Annihilation part 27

cover

Disaat tengah terbang menukik kebawah, Kelvin menyempatkan melontarkan berbagai macam Roost dengan tangan kirinya. Berharap Roostnya itu dapat sedikit menyibukkan Gabriel dan yang lain. Tetapi ternyata harapannya tidak terjadi, dengan mudahnya Gabriel menangkis Roost-roost yang mengarah padanya

Setelah mendarat di tanah, Kelvin dan Shani kembali berlari. Lagi-lagi mereka berada di hutan. Keduanya terus berlari sekuat tenaga, menembus rimbunnya pepohonan dan ranting-ranting tajam. Ternyata hutan cukup membantu pelarian mereka. Para Malaikat
yang tidak terbiasa kadang kali terperosok ke dalam sebuah lubang di hutan, bahkan ada yang terkena ranting tajam pohon.

Kelvin dan Shani beristirahat di pinggiran sebuah goa, memang di setiap hutan hampir identik dengan keberadaan goa. Seolah Yang Kuasa memang memberikan goa sebagai tempat istirahat bagi siapa saja yang tersesat di dalamnya.

“Dimana mereka ?” Shani mengarahkan pandangannya kesegala arah, menatap dengan was-was jika mereka muncul tiba-tiba

“Kurasa mereka sedikit kesulitan melalui hutan ini” sahut Kelvin. Ia merasa bahwa Para Malaikat sudah kehilangan jejak mereka

“Huuh.. syukurlah” Shani menghirup nafas lega

“Heeei.. astaga.. cepat lihat keadaan Krishna” Shani hampir lupa bahwa mereka membawa buah hati mereka

Cepat-cepatnya dilepaskan tas dari punggung Kelvin lalu membuka resleting tas tersebut. Dilihatnya sosok Krishna yang tengah terpejam dan sedang menangis keras, menimbulkan suara tangisan bayi yang khas

“Sssst.. sayang.. sayang.. berhentilah menangis ya.. Ibu dan Ayah akan segera membawamu pergi ke tempat aman” Shani tidak mau jika nantinya Para Malaikat mendengar tangisan Krishna dan menemukan mereka berdua

Shani mencium kening Krishna lembut, diusap-usapnya rambut jarang Krishna itu. Dalam sekejap, si bayi langsung berhenti menangis, aura keibuan memang terpancar dari sosok lemah lembut Shani. Tak salah jika ia menjadi seorang Ibu meskipun masih di usia yang sangat muda.

“Masukkan kembali Krishna ke dalam tasku” perintah Kelvin, dengan sangat terpaksa Shani kembali meletakkan darah dagingnya di dalam tas kekasihnya. Bagaimanapun keselamatan si bayi adalah yang paling utama.

Keheningan melanda mereka untuk beberapa waktu, ketika Kelvin menolehkan kepalanya kearah Shani, Kelvin melihat air mata mengalir membasahi pipi kekasihnya

“Kenapa kau menangis, Sayang ?” tanya Kelvin sambil mengusap rambut hitam Shani

“Kelvin, bagaimana kalau kita serahkan Krishna kita kepada mereka ?” Shani mulai menangis sesenggukan

Entah apa jalan pikiran Shani, tadi ia begitu mati-matian untuk mempertahankan anaknya, lantas sekarang, dia ingin menyerahkan bayinya begitu saja kepada Para Malaikat.

“Shani, ini anak kita. Kau yang melahirkannya dan aku adalah Ayahnya, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk mengambil Krishna kita

“Kalau saja semuanya semudah itu. Seharusnya aku tidak menjadi seorang pengkhianat bagi Kerajaanku”

“Apakah merawat bayi kita sendiri adalah suatu pengkhianatan ? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu”

“Kau tidak akan pernah mengerti, Kelvin, karena bukan kau yang berkhianat. Dan kau tidak pernah tahu hukum di Kerajaanku

“Jadi kau menyesal karena sudah berhubungan denganku ?”

“B…b.bukan begitu”

“A..a..aku hanya.. aku hanya bingung kenapa semua masalah menimpaku” lanjut Shani tertunduk sedih

“Kau pikir hanya kau saja yang tertimpa masalah ?! Kau pikir hanya kau saja yang berkhianat ? Aku pun telah menjadi seorang pengkhianat !” Kelvin mulai menjadi emosi

“Semoga Yang Kuasa mengampuni tindakanku” desis Shani perlahan

“Astaga..  siapakah Yang Kuasa itu ? Jangan bicara yang tidak-tidak, Shani. Hadapilah kenyataan ini dengan pikiran jernih

Setelah itu keduanya saling terdiam. Rasanya tidak ada gunanya lagi mereka berbicara karena hanya akan saling menumpahkan emosi saja. Rasa putus asa telah membuat dua hati yang paling lembut sekalipun menjadi keras dan kaku.

