Cinta dan Hidup, Chapter 1

“Jessi maaf aku mau pergi minggu depan”, Ucap Seorang Anak kecil dengan polosnya.

Anak kecil yang bernama Jessi tersebut terkejut, air mata mulai jatuh dari kelopak matanya dia belum mengerti kenapa dia bisa menangis hanya karena seorang anak yang sudah sejak dulu bersama dengan dia bermain hampir setiap hari setiap pulang sekolah.

“Tapi bagaimana dengan janji mu?”, Ucap Polos anak kecil itu.

“Jessi suatu saat ketika kita sudah gede pasti kita akan bertemu kembali, jangan lupa dengan janji kita ya jess”, Balas anak kecil itu dibarengin dengan pelukan kecil kemudian anak tersebut berbalik dan berjalan guntai menuju kedua orang tuanya, meninggalkan kenangan kecil yang manis untuk anak SD.

16 Tahun Kemudian

“Kak yang penting aku itu keluar dari tempat kerja itu, dan aku kost aja gak selamanya aku selalu dibayangin oleh orang kakak”, Ucap seorang pria yang sedang berdebat dengan 2 orang.

“Apa lah Motivasi mu co untuk ngekost, kau gak lihat adik mu yang lagi bimbingan belajar dan abang mu yang mau dimutasikan”, Ucap Keras sang kakak dengan wajah marah.

“Motivasi ku simpel Kak, mendapatkan suatu kerja yang lebih bagus lagi dalam gaji dan membuat si Yuli”, Ucap lelaki yang bernama Marko.

“Kau itu bego ya co, kerja mu aja gak beres, kau mau keluar lagi dari kerja mu hanya karena alasasn atasan yang tidak bisa menghargai bawahannya, kau taunya atasan mu itu punya hak untuk membuat seperti itu, hanya egois mu aja yang kau ikuti”, Ucap sang Kakak.

“Uang mu aja tidak bisa kau kendalikan, kau membuang uang mu dengan sia-sia hanya untuk nonton konser JKT48, gak ada gunanya kau kesana membuang duit”, Ucap Lelaki yang lebih tepat suami sang Kakak.

“Jadi Apalah mau mu”.

Marko hanya bisa diam karena sudah mulai malas berdebat karena pasti dia akan yang kalah, dia pun habis-habisan kena omelan keras di barengin pukulan yang membuat dia semakin muak dengan semuanya yang menganggap keputusannya itu salah dan akan selalu salah.

“Ya udah aku minta maaf”, Ucap Marko kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan makian sang kakak.

“Besok gue harus keluar dari rumah ini, gak perduli dengan apa pun yang dikatakan mereka walaupun akibatnya di jengkali keluarga besar dan membuat sakit papa ku sakit, tapi gue harus buktikan bahwa gue itu bisa”, Batin Marko bersama dengan emosinya yang sangat besar.

“Ve kamu yakin dia akan mengenali kamu nak”, Ucap ibu kepada anaknya yang bernama Veranda.

“Aku tidak yakin juga mami, soalnya pas aku bertemu dengan dia pertama kali di teater dia seakan tidak mengenali aku dan saat selesai Teater dia tidak menoleh kearah ku, dan oshi dia aja bukan aku”, Ucap Lesu Veranda.

“Sabar aja Kak mungkin dia tidak mengenali kakak  karena wajah bidadari kakak”, Ucap seorang lelaki yang sedang bermain game.

“Aaron adik gue yang paling ganteng, kakak mu ini lagi galau dari dulu hanya karena dia kakak tidak bisa namanya jatuh cinta lagi”, Ucap dongkol Veranda karena sang adik.

“Sudah-sudah kalian berdua jangan bertengkar, kamu Veranda sekarang mandi kemudian tidur kamu kan baru pulang dari teater”, Ucap lembut sang ibu.

Mereka berdua beranjak kemudian pergi kekamar mereka masing masing.

Rencana yang sudah marco rencanakan sejak malam di laksanakan saat bangun tidur dengan alasan akan pergi kerja dia membawa semua bajunya dan hanya bermodalkan sedikit uang dia nekad mengikuti keegoisannya dan menanggung segala jenis akibat dari keegoisannya walaupun akan menjadi anak sial di keluarga mereka, tapi demi ambisinya untuk sang adik yang ingin sekali dia tanggung jawab in dan dia lindungi dari siapapun dia akan melakukan apapun bahkan melawan keluarga besarnya.

Dia pun langsung menuju ke GBK tempat yang biasa para perusahaan mejajakan besar-besaran lowongan pekerjaan tanpa pikir panjang dia menuju kesana untuk, dipikirannya sekarang adalah kerja dan kerja tidak ada yang dipikirannya lagi selain itu walalupun akan tidur dijalan dia tidak memperdulikan.

“Mas rokoknya sebungkus”, Ucapnya pada penjual di sekitaran tempat yang dia kunjungi.

“22ribu mas”, Balas sang penjual, dia pun memberikan uang puluhan ribu dan dua uang seribu, dengan Tas ransel yang berisi penuh baju dengan beban yang tidak ringan dia mengisap nikotin dari rokok tersebut.

Dengan di iringi musik klasik dan musik pop masa kini Marco memasuki ruangan besar tempat dimana dia akan mendapatkan pekerjaan.

“Drop CV nya mas”, Setiap Value staf HRD semua Perusahaan menawarkan lowongan kepada para pelamar.

“Njir gini mah yang baru lulus bakalan susah nyari kerja”, Keluh Dia yang sudah mulai lelah karena selama beberapa jam ini baru sedikit dia memberikan CV ke perusahaan.

Karena sudah sangat kelelahan Marco pun berjalan keluar dan kembali mengisap Rokok untuk menahan sedikit lapar, dia menoleh kesana kemari melihat bahwa hanya dia aja yang tidak membawa teman karena disekitarnya pasti datang berkelompok hari sudah mulai sore dia pun beranjak untuk keluar dari tempat itu, dia berjalan dan berhenti di Mall FX tempat para Wota berkumpul dia mengambil Hape dari sakunya dan mengcek akun offical JKT48 dan event-eventnya.

“Team T ya, kemarin gue udah nonton, nongkrong aja deh di f5”, Batin Dia dalam diam, dia pun membuka LINE@ dan Mengirim pesan kepada Addres yang ada di Offical Line yang dia pegang.

Tak lama kemudian ada pesan personal di LINE@ mengatakan bahwa ada event Dah***t award di Ancol, dia pun menuju kesana mengunakan Busway.

“Maaf bro gue lama soalnya macet”, Ucap dia yang berjumpa dengan orang yang mengajak dia untuk menonton Event tersebut walaupun hanya satu lagu saja dari pada bosan nongkrong lebih baik ikutan itu lah yang ada didalam pikiran Marco.

Acara tersebut berjalan dengan membosankan untuk para Wota karena artis yang mereka inginkan sangat lama perform mulai bosan menunggu akhirnya JKT48 perform dengan menyanyikan singel terbaru mereka dengan semangat para Wota terberbawa susasana Chant walaupun hanya sesaat tetapi cukup untuk melihat oshi mereka.

“Min oshi lu Okta tuh”, Ucap orang yang mengajak Dia untuk menonton ke Ancol.

“Njir Cakep ya tuh anak Onta”, Ucap Dia dengan canda.

“Lebih Cakep lagi dedek Zara”, Ucap Salah satu wota yang sedang merekam jalannnya Perform JKT48.

“Weh Melody Putih euy”.

“Susu Kale kalau putih”, Ucap Marco dibarengi tawa renyah.

Tak lama kemudian JKT48 selesai perform dan Marco dengan cepat broadcaster kan kegiatan malam ini di Line Offical Fansbase yang dia Adminkan.

Banyak komentar datang dengan kepada Broadcaster dan Timeline yang dibuat dia mulai dari delusi hingga pertanyaan yang aneh-aneh, sudah terbiasa dengan itulah yang dihadapi Marco karena sudah hampir 3 Tahun dia ikut jadi Admin di Offical Line.

“Sudah jam berapa ini, balik yuk kaki gue pegel”, Ucap Salah satu Agung salah satu wota yang bersama dengan Marco tadi.

Dengan berdesak-desakan kami pun berusaha keluar dari ruangan yang penuh dengan lampu dan artis-artis walaupun tidak jarang dihalangi team dari R**i kami pun memaksakan diri untuk keluar, tak lama kemudian kami pun berhasil keluar dari tempat itu.

“Wah Jam 12 kita kemana ini sekarang?”, Ucap Marco.

“Kita ke Fx aja nginep disitu tidurnya gampang deh”, Ucap Dodi, kami pun berjalan keluar dari Ancol menuju ke Halte Busway yang sekarang sudah 24 Jam.

“Loe Kenapa Ve”, Tanya Gadis Cantik yang bernama Kinal, dia heran melihat sahabatnya yang sejak tadi melamun sejak selesai Perform di Ancol.

“Gak apa-apa Nal, Kecapean aja”, Ucap Singkat Ve membuat teman-temannya yang lain heran.

“Ya udah ini minum dulu”, Ucap Gadis imut yang bernama Cindy Yuvia.

“Makasi ya Yupi”, Ucap Singkat Ve, dia pun berjalan ke tempat Make up kemudian duduk menyendiri.

“Gue itu harusnya senang atau sedih melihat dia datang jauh-jauh dari Tangerang melihat kami”, Batin Ve

“Dia datang Cuma dia sama sekali tidak melihat kearah gue”, Batin Ve dengan sedih membuat semua para member heran melihat seorang Veranda Bidadari JKT48 itu murung.

“Kamu kenapa Ve?”, Tanya Melody yang kasihan melihat member yang biasa dijuluki Sang Badai.

“Gak apa-apa teh, hanya kepikiran sesuatu aja”, Ucap Singkat Veranda.

Dia pun beranjak lagi dari tempat itu menuju ke mobil dia untuk pulang.

“Nal loe tau kenapa tuh bidadari?”, Tanya Nabilah dengan suara kerasnya membuat rusak semua suasana melankonis tersebut.

“Aduh Bibil bisa gak tuh suara sedikit di kecilin di telinga bisa budeg lama-lama loe buat”, Ucap Kesal Kinal.

“Udah-udah lebih baik kita pulang dan istirahat”, Yupi menarik Nabilah supaya tidak semakin berisik.

“Oi Paus awas aja loe ya”, Ucap Nabilah Kesal karena Kinal tadi mencubit pipinya Nabilah.

“Kamu kenapa Sayang?”, Tanya seorang Ibu kepada anaknya yang pulang-pulang langsung menunjukan wajah murung.

“Aku rindu sama dia mam, 16 Tahun tidak melihat dia dan ketika melihat dia, dia tidak mengingat ku mam, sakit bercampur dengan bahagia, sedih bercampur semangat”, Veranda menangis dipelukan ibunya.

“Suatu saat nanti dia pasti akan mengingat mu Nak, yang sabar ya dan jangan lupa berdoa”, Ucap Bijak sang Mama kepada sang anak, Mama nya Ve kemudian mencium kening anaknya dan mengucapkan selamat Malam kemudian beranjak dari kamar sang anak.

Berjalan tanpa arah itu lah yang dia lakukan sekarang menunggu panggilan kerja yang sebenarnya dia tidak tau kapan itu, dia membuka tas ransel dan mengambil kertas kecil yang didapatkan dari JobFair yang kemarin dia ikuti.

“Mungkin gue harus kesini”, Batin dia, dengan perasaan hampa dia berjalan menunggu angkot agar bisa pergi menuju ke alamat yang ada di kertas tersebut.

