Aku Rasa Iya, Part4

aaa

WARNING: 17+ Mengandung perkataan yang tidak layak untuk di tiru. Di mohon ber Do’a sebelum membaca dan kalau bisa sedekah dulu.

~oo~

“Huahhhh.. Masih jam 7 pagi rupanya.” ujarnya setelah meraih Handphone genggam miliknya, pada layar terlihat angka 07.00 AM. “Pake ujan segala lagi.” Grutunya saat mendengar rinikan hujan yang turun begitu derasnya.

Weekend. Ya, sekarang adalah hari minggu. Dan pemuda itu benar-benar bersemangat akan hal ini, dalam lubuk hatinya ia sudah berniat tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bermalas-malasan di atas ranjang. Semua kegiatan positif sudah Ia jadwalkan dengan sangat rapi untuk apa-apa saja yang akan di lakukanya mulai pagi ini.

“Huahhh. . .” Ia menguap panjang. “Ternyata tidur sebelum jam 12 malam itu beneran enak. Jadi jam segini udah bisa bangun., lumayan jadi punya banyak waktu. Huahh. . . Buat tidur lagi.” Ujarnya sambil merebahkan tubuhnya kembali serta menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Behhh . . . Agak sedikit nyesel udah menjelasin panjang lebar dan sok ngebangga-banggain. Ternyata memang bukan pemuda yang bisa di harapkan. Semoga aja dirinya gak ada niatan sedikitpun untuk jadi Presiden nanti-nya. Amiiin. . .

~oo~

Di ruang makan yang tak jauh dari kamar pemuda tadi, sepasang Suami Istri terlihat sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. Tampak sang Istri tengah sibuk menyiap-nyiapkan makanan untuk dia dan keluarganya sarapan, sedangkan suaminya duduk bersantai sembari membaca koran dengan di temani segelas kopi sekedar untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin pagi ini.

Di sela-sela aktifitas keduanya, sesekali mereka juga mengobrol ringan selayaknya Suami Istri kebanyakan.

“Yah, anakmu yang paling males belum bangun?” ujar sang Istri sembari menaruh sepiring Tempe Goreng di atas meja makan.

“Siapa Ma?” tanya-nya menoleh pada Istrinya.

“Ya Sulungmu Yah,” Ujar Istrinya sambil melengos pergi ke arah dapur.

“Ngaco. Anak Mama itu kalau yang males,” bantah Suaminya dengan mata tak lepas dari koran yang di bacanya. Perkataanya itu membuat Istrinya berhenti dan berbalik ke arahnya.

“Anak… Ayah…” ujar Istrinya tersenyum di buat-buat. Suaminya pun menaruh koran yang dibacanya pada meja.

“Anak… Mama…” ujar Suaminya juga dengan senyum di buat-buat.

“Anak… Ayah…” Ulang Istrinya lagi.

“Anak… Mama…” Suaminya tidak mau kalah.

“An…” Kata-kata itu terpotong karna ada suara lain.

“Anak siapa aku ini…?” Ucap seorang pemuda dengan expresi datar tengah berdiri tak jauh dari sepasang Suami Istri itu. Suami Istri itu cuma cengengesan tak jelas ketika melihatnya.

“Punya orang tua kok DRAMA bukan main.” Pemuda itu berjalan sambil mengerutu menghampiri Ayahnya. Kemudian ia duduk pada kursi sebelahnya.

“Hehe, tadi malem abis nonton sinetron sama Mama, jadi tadi cuma latihan acting. hehe” Ayahnya membela sambil cengengesan.

“Hallehh… Tak kuat Wahyudi lama-lama hidup…” ujar pemuda itu males dan langsung meminum susu coklat yang sudah tersaji di atas meja, tepat di depannya.

“Dih. Sama aja bang.” ledek Ayahnya dengan tangan mencomot sepotong Tempe Goreng.

“Abang ikut organisai kayak begituan? Keluar bang. Mama gak suka!” Ibunya tiba-tiba menegaskan suaranya membuat Ayah dan pemuda itu tersentak kaget lalu saling menatap bingung.

“Ha? Organisai apaan Ma? Gak paham Arii..” Pemuda yang memanggil dirinya ‘Arii’ tampak bingung mememandang Ibunya.

“Ya itu tadi Organisai Wahyudi. Mama gak mau kamu salah jalan Bang” ujar Ibunya memberi nasehat dengan nada lembut.

Suaminya menepuk jidat berkali-kali kemudian menggigit koran yang dibacanya tadi hingga robek dan langsung di kunyah-kunyahnya. Arii yang di nasehati menunduk pasrah lalu menarik nafas panjang, baru setelahnya dia mendongakan kepala.

“Astaga, astagfirullan… Yang Mama maksud itu Ya-hu-di… Ini Arii tadi bilang Wahyudi… Plesetan dari Hayati doang Ma…”

“Eh. Hehe-he-he, Mama ambil nasi sama sayur dulu ya di dapur.” Ibunya cengengesan menunduk malu. Perlahan ia mundur, kemudian berbalik badan lalu berjalan cepat menuju dapur. Arii hanya menatap datar pada Ibunya sedangkan Ayahnya sibuk melepeh koran yang di kunyahnya tadi. Kenapa tak di telan? Tanya sendiri!

Ya ternyata begitulah kekeliruan antara Arii dan Ibunya. Ibunya  marah karena salah paham telah mengira Arii sudah beralih keyakinan yang bernama YAHUDI. Tapi Ibunya mahal salah mendengar atau tidak fokus sehingga menganggap WAHYUDI adalah nama organisasi. Padahal bukan sama sekali. Mungkin Ibunya kurang minum Auu’a.

«»«»«»«»

Di lain tempat.. Shani sedang berjalan dari arah kamar menuju ruang makan setelah memutuskan sambungan telphone dengan seseorang. Ketika sampai di ruang makan Shani menjumpai Ayah dan Ibunya yang sudah duduk tenang sembari berbincang-bincang selagi menunggunya untuk ikut sarapan. Baru saja Shani terduduk Ibunya bertanya.

“Kakak mau kemana kok pake pakaian training?

“Mau olahraga Ma. Mumpung hari minggu”

“Tapi ujan gini Kak. Kalian mau joging sambil ujan-ujanan gitu kayak film India-India? Tanya Mamanya mulai ngelantur. Memang Ketua ‘Geng’ Darah Menstruasi ini agak rada-rada. . . Tapi anaknya cakep.

“Mau nge-Gym Ma.. Kan Shani sama Arii masih panjang jatah member di sana, sayang juga kalo gak ke pake. Lagian gak ada alesan juga buat niggalin olahraga.” Shani menjelaskan detail dan ibunya tampak manggut-manggut mengerti.

“Ooh… Biar mirip artist di tv-tv ya Kak? Olahraga sambil pasang-pasangan biar romantis” Mamanya Semakin ngelantur sembari senyum-senyum gak jelas seolah menggoda Shani. Sedangkan Shani memasang raut wajah tak mengerti.

“Astaga Mama.. film India lah, artist di tv lah, it–”

“Tapi jangan kayak Anak Jalanan ya Kak.” Potong Ayahnya.

“Ha?” Shani benar-benar gak ngerti menatap Papa dan Mamanya bergantian.

“Ya itu yang di tv-tv.” Ujar Mamanya mantap membenarkan. Yang di maksudnya adalah serial tv yang berjudul ‘Anak Jalanan’. Tapi sungguh sayang, Shani tidak mengerti hal itu.

“Tabahkan hambamu yang lemah ini tuhan….” Batin Shani pasrah berserah diri melihat kedua orang tuanya. Tak mau ambil pusing, Shani memulai sarapan tanpa menunggu kedua orang tuanya lagi.

“Terus ini Mama ngapain Ayam goreng pake di hias-hias gini? Mana cabe semua lagi Ayamnya gak keliatan.” Tanya Shani bingung melihat calon makanannya di hias tak jelas dengan cabai di bentuk seperti bunga ala-ala chef profesional.

“Hehe-hehehe. Biar mirip di tv-tv Kak” Ibunya makin cengengesan tidak jelas. Shani bengong kehabisan kata-kata menghadapi Mamanya.

“Mirip di tv-tv, mirip di tv-tv. Idak kuat sayo ko lamo-lamo hidup. Agek Tv di kunyahnyo,” grutu Shani dalam hati menggunakan bahasa Melayu Jambi. Padahal dia tak bisa bahasa Jambi.

Sungguh keluarga yang bisa dibilang harmonis berlebih. 100% itu angka yang sudah mentok atau gak bisa di lebihin walau satu angka. Ya beginilah hasilnya kalau berlebihan juga tidak baik. Waras engga, aneh juga engga, mungkin sedikit gila atau lebih tepatnya rada sengklek. *Tapi inget, anaknya cakep.

Perbincangan singkat antara Shani dan kedua orang tuanya tak beda jauh dengan Arii bersama orang tuanya yang ada di seberang sana.  Intinya tak bermakna, tak mengurangi kadar darah tinggi dan kolestrol dalam tubuh. *bodo amat.

«»«»«»«»

Kembali di rumah Arii. Ia dan keluarganya sudah siap untuk memulai sarapan pagi bersama. Tapi ada sesuatu yang agak janggal bagi Arii, dirinya seperti merasa ada yang kurang dan entah apa itu. Lama berfikir, akhirnya Arii mengetahui apa penyebabnya.

“Ma. Adek mana?”

“Oh iya Mama lupa,” Ibunya menepuk jidat mendengar pertanyaan Arii.

“Lagi nonton dia Bang. Tolong panggilin.” perintah Ayahnya.

“Behh.. Nonton sampe lupa sarapan. Nonton apa sih?”

“Mau kemana kita..?!” Ayahnya bersemangat menjelaskan dengan menirukan animasi Dora yang sedang di tonton ‘Feni’ adiknya di ruang tengah.

“Stop Yah, stop. Arii panggil Feni sekarang.” Arii langsung beranjak saat mendengar Ayahnya menirukan animasi Dora. Bukanya apa, Bagi Arii Ayahnya sama sekali tidak cocok berlagak sok imut menirukan Dora dengan kumis tebal yang menempel di wajahnya. Arii takut jika mengingat hal itu bisa mengurangi nafsu sarapannya nanti.

Setelah memanggil Feni dan mengajaknya ke ruang makan, mereka ber empat memulai sarapan seperti biasa. Masih pakai piring, pakai sendok dan garpu sebagai alat bantu makan. *Bener kan?

Di tengah sarapan juga di selingi perbincangan kecil dan bumbu-bumbu candaan Ayahnya yang super garing. kalo Kelinci makan wortel, Kucing makan Ikan. Ayah makan apa? Makan Nasi lah. Wlekk:p Gitu pun gak tau. Nah seperti itu contohnya.  Sendirinya yang buat soal, sendirinya yang jawab. Hal itu membuat Arii, Feni, dan Ibunya tertawa di paksakan sekedar merespon sang kepala keluarga.

Sunguh miris. . .

~oOOo~

Langit mulai kembali ceria menampakan awan putih kebiruan yang damai. Pancaran warna pelangi nan indah di pandangnya penuh makna oleh seorang pemuda bernama Jaya yang tengah duduk di kursi teras rumahnya. Entah apa yang di rasakanya dan entah apa yang di fikirkanya. Di genggamannya terdapat sebuah handphone miliknya, di pandangnya berulang kali sambil tersenyum-senyum penuh arti. Sesekali Ia melemparkan handphone-nya ke udara lalu menangkapnya kembali secara berulang-ulang. Hingga terdengar satu suara.

PRAKK!!!

Handphone-nya jatuh ke lantai karena tangkapanya meleset. Di tatapnya nanar Handphone miliknya yang batreai dan casing sudah berserakan di lantai.

“Makk!!! Belum lunas keredit lagi itu HP. Mampus gua mampus, jangan rusak my phone. Tolong selamatkan dirinya ya tuhan.. Jangan pisahkan daku denganya.” Jaya mengerutu panik gak jelas sambil mencoba menghidupkan kembali handphone-nya.

“Syukurlah masih mau hidup rupanya.. Do’a anak yang setengah teraniaya memang benar-benar di jabah.” ucap Jaya bersyukur ketika melihat Handphone-nya menyala.

Di tatapnya warna pelangi nan indah di depanya kemudian menatap handphone-nya. Ketika mau di lemparnya kembali. “Hahh.. Jangan ulangi kesalahan bodoh itu lagi anak muda..” Gumamnya pelan. Di bukanya menu contact, lalu di ketiknya sebuah nama dan kemudian jarinya menyentuh tombol Call. Saat sudah terhubung terdengar suara dari seberang telphone.

……. : Hallo Yak. Ada apa?”

Jaya : Lu diamana?

……. : Lagi nge-Gym sama Shani. Mau nyusul lu?

Jaya : Enggak, ntar sorean gua ke rumah lu ya Rii. Boleh gak?

Arii  : Dateng aja.. Mumpung Feni gak ngerengek weekend ini. Emang ada apa?

Jaya : Ada yang mau gua omongin. Entar gua kesana ya bareng Ido, Gre.

Arii  : Yupi gak lu ajak?

Jaya : Yupi lagi jalan-jalan sama adeknya. Udah dulu ya. Jatah gratisnnya udah mau abis.

Arii  : Kampret!!! Kalo gratis doang lu nelpon Cong. Ya udah bye.

Tut! Tut! Tut!

«»«»«»«»

Di sebuah mall tempat Arii dan Shani nge-Gym. Mereka berdua tampak sedang beristirahat sembari mengobrol ringgan setelah mengeluarkan banyak keringat saat berolahraga tadi. Shani menyeka keringat yang mengalir di dahi-nya, kemudian menoleh lalu bertanya pada Arii.

“Siapa Ay?”

“Si Jaya lagi sakit.” jawab Arii ngelantur.

“Sakit kenapa? Ngada-ngada kamu mah” Shani tampak tak percaya.

“Tadi gak denger Jaya bilang ‘mau ngomongin sesuatu’? Orang kayak dia apa bisa serius kalo gak lagi sakit?” Jelas Arii meledek Jaya. Shani hanya cekikikan mendengarnya.

Setelah membereskan semua perlengkapan dan berganti pakaian, mereka bersiap pulang ke rumah Arii karena hari sudah hampir siang dan Shani bilang ingin nonton dvd bersama Feni. Tapi sebelumnya mereka berdua memutuskan mampir ke Resto jepang sekedar untuk menikmati sedikit Shusi sebagai makanan pengganjal perut.

~oOOo~

Jam sudah menujukan pukul 11:21 AM. Arii dan Shani sudah sampai di kediaman Arii setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit mengintari jalanan jakarta. Baru saja mereka maseuk kedalam rumah, suara yang benar-benar mereka kenal langsung menyambut.

“Bunda…!” Teriak Feni berlari dan langsung memeluk Shani. Shani tersenyum ramah menyambutnya sedangkan Arii menutup kedua telinganya.

“Feni, Feni, Feni. Itu suara udah kayak speaker rusak gak bisa di atur volume ya?” Ledek Arii mengerutu muncul dari balik pungung Shani. “Kak Shani itu bau. Belum mandi tadi dia di sana abis keringetan, jorok.” lanjut Arii lagi yang melihat Feni masih memeluk Shani.

“Bodo amat Ay. Bilang aja mau di peluk Feni, cuma Feninya gak mau meluk kamu. Wlekk :p ” Shani menjulurkan lidahnya meledek Arii.

“Bodo Ah. Mau bobok aja dulu. Kalo udah masuk mode penjajahanya Feni mah susah. Entar bangunin aku pas sore ya.” Grutu Arii. Feni dan Shani cekikikan melihatnya.

“Kamu gak ikut nonton?”

“Engga..” Arii melengos pergi meninggalkan Feni dan Shani menuju kamarnya.

Baru saja Arii berjalan sampai di lantai satu. Ia menoleh kebawah baru bersuara.

“Shan.. . Mandi, badamu bau keringet.” suruh Arii pada Shani yang sudah duduk di ruang tengah bersama Feni. Shani menoleh kebelakan dan mendongakan kepalanya.

“Hehh.. Protes mulu. Hus hus” Shani mengibas-ngibaskan tangan seperti mengusir laler.

~oo~

Sore hari Arii sudah terbangun dari tidurnya dan berjalan menuruni tangga menuju ruang tengah yang sudah berkumpul Ido, Feni, Gre, Jaya dan Shani di sana sedang menonton Dvd.

Saat sampai, Arii langsung mengambil posisi duduk di sofa sebelah Shani lalu menyenderkan kepalanya pada pundak Shani karena ingin melanjut tidur. Tapi hal itu gagal karena Shani menyentil hidungnya dengan keras yang membuat mata Arii terbuka lebar dan rasa ngantuknya hilang seketika.

“Ada yang mau gua omongin ke kalian.” ujar Jaya yang tengah duduk lesehan pada karpet depan Tv.

“Apa Yak?” Tanya Gre yang sudah penasaran sedari berangkat tadi.

“Jadi… Bentar. Toilet mana Rii? Gua mau boker dulu, udah di ujung tanduk ini.” Jaya berdiri memegangi bokongnya.

Dia Memang benar-benar kurang ajar. Ido yang di sebelahnya langsung menjitak kuat kepala Jaya dan menyengkat kakinya saat ingin berjalan. Tapi sayang, hal itu malah membuat Jaya jatuh menimpa dirinya sendiri. Senjata makan tuan.

“Hahh.. Ribet lu. Kalian kalo mau Homo jangan di sini juga. Balik sono. Nimbun dosa di rumah gua” grutu Arii “Sono pake toilet yang di kamar gua aja kalo mau boker Yak.” suruh Arii sambil sambil menendang-nendang pantat Jaya yang sudah berdiri.

Selagi menunggu Jaya. Mereka semua mengalihkan pandanganya menatap LCD untuk menonton dvd yang di bawa Shani tadi. Karena kondisi Arii masih di ambang-ambang sadar, Ia pun bertanya.

“Nonton apa Ay..?” Tanya Arii pelan.

“Lemes banget kamu Ay. Ini nonton Train to Busan.” Jelas Shani menyebutkan judul film yang sedang mereka tonton.

“Masih aja pada baperin itu film. Coba kalo Indo buat juga shooting-nya di Jakarta, pasti lebih keren. Train to Busway” komentar Arii ngelantur tak jelas. Membuat Shani langsung mengacak-acak rambut Arii secara berutal.

“Pala lu Busway!” Ledek Ido pada Arii. “Wihh… Lama bener lu Yak bokernya. Diare?” Lanjut Ido lagi yang melihat Jaya sudah kembali.

“Kagak.” Jawab Jaya singkat.

“La trus lu ngapain” Ido memandang Jaya curiga “Jangan-jangan….. Udah ngaku aja lu.” Jari Ido menunjuk-nujuk Jaya.

Gre bersama Feni dan Shani hanya mendengarkan karena tak tau maksud dari omongan Ido.

“Ckckck. Gua gak seburuk itu wahai anak muda…” Jaya membela diri.

“Kelamaan omongan kalian. Lu kenapa lama? Diare enggak, nganu-nganu juga enggak. Jadi ngapain?” Tanya Arii yang sebal menunggu. Malahan pertanyaan dia membuat semakin lama.

“Ini apalah Arii ‘nganu-nganu’. Gak jelas banget deh.” Gre sewot pada Arii yang hanya cengengesan mendengarnya.

“Kan tambah lama.. Kamu Oon sih Ay.” Shani tertawa kecil melededek Arii.

“Gua boker memang suka lama…  Soalnya gua kalo boker sambil Facebookan” ujar Jaya cengengesan.

“Mam-pussss……” Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi mengumpat lemas. Jaya memang benar-benar sengklek. Itu hobby macam apa kamvret boker sambil FB-an!

“Shhh.. Jangan mengeluh anak muda.. Ada yang mau gua omongin ke kalian.” Jaya menasehati aneh sambil cengengesan.

“Ngomong boker lagi gua tampol lu.!” Ujar Ido geram mengangkat remote tv.

“Serius ini… Jangan pada becanda lah.” ujar Jaya sok serius. Padahal dia yang becanda dari tadi. Kan anying!

“Elu gak ada tampang seriusnya nyet.. Muka lu bloon-bloon begok gitu.” ledek Ido lagi membuat Jaya mengerutu.

“Anying lu!” Jaya mengumpat sebal.

“Malah debat. Jadi lu mau ngomong apaan Yak?” Tanya Arii yang sudah semakin penasaran dan bosan menunggu.

“Jadi gini… … …” Ujar Jaya dengan wajah serius.

10 Detik berlalu.

“Ngomong apaan ‘Jadi gini’ abis itu diem manggut-manggut doang. Gila lu?” Sela Gre yang tak mendengar apa-apa dari Jaya.

“Behh… Gak paham kalian. Biasa di tv-tv kan gitu, pas lagi bisikin rencana gak kedenger. Jadi ngebuat penonton penasaran.” Ujar Jaya menjelaskan.

“Lu kira kita main sinteron. Pala lu sengklek di ajarin siapa gitu niru Tv?” Arii bertambah bosan dan sebal dibuatnya.

“Dengerin curhatan Shani tentang Nyokabnya pas ngobrol tadi.” Jelas Jaya menujuk Shani. Shani sebagai dalang yang menceritakan tentang Mamanya masalah “Tv-Tv” tadi pagi hanya cengengesan.

“Rrrrrrrr -____-“ ” Arii mengendus pasrah. Ya gimana lagi? Ketua ‘geng’ Darah Menstruasi memang bukan panutan yang baik untuk anak muda.

“Udah deh. Jadi apa yak?”

“Jadi… ..Besok kalian lihat aja dah aksi gua di sekolah.” jelas Jaya singkat.

“Iya aksi apa sampe lu nyuruh kami denger.” Tanya Shani mewakilkan yang lain.

“Ya itu aksi.” ujar Jaya tak jelas lagi.

“Mending gak usah lu omongin dah Nyet!” Gerutu Arii benar-benar sebal. Ido pun langsung men-Smackdown KO Jaya di tempat.

“Biar penasaraan.. Kayak di Tv-tv.. Ughh!!! Do sakit Do.!” ujar Jaya mendramatisir menaik-naikan alisnya di tengah serangan kuncian kaki Ido mengimpit badannya.

Disini kita bisa menangkap sikap Jaya yang sok misterius kali ini. Dia memang benar-benar BA**NG**KE! BA**NG**SAT! MO**NY**ET! AN**JI**NG! Serta semua sodara-sodaranya lah pokoknya! #UntungLulusSensor

~oOOo~

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari hingga capek kalo di terusin. Bahkan mantan member JKT48 sudah ada yang mau merid. Pagi ini di kelas XI-TKJ SMKN 5 Jakarta tampak Gre, Jeje, Shani dan Yupi tengah asik bermain Monopoli, Ido dan Jaya berdebat siapa yang lebih dulu lahir antara Ayam dan Telur.

Sedangkan Arii.. Hanphone dan Twitter sudah seperti candu tersendiri baginya. Selagi asik menilik Timeline Twitternya, Arii dengan seksama membaca judul berita yang menarik perhatiannya.

Produk Tanpa Segel SNI Akan Di Razia Dan Di Tarik Pemerintah” Ido, Gre, Jaya, Shani dan Yupi yang ada di dekatnya menoleh.

“Behh.. Kalo gak boleh jual barang Import ataupun KW, pedagang kecil jual apaan? Produk Indo mahal-mahal Cong.. Kacau!” Gerutu Jaya sok mengkritisi.

“Nyamber mulu lu! Gua yang baca elu yang komen.” Arii sewot karena Jaya selalu memotong setiap ia membaca berita.

“Kecuali Indonesia bisa buat barang dengan harga murah dan kualitas bagus, ya pedagang gak keberatan.” Lanjut Jaya.

“Gini ya Yak.. Gua percaya langit, bumi dan segala isinya ciptaan tuhan. Sisanya….., buatan China semua.” ujar Arii mengibaratkan.

Kata-kata Arii barusan mendadak mengundang murid-murid lain untuk berhenti ber aktifitas dan langsung ikut berkumpul sekedar mendengan atau memberi pendapat. Mirip seperti orang mau ber gosip ria.

“Nah bener itu” Gre, Shani dan Yupi manggut-manggut membenarkan ucapan Arii.

“Njiirrr.. Dapet kata-kata dari mana lu nyet?!” Teriak Ido setelah itu tertawa karena menurutnya perkataan Arii itu aneh.

“Gua sering ikut seminar bisnis. Hehe” Arii tertawa santai.

“Behh.. China udah kayak tuhan aja, semua barang bisa ditiru. Semoga aja gak ada gerakan Chinaizme.” ujar Ido sok mendramatisir.

“Bener juga ya. Di China semua-semua barang bisa dibuat. Dikit-dikit di KW-in. Miyabi aja bisa di KW kayaknya. Mau beli gak lu Do?” Jeje menyenggol lengan Ido yang dibalas dengan gelengan.

“Biarin aja ya kan Ay.? Yang penting sayang aku ke kamu bukan KW.” Shani ikut menanggapi dengan kedua tanganya langsung merangkul Arii seraya tersenyum manis. Arii hanya bisa membalas senyumnya.

“Si kampret. Sempet-sempetnya dua alien ini mesra-mesraan di depan kita.” Gerutu Ido melempar remasan kertas ke arah Arii saat melihat Shani makin menjadi manjanya.

“Geser ni anak. Inget kita Shan, inget.” Ujar Gre yang membuat Shani tertawa kecil.

“Iya juga ya…” Jaya memangku dagunya menggunakan tangan kirinya dengan wajah seolah berfikir.

“Apanya yang iya? Tiba-tiba ngomong langsung gak jelas aja.” Yupi menoleh pada Jaya dengan tatapan tak mengerti. Begitu juga dengan yang lain.

“Gini… Gua ada niat mau asuransiin ini muka, takut ada yang KW-in ntar.” Jaya menjelaskan sambil memegang wajahnya. Yang jelas muka dia udah kw! Jadi siapa yang mau niru?

“Njiirr..! Otak lu sengklek itu di KW.” Ido geram langsung menonyor pala Jaya mebuat Arii, Gre, Shani, Yupi dan yang lain tertawa.

“Muke lu mah siapa yang mau niruin Yak? Di pasar Senen juga banyak yang jual.“ ledek Arii membuat teman-temanya kembali cekikikan meniysakan Jaya yang mengerutu.

“Haha, Bener itu. Bener!” Gre, Shani dan Yupi menyetujui.

“Haaaahh” Ido menarik nafas panjang. “MABLAS! MABLAS! MABLAS! MABLAS! Muke lu 15 rebuan di sono! Jadi jangan sok ganteng.” Ledek Ido lebih menjadi menirukan pedagang di pasar-pasar tradisonal.

“Rrrrrrrrrrr -_____-” ” Jaya hanya bisa pasrah mendengar ejekan yang bertubi-tubi di dapatnya.

“Ha Ha Ha Ha. .. .. .. HAK!!!”

Tawa semua teman-temanya dan di akhiri tawa alay nan aneh. Karna merasa semakin sebal, Jaya beranjak turun dari meja yang sedari tadi Ia dudukin dan langsung mengambil posisi Push Up. Jaya akhirnya benar-benar Push Up 100X untuk menuangkan kekesalan-nya. …Biarpun ada amarah, tuangkan itu ke hal positif agar berbuah sehat. #RecehQuoteGakNyambung.

~oo~

Hiburan mereka berakhir saal bel masuk berbunyi tanda pelajaaran akan di mulai. Setelah seorang Guru masuk, pelajaran akhirnya berjalan dengan lancar dan tenangnya bagi Arii, Ido juga Jaya. Ya, mereka tertidur pulas setelah mendengar dongeng misteri alias pelajaran Matematika.

Tiga jam sudah berlalu berganti dengan Bel istirahat pertama yang membuat banyak siswa-siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin sekedar untuk mengisi perutnya yang terasa lapar setelah staminanya terkutas sehabis mencerna pelajaran. Di dalam kelas masih menyisakan Arii, Ido, Gre, Jaya, Yupi dan sedikit teman-temanya yang sedang memakan bekal bawaanya.

“Shan, nanti sorean aku SMP nya Feni ya.. Jadi kalau kamu chat, telfon tau alesanya kalo gak ke angkat atau kebales.” Arii meminta izin pada Shani.

“Kamu mau ngapain Ay?” Shani menolehkan kepalanya pada Arii.

“Kan biasa ada latihan Karate hari ini..” Ujar Arii menjelaskan. Ido, Gre, Jaya dan Yupi hanya menjadi pendengar sambil bermain handpone-nya masing-masing.

“Emang ini badanmu gak ada capeknya Ay? Kemarin juga baru olahraga.” Shani memukul-mukul lengan Arii.

“Ya capek.. Tapi aku kan strong!!!” Arii menepuk-nepuk dadanya agak keras dengan bangga. Shani yang penasaran juga ikut menepuk dada Arii lebih keras yang membuat Arii terbatuk-batuk.

“Mending bunuh aja si Arii Shan dari pada lu gituin.” komentar Yupi setelah melihat perlakuan Shani barusan.

“Hehe, maaf. Tapi jangan genit-genit! Colok itu mata ntar.” Shani menggerakan-gerakan kedua jarinya seperti gunting ke arah mata Arii.

“Engga kali sayang” Arii memegang jari Shani agar menjauh dari wajahnya.

“Gak usah panggil ‘Sayang’ kalo cuma mau ngerayu doang.” Sela Shani. “Ya udah.. Jaya, Ido kalian ikut kan?” Tanya Shani pada Ido dan Jaya.

Ido dan Jaya yang tengah asik memainkan handphone-nya menjadi terhenti. Kemudian dengan malasnya menoleh pada Arii dan Shani dengan raut wajah tak mengerti.

“Ha? ngapain kami ikut?” Tanya Jaya mewakilkan perasaan Ido.

“Ya liatin Arii aja.” ujar Shani santai.

“Beehh… kurang kerjaan. Ganteng juga engga itu anak.” gerutu Jaya dan menadahkan kepalanya ke arah Arii. Ido? Ngangguk-ngangguk doang.

“Udah gak papa, sekalian kalalian belajar bela diri. Supaya kalo punya pacar bisa jagain. Gak cewek yang jagain kalian.” Gre menyarankan sambil menampar-nampar pelan pipi Ido menggunakan penggaris plastik.

“Ehh, bener juga.. Ikut lah Gua. Gua kan Laki!” Ido tampak semangat di akhiri nada sok tegas membuta babi.

“Hmmm. Bentar gua fikir-fikir dulu..” Jaya seolah berfikir, Ido yang di depanya geram dan langsung menonyor kepalanya. “Ya udah, Gua juga lah” Jaya sangat santai..

Ternyata tonyoran tangan Ido dapat bereffek mempercepat saraf berfikir Jaya. Sungguh tak masuk di akal. . Semoga saja Ido tak berbangga diri dan menganggap tangannya ajaib, sehingga dia tak ada niatan membuka jasa ‘tonyoran’ untuk reflexy saraf fikir. Bukan gimana-gimana, sedangkan dianya sendiri saja rada sengklek. Jadi gak usah sok mau… Ya itulah pokonya.

“Duduk di kursi depan kelas yuk. Bosen di disini mulu, udah kayak penjara aja kita.” ajak Yupi menyarankan.

Arii, Ido, Gre, Jaya dan Shani mengangguk setuju kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar kelas. Sesampainya di depan kelas mereka langsung mengambil posisi duduk yang nyaman untuk dirinya masing-masing.

Selagi asik mengobrol ringan dan bercanda, mata Ido menangkap sesuatu hal yang rada aneh ke arah gedung ruang guru. Di lihatnya seorang siswi tengah berjalan berdampingan bersama sepasang lelaki dan perempuan paruh baya mengikuti di belakangnya.

“Eh itu yang sama Jeje siapa?” Tanya Ido. Arii, Gre, Jaya, Shani dan Yupi menoleh menuju arah yang di maksud Ido.

“Orang tuanya Jeje.” jawab Arii santai sambil memain-mainkan tangan kanan Shani yang duduk di sebelahnya.

“Emang lu kenal Rii?” Gre bertanya dengan raut wajah tak percaya.

“Kalo Bokapnya sih kenal…” Ujar Arii sengaja memotong omongannya.

“Siapa namanya?” Tanya Gre lagi.

“Biasa gua manggilnya ‘OM‘ ” ujar Arii dengan wajah dibuat serius.

“Tuh kan, jangan di tanya Gre orang kayak gini.” Ujar Shani sebal lalu mengacak-acak wajah Arii dengan gemasnya.

Setelah puas, Shani menyudahi tanganya yang mengacak-acak wajah Arii.  Telihat Arii hanya cengengesan gak jelas sambil memain-mainkan tangan Shani lagi dan kadang di gelitikinya.

“Halehh.. Malah becanda si kampret. Kalo Nyokabye?” Jaya gantian bertanya. Tapi tanganya sudah bersiap mengepal seraya menunggu jawaban Arii.

“Ini beneran kenal.. Nyokapnya ada dua panggilan.”

“Siapa?”

“Kalo gua nyapa sih biasanya, ini biasanya ya.. ‘Siang Buk., atau Siang Tan..’

“Oooh gitu.. Yank….” Panggil Shani setelah menolehkan kepalanya. Ia menatap Arii dengan tersenyum manis.

“Kenapa Ay?” Respon Arii santai.

“Bibir kamu bagus ya.” Ujar Shani tersenyum.

“Hehe iya, kenapa? Mau cium aku?” Tanya Arii menaik-naikan alisnya dan tangan Shani yang sedari tadi di pegangnya di gunakan untuk mengelus-elus pipinya.

“Engga sih.. Ngomong-ngomong udah pernah di tetesin lem Alteco belum itu bibir?” Ujar Shani sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada bibir Arii.

GLEKK!!!

Arii menelan ludah. “S-Shan…” Arii mendadak kaku dan gemetar melihat Shani yang menatapnya dengan senyum manis tapi mematikan.

Arii tidak pernah membayangkan dan berfikir bahwa Shani juga memiliki jiwa psyhco tingkat receh walaupun itu mematikan. Mungkin kalau ucapan Shani benar-benar di lakukanya, ini bukan mode penyiksaan secara perlahan. Malahan lebih dari kata pelan, kalau boleh di di bilang “psyhco slowmotion” Entah ada entah engga, dan bodo amat juga.

Bel masuk pun berbunyi.. Pelajaran kembali di mulai..  Hingga bel pulang berbunyi.. *Hehe pelajaran skip dulu.

~oOOo~

Jam sudah menujukan jam setengah 3 sore dimana Arii, Ido dan Jaya sudah berada di SMPN 27 Jakarta tempat dimana ‘Feni’ bersekolah. Dan di sinilah tempat (Dojo) Arii akan latihan. Tak jauh dari mereka di lapangan basket juga banyak Siswa-siswi SMP (Kihon) berkumpul sudah berbalut seragam Karate (Dogi), sama halnya juga Arii. Tidak dengan Ido dan Jaya yang hanya mengenakan pakaian bebas.

“Itu anak-anak yang bakal lu latih Rii?” Tanya Jaya menadahkan kepalanya ke arah depan.

“Iyo..” Respon Arii santai.

“Anak SMP semua? Kalo cewe ada cakep boleh kami godain?” Tanya Jaya lagi dengan senyum mesumnya.

“Terserah.. Kalo lu bedua mau di banting.” Arii datar “Entar lu berdua ikut latihan aja berdiri di barisan paling belakang, atau bebas dah kalian mau ngapain.”

“Dihh. Ogah gua paling belakang. Depan lah!” Jaya songong tak terima.

“Lu bisa gerakan-nya?” Arii menoleh ke Jaya yang menggeleng. Melihat itu Ido pun sebal dan langsung menjitak kepala Jaya.

Tingkatan Arii dalam Karate adalah ‘DAN-1’ atau bisa dibilang sabuk hitam tingkat pertama diamana dia dipangil Senpai karena lebih senior. Hari ini adalah rutinitas Arii untuk melaitih Karate bersama Sensei-nya yang dua tingkat di atasnya, alias ‘DAN-III’. Seharusnya ia cuma membantu membimbing, tapi di karena Sensei-nya berhalangan hadir maka hari ini Arii lah yang harus melatih sendirian.

Setelah berkumul. Arii berdiri di depan anak didiknya (kihon) sedangkan Ido dan Jaya berada di barisan paling belakang supaya lebih mudah mengikuti gerakanya dan jurus-jurus yang di ajarkan nanti.

“Selamat sore..”

OSH. sore Senpei.” ucap semua kohai agak menunduk.

“Di karenakan hari ini Sensei Jhon berhalangan hadir, maka senpei sendirilah yang akan melatih kalian. Bisa di mengerti?!” Tanya Arii tegas yang berdiri dengan sikap tegap.

OSH. Hanya itu jawaban dari Kohai yang berarti mereka mengerti dan juga siap untuk memulai latihan.

Selagi Arii bersiap memulai latihan, di barisan belakang tamak Ido dan Jaya yang sedang berbisik-bisik.

“Do. Lu jijik gak denger itu anak ngomong sok formal gitu?” Jaya menadahkan kepalanya ke arah Arii.

“Jijik lah! Sok keren, sok ganteng, sok berwibawa, sok putih, sok bersih, hanya soklan pemutih…” Ido mengerutu menimpali omongan Jaya di akhiri nyanyian ala iklan.

Ending-nya gak enak bener Nyet. Kita hajar aja lah abis ini tu anak. Mules gua liat dia ngomong gituan tadi.” Provokasi Jaya menjadi.

“Oke siapa takut. Tapi Yak…” Ido menoleh pada Jaya yang menghadap depan. “Hng?” respon Jaya singkat.

“Yakin kita mau nge-hajar Arii?” Ido mencoba meyakinkan niat mereka tadi.

“Yakin!” Ujar Jaya mantap. “Tapi, lebih baik kita batalkan niat ini Nak.. Menghajar atau menzolimi orang itu tidak baik, dalam agama juga tidak di ajarkan hal seperti itu.. Apa kamu mau tuhan marah atas prilaku burukmu itu Nak..?” Jaya tiba-tiba berubah fikiran dan menasehati Ido. Ido yang mendengar ucapan Jaya tertunduk layu.

Di pikir-pikir mau gimana lagi. Kalaupun niat itu terlaksana yang ada malah badan mereka yang bakal pegal-pegal karena di jadikan samsak hidup oleh Arii. Mereka tidak bisa bela diri sedangkan Arii.. Sumpit aja bisa di patahnya. *Bodo amat sumpit juga keras.

Setelah pemanasan sejenak latihan pun di mulai dengan gerakan demi gerakan mereka lakukan. Mulai dari pukulan, tangkisan dan juga tendangan. Sesekali Arii tampak berkeliling untuk membenarkan posisi jurus yang benar pada Kihon kihon-nya. Tapi ada saat sampai barisan paling belakang alis Arii mendadak naik sebelah melihat Ido dan Jaya yang sedang asik berbalas pukul-pukulan tak jelas arah. Para kihon  pun ada yang menoleh sembari menahan tawa melihat teman Senpei-nya itu.

~oo~

Di saat istirahat banyak kihon-kihon wanita yang masih SMP memberikan air mineral pada Arii. Entah ada maksud apa juga tak tau.. Contohnya seperti ini..

Osh Senpei.” Gadis SMP itu tersenyum dan Arii hanya mengangguk ramah. “Ini Senpei aku mau ngasih air minum. Tadi aku liat Senpei belum ada minum.” gadis itu menyodorkan satu botol air mineral.

“Iya terimakasih,. Kamu temenya Feni kan?” Gadis itu mengangguk. “Tolong kalau di luar atau tidak di lingkungan latihan jangan panggil saya Senpei ya, panggil Kakak atau Bang aja.”

“Siap Kak Arii, eh. Osh Senpei” ujarnya sempat salah lalu membenarkan.

“Ya sudah sana silahkan istirahat. Lima menit lagi kita lanjut latihan” suruh Arii.

Osh Senpei.” setelahnya gadis itu pergi menuju teman-temanya dengan seyum tersungging di bibirnya. Sedangkan Ido dan Jaya sedari tadi menatap datar obrolan mereka berdua.

“Gua rasanya pengen bakar Arii idup-idup Do.” Bisik Jaya pada Ido yang cuma mengangguk-angguk setuju.

Tidak lain tidak bukan karna Ido dan Jaya beneran merasa jijik dengan gaya bicara Arii yang terkesan formal dan sok lembut. Berbanding terbalik dengan Arii dalam keseharian yang mereka kenal dengan sengkleknya sudah mendarah daging dan turun temurun.

“Ri?”

“Eng?” Arii yang sedari tadi memperhatikan arah kihon kihon-nya tanpa menoleh ke arah sumber suara.

“Gimana caranya supaya cewek-cewek deketin kita?” tanya Ido membuat Jaya tertarik mendengar secara serius.

“Haa?” Arii menoleh dengan raut wajah tak mengerti.

“Itu tadi lu gak liat anak cewek-cewek pada nawarin air minumnya ke elu mulu?” Ido bertanya penasaran. Arii masih cengoh.

“Iya gimana Rii? Bagi tau lah gak usah rahasia-rahasiaan.” Jaya juga menggebu ingin di beri air minum.