“Kenapa disaat seperti ini kita justru bertengkar ?” keluh Shani

Kelvin merangkul pundak Shani

“Maafkan aku, Sayang. Akulah yang menyeretmu kedalam masalah ini,seharusnya dari awal aku hanya melepaskanmu saja kembali ke Surga. Dan aku tetap mengabdi pada Kerajaanku”

“Kau tidak bersalah, Kelvin. Ini memang sudah takdirku. Hidupku memang akan selalu dipenuhi air mata. Dan kesedihan ini baru saja dimulai. Lebih baik sekarang, kita jangan saling menyalahkan lagi”

Kelvin tersenyum lalu memeluk Shani lebih erat.

Setelah melepaskan pelukan mereka, tanpa terasa mereka tertidur sejenak, di atas rumput dan tanah yang berbatu. Mereka berdua seolah sangat kelelahan karena dengan mudahnya keduanya pulas dalam tidur mereka.

Lama berselang, sebelum akhirnya mereka membuka mata. Saat itu samar-samar terlihat tiga orang sosok yang tidak asing bagi mereka. Ya. Itu adalah Para Malaikat tadi. Kontan mereka langsung siaga, walaupun sebenarnya masih sedikit limbung.

“Akhirny kalian bangun juga. Cukup lama kami menunggu kalian tidur. Untunglah sekarang kami tidak perlu menunggu lebih lama lagi” kata Gabriel dengan suara sinis.

Gabriel memiliki alis tebal dan geraham kokoh yang menggambarkan ketegasan. Guratan usia mulai tampak pada wajahnya yang penuh wibawa. Tidak salah jika ia yang menjadi pemimpin Para Malaikat.

“Hai, Gabriel” kata Kelvin tajam

“Hebat juga kalian bisa menemukan kami. Senang juga bertemu denganmu, Rafael, dan juga kau, Michael”

“Gabriel, Rafael, Michael… aku sudah mengenal kalian sangat dekat… kalian adalah Malaikat yang baik, jadi..”

“Berhentilah bicara, Shani” potong Gabriel cepat

“Kau sudah tidak kuanggap lagi menjadi bagian dari kita. Kau sudah melakukan keputusan bodoh dengan disentuh oleh Iblis hina seperti dia”

“Bajingan kau.. jaga bicaramu..” belum sempat Kelvin mengeluarkan Roostnya, Rafael dan Michael sudah lebih dulu menyerangnya

BWUOSSH BRRUKK

Kelvin menghantam keras dinding goa, tas di punggungnya terjatuh. Shani langsung panik akan Krishna di dalamnya

“Kelvin !!!” Shani menatap khawatir pada kekasihnya, ia menghampirinya yang sedikit mengeluarkan darah di sudut bibirnya

“Baiklah.. kalian boleh menghinaku atau membunuhku, tapi tidak dengan Kelvin” Shani merentangkan kedua tangannya di depan tubuh Kelvin yang masih tersungkur

“Manis sekali” ledek Gabriel melihat suasana yang romantis

“Aku tidak ingin membunuh Iblis itu, ataupun kau, Shani” desis Gabriel

“Apa yang kalian inginkan dari kami ?” tanya Shani

“Bayi itu” sahut Gabriel sambil menunjuk kearah tas hitam di samping Kelvin

Buru-buru Shani memeluk tas itu erat-erat, ia membuka resleting pada tas, dan mengeluarkan Krishna yang sepertinya kehabisan nafas karena terlalu lama berada
disana.

“Langkahi dulu mayat kami kalau kalian mau mengambil bayiku” Kelvin sudah bangkit
berdiri

“Jangan bertindak bodoh. Serahkan saja bayi itu dan semua masalah selesai” kata Gabriel

“Tugasku hanyalah mengambil bayi itu dan bukannya membunuhmu. Tetapi apabila kau terus memaksa, apa boleh buat, aku tidak segan-segan menghabisi nyawamu” Gabriel memandang sinis kearah Kelvin

“Terserah kau sajalah, Gabriel. Aku memang layak dibenci oleh Malaikat sepertimu” kata Kelvin sambil tersenyum masam.

Kelvin sudah mengetahui siapa itu Gabriel, Rafael dan Michael. Ketiganya adalah Para Malaikat yang sudah berpengalaman. Kehebatan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi jadi Kelvin sudah tidak berharap memenangkan pertarungan ini. Dalam keadaan sehat saja, ia belum tentu menang jika harus melawan ketiganya sekaligus, apalagi saat ini ia dalam kondisi terluka. Karena itulah Kelvin menjadi pasrah.

Gabriel menarik pedangnya yang berwarna emas dan mulai menyerang Kelvin. Dengan satu lompatan, Kelvin berhasil menghindari tebasan pedang itu. Sebentar saja mereka sudah terlibat dalam pertarungan seru.

Sementara itu, Shani masih duduk merapat ke dinding goa sambil memeluk erat Krishna nya. Mata hitamnya terlihat sangat ketakutan. Rafael berjalan mendekat lalu berlutut di hadapannya

“Bolehkah aku menyentuh bayimu, Shani ?” tanya Rafael lembut

“Tidak !!” sahut Shani

“Aku tidak akan menyakitinya”

“Kau berjanji tidak akan menyakitinya ?”

