Fiksi dan Fakta part 49

*Flashback On

Debat sengit sudah dilewati Jaka. Tak ada lagi tekanan dalam dirinya. Meskipun semua orang berteriak mencemoohnya, ia tak menggubris perkataan buruk mengenai ‘OSIS’ tersebut. Hanya dengan ini dia bisa turun langsung untuk memberikan pikirannya kepada sekolah.

Gerbang sekolah pun terasa semakin akrab. Sudah tahun kedua, masa-masa kelam pun sudah berakhir.

“Apa-apaan, Masa berandalan gitu bisa jadi ketos sih..!” Keluh seorang gadis yang sedang bersender dan melipat kedua tangannya disamping pintu perpustakaan.

“Maksud kamu Razaqa?” Mike muncul begitu saja.

“Eh?”

“Ya, maksud kamu dia berandalan gitu?” Ulang Mike.

Gadis bernama Shania itu terdiam.

“Dia bukan berandalan, dia bukan orang jahat. Emang kamu kenal dia?”

“Maaf.” Shania membungkuk.

“Heh?”

“Maaf, aku cuma emosi sesaat. Itu memang ga pantes. Maaf..” Shania dengan nada bersungguh-sungguh.

“Eh, Gausah gitu, Shan. Santai-santai..” Mike merasa tidak enak.

Shania kembali menatap Mike.

“Hmm.. kamu gamau kenal dia?” Tanya Mike.

“Dia?”

“Ya, Zaqa..”

Pipi Shania memerah.

“Emm.. mau. Aku ke-kenal dia kok..” Shania tertunduk salah tingkah.

“Hahaha.. dia punya banyak ambisi. Kalo kamu punya keinginan untuk jadi seseorang yang besar, kamu wajib kenal dia..” Mike tertawa ringan.

“Hmm..” Shania berpikir sejenak. Ia menggigit bagian bawah bibirnya, sedang meragukan sesuatu.

“Ya?” Mike menunggu Shania.

“Mickeyy!! Udah ketemu nih bukunya!!!” Seru sang pacar heboh sambil membawa sebuah komik dari dalam perpustakaan.

“Eh, udah ketemu?” Tanya Mike.

“Hehehe iya nih! Wah, ada Shania juga ya.. Hai Shania! Kita jalan dulu ya.. See you!” Shania hanya tersenyum tipis kearah Elaine dan Mike.

Ada sebuah pertanyaan yang tertahan.

“Iya, Kwek. Sabar tauk! Shan, kami duluan ya!” Mike dan Elaine melambaikan tangan pada Shania.

Mereka pergi menuju kantin untuk sekedar bercerita atau malah pergi ke taman belakang sekolah.

‘Inilah Ketua OSIS SMAN 48 yang-‘

“Oy! Jangan sembarangan lu! SMU 48 oy!” Teriak Wisnu, wakil Kesenian heboh.

“Tenang nu! Boleh diralat?” Pinta Ario.

Semua murid bersorak. Guru dan staff karyawan hanya menggeleng-geleng menyaksikan kesembarangan pemuda-pemuda penuh semangat ini.

‘Inilah Ketua OSIS SMU 48 yang baru! Razaqa Nafan!!’

Seketika, semua orang betepuk tangan. Tak terkecuali guru-guru bahkan kepala sekolah. Momen itu sangat tak terlupakan bagi Jaka.

“Selamat ya..” Shania menyodorkan tangannya.

“Eh, makasih banget shan! Hehehe..” Jaka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

‘Kok jadi canggung gini?’ Pikir Jaka.

“Aku kesana dulu ya..” Tunjuk Shania pada kerumunan teman-teman seperjuangan di OSIS.

“Iya, nanti aku nyusul..” Jaka memutar bola matanya, coba mencari 2 sahabatnya itu.

“Yo, Raz! Congratulation brother!” Bobby datang menghampiri Jaka dengan raut gembira andalannya.

“Lu baik kan, Bob?” Tanya Jaka sedikit ragu.

“Hahaha.. never better! Mana nih yang lain?”

“Gatau tuh, gue juga nyariin daritadi.”

“Hahaha..” Bobby ikut menoleh kesana kemari.

“Eh, Bob. Hmm.. soal lo. Beneran gapapa?”

“Hahaha.. lu ngomong apa sih raz?”

“Gue serius-__-“

“Fiksi dan fakta, huh?” Bobby menaikkan alis sebelah kirinya.

“Come on..” Jaka melengos tak puas.

“Cuma itu. Cuma itu caranya kalo lu mau senyum lagi, kalo lu mau buka lembaran baru..”

“Hmm.. gue ga-“

“Oy! Raz! Legend!!” Teriak Mike dari jauh.

Jaka dan Bobby menoleh. Terlihat Mike melambai-lambaikan tangannya heboh. Disamping Mike, Kelpo berdiri tersenyum sambil menenteng sebuah buku bacaan tebal di tangan kirinya.

“Dari nyompret, Mike?” Tanya Jaka geli.

“Paan dah nyompret? Hahaha..” Bobby terbahak.

Kelpo hanya tersenyum-senyum geli, ditambah raut wajah Mike yang langsung berubah kesal.

“Ga dicariin Ica lagi lu? Hi-hat belah dua, gimana ceritanya? Hahaha..” Bobby merangkul Mike, memaksanya untuk mengingat kejadian memalukan beberapa waktu sebelumnya.

“Hedeh.. tuh hi-hat dah bau tanah. Ya wajar-wajar aja..” Bela Mike.

“Hi-hat yang mana dah?” Tanya Kelpo.

“Anu.. drum itu kan?” Sahut Jaka.

Bobby dan Mike menatap serius kearah Jaka.

“Anu! Hahaha..” Keduanya tertawa heboh.

Mereka berpisah setelah itu.

Sementara SMU 48 sudah cooldown dari segala macam kerusuhan. Tersiar kabar bahwa sekolah-sekolah di wilayah Indonesia melakukan pemilihan ‘Pemimpin Perang’ mereka masing-masing dengan cara mengadu semua calon. Yang paling kuat akan menjadi Pemimpin.

