“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 21

Shani terbangun dari tidurnya ketika sebuah panggilan masuk dari handphonenya. Dengan malasnya ia mengambil handphonenya dan mengangkat telpon tersebut.

“Halo?”

“…”

“Harus banget hari ini ya Vin?”

“…”

“Ngg, gak usah teriak-teriak juga kali. Yaudah, jam berapa?”

“…”

“Okedeh. Nanti langsung ke sana aja deh ya?”

“…”

“Sip. Nanti chat aja deh ya kalau udah di sana.”

“…”

“Bye Vin.”

Telpon pun terputus karena Shani mematikannya. Yang menelpon tadi adalah Viny, karena memang mereka sejurusan dalam kuliah. Dan tentunya sekelompok juga, jadi mereka pun mengerjakan tugas kelompok bersama.

Shani dengan malasnya ia berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil handuk yang tergantung di depan lemari pakaian.

Setelah selesai, ia pun keluar dengan handuk yang melilit di tubuh dan kepalanya. Shani mengambil baju dalam lemarinya dan memakainya. Kemudian ia mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut di depan meja rias.

Setelah dirasa cukup, ia pun turun ke bawah menuju dapur. Perutnya terasa lapar minta diisi, karena tadi malam tidak memakan apa-apa. Jadi beginilah, sangat lapar sekali ia sekarang. Shani membuka kulkas, ia melihat-lihat apa yang bisa diolahnya sekarang.

“Tuh gue udah masakin lo di atas meja, tinggal dimakan doang.” Shani berbalik, ketika Gre yang tiba-tiba datang.

“Makasih.” Shani menuju meja makan, dan mengambil makanan tersebut membawa ke ruang tengah.

Shani menyalakan tv dan duduk di sofa sambil menyantap makanan yang dibuatkan oleh Gre untuknya.

“Lo gak kuliah?” tanya Gre yang duduk di samping Shani sambil membawa dua buah minum dan menaruhnya di meja kecil.

Shani menggelengkan kepalanya, “Gue hari ini gak ada kelas.”

“Terus lo ada rencana hari ini mau kemana?”

“Mau ngerjain tugas sama Viny nanti, kenapa emang?” Shani menatap Gre dengan bingung.

Gre menggelengkan kepalanya, “Enggak. Kirain lo mau di rumah doang, soalnya gue mau pergi ke luar nanti.”

“Yaudah sih, kan kita mau keluar juga nanti. Tapi sekalian deh, lo anterin gue aja deh.” Shani menegak minuman yang dibawa kan Gre.

“Okedeh,”

Setelah itu mereka berdua pun fokus menonton tv yang sedang menyiarkan film romantis, dan tak ayal mereka pun kadang merasa sedih karena ada adegan yang menyedihkan. Mungkin begitulah kadang perempuan kali ya…

~

Jam menunjukkan pukul satu siang, dan sekarang Shani sedang berada di mall. Karena memang ia berjanji dengan Viny di sini, dan masih ada waktu setengah jam lagi sebelum ia bertemu dengan Viny. Ia datang lebih awal, karena Gre ada kesibukan yang lainnya jadinya ia diantarkan lebih awal juga.

Sudah lama ia tidak membeli novel, mungkin untuk membunuh kebosanan ia bisa memilih-milih novel yang ada. Dan sekarang ia pun menuju toko buku yang ada di mall tersebut.

Shani berjalan menuju rak buku-buku novel berada, ia memilah-milah novel yang ada di sana. Sudah dua buku yang ia dapatkan untuk dibelinya, kemudian ia kembali memilih novel yang akan ia beli.

Di ujung rak buku-buku novel, Shani terhenti dengan aktifitas memilihnya. Karena handphonenya yang berbunyi di dalam tas miliknya. Dan tanpa basa-basi lagi, ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.

“Halo?”

“…”

“Hm, tumben ngajak jalan. Emang mau kemana?”

“…”

“Becanda kaliii. Tapi bentar lagi aku mau ngerjain tugas sama Viny, gimana dong? Malam aja?”

“…”

“Aku sih gakpapa kalau abis ngerjain tugas, jalan lagi. Kamunya tuh, gimana?”

