NJU 18, The Dark Side of Shania

1479776309466

Peringatan 17+:

Cerita ini mengandung adegan kekerasan, penyiksaan, dan tindakan sadis. Bagi yang belum cukup umur, dilarang keras membacanya.

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, karakter, dan tempat hanya kebetulan, dan untuk hiburan semata.

~o0o~

Realizing, everything I love is killing me.

I know I know. We’re taking off together. Even though we always crash and burn. Tonight you and I will fall from the sky. Drag me all the way to hell. Cause I’m never gonna let it go.

Alunan lagu One Ok Rock – Taking Off  mengawali pagi hariku yang sangat menyejukkan. Aku sangat menyukai lagu ini, membuatku semangat menjalani hari, apalagi kalau di dengarnya saat pagi hari. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai lagu rock seperti ini, tapi kalau yang ini aku sangat suka. Bahkan aku menyimpan lagu-lagu One Ok Rock dalam playlist di ponselku. Lirik lagunya yang membuat siapa saja yang mendengarnya tersentuh, beat-nya yang cepat membuat siapa saja menghentakan kaki dan menggoyangkan kepala.

Aku masih berbaring di atas kasurku sambil mendengarkan alunan lagu kesukaanku itu. Ya, ini sudah menjadi ritualku kalau bangun tidur. Bahkan aku harus mendengarkan lagu kesukaanku itu sebanyak satu album, baru deh aku beranjak dari kasurku.

“Shania! Bangun, Nak, sarapan dulu sini!”

Suara seorang wanita dari balik pintu kamarku mengejutkanku saat tengah asik mendengar lagu kesukaanku. Aku sangat mengenal suara itu, suara Mamah sangat keras bahkan bisa mengalahkan suara dari vokalis band kesukaanku.

“Iya, Mah. Shania udah mau turun ke bawah kok.”

“Ya sudah, Mamah tunggu di bawah ya.”

“Oke, Mah.”

Ya, beginilah di pagi hari kalau aku keasikan dengar musik sampai lupa sarapan, ditambah lagi Mamah sampai menyusul ke kamarku. Padahal aku ini sudah besar. Umurku 18 tahun, