Puririnpa, Part3

Part1
Part2

Semangkok bakso dan secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul memang sebuah sensasi yang indah dipandangi ketika perut lagi lapar. Setiap partikel asapnya yang membawa aroma kenikmatan memancing hasrat untuk cepat-cepat menyantapnya.

Tapi, semua kenikmatan itu seketika buyar, menghilang tanpa jejak saat gadis yang tiba-tiba duduk di hadapan gue sekarang datang, menjarah mangkok bakso gue yang baru juga asapnya gue nikmatin.

Gadis itu menatap gue tajam, nafasnya terdengar menderu pelan keluar dari hidung. Sepertinya ia baru saja sehabis berlari.

“Kakak ini gimana sih?” Ia menjauhkan mangkok bakso dari jangkauan tangan gue. Sebuah antisipasi kecil, seperti ia bisa membaca pikiran gue.

“Gimana apanya?”

“Lah, katanya tadi mau ketemuan di belakang,” jawabnya sambil berusaha menjauhkan kembali mangkok bakso yang berusaha gue raih di tangannya.

“Oh, itu..” gue baru ingat sesuatu setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya, “sorry Vin, gue lupa. Tadi ada kerjaan di suatu tempat.”

“Issh…, pasti alasan doang.” Ia mendengus pelan, “aku gak mau tau, sekarang kakak harus ganti rugi.”

“Ganti rugi buat apaan?”

“Nih.” Ia memamerkan lengannya yang putih mulus, berbulu tipis, sampai-sampai gue ingin mengelus-elusnya. Tapi, bukan itu pointnya. Nampak beberapa bentol merah kecil di sana, gue yakin itu akibat gigitan nyamuk nakal

“Kakak kudu ganti rugi udah bikin tangan aku jadi begini,” tambahnya.

“Lah, kan bukan gue yang gigit tangan lu, kalo leher lu merah merah, boleh jadi itu gigitan gue.” Gue mencoba membela diri dengan sedikit candaan. Bego emang.

“Gak mau tau, pokoknya kakak kudu ganti rugi.” Ia memasang wajah cemberut, “kan kakak sendiri yang janji mau ketemu, eh pas akunya udah di situ, malah gak didatangin.”

Gue menghembuskan nafas berat, “Iya deh…, trus lu mau apa?” Gue bertanya padanya, setelah berpikir dan menemukan solusi terbaik, untuk menuruti keinginannya.

Karena menurut gue itu adalah jalan satu-satunya agar dia mau menyerahkan kembali mangkok bakso gue yang masih berada di tangannya. Padahal itu masih panas.

“Traktir makan, karena aku lapar,” ucapnya, kemudian dengan cepat menyerahkan mangkok bakso gue yang terlihat asapnya hampir tidak mengepul lagi. Kan, dugaan gue benar.

“Ya udah, pesan aja.”

“Seriusan? gak bohong kan?” gadis yang gue panggil ‘Vin’ itu melihat gue dengan pandangan sedikit tidak percaya.

“Serius, kan tadi elu yang minta traktir.” Gue melihat kearah wajahnya yang nampak ragu, “Kenapa?”

“Emm.., emang kakak bisa bayar?”

“Gak usah dipikirin, gue juga makan gratis ini.”

“Hah! Gratis?”

“Iya, gratis, kecap sama saos,” jawab gue kemudian memasukkan kuah bakso menggunakan sendok ke mulut beserta pentol baksonya.

Sebenarnya, sebuah kebenaran kalo gue sekarang lagi makan gratis. Enak? lumayan, karena bisa dapat benefit begitu ketika gue menjadi seorang agen rahasia.

Siapa sih yang gak mau makan gratis di kantin sekolah? gak perlu ngeluarin pundi-pundi berharga dari dalam kantong buat beli pengganjal perut ketika lapar. Siapa?

