Lemon tea and chocolate sponge cake Part 4

 

lemontea

Untuk beberapa hal ditolak oleh Lidya adalah hal terbaik yang pernah kurasakan. Itu membuka mataku bahwa cinta tak semudah yang tertulis dalam cerita roman picisan. Wanita adalah entitas yang menawan sekaligus mematikan, tak mungkin membuat mereka jatuh cinta dalam sehari, dan lebih tak mungkin mendapat ciuman dari mereka dengan mudahnya.

Itu juga membuka mataku tentang hal yang lain, yaitu cinta itu sendiri. Perasaan yang kurasakan pada Lidya adalah perasaan teraneh yang pernah kurasakan. Itu membuatku terjaga pada malam hari, memandangi langit langit sambil membayangkan senyum manisnya. Itu juga membuatku ingin lebih tahu tentang Lidya, dan mungkin menemukan maksud dari perkataannya semalam.

Itu masih tergiang dikepalaku.

“Tapi cinta lebih dari itu, carilah aku akan menunggu,”

Aku tak pernah lebih bingung sebelumnya. Ini lebih membingungkan dari pada chaos theory yang kupelajari saat SMP, jauh lebih membingungkan dari pada belajar bahasa Ibrani. Tapi disisi lain itu membuatku penasaran, dan tentu saja ingin mengerti maksudnya.

Tapi itu sudah cukup menjadi renungan kamar mandiku untuk pagi ini, hari minggu yang seharusnya kuhabiskan dengan Siska. Setelah mengeringkan badan, aku memakai kemeja putihku dan bersiap untuk pergi Ibadah.

Aku bukanlah orang yang religius, karena Siska lah aku masih pergi ke Gereja untuk beribadah. Adik kecilku itu yang selalu mengajakku untuk Ibadah minggu, sejak dulu masih di rumah Ibu hingga sekarang.

Kadang aku malas dan lebih suka menghabiskan mingguku dengan berjalan jalan, tapi ada kalanya aku  bersyukur dia mengajakku karena aku bisa menemukan ketenangan yang tak ku temukan diluar.

Siska selalu tampak menawan dengan pakaian apapun, kali ini dress berwarna hijau yang dipakainya nampak manis. Dia menambahkan sepatu flat putih dan tas kecil berwarna hitam pada tampilannya. Rambut yang diikat dengan gaya ponytail melengkapi itu.

“Ayo berangkat,” ajakku.

“Ayo,”

Kami berangkat menuju Gereja yang jaraknya setengah jam dari tempatku.  Jalanan hari minggu kali ini sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang menemani kami dijalan.

“Jadi abang semalam ditolak,”

“Iya,” jawabku singkat.

Semalam saat aku pulang Siska dengan insting tajamnya tahu jika aku sedang merasa sedih. Dia pun melancarkan beberapa cara untuk mengetahui apa itu, dan akhirnya aku memberi tahunya bagaimana aku menyatakan perasaanku dan mendapat jawaban tidak.

Dia tak berkata apapun lagi semalam, dia hanya menepuk pundakku dan membawakanku susu hangat ke kamarku. Setelah itu dia meninggalkanku sendiri, dan dia baru saja mengungkitnya lagi.

“Satu pertanyaan, kenapa ? maksudku abang baru kenal Lidya satu hari, dan kenapa abang langsung bilang suka sama dia ?”

Aku melirik melihat wajahnya untuk memastikan apakah dia benar benar bertanya serius atau hanya ingin mengangguku. Dari raut wajahnya itu aku rasa dia tak sedang ingin usil padaku.

“Ya…..” sedikit sulit menemukan kata kata untuk menjelaskan sesuatu, saat kau sendiri tak tahu kenapa”Bisa dibilang abang Cuma bodoh,”

“A……” Siska mengatupkan bibirnya, mungkin dia sedang bingung bagaimana meresponku.

Sama seperti semalam dia tak berkata apapun, dia hanya menepuk pundakku dan membiarkanku menyetir dijalanan kota yang lengang.

Dia juga tak mengatakan apapun lagi hingga kami tiba di Gereja, dia hanya tersenyum  padaku saat kami berjalan masuk.

Aku duduk dikursi belakang sementara Siska mengambil kursi yang berada diurutan yang pertama, tak ada alasan khusus aku hanya merasa disinilah tempatku.

Aku selalu suka berada disini, disini aku menemukan damai yang sulit kudapatkan dengan semua masalah dan tanggung jawabku, kadang aku lari dari masalahku dan duduk disini dan kadang menemukan jawaban.

Ibadah pun dimulai, aku mencoba tak memikirkan tentang tindakan bodohku semalam. Aku hanya mencoba menjalankan Ibadah mingguku dengan baik.

Rangkaian acara Ibadah mingu kali ini telah usai, semua orang tersenyum dan saling bersalaman. Aku berjalan keluar menunggu Siska yang masih berbincang dengan beberapa orang teman paduan suaranya.