“Udah baca lu, Po?” Kelpo hanya nyengir menanggapi raut wajah Mike yang terlalu serius.

“Et dah, lu masih mikirin itu aje..” Jaka mengacak-acak rambut Mike.

“It’s serious Jak, Po. Kemarin itu ada korban loh. Kali ini, semua orang bersiap-siap. Negara ini bisanya ikut-ikutan doang..”

“Take it easy, Car. Ya, kita jadi trendsetter dong..” Jaka menyulut rokoknya.

“Jak, asepnya!” Kelpo mengingatkan.

“Iya ya, hehehe.. Fiksi ma fakta nih, gue ngakrabin nih barang..” Jaka berdalih.

“Ngakrabin pale lu..” Kelpo mendesah kesal.

“Kalian pada enteng banget sih. Masalah kita ini belom selesai! Gilanjing itu aja masih disini. Wtf!” Mike memukul-mukul kepalanya.

“Ngapain lu pukul-pukul gitu? Otak lu tetep kaga bisa jalan kan? sia-sia..” Sahut Kelpo.

“Serius dikit dong! Gue ga puas ama ini semua!” Mike memukul meja ruang klub sastra tersebut.

“Nih ruangan mo dipake lagi oy!” Kelpo berteriak mengingatkan.

“Yaudah, mau lu apa coba sekarang?” Jaka memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Gue capek, Raz. Kita ngehibur diri cuma buat sesaat. Orang-orang kampret kemaren masih berkeliaran!” Seru Mike.

“Lu capek? gue juga. Ngehibur diri? cuma itu yang bisa kita lakuin. Orang-orang kampret masih keliaran? Lah, terus mau lu tangkepin trus mutilasi gitu? bukti lu apa?!” Balas Kelpo.

Mike mengepal tangannya. Jaka segera menyuruh Kelpo duduk menenangkan diri.

“Coba, apa yang ngusik lu?” Tanya Jaka lagi.

Mike memejamkan matanya, perlahan ia melemaskan kepalannya.

“Gue cuma selalu berpikiran negatif untuk akhir dari ini. Gue yakin bakalan banyak yang harus gue korbanin..”

“Hidup itu juga untuk berkorban Mike…”

“Nope, Jak. Bukan berkorban gitu. Maksud gue, bakalan banyak yang bakal pergi dari gue. Fiksi & fakta? Itu cuma jadi pegangan masing-masing.”

“Who knows, Mike? Kita belom ngintip masa depan kan? Kita belom tau..” Terang Kelpo.

“Gue tau, tekanan lu pasti di Elaine..” Jaka merangkul sahabatnya itu.

“Dia ngelarang gue, Jak. Gue gabisa balik lagi ke masa-masa kemaren..” Mike tertunduk.

“Anggep ini pelajaran, Mike..” Jaka mengusap bagian belakang temannya itu.

“Dia bilang, jangan ikutan rusuh-rusuh gini lagi. Gaada manfaatnya. Dia mau gue nemenin dia terus..”

“Itu istilah Mike..” Jelas Jaka.

“Nope, Jak. Nemenin dia itu bukan perumpamaan. Dia serius. Gue harus disamping dia. Gue gaakan biarin dia disakitin..”

“Kita ngelakuin ini buat orang yang kita sayang, Mike.” Jaka kembali bersuara.

Sebenarnya, Jaka tak punya kekuatan apapun untuk membahas ini sekarang. Tapi ia terus menimpali temannya itu.

“Gue sayang kalian. Tapi, ada orang yang juga harus gue lindungin, Jak.” Mike kembali bersikeras.

Ternyata, sejak tadi Kelpo sudah mengepal tangannya erat-erat.

“Lagu lama mulu lu! Lu kira lu doang yang punya orang yang lu sayang?! Tai lu-“

“STOP!” Teriak Jaka dengan sedikit mendorong mundur tubuh sahabatnya itu.

“Kita memang ngalamain waktu-waktu sulit! Ini wajar! Jangan kalah ama keadaan!” Jaka melerai keduanya.

“Kewajaran macam apa, Raz?!” Potong Mike.

“Nada lo biasa aja!” Kelpo bangkit kembali.

“Udeh! Gausah pake otot! Lu berdua gaada bedanya!” Jaka menendang kursi didekatnya hingga terbalik.

“Gue juga pengen punya masa depan! Gue punya modal impian! Bukan cuma lo, Car! Bukan cuma Razaqa! Bukan cuma Bobby yang ga naik kelas itu! Bukan cuma bule-bule gajelas itu!”

“Vin, tenangin diri lu..” Ucap Jaka lirih.

“Lo denger, Mike!”

“Vin..!”

“So, gue tanya. Apa impian lo, hah? Jadi motivator sukses sementara hidupnya berantakan?!”

“Mo mati ya-“

Jaka menahan tangan Kelpo.

“Jaga mulut lo, Car!” Jaka mulai panas. Ia menggenggam kerah kemeja Mike.

“Liat lo! Apa yang kurang dari lo?! Lo punya jabatan, skill, nama, keluarga, bahkan tampilan lo bagus! Apa peduli lo ama gue?” Mike menegaskan kalimatnya pada Jaka.

“Lo bener-bener mau-” Jaka tertahan. Ia melepaskan genggamannya. Tangan kanannya yang sudah terkepal kuat pun ia lemaskan.

“Mau apa, Raz? Lo pukul aja gue ampe mampus! Terse-“

“DIEM! JAGA MULUT LO!” Teriak Jaka kesal.

“Gue gamau gagal sekalipun! Tapi kalopun gue terpaksa, lebih baik gue gagal ngewujudin impian gue, daripada gagal sebagai sahabat..” Kelpo menekankan kalimatnya.

