This is My Life, part 12

sdg

“Eh, kamu mau kemana lagi yank?” Tanya Kak Dhike saat dia ngeliat gue kembali masuk kedalam mobil.

“Mau kerumah sakit, tadi di chat sama bang Robby.. Katanya suruh cepat kerumah sakit,” jawab gue.

“Rumah sakit mana?” Tanya Kak Dhike lagi.

“Astaga iyaya, bego. Bang Robby gak ngasih tau ke rumah sakit mana.” Gue keliatan kaya orang bego sekarang di depan Kak Dhike.

“Ya udah, tanya dulu bang Robbynya. Daripada nanti kamu bingung sendiri dijalan kan,” ujar Kak Dhike memberi usul.

“That’s right Key, sudah cantik, pinter lagi,” ujar gue.

Gue mengechat bang Robby untuk menanyakan keberadaan rumah sakit yang dimaksud.
1 setengah menit kemudian, bang Robby menjawab dan memberitahukan bahwa dia berada di rumah sakit yang bernama Rumah Sakit “Sakit Terus Sehat Kaga”.

“Aku jalan dulu deh Key, bang Robby sudah ngasih tau tadi. Kalo mama aku nanya, bilang aja aku kerumah sakit jenguk teman gitu ya,” ujar gue sambil membuka pintu mobil.

“Terus kamu kesana pake mobilnya bang Dika gitu, kalo dia mau make gimana?” Kak Dhike kembali membuka suaranya.

“Ah, lupa gue. Biar cepet, enaknya pake motor atau mobil Key?” Gue bertanya dengan pertanyaan yang sangat bego dan tolol menurut gue.

“Kamu terkadang bisa berubah jadi bego dan polos ya hihihi.”

“Pake motor aja sayang, biar cepet. Kalo pake mobil, ntar malah kena macet lagi,” tambahnya.

“Mantap djiwa raga Key, kamu emang istri idaman. Dah, yok masuk dulu.. Aku mau sekalian ngambil kunci motor sama jaket dulu di kamar,” ujar gue sambil menarik tangan Kak Dhike.

“Ishh, apaan sih? Kebelet nikah banget kayanya pacar aku ini hihihi.”

“Kalo nikahnya sama kamu, siapa yang gak mau coba.”

“Ihh, kamu gombal mulu.” Wajah Kak Dhike gue perkirakan merah kek kepiting dibakar hidup-hidup.

Gue masuk kedalam rumah dan masih menarik tangan Kak Dhike, keadaan rumah saat ini lumayan ramai.

“Woy, enak banget kayaknya itu tangan.” Salah satu sepupu gue nyeletuk saat gue lewat didepan mereka.

“Yee, sirik aje om. Noh, Kak Feby lo anggurin.. Tangannya gerak-gerak tuh kepengen dipegang juga,” ujar gue sambil menunjuk tangan pacar om gue.

“Ciee, yang tangannya pengen dipegang juga. Sini-sini.” Om gue mengambil tangan pacarnya dan wajah sang pacar pun berubah menjadi merah kek udang setengah mateng.

Gue masuk kekamar dengan masih menarik tangan Kak Dhike.

“Kamu lepasin coba ihh, malu tau.”

“Ciee, yang malu. Gak papa, sante aje lagi.” Gue melepas genggaman tangan gue di tangannya Kak Dhike. Gue ambil jaket, gloves dan kunci motor kesayangan gue.

“Key, aku tinggal bentar ya. Kamu kalo mau pulang minta anter Kak Sendy aja, aku mungkin sampe malem,” ujar gue sambil memegang kedua tangan Kak Dhike *sok dramatis.

“Kamu mau kemana? Jangan bilang mau kelai lagi, aku gak ngijinin ya.”

“Aku usahain ya Key. Sekarang aku mau kerumah sakit dulu jenguk Lukman, dia habis dikeroyok sama geng WereWolf.”

“Aku sayang kamu. Plis, denger kata-kata aku.” Air mata Kak Dhike tiba-tiba keluar dari tempatnya.

“Lah, kok malah nangis sih? Sante aja kali, percaya aja sama aku, kan aku rame-rame sama anak-anak club juga.”

“Kamu sih bikin aku nangis dan khawatir, siapa suruh mau kelai-kelai terus?”

“Aku gak bilang mau kelai loh ya, aku kan cuman bilang mungkin malam baru pulang karna pasti ngerundingin masalah ini sama anak-anak. Kamunya yang salah persepsi hahahaha.”

“Ishh, seneng banget sih bikin orang khawatir.”

“Ciee, yang khawatir. Aku jalan dulu ya, kalo mau pulang minta anter Kak Sendy aja.”

“Iya.”

Gue dan Kak Dhike keluar dari kamar. Gue kedapur untuk pamitan sama mama gue dan yang lain. Sedangkan, Kak Dhike ke halaman belakang yang sedang rame oleh para anak-anak muda dari keluarga gue.

“Ma, Ichan kerumah sakit dulu,” pamit gue ke mama gue.

“Iya, hati-hati ya.” Gue pun mencium pundak tangan mama gue dan keluar lewat pintu garasi.

 

—This is My Life—

 

“Kronologis kejadiannya gimana coy?” Gue bertanya kepada beberapa anak-anak club yang sedang berkumpul didepan kamar rawat Lukman.

“Lo inget kan sama sms teror yang masuk ke hpnya Lukman sepulang kalian riding beberapa waktu lalu?” Bang Robby kembali bertanya dengan gue.

“Ya, inget bang.”

“Nah, tadi Lukman lagi jalan sendiri habis nganter ceweknya.. Pas dijalan pulang, dia dicegat sama geng WereWolf, habis itu lo pasti tau apa yang terjadi selanjutnya. Kita semua menyimpulkan kalo sms itu dari geng WereWolf dan Lukman jadi targetnya,” ujar bang Robby panjang x lebar = tinggi.

“Ohh, terus rencana lo gimana bang?” Tanya gue lagi.

“Kita tarik ulur dulu mereka, kita pancing-pancing. Ntar kalo mereka sudah kepancing, baru kita sikat,” jawab bang Robby.

“Kita pancing pake apa bang? Terus di empang mana?” Akbar bertanya dengan pertanyaan yang very very tolol dan bloon kaya orangnya.

“Lo kira kita mau mancing ikan, maksud gue kita pancing emosi mereka, ntar kalo mereka udah kepancing.. Baru kita sikat dah,” ujar bang Robby agak kesal.

“Kalo menurut gue, kita langsung aja samperin mereka sekarang bang. Karna, mereka kan pasti gak nyangka kita bakal gercep, kita sekedar ngegertak aja gitu, jadi gak usah pake pancing-pancingan segala.. Kelamaan kalo pake pancing-pancingan segala.” Gue memberikan usul yang menurut gue terbaik.

“Itu boleh juga sih, kita jalan sekarang. 2 orang jaga disini ya, keluarganya Lukman bentar lagi datang,” ujar bang Robby seraya berdiri dan diikuti yang lain.

“Gue sama Rifa’I aja yang jaga disini bang,” ujar Isra.

“Lah, kenapa gue si bang? Gue kan pengen ikutan ngajar mereka,” ucap Rifa’I yang kesal karena keputusan sepihak dari Isra.

“Udah, terima aje.” Rifa’I dengan wajah terpaksa harus menerima ucapan Isra tadi.

“Oke, kalo gitu yang jaga disini Isra dan Rifa’I ya. Sisanya ikut kita ke markas WereWolf.” Gue dan Bang Robby berjalan paling depan dan diikuti sekitar 16 orang dibelakang kami berdua.

 

—This is My Life—

15 menit perjalanan, gue dan yang lain sampai dimarkas geng WereWolf.