“…”

“Yaudah deh, malam aja ya? Sekalian biar bersih-bersih dulu.”

“…”

“Oke. Bye Robbyyy.”

Tuuuttt….tuuutttt…tuuuttt…

Shani memasukkan kembali handphonenya setelah panggilan tersebut dimatikan oleh Robby. Shani kembali dengan aktifitasnya, yaitu memilih-milih novel yang akan ia beli.

Setelah dirasa cukup dengan urusan apa yang ia beli, Shani pun menuju kasir untuk membayar novel yang ia beli. Setelah selesai membayar, ia pun keluar dari toko buku tersebut. Dan berjalan menuju café yang ia janjikan bersama Viny.

Tetapi sebelum ia sampai di café tersebut, Shani seperti melihat orang yang ia kenali dari samping di sebuah restoran dalam mall tersebut. Dan ia baru sadar ketika melihat wajah orang tersebut, Shani buru-buru mengambil handphonenya dan memotret apa yang ia lihat sekarang. Setelah cukup, ia pun langsung memasukkan kembali handphonenya.

Dan ketika ia memandang pada orang tersebut, tak sengaja pandangan mereka bertemu. Shani tersenyum tipis, ketika orang tersebut terdiam melihatnya.

“Kamu dalam masalah besar, Shania.” Shani pun berlalu menuju ke tujuan awalnya, yaitu café tempatnya bertemu dengan Viny.

~

Malam harinya, kini Shani tengah bersiap-siap di depan meja riasnya. Ia merias wajahnya tidak terlalu tebal, tangannya bergerak mengoleskan lipstick yang berwarna pink. Kemudian ia memakai baju lengan pendek berwarna putih yang bertuliskan ‘I’m happy with him’ dengan dilapisi cardigan berwarna abu-abu yang telah ia siapkan, dan menyemprotkan parfurm pada bajunya. Ia terlihat sangat perfect sekarang, dengan pakaian yang ia kenakan.

Ia mengambil flat shoes berwarna putih di rak sepatu miliknya, kemudian ia kembali memeriksa tasnya untuk mengecek apa ada yang tertinggal atau tidak. Dirasa tidak ada yang tertinggal, ia pun berjalan keluar kamar, menuju ruang tamu.

“Mau kemana Shan?” tanya Gre yang entah datang dari mana.

Shani melirik sebentar, kemudian ia memasang sepatunya, “Mau jalan bentar Gre.”

“Sama Robby?” tebak Gre.

Shani mengangguk, “Iya, kenapa emang?”

Gre menggeleng tersenyum, “Enggakpapa kok. Oh iya, gue punya kabar baik buat lo.”

Shani menatap bingung Gre, “Apaan?”

“Tadi Mamah gue nelpon, dan dia bilang…”

Shani menatap Gre dengan serius menunggu kelanjutan ucapannya, “Bilang apa?”

“Perjodohan gue sama Robby dibatalin Shan.” Gre tersenyum manis pada Shani.

“L-lo serius?” Shani menatap Gre dengan tidak percaya.

Gre mengangguk, “Gue serius, Mamahnya Robby yang ngebatalin. Entah karena hal apa, tapi bagus deh. Jadi, lo bisa dapat kesempatan kan biar jadian sama Robby?” Gre memain-mainkan alisnya menggoda Shani.

Shani memeluk Gre, “Tengkyu Gre, makasih banget. Lo emang pengertian sama gue.”

Gre membalas pelukan Shani, “Sama-sama, jangan sia-siain kesempatan ini Shan.”

Shani mengangguk dan melepaskan pelukannya, “Gue pergi dulu ya?”

“Hati-hati ya,” ucap Gre yang berjalan bersama Shani keluar rumah, mengantarkan Shani ke depan lebih tepatnya.

Shani pun masuk ke dalam mobil Robby yang sedari tadi telah terpakir di depan, setelah itu terdengar bunyi klakson ketika mereka pergi, dan Gre melambaikan tangannya. Kemudian ketika tidak terlihat lagi dari pandangan Gre, ia pun kembali masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu…

~

Kini Shani dan Robby tengah berada di sebuah pasar malam yang terletak di pinggir kota, yang terkenal dengan jajanan makanannya. Mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam pasar tersebut.