“Itu terserah lo. Gue gaakan gagal, gaak-“

“Terserah lo, Mike. Sekarang bukan lagi tentang ‘Blok Sony’, ‘Blok Iman’, atau ‘Blok Fuuto’. Sekarang tentang ‘Michael Oscar dan Impiannya’.” Jaka terduduk.

“Bicara soal cewek. Lo harus pertimbangin banyak hal.”

“Gausah ceramahin gue, Kelv!”

“Gue juga punya cewe yang mau gue lindungin.”

“Sekarang, dia pacar lo ato sekedar sayang doang?!” Tembak Mike.

Kelpo terdiam.

“Setidaknya, jangan gegabah-“

“Gue muak ama lo! Gausah ngasih pencerahan gaberguna gitu!” Teriak Mike lagi.

Kelpo kembali bangkit. Jaka tak lagi berkutik. Dia hanya terdiam.

“Lo emang sampah, Car! Dari dulu! Dasar klepto, goblok-“

“Terserah! Yang jelas gue gaakan rela kalo gue kehilangan apa yang ada digenggaman gue..” Mike segera bangkit meraih jaketnya dan bergegas meninggalkan ruangan klub sastra.

“Oy bangsat! Lu genggam sekuat-kuatnya ampe ancur semua tuh bacotan lu! Gue kaga peduli!” Kelpo meneriaki Mike, diikuti Jaka yang segera menenangkannya.

Emosi mereka memang sedang tidak stabil. Harus ada penengah, selalu. Ini sangat dibutuhkan.

Bel pulang sekolah berbunyi. Setelah membantu Sinka mengembalikan perlengkapan praktek biologi, Jaka bergegas turun sambil menenteng tas punggungnya, kebiasaan lama.

“Raz, coba cek ini..” Panggil Sinka lagi sambil menunjukkan sesuatu.

Jaka segera menyimak layar ponsel Sinka.

‘Pembunuh Berkewarganegaraan Asing : Sudah Terbukti atau Belum?’ Begitulah judulnya.

Baru melihat judul saja, Jaka sudah menghela nafasnya.

“Baca baris ketiga..” Ucap Sinka.

‘Terkait kasus ini, sekolah yang berkaitan tak akan dipromosikan ataupun diubah statusnya. Dengan kata lain, wacana pemerintah akan di lewatkan dari sekolah tersebut.’

“Oh, jadi karna ini Sin?” Tanya Jaka.

“Iya. Karena ini kita disuruh nyepetin semuanya. Crowded banget kan?” Sinka mendengus kesal.

“Hmm.. kamu dapet darimana, Sin?” Tanya Jaka.

“Hmm.. dari blog gitu”

“Ohh..”

Sinka hanya mengangguk-angguk.

“Ini baru di blog dia, ntar beberapa jam lagi pasti diberitain semua orang.”

“Aku pernah sih baca salah satu berita terkini di blog gitu.” Ucap Jaka tak yakin.

“Blog apa?”

“Hmm.. gatau lupa. Kalo gasalah penulisnya itu… haduh siapa itu..”

“Joe?”

“Ah iya! Joe Fariz kan?” Ingat Jaka.

Sinkaa mengangguk-angguk.

“Dia yang nulis ini..”

Jaka hanya membalas dengan membulatkan mulutnya.

“So, mulai minggu depan kita udah harus jalanin program kan?”

“Lebih cepat lebih baik pak ketos!” Sinka berpose hormat.

“Hahaha.. oke deh. Aku duluan ya.. Ada urusan dikit sama anak-anak..”

Sinka sedikit tertahan.

“Raz!” Panggil Sinka.

Jaka menoleh dengan tatapan heran.

“Ya, Sin?”

“Hmm..” Sinka mendekat ke arah Jaka lagi.

“Ada sesuatu?”

Sinka berbisik kepada Jaka.

“Itu.. yang itu.. dia keluar? serius?” Tanyanya.

“Siapa?” Tanya Jaka tidak mengerti.

“Hmm.. yang nar..koba itu…”

“Satria?” Tebak Jaka.

“Eh.. kecil-kecil aja dong..”

“Ini udah kecil plus pelan Sin-_-” Jaka memasang muka segaris.

“Is that true?”

“Probably yes, probably not. I have no idea ’bout him..” Jaka berlalu seolah tak peduli.

“Hmm..”

Jaka tertahan, dan kembali menoleh.

“Ada apa lagi, Sin?” Jaka memutar tubuhnya 40 derajat lagi, kini posisi mereka berhadapan.

“Dia dapet nilai tertinggi kemaren..”

“WTFAAAKK!!” Jaka terkejut bukan main. Semua murid yang masih berada di sekitar lapangan menoleh kearah mereka.

“Ah, udah dulu ya.. Bye..” Sinka kini yang bergegas pergi.

‘DRAP!’

Jaka menahan tangan Sinka.

“Kalo kamu mau ngasih tau sesuatu atau mau tau sesuatu, jangan ke aku. He’s my friend. Nyesek banget rasanya..”

Mata Sinka berkaca-kaca.

“Aku duluan ya..” Sinka pergi begitu saja.

Selama ini, ia telah merencanakan proyek jangka panjang untuk angkatan kami. Sebuah film dokumenter. Tak hanya pada Satria, ia juga meresapi semua hal yang ia rekam.

Jaka berjalan menuju luar gerbang sekolah. Ia tak membawa kendaraan hari itu. Mungkin sedang ingin berjalan-jalan saja.

‘PRUK!’ Sebuah tepukan kecil mendarat di punggung Jaka.

“Eh?” Jaka menoleh.

“Emm.. kamu murid SMA 48 ya?”

“Ya? Ada apa? kalau boleh tau..”

“Emm.. ketua OSIS kalian siapa ya?” Tanyanya telak.

“Eh?!” Jaka terkejut.

“Emm.. ma-maaf. Saya dari Jakarta. Sekolah Khusus Wanita, Naillana International School.”

“Emm.. saya ketua OSIS yang baru disini.”

“Baru?”

“This is my first day, hehehe..”

Gadis itu tersenyum manis.

