MINE, 01

Cewek itu mengembungkan pipinya setelah melihat beberapa lembar kertas yang tertempel di depannya. Ia kesal, ia kecewa, ingin rasanya memprotes kepada pihak pihak yang mengatur ini semua, tapi ia tahu ini percuma. Dengan sigap ia langsung mengambil handphone yang ia taruh didalam tas nya dan mencari sebuah nama di daftar kontak.

“Liooo…., kita gak sekelas!!!” rengek cewek itu.

Beberapa orang disampingnya reflek menutup kedua telinga mereka setelah mendengar teriakan si cewek berponi rata. Siapa sangka cewek berwajah imut ini memiliki suara seperti toa, sangat keras dan mengganggu.

Cewek itu cemberut, masih dengan telfon yang menempel ditelinga kirinya mendengarkan orang disebrang sana berbicara. “Ga mau, aku pengen kita sekelas Lio!” volume suaranya masih belum berubah. “Aku tau percuma, tapi aku mau coba protes sekarang!”

Setiap tahun ajaran baru di SMA 48 memang akan ada perubahan kelas, dengan tujuan akan mendapatkan teman baru setelah kelasnya dirubah. Cindy Yuvia si cewek berponi rata itu awalnya kelas Science2 tapi mulai hari ini ia dipindahkan ke kelas Science 4. Sebenarnya Yupi-nama panggilan Cindy Yuvia-tidak masalah dengan perubahan kelas, asalkan ia bisa sekelas dengan Adelio Azka, kekasihnya.

Tiba-tiba Yupi teringat akan cerita kakak kelasnya dahulu, entah ini benar apa tidak tapi cewek berponi rata itu layak untuk mencoba hal ini. Ya, dengan mensuap seorang guru bagian tata usaha agar ia bisa pindah ke Science 6 sekelas dengan Lio. Uniknya dulu kakak kelasnya bilang bukan mensuap dengan uang, tapi dengan sekotak brownies kukus yang terkenal dikotanya. Kirimkan sekotak brownies kukus rasa choco marble dan besoknya kamu boleh pindah ke kelas yang kamu inginkan.

Beberapa menit kemudian ia ingat, guru yang dimaksud telah pensiun tahun ini. Yupi pun sadar, akan jadi percuma jika ia protes kepada bagian staf tata usaha.

“Yupi!” dari ujung lorong seorang cewek berambut sebahu berlari ke arah Yupi yang masih terdiam didepan mading sekolah. “Ah, lama ga ketemu.”

Saking kangennya karna lama tak berjumpa, cewek itu langsung memeluk Yupi. Cukup lama ia memeluk cewek berponi rata itu, tapi tak ada jawaban sepatah katapun darinya. Sadar ada yang tidak beres, ia langsung melihat wajah Yupi dan ternyata sedang cemberut.

“Loh kok malah cemberut? Hari pertama ini Yup,” kata si cewek berambut sebahu.

“Biar aku tebak, gak sekelas sama Lio kan?” kini muncul seorang cowok dari belakang cewek berambut sebahu itu.

“Iya, aku ga sekelas sama Lio, sebel banget pokoknya!” Yupi pun menghentakan kakinya, tanpa sengaja kakinya pun menginjak kaki si cewek berambut sebahu.

“Aw! Jangan main nginjek kaki orang dong Yup.” Cewek itu melepaskan Yupi dari pelukannya.

“Maaf, Vin,” kata Yupi kepada si cewek berambut sebahu itu, Viny namanya.

“Kamu Science4?” tanya cowok yang tadi muncul dibelakang Viny. Yupi pun mengangguk.

Cowok itu masih melihat beberapa lembar kertas yang tertempel di mading sekolah. Sampai ia berhenti di lembaran kertas berisikan daftar nama siswa XI Science 6.

“Adelio Azka, oh Lio Science 6,” anak itu menggumam, matanya masih fokus hingga menemukan beberapa nama, “Ratu Vienny Fitrilya, ah kamu juga Science 6.”

“Wah serius?” tanya Viny, cowok itu mengangguk.

“Ada nama aku juga, hahaha kita bertiga sekelas taunya.”

“Mana-mana, aku pengen liat dong.” Viny ikutan melihat kepada lembaran yang berisikan daftar nama anak kelas Science 6, “Eh iya, Vano Adi Putra, Science 6 juga.”

“AH, Kesel! Kenapa cuma aku yang beda?!” teriak Yupi.

Viny dan Vano lupa, masih ada Yupi dibelakang mereka. Yupi terlihat sangat kecewa karna ia sendiri yang ditempatkan di kelas Science 4. Cewek berponi rata itu cemberut, terlihat butiran-butiran air mata disudut matanya yang siap menetes, dan membasahi pipinya.

“Eh… sorry Yup, Science 4 sama Science 6 deketan kok kelasnya,” kata Viny panik melihat Yupi.

“Iya-iya Yup, entar kita masih bisa ketemu kok pas istirahat,” hibur Vano yang makin panik, apalagi sekarang Yupi malah menangis layaknya anak kecil.

“Huaaaa…. kenapa gak adil?!” rengek Yupi.

“Duh.. duh.. Yup, jangan nangis dong,” kata Vano.

“Gimana nih Van?” tanya Viny, dan cowok berkacamata itu hanya mengangkat kedua bahunya.

“Si Lio mana coba, jam segini masih belum dateng,” kesal Vano.

“Udah dong Yup, diliatin yang lain tuh,” kata Viny.

“Bo bodo ah….,” rengek Yupi.

“Duh gimana nih.” Viny menggaruk-garuk kepala, saking pusingnya menghadapi cewek berponi rata ini. “Ah, entar aku beliin ice cream deh.”

“Nah iya, ice cream! Yuk kantin!” ajak Vano.

“Se serius?” Yupi pun mengusap pipinya yang basah karna air matanya sendiri.

“Iya, yuk kantin,” ajak Viny, dan Yupi pun mengangguk.

“Lio lio, masih jam tujuh pagi princess lo udah ngerepotin aja,” gumam Vano.

*****

Kantin pagi itu masih sangat sepi, hanya Yupi, Viny dan Vano saja yang datang kesana. Wajar, masih setengah tujuh pagi dan Yupi sudah minta ingin membeli ice cream. Kekanak kanakan memang, tapi cara itu yang Viny tau paling ampuh selain memanggil Lio untuk menenangkan si cewek berponi rata.

Sebenarnya Yupi jarang menangis untuk sesuatu yang bisa dibilang remeh begitu, kecuali berhubungan dengan Lio.

“Susah emang ya,” bisik Vano.

“Yah mau gimana lagi, daripada ketahuan sama si waketos-wakil ketua OSIS-bisa jadi masalah entar,” jawab Viny yang duduk disamping Vano.

Kedua orang itu masih memandangi Yupi yang asik dengan ice cream miliknya. Mereka tak habis pikir cewek ini ternyata bisa benar-benar merepotkan.

Tiba-tiba handphone Viny yang ditaruh diatas meja bergetar. Sebuah notifikasi Line terlihat disana. “Cabut yuk, yang jadi Pembimbing Kelas disuruh ke ruang OSIS, briefing dulu katanya.” Viny beranjak dari kursinya diikuti Vano.

“Yup, ga ikut?” tanya Vano.

“Ah iya aku pembimbing juga ya?”

“Iya Yupi, bareng pangeran kamu juga, udah yuk ah cabut, kabarin Lio, Yup,” kata Viny dan Yupi hanya mengangguk.

Di parkiran sekolah sebuah motor Vespa S hitam baru saja tiba. Cowok yang mengendarainya langsung turun dari motor itu dan berjalan ke arah lapangan sambil menenteng-nenteng helm.

“Hadeeeh baru dateng pak, buruan ke ruang OSIS pembimbing disuruh kumpul dulu.”

“Ok thanks ya.”

“Ah iya Lio, lu dicariin Yupi tadi.” Anak yang menenteng-nenteng helm itu hanya mengacungkan jempolnya dan pergi menuju ruang OSIS.

Saat melewati lapangan semua murid baru sudah duduk berbaris disana mendengarkan dua orang kakak kelas mereka yang memberikan beberapa pengumuman.

Sesampainya di ruang OSIS beberapa orang sudah berkumpul disana. Tidak lama setelah Lio tiba, Yupi, Viny, Vano baru saja datang ke ruang OSIS juga. Yupi pun langsung berjalan ke arah Lio melewati Viny dan Vano.

“Susah emang kalau udah ketemu Lio,” kata Viny.

“Ga ketemu Lio aja udah nyusahin,” jawab Vano.

Yupi hanya senyum memamerkan deretan gigi putihnya. Lio pun menggeleng dan membersihkan noda berwarna coklat disudut bibir si cewek berponi rata itu.

“Coklat atau Ice cream?” tanya Lio.

“Tebak,” kata Yupi.

“Masih pagi udah makan ice cream,” kata Lio sambil mengacak-ngacak rambut Yupi.

“Ihhh Lio! Jadi berantakan kan,” kesal Yupi sambil memukul dada Lio hingga cowok itu meringis sebentar.

Dari dekat pintu ruang OSIS Viny dan Vano hanya menggeleng-geleng kepalanya. Mereka heran dengan kelakuan Yupi dan Lio, sebenarnya bukan kali pertama mereka melihat ini, hampir tiap hari malahan. Tapi tetap saja masih tidak mengerti dengan mereka berdua, apalagi gaya pacaran mereka yang dianggap aneh untuk Viny dan Vano.

Setelah waketos datang, semua yang diberi tugas langsung masuk kedalam ruang OSIS. Mereka dibagi tugas untuk membimbing kelas apa selama tiga hari kedepan.

“Bareng sama aku Yup,” kata Viny.

Yupi mengangguk, dalam hatinya berharap semoga kelas yang dibimbingnya tidak akan membuat repot selama tiga hari kedepan. Ia kadang merasa kesal dengan kelakuan murid-murid yang sok merasa dekat dengannya, apalagi sampai ada yang suka menggodanya. Meskipun mereka tahu Yupi itu milik Lio dan Lio milik Yupi.

Seperti awal mereka masuk ke SMA 48 ini, secara terang-terangan ada kakak kelas yang menggoda-goda Yupi, dan kakak kelas itu adalah pembimbing kelas dia selama masa orientasi sekolah. Padahal saat itu Yupi telah berpacaran dengan Lio, meskipun belum cukup lama. Yup, Lio dan Yupi mulai berpacaran setelah mereka lulus dari SMP tepatnya seminggu sebelum masuk ke SMA 48 ini.

Meskipun Yupi berharap seperti itu tapi kenyataanya pasti ada saja seorang murid baru yang akan menggodanya. Apalagi setelah upacara dilapangan selesai, para anggota OSIS diminta memperkenalkan dirinya masing-masing sebagai panitia MOS tahun ini.

Sebenarnya ada hal yang lebih mengganggu Yupi daripada itu. Ia takut Lio akan digodai oleh murid-murid cewek baru. Yupi sadar muka Lio itu tampan bahkan banyak yang tergila-gila padanya, tapi hanya Yupi lah yang beruntung dapat memiliki Lio. Ia pun sedikit bersyukur, Lio juga tahu cara menjaga hubungan mereka, meskipun Lio sering membuat Yupi kesal juga.

“Lio, aku ke deket lapang dulu ya,” kata Yupi.

Lio hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Yupi, setelah itu ia kembali mengobrol dengan rekan yang akan menjalankan tugas sebagai pembimbing kelas bersamanya.

Yupi dan Viny pun berjalan di lorong kelas, dan ternyata sudah banyak murid kelas XI dan XII yang mulai masuk kedalam kelasnya, nampaknya upacara dilapangan telah selesai.

“Semoga sukses buat tahun ini,” gumam Viny.

“Ya semoga, pertama kali jadi panitia MOS soalnya,” jawab Yupi.

Saat dilapangan Yupi dan Viny pun ikut berkumpul bersama rekan-rekan sesama panitia OSIS lainnya. Mereka mengobrol-ngobrol sambil melihat ke arah lapangan, dimana dua orang rekan mereka sedang menjadi MC sambil menunggu para anggota OSIS berkumpul.

Tiba-tiba seorang cowok dengan kamera yang digantungkan dilehernya berjalan ke arah kedua MC itu. Tidak lama salah seorang cewek yang menjadi MC mengisyaratkan agar rekan-rekannya berkumpul dilapangan.

“Tak kenal maka tak sayang, sekarang kita perkenalan dulu gimana? Mulai dari kakak kakak yang cewek dulu, setuju?” ujar salah satu MC, seorang cowok tinggi dengan tingkah laku kocak, Aldo namanya.

Ketua OSIS memberikan tugas sebagai MC kepada Aldo karna ia tahu kalau rekannya itu sangat pas jika menjadi MC. Apalagi disandingkan dengan si cewek bersuara ngebass, akan jadi formula yang pas, tidak akan membuat suasana garing.

“Yuk, kakak kakak yang cewek baris didepan menghadap adik-adik kalian. Kasih tau namanya ok,” kata MC cewek dengan suara sedikit ngebass, Lidya namanya.

Semua cewek anggota OSIS pun satu persatu mulai datang kelapangan. Tak sedikit para adik-adik kelas mereka yang bersorak sorai, apalagi saat mereka tahu kakak-kakak kelas mereka ini sesuai gosip yang beredar dari luar. Ya, SMA 48 ini memang terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik juga.