Cuman ya itu, gue perlu kerja sebagai agen rahasia, di bawah perintah ketua OSIS yang rada kejam. Lu masih ingat kan penjelasan Guntur di cerita sebelumnya? tentang beberapa anak yang direkrut jadi mata-mata OSIS. Nah itu, jadi gue gak perlu panjang lebar jelasinnya sama lu, kalo lu masih ingat.

Gue masih ingat dengan jelas kapan dan di mana gue direkrut jadi agen oleh si Nenek sihir. Iya, Nenek sihir, biasanya siswa yang lain manggilnya gitu. Ya salah dia juga sih, kenapa terlalu garang jadi cewek. Guru BP aja kalah sama dia galaknya, padahal bukan guru.

Hari itu menurut gue adalah hari yang indah dan pas buat mojok bareng cewek. Dingin, karena lagi hujan, dan juga sunyi, karena para siswa sudah pada masuk kelas.

Saat itu gue lagi asik berduaan bareng gebetan baru di dalam ruangan kosong di belakang sekolah, saling pegang memegang, kecup mengecup. Tiba-tiba saja pintu dengan lebarnya terbuka, menampakkan sesosok wanita berambut pendek sambil berkacak pinggang, bak super hero yang sedang masuk dalam markas musuh.

Kaget? pasti, dan pikiran yang terlintas di otak gue pertama kali saat itu adalah, gue bakal dikeluarkan dari sekolah.

Sosok itu berjalan mendekati kami berdua. Cewek di samping gue nampak ketakutan, sambil kedua tangannya menutupi tubuh bagian atasnya yang tadinya hanya tersisa kutang, menggunakan baju putihnya.

Setelah semakin dekat, baru gue bisa mengenali siapa orang yang sedang berdiri di depan kami saat itu. Siapa lagi kalo bukan si Nenek sihir.

“Kamu.” Ia menujuk kearah cewek di samping gue yang terdiam tak bergerak, “buruan pakai seragamnya! kalo sudah, langsung masuk kelas.”

“Dan Edho, tolong ikut gue.” setelah mengucap kalimat itu, si Nenek sihir kemudian berpaling, lalu berjalan menuju pintu, “Buruan!” ucapnya lagi dengan setengah berteriak, dan itu membuat gue langsung beranjak menyusulnya.

Saat itu gue kembali berpikir bahwa gue bakalan dibawa ke ruangan Kepsek dan dilaporkan bahwa gue sudah melakukan hal yang tidak senonoh di lingkungan sekolah. Tapi, setelah melewati beberapa ruang kelas, gue baru sadar bahwa kami tidak sedang menuju ruangan berbahaya itu.

Gue kembali dibuatnya bingung ketika si Nenek sihir berhenti di depan sebuah ruangan yang menurut gue aneh. Yep, sangat aneh dan mencurigakan, karena letaknya jauh dari peradaban. Melewati beberapa belokan, naik turun tanjakan, dan menyusuri dua gunung besar dengan hutan lebat di seberangnya, baru bisa sampai di depan ruangan itu.

Sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan ‘Komunitas pencinta hamster’. Otak gue dibuatnya bekerja keras dan terus bertanya-tanya, kenapa gue diajak ke tempat seperti itu. Beberapa spekulasi pun langsung meluncur bebas di otak gue. Pilihan paling menonjol; gue berpikir si penyihir mau mengrebek pasangan mesum lagi.

Ternyata, dugaan gue salah. Karena setelah memasuki ruangan itu, gue tidak menemukan pasangan yang gue pikir bakal diboyong bareng gue ke ruangan Kepsek. Malah gue hanya bertemu beberapa pemuda seumuran gue yang nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Eng.., betewe, ngapain gue dibawa ke sini?” gue bertanya pada si nenek sihir yang nampak menyeret kursi ke hadapan gue.

“Nah, karena lu udah nanya, sekarang gue bakal jelasin kenapa lu gue ajak kemari,” jawabnya sambil duduk di kursi yang baru saja ia ambil dari pojok ruangan, sedangkan gue tetap berdiri, karena kaga dikasih kursi.

Dengan panjang lebar si Nenek sihir ngejelasin kenapa gue diajaknya ke ruangan itu. Sebuah hal yang sangat jauh dari dugaan gue, karena pada akhirnya gue tahu bahwa gue sedang direkrut jadi seorang agen rahasia.

Beberapa alasan ia lontarkan kenapa ketua OSIS ngerekrut gue dan juga memberi tahu beberapa keuntungan kalo gue jadi agen rahasia. Dari penjelasannya gue akhirnya juga bisa memahami satu hal dengan jelas; semua gerak-gerik siswa di sekolah ini ternyata diawasi.

Dan gue akhirnya juga tahu bahwa beberapa siswa yang bersama gue di ruangan saat itu adalah agen. Sebuah kamuflase yang cukup rapi untuk organisasi bawah tanah menurut gue. Menggunakan nama jinak dan tanpa sedikitpun ada hal yang berbau berbahaya di namanya.

Gue agak tertawa setelah mengingat tulisan yang sebelumnya gue lihat di depan pintu masuk, membuat si nenek sihir nampak mengernyitkan dahinya.

“Jadi, setelah gue jalasin panjang lebar, lu udah resmi gue angkat jadi mata-mata OSIS,” ucapnya dengan sedikit tegas.

“Bentar, gue kan belum ada bilang kalo gue mau jadi mata-mata OSIS.” gue melihat kearahnya dengan pandangan heran, kenapa dia seenaknya aja memutuskan gue jadi mata-mata.

“Yakin gak mau?” si nenek sihir melipat dua tangannya di dada yang gue perkirakan hanya berukuran 34A. Yep, sangat kecil, “atau lu mau gue laporin sama kepala sekolah kalo udah melakukan hal yang berbau mesum tadi,” ancamnya membuat gue berpikiran yang tidak-tidak.

Gue terdiam, agak kaget sih setelah mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya. Sebuah hal yang cukup menakutkan kalo gue pikirkan bila itu terjadi. Jadi, setelah beberapa saat berpikir dan menimbang, akhirnya gue menerima tawarannya. Toh gue bakal dapat benefit yang menjanjikan juga, kenapa tidak gue lakukan saja.

“Jadi, jangan lupa dibayar yah.” ucapan gadis berinisial ‘V’ yang berada di depan gue tiba-tiba, menyadarkan gue dari ingatan yang baru saja melayang-layang dalam pikiran.

Gue melihat kearahnya yang baru saja menerima sepiring nasi goreng dengan telor mata sapi di atasnya. Syukur saja gue punya hak gratis makan sepuasnya di kantin ini, jadi gue gak perlu bayar untuk tuh nasi.

“Iya… iya, santai, bilang aja nanti gue yang bayar,” jawab gue sambil menggerakkan benda pendek mengkilap di tangan gue hendak menyendok pentol di mangkok. Tapi, gue baru sadar, ternyata pentol di mangkok gue sudah habis dan hanya menyiskan bihun dan kuah baksonya saja.

Ya sudah lah, pikir gue sambil meminum air teh yang tadinya hangat dan sekarang sudah berubah menjadi dingin.

“Mau kemana Kak?” tanya gadis di depan gue saat gue beranjak dari bangku yang gue duduki.

“Gak tau.”

“Lah terus, makanan yang aku makan sekarang gimana?”

“Udah, santai aja, gak usah bingung,” jawab gue sambil melambaikan tangan padanya dan pergi.

Sekarang, gue bingung mau kemana, gak ada tujuan. Mungkin ini adalah efek dari kekenyangan sehabis makan. Otak yang berpikir lambat dan tidak fokus plus ngantuk.

Gue terus berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan 2-4 IPA. Sial, udah sampai aja gue di depan kelas. Tapi, gue mengurungkan niat untuk melangkahkan kaki masuk ke dalamnya, karena sekarang gue terserang ngantuk yang lumayan berat.

Sepertinya pilihan yang tepat buat gue sekarang adalah ke ruang komunitas. Walau istirahat sebelumnya gue juga udah dari situ, gue akan tetap kembali ke tempat itu. Karen ruang komunitas adalah satu-satunya pilihan tempat yang sangat pas untuk keadaan gue sekarang dan juga paling strategis buat bersembunyi saat membolos.

Gue kembali melangkahkan kaki, meninggalkan depan kelas yang koridornya terlihat mulai ramai. Wajar saja, karena sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir.

Setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya gue pun sampai di depan ruangan yang gue tuju. Sebuah ruangan yang menurut gue tak seorangpun bakal curiga bahwa isinya adalah sebuah sisi gelap dari organisasi sekolah ini.

Tanpa ragu, gue pun mengetuk pintu yang berdiri tegak di depan gue. Tak ada jawaban, sepertinya si mahluk astral keasikan main PS lagi. Gue pun kambali melancarkan serangan di pintu, dengan ketukan yang lebih keras dari sebelumnya.

Beberapa saat menunggu, akhirnya ada sahutan dari dalam. Suara agak berat dari seorang cowok yang cukup gue kenal. Tapi, kenapa malah dia yang nyahut, yang biasanya jaga mana?

“Password?” tanya orang yang berada dibalik pintu diiringin beberapa bunyi benda jatuh di bagian dalam ruangan.

“Buruan buka Cal! dah ngantuk banget nih gue.”

“Tunggu bentar Dho, si Sagha lagi nyari kuncinya noh,” balas Ical, orang yang berada dibalik pintu, “kayaknya ada hamster nakal yang udah nelan kuncinya.”

“What the fak!”

*****

Orang-orang bilang, makin tua makin susah cari waktu tidur siang. Buktinya sekarang, gue sampe harus bela-belain nyari tempat yang terpencil kayak gini. Tapi gapapa, pengorbanan yang dilakukan sebanding sama hasil yang di dapat.

Kayak kebanyakan orang pada umumnya, bangun tidur badan pasti pegel, dan itu kenapa gue sekarang mencoba melakukan peregangan, yah itung-itung ngumpulin nyawa. Kesadaran udah 80% dan efek blur di pandangan gue menghilang.

Bentar, ada yang aneh, tempat harusnya tempat ini gak terlalu sepi. Minimal ada celoteh-celotehan seseroang yang lagi ngobrol sama hamster lah. Gue perhatiin sekeliling, sial, ternyata gue tinggal sendirian di sini. Kadang punya temen akalnya kurang dipake. Kalo emang niat mau cabut ya bangunin dulu kek, tapi yaudah lah.

Perut mulai meronta, padahal belom lama semangkok bakso jadi penghangat perut. Mungkin ini yang disebut masa pertumbuhan remaja, bawaannya laper terus.

Dengan semangat mencari pengisi perut, gue jalan menuju pintu keluar. Ya, ruangan ini di lantai tiga, mau keluar lewat jendela juga cuman nambah-nambah beban dompet soalnya gue yakin gak bakal mati, cuman cedera doang, patah tulang dikit lah.

Eh? Kok? Kenapa pintunya gak mau kebuka! Gue coba berkali-kali untuk menggeser itu pintu tapi  hasilnya nihil. Bukannya kunci yang di telen hamster tadi udah dikeluarin ya?

Mendadak perhatian gue tertuju pada sesuatu yang di tempel di depan pintu, sebuah kertas putih dengan tulisan yang acak-acakan.

‘Sekalian bersihin ruangan, yang lain lagi pada tugas, ntar kalo udah bersih baru ada yang bukain pintu’

Kampreeeet! Masa iya kehidupan sekolah gue harus diisi dengan bersih-bersih ruangan!

 

TBC…

 

Sisa satu part lagi…

Iklan

2 tanggapan untuk “Puririnpa, Part3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s