Gue turun dari mobil dan gue liat ada sekitar 2 orang yang pake mobil ditambah gue jadi 3.

“Oke, denger kata-kata gue ya. Kita cuman gertak mereka aja, sekedar ngasih pelajaran buat mereka.. biar mereka gak ngeremehin Club DR lagi.” Bang Robby memperingati kita.

“Yo, dan satu lagi pesan gue. Jangan buat mereka sampai pingsan, seperti yang bang Robby bilang tadi.. kita cuman gertak aja, tunggu waktu yang pas baru kita bikin mereka betul-betul nyerah dan bertekuk lutut sama kita.” Gue menambahin perkataan bang Robby tadi.

“Pokoknya kita main santai tapi tetep jangan anggap remeh, kita nyerang secara dadakan dan tutup semua jalan keluar,” ujar bang Robby.

“Kita buat formasi seperti biasa, dan gue hitung sampe 3 baru kita nyerang. Paham?” Gue dan bang Robby berjalan ke paling depan dan disusul di barisan belakang para anggota Club DR.

 

Gue terlebih dulu ngecek keadaan didalam sana. Terlihat sekitar 10 orang geng WereWolf sedang berkumpul dan masing-masing memegang satu buah vape dan rokok, dan ada juga beberapa botol miras yang belum dibuka.

Gue kembali ke barisan formasi, “Mereka ada 10 orang. Mungkin yang ikut kedalam gue batasin.. yang ikut masuk cuman 8 orang aja, sisanya jaga-jaga diluar, gue yakin beberapa anak WereWolf yang lain pasti dalam perjalanan kesini,” ujar gue kemudian.

“Gue diluar deh, sebagain ikut gue dan sisanya lagi ikut sama Ikhsan,” ujar bang Robby sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya.

“Oke. Gak usah lama-lama, langsung aje dobrak pintunya.” Gue jalan duluan mendahului yang lain.

 

Brak!!!

Gue mendobrak pintu yang membatasi luar dan dalam. Anggota geng WereWolf kaget dan langsung loncat dari tempat mereka masing-masing.

“WOY! APA-APAAN NI?” Salah satu anggota WereWolf berteriak dengan wajah yang sok diseremin.

“Siapa yang sudah ngeroyok Lukman?” Gue bertanya dengan nada yang dingin dan santai.

“Lukman? Siapa Lukman?” Tanya anggota WereWolf yang bernama Yudi.

“Gak usah pura-pura bego deh. Lo pikir Lukman siapa yang kita maksud?” Tanya Andi dengan nada kesal.

“Kita pikir Lukman yang sedang terbaring lemah dirumah sakit dengan merintih kesakitan hahahahaha.” Mereka semua tertawa dengan keras, itu membuat gue dan anak DR jadi naik pitam.

“Gak usah banyak bacot, gak usah banyak omong. SERANG!!!” Gue berteriak sambil berlari dan menendang punggung anak WereWolf yang sedang menghadap ke belakang, sebutlah namanya Rudi.

“Anjing… berani juga lo ya.” Rudi terkejut dan membalas tendangan gue.

Gue menghindar dari tendangan Rudi dan terus menghindar karena Rudi terus menyerang gue dengan membabi buta. Ketika dia lengah karena kewalahan, gue menendang dagunya karena dia sedang bungkuk untuk mengatur nafasnya.

“ARGGGHHHH!” Tendangan gue pada dagunya berhasil membuat Rudi terjatuh kebelakang dan menghantam lantai dengan keras.

Dengan cepat, gue lari kearahnya dan langsung menginjaknya tepat dibagian dada.

“UAAARRGGHHHH!” Teriakan Rudi lebih nyaring dari sebelumnya.

“B-ba….ng….sat  lo.. g-gue ba…kal b-ba..las nan…ti.” Rudi berkata dengan suara lirih dan tersendat-sendat karena menahan sakit didada dan dagunya.