“Jadi, besok akan ada perwakilan yang datang ke SMA ini. Kerjasama swasta-negeri.”

“Ohh, mau liat ke dalem?” Ajak Jaka.

Gadis itu sedikit ragu.

“Tapi, kamu beneran ketua OSIS?”

Jaka tersenyum lebar mendengar pertanyaan gadis tersebut.

Tak ada kecurigaan khusus. Wajah, penampilan, bahkan tubuh Jaka nyaris sempurna. Sangat pantas jika ia memegang jabatan di sekolah itu.

“Nah, ini ruangan kepala sekolah. Dari sini, kita bisa langsung ke belakang. Di belakang ada taman, tapi bukan lapangan ya.. hehe..” Jaka menatap gadis itu teduh.

Gadis itu cukup menarik. Posturnya lebih pendek dari Jaka. Pada dasarnya tak terlalu cantik, namun menggoda. Tatapannya sedikit tajam, menancap dengan baik.

“Eh, itu tuh ketua OSIS yang dulu. Namanya kak Ario.”

“Yang mana?”

“Itu tuh.. yang lagi bertiga. Nah, Ario yang pake jaket biru ditengah.” Tunjuk Jaka.

“Boleh kita kesana? Mungkin dia udah denger kabar ini..”

Jaka mengangguk setuju.

“Yoo Razaqa! Ada apa?” Sambut Ario dan 2 orang temannya yang lain.

Mereka sedikit berbincang.

“Ahh.. gue inget. Naillana pernah beberapa kali hampir deal sama sekolah kita. Program kalian yang bahasa Jerman kan? Gue ingetnya gitu.”

“Iya, bener. Kami beberapa kali berencana kesini, tapi selalu batal. Kali ini bertepatan sama kunjungan murid-murid ke tempat wisata di Bandung, beberapa orang diutus kesini deh.” Gadis itu tampak antusias.

Jaka dan 2 orang teman Ario hanya diam menyimak. Kurang lebih 15 menit mereka mengobrol, Gadis itu pamit untuk pulang.

“Bentar. Gue kayanya ga asing ama lo. Lo punya kakak?”

Gadis itu menggeleng.

“Ah iya, kita belum kenalan. Nama aku Nadhifa Salsabila. Aku dipanggil-“

“Nadhifa! 1 dari 5 anggota tim yang menang di Design Contest Berta! Kenal Dasyril Sammir ga?” Tanya Ario lagi.

“Kenal! Sepupu-ku temen deket dia..”

“Cool! Naillana juga ikut ke push karna nama besar Berta International School.”

“Iya, ownernya sama. Kami sering study bareng. Kebanyakan siswi Berta yang berpotensi digandain aktivitasnya. Tapi, kunjungan-kunjungan kami gapernah bareng mereka.” Jelas gadis bernama Nadhifa itu.

Beberapa saat kemudian, Nadhifa benar-benar sudah berjalan keluar ditemani Jaka.

“Jadi, kamu punya sepupu di Berta?”

“Eh, iya. Tapi dia sering pindah-pindah. Jogja-Jakarta-Jepang. Sekarang, dia lagi di Korea. Dia jalanin bisnis gitu. Eh, maaf. Jadi kebanyakan ceritanya.” Nadhifa berhenti.

“No problem. Nad.”

“If it’s sounds weird. Just call me Nadse.”

“Nadse? Bukannya lebih aneh?” Jaka menatapnya bingung.

Nadse tertawa sejadi-jadinya.

“Ternyata kalian orangnya baik-baik. Ga terlalu juga logatnya. Hmm.. so fun disini..” Nadse tersenyum riang.

“Ah, kalo ke Bandung jangan sungkan. Dateng aja kesini.”

“Hahaha.. siap. Aku-” Nadse terhenti.

“Ya?”

“Nama kamu siapa?” Tanyanya penasaran.

“Razaqa Nafan. Panggil Razaqa aja.. hehehe..” Jaka menggaruk kepalanya.

“Okay, Raz. See you besok! Semoga kerjasama kita berhasil!” Nadse melambaikan tangannya dan masuk ke mobil Mercedes hitam yang sudah terparkir sejak tadi.

*Flashback Off

“3 hari berlalu dan kami masih merasa begitu kehilangan.” Begitulah kira-kira pembukaan dari ayah Elaine.

Mike masih tak mau keluar. Liburan tersisa 5 hari lagi.

“Razaqa pergi, Bob?” Tanya Kelpo.

“Yup, Kelv. Gue udah kesana sih tadi. Mungkin kan yang deket sama papanya ya kalian..”

Kelpo menarik nafas panjang.

Sementara itu, Jaka berjalan menyusuri taman belakang rumah. Sepengetahuannya, ini adalah rumah pribadi keluarga Elaine. Rumah yang besar, dengan halaman yang cukup untuk bermain futsal.

“Yoo Razaqa!” Panggil seseorang.

Jaka berbalik.

“Ian?”

Ian hanya tersenyum dan segera memeluk temannya itu.

“Lu belom pergi?”

“Not yet. YanboMabo’s still confusing. Kabar terakhir, mafia-mafia ngeburu mereka.”

“Dampaknya?”

“Banyak. Tapi yang paling penting, kita harus nangkep dia duluan. Dia harus mati.” Ian menyulut rokoknya.

“Rokok luar?” Tanya Jaka.

“Hahaha.. gitudeh Raz. Mau?” Tawar Ian.

“Ga, silahkan.” Tolak Jaka halus.

Tiba-tiba seorang perempuan memanggil Ian.

“Iya dek, ada apa?” Balas Ian.

“Lagi di belakang ya?!” Balas suara itu lagi.

“Iya..!”

“Adik lu?” Tanya Jaka.

“Sepupu, Raz. Kaya Elaine, meskipun sepupu tapi dah gue anggep kek saudara kandung semua.”

“Lu punya adik?”