Shani mengaitkan tangannya pada lengan Robby, karena memang disini terlalu ramai jadinya ia merasa takut kalau ada apa-apa. Mereka berjalan melihat-lihat stand makanan yang ada di sana, dulu Shani pernah ke tempat seperti ini di kotanya dulu. Tetapi tampak berbeda sekali dengan di kotanya, karena di sini terlihat ramai sekali, baik yang berjualan maupun yang membeli. Bahkan sekedar melihat-lihat saja.

Dan Shani melihat makanan yang memang ia inginkan dari beberapa hari lalu, stand yang menjual kue-kue membuat langkah Shani terhenti. Dan itu membuat Robby terhenti juga.

“Kenapa Shan?” tanya Robby.

“Ngg, aku mau itu,” pinta Shani manja.

Robby mengikuti arah pandang Shani, “Yaudah, ke sana yuk.”

Shani dengan semangatnya mengangguk dan berjalan bersama Robby menuju stand kue yang tak jauh dari tempat mereka.

“Berapaan nih bu?” tanya Robby.

“Dua ribu lima ratus satu mas,” ucap ibu penjual.

“Kamu mau berapa Shan?”

“Dua aja deh,” jawab Shani.

“Yaudah, dua ya bu.” Robby menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan pada ibu-ibu penjual tersebut. “Mau apa lagi Shan?”

Shani menggeleng, “Cari yang lain lagi yuk.”

“Ini kembaliannya mas.” Ibu-ibu penjual tersebut menyerahkan kembaliannya pada Robby.

“Makasih ya bu.” Robby mengambil kembalian tersebut. “Yaudah yuk.”

Robby menggandeng tangan Shani dengan lembut, dan mereka berjalan mengelilingi pasar malam tersebut.

Sudah sekitar empat puluh lima menit mereka berada di sana mengelilingi dan membeli jajanan yang ada di sana, mereka pun memutuskan untuk makan di salah satu warung makan yang ada di sana. Mereka duduk di salah satu kursi yang memang untuk berdua saja, setelah selesai memesan apa yang ingin mereka makan.

“Kamu gakpapa kaya gini Shan?” tanya Robby.

“Maksud kamu?”

“Yaa… makan di tempat kayak gini,” ucap Robby.

Shani terkekeh pelan, “Kalau aku gak mau di sini, gak bakalan aku pesen Robby.”

Robby menggaruk lehernya yang tak gatal, “Yaa… kan aku nanya Shan.”

Shani tersenyum mengangguk, “Aku gakpapa kok. Asal sama kamu, kalau makan di pinggiran kayak gini enak kok.”

“Lagian kan aku emang sering kayak gini sama keluargaku dulu,” tambah Shani.

Robby menganggukkan kepalanya, “Syukur deh, kalau gakpapa. Kan akunya gak enak.”

“Udah, gak usah dipikirin. Gakpapa kok,” ucap Shani.

Mereka pun membicarakan banyak hal, hingga akhirnya pesanan mereka pun telah datang. Dan dalam momen makan mereka, tak ayal mereka juga membicarakan sesuatu dan bercanda karena kekonyolan Robby.

Sekitar dua puluh menit mereka makan bersama, akhirnya telah selesai acara makan malam mereka. Setelah membayar, mereka pun langsung menuju parkiran karena memang jarak dari sini menuju rumah Shani yang cukup memakan waktu. Takutnya mereka akan pulang larut malam, dan dengan keputusan bersama. Mereka pun pulang…

Shani tengah menatap keluar jendela mobil dengan keadaan mengantuk, karena memang ia bosan dan itu membuatnya mengantuk. Robby tersenyum geli melihat Shani yang menahan kantuknya, perlahan Robby meraih pergelangan Shani dan diusapnya dengan lembut. Sehingga membuat Shani pun menoleh.

“Udah tidur gih, kasian ngantuk gitu,” ucap Robby.

Shani mengglengkan kepalanya, “Enggak kok.”

“Indira.” Panggil Robby.

Shani mengehela nafasnya, “Oke, fine. Aku tidur dulu, nanti bangunin kalau udah sampai.”

Robby cekikikan melihat sikap Shani, “Iya, nanti aku bangunin kok.”