“Untuk kakak-kakak kelas yang cowoknya, harap ngumpul dibelakang barisan adik-adik kelas kalian ya, setelah ini giliran kalian perkenalan,” kata salah satu MC.

Satu persatu merekapun mulai memberitahu nama masing-masing. Suasana saat itu benar-benar cair, sampai pada akhirnya giliran Viny untuk memperkenalkan diri.

“Sekarang giliran si kakak berambut sebahu ini,” kata Lidya.

“Pagi…”

“Dia punya gue!” Belum selesai Viny berbicara ada seorang cowok yang berteriak dari barisan anggota OSIS yang berkumpul dibelakang .

“Santai Van!” kata Aldo.

“Yak lanjut Vin,” sambung Lidya.

Viny mengangguk. “Nama kakak Ratu Vienny Fitrilya, kalian bisa manggil kak Viny.”

“Padahal aku mau cari berondong Yup, eh tuh anak malah teriak,” bisik Viny, sedangkan Yupi hanya tersenyum melihat tingkah Viny.

“Lanjut ke kakak cantik berikutnya,” kata Aldo.

“Nama aku Cindy Yuvia, makasih,” kata Yupi, singkat padat dan jelas, ia pun memberikan mic nya kepada Lidya lagi.

“Bisa dipanggil apa kak?” tanya Aldo.

“Yupi,” jawab Yupi.

“Yupi kok lucu?!” kata seorang murid baru.

“Kak Yupi kok ngegemesin,” tambah seorang murid lainnya.

“Yupi, balik bareng yuk?”

“Yupi, udah punya pacar belum?”

Yupi hanya tersenyum mendengar perkataan adik-adik kelasnya itu. Padahal didalam hatinya ia sudah merasa kesal, ditambah dengan melihat Lio yang tidak memperdulikannya dan malah asik mengobrol dengan teman-temannya. Padahal pacarnya sendiri diajak pulang bareng dengan orang lain.

Tak mungkin juga jika Yupi marah-marah disini, ia akan di cap menjadi kakak kelas yang menyebalkan selama tiga tahun kedepan. Maka dari itu ia harus bisa menahan emosinya selama tiga hari kedepan ini.

“Maaf-maaf, kakak yang satu ini udah punya pacar, jadi buat kamu yang nanyain dia udah punya pacar jawabannya dia punya,” kata Lidya.

Teriakan kekecewaan terdengar dari anak-anak yang mencoba menggoda Yupi, bukan satu dua tapi banyak. Mungkin jika Lio melakukan apa yang Vano lakukan, tidak akan ada yang berani mengganggu Yupi saat ini.

Acara perkenalan pun kembali dilanjutkan sampai pada akhirnya tiba giliran murid-murid cowok. Sama seperti sebelumnya, satu persatu para murid cowok anggota OSIS mulai memperkenalkan diri.

Saat giliran waketos, hampir seluruh murid murid cewek berteriak memanggil-manggil namanya. Wajar, waketos SMA 48 ini memliki wajah yang tampan, fitambah ia pergi ke sekolah menggunakan motor sport makin menambah kharisma dari si cowok yang menenteng-nenteng kamera DSLR ini.

“Kalian tau siapa nama kakak ini?” Tanya Lidya.

“Kak Reksa Khelana!!!” Teriak murid-murid cewek.

“Wow, populer sekali anda,” kata Aldo.

“Nama kakak Reksa Khelana, thankyou, next ya,” kata Reksa.

“Cepet amat pak, ah iya for you information ya, Reksa ini jomblo jadi yang mau ngantri silahkan,” kata Lidya.

“Lid….”

“Ok maaf pak, peace,” kata Lidya dengan tangan membentuk huruf V.

Dari kejauhan Viny dan Yupi senyum-senyum melihat tingkah laku waketos mereka itu. Memang bukan kali pertama mereka berdua melihat Reksa seperti itu, untuk Yupi malah hampir tiap hari. Secara mereka berdua itu sodara, bukan sodara kandung, hanya saja Reksa adalah anak dari om nya Yupi, yang notabene adalah adik dari Ayah si poni rata.

Reksa ini cenderung diam, dingin, serta cuek sangat berbandung terbalik dengan sodaranya yang sangat aktif dan sifatnya sering berubah-rubah ini.

“Haha… Lucu ya, ga mau di wawancara lebih lanjut, minta langsung giliran yang lain,” kata Viny.

“Dia emang gitu,” kata Yupi.