“4 adik sepupu. Elaine salah satunya. Trus 2 dari kakak nyokap gue. 1 lagi dari kakak bokap, tapi bukan anak kandung. Entah gimana, yang 2 bersaudara itu deketnya ke dia. Papanya Elaine sendiri adeknya bokap gue. Nah, gue sendiri deket ama Elaine karna dulu kami kesayangan opa.” Jelas Ian sambil mengingat.

“Kalo adik kandung?” Tanya Jaka lagi.

“Hmm.. 2. Cowo semua dan jangan lupa, mereka kembar. Hehehe..” Ian sedikit tertunduk.

“Mereka ga di sini?”

“Car crash. Gue waktu itu sakit dan ga ikut pergi. Papa Elaine jemput gue tiba-tiba. Opa nangis. 3 hari kemudian, gue baru sadar kalo mereka semua udah pergi. 2 minggu kemudian, Opa nyusul mereka.”

“Sorry, yan. Gue bener-bener gat-“

“Gausah minta maaf, Raz. You know, terkadang hal kaya gitu yang membuat kita makin takut gagal. Ga rela hidup kesepian selamanya. Makanya gue sayang ama sepupu-sepupu gue.” Matanya berkaca-kaca.

Jaka sangat tak tega melihat Ian yang seperti ingin marah dan berteriak namun tertahan.

“Gue salut ama lu Yan…”

Ian menoleh.

“Kita baru kenal. Bahkan kita belom hafal nama kita satu sama lain. Tapi, lu emang ahlinya. Lu orang yang bisa dipercaya. Dan gue bener-bener sayang ama Elaine. Gue harap rasa sayang kita semua sama. Just thanks bro.” Ian mematikan rokoknya.

Ian menghirup nafas dalam-dalam.

“You can count on me, brother.”

“Sekali lagi, thank you so much. Gue harap, gue terus belajar. Tepatnya, kita semua bisa terus belajar.” Mereka tersenyum satu sama lain, lalu kembali menatap kedepan.

•Skip

Rombongan sudah mulai banyak yang berdatangan. Ian dan Jaka memutuskan untuk kedepan. Setidaknya hanya memunculkan batang hidung mereka. Tak banyak yang menyapa Ian. Selain ia tak memiliki banyak keluarga dekat, keluarga jauhnya juga tak mengetahui bahwa Ian sebenarnya anak pertama sekaligus cucu pertama Opa karena dulu kedua orangtua Ian selalu berada di luar negri dan Ian selalu ikut orangtuanya, kedua adiknya yang masih bayi dititipkan di rumah keluarga ibunya.

“Hey, Raz!” Panggil seseorang yang sepertinya tak begitu asing.

“Kak Falvi?” Jaka menangkap wajah orang yang memanggilnya itu dan segera memeluknya.

“Lo ngapain disini, Raz?”

“Ini pacarnya Mike, Kak…” Ucap Razaqa pelan.

“Wait! Oscar? Wajar Sony pergi gitu aja ama Tara. Tapi lo serius, Raz?”

“Serius, kak.”

“Oh come on. Gue bener-bener gatau.”

“Kita bahas nanti aja, kak. Yang lain masih dirumah om Vino.”

“Oke deh.”

“Eh, kak. Kenalin nih, Ian. Sepupu Elaine sekaligus temen kami juga. Dia juga ikut buru YanboMabo.”

“Ohh.. salam kenal yan..”

“Afrexyan. Ian.”

“Falvian. Falvi aja, hehehe..”

Mereka sedikit berbincang-bincang.

“Ada apa, kak? Kek resah gitu..”

“Ini gue bingung. Ada yang mo gue kenalin juga nih, tapi gatau dianya kemana. Apa udah masuk kali yak?”

“Emang siapa?” Tanya Ian.

“Ade gue, hehehe..”

“Ohh.. yang dulu kakak kelas gue ya?” Celetuk Jaka langsung.

“Ah iya! Lo kenal kan?”

“Belom, hehehe. Jarang ngomong dia mah..”

“Iya tuh, gue yang abangnya aja bingung. Tapi dia bisa punya pacar. Aneh juga.”

“Ohh, btw lo kesini gara-gara apa fal?”

“Ini, pacarnya dia. Sepupu pacarnya dia yang meninggal.” Falvi masih resah.

“Lahh..” Jaka dan Ian saling tatap.

Falvi diam sejenak.

“Lahhh.. sepupu Elaine dong?!!” Kaget Falvi.

“Sepupu gue juga dong?!!” Ian sama kagetnya.

Jaka hanya menatap 2 orang terdekatnya itu bingung.

“Adik lu Manda?” Tanya Ian langsung.

“Iye, lo sepupu Nova?”

“Hahaha iya.” Mereka kemudian berjabatan tangan, sementara Jaka hanya diam melongo.

Tak lama sepasang kekasih yang mereka bicarakan tadi keluar.

“Kak, aku cari didalem loh.” Ucap Manda.

“Eh, Bang Ian kenal kak Falvi juga?” Tanya Nova bingung.

Obrolan pun tak terelakkan. Elaine yang pergi seolah membuka jalan bagi sahabat dan keluarganya untuk mengeratkan tali persaudaraan diantara mereka.

“Nov, Nevan ama Dhifa mana?” Sela Ian ditengah obrolan.

“Dhifa didalem, Nevan keluar bentar kayanya.”

“Itu siapa lagi, yan?” Tanya Jaka heran.

“Nah, Nevan itu kakaknya Noval. Kalo Dhifa, dia yang anak om gue itu.”

Jaka hanya ber-oh ria.

“Mau aku panggilin, bang?” Tanya Noval.

“Itu tuh Dhifa!” Tunjuk Manda antusias.

Semuanya menoleh, tak terkecuali Jaka.

“Hai semua!” Ucapnya riang.

Berbeda dengan lainnya, Jaka diam terhenyak.

“Dhifa bukannya cowok?” Tanya Falvi.

“Hahaha.. enggalah Fal. Ini nih si bungsu!” Ejek Ian geli.