“Kesepian di antara keramaian, kenapa rasanya sangat hampa seperti ada yang hilang”.

Gedung tinggi menjulang diantara gedung-gedung pencakar langit dengan hiasan kaca salah satu pembuat siang sini semakin panas dikarena gedung pecakar langit sangat banyak kacanya mengakibatkan efek rumah kaca yang panasnya dipantulkan kembali dan membuat panas menjadi berkali-kali lipat.

“Mbak Apakah benar alamat disini itu ini?”, Tanya Marco dengan sopan sambil memberikan kertas yang didapatkannya.

“Oh benar, kamu ke Lantai 14 ya sebelum itu ke aula dulu biar didata dulu”, Ucap Mbak-Mbak yang cantik sedang memberikan arahan membuat siapa aja jadi salah fokus melihatnya.

Setelah sampai ke tempat yang di tuju Marco pun duduk diruang tempat dimana para pelamar juga mengisi form yang diberikan oleh staf HRD.

“Marco, silahkan ikuti saya”, Ucap Salah satu Staf perusahaan tersebut, dia pun mengikuti staf tersebut dan diarahan ke sebuah ruangan yang berisikan seorang lelaki dengan Setelan rapi dan memegang kertas CV dan form yang Dia isi tadi.

Terjadilah wawancara yang lumayan membosankan yang menanyakan ini itu dari hal umum sampai hal yang sedikit pribadi yang membuat Marco sedikit menceritakan masa-masa sulitnya.

“Ok Hari senin Bapak datang lagi untuk Psikotes jam 9 pagi dan membawa alat-alat ujian”, Ucap Lelaki itu sambil memberikan kertas yang diketahui sebuah undangan.

Setelah itu Marco pun keluar dari ruangan itu dan kemudian keluar dari gedung tersebut dengan perasaan sedikit lega.

“Hari ini apakah dia datang?”, Batin seorang wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk hal yang banyak disukai wota .

“Kamu memikirkan apa lagi Ve?”, Tanya Shanju wanita cantik dengan seifuku warna warni.

“Tidak ada apa-apa Nju hanya mencoba fokus saja”, Ucap Veranda sambil memoles make up yang ada diwajahnya.

Marco membuka Hapenya dan melihat hal yang menarik hatinya yaitu Team apa yang akan Teateran sekarang dan kebetulan Team J, Team yang didukung dia sejak dahulu apa lagi Oshinya Ghadia disitu.

“Mudah-mudahan ada hal yang menarik, tapi jangan ada yang Grad lah”, Batin Marco, dia berjalan menuju ke Mall Fx dengan perasaan masih Hampa, dia membeli tiket Teater kemudian duduk sendirian sambil memainkan Hapenya tanpa dia ketahui ada yang sedang memperhatikan dia dari jauh.

“Yes dia datang, aku harus maksimal demi Fans dan demi dia”, Batin seseorang yang sedang memperhatikan Marco dari jauh.

“Kak Ve kamu lagi melihat siapa?”, Tanya Gadis manis berambut pendek dan berkaca mata.

“Eh Ghaida, Kamu dari mana, kok bisa disini?”, Tanya Wanita yang bernama Veranda rona merah dipipinya muncul saat dia ketahuan mengintip sesuatu.

“Dari tadi kali Kak, itu siapa kak?”, Tanya Wanita yang bernama Ghadia dengan nada penasaran karena dia tau bahwa Bidadari yang sudah dia kenal lama itu jarang membicarakan tentang Pria dan tidak pernah punya sejarah pacaran sama sekali.

“Lah kan jadi ngilang”, Ucap Veranda setelah dia kemudian menoleh kearah tempat duduk pria yang sejak tadi dia awasin dari jauh.

“Kamu si Ghai jadi pergi deh dia”, Veranda mengembungkan kedua pipinya menandakan dia lagi ngambek, membuat siapa saja menjadi ingin mencubit kedua pipi bakpaonya.