“Kalian lebih deket sini coba.” pinta Arii. Setelah Jaya dan Ido mendekatkan kepalanya. “Caranya….. Gosok gigi dua X sehari pada pagi dan malam.” saran Arii ngelantur memasang wajah serius.

“Ah yang bener lu..” Ido tamak tidak percaya. Tapi beda dengan Jaya yang terlihat kagum bagai mendengar suara malaikat dari surga. Baginya Arii saat ini seperti tampak mengeluarkan sayap putih bercahaya dari balik punggungnya.

“Ya enggak lah!. Tanya gituan ke gua. Gua juga gak tau Cong. Tanya aja sama mereka sendiri. Sengklek bener.” Arii menjelaskan dengan sewot dan yah itu Arii sesungguhnya. Seketika bayangan Jaya tentang Arii sebagai malaikat bersayap dari surga musnah sudah.

“Rrrrrrrrrr.” Jaya tertunduk lesu.

“Rii.. Airrrrrr, gua haus……” Ido mengusap-usap lehernya menadakan dia kehausan.

“Yah, udah abis… Nohh, itu ada lagi yang dateng. Mau ngasih minum ke lu bedua kali.” Arii menadahkan kepalanya mengarah pada gadis SMP yang berjalan ke arah mereka bertiga.

“Wahh iya nih. Siap-siap Yak. Siap-siap.” Ido menyenggol lengan Jaya. Dengan semangat sebotol air gratis, mereka berdua tersenyum sumringah menanti gadis itu. Saat gadis itu sampai.

“Haii dek” sapa Ido dan Jaya tersenyum ramah.

“Haii Kak,” Ia membalas salam Ido dan Jaya. Oiya Senpei. Ini aku mau kasih minum, di terima ya..” gadis itu menyodorkan sebotol mineral, Arii tersenyum ramah menerimanya. Ido dan Jaya kembali cengoh.

“Atlit Karate gak pernah juara aja songong. Tapi kok di perbolehkan ngelatih ya Yak? Bikin malu orang yang gak kenal sama dia aja,” Grutu Ido lagi berbisik pada Jaya.

Jaya menoleh. “Do! Kalo gak kenal sama Arii ngapain itu orang malu?!” Balas jaya sebal dengan komentar Ido suara pelan.

“Bodo amat.. Namanya orang lagi sebel. Pengen gua cabutin bulu idung dia lama-lam.” Balas Ido pelan membela membela diri.

“Kalian ngapain bisik-bisik?!” Tanya Arii dengan wajah datar menatap Ido dan Jaya.

“Tanyakan pada bulu kaki yang bergoyang” Jawab Ido dan Jaya serentak dengan expresi tak kalah datar.

Jadi kurang lebih seperti itu. Ido dan Jaya kehausan, Arii perutnya kembung karena kebanyakan minum. Waktu istrirahat selesai dan latihan kembali dimulai hingga jam menujukan pukul hampir 5 sore menadakan latihan hari ini telah selesai. Semua yang ikut berlatih mulai berhamuran pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu juga Arii, Ido dan Jaya.

~oOOo~

Pagi hari di SMKN 5 Jakarta. Di dalam kelas XI-TKJ Arii terlihat sedang memohon-mohon pada Shani. Bahkan hal itu membuat teman-teman sekelasnya menonton dan mevidokannya melalui handpone milik mereka masing-masing. Suasana tampak tegang karna Arii seperti sedang di siksa oleh Shani. Sebenernya spele, Arii hanya ber Push Up saja dan ditambah Shani yang duduk di atas punggungnya.

“Udah ya Ay..” Pinta Arii memelas.

“Enggak ada.! Buru masih 47 lagi!”

“Capek…..” Gerutu Arii di sela-sela nafasnya.

“Buruan! Masih 45 lagi. Apa mau ditambah?!” Ancam Shani, Arii hanya menurut supaya tidak bertambah keruh.

Arii terus saja Push Up sampai akhirnya tubuhnya sendiri tampak lebih mendukung Shani dari pada dirinya. Arii ambruk karena kehabisan tenaga dan sekarang posisinya tengkurap di lantai dengan Shani masih saja duduk di atas punggungnya.

“Hahhh.. Mampus situ lah.. Cewek memang gak ada tandingannya, dia yang marah gua yang salah. Gantian gua yang marah, tetep gua juga yang salah.. Siapalah pencetus paradikma Wanita Selalu Benar ini?. Yang jelas lu kampret.” grutu Arii dalam hati. Dia cuma berfikir biarlah diamkan aja, entar kalau ngambeknya capek juga udahan sendiri.

Saat tontonan masih berlangsung. Ido dan Jaya yang baru datang dari kantin masuk dan menghamirinya. Tampak wajah bahagia dari Ido dan Jaya ketika melihat kondisi Arii. Usut punya usut mereka berdua lah pelaku kelas bawang yang melaporkan Arii pada Shani dengan bumbu-bumbu yang di lebihkan. Masalahnya adalah ‘sebotol air gratis’ dari cewek SMP yang gagal di dapatkan kemarin sore.

“Shan. Arii ternyata fans cewek-cewek anak SMP beneran banyak loh.” tiba-tiba Jaya yang baru sampai berbicara.

“Lu baru dateng udah nambah-nambain aja kampret! Elu pasti dalangnya.” Grutu Arii dengan sebalnya.

“Kamu diem!” Shani memberatkan badannya supaya Arii makin tergencet. “Godain cewek yang di latih gak?” Shani mengalihkan pandanganya ke arah Ido dan Jaya.

“Ya.. gitu deh Shan. Banyak bener.” Ido cengengesan santai. Dia berharap pertunjukan ini lebih panjang suapa lebih greget ala Mad Dog.

“Si kampret!!! Anak Jahanam. keparat. Bajingan!” Umpat Arii menjadi-jadi dalam hati.

Merasa sudah puas menceramahi Arii, Shani akhirnya beranjak lalu duduk pada kursi di depan Ido dan Jaya. Penderitaan Arii sedikit berkurang dan satu demi satu teman-temanya membubarkan diri, Arii beranjak dari pembaringanya lalu duduk pada kursi tepat di sebelah Shani. Gre dan Yupi yang baru datang bingung melihat Shani yang wajahnya cemberut.

“Shani kenapa Rii?” Tanya Gre yang melihat Shani cemberut.

“Ngambek…” Jawab Arii datar.

“Siapa yang ngambek.” Elak Shani tak terima lalu memalingkan wajahnya.

“Iya, iya… ” Arii pasrah hanya meng-iyakan saja.

“Udah sana sama cewek-cewek lain sana.! Sama pacarmu!” Usir Shani mendorong lengan Arii.

“Pacarku lagi pergi.” Jawab Arii datar membuat Shani makin merasa sebal.

“Huhh! Ya udah tungguin sana. Ngapain deket aku” Shani semakin ngambek dan mendorong-dorong Arii agar menjauh.

“Emang pacarmu lagi pergi kemana Rii?” Yupi bertanya penuh penasaran. Karna dia hanya tau Shani saja pacar Arii.