“Bang Ian mah gitu. Salam kenal semua, aku Nadhifa!”

‘TENG…..’

Jaka mati rasa.

“Nadse?” Panggilnya pelan.

Orang yang lama tak ia jumpai itu menoleh dan menangkap seseorang yang sepertinya sedikit terlupa itu.

“Kamu?”

“Razaqa!” Seru Jaka cepat.

Wajah Nadse langsung berubah.

“Wahh… udah lama banget ga ketemu!! Oh iya, kamu kan adik kelas kak Manda juga!”

“Jadi, kamu sempet ketemu Razaqa?” Tanya Manda.

“Kan sebelum aku dateng nemuin kelas 12, sehari sebelumnya aku ketemu ketua OSIS yang lama. Ya, Razaqa yang nemenin ketemu.. aduh siapa itu-“

“Kak Ario.” Ucap Jaka.

“Nah itu tuh!” Nadse teringat.

“Ario? Yang tinggi itu bukan?” Tanya Ian.

“Engga tinggi banget yan, Ario yang ketos lama itu giginya rada berantakan gitu..” Jelas Jaka.

“Ehh bentar bentar, gue ada 2 temen dari Bandung yang namanya Ario. Dia kalo ga salah punya C70 kan?” Tanya Ian pada Jaka.

“Oh bukan. Itu Soyok, namanya Ario Sokin, anak Suta Wijaya. Ini Ario yang bawa Vespa, yan…”

“Ohh… iya iya gue inget. Dia temen kelompok gue pas study 3 kota tuh. Dia junior gue jatuhnya. Wah gue inget tuh, kami berlima ama anak-anak yang lain balapan turun puncak gapake baju. Sampe bawah muntah-muntah. Hari terakhir itu.” Mereka semua tertawa membayangkan kegilaan yang Ian ceritakan.

“Ohh.. pantes kak Ario sempet nanya gitu. Tapi aku ga mirip bang Ian kan?” Tanya Nadse pada yang lain.

Mereka kembali tertawa geli.

“Wah, bener-bener ga nyangka kita semua bisa kenal gini.” Ian merangkul Jaka.

“Eh, kamu kok bisa disini, Raz?” Tanya Nadse.

“Aku kan temen satu sekolah Elaine.”

“Eh, Elaine di SMA 48 ya?”

“Iya ya, kalian kan ikut rapat perpisahan juga.” Ingat Manda.

“Iya. Razaqa, Elaine, sama pacarnya Elaine satu sekolah..” Celetuk Falvi.

“Kok aku gatau ya..”  Nadse bingung.

“Eh, gue juga gatau.” Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Lah, lo gatau juga yan?” Tanya Jaka bingung.

“Gue gatau kalo Elaine SMA 48. Sumpah..”

“Dia udah 2 tahunan ga main kesini. Terakhir pun, dia gabilang.” Sela Noval dengan nada kecewa.

“Terakhir, om nyuruh gue jemput dia di Bandung. Dia ga keliatan sakit sih, tapi dia ga cerita apapun tentang kehidupan pribadi dan sekolahnya.” Seketika, suasana kembali diselimuti haru.

Singkatnya, hari itu telah usai. Jaka dan yang lainnya mendapat undangan dari keluarga besar Elaine. Seperti kumpul sesama keluarga saja, tepat dihari ke 4 kepergian Elaine. Tentu mereka harus bangkit dari kesedihan. Bagaimanapun, Elaine sudah tenang disana. Untuk apa meratapi kepergiannya terus menerus.

-••-

“Raz, aku nemuin ini..” Michelle menyodorkan suatu selembaran yang dibungkus rapi kepada Jaka.

Jaka yang masih diam dengan pikirannya itu tak mengucapkan apapun, bahkan tak ada kontak mata sedikitpun kepada Michelle yang juga tampak sedih.

‘Shania Gracia’

Satu nama pun muncul menghiasi otak Jaka. Sebuah foto Jaka sedang menopang dagunya, seperti anak kecil yang manja. Berlatarkan dinding pura dengan kain khas Bali yang menghiasinya. Jaka tak menunjukkan ekspresi apapun, dia seperti heran memandanginya. Ia menangkap sesuatu yang menarik, tulisan dibalik foto tersebut.

‘Razaqa Nafan Gunawan

Mirip anak kecil ya kamu..

Soon, I’ll see you soon..’

Jaka terdiam. Ia bangkit dan langsung berlari mencari seseorang.

“Chel!!! Chel!!” Panggil Jaka.

Michelle segera datang memenuhi panggilan Jaka.

“Gre, is she okay?”

Michelle kaget mendengar pertanyaan Jaka.

“Emm.. yeah..” Michelle tampak yakin.

“Serius? gaada kabar yang aneh-aneh kan?”

Michelle menggeleng mantap.

Jaka seolah puas begitu saja. Ia berbalik dan berjalan tenang menuju tempat duduknya tadi.

“Raz!” Panggil Michelle lagi.

Jaka berbalik.

“I wanna talk..” Ucap Michelle tegas.

“Sekarang?”

“Yup. Aku beresin dapur bentar..”

Jaka membalas Michelle dengan thumb up dinginnya lalu duduk di sofa ruang tengah. Entah dimana yang lain, namun Jaka merasa seolah hanya bersama Michelle dirumah itu.

“Diminum dulu..” Michelle datang membawa 2 gelas teh.

“Yup. Kamu mau bahas apa, Chel?” Jaka langsung menembak obrolan.

“Gre.. Kamu inget dia?” Tanya Michelle.

“Iyalah. Dia kenapa?”

Michelle menarik nafasnya.

“Kalo aku minta kamu buat nemenin dia, kau mau ga?” Michelle menatap Jaka dengan mata berkaca-kaca.

“Eh? Kamu ngomong apa? Maksudnya-“

“Denger dulu, Raz! Please..” Michelle memotong begitu saja.

“Sok..”

“Pas kita di Bali, dia ada disana kan?”