“Kakak Bidadari jadi semakin manis deh kalau ngambek gini”, Ucap Ghaida yang terkenal Modus kepada semua member.

“Mulai deh Modusnya”, Ucap Veranda yang kemudian mencubit lengan tangan Ghaida.

“Auuu Kak iya deh maaf”, Ucap Ghaida yang sudah puas berbuat iseng kepada Bidadari Team J itu.

Marko sejak tadi asik bermain dengan Hapenya walaupun dia tau bahwa ada member berlalu lalang tetapi dia tetap cuek karena menurutnya saat di teater lah mereka itu idol kalau keluar dari teater mereka itu manusia biasa yang sama-sama makan nasi.

“Oi bro ada Veranda tuh”, Ucap Seorang Pria yang memakai kaca mata dan masker dengan ransel dipunggungnya.

“Mana?”, Tanya dia asal.

“Tuh sama Ghaida lagi”, Ucap Pria itu, sedikit semangat Marco menoleh kearah yang ditunjukan oleh pria itu dan benar ada Veranda dan Ghaida.

“Weh Oshi gue tuh, cakep bener Ghaida”, Ucap Marco dengan sedikit narsis dan mengeluarkan sifat wotanya.

Setelah puas melihat Oshinya bersama dengan Vedadari dia pun beranjak menuju ke f5 karena ingin mencari ketenangan dengan santai dia melewati 2 member legendaris JKT48 terdengar perdebatan kecil yang membuat Marco sedikit tersenyum mendengar oshinya Modusin Bidadari.

Marco menaiki eskalator menuju ke lantai paling tinggi di Mall ini, terlihat sudah penuh dengan orang-orang yang duduk dengan santainya sambil membawa Labtop, dia pun duduk ditempat kosong.

“Menunggu disini sepertinya lebih asik”, Batinnya

“Oi loe Teateran gak bilang-bilang co”, Kejut seseorang.

“Anjay Kaget gue”, Ucap Marco sambil mengelus dadanya yang baru saja diberikan efek kejutan dari seseorang.

“Yaelah loe Mad gue kira tah siapa, duduk loe”, Ucap Marco dengan kesal dia pun melempar gumpalan kertas bekas makanan yang tadi dibelinya.

“Kampret loe Co kebiasaan suka amet menyendiri”, Ahmad teman yang dikenal Marco melalaui Line dan sama-sama fans sama JKT48, dia dengan tak berdosanya mengambil cemilan yang sedang dimakan Marco.

“Bahaya loe Mad makanan gue loe embat”, Ucap Marco sambil merrebut kembali makananan yang sudah ditangan temannya Ahmad.

“Loe dari mana kenapa bawa Tas berat banget gitu?” Tanya Ahmad yang heran melihat Tas Gede yang diletakkan dibawah meja.

“Biasa gue jadi Gembel sekarang”, Ucap dia dengan Santai.

“Bukannya loe emang gembel”, Ucap Santai Ahmad.

“Loe kali Mad Gembel Fx tiap hari di teater”, Balasnya dengan santai.

“Enak tau gembel Fx tiap hari lihat member”, Balas Ahmad dengan nada tak tau malu.

“Ya tapi member najis lihat muka mesum loe Mad”, Ucap Marco sambil tawa ejekan.

“Muka loe kali mesum, lihat paha Naomi loe langsung ngiler”, Ucap Ahmad lagi dengan gampangnya, langsung saja mereka tertawa dengan lepas membuat orang melihat heran kearah mereka.

“Gue Salkusi juga tar ya Oshi loe”, Ucap Marco dengan nada pura-pura galak.

“Salkusi aja sono”, Ucap Acuh Ahmad.

Tak terasa waktu untuk masuk teater dimulai, keberuntungan datang kepada Marco dia dapat Bingo 1 dan duduk paling depan tempat paling enak untuk melihat member.

“Oi Oi Oi Oi”, Suara Keras membuat semua orang menjadi semangat.