“Lagi pergi, sama Suaminya.” jawab Arii masih datar.

Hening…

1 detik mencerna.

3 detik mencerna.

“Anying..!!! SKANDAL Rii!!!” Teriak Jaya kencang. Ido, Gre, dan Yupi yang tersadar langsung ketawa ngakak mendengarnya. Tapi tidak dengan Shani yang berusaha menahan mati-matian hasrat ketawanya dengan memukul-mukul lengan Arii sangking sebalnya.

“Ish..! Sana jauh-jauh.” Usir Shani pada Arii.

Dasanya memang isinya orang sengklek semua ya kayak gini. Mau di gimana-gimanain juga susah. Cukup kita do’akan saja agar kadar sengklek mereka tidak meningkat dan cepat menurun walau 1% per tahun.

Seperti pepatah mengatakan. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi sakit.

~oo~

Jam pelajaran pertama di pagi hari ini adalah kejuruan yang di ajarkan Pak Lukman. Tapi karena beliau ada kesibukan yang tak bisa di tinggalkan maka Ia hanya memberikan tugas untuk kelas XI-TKJ. Banyak dari murid-murid tampak mengerjakan tugas dan banyak juga yang melakukan kegiatan masing-masing. Seperti halnya yang dilakukan Yupi saat ini.

“Yupi lagi ngapain? Masih pagi udah serius banget” tanya Gre melihat Yupi yang asik membaca buku.

“Ini loh” Yupi menunjukan bukunya “Lagi belajar bahasa jepang”

“Ooh. Ha’i-Ha’i. Gimana tu?” Tanya Shani menanggapi.

Ohayou Arii-Kun, Ido-Kun, dan Jaya-Kun. Ohayou Gre-Chan, dan Shani-Chan

“Hai-hai. Ogah yoo juga Yupi” balas Jaya dengan bahasa Jepang amburadul.

“Kok ‘Ogah’ sih Jaya.? Yupi cemberut, dan Ari,Ido,Gre dan Shani terkekeh melihatnya, sedangkan Jaya yang tidak tau kalau ucapanya salah hanya tersenyum bodoh sok imut plus bikin jijik.

Yupi melanjutkan lagi membaca bukunya, setelah itu dia mulai berkata lagi,

“Oh iya, kan disini yang umurnya lebih tua Arii, Ido sama Jaya, nah jadi di ujungnya di tambah “SAN”. Itu biasanya buat orang yang lebih tua dari kita atau lebih di hormati. Kan Arii udah aku anggap kakak juga.” Yupi menjelaskan secara detail sampai ke akar-akarnya. *bodo amat.

“Dih lebay sekali adek Yupi.. Gua di anggepnya kakak. Haha” komentarnya bangga. Tapi malah Arii-nya sendiri yang bertingkah lebay.

“Behh. Bodo amat Rii sama elu. Penting nama gua keren ada Jepang-jepangnya kayak film Crowzero. GENZERR!!! Jaya bersemangat meniru-nirukan film yang pernah dia tonton.

“Kok kayak ngomong “genjer” yang di sayur-sayur itu?” Sela Gre cekikikan.

“Bodo amat. Jepang pinggiran ini.” Jaya mebela super ngelantur.

“Jadi gini.. Ohayou Ido-San, Ohayou Jaya-San…” Ucapan Yupi terpotong.

“Nah gua Yup. gua?” Arii benar-benar semangat.

Ohayou Arii-San” ujar Yupi tersenyum manis. Gre dan Shani yang sadar tampak menahan tawa. Tapi tidak dengan Arii yang masih terkagum kagum.

“Wahh keren nama gua.. Coba ulang Yup.” Pinta Arii karena senang. Yupi pun mengulang.  “Ohayou Arii-San.

“Ha? Coba sekali lagi” Arii mulai sadar dan ingin memastikan sekali lagi. Shani yang sudah tidak kuat menutup mulutnya rapat dengan tangan dan sembunyi dibalik punggung Arii.

Ohayou Arii-San” Yupi mengucap kembali tersenyum. Karena baginya tak ada keanehan.

“Rrrrrrr. Fuck You…” Arii mengumpat lemas selemas-lemasnya dengan muka dongo.

“Ulu lulu ngambek. Aaaaa lucu Ay… Jangan gitu mukanya. Hahaha” Shani menggoda Arii sembari mencubit-cubit pipinya dan tertawa ngakak. Begitu juga Ido, Gre dan Jaya kecuali Yupi yang masih tak mengerti.

“Yupi……”

“Iya kenapa Ri? Yupi menoleh dengan raut wajah masih tak mengerti melihat Ido, Gre, Shani dan Jaya yang masih ngakak.

“Ntar malem ada acara gak?” Tanya Arii lembut.

“Kamu mau ngajak aku ngedite? Shani gimana?” Yupi menanggapi dengan serius.

“Gak apa.. Ntar aku jemput ya. Kita makan di resto pinggir pantai biar romantis. Tapi abis itu kita tenggelem di laut sama-sama ya..” Arii tersenyum manis dan Yupi membalas senyumnya.

Tapi lama-kelamaan senyum Arii seperti ingin memakan orang yang membuat Yupi sedikit berfikir. Seketika Yupi cengengesan tak jelas melihat Arii. Dengan jari menggaruk-garuk tangan kirinya dengan buku yang sedari tadi di bacanya Yupi pun berbicara.

“Hehe-he he. Selamat siang Arii-San. Eh, Arii-Khun.. Yupi tertawa canggung setelah mengetahui letak kesalahanya.

Ido, Gre, Jaya dan Shani tambah kegelian mendengar Yupi mengganti panggilan baru untuk Arii ala-ala Jepang yang sudah bagus tadi. Shani yang masih terbayang-bayang geli selalu menggodanya dengan memanggil nama Arii dengan embel-embel itu.

Saat tawa mereka sudah sedikit mereda, Jaya menyenggol bahu Gre yang ada di sebelahnya.

“Shh, Gre..” Pangil Jaya pelan.

“Hng.” Respon Gre masih terbayang nama baru Arii.

“Besok liat aksi gua ke Yupi.” ucap Jaya berbisik. Dahi Gre sedikit mengkerut bingung mendengarnya lalu Ia menjawab.

“Katanya hari ini kok jadi besok?” Gre memastikan.

“Biar kayak di Tv-tv.” Jaya semakin menjadi mendramatisir keadaan dengan wajah sok serius.

 

@arytria_s

Note : Mohon maaf kalau part ini rada sedikit sara, aneh atau apapun itu. Tidak ada maksud menyinggung, menghina atau hal lain dari Gua sebagai Author. Dan maaf juga kalau Updatenya lama walaupun gak ada yang nungguin.

Gua harap semua Move on dari part 3 yang 88% amburadul, dan sekarang sudah masuk part 4 yang 87% amburadul. Lumayanlah walau 1% juga. Jangan bosan mampir kesini. Di tunggu kritik saran-nya.

Twitter: @arytria_s

Iklan

7 tanggapan untuk “Aku Rasa Iya, Part4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s