“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 22

Robby kini tengah bersiap-siap di apartementnya, karena memang hari ini ada jadwal mata kuliahnya. Dengan langkah tergesa, ia menuju dapur setelah memakai pakaiannya. Ia mengambil susu kotak yang ada di dalam kulkas, dan berjalan keluar apartementnya sambil meminum susu kotak tersebut.

Kembali dengan langkah yang tergesa, Robby menuju parkiran di bawah. Ia masuk ke dalam mobilnya, lalu menjalankan mobilnya menuju kampus…

Setibanya Robby di kampus, ia pun memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobilnya. Berjalan menuju kelasnya. Ia mengikuti mata kuliahnya tidak fokus, karena memang sedari tadi malam ia selalu memikirkan apa yang diucapkan oleh Shani malam itu.

Apa benar? Kalau memang benar, siapa laki-laki itu? Dan kenapa Shania tega sekali berbuat seperti itu? Pikiran Robby terus saja bertanya-tanya apa yang menyebabkan Shania seperti itu, apakah ada yang kurang darinya? Dan sekarang apa yang harus ia lakukan?

Robby tersadar dari lamunannya, karena seseorang menepuk pundaknya.

“Mau sampai kapan lo di sini? Udah selesai juga.”

Robby mengernyit, “Ngg, udah selesai Gre?” Ia menatap sekelilingnya.

“Udah dari tadi kali,” ucap Gre.

Robby pun memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas, dan beranjak dari tempat duduknya, “Lo mau kemana Gre? Kantin?”

Gre mengangguk, “Mau ke kantin juga? Bareng aja deh sekalian.”

“Yaudah, yuk.”

Mereka berdua pun berjalan menuju kantin bersama, Gre mengernyitkan heran pada tingkah laku Robby yang berbeda hari ini. Banyak melamunnya, dan di kelas tadi pun ia memergoki Robby yang tengah melamun. Bahkan sekarang pun ia melihat pandangan mata Robby yang terlihat kosong.

“Mau kemana? Kantinnya kan ke kanan,” ucap Gre sambil menahan tangan Robby.

Robby terdiam, dan menghela nafasnya, “Yaudah, ayo.”

Gre melepaskan tangannya, dan kembali berjalan bersama Robby menuju kantin. Di dalam kantin banyak mahasiswa maupun mahasiswi yang entah sedang mengisi perut atau hanya numpang duduk sambil mengerjakan tugas. Robby dan Gre berjalan menuju salah satu meja kantin, yang terdapat teman-temannya. Gre berjalan memesan makanan untuknya, sedangkan Robby duduk tepat di samping Reizo.

“Napa tu muka kusut gitu? Gak ada semangatnya banget dah,” ucap Reizo.

Robby memutar bola matanya malas, “Ck, sialan lo.”

“Seriusan juga. Kenapa sih?” tanya Reizo.

Robby menghela nafasnya, “Gak kenapa-kenapa juga.”

Reizo berdecak kesal, “Gue udah kenal lo lama, sebelum yang lain kenal sama lo. Gue udah kenal lo kali, ada apa sih? Berantem Shania? Atau sama Shani?”

“Kok bawa-bawa Shani?” Robby menatap Reizo dengan kesal.

“Wets, biasa aja. Kalem, jadi sama Shania ya?” tebak Reizo.

Robby menghela nafasnya dan mengangguk, “Ya begitulah. Bukan masalah sih, tapi pikiran negatif gue doang.”

Reizo mengernyitkan dahinya bingung, “Maksud lo?”

“Kemarin Shani bilang, kalau ngeliat Shania sama cowok lain,” ucap Robby.

Reizo tertegun, tetapi ia bisa menguasai dirinya untuk tidak ketahuan dari Robby. Sepertinya ia telah mengetahuinya.

“Emang Shani ada buktinya gitu? Foto kek gitulah.”

Robby mengganggukan kepalanya, “Dia juga nunjukin fotonya sama gue.”

“Mirip aja kali,” ucap Reizo.

“Gue harap gitu Zo,” ucap Robby pelan.

~

Robby berjalan memasuki rumahnya, setelah selesai di kampusnya. Ia pun menuju ke rumahnya, karena memang Yupi adik kesayangannya itu memintanya untuk menemaninya berbelanja keperluan tugasnya. Daripada ia bosan, mungkin ada betulnya juga menerima tawaran dari Yupi. Dan di sinilah ia sekarang, berada di ruang tamu rumahnya.

