Pesawat Kertas 365 Hari (365 Nichi No Kamihikouki), Part 1

Di sebuah kelas, terlihat salah satu siswi perempuan dengan ciri-ciri fisik, tinggi sedang dan rambut yang sebatas bahu berwarna hitam itu terlihat tengah sibuk melipat sebuah kertas di atas mejanya. Lipatan demi lipatan pun dia lakukan dengan sangat teliti. Tiba-tiba saja, ada seorang perempuan yang menyapa dirinya.

“Selamat pagi, Mayu.” Sapa salah seorang perempuan yang baru saja memasuki kelas tersebut.

Mayu atau Mayuyu. Ya, itulah nama siswi yang tengah sibuk melipat sebuah kertas tadi. Watanabe Mayu nama aslinya. Dan, perempuan yang menyapa Mayu tadi merupakan teman sekelas maupun sahabat dari Mayu.

“Selamat pagi juga, Yuki.” Sapa Mayu membalas sapaan temannya tadi.

Kashiwagi Yuki atau lebih sering di panggil Yukirin atau Yuki itu, memiliki ciri-ciri fisik tinggi dengan rambut tidak terlalu panjang yang dia cat berwarna kecoklatan.

Sendai Ikuei Gakuen, merupakan sekolah menengah atas swasta yang terkenal di Jepang. Dan disana lah, Mayu dan juga Yuki bersekolah. Mereka bersekolah di sana saat mereka menjadi murid baru di sekolah tersebut. Sekarang, Mayu dan Yuki ditetapkan sebagi murid kelas dua belas (kelas tiga/akhir) di sekolah tersebut.

Masalah prestasi di sekolah, mereka berdua termasuk murid berprestasi dan sering secara bergantian menjadi juara kelas. Meskipun terlihat ada sedikit persaingan diantara mereka berdua, tapi, mereka menganggap itu hanya hal yang wajar yang terjadi di sebuah lingkungan sekolah. Mereka berdua lebih mementingkan persahabatan mereka dari pada sebuah prestasi.

Mereka berdua saling kenal sejak mereka masih berada di bangku sekolah dasar. Dan pada saat itulah, tumbuh persahabatan dari mereka berdua hingga sekarang. Meskipun usia mereka berdua Cuma terpaut dua tahun.

Meskipun begitu, mereka berdua tidak pernah memakai sebutan atau panggilan dengan kata Adik maupun Kakak ketika mereka berdua sedang berbicara atau lagi bersama. Mereka menganggap persahabatan itu tidak mengenal segala usia, yang penting persahabatan bisa menciptakan rasa saling mengetahui satu sama lain dan bisa saling membantu.

 

*oke! Cukup sampai disini pengenalannya dari author. Sekarang lanjut ke T … K … P…

 

“Membuat pesawat kertas lagi?” Tanya Yuki sembari duduk didekat kursi Mayu.

Mayu tidak menjawabnya, melainkan Cuma menganggukan kepalanya saja.

Setelah beberapa saat, akhirnya Mayu telah menyelesaikan lipatan kertas tersebut, dan kertas tersebut sudah menjadi sebuah pesawat terbang. Mayu kemudian beranjak dari kursinya, dan berjalan ke arah jendela kelasnya.

Mayu memejamkan kedua matanya seraya sambil berdoa yang ditangannya masih memegang pesawat kertas hasil olahannya tadi. Selepas beberapa menit, Mayu kembali membukakan kedua matanya. Mayu kemudian meniup bagian belakang pesawat kertas itu, lalu mulai melemparkannya ke arah luar jendela kelasnya.

Pesawat kertas itu pun sukses terbang ke sana kemari dan perlahan-lahan mulai menjauh akibat bantuan dari lemparan Mayu tadi dan juga hembusan angin yang kencang di pagi hari.

“Terbanglah yang jauh. Bawa semua doa, harapan, dan keinginan ku di pagi hari ini.” Batin Mayu.

“Kok pesawat itu jauh banget ya terbangnya. bukannya pesawat seperti itu cuma sebentar terbangnya terus jatuh ke bawah,” ucap Yuki yang berjalan mendekati Mayu.

“Aku pernah mencobanya terus, tapi terbangnya gak sejauh dan gak selama punya kamu,” tambah Yuki.

“Kamu mau tau, kenapa bisa seperti itu?” Tanya Mayu.

“Hanya keinginan dan kekuatan harapan lah yang bisa menerbangkan jauh pesawat kertas itu.” Tambah Mayu.

“Misalkan pesawat itu nantinya jatuh ke tempat yang salah, atau lebih bisa di bilang jatuhnya ke tempat yang kotor ataupun ke tempat yang bersih. Gimana?” Tanya Yuki dengan wajah serius.

“Masalah jatuh di tempat kotor atau pun di tempat bersih, itu yang mengatur hanya lah tuhan. Tuhan yang bisa mengatur segalanya di dunia ini. Kita hanya perlu menjalaninya dan tetap terus berusaha mewujudkan keinginan yang ingin kita capai itu.” Balas Mayu.

Yuki kemudian bertepuk tangan ketika mendengar kata-kata motivasi yang keluar dari mulut Mayu tadi.

“Apaan sih Yuki, tepuk tangan segala,” ucap Mayu menghadap ke arah Yuki.

“Aku Cuma takjub dengan kata-kata mu tadi.” Ucap Yuki tersenyum dan masih menepukan kedua tangannya.

Mayu dan Yuki kembali ke tempat duduk mereka, dan beberapa murid di kelas tersebut sudah mulai berdatangan ke kelas mereka. Pada hari itu, mereka semua kembali dengan aktivitas belajar mereka sebagai murid di sekolah tersebut.

===

“Dari tadi ke sana kemari, kok gak nemu-nemu ada yang menyewakan tempat tinggal ya.” Keluh seseorang lelaki.

Lelaki tersebut berpakaian layaknya orang yang baru saja pulang dari mudik, dengan menyandang sebuah tas besar di belakangnya dan membawa sebuah koper di tangan kanannya.

lelaki tersebut menengok ke sana kemari sambil menjalankan kakinya, seraya mencari sebuah penyewaan rumah untuknya tinggal. Di tengah kesibukannya menengok ke sana kemari, lelaki tersebut tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Alhasil, perempuan tersebut jatuh  dan juga beberapa buku yang dia bawa juga ikutan jatuh ke jalan. Lelaki tersebut merasa dirinya salah, langsung saja membantu perempuan yang jatuh tersebut.

“Maaf … Maaf … Aku gak sengaja, Kak.” Ucap lelaki itu sambil sambil membantu perempuan yang jatuh tadi yang sedang membereskan buku-bukunya yang jatuh.

“Iya. gak apa-apa kok.” Ucap perempuan tersebut tersenyum.

Lelaki tersebut membantu perempuan yang dia buat jatuh tadi untuk berdiri, dan menyerahkan buku-bukunya yang dia bereskan di tanah tadi.

“Ini punya Kakak. Sekali lagi aku minta maaf ya, Kak.” Ucap lelaki itu sedikit membungkukan setengah badannya.

“Iya … Iya … Gak apa-apa kok. Lagian tadi aku juga jalannya terlalu cepat dan gak liat kalau ada orang di depan ku.” Ucap perempuan tersebut.

Perempuan itu kemudian diam dan memperhatikan lelaki yang menabraknya tadi dengan seksama. Perempuan tersebut mengira kalau lelaki ini ingin bepergian jauh atau baru saja datang dari liburan.

“Kamu mau pergi kemana atau habis dari mana?” Tanya perempuan tersebut.

“Aku baru saja datang ke sini Kak. Aku bukan asli sini dan aku asli Indonesia Kak,” balas lelaki itu.

“Ooohhh … Kamu orang pendatang ya. Pantesan dari wajah kamu, sepertinya bukan asli orang sini. Ternyata orang Indonesia. Tapi, kalau diliat lebih teliti, kamu memiliki wajah seperti orang asli sini kok,” ucap perempuan tersebut tersenyum.

“Kakak bisa aja. Hehehe….” Ucap lelaki itu tertunduk malu.

“Ngomong-ngomong, dari tadi aku dengan kamu manggil aku dengan sebutan Kakak. Kok, manggil aku seperti itu ya? Apa aku terlihat lebih tua darimu?” Tanya perempuan tersebut bingung.

“Bukan terlalu tua kok Kak, bukan!” Lebih tepatnya, Kakak itu seperti lebih dewasa di bandingkan aku,” balas lelaki itu.

“Emang umur kamu berapa sekarang dan kamu masih sekolah atau sudah kuliah?” Tanya perempuan tersebut penasaran.

“Umur aku baru delapan belas tahun Kak, dan aku masih siswa di kelas menengah atas.” Balas lelaki itu.

“Masih muda ya. Gak beda jauh juga dengan aku.” Ucap peremuan tersebut tersenyum.

“Ngomong-ngomong, kamu ke Jepang ngapain? Cuma sendirian aja kesini?” Tanya perempuan tadi.

“Aku pindah sekolah dan mau melanjutkan sekolah di sini Kak. Dan aku disini Cuma sendiri saja. Mau belajar hidup mandiri biar gak nyusahi orang tua.” Ucap lelaki itu dengan sombongnya dan melipatkan kedua lengannya lalu mengelus-ngelus dagunya.

“Haha… Kamu ini lucu deh. Tapi bagus kalau gitu, selagi masih muda bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua,” ucap perempuan itu mengancungkan jempol tangan kanannya ke arah lelaki itu.

“Kenalin, nama aku Yokoyama Yui, boleh di panggil Yui,” ucap perempuan tersebut mengajak bersalaman ke arah lelaki muda itu.

“Nama aku Ahmad Christ Kurniawan Kak, boleh di panggil Christ,” ucap lelaki muda itu membalas salaman ke arah perempuan itu.

Yokoyama Yui atau di panggil Yui, perempuan berciri-ciri fisik tinggi, berambut panjang hitam bergelombang, memiliki ekspresi wajah yang terlihat datar dan mempunyai lesung di pipinya yang membuatnya sangat manis dan terlihat cantik saat tersenyum.

Lelaki muda tadi bernama Christ Kurniawan atau di panggil Christ. Lelaki asli Indonesia yang masih berstatus siswa menengah atas yang sekarang berada di Jepang, untuk memulai hidup baru sendiri tanpa ada yang menemaninya.

“Kamu seperti kelihatan kebingungan tadi, ada apa ya Christ?” Tanya Yui.

“Oh… gini kak Yui, aku lagi mau mencari sewaan rumah buat tempat tinggal aku. Tetapi belum ketemu-ketemu juga,” balas Christ.

“Pas banget kalau gitu, Ibu aku mempunyai sewaan rumah buat tempat tinggal. Kamu mau?” Tawar Yui.

“Boleh Kak, boleh,” ucap Christ kesenangan.

“Tapi….” Ucap Yui gantung.

“Tapi apa Kak?” Tanya Christ bingung.

“Sewaan rumah di tempat Ibu ku menerima khusus anak kuliahan aja. Kalau kamu kan masih sekolah gitu,” balas Yui.

“Yah… jadi gak bisa ya, Kak?” Tanya Christ dengan ekspresi wajah tertunduk lesu.

Yui terlihat diam dan sedikit sedang memirkan sesuatu di kepalanya.

“Nanti di coba aja deh ya, apa Ibu ku mau atau gak. Semoga aja Ibu aku mau menerima kamu untuk tinggal disana,” ucap Yui.

“Ya udah! ikut aku yuk!” Ajak Yui.

Christ pun mengiyakan nya dengan tidak semangat, karena takut dia tidak di izinkan untuk tinggal di rumah sewaan Ibunya Yui.

Di perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Yui dan juga Christ. Yui sedari tadi terus memperhatikan Christ yang memperlihatkan ekspresi muram.

“Kok terlihat gak semangat kamunya?” Tanya Yui.

“Gak apa-apa kok Kak,” balas Christ memaksakan tersenyum.

“Kalau boleh tau, kamunya mau melanjutkan sekolah di mana?” Tanya Yui.

“Di Sendai Ikuei Gakuen Kak,” balas Christ.

“Oh ya! Kebetulan aku dulu pernah bersekolah di situ juga. di sekolah itu, selain murid asli Jepang, ada juga murid yang berasal dari luar negeri bersekolah di sana. Gak salah deh kamu memilih sekolah itu,” jelas Yui.

Tak berselang lama, sampailah mereka berdua di rumah nya Yui.

“Kok rumahnya Cuma satu aja Kak?” Tanya Christ.

“Ini rumah Kakak, kalau rumah sewaannya berada di samping sana,” balas Yui sambil menunjukan rumah sewaan yang berada di sebelah rumahnya.

Yui pun masuk ke halaman rumahnya, dan di ikuti Christ di belakangnya.

“Ibu! Aku pulang.” Ucap Yui lalu masuk ke dalam rumahnya.

“Udah pulang kamu, Nak. Sudah sarapan?” Tanya Ibu.

“Belum, Bu! Oh ya Bu, rumah sewaan kita masih ada yang kosong kan?” Tanya Yui.

“Masih banyak kok, Yui! Emang ada apa?” Tanya Ibu.

“Gini Bu, tadi dijalan pulang, Yui gak sengaja bertemu dengan seseorang lelaki yang katanya sih dia mau cari tempat sewaan buat dia tinggal. Tapi….” Jelas Yui kemudian terhenti.

“Tapi apa Yui?” Tanya Ibu bingung.

“Lelaki itu masih muda dan juga masih sekolah Bu. Dia masih anak sekolah menengah atas,” balas Yui dengan nada hati-hati.

“Hah….” Ucap Ibu terkejut.

Yui pun kemudian menceritakan kepada Ibunya tentang lelaki muda itu, yang ingin mencari tempat tinggal disini.

“Jadi begitu ceritanya ya.” Ucap Ibu.

“Yui juga kasian sih sama dia, lagian kan dia pendatang baru disini,” ucap Yui.

“Terus, orangnya mana?” Tanya Ibu.

“Oran nya ada di….” Ucap Yui terputus saat menengok ke arah belakang dirinya.

“Loh, kok gak ada.” Ucap Yui terkejut.

Yui kemudian meninggalkan Ibunya sebentar dan berjalan ke arah luar rumahnya.

“Kamu kok masih di luar?” Tanya Yui.

“Bukannya tadi Kakak gak ngajak aku masuk. Ya aku tunggu di luar aja,” balas Christ.

Yui akhirnya menyadarinya dan malu sendiri, karena saat dia masuk tadi, dia lupa mengajak Christ untuk ikutan masuk ke dalam rumahnya. Yui pun akhirnya mengajak Christ untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Ini Bu orangnya.” Ucap Yui tertunduk malu.

“Nak! Apa benar kamu lagi mencari rumah sewaan buat tempat tinggal kamu?” Tanya Ibu Yui.

“Iya Bu! Apa saya di izinin tinggal di rumah sewaan Ibu? Berapa pun bayarannya, akan aku bayar lunas dan tepat waktu Bu. Beneran deh,” ucap Christ mengangkat kedua jarinya membentuk huruf “V”.

“Emangnya kamu punya uang buat bayar rumah sewaan Ibu nanti? Kamu kan Cuma sendiri disini,” Tanya Ibu Yui.

“Punya kok Bu! Setiap bulan, orang tua saya mengirimkan saya uang untuk keperluan pembayaran dan juga keperluan hidup saya selama saya tinggal disini Bu,” balas Christ.

Ibunya Yui terdiam dan terlihat tampak berpikir antara menerima atau tidak Christ buat tinggal di rumah sewaannya.

“Baiklah! Ibu izinkan kamu tinggal disini.” Ucap Ibu Yui.

“Yang benar kah, Bu?” Tanya Christ terlihat tidak percaya.

Ibunya Yui membalasnya dengan sebuah anggukan kepala saja. Christ terus-terusan membungkukan setengah badannya, tanda terima kasih kepada Ibu Yui karena sudah mau menerima dia untuk tinggal di rumah sewaannya.

Ibunya Yui pun menyuruh anaknya tersebut untuk menunjukan kamarnya Christ. Di perjalanan menuju kamarnya, Christ terlihat nengok ke sana kemari melihat rumah sewaan Ibunya Yui, dikarenakan rumah sewaan tersebut sangat luas dan tertata rapi dan bersih.

Bila di bandingkan dengan Indonesia, pemandangannya sangat jauh dari kata rapi dan juga bersih seperti ini. Christ yang tadi mengikuti Yui dari belakang, akhirnya berhenti di karenakan Yui juga berhenti dan berdiri di dekat sebuah pintu kamar.

Rumah sewaan punya Ibu nya Yui tadi memiliki tingkat tiga dengan sekeliling nya benbentuk persegi panjang yang membuat rumah sewaan tersebut boleh dikatakan rumah sewaan kelas menengah.

“Nah, ini kamar kamu Christ,” ucap Yui kemudian membuka pintu kamar tersebut.

Sesampainya di kamar tersebut, Yui mengajak Christ untuk masuk ke dalamnya. Christ terlihat takjub melihat isi kamar yang tersusun rapi dan bersih di tambah berbau wangi.

“Besar juga ya kamarnya Kak,” ucap Christ kagum.

“Ya begitulah! Tapi masih terlihat sepi di setiap sisi kamarnya. karena di sini Cuma menyediakan tempat tidur, kamar mandi dan juga dapur. Dan peralatan lainya seperti televisi, kipas angin, lemari dan bak sampah.” Ucap Yui.

“Di depan ini khusus ruang untuk tamu dan untuk bersantai juga. Terus ini di bikin dinding pembatas, yang di belakangnya tempat tidur kamu. Pintu itu untuk kamar mandi dan disana untuk dapur,” tunjuk Yui.

“Sekali lagi terima kasih ya Kak. Aku pasti bakal betah tinggal di sini,” ucap Christ tersenyum.

“Ini kunci kamar kamu. Ya udah kalau gitu, aku tinggal keluar dulu ya. Kamu istirahat aja dulu, pasti kamu capek banget hari ini,” ucap Yui kemudian berjalan keluar dari kamar Christ.

Christ pun tersenyum, dan serasa tidak ada Yui di sekitar pintu kamarnya, Christ menutup pintu kamarnya tersebut.

Saat meninggalkan kamar Christ, Yui kemudian di hentikan jalannya oleh seorang perempuan.

“Yui!”

“Miru! Ada apa ya?” Tanya Yui kepada seorang perempuan yang memanggilnya tadi.

“Aku dengar tadi kamu ngobrol sama seorang lelaki. Siapa dia?” Tanya Miru.

“Tetangga baru Miru. Baru aja dia tinggal disini,” balas Yui.

“Orangnya gimana? Asik gak? Bisa di ajak serua-seruan gak?” Tanya Miru kemudian tertawa.

“Kamu ini ada-ada aja Miru, setiap ada lelaki mau kamu ajak seru-seruan aja,” ucap Yui yang ikutan tertawa.

“Bercanda aja tadi akunya. terus gimana orangnya, cakep gak?” Tanya Miru penasaran.

“Eeehhmm…. Cakep sih. Tapi ada sesuatu yang mungkin kamu akan terkejut mengetahuinya,” balas Yui.

“Apa itu Yui?” Tanya Miru.

“Lelaki itu masih muda, umurnya saja masih delapan belas tahun, dan dia juga masih berstatus sebagai siswa sekolah menengas atas.” Bisik Yui ke telinga Miru.

Miru yang mendengarnya pun terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. dia seakan tidak percaya apa yang barusan dibisikan oleh Yui. Yui pun kemudian memberitahu asal usul Christ kepada Miru yang akhirnya membuat Miru tau dengan tetangga barunya tersebut.

“Di sini kan khusus anak kuliahan seperti kita-kita aja, kok Ibu kamu mengizinkan dia tinggal disini?” Tanya Miru.

“Ibu ku mungkin kasihan sama dia. Sama sepertiku juga. Dia kan juga Cuma sendirian aja disini. Keluarga pun gak ada disini. Maklum lah orang pendatang,” balas Yui.

“Iya juga sih ya. Tapi aku salut juga tuh sama dia, masih muda ingin hidup mandiri biar gak ngerepotin orang tua,” ucap Miru.

“Ya begitu lah! Ngomong-ngomong kamu gak ada jadwal kuliah hari ini?” Tanya Yui.

“Jadwal kuliah ku hari ini kosong Yui. Jadi, ya di kamar aja seharian. Nagisa sama Fuuchan aja masih pada tidur tuh mereka sampai jam segini,” balas Miru.

“Ya udah kalau gitu. Aku balik ke rumah dulu ya.” Ucap Yui meninggalkan Miru di depan pintu kamarnya.

===

Di tempat lain, terlihat Mayu dan Yuki tengah sibuk merapikan dan memasukan buku serta peralatan belajar mereka ke dalam tas. Kemudian, mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan meninggalkan kelas mereka yang sudah terlihat sepi.

“Oh ya Mayu, kerja kelompok nanti kita di rumahnya siapa ya?” Tanya Yuki.

“Di rumahnya Riripon, dia tadi yang nyuruh kita kerumahnya dia sama Yuuri juga,” balas Mayu.

“Oke lah! Nanti berangkatnya bareng apa sendiri-sendiri?” Tanya Yuki.

“Bareng aja gimana? Soalnya aku masih belum di izinin Ayah sama Ibu aku untuk nyetir mobil sendirian,” balas Mayu.

“Ya sudah! Nanti aku jemput kamu.” Ucap Yuki.

“Makasih ya Yuki.” Ucap Mayu lalu memeluk sahabatnya itu.

“Kamu pulangnya sama siapa Mayu?” Tanya Mayu.

“Aku kan tadi pagi di antar Ayah ku berangkatnya. Jadi, pulangnya di jemput Ayah ku,” balas Yuki.

Mayu dan Yuki telah sampai di depan gerbang sekolah mereka. Mereka pun memilih berdiri di sana selagi nunggu jemputan dari orang tua mereka.

“Kelihatannya sebentar lagi mau turun hujan deh,” ucap Mayu menengok ke arah atas.

“Iya nih. Langit udah mulai gelap. Semoga saja sebelum hujannya turun, orang tua kita sudah sampai buat jemput kita,” ucap Yuki.

Mayu pun menganggukan kepalanya, tanda dia setuju dengan ucapan Yuki barusan. Tiba-tiba, Mayu merasakan ada sebuah getaran dan semacam suara di saku bajunya, dan dia pun mengambil benda tersebut.

Suara dan getaran itu berasal dari handphone miliknya Mayu. Mayu melihat di layar, ada seseorang yang memanggil dirinya. Lalu, Mayu menerima panggilan dari seseorang tersebut.

Mayu              : Hallo! Ada apa Riripon?

Riripon           : Mayu. Nanti kamu jadi gak kerja kelompok di rumah aku?

Mayu              : Aku sama Yuki jadi kok. Emangnya kenapa?

Riripon           : Di sini hujannya lebat banget. Kalau misalnya kalian berdua kesini, takutnya aku merepotkan kalian berdua.

Mayu              : Gak masalah. Aku jadi kok nanti ke rumah kamu. Kalau Yuki, aku gak tau deh ya. Sebentar aku tanyain dia dulu ya? Sekarang dia masih bersama aku.

 

“Yuki! Nanti kamu beneran ikut kerja kelompok di rumahnya Riripon? Di sana sudah mulai hujan katanya, deras banget malah,” tanya Mayu.

“Gak apa-apa. Aku nanti kesana kok. Lebih enakan dikerjakan lebih cepat, supaya gak kepikiran lagi dengan tugas tersebut.” Balas Yuki.

 

Mayu              : Yuki juga ikutan kok, Riripon. Sudah ku tanyakan ke dianya barusan.

Riripon           : Oke lah kalau begitu. Aku mau menanyakan ke Yuuri lagi. Sampai jumpa nanti ya, Mayu. Maaf merepotkan kamu dan juga Yuki.

Mayu              : Iya, sampai jumpa lagi nanti. Gak apa-apa kok Riripon.

 

Mayu mematikan panggilan tersebut, lalu kembali memasukan handphone miliknya ke dalam saku baju sekolahnya. Tiba-tiba, datang sebuah mobil yang berhenti di hadapan mereka berdua. Lalu, kaca mobil tersebut terbuka dan menampakan seseorang pria paruh baya didalam mobil tersebut.

“Ayo Mayu, kita pulang!” Ajak pria itu kepada Mayu.

“Iya Ayah. Yuki, aku duluan ya. Gak apa-apa kan?” Tanya Mayu.

“Iya, gak apa-apa Mayu. Itu Ayah aku juga sudah datang menjemputku,” ucap Yuki menunjuk sebuah mobil yang ada di dekat halte sekolah mereka.

Mayu pun membuka pintu mobil tersebut, dan masuk ke dalamnya. sementara Yuki, berjalan kearah mobil yang berhenti di dekat halte.

===

Sementara di kamar barunya, Christ tengah sibuk merapikan dan menyusun barang-barang bawaannya dan di masukan ke dalam lemari yang ada di kamar barunya.

“Akhirnya selesai juga beres-beresnya.” Ucap Christ seraya melemaskan badannya.

Tiba-tiba, terdengar suara handphone milik Christ berbunyi. Christ pun mengambilnya yang di taruh di atas tempat tidurnya.

“Ibu nih manggil.” Ucap Christ lalu menerima panggil dari Ibunya tersebut.

 

Christ : Hallo, Bu! Ada apa?

Ibu      : Kamu sekarang sudah sampai di Jepang, Nak?

Christ : Sudah Bu. Ini Christ juga sudah mendapatkan tempat tinggal disini.

Ibu      : Syukurlah. Ibu senang mendengarnya. Selama disana, kamu jaga kesehatan kamu ya, Nak. Dan, sekolah yang benar di sekolah baru kamu nanti.

Christ : Iya, Bu. Christ akan jaga diri baik-baik kok dan juga sekolah yang benar disini.

Ibu      : Sebulan sekali, Ayah, Ibu dan juga Kakak mu akan pergi kesana untuk menjenguk kamu.

Christ : Gak usah terlalu ngerepotin gitu Bu. Oh ya Bu, Ayah sama Kakak mana?

Ibu      : Ayah kamu lagi kerja dan Kakak kamu sedang kuliah.

Christ : Ya udah kalau gitu, Bu. Sudahan dulu ya, Christ mau istirahat dulu. Capek nih baru juga selesai merapikan barang-barang Christ tadi.

Ibu      : Baiklah. Jaga kesehatan mu ya, Nak. Sampai jumpa lagi.

 

Christ pun menutup panggilan dari Ibunya dan langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Saat mau memejamkan matanya, tiba-tiba ada sebuah ketukan dari luar pintu kamarnya.

“Ya ampun! Siapa sih yang ngetuk, orang juga mau istirahat,” ucap Christ mengeluh dan terlihat kesal.

Dengan berat hati, Christ akhirnya bangun dari tempat tidurnya menuju pintu kamarnya. Saat membuka ganggang pintu tersebut, betapa terkejutnya Christ melihat seorang perempuan berada di depan pintu kamarnya.

“Hay.” Sapa perempuan tersebut.

Christ tidak menjawab sapaan perempuan tersebut, karena Christ tengah melongo memandang perempuan yang ada di depannya tersebut.

Kenapa tidak, yang membuat Christ melongo memandang perempuan tersebut, dikarenakan perempuan tersebut berpakaian seksi dan super ketat yang memperlihatkan lekukan tubuhnya.

“Hay!” Sapa kembali perempuan tadi sambil melambaikan tangan kanannya di depan wajah Christ.

Christ pun akhirnya tersadarkan oleh sapaan dari perempuan tadi untuk kedua kalinya, di tambah lambaian tangan darinya.

“Ha … Ha … Hay! Cari siapa ya, Kak?” Tanya Christ gelagapan.

“Cari pemilik kamar ini,” balas perempuan itu tersenyum.

“Kebetulan saya pemilik kamar ini, Kak.” Ucap Christ.

“Perkenalkan nama aku Shiroma Miru, panggil aja Miru. Salam kenal ya Christ,” ucap perempuan itu mengajak Christ bersalaman.

“Salam kenal juga Kak. Kok, Kakak tau nama aku?” Tanya Christ seraya membalas salaman Miru.

“Berarti aku hebat dong bisa menebak nama kamu,” balas Miru berbohong.

Christ hanya tersenyum mendengar ucapan dari Miru tadi. Miru kemudian mendekati Christ yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya, yang membuat Christ berjalan mundur menjauhi Miru.

“Kalau ada tamu, di ajak masuk ke dalam dong. Gak enak ngobrol di luar gini,” goda Miru sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke kamar Christ.

“Bu … Bu … Bukannya gak mau nih Kak, takut aja kalau nanti aku di tuduh bawa perempuan ke kamar aku. Apalagi aku kan masih baru di sini. Takut pemilik rumah ini marah entar,” ucap Christ ketakutan.

“Di tempat ini gak ada peraturan seperti itu kok. Kamu tenang aja.” Ucap Miru kemudian langsung menutup pintu kamarnya Christ dan juga menguncinya.

“K … K … Kok pintunya di tutup dan di kunci segala Kak?” Tanya Christ bingung dan masih dengan ekspresi ketakutannya.

“Biar gak ada orang yang melihat dan mengganggu kita.” Balas Miru dengan senyum menggoda nya.

Miru terus melangkahkan kakinya mendekati Christ, dan Christ mencoba untuk menjauhinya. Tak di sadari oleh Christ, dia sekarang sudah tidak bisa bergerak menjauhi Miru lagi, dikarenakan di belakang Christ ada sebuah tembok di kamar Christ yang menghalanginya.

Miru berjalan semakin mendekati Christ dengan senyum mengodanya. Dan kini, Miru tepat berhadapan satu lawan satu dengan Christ. Miru kemudian merapatkan tubuhnya ke tubuh Christ, dan juga mendekatkan wajahnya.

“Kamu udah punya pacar belum?” Tanya Miru dengan nada sedikit pelan.

“Be … Be … Belum Kak.” Balas Christ yang kini mengeluarkan keringat dinginnya.

“Jadi, belum pernah begituan dong kamu nya?” Tanya Miru tersenyum.

“Ma … Ma … Maksudnya begituan gimana Kak?” Tanya Christ tidak paham.

Miru tidak menjawab pertanyaan dari Christ, melainkan kedua tangannya bergerilya di tubuh bidangnya Christ yang membuatnya geli dan mencoba menepis tangan Miru dari tubuhnya.

“Dada kamu bidang juga ya. Pasti kamu kuat deh. Aku jadi suka.” Bisik Miru ke telinga Christ.

“M … M … Mau ngapaian Kak?” Tanya Christ.

Miru kemudian memajukan bibirnya perlahan demi perlahan ke arah bibirnya Christ. Christ hanya diam terpaku lalu memejamkan kedua matanya dengan ekpresi takut. Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggil namanya dari arah luar kamarnya Christ.

“Miru! Kamu dimana?” Suara seorang perempuan yang sedikit agak berteriak.

“Ikh… Fuuchan! Ganggu orang lagi senang aja,” ucap Miru mengendus kesal.

“Kamu jangan kemana-mana ya, aku nanti balik lagi kok.” Tambah Miru dengan senyum menggodanya sambil mengelus lembut wajah nya Christ.

Miru kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Christ, setelah dia membuka kunci dan ganggang pintu kamar Christ. Christ yang melihat Miru sudah keluar dari kamarnya, langsung saja dia berlari kearah pintu kamarnya dan langsung menutup rapat-rapat pintu kamarnya, lalu menguncinya.

“Syukurlah!” Batin Christ.

===

Di luar kamarnya Christ, Miru berjalan memasuki kamarnya yang hanya berjarak satu buah kamar, dari kamar yang di huni oleh Christ. kebetulan, kamarnya Miru berada di sebelah kanan kamar yang di tempati orang lain, lalu kamarnya Christ.

“Fuuchan! Apaan sih tadi manggil-manggil aku teriak segala?” Tanya Miru kesal.

“Aku sudah manggil kamu tadi loh, tapi kamu nya aja yang gak dengar-dengar. Jadinya, ya aku teriak aja,” balas Fucchan seraya memanyunkan bibirnya.

“Terus, kenapa kamu manggil aku tadi?” Tanya Miru lagi.

“Aku lapar! Hehe….” Balas Fuuchan tersenyum sambil mengelus perutnya.

“Kita makan diluar aja yuk?” Ajak Fucchan.

“Ya sudahlah kalau begitu. Aku juga sudah mulai lapar. Tapi, Nagisa mana?” Tanya Miru.

“Dia lagi mandi tuh di kamar mandi.” Balas Fuuchan.

“Ya udah. Kita siap-siap dulu selagi nunggu Nagisa mandinya selesai.” Ucap Miru.

===

Di sebuah rumah yang terbilang cukup besar dan mewah, terlihat kedua perempuan yang sedang duduk di depan rumah tersebut, seperti menunggu seseorang yang datang kerumah itu.

“Kayanya Mayu dan Yuki gak jadi deh ke rumah kamu, Riripon. Hujannya makin deras aja lagi,” ucap perempuan berambut pendek.

“Mereka jadi kok Yuuri. Tadi sudah aku tanya ke mereka lewat telepon. Mungkin mereka masih di perjalanan,” ucap Riripon.

Sutou Ririka atau di panggil Riripon dan Ota Yuuri atau di panggil Yuuri, mereka lah perempuan yang tengah menunggu kedatangan kedua temannya, Mayu dan Yuki di rumah yang besar dan mewah tadi. Kebetulan rumah tersebut miliknya Riripon.

Tak berselang lama, ada sebuah mobil yang datang dan langsung memarkirkan di halaman rumah Riripon.

“Nah! Mereka datang juga akhirnya.” Ucap Riripon kesenangan.

Keluar lah Mayu dan juga Yuki dari mobil tersebut. Tak lupa juga, mereka memakai payung saat sudah keluar dari mobil tersebut. Yuki pun berlari kecil di tengah derasnya hujan, dan di ikuti Mayu di belakangnya.

“Maaf agak terlambat. Gara-gara Mayu tadi, aku jemput dia malah ketiduran,” ucap Yuki.

“Iya, maaf! Enak banget soalnya tidur kalau hujan deras gini,” ucap Mayu membela dirinya.

“Ya sudah! Kita masuk aja yuk.” Ajak Riripon.

Sesampainya di dalam rumah, Riripon mempersilahkan ketiga temannya untuk duduk di ruang tamu.

“Aku ambilin minuman dulu ya buat kalian, kalian duduk aja di sini,” ucap Riripon kemudian meninggalkan ketiga temannya.

Tak berselang lama, Riripon kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah mampan yang diatasnya terdapat empat buah gelas dan juga biskuit buat ketiga temannya dan juga dirinya.

“Silahkan di nikmati! Segelas susu cokelat panas dan juga biskuit keju.” Ucap Riripon menaruh mampan tersebut di atas meja ruang tamu.

“Makasih Riripon.” Ucap Mayu, Yuki dan Yuuri serempak.

“Eemm… Enak susu cokelatnya. Apalagi di minum saat hujan gini,” ucap Mayu.

“Rumah kamu sepi, Riripon. Mana orang tua kamu?” Tanya Yuki.

“Ayah sama Ibu aku tadi berangkat kerumah saudaranya. Mungkin agak malam dikit mereka pulang nya,” balas Riripon.

“Ya udah kalau gitu. Kita kerjakan tugas kelompoknya sekarang,” usul Yuuri.

Mayu, Yuki dan juga Riripon menyetujui usulan Yuuri tadi. Mereka berempat pun mengeluarkan buku-buku serta peralatan tulis mereka, yang mereka letakan di atas meja di ruang tamu tersebut.

===

Kembali ke tempatnya Christ, kini dia tengah bersantai ria di tempat tidurnya sambil menikmati dinginnya suasana di sana, di karenakan di daerahnya sedang di guyur hujan yang sangat deras.

“Nikmatnya.” Ucap Christ sambil guling-gulingan manja di atas tempat tidurnya.

“Kalau bersantai di luar enak juga sambil menikmati derasnya hujan dan anginnya juga. Tapi, kalau ada perempuan aneh tadi, bahaya!” Ucap Christ tampak berfikir.

Christ kemudian bangkit dari pembaringannya, dan berjalan kearah pintu kamarnya. Christ pun membuka kunci dan ganggang pintu tersebut, lalu mengeluarkan sedikit kepalanya keluar.

“Sepertinya aman-aman aja deh.” Batin Christ.

Christ kemudian sudah berada di luar kamarnya sambil nengok sana-sini untuk memastikan situasi disekitarnya aman.

“Yap, sepertinya aman terkendali.” Ucap Christ seraya tertawa.

“Kebetulan, ada kursi nih. Santai di sini aja, ah….” Tambah Christ kemudian duduk di kursi di dekat kamar sebelah kanannya.

Christ tengah menikmati waktu bersantainya di luar kamar, sambil menompangkan kedua tangan nya di belakang kepala sebagai alas buat dia merebahkan kepalanya. Nikmatnya hawa dingin dan hembusan angin yang kencang, membuat Christ tiba-tiba mengantup kan kedua matanya.

Lama Christ mengantupkan matanya, dan sepertinya dia tertidur pulas di kursi tersebut, dan saat itu pula ada seseorang perempuan yang terus-terusan memanggil namanya.

“Pulas sekali dia tidurnya.” Ucap seorang perempuan tadi.

“Cakep juga nih orang dan keliatan masih muda. Tapi, kok aku baru liat dia ya. Apa orang baru di sini?” Ucapnya lagi.

Perempuan tersebut kemudian menggoyang pelan tubuh Christ yang kini tengah tertidur dengan pulasnya. Christ pun perlahan membukakan kedua matanya.

“Hay!” Sapa perempuan tersebut.

Christ kemudian mengucek ngucek kedua matanya, lalu menatap perempuan yang ada di depan nya.

“Hay! Siapa ya?” Tanya Christ.

“Harusnya aku yang nanya itu ke kamu,” ucap perempuan tadi tersenyum.

Christ yang tidak mengerti hanya mengangkat sebelah aslinya.

“Kamu anak baru di sini ya? Kamu tidurnya pulas banget tadi, dan tidur di depan pintu kamar aku lagi,” ucap perempuan  tersebut tersenyum.

Yang dikatakan perempuan tersebut ada benarnya, kursi yang di jadikan Christ buat bersantai tadi tepat berada di depan pintu kamar milik perempuan tadi.

“Ma … Ma … Maaf Kak! Aku kira ini kamar gak ada penghuninya. sekali lagi maaf ya, Kak.” Ucap Christ sambil membukuk kan setengah badannya.

“Iya, gak apa-apa kok. Kamu anak baru di sini ya?” Tanya Perempuan tersebut.

“Iya Kak! Pagi tadi baru aja pindah kesini,” balas Christ.

“Dari tadi kamu panggil aku Kakak, keliatan tua ya akunya?” Tanya perempuan tersebut dengan ekpresi wajah muram.

“Bukan begitu kok Kak. Aku melihat Kakak, kayanya udah dewasa gitu. Jadi, ya aku panggil Kakak aja tadi,” balas Christ.

Perempuan tersebut kemudian tersenyum manis kearah Christ, yang tadi nya sempat memperlihatkan ekspresi muram.

“Perkenalkan nama aku Ishida Anna. Panggil aja Annya,” ucap perempuan tersebut menyodorkan tangannya untuk salaman.

“Ahmad Christ Kurniawan. Panggil Christ aja. Salam kenal ya Kak,” ucap Christ membalas salaman tangan dari Annya.

Ishida Anna atau di panggil Annya. Perempuan yang dikatakan sangat mendekati kesempurnaan di dalam dirinya. Kenapa tidak, perempuan dengan tinggi badan sedang, berambut panjang bergelombang yang di catnya kecokelatan, ditambah memiliki senyum yang manis dan juga memiliki lekuk tubuh yang boleh di bilang sangat seksi dari pada Miru.

Tidak hanya sampai disitu, Annya juga memiliki kepintaran yang luar biasa. Di kampusnya, dia termasuk mahasiswi terpintar dengan sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan mewakili kampusnya. Dan dia juga menjadi idola semua mahasiswa-mahasiswa di sana.

“Ya sudah kalau gitu. Aku masuk dulu ya.” Ucap Annya.

“Iya Kak. Silahkan! Ucap Christ kemudian menjauh dari pintu kamarnya Annya.

===

Di tempat lain, di kediaman Riripon. Terlihat dia bersama ketiga temannya berada di luar rumahnya.

“Kalau gitu kami pulang dulu ya, Riripon. Sampai jumpa besok.” Pamit  Yuki yang sudah berada di dalam mobilnya berserta Mayu.

“Kalian berdua hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa besok,” ucap Riripon.

“Sampai jumpa Riripon. Kami duluan ya, Yuuri,” ucap Mayu melambaikan tangannya kepada kedua temannya tersebut.

Riripon dan juga Yuuri membalas lambaian tangan Mayu yang kini sudah mulai menjauh ketika mobil yang dia tumpangi sudah berjalan. Dan saat itu juga, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya Riripon.

“Ayah ku sudah datang. Aku pulang dulu ya Riripon,” Pamit Yuuri.

“Hati-hati di jalan Yuuri.” Ucap Riripon.

Mobil tersebut kemudian berjalan dan meninggalkan Riripon yang masih berdiri di luar rumah nya.

“Jangan ada kata perselisihan, pertengkaran, dan juga perpisahan diantara kita berempat. Persahabatan kita kuat karena kita yakin dari ketiga kata tersebut, bukan sebuah rumus yang ada didalam persahabatan kita.” Batin Riripon.

 

 

Bersambung…

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pesawat Kertas 365 Hari (365 Nichi No Kamihikouki), Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s