Aku memilih duduk dibangku yang ada didepan Gereja untuk menunggu Siska. Aku melihat lihat bangunan Gereja yang bergaya Barok, dengan ukiran pada dinding  yang berwarna abu abu dan mozaik pada tiga buah kaca besar yang ada diatas pintu kayu yang juga memiliki ukiran dengan gaya serupa dengan dinding.

Beberapa orang berjalan keluar sambil berbincang tapi aku belum melihat Siska. Terkadang dia memang menikmati waktunya dan membuatku menunggu lama. Tapi itu tak mengapa karena aku selalu menikmati waktuku mengagumi struktur bangunan Gereja yang ada didepanku.

“Hei,”

Aku mengalihkan pandanganku dari mozaik kaca kearah sampingku, dan disanalah sedang duduk seorang gadis dengan pipi yang penuh ( bisa dibilang keseluruhan wajahnya adalah pipi ) tapi aku tak mengenalnya.

“Maaf..tapi…”

“Ya udah lupa,” dia membuang muka dariku dan dari nada suaranya dia marah padaku.”Ini aku Jessica…Jessie masa’ kamu lupa,”

Nama itu terdengar familiar tapi aku masih tak yakin siapa dia.

“Ihhh….aku Jessica Veranda,”

“Ve ? kamu pipi gembul ? kok beda…kamu kok cantik ?” itu mungkin bukan kata yang tepat, saat kau baru bertemu dengan sahabatmu yang sudah lama tak kau temui, lalu kata kata pertama yang kau ucapkan adalah “Kamu kok cantik ?”

“Ihhh jahat, kamu Cuma ingat sama pipi aku aja, sama akunya enggak,”

“Habisnya wajah kok pipi semua,”

“Sebel,”

Aku tertawa melihat dia memanyunkan bibirnya kedepan, itu terlihat lucu karena ekspresi itu tak seharusnya dilakukan oleh gadis seusianya.

“Kamu Gereja disini juga ?”

Dia akhirnya berhenti memanyunkan bibirnya dan kembali memandangku.

“Nggak sih sebenarnya tadi diajakin, aku sih nggak masalah karena Ibadahkan soal niat,” Jawab Ve.”Terus tadi lihat kamu terus ternyata bener,”

“Aku aja nggak ngenalin kamu Ve, beda banget sama yang dulu. Cuma pipinya aja masih satu muka,”

“Awal sih ragu, tapi pas ngeliat luka yang dileher sama dada kamu, aku yakin pasti itu kamu,”

Aku memegang luka yang dimaksud Ve, luka yang kudapat dulu. Aku tak bangga akan mereka, tapi jika mereka yang mempertemukanku lagi dengan Veranda, aku senang mereka ada.

“Sendirian ?”

“Nggak sama….itu Desy,”

Ve menunjuk kedua orang gadis yang sedang berbincang didepan papan pengumuman Gereja, seorang gadis tinggi teman Ve yang bernama Desy dan adikku sendiri Siska.

“Teman Siska juga ternyata,”

“Siska ? itu Siska ?”

“Iya,”

“Kok beda, dia sekarang cantik banget,” ucap seseorang yang bahkan tak mirip sedikitpun dengan dirinya saat SMP.

Siska dan Desy memandang kearah kami berdua, aku membalas lambaian mereka dan memberikan senyumku karena aku baru pertama kali bertemu Desy. Mereka nampak sudah selesai dengan pembicaraan mereka, dan datang menghampiri kami.

“Kak Ve kenal sama abangnya Siska ?” tanya Desy.

“Iya temen SMP,” jawab Ve.

“Oh gitu, kenalin aku Desy panggil aja Desy,” ucapnya dengan senyum yang merekah.

Hal pertama yang kusadari adalah Desy jauh lebih tinggi dari yang kukira, dia memakai pakaian yang lebih casual dari Siska dan Ve dengan memakai kemeja flanel mereka yang ditambah dengan jeans berwarna biru. Hal itu berbeda dengan Ve yang memakai gaun terusan hitam tanpa lengan, yang ditambah dengan sepatu hak pendek berwarna hitam.

Desy memiliki wajah yang ayu, mata hitam yang sedikit sipit dengan pipi yang sama penuhnya dengan Ve, dia tersenyum dengan bibir merah muda yang melengkung manis pada wajahnya, tapi hal yang paling kusuka adalah rambutnya yang dipotong pendek sebahu.

“Chris panggil aja…ah,” aku kesulitan mengikuti lelucon Desy sebelumnya sehingga membuat dia diam menunggu.

“Ya udah panggil aku bang Chris aja,” untungnya Desy memecahkan kecanggungan yang sempat terjadi.

“Ya boleh,”

“Kok abang nggak pernah cerita soal kak Ve ?” tanya Siska.

“Ya apa yang mau diceritain,”

“Jahat,” sambung Ve.

“Ya udah cerita ceritanya sambil makan yuk, cacing diperut aku udah demo nih,” ucap Desy.

“Boleh,” jawab ku.

“Bayarin,” ucap Ve dengan wajah yang ditekuk.

“Kok ?”

“Abis kamu jahat,” jawabnya cepat.