“Gimana kuliahnya?” tanya Naomi yang membawa dua buah minuman untuk dirinya dan Robby.

“Lancar kok kak.” Robby meneguk minuman yang dibawakan oleh Naomi.

Naomi mengangguk-ngangguk, “Terus, gimana hubungannya lancar juga?”

Robby menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.

Naomi menatap bingung dengan ekspresi Robby yang berubah, “Kenapa? Ada masalah kah?”

Robby menggelengkan kepalanya, “Enggak kok kak. Enggakpapa.”

Naomi menganggukkan kepalanya seolah percaya pada Robby, padahal ia tau bahwa Robby tengah sedang dalam masalah. Mungkin Robby belum mau cerita, pikirnya.

“Berangkat yuk, kak,” ucap Yupi yang datang dari dalam menghampiri mereka berdua.

Robby bangkit dari duduknya, “Yaudah, yuk.”

“Berangkat ya kak Nomnom.” Yupi mencium pipi kanan Naomi.

“Hati-hati ya kalian.” Naomi mengantarkan mereka keluar rumah.

Robby dan Yupi pun masuk ke dalam mobil, dan perlahan menjauhi rumahnya itu. Naomi pun menutup pintu rumahnya, dan tak lupa juga ia menguncinya…

~

Viny kini tengah berada di sebuah toko yang menjual alat-alat dan bahan untuk tugasnya, ia mencari-cari mengelilingi toko yang memang lumayan besar tersebut. Setelah memilah-milah bahan dan alat yang ia perlukan, ia pun segera berjalan menuju kasir.

Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang perempuan yang berponi depan. Viny berjalan menuju perempuan tersebut.

“Yupi?” panggil Viny.

Yupi pun berbalik ketika Viny memanggilnya, “Kak Viny!” dengan girangnya, Yupi pun memeluknya.

Memang selain Shania, Yupi juga mengenal Viny. Karena memang teman kakaknya semasa SMA, dan juga setelah lulus ketika Shania pergi. Viny cukup sering main ke rumah, karena memang ya dia ingin menghibur Robby. Ia tidak sendiri, ada juga temannya yang lain. Tetapi dari semuanya, Viny lah yang cukup dekat dengan Yupi.

“Kamu ke sini sama siapa? Sendirian?” Viny melepaskan pelukan Yupi terlebih dahulu.

Yupi menggelengkan kepalanya, “Enggak kok. Aku tadi sama kak Robby.”

“Oh ya? Mana Robbynya?” Viny mengitari pandangannya di belakang Yupi.

Yupi menoleh ke belakang, “Loh? Tadi ada di belakang aku kok.”

“Yaudah, nanti juga ketemu kok. Kan bisa ditelpon,” ucap Viny.

Yupi menganggukan kepalanya, “Kakak ke sini sendiri?”

“Iya, tadi sendiri aja ke sini. Kamu mau cari apa di sini?”

“Mau cari bahan buat tugas aku kak,” ucap Yupi.

“Yaudah, kalau gitu kakak bantu nyari bahannya yuk?”

Yupi mengangguk dengan senang, kemudian Viny pun membantu Yupi mencari bahan untuk tugasnya. Sedangkan Robby, kini tengah berada di bagian lainnya. Ia tengah melihat-lihat apa yang dijual di toko tersebut.

Yupi kini tengah menenteng belanjaannya, setelah Viny membantunya dengan mudahnya ia menemukan bahan yang ia butuhkan. Bahkan Viny menawarkan untuk membantu tugasnya nanti di hari minggu. Dan sekarang, ia dan Viny menunggu Robby di parkiran setelah menelponnya tadi.

“Loh Vin? Kamu ngapain di sini?” Robby menatap heran pada Viny yang bersama Yupi.

“Ya aku beli bahan buat tugaslah, kamu kira aku ngapain coba disini,” ucap Viny sebal.

Robby menggaruk leher belakangnya, “Ya maaf, kan aku gak tau Nyi.”

“Yaudah deh, aku pulang ya?”

“Bareng kita aja gimana kak?” tawar Yupi.

“Ngerepotin nanti Yupi,” Viny mengacak pelan kepala Yupi.

“Enggak kok. Ya kan kak? Enggak ngerepotin kan?” tanya Yupi pada Robby.

Robby menganggukkan kepalanya, “Iya, enggak kok.”