Lagu demi lagi dinyanyikan dengan sempurna dan disisipkan dengan MC yang lumayan lucu, Marco melihat semua member dan kebetulan saat Veranda bernyanyi dia menatap Mata Veranda entah nyata atau tidak Veranda membalas tatapan itu kemudian Veranda membalas dengan senyuman manis membuat siapa saja terbius akan keindahan senyumannya.

“Tuh Anak ngapain ngeliatin gue, bahaya gue tar sama wota lain”, Batin Marco detik kemudian dia menoleh kearah lain seakan senyuman tadi bukan untuk dia.

Tepuk tangan meriah terdengar setelah Veranda bernyanyi, tak biasa hal seperti itu terjadi ternyata perform tadi sangat bagus karena terdengar sangan dalam dan penuh penghayatan.

Tapi tidak ada yang tau bahwa air mata Veranda jatuh saat Veranda bernyanyi, tidak ada yang sadar bahkan dia sendiri tidak sadar.

“Kamu menangis Ve?”, Tanya Melody melihat ada jejak air mata membekas di ujung mata Veranda.

“Kamu kenapa?”, Tanya gadis Imut bernama Sinka, dia heran melihat salah satu teamnya bisa menangis hanya karena lagu.

“Gak apa-apa kok, hanya terlalu semangat aja sampai kebawa susasana”, Ucap Veranda dibarengin dengan senyuman.

“Jika ada masalah kamu bisa kok cerita sama kami, kita kan keluarga”, Ucap Shanju sambil memeluk Veranda.

Teater pun selesai dan seperti biasa diakhir acara para member akan menemui para fans bertujuan untuk semakin dekat dengan fans, tiba lah giliran Marco dia dengan cuek melewati para member ketika didepan Veranda dia hanya senyum tipis kepada Veranda dengan senyuman penyemangat karena dengan musik mereka hatinya bisa lebih tenang.

“Jadi dia yang membuat Veranda sering melamun, tapi dia siapa gue jarang liat dia diantar para fans yang lain”, Batin seorang wanita cantik.

“Auranya jadi beda gini pas melewati Veranda”, Batin Dia dengan heran sambil berjalan keluar teater.

“Oi Co loe liat tadi Veranda gak, cara melihat setiap fans itu beda dari biasanya seperti mencari seseorang”, Ucap Ahmad sambil berjalan bersama dengan Marco.

“Beda gimana, sepertinya biasa aja itu”, Jawabnya dengan nada biasa mereka berdua berjalan menuju ke eskalator untuk menuju ke pintu keluar karena lift sudah banyak ditempati orang.

“Malam ini loe tidur dimana co?”, setelah keluar mereka berdua membeli rokok karena sejak tadi tidak ada mengisap rokok.

“Nah itu dia gue gak tau mau tidur dimana malam ini”, Balas Marco yang langsung kepikiran akan tempat berteduh.

Mereka berdua duduk di parkiran samping Fx tempat teramai dan sering disinggahi para wota jika lagi nongkrong atau habis nonton teater. Ahmad menghembuskan asap dari mulutnya dan kemudian mengisap dalam rokok yang berisikan nikotin itu, “Loe nginep di kost an gue aja yuk”,

Ahmad menawarkan hal yang ditunggu Marco dengan cepat dia mengiyakan tawaran temannya itu.

“Yaudah Thanks ya bro”, Balasnya Tulus.

“Santai aja”.

 

 

–@KingHarem

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Cinta dan Hidup, Chapter 1

  1. Sekedar saran nih thor, feel ceritanya akan lebih berasa kalau shanju dan sinka manggil ‘kak’ pada veranda, bukan ‘kamu’ 🙂

    Suka

  2. pelajaran yg w bs dapat dr cerita ini adalah rela dimaki dan dipukul demi nonton jkt48,,mantap

    soal cerita w ga bisa berkata banyak,,cerita roman yg hampir bs ketebak,,mudahxxan ada lika liku yg bs mmbuat ceritanya menarik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s