Jaka mengangguk. Masih dengan ekspresi bingungnya. Mengingat kembali, apa saja yang ia lakukan bersama Gre.

“Dia semacem lari dari masalahnya..” Michelle masih mencari-cari kalimat yang tepat untuk melanjutkan.

“Masalah apa? Di Australia?”

“Hmmm.. she’s depressed, Raz..”

Jaka terdiam.

“Pas aku jalan sama dia, emosinya emang ga stabil banget. So, she’s not okay?” Jaka coba memperjelas.

“Dia bilang, dia seneng bisa kenal kamu..”

“Syukur deh, gimana kabar dia seka-“

“Ini masalahnya, Raz! Aku mohon kamu jadi pacarnya!”

Jaka terkejut. Ia segera berdiri dari sofa. Wajahnya pucat.

“A…ada apa… chel?”

Air matanya sudah tak terbendung lagi.

“Pas aku nganterin kalian ke bandara, dia udah jelasin banyak hal tentang kamu. Aku terus dengerin cerita dia seharian, dan puncaknya pas sehari sebelum aku kesini. Bantu dia, Raz. Mungkin cuma kamu yang dia mau.” Michelle membungkuk.

“It’s not right, Chel. Aku gaakan mau. Karena hubungan bukan cuma sebatas kasian. I can’t help you..” Jaka berbalik.

“Please Raz.. Dia satu-satunya sepupu aku. Aku sayang banget sama dia. Kita udah sahabatan lama, tolong sekali lagi aja…” Michelle menangis sejadi-jadinya.

“No, Chel. Ini bakal nimbulin masalah yang lebih besar. Kamu harus minta tolong sama orang lain. Masalahku udah kebanyakan. Aku gabisa bantu..”

“Tolonglah, Raz. Sekali aja..” Michelle menahan lengan kiri Jaka.

“AKU GABISA! INI LEBIH RUMIT DARI ITU!” Jaka menepis tangan Michelle dengan sangat kasar, membuat gadis itu hampir terjatuh ke belakang.

Michelle tertunduk.

Jaka terdiam. Perlahan, timbul rasa bersalah di kepalanya.

“Chel, maaf chel..” Jaka tak pernah melakukan hal demikian sebelumnya.

Ada pikiran liar yang berkecamuk diotaknya sejak tadi. Seperti kewajiban Jaka untuk menjaga perasaan seseorang yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Jaka mulai mati rasa. Dia terjebak dengan serangkaian masalah hati. Shania yang pergi, Ve yang menghilang, Michelle sahabat lama, Nadse yang kembali, dan sekarang Gre? Jaka perlu bunuh diri sesaat.

Jam 19.00, Petugas kepolisian mengepung rumah yang Jaka dan teman-temannya huni. Surat penangkapan ditujukan kepada Jaka, Mike, Kelpo, dan Bobby. Tanpa perlawanan dan tanpa pertanyaan panjang, mereka dibawa ke kantor polisi dengan diiringi tangisan Michelle, Shania, dan lainnya.

Beberapa saat kemudian, kabar sudah tersebar kemana-mana. Beberapa nama lama kembali menghiasi berita. Narataro Fuuto dan Joello Midokaze, dua nama  warga negara asing yang terlibat pada kasus kematian pemuda bernama Iman beberapa tahun yang lalu kembali terdengar.

Jaka memperhatikan ekpresi kesal dan ketakutan Kelpo saat mendengar ibunya drop. Atau Bobby yang tak bisa berhenti mondar-mandir kala mendengar sang ayah sedang berangkat menuju Jakarta sendirian. Sejenak ia melirik Mike yang tertunduk, ia menoleh kepada Jaka. Mike memperagakan orang sedang menelepon. Mencoba memberitau Jaka sesuatu.

“Telepon!” Tanya Mike.

Jaka menengadahkan kepalanya seolah bertanya siapa yang harus ia telepon.

“Bang Sony! Ayah!” Jaka hanya mendengar 2 nama itu lalu mengangguk tanda ia sudah mengerti maksud temannya itu.

Mike seperti lega sekali, padahal hanya mengatakan hal singkat barusan.

Jaka berusaha menunggu kesempatan untuk menelpon. Namun dirinya kini mungkin sedang diposisikan sebagai biang kerusuhan massal, hak-haknya ditahan sementara.

“Menelpon itu hak saya pak!” Jaka terus berdebat bersama beberapa polisi diruangan yang ia sendiri tak pernah lihat itu.

“Saya harus masuk!” Suara wanita dari luar itu membuat Jaka berhenti berbicara. Ia melangkah keluar untuk menghampiri suara ribut-ribut itu.

“Michelle!” Teriak Jaka.

“Hey, diam ditempat kamu!” Perintah seorang polisi yang memasang badan.

“Raz! Raz!” Panggilan orang terdekat Jaka itu kian mendekat.

“Hey! Sudah saya bilang duduk ya du-“

“Raz! Papa serangan jantung!”

‘TENGG…!’ Jaka langsung terjatuh. Kakinya lemas.

3 teman lainnya yang mendengar kabar itu langsung berdiri.

“SIALLL!” Mike menendang kursi didekatnya.

Jaka bangkit dan menabrakkan kepalanya ke dinding, membuat kesadarannya hilang dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.

*Skip

“Kenakalan remaja sudah sampai di titik terparah. Tindakan pemerintah sudah pasti akan merehabilitasi siswa-siswa yang terlibat dalam tawuran massal antar pelajar di Bandung beberapa waktu lalu. Mereka akan diberikan sanksi yang setimpal. Orang-orang yang bertanggung jawab atas ini semua akan di keluarkan dari sekolah maupun tempat mereka bekerja dengan tidak hormat. Sanksi akan dirincikan lebih lanjut.”

“Semua ini kami lakukan demi menekankan rasa aman kepada seluruh warga negara Indonesia dan menekankan pula kepada segala lapisan masyarakat dan remaja bahwa tawuran dan kekerasannya tak akan bisa ditoleransi oleh negara. Apapun alasannya.”