“Tuh, bareng aja yuk kak?”

Viny terkekeh pelan, “Yaudah-yaudah, bareng deh ya.”

Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Robby. Viny duduk di samping Robby yang mengemudi, sedangkan Yupi duduk di belakang mereka. Di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu baru setelah itu pulang ke rumah.

Dan di sinilah mereka sekarang, berada di sebuah café yang terkenal dengan masakan jepang dan ice creamnya. Viny dan Yupi berjalan menuju kasir, karena mereka kini yang memesan makanan. Sedangkan Robby, duduk di tempat yang untuk empat orang tepat di pinggir café tersebut. Dan di samping kanannya ada jendela yang menampakkan pemandangan dari luar.

“Ngelamun aja.” Viny membawa nampang yang berisikan makanan dan Yupi juga sama seperti halnya dengan Viny, hanya saja yang ia bawa adalah ice cream untuk mereka berdua. “Nih, pesanannya. Selamat menikmati.” Canda Viny yang menaruh makanan untuk Robby.

Robby menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, Viny memang selalu paham keadaannya setelah Naomi dan Beby.

“Makasih ya mba-mba espege, silahkan balik lagi,” ejek Robby.

“Dikiranya aku espege apa coba? Ada emang espege kayak aku gini? Cantik gini juga.” Viny menaruh makanan miliknya dan Yupi, lalu duduk di samping Robby.

“Ngelunjak dasar,” cibir Robby.

Yupi yang ada di depan mereka pun hanya menonton keduanya, tanpa berbicara apa-apa. Ia lebih mementingkan makanan yang ia pesan sekarang, karena memang ia sangat lapar sekarang.

“Sebelum makan itu berdoa dulu,” titah Viny.

Mereka bertiga pun melakukan doa sebelum makan, setelah selesai mereka pun makan dengan hikmatnya. Dan setelah selesai makan, Viny dan Yupi melanjutkan makan ice cream yang mereka pesan. Sedangkan Robby, lebih asik memandang kearah luar jendela.

Kini pandangan Robby terfokus pada seseorang yang baru saja turun dari taksi. Seorang perempuan yang sangat ia kenali tengah berdiri di sebrang jalan sana. Mata Robby membulat, ia sangat ingin sekali berjalan ke sebrang sana.

Tetapi ia terdiam ketika sebuah mobil yang tepat berhenti di depannya. Seketika rahangnya mengatup keras, tangannya mengepal kuat. Jadi sekarang ia tau siapa yang sedang bersama wanitanya di foto itu.

Viny yang melihat perubahan pada Robby itu pun mengikuti arah pandangnya, dan ketika itu juga ia terkejut. Robby sudah melihatnya, dan apa yang harus dilakukan Viny sekarang? Ia bisa apa?

“Kita pulang,” ucap Robby dingin dan bangkit dari duduknya.

“Belum abis juga ih ice creamnya kak,” rengek Yupi.

“Pulang,” ucap Robby dingin.

Robby berjalan mendahului mereka menuju parkiran. Sedangkan Viny menatap iba pada Robby, kemudian ia menatap Yupi yang sedang cemberut dibuat oleh Robby.

“Udah ya? Nanti kita makan ice cream lagi, kakak kamu lagi ada masalah kayaknya,” ucap Viny lembut.

Yupi mengangguk pasrah, kemudian ia pun bangkit yang disusul Viny dan berjalan menuju parkiran. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, dan menuju rumah Viny…

Sesampainya di depan rumah Viny, Robby pun memberhentikan mobilnya. Robby mengantarkan Viny keluar, sampai menuju depan pagar rumahnya.

“Pulang dulu ya Vin,” ucap Robby.

Robby hendak berbalik menuju mobilnya, tetapi tangannya ditahan oleh Viny. Sehingga membuat Robby menatap bingung pada Viny.

“Apapun masalah kamu, selesaiin dengan kepala dingin. Jangan pakai cara kekerasan ya? Pasti semuanya bisa dicari jalan keluarnya, tanpa menggunakan emosi apalagi kekerasan,” ucap Viny.

Robby yang bingung dengan apa yang dikatakan oleh Viny pun mengangguk saja. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam mobilnya, dan ia pun meninggalkan rumah Viny..

Viny tau, setelah ini semuanya akan mulai. Dan Robby telah tau semuanya, mungkin aja ini akan memperburuk kedepannya nantinya…

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

2 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s