Demi menghindari suasana menjadi lebih canggung aku setuju dengan permintaan Ve, setelah menyusuri jalan kota yang mulai ramai kami akhirnya makan disebuah rumah makan padang.

Ada banyak hal yang pernah membuatku terkejut, jumpscare di film atau game horror, orang yang ngebut dijalan raya atau dalam satu kesempatan Siska yang masuk ke dalam kamar mandi saat aku sedang mandi karena aku lupa mengunci pintu. Tapi tak pernah sekalipun aku membayangkan akan terkejut melihat para gadis cantik itu memesan makanan yang begitu banyak.

Meja kami penuh dengan lauk pauk dan beberapa piring nasi ukuran besar, aku tahu jika Siska makan dengan porsi yang besar, tapi melihat Ve dan Desy makan dengan porsi yang sama itu mengejutkan. Tak heran mereka semua punya pipi yang mengembung.

“Kok nggak makan ?” tanya Desy yang sedang menuangkan satu piring ayam goreng ke piring nasinya.

“Iya nanti kalo dingin nggak enak,” sambung ve yang menambahkan nasi ke mangkuk gulai ayam.

“Makan dong bang, nanti sakit loh,” ucap Siska.

“Aku kenyang ngeliat kalian,” ucapku dalam hati. “Nggak lapar,”

“oh…,” ucap mereka bertiga serentak.

Mereka melanjutkan acara invasi mereka, yang mengagumkan karena ketiga gadis itu berhasil membuat seluruh  piring dan mangkuk diatas meja kosong.

Saat aku mengantarkan mereka pulang aku mencoba memperhatikan pipi mereka, mencoba melihat apakah seluruh makanan tadi disimpan dipipi mereka seperti yang unta lakukan atau tidak.

“Ada apa bang Chris kok lihat lihat kak Ve trus,” ucap Desy.

“Ih…apaan sih Desy,” ucap Ve seraya mencubit lengan Desy.

“Bukan apa apa, aku hanya penasaran apakah semua makanan tadi disimpan Ve di pipinya seperti unta. Karena aku tak pernah melihat orang makan sebanyak itu dan tetap kurus, pasti ada sesuatu dan perkiraanku itu ada hubungannya dengan pipi ve yang gembung.”

Desy dan Siska tertawa terpingkal pingkal mendengar ucapanku barusan, sementara Ve kembali menekuk wajahnya.

“Baru aja dimaafin udah jahat lagi,” ucap Ve yang masih menekuk wajahnya.

Aku rasa Ve menganggap ucapanku tadi sebuah hinaan, tapi aku tak berniat menghina atau apapun. Aku benar benar penasaran dengan kemana perginya semua makanan tadi.

“Serius,” ucapku. Tapi itu hanya membuat tawa Desy dan Siska semakin lebar, dan karena Ve nampaknya tak ingin menjawab pertanyaanku. Aku tak akan pernah tahu bagaimana Ve bisa makan itu semua, atau apa dugaanku tentang pipinya itu benar.

Aku akhirnya mengantarkan Ve dan Desy pulang tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaanku, dan hal itu membuatku penasaran membuatku terjaga sampai malam.

Aku yang punya kebiasaan buruk tak bisa tidur saat ada hal yang menganggu pikiranku. Kadang itu membantuku, tapi hal itu lebih banyak membuatku memiliki malam malam tanpa tidur.

Aku sempat ingin bertanya pada Siska tentang itu, tapi menilai dari reaksinya tadi siang dia tak akan memberikanku jawaban yang kubutuhkan. Itu meninggalkanku pada pilihanku yang lain, gadis lain yang mungkin memberikanku jawaban.

“Apa kau sudah tidur ?” isi pesan yang kukirim pada Lidya.

“Belum sih,” balasnya beberapa detik kemudian.

“Aku punya hal yang menggangguku dan itu membuatku tak bisa tidur,”

“Ok,”

“Aku bertemu teman lamaku pagi ini,”

“Cewek ?”

“Iya,”

“Oh…”

“Dan aku rasa dia marah atas pertanyaan yang kutanyakan padanya,”

“Kok bisa ?”

“Kami makan siang bersama, dia memesan banyak makanan dan sanggup menghabiskan itu semua. Itu membuatku penasaran karena dia masih tetap kurus, aku kira semua makanan itu disimpan di pipinya seperti yang unta lakukan. Karena aku ingin memastikan hal itu, aku bertanya padanya dan setelah itu dia hanya diam,”

“Wkwkwk lu sih cewek kok dibilang nyimpan makanan di pipi, ya marah lah,”

“Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan ?”

“Minta maaflah apa lagi, ya udah gue mau bobo bye.”

Lidya mengakhiri chatnya, aku masih ingin bertanya beberapa hal padanya. Lidya yang masih membalas pesan dariku pertanda bahwa hubunganku dengannya masih memiliki harapan, yang berarti aku hanya perlu mencari tahu maksud perkataannya.

Saat aku ingin melompat untuk merayakan kesenanganku, sebuah pesan lain masuk.

“Ini aku Ve,”

 

-chris vylendo-

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Lemon tea and chocolate sponge cake Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s