Setelah itu Shani pun memposisikan tubuhnya senyaman mungkin, kemudian ia memejamkan matanya. Dan tak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari Shani. Ketika berada di lampu merah, Robby pun mengambilkan selimut yang memang selalu ia bawa di belakang. Lalu ia menyelimutkan tubuh Shani dengan hati-hati, takut akan membangunkannya.

Robby menyelipkan rambut Shani ke belakang telinganya, memang kalau dilihat dari mana pun Shani memanglah cantik. Sangat cantik malah. Robby mencium kening Shani dengan lembut.

“Good night Indira,” bisik Robby.

Lampu merah pun kini telah berganti menjadi hijau, dan Robby pun mulai menjalankan mobilnya. Tanpa sepengetahuan Robby, Shani tersenyum karena perlakuan Robby pada dirinya..

Sekitar dua puluh lima menit menempuh perjalanan, kini mereka pun telah berada di depan rumah Shani. Robby mematikan mesin mobilnya, dan menatap Shani yang masih terlelap. Ia tak tega membangunkan Shani yang dengan manisnya tengah terlelap. Tapi ia juga tidak mau Shani terlalu lama tidur dengan keadaan seperti ini, jadi bagaimana?

“Indira,” panggil Robby lembut sambil mengusap-ngusap pipi Shani.

Shani menggeliat dan mengucek-ngucek matanya, “Ngg? Udah sampai ya?”

Robby mengangguk, “Iya, udah sampai. Udah masuk gih sana, ngantuk banget tuh.”

Shani menyibakkan selimut yang ada pada dirinya, dan menaruhnya di belakang. Tetapi ia tidak keluar dari mobil Robby.

“Kenapa Shan?”

“Aku mau ngomong dulu sama kamu,” ucap Shani.

“Yaudah, mau ngomong apa?”

“Kemarin, selama kamu pergi ngapain aja sama Shania?” Shani menatap Robby serius, “Jawab jujur.”

“Enggak ngapa-ngapain kok, orang dianya aja sibuk sama hape terus,” ucap Robby.

“Bener?”

Robby mengangguk, “Beneran ih.”

“Kalau semisal Shania selingkuh, gimana Rob?” tanya Shani.

“M-maksud kamu?” Robby menatap bingung pada Shani.

Shani mengeluarkan handphonenya dari dalam tas, dan membuka galeri yang terdapat foto Shania bersama seseorang laki-laki. Kemudian ia pun memberikannya pada Robby.

“I-ini beneran S-Shania?”

Shani mengangguk, “Ya benerlah. Jadi udah tau dong kenapa dia lebih sering main hape?”

“Kalau memang benar itu Shania, aku harus melihatnya dengan mataku sendiri Shan.”

Shani menghela nafasnya, “Yaudah, kalau gak percaya. Aku udah bilang loh ya sama kamu.”

“Hh, iya aku tau kok. Tapi aku belum yakin, kalau belum melihat sendiri.”

“Yaudah, gakpapa. Yang penting aku sudah bilang sama kamu, jangan sampai kamu nyesel Rob.” Shani membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Robby.

Setelah itu Shani pun langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Robby langsung pulang menuju apartementnya. Di perjalanan, ia memikirkan apa yang telah ia lihat dan dengar dari Shani. Apa benar Shania selingkuh darinya? Pikirnya.

Sesampainya di apartement, ia pun langsung menuju ruangannya. Setelah membuka pintu apartement, ia masuk ke dalam setelah melepas sepatunya. Berjalan dengan tatapan kosong menuju kamarnya, pikirannya terus melayang pada Shania pemilik hatinya.

Ia menatap nanar pada potret dirinya dengan Shania di figura yang terletak di meja.

“Jadi, ini alasan kenapa sikap kamu yang mulai berubah Shan?” lirih Robby.

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

5 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 21

  1. Cerita ini selalu di tunggu kehadirannya…. tapi ketika ia berada di depan mata ini, kenapa hanya sekejap saja pertemuanku dengan tiap partnya. Jelaskan! *abaikan ftv gabon barusan 😅😂

    Mangstab bang, di nanti kelanjutannya 👍😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s