“Gue tunggu ancaman lo,” balas gue dengan nada santai dan dingin.

 

Gue melihat kesekitar, ternyata anggota geng WereWolf sudah banyak yang tumbang dan beberapa anak DR pun sudah tumbang. Gue liat si Andi kayanya lumayan kewalahan ngadepin lawannya, wajar lah dia kewalahan.. orang dia sendiri dan ngelawan 2 orang sekaligus. Ckckck, bisanya main keroyokan. Gue berjalan ke arah Andi dan berniat untuk membantunya.

“URGGHHH!” Andi termundur beberapa langkah ke belakang karena dadanya ditendang oleh salah satu lawannya. Gue membantu Andi agar ia tidak jatuh kelantai.

“Lo gak papa?” Tanya gue ke Andi.

“Thanks san.. gue gak papa,” jawab Andi sambil memegangi dadanya. Gue lihat ke yang lain, ternyata sisa 2 orang dihadapan gue sekarang.

“Sisa 2 orang nih.. kita selesaikan sekarang, biar cepet balik.” Gue membantu Andi menegakkan badannya.

“Oke.”

 

Gue berdiri bersebelahan dengan Andi dan menatap santai namun tajam tepat kearah mata lawan didepan gue sekarang.

Lagi asik-asik natap tajam mata lawan, tiba-tiba dia lari kearah gue dan melayangkan tendangan. Untunglah, gue orangnya reflek.. jadi dengan mudah gue bisa menghindari tendangan dia.

“Ah, ganggu suasana aje lo anjing.” Gue mengambil posisi kuda-kuda dan bersiap menerima serangan demi serangan dari lawan gue ini. Sebutlah lawan gue ini namanya Jacky

 

Baru gue ngambil posisi kuda-kuda, si Jacky sudah kembali menyerang gue. Gue yang sudah siap menerima serangan, segera menghindar dan menangkis beberapa pukulan yang ia layangkan ke gue.

DAK!

DAK!

BUG!

“ARGGHHH!” Gue memukul wajah si Jacky tepat di pelipis kirinya dan menyebabkan sedikit mengeluarkan darah.

Jacky menghapus darahnya sedikit, kemudian kembali menatap gue dengan mata yang disipit-sipitkan.

“HIAAA,” teriaknya saat kembali menyerang gue. Gue segera menendang perutnya.

“URRGGHHH!” Terakhir gue melakukan uppercut sebagai salam perpisahan dari gue. Jacky pun tumbang dengan mata yang setengah sadar.

“Gimana Ndi?” Tanya gue ke Andi yang tampaknya juga telah selesai mengalahkan lawannya.

“Sip, kelar nih.” Andi memberikan jempolnya ke gue.

“Bantu yang lain dulu yok, gotong mereka-mereka ini,” ujar gue sambil mengangkat badan temen gue yang lemah.

“Masukin beberapa ke mobil gue, sisanya terserah aja,” ujar Alex.

 

Gue mengangkat tubuh temen gue tadi yang lemah seperti gak punya tenaga lagi untuk berjalan. Gue berjalan keluar dari markas geng WereWolf tadi..

Wow, ternyata diluar juga telah terjadi perkelahian Club VS Geng. Gue taksir, ada sekitar 5 orang yang terbaring di tanah dan kesemuanya adalah anak geng WereWolf.. sedangkan, anggota Club DR yang terlibat perkelahian tadi, sedang duduk manis diatas motor, beberapa ada yang bermain hp dan beberapa sedang asik ngisap rokok atau vape dan membuat asap bulat-bulat atau kreasi asap lainnya. Gue segera memasukkan temen gue yang namanya Andre kedalam mobilnya Alex.

 

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak gue dan dari tangannya keknya ini cewek deh, soalnya lembut-lembut gitu

“Ikhsan.”

 

Bersambung…

-VR46-

@IskaIkhsan48

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s