Begitula beberapa keterangan dari pemerintah pusat yang viral di media sosial.

3 nama disorot setelah Bobby dinyatakan bukan penanggung jawab di kasus ini.

“Kita selesai.” Ucap Mike tertunduk lesu.

Polisi-polisi terus mencaci mereka bertiga. Wajah Kelpo juga sudah memerah sejak tadi karena kesal.

“Kita harus ngapain lagi?” Kelpo menoleh kepada Jaka.

Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan.

“Maaf, bapak sia-“

“Saya membawa surat penangguhan terhadap mereka bertiga.”

“Ini resmi? Kami tidak bisa meneri-“

“Ini resmi. Saya akan mengembalikan mereka besok pagi. Ini surat perintah atas dicurigainya beberapa bentuk dugaan pelanggaran HAM dan perbuatan mengancam perdamaian. Terdapat keterangan dari pemerintah Jepang, sebagaimana kita tau bahwa beberapa warga negara Jepang juga diduga terlibat. Sementara satu orang berpaspor Rusia juga sudah diperiksa.”

“Tidak ada tandatangan pak-“

“Berkas ini akan ditandatangani lusa karna Presiden sedang berada diluar negri.”

“Maaf, tapi siapa yang menugaskan bapak? nama bapak siapa?”

“Saya utusan untuk mengawasi Hak Asasi Manusia. Saya diperintahkan langsung oleh majelis umum. Kami perlu membawa mereka untuk dimintai keterangannya terlebih dahulu.”

“Baik, pak. Kami akan menghubungi bapak-“

“Tak perlu, kami benar-benar terburu-buru.”

Polisi disana masih saling tatap. Jaka, Kelpo dan Mike belum benar-benar ditangkap. Ada kejanggalan disini.

“Kalian bisa dipecat karna mengulur waktu.”

“Boleh kami lihat tanda pengenal bapak?”

“Ini..” Orang berkaca mata itu menunjukkan sebuah kartu.

‘Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights’

Dengan status sebagai juru bicara. Entah apa yang mereka pikirkan, Jaka dan lainnya diserahkan kepada seseorang dengan jas hitam dan kacamata hitam itu. Bahkan nama orang tersebut tak ia sebutkan kepada seluruh aparat yang berada disana.

Jaka, Kelpo dan Mike sudah memasuki Range Rover silver yang terparkir agak jauh.

“Kalian pasti bingung. Saya diminta untuk melarikan kalian oleh seseorang. Kalian belum bebas. Dan saya mungkin akan dihukum mati atas perbuatan nekat ini.”

Jaka, Kelpo dan Mike hanya diam melirik satu sama lain.

“Kita hanya punya 20 menit sebelum seluruh personil kepolisian mencari kita dengan membabi buta. Setelah ini, kita bertukar ke mobil Civic merah.”

Orang itu terus memberikan instruksi. Mereka sudah menukar mobil. Beberapa kali mereka melihat mobil-mobil polisi lewat dengan sirene yang menyala.

“Siapa yang ambil Range Rover-nya?” Tanya Jaka.

“Agen lain? hahaha..” Mereka bertiga semakin bingung dengan orang yang ‘katanya’ sedang berusaha menyelamatkan mereka ini.

Sekitar 30 menit kemudian, mereka sudah sampai disebuah rumah yang telihat suram itu.

“HEY!” Ian berdiri didepan pintu, menyambut mereka bertiga dan tentu saja temannya yang sejak tadi menyetir.

“Dia Sam, salah satu sahabat gue.” Ucap Ian mengenalkan.

Ketika masuk, mereka bertiga benar-benar terkejut melihat pemandangan didalam rumah itu.

“Hey, mereka udah dateng!” Seru Ian.

“Welcome! Salam kenal!” Semuanya adalah wajah baru baik bagi Jaka, Kelpo ataupun Mike.

“Yang lain juga aku bawa kesini, Raz.” Ian merangkul Jaka.

“I feel sorry for you, Mike.” Ian juga menepuk pundak Mike.

“Hi everybody! Perkenalkan saya Adam. Let’s just start to work it up. Come here..” Orang bernama Adam itu membawa Jaka, Mike dan Kelpo ke sebuah ruangan.

Semacam ruangan untuk talkshow, terdapat lighting dan kamera. Disana juga ada Bobby, Andela, Shani, dan Michelle.

“Razaqa!” Teriak Michelle.

“Kelvin!” Susul Andela.

Bobby dan Shania hanya duduk terdiam.

“Papa gimana, Chel?” Tanya Jaka menahan air mata.

“Papa masih belom sadar, Raz..” Michelle dan Jaka berpelukan untuk beberapa saat.

“Gue udah persiapin ini buat kalian, Raz. Ayo kita sebar video klarifikasi kalian bertiga. Ini satu-satunya kesempatan buat kalian..” Tegas Ian lagi.

“We’re here for you guys!” Adam mengacungkan jempolnya, diikuti kru yang lain.

“Kita akan siaran langsung, pastiin pengorbanan gue tadi sukses.” Sam juga memberikan semangat.

Oke, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal lain selain kebebasan.

Jaka menoleh kearah kedua sahabatnya itu. Mike dan Kelpo mengangguk mantap.

“Gue udah makin capek. Ayo!” Jaka berseru dengan lantang.

–“–

“The worst thing in life come free to us..” – Ed Sheeran (The A Team)

“Percayalah bahwa tak ada yang lebih indah selain melihat kesegala arah bersama sahabat. Baik itu menoleh, menengadah, maupun menunduk pasti akan terasa sempurna jika ada yang selalu merangkul, membantu, membela, menjaga dan memastikan kebahagiaan kita.” – Rahmad Narataro Fuuto

NB : Maaf banget baru diupdate sejak sekian lama. Author akan usahain yang terbaik untuk kepentingan cerita dan para reader. Arigatou^^

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

blog : mandalakelvin.wordpress.com
YT Channel : www.youtube.com/user/WWEKelvinMP

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s