“Apa aku pernah melanggar janjiku ?” Rafael menatap Shani. Ada rasa pedih di bola matanya. Namun, bibirnya tetap menyunggingkan senyum.

“Baiklah, tapi berhati-hatilah” Shani menyerahkan bayi mungilnya ke tangan Rafael yang menerimanya dengan begitu berhati-hati. Bayi itu sama sekali tidak menangis, ia justru tersenyum

“Siapa namanya ?”

“..K..Krishna Cresentia Daniel”

“W..wow nama yang sangat bagus” puji Rafael

Rafael menatap bayi itu dengan seksama. Sesaat keningnya berkerut

“Bayi yang manis” gumamnya

“Dia laki-laki” ucap Shani tiba-tiba

“Kalau begitu, dia akan menjadi pria tampan bila sudah besar nanti. Michael, kau tidak ingin melihat anak Shani ?”

Michael yang sedang mengawasi pertandingan antara Gabriel dan Kelvin segera berjalan mendekat. Diambilnya bayi mungil itu dari tangan Rafael

“Tampaknya kau anak yang pintar” kata Michael sambil mengangkat bayi itu keatas

“Siapa namamu Nak ? Atau kau belum diberi nama ?”

“Krishna, Michael”

“Krishna ? Nama yang bagus”

Bayi itu tertawa senang, sepertinya ia sama sekali tidak takut pada Michael. Ia justru menggerak-gerakkan kepalanya seolah ingin diajak bermain. Mendadak Michael melihat sesuatu yang aneh dalam diri bayi yang sedang digendongnya. Disentuhhya kening si bayi dengan tangan kanannya. Keterkejutan jelas terpancar pada wajahnya. Diangkatnya alinya dan ditatapnya Rafael yang hanya mengangguk singkat.

“Besar sekali api dalam dirimu, Nak” kata Michael

“Bayi sekecil ini saja sudah memiliki aura api yang besar di tubuhnya. Apakah kita sanggup merawatnya, Rafael ?”

“Kita tidak punya pilihan lain, Michael. Bayi ini satu-satunya harapan kita. Kita harus berusaha keras merawatnya atau Para Iblis tetap hidup dan menyerang kita”

“Sebentar..” potong Shani

“Apa yang salah dengan Krishna ku ? dia baik-baik saja kan ? Dan Michael, tolong kembalikan dia padaku”

Michael menggelengkan kepalanya

“Apa maksudmu, Michael ? Rafael, kau janji tidak akan menyakitinya. Kembalikan anakku” mata Shani berurai air mata. Ia sudah hendak bangkit berdiri untuk merebut bayinya dari tangan Michael. Namun, Rafael mencegahnya. Dirangkulnya pundak Shani hingga Malaikat itu tidak bisa bangkit

“Aku tadi berjanji tidak akan menyakitinya. Dan aku akan memegang janjiku. Kami akan merawatnya dengan baik”

“Bicara apa kau ini Rafael. Dia milikku. Akulah yang akan merawatnya. Apakah aku harus berlutut padamu memohon agar kau mengembalikan bayiku ?”

Rafael kembali menatap Shani dengan pandangan sedih.

“Andai saja aku bisa melakukannya, pasti akan kukembalikan dia padamu. Tapi kini aku hanya bisa berjanji akan merawatnya sebaik mungkin”

Shani tiba-tiba saja teringat kepada kekasihnya. Dilihatnya Gabriel masih terus menyerang Kelvin dengan buas, padahal sepertinya Iblis malang itu sudah sangat
terdesak

“Gabriel, hentikan ! Kelvin sudah terluka, kau akan membunuhnya” ratap Shani

Air mata kembali mengalir deras pada kedua pipinya. Anaknya sudah akan diambil, kini kekasihnya hendak dibunuh

“Baguslah kalau dia sudah terluka, jadi lebih mudah bagiku untuk membunuhnya” sahut Gabriel dengan kejamnya

“Rafael, tolong selamatkan Kelvin, kumohon, Rafael”

Rafael menjadi sangat kasihan melihat keadaan Shani saat itu. Secara fisik, Shani memang tidak hebat, namun secara mental ia sangat luar biasa. Mana ada wanita yang bisa bertahan begitu lama dalam kesedihan, apalagi kalau segala kesedihan yang harus ditanggungnya itu bukanlah karena kesalahannya.

“Sudah anak manis, jangan menangis lagi. Air mata tidak akan menyelesaikan apa pun”

“Aku tahu air mata tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi saat ini hanya menangislah yang dapat kulakukan. Sampai kapan aku akan mengalami ini ?”

“Aku tidak tahu. Kalau saja kita bisa bertukar posisi, ingin sekali aku menggantikanmu agar kau tidak perlu bersedih lagi”

“Tapi sayangnya ini adalah takdirku dan aku sendirilah yang harus menjalaninya”

*To Be Continued*

wattpad : KelvinMP_48
blog : mandalakelvin.wordpress.com
YT channel : www.youtube.com/user/WWEKelvinMP
Patreon : Patreon.com/KelvinMP

@KelvinMP_WWE

Iklan

2 tanggapan untuk “Annihilation part 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s