Sampai saat ini Yupi masih terlihat biasa saja meskipun masih ada satu hal yang mengganjal dalam dirinya, yup soal Lio. Meskipun begitu raut wajah Yupi yang seperti ini dapat tertebak dengan mudah oleh sahabatnya itu, padahal beberapa menit lalu ia sempat tersenyum.

“Lio?” Yupi masih diam. “Emang apa sih yang ditakutin?”

“Ga ada,” jawab Yupi.

“Bohong, pasti cemburu ya, keinget kaya tahun kemaren pas masih jadi murid baru.”

“Engga tahu, itu dia aja yang nyebelin.”

“Halah jangan bohong, teriak dong dari sini ‘Lio, sayang aku cemburu’,” goda Viny yang membuat pipi Yupi mendadak merah.

Sampai pada akhirnya tiba giliran Lio untuk memperkenalkan diri. Sama seperti Reksa sebelumnya, para murid cewek meneriaki namanya.

“Kak Lio!”

“Kakak kok ganteng banget sih?”

“Bagi Id Line nya dong kak.”

“Kak nanti istirahat makan bareng aku yuk di kantin.”

“Kak Lio boleh foto bareng gak?!”

“Hey… Hey…. Santai, kita suruh kak Lio buat perkenalan diri dulu, habis itu kalian boleh nanya, satu pertanyaan aja,” kata Aldo.

Lio hanya senyum kearah cewek cewek yang meneriaki namanya. Kadang kala ia pun melambaikan tangannya membalas lambaian si cewek murid baru. Di belakang barisan murid-murid baru Yupi sudah mengepalkan tangannya. Terlihat ia sangat kesal dengan apa yang dilakukan pacarnya itu.

“Nama kakak Adelio Azka, thankyou.” Setelah memberitahu namanya tak lupa Lio melambaikan tangannya kepada murid-murid cewek yang berbaris didepannya.

Yupi kesal mengapa sempat-sempatnya Lio tebar pesona disaat seperti ini. Apakah ia tak merasa kalau pacarnya ini akan cemburu.

“Ok ada yang mau nanya ke kak Lio?” tanya Lidya.

“Kak Lio udah punya pacar belum?!” teriak seorang cewek.

Baru saja beberapa detik Lidya menawarkan siapa yang mau bertanya sudah ada seorang anak yang menyaut dengan cepat. “Awas aja kalau jawab belum,” gumam Yupi.

“Ayo jawab kak Lio, haha,” kata Aldo

Lio diam sejenak, ia kemudian tersenyum kepada murid baru yang tadi bertanya, “Belum punya,” kata Lio.

Mulut Yupi menganga, kaget mendengar jawaban Lio. Sementara Viny yang sedari tadi diam disamping Yupi hanya bisa menahan tawa mendengarnya.

“Ishhh!” kesal Yupi sambil mengentakan kakinya.

Tak lama kemudian Lidya pun langsung melancarkan jitakannya ke kepala Lio hingga cowok itu meringis sebentar.

“Maaf kak Lio udah punya pacar, suka iseng emang ini anak,” kata Lidya diiringi raut wajah kekecewaan dari para murid-murid cewek.

“Emang ngeselin ya dia,” kata Viny.

“Udah jelas!” kata Yupi.

“Tapi kok kamu bisa tahan? Ah iya kalian kan pasangan aneh,” kata Viny.

“Kalau sekali lagi dia bilang gitu aku putusin serius!” kesal Yupi.

“Emang kamu yakin bisa putusin Lio? Bukannya dulu pernah bilang ‘aku ga sanggup kalau pisah sama Lio’.” Viny tersenyum menggoda sahabatnya.

Yupi terdiam nampak berpikir, sementara Viny hanya tersenyum melihat Yupi yang kebingungan. Sampai akhirnya Viny tertawa mendengar jawaban Yupi. “Aku ga bisa.”

“Hahaha, udah aku tau kamu emang ga bisa,” kata Viny.

“Wey kakak kakak yang dibelakang harap tenang,” kata Aldo.

“Ok kak, maaf,” kata Viny sambil menahan tawanya.

*bersambung.

 

-Adelio Azka-

Kepikiriran buat ini cerita gegara denger lagunya petra sihombing sih yang judulnya MINE, jadi keinspirasi gitu lah.  Ah iya mungkin cerita ini ga ada jadwal pastinya, jadi mungkin kalau gue bisa selesai cepet bakal langsung dikirim, kalau masalah diposting sih gimana adminnya. Semoga suka sama ceritanya. Thankyou.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s