Cinta Palsu, Part 1

Kelas X-3…

*Trak!

“Sial! Pensil gw patah lagi,”

“Nih…,” ucap seseorang disampingnya memberikan rautan pensil

“Eh…Thankyou ya,” balasnya

Ia mulai menyerut pensilnya tersebut dengan perlahan.

“Nadhifa…,” ucap gadis itu lagi

Lantas lelaki itu pun menoleh ke arahnya lagi, ia terlihat mengulurkan tangannya selayaknya orang yang ingin berkenalan. Namun ia hanya diam melihat gadis itu sambil terus meraut pensilnya.

“yah…berhubung gue itu ketua kelas disini, jadi…,”

“Nih…,” Lelaki itu mengembalikan rautan pensil yang dipinjamkannya

“Sorry, gw belum beres ngerangkum,” lanjutnya

“Oh…,” Nadhifa pun terdiam dan kembali menulis disamping lelaki itu

Lelaki itu seperti mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan ketika dikeluarkan, benda itu adalah sebuah jam weker berwarna pink dan ia menyimpannya tepat di depan bukunya tersebut.

“Eng…,” Nadhifa tampak kebingungan ketika melihat jam itu

Satu minggu yang lalu murid baru itu masuk ke kelas dan memperkenalkan dirinya di hadapan semua murid. Namun entah kenapa selama seminggu ini tidak ada perkembangan apapun soal koneksi pertemanannya di kelas. Ia masih suka menyendiri sambil merangkum sesuatu yang baru saja ia baca di buku paket yang selalu ia pinjam di perpustakaan.

“Ah…umm…santai aja kali, gue juga belum beres nih ngerangkum,” ucap Nadhifa

Lelaki itu menoleh. “Yaudah beresin,” kata nya

“umm,” Nadhifa terdiam

            Tak lama kemudian laki-laki itu menutup bukunya dan menyimpan pensilnya itu di dalam buku tulisnya sebagai penanda. Ia beranjak dari kursinya lalu sedikit merapihkan bangkunya kemudian pergi.

“Tunggu!” Nadhifa mengejarnya

~oOo~

Di koridor sekolahan, mereka berjalan bersama-sama melewati setiap kelas. Akan tetapi lelaki itu masih belum menengok ke arah Nadhifa yang sedari tadi mengikutinya.

“umm, mau ke perpus yah,” Nadhifa membuka pembicaraan

Ia kemudian mengangguk.

“Hey Nads!” sapa seseorang di kelas yang baru Nadhifa lewati

“Ah hai Nin!” balas Nadhifa

Setelah itu Nadhifa melanjutkan perjalanannya bersama lelaki disampingnya.

Sudah sejak 3 hari kemarin Nadhifa melakukan aktivitas ini, yah…bisa dibilang ia seperti memata-matai murid baru dikelasnya tersebut. Sejak 3 hari kemarin ia jadi tau apa saja yang seringkali lelaki itu lakukan ketika jam istirahat.

“15 menit yah, jangan kelamaan,” ucap Nadhifa pada lelaki itu

Sampailah mereka di perpustakaan.

Lelaki itu langsung mengambil sebuah buku di rak tersebut dan kemudian membawanya ke kursi disana. Sementara itu, Nadhifa juga ikut meminjam satu buku entah apa itu, dan ia pun duduk disamping lelaki itu.

“Ekhem!”

“Ah…Sorry,” Lelaki itu sedikit bergeser untuk membuka ruang

Lelaki itu mulai membaca, Namun Nadhifa tampaknya sama sekali tidak membaca buku yang ia pinjam, melainkan ia terus saja menatap ke arah lelaki itu.

Setelah 15 menit berlalu, Lelaki itu tampaknya menyadari seseorang tengah menatap ke arahnya. Ia pun menutup buku itu perlahan dan langsung menatap ke arah Nadhifa.

“Sorry…Gw bukan buronan kok, jadi gak perlu diawasi,”

“A-Ah…Gue gak berpikiran kayak gitu kok,” timbal Nadhifa

“Awalnya gw kira lo itu orang yang suka baca juga, tapi semenjak dari seminggu yang lalu gw telah menyadari satu hal,”

“A-Anu…Sorry kalau gue udah ganggu aktivitas lo,” ucap Nadhifa lagi

“Sejujurnya gue cuma pengen akrab sama lo kok, berhubung gue kan ketua kelas di X-3 jadi…,”

“Thankyou,” potong lelaki itu

“Tapi cukup sampai disini, lo gak perlu memaksakan diri lagi,” Lelaki itu beranjak dari kursinya

“Tunggu!” Nadhifa langsung menarik tangannya sehingga ia kembali duduk

“Cukup sampai sini tuan murid baru! G-Gue udah mencoba segala hal cuma untuk bisa akrab sama lo, tapi kenapa lo cuma…,”

“Ah, Nadhifa yah?” potong lelaki itu

“Panggil aja Nadse,” timbal Nadse

“Oke Nadse, gw sangat-sangat berterimakasih karena lo udah perhatian sama gw,”

“Tapi…,”

*Beep! Beep! Beep!

“udah bel, gw ke kelas duluan ya,” ucap Lelaki itu

Ia meninggalkan Nadse sendirian di dalam perpustakaan. Sementara Nadse masih saja merenung sambil memeluk buku yang ia pinjam tadi.

“Kenapa…,” gumamnya

~oOo~

Jam 12.55 Siang hari, itu artinya bel pulang tak lama lagi akan berbunyi.

Beep! Beep! Beep!

“Dhif…,”

“Geeezzz! Berapa kali gue blilang jangan panggil gue kayak gitu to!”

“Biasa aja kali, gue cuma mau ngasih tau lo kalau hari ini ada rapat antar ketua kelas di aula,”

“Loh beneran!?”

“Iya nad,”

“Duh, yaudah deh lo kasih tau Ilham aja deh to,”

“Kok jadi Ilham sih, kan gue nyuruh lo nad,”

“Gue…umm…ada urusan hari ini, jadi…,” ucapnya namun seperti melirik ke arah sesuatu

“Hemmm…Nads-nads…lo masih aja berusaha deketin dia, emang dia se-spesial apa sih?”

“Hus! Gue itu gak punya perasaan sama dia, cuma gue itu khawatir sama dia to!”

“Khawatir?”

“Iya, khawatir kalau kedepannya dia malah jadi anak ansos,”

“Perhatian amat sih naaaadd,”

“Jelas lah! Gue kan ketua kelas disini,”

“Hem, iya deh serah lu aja,”

“Eh-eh dia cabut tuh! Kalau gitu gue titip pesen ke Ilham ya, sorry gak bisa kumpul rapat di aula, Bye!” Nadse langsung berlari keluar kelas

*

*

Di depan gerbang sekolah…

“Fyuh…Hampir aja dia liat gue,”

“Duuuh! Kenapa lo sampai ngelakuin ini cuma untuk nyelamatin calon ansos sih nad!”

“Mana seragam udah pada kotor gini lagi gara-gara sembunyi disemak-semak,”

*Sret!

            Ia mengikat rambutnya kebelakang.

“Oke sekarang…,”

Nadse berlari ke setiap semak-semak disana agar tidak terlihat oleh siapapun.

Tanpa terasa ia mengikuti lelaki itu sampai disebuah gang kecil yang lumayan sepi. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi baginya dan terpaksa ia harus menunggu lelaki itu sampai ke ujung gang yang satunya.

“Huh…Rumahnya jauh banget, mana dia jalan kaki lagi,”

“Sekarang udah jam 1, gue mata-matain dia sampai 1 jam gini! Ya ampun…,”

Ketika Nadse kembali memeriksa lelaki itu…

“Loh hilang!? K-Kemana!?”

Nadse langsung keluar dari tempat persemubunyiannya.

“Kok bisa sih!?”

“Gue musti cari dia, Oh! Ada jalan lagi di belakang!”

Nadse kembali ke tempat awal, Namun…

*BRAK!

“GAH!”

Seorang lelaki tiba-tiba menyergap Nadse dan ia mendorong Nadse hingga ke tembok itu. Ia menahan tangan Nadse di atas kepala sambil mendekatkan wajahnya pada Nadse. Mereka kini saling berhimpitan.

“AH! S-Sorry…,” lelaki itu melepaskan tangan Nadse ketika mereka saling bertatapan

“Gw kira lo itu penjahat…umm…,”

Nadse kini telah lepas sepenuhnya.

“Sorry ya Nad, gw…eng…,”

Nadse masih menatap ke arah lelaki yang ternyata adalah murid baru yang ia mata-matai sebelumnya.

Mereka saling bertatapan satu sama lain, sampai suatu ketika lelaki itu mengelus-elus pipi Nadse dengan lembut.

“Ada debu di pipi lo nad,” ucapnya

“Cih!”

Nadse langsung pergi meninggalkan lelaki itu.

“Tu-Tunggu nad, gw minta maaf!”

Kini Nadse telah jauh dari lelaki itu dan semakin jauh lagi.

“Kenapa dia bener-bener gak tau malu sih! AAAAHHHH!”

“Kenapa juga gue harus ngikutin dia sampai sejauh ini, uuuuuhhhhh! Bego banget sih lo nad!” gerutunya tidak jelas

~oOo~

*Ceklek!

“Sepi…,”

“Eh kakak udah pulang,” ucap seorang gadis tiba-tiba keluar dari ruangan itu

“Okta, udah pulang juga?”

“Baru aja tadi, umm…mau dibuatin teh gak kak?”

“Gak perlu,” timbalnya

Setelah melepas sepatu, ia langsung pergi ke ruangan di depan.

“Ibu mana ta?” ucapnya setelah duduk di sofa

“Ibu lagi ke supermarket tadi, gak tau deh mau beli apa,” balas Okta yang langsung duduk di samping kakaknya

Sementara itu, kakaknya pun beranjak dari sofa dan menyimpan seragamnya.

“Hmm? Apaan nih?” pikir Okta ketika melihat sesuatu di meja itu

“Kayak bet nama buat di seragam,”

Okta membaca nama di bet itu.

Aldo Gilindra Abiyoga,”

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

2 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s