di sebelahnya, lalu di satukan pada meja tempat mereka berkumpul.

“Gini kan enak..”

“Tumben lu pinter Yak,” Arii meledek santai, tangan kanannya sedari tadi memain-mainkan jari Shani.

“Gua lagi baek, kalian mau pesen apa? Biar gua yang catet. Itu si Yupi ngapain dari tadi diem mulu?” Jaya menunjuk Yupi setelah menawarkan diri.

“Lagi baca buku gitu, Nyet. Sok gak tau lagi lu! Buku pembawa petaka.” Dumel Arii setelah melihat buku yang di baca Yupi.

Yupi? Kalem aja dia sambil senyum, intinya gak peduli.

Setelah mencatat semua pesanan semua teman-temannya, Jaya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah stand kantin untuk memesan. Sesudahnya, Jaya langsung berbalik dan duduk kembali di kursinya.

“Beres, entar di anterin.” Jaya duduk dan memangku tangan.

“Elu kenapa sih Yak? Aneh bener gaya lu.” Komentar Jeje.

“Hahhh..” Jaya menarik nafas, kemudian menatap semua temannya, “Biar kayak di tv-tv.” Jaya memajukan kepalanya.

“Gua gampar lu lama-lama.” Ancam Nabilah. “Sok misterius pula,”

“Ngomgong ‘tv-tv’ lagi, gua gantung lu idup-idup.” Ancam Arii menatap sengak. Jaya hanya tersenyum menanggapi.

Tak selang lama, makanan mereka pun datang di antar oleh pegawai kantin yang tadi. Sedikit gambaran tentang Abang kantin ini.. : Namanya Adi. Dia masih berperawakan seperti spesies lainya yang ada di muka bumi ini, memiliki tinggi minimalis atau seadanya, berambut klimis tersisir rapi, berkumis tebal tertata rapi, jenggot agak tebal serta bermuka tebal. Ah iya. Mukanya juga klimis.

Oke, deskripsi serba klimis itu tadi salah. Ternyata Bang Adi baru saja ketumpahan minyak goreng, jadinya ya mebekas dan berminyak.

Sekarang, dengan semangat kelaparan tingkat anak sekolah akhirnya mereka mulai melahap makanan yang sudah di hidangkan. Selagi asik mengunyah-ngunyah, pandangan dan raut wajah Gre mendadak bingung menatap siswi yang berdiri agak jauh di hadapannya atau tepatnya di  belakang Arii dan Shani. Siswi itu menempelkan jari telunjuknya pada bibir mengisyaratkan Gre untuk diam.

“Sssh…” ujarnya, walaupun tak terdengar tapi Gre mengerti maksudnya, dia juga mengenalnya.

“Hay..” Siswi itu menepuk pundak Arii dari belakang. Ido dan Jeje yang duduk di depan Arii mendongakan kepala untuk melihat si penyapa.

Arii menghentikan kegiatan makan-nya lalu menoleh kebelankang. “ ……… ” Terdiam. Ya, Arii terdiam.

“Pegangin Arii, Shan. Jangan kaburan lagi.”

“Eh, emang ada apa Kak?” Tanya Shani bingung.

“Yona gak mau di kirain setan, Shan. Masak iya setiap ketemu, Arii kabur mulu.” Ve cekikikan menjelaskan.

Akhirnya Yona dan Ve duduk tepat di depan Arii dan Shani setelah Gre, Ido dan Jeje bergeser. Perlahan Yona mulai menjelaskan hal yang membuat Arii merasa takut terhadapnya, mulai dari pertemuan sampai cerita seorang psychopath yang ingin mencongkel mata sanderanya. Yona menjelaskan bahwa itu hanya sebuah cerita, bukan berarti dia juga seorang psychopath.

Setelah panjang lebar meluruskan salah paham tak bermakna itu, Arii akhirnya paham dan di soraki semua teman-nya yang duduk semeja dengan-nya. Termasuk Shani juga. Bagi mereka, Arii terlalu parno. Karena merasa malu, Arii mau tak mau meminta maaf pada Yona atas salah paham ini.

“Nah, udah kan? Jangan kaburan lagi. Ingetin Arii ya, Shan.” Ve mendongak pada Shani.

Shani menunduk malu, “I-iya Kak,”

“Hallehh.. Kalian pacaran kan? Dulu bilangnya engga,” ledek Yona. “Bohong jari tengahnya kutilan loh.” Yona menyumpah, yang lainya malah cekikikan.

Entah sumpah macam apa yang di ucapkan Yona. Sederhana memang, tapi benar-benar gak elite sama sekali. Kalau iya sampai tumbuh kutil di jari tengah pasti aneh, ibaratkan kita menyacungkan jari tengah ala ‘Fuck You’ pada pantulan cahaya, pasti hasil siluetnya jelek. Karena ada benjolan yang tak semestinya ada di situ.

Mereka terus mengobrol, bercanda dan tertawa. Sampai-sampai mereka lupa akan makanan yang tadi belum habis saat asik mendengarkan Yona menjelaskan. Dan akhirnya sekarang mereka tersadar setelah bel masuk berbunyi. Arii, Ido, Gre, Jaya, Jeje, Nabilah, Shani dan Yupi mengerutu saat meninggalkan kantin.

Yona dan Ve? Mereka tidak jadi makan karena sama-sama lupa, dan Ve sekarang tampak ketakutan kalau dia bakal kurus seperti yang tadi dia katakan.

~oOOo~

 

Siang ini di rumah Jaya, tampak dirinya tengah berbaring dan termenung di atas ranjangnya sembari menatap ke arah langit-langit kamarnya. Setelah sadar dari termenung panjangnya, raut mukanya berubah gelisah, ia terus berguling sana sini seperti cacing kepanasan.

Kini, dengan sekali sentak ia pun terduduk. Di ambilnya Gitar miliknya yang tepat di sebelah ranjang lalu memainkan-nya.

Perlahan dengan fasihnya jari-jemarinya mulai memetik senar gitar melantunkan sebuah melody untuk lagu “DIA” yang di nyanyikan oleh Anji. Tanpa permisi tanpa aba-aba Jaya mengeluarkan suaranya,

Ohh tuhan.. Ku cinta dia, ku sayang dia, rindu dia.. Kok dia enggaaaa aa a.. ….”

“Bodo amat lah.” Di hentikannya sejenak aktifitas jemarinya pada Gitarnya.

“Ngomong-ngomong, emang gua mau ngapain ke si Yupi besok?” Tanya-nya pada diri sendiri.

“Hahh, gua liat besok aja lah. Biar kayak di tv-tv.” Jawab Jaya sendiri.

Persis seperti orang gila, dia yang bertanya dia pula yang menjawab. Dan bisa di lihat posisi Jaya sekarang sudah berubah menjadi menungging, entah apa yang bakal di lakukannya nanti.

Aneh sekali….

Keadaan di rumah Arii sangat berbeda jauh dengan yang ada di rumah Jaya. Kondisinya kini sedang rusuh. Ayahnya belarian kesana-kemari entah sedang mencari apa, sedangkan Ibunya tampak mengobrak-abrik isi lemari pakaian guna mencari baju yang pas untuk di kenakan.

Arii dan Feni cengoh menatap kedua orang tuanya, saat tengah asik menonton kegiatan tidak penting kedua orang tuanya itu, bel rumah mereka berbunyi pertanda ada tamu yang datang.

“Dek, bukain pintu gih.”

Feni menoleh. “Males, Kakak lah bukain. Feni capek..” Ujarnya lesu.

“Capek ngapain? Perasaan gak gerak dari tadi,” Arii bingung, bel rumah kembali berbunyi.

“Iya bentar!” Arii setengah berteriak ingin berjalan ke pintu depan.

“Capek liatin Ayah mondar-mandir gaje.” Ujar Feni yang masih betah pada posisinya.

Arii tak menggubrisnya dan langsung berjalan ke arah pintu depan guna membukakan pintu. Setelah pintu terbuka terlihat Shani yang tengah tersenyum manis dan pada tangan kanan-nya tampak menenteng pelastik besar berisi banyak snack dan minuman bersosoda di dalamnya.

“Eh. Dateng sama siapa?” Tanya Arii bingung, matanya celingukan mencari sesuatu.

“Sendirian, hehe.”

“Senyam-senyum. Yang nganter siapa? Kok gak bawa mobil?” Arii bingung melihat tingkah Shani.

“Hehe, mobil-nya udah aku masukin ke garasi kamu, aku buka pagar sendiri, buka garasi juga sendiri. Eh pas mau buka pintu malah di kunci. Ya pencet bel deh.” jawabnya polos.

“Cewek gua mandiri luar biasa, kalo di didik jadi maling pasti pande ini.. Bisa cepet kaya gua..” Khayalan Arii mengada-ada dalam hati.

“Eh, ngapain senyum-senyum juga? Ayo masuk.” Shani menyelonong dan menarik tangan Arii untuk berjalan masuk setelah menutup pintu.

Sesampainya di dalam, mereka menghamiri Feni yang masih saja berdiri sambil meperhatikan kedua orang tuanya gerusukan.

“Yah, Ma. Udahlah gak usah repot.. Cuma ke kondangan ini, kenapa ribet bener sih?” Ya, sedari tadi kericuhan cuma dikarenakan ingin pergi kondangan.

“Ayah sama Mama satu-dua harian di Bandung, Dek. Jadi harus bawa ganti, mungkin besok malem baru pulang.” Jawab Ibunya masih memilah baju.

“Seperlunya kali Ma.. Gak malu sumpah. Ada Shani pun.” Arii menadahkan kepalanya ke arah Shani.

“Wahh, ada Shani.. Dateng sama siapa?” Tanya-nya.

Shani tersenyum manis. “Sendiri, Tante. Shani bawa mobil kok.”

“Ooh.. Ajak temen yang lain ya Shan. Biar Feni ada temen-nya.” Pinta Ibunya Arii dan Feni. Shani tersenyum mengangguk mengiayakan.

“Udah, yuk Ma berangkat.” Ajak Suaminya sudah siap.

“Pake kolor sama kaos putih gituan doang? Ayah yakin mau ke kondangan?”

“Udah bawa batik, celana panjang, sepatu, fotocopy KTP, kartu keluagra… Ah pokonya semua sudah.” Ujarnya ngelantur. “Entar ganti di Bandung aja”

“Ya udah, Bang.. Dek.. Ayah sama Mama berangkat dulu ya, jangan bandel.” Ujar Ibunya sambil mengusap puncak kepala Feni lalu mencium keningnya, begitu juga yang dilakukan Ayahnya.

“Arii engga di cium, Yah? Mah?” Tanya Arii sok iri. Shani dan Feni cekikikan.

Ayahnya berjalan mendekat padanya sembari tersenyum. “Sini-sini..” Ujar Ayahnya.

‘PLAK!!!’ Di geplaknya pelan jidat Arii. Feni dan Ibunya serta Shani cekikikan melihat kelakuan Ayah, anak di depan-nya itu.

Mereka semua berjalan ke arah pintu depan sekedar mengantarkan kedua orang tua Arii dan Feni yang akan berangkat menuju Bandung. Setelah Ayah dan Ibunya masuk ke dalam mobil, kini dengan perlahan mobil mulai berjalan meninggalkan Arii, Feni dan Shani yang berdiri di depan rumah sembari melambai-lambai.

“Ayah sama Mama kebanyakan nyemil garem kayaknya. Sengklek gitu keduanya,” Gerutu Arii setelah melihat mobil orang tuanya menjauh.

“Feni aduin ke Mama entar kalo udah balik.” Ancam Feni pada Arii. Shani cekikikan mendengarnya.

“Eh. Jangan Dek.” Arii menoleh kaget.

“Kenapa?” Tanya Feni.

Arii menekuk lutut di depan Feni. “Kamu gak mau liat Kakak jadi batu kan?” Ujarnya lembut menatap sendu Feni dengan tangan memegang dan menggoyangkan pundak Feni. Shani makin cekikikan tidak tahan melihatnya.

Ya, tentu Arii tak mau di kutuk jadi batu karena sempat meledek kedua orang tuanya tadi. Feni yang bingung melihat Kakanya hanya mengangguk dongo mengiyakan, padahal dalam hatinya dia tidak paham sama sekali. Arii yang di beri anggukan adiknya langsung memeluk lembut Feni sebagai ungkapan syukurnya.

Lebay memang…

Shani semakin tak kuat menahan tawanya sedangkan Feni masih saja bingung sambil menatap Shani. Raut wajahnya seolah bertanya pada Shani. “Kakak gua yang bego ini kenapa?!”

Hari semakin sore, kini di rumah Arii tampak kedatangan Ido, Gre, Jaya dan Yupi. Mereka berbincang-bincang, menonton Dvd, bermain game, bermain Monopoli, memakan snack yang tadi sempat Shani bawa hingga langit semakin petang dan kini waktu sudah menunjukan pukul 20:00. Dan saat itu juga Ido, Gre, Jaya, Shani dan Yupi pamit pulang.

Selamat malam dan selamat beristirahat… Jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, minum susu lalu cus bobo…

~oOOo~

Sungguh pagi yang sangat tenang dan menyejukan, embun-embun masih banyak bertengger di rerumputan maupun dedaunan. Burung-burung gereja masih berkicau dan terdengar pada telinga siswa-siswi yang sedang berlalu lalang memasuki gerbang sekolah SMKN 5 Jakarta.

Pada halaman depan tampak Arii, Ido, Jaya dan Shani yang memakai seragam olahraga sedang berjalan bersama sembari menuju kelasnya. Di tengah perjalanan mereka juga mengobrol satu sama lain.

“Lu pada liat nanti aksi gua ke Yupi.”

“Emang lu mau ngapain?” Tanya Ido, tapi Jaya tak menjawab.

Arii, Ido, Gre dan Shani semakin penasaran di buatnya. Selagi mencoba menebak-nebak, Shani menyenggol bahu Arii agar menoleh ke arahnya.

“Sssh. Ay, Ay.” Arii mendekatkan kepalanya, “Kayaknya Jaya mau nembak Yupi deh,” Bisik Shani pada Arii.

Arii menaikan alisnya sebelah menatap arah Jaya. Dalam otaknya berfikir itu tidak mungkin, tapi bisa jadi juga. Hahh, otaknya tak mau larut memikirkan hal itu, jadi dia menoleh ke Shani kembali.

“Masa sih? Tapi mungkin juga, kita liat aja deh.” bisik Arii gantian.

Sesampainya di kelas, Jaya dengan cepat menghamiri Yupi yang sedang bermain monopoli bersama Jeje,Gre, dan yang lainnya.

“Yup,”

“Eng,” Yupi menolehkan kepalanya mencari orang yang memanggilnya, “Ada apa?”

“Ada yang mau gua ngomong sama lu. Ini serius” Tiba-tiba Jaya menarik tangan Yupi hingga berdiri di depanya.

Gre, Jeje, dan teman-temanya yang lain langsung berheti bermain monopoli, beralih menatap Jaya dan Yupi dengan dahi mengkerut.

“Eh, eh. Kamu mau ngomong apa?” Yupi bingung.

“Ini serius,” ujar Jaya, “Tapi kamu janji gak bakal marah?”

“Emang apa sih Yak..?” Tanya Yupi males melihat Jaya.

“Janji dulu,” Kekeh Jaya.

“Iya, iya.  Aaku janji.. Udah buruan bilang,”

“Serius?” Jaya memastikan.

“Iya Jaya…. Bilang aja sekarang, diliatin orang ini malu,” pinta Yupi sambil melihat semua teman sekelasnya terfokus pada mereka berdua.

“Sumpah kamu gak bakal marah?” Lagi-lagi Jaya memastikan.

“Rrrrrrr.. Iya Jaya, iya….” Yupi jengkel. Yang mau nampol silahkan.

Sementara teman-temanya jadi terfokus memperhatikan mereka berdua seolah-olah sedang melihat drama di televisi dengan halusinasi happy ending dengan taburan bunga-bunga.

“Hahh…” Jaya menarik nafas panjang. “Y-Yupi…..”

“Iya….” Yupi mendongakan kepala.

“K-Kamu…” Ucap Jaya sengaja di potong.

“Hng.. Apa Jaya…” Jantung Yupi berdebar-debar, tapi juga sebal.

“K-kamu….” Sekarang bukan cuma Yupi saja yang sebal. Tapi teman sekelas juga. Mereka serasa menonton dvd rusak melihat Jaya berbicara.

“Yupi…..”

“I-iya…..” Jawab Yupi gugup.

Jaya menarik nafas,  “K-kamu… .. .. .. U-udah mandi?”

Seketika suasana menjadi hening. Benar-benar hening.  Yupi terpaku dengan mulut menganga, semua yang ada di kelas juga hening menatap Jaya. Entah apa yang ada di fikiran mereka sekarang. Hening, hening dan hening. Seakan mereka sangat shock mendengar bahwa Syahrini punya bulu kaki sepanjang 10 centi.

Keheningan Yupi mulai berubah ketika melihat Jaya tersenyum dan menahan tawa merasa tak berdosa. Semua teman seisi kelas masih hening tak percaya menatap Jaya dan Yupi.

5 Detik

10 Detik

“JAYA!!! Rrrrrr.” Teriak Yupi.

“Jangan lari kamu!” Yupi memukul Jaya sekali dengan buku yang sempat di ambilnya dari meja.

Jaya langsung saja kabur sambil tertawa terbahak-bahak berlarian di dalam kelas menghindari Yupi yang sedang mengejarnya. Dengan bringasnya Yupi terus mengejar sampai-sampai sekarang mereka melewati semua teman-nya hingga keluar kelas, entah mau di bawa kemana aksi pelarian kejar-kejaran itu.

Sedangkan teman-temanya dikelas masih saja terpaku, bukan ucapan Jaya tadi tak membuat kaget. Lebih tepatnya mereka tak percaya.

“JAYA AN**JI**NG! BA**NG**SAT! BA**JI**NG*AN! BA**BI!” Umpat Ikhsan tampak kesal dan kecewa.

“Gue kira tadi mau nembak tadi. Memang kampret.” Gerutu Fadhill sambil menjitak Ikhsan yang tak berdosa di sebelahnya.

“Sumpah, isi palanya kopong itu anak.” Willy ikut berkomentar.

Arii, Ido, Gre dan Shani masih saja mematung tak percaya. Sampai akhirnya Arii tersadar lalu menatap Ido dan kemudian berbicara.

“Do. Tolong minta semua dasi temen-temen.” Suruh Arii padanya. Ido yang mengerti maksud dari tujuan Arii langsung bergerak mengumpulkan dasi. Teman sekelasnya pun mengiyakan setelah di beri tahu maksudnya oleh Ido.

Semua dasi sudah terkumpul. Ido kembali pada Arii.

“Udah semua Rii. Siap!”

Arii hanya menatap nanar tempat dimana Jaya tadi mengungkapkan kata-kata ‘serius’ pada Yupi. Nafasnya berhembus kasar, mukanya di elus juga terasa rada kasar, eh? Oh rupanya itu ada jerawat dan lumayan agak besar.

~oOo~

Yupi masih terus mengejar Jaya hingga kini mereka berdua sampai di tempat sepi, sejuk, banyak bunga, pohon dan ada air mancur buatan juga disana. Hahh, ribet! Intinya mereka tengah berada di taman belakang sekolah.

Langkah Jaya mulai memelan dengan nafas terengah-engah karena kelelahan. Yupi pun keadaannya tak jauh beda dengan-nya. Kini Jaya berhenti dari aksi pelarian-nya dan terduduk lemas di rerumputan taman, dia sudah pasrah melihat apa yang bakal terjadi nanti.

“H-hosh.. Hah.. hah.. capek…” Jaya benar-benar kelelahan dan sekarang berbaring di rerumputan.

“Jaya…! Ja- hah.. Jangan lari kamu..” Yupi langsung mendudukan dirinya tepat di sebelah Jaya.

“Ampun Yup.. Am-pun… Nyerah gua, nyerah..”

“Diem! Hosh.. Hahh.. Capekkk… Hahh..” Yupi berusaha mengatur nafasnya.

Lama mereka terdiam, perlahan demi perlahan nafas mereka kembali normal.

“Kamu tadi ngapain kayak gitu?” Tanya Yupi menghadap depan, Jaya masih berbaring.

“Hahh…” Jaya menarik nafas sejenak. “Tadi gua niatnya mau nembak elu, Yup.” Jawab Jaya apa adanya.

Yupi menoleh dan menatap aneh ke arah Jaya, “Hah? Aku gak percaya.. Lagian kenapa nekat banget pake di dalam kelas?” Yupi tidak percaya.

“Gak tau, tadi pertama gua berani.. Tapi setelah sekelas liatin kita, gua jadi bingung mau ngomong apa.” Jelas Jaya masih dengan berbaring.

“Bego. Kamu itu memang bego, Yak.” Yupi kesal dan memukul-mukul dada Jaya.

“Itu lu tau kalo gua bego.” Jaya menahan tangan Yupi. “Jadi, lu mau gak pacaran sama gua?” Tanya Jaya setelah duduk.

“Kok gak ada romantis-romantisnya sih?” Yupi memalingkan wajah kesal dengan bibir di manyunkan.

Jaya tersenyum. “Namanya juga gua bego, jadi mau gak nih, Yup? Please…” Jaya memohon dan tangan Yupi yang di pegangnya tadi di gelitiki hingga membuat Yupi kegelian.

“I-ya aku mau..” Yupi tersenyum. Entah senyum tulus atau kegelian gak tau juga. “Ini proses jadian paling aneh yang aku alami tau gak?” sambung Yupi.

“Ya… Semoga aja bakal jadi sejarah baru untuk peradaban manusia selanjutnya..” Jawab Jaya ngasal.

Yupi tersenyum menatap Jaya. “Hehehe. Bego!” Tegasnya.

~oOo~

Pada kelas XI TKJ semua murid masih banyak yang mengumpat  tidak jelas karena Jaya tadi. Tak selang lama, Jaya dan Yupi tampak berjalan beriringan dengan santai kembali menuju kelas.

Setibanya di kelas. . .

“TANGKAP DIA!!!” Teriak Arii menunjuk ke arah Jaya.

Mendadak Jaya dan Yupi berhenti. Raut wajah Jaya langsung berubah seketika saat melihat teman-temannya mulai mendekat ke arahnya dengan tatapan sengak. Karena posisinya di dalam kelas, dengan gampang Jaya terkepung, hal itu juga membuat Yupi tampak ketakutan karena ikut terkepung.

“Pegang tangan dan kaki si Jaya!” Perintah Ido layaknya pangeran. Secepat kilat lima teman-nya yang mengepung langsung memegang kuat kaki dan tangan Jaya di susul Fadhill, Ikhsan dan Willy.

Bahkan saking banyaknya, hingga ada yang tak kebagian memegang Jaya. Alhasil mereka yang tak kebagian malah memegang kaki temanya yang lain. Siswa itu adalah Fadhill, Ikhsan dan Willy..

Kini Ikhsan tampak memegang kaki Fadhill, Fadhill tak mau kalah langsung memegang tangan Willy, Willy gak megang apa-apa, karena tangan-nya masih di pegangi Fadhill. Karena merasa bingung, akhirnya Willy menendang-nendang Ikhsan dengan kaki kanan-nya supaya ikut berpartisipasi. Aneh sekali…

Jaya berusaha memberontak tapi gagal karena tenaganya kalah banyak dari yang lain. Alhasil dia pasrah dengan raut wajah memelas penuh ketakutan.

Arii, Gre, dan Shani berjalan mendekat ke arah Ido yang sudah berdiri di depan Jaya.

“Yupi….” Panggil Gre.

“I-iya Gre, kenapa?” Tanya Yupi masih bingung.

“Kamu gak pengen nampar Jaya?” Yupi kaget mendengar pertanyaan Gre. Namun setelahnya ia tersenyum dan langsung mendekat berdiri tepat di depan Jaya. Sedangkan Jaya hanya menelan ludah pasrah menanti ke ajaiban tuhan yang di berikan kepadanya. Tak menunggu lama. Pertunjukan pertama pun dimulai.

PLAK!!! Suara tamparan di pipi kanan Jaya.

PLAK!!! Suara tamparan di pipi kiri Jaya.

LAGI! LAGI! LAGI! LAGI! LAGI! Oooo… OI! OI! OI! OI! OI! OI! OI!

Teriak sesisi kelas mengapi-api. Sampai-sampai saking semangatnya terikan itu berubas seperti chat fans JKT48.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“Yupi jahat…” Ucap Jaya lemas dengan pipi memerah, Yupi malah tersenyum senang. Bego emang.

Dengan cepat siswa-siswa yang memegangi Jaya langsung membopongnya ke lapangan basket di ikuti Arii, Ido, Gre, Shani, Yupi serta semua murid dari XI-TKJ yang membuntuti.

Di kelas lain, VE dan Yona tampak sedang mengobrol ringan. Di tengah-tengah obrolan pandangan mereka teralih ke luar kelas yang penuh keramaian.

“Itu Jaya temen Arii kan?” Tunjuk Yona dari balik jendela kelas.

“Mana-mana? Eh, Iya Yon.”

“Mereka ngapain?” Yona mengerutkan dahi.

“Kayak gak tau kelakuan Arii sama temen-temenya aja” ujar Ve santai.

Yona masih menatap bingung ke arah lapangan.

“Dempetin ke tiang ring. Setelah itu I……. KAT!!!” Suruh Arii semangat sambil melemparkan dasi yang sudah di satukanya menjadi panjang.

Ya, sekarang Jaya menikmati jerih payahnya setelah membuat semua teman sekelasnya tertipu dongo. Suasana sangat bahagia jelas terlihat di tengah lapangan basket. Dimana semua murid tertawa ngakak melihat Jaya yang terikat pada tiang ring Basket tanpa bisa bergerak. Berontak kiri, berontak kanan, mirip sudah sama cacing kepanasan.

Yupi tersenyum bahagia melihat Jaya tersiksa. Dan baginya, ini adalah kado selamat atas status pacarannya sekarang bersama Jaya. Tak jauh dari sana banyak guru-guru yang melihat kelakuan mereka di lapangan hanya menggeleng heran.

“Gre,”

Gre menoleh melihat siapa yang memanggilnya, “Ada apa, Do?”

“Mau gua kasih tau gak cara buat orang gila kepo?” Ido berlagak memasukan tangan kananya ke saku celana.

“Apaan tadi Do?” Tanya Shanji yang ikut mengikat Jaya dengan suara ngebass-nya.

Suara ngebassnya membuat Arii, Shani dan yang lain menoleh ke arahnya dan Ido sejenak melupakan Jaya.

“Kalian mau tau gak cara buat orang gila kepo?” Tampang Ido sok serius bertanya pada siswa-siswi yang menatapnya.

“Gimana? Gimana Do?” Tak sedikit yang antusias ingin tau, termasuk Gre dan Shanji tadi.

“Serius…?” Ido memastikan.

“Yoi lah.” Ikhsan semangat.

“Minggu depan gua kasih tau caranya.” Jawab Ido santai dan berniat melangkah pergi menuju kelas.

“Enak bener lu Do. Tadi lu manggil buat ngasih tau hal ini, tapi bilang minggu depan pula.” Sela Gre tidak terima rasa penasarannya di gantung.

“Sssh, Ay. Perasaan aku kok gak enak?” Shani berbisik, Arii masih menatap pembicaraan Ido dan lainnya.

“Kita tonton aja Ay.” Balas Arii. Shani hanya manggut-manggut mengiyakan.

“Iya, minggu depan gua kasih tau caranya, janji.” Ido tersenyum, berbalik badan dan mulai melangkah.

“Gak bisa lah. Lu kasih tau sekarang apa mau gua tonjok Do?! Minggu depan masih lama Nyet!” Shanji tidak terima. Ido berhenti dan berbalik menatapnya.

“Kalian semua beneran penasaran gak dengan carannya?” Tanya Ido serius.

“YA IYA LAH!” Sentak semuanya, Ido kaget. Lalu ia tersenyum.

Ido menarik nafas sebentar, memandang semua teman-temannya…

“Ya… Itu tadi cara buat orang gila kepo. Kalian udah kepo kan? Jadi tau dong jawaban-nya.” Ujar Ido menahan tawa.

“Rrrrrrrr.” Gre, Ikhsan, Shanji dan lainya tertunduk malu karena Ido. Jaya yang masih terikat tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Hahaha. Mampus lu semua! Mampus!” Ledek Jaya tertawa ngakak.

Sedangkan Shani, tak ada angin tak ada ujan mencubit pinggang Arii yang melongo terpaku seakan terhipnotis jawaban Ido untuk teman-temannya.

“Bener kan aku bilang Ay,” ujar Shani. Arii manggut-manggut dongo.

“TANGKAP DIA!” Teriak Willy. Reflek Fadhill dan siswa lainya mengepung Ido lalu memegangnya kuat. Syukurlah kali ini Ikhsan dan Fadhill kebagian megang.

“Kita apain, Rii?” Tanyanya pada Arii.

“Mana gua tau.. Iket aja kayak si kampret satu itu. Nyoh dasi yang sisa.” Arii melemparkan satu ikatan dasi lagi kepada Willy.

Ido mencoba memberontak dari pegangan teman-temanya, namun gagal karna kalah jumlah dan tenaga. Ya, endingnya sama seperti Jaya. Terikat pada ring basket tepat di balik punggung Jaya. Semua yang ada di situ tertawa puas, Jaya tertawa ngakak karena mendapat teman. Para guru-guru kembali tertawa sembari menggeleng heran….

“Aneh-aneh aja kelakuan mereka ya, Ve?” Yona masih heran menatap ke arah lapangan.

“Hahhh, Yon.” Ve menoleh. “Aku Rasa Iya…”

Sebenernya Pelajaran apa yang mereka dapat dari sekolah ini..?

“Gerombolan orang aneh. Dasar idiot!” Seorang siswi menatap sinis ke arah keramaian Arii dan lain-nya. Perlahan ia berbalik dan berjalan menuju kelasnya.

 

Bersambung…

 

 

Author : Mohon maaf kalau part ini lebih pendek dan terkesan maksa, aneh atau apapun itu. Maaf juga kalau Updatenya lama walaupun gak ada yang nungguin.

Gua harap semua Move on dari part 4 yang 87% amburadul, dan sekarang sudah masuk part 5 yang 86% amburadul. Lumayanlah walau 1% juga. Jangan bosan mampir kesini. Di tunggu caci-makinya kritik saran-nya.

Twitter: @arytria_s (Acound yang kata Mamanya bikin kangen) 😀

Iklan

Satu tanggapan untuk “Aku Rasa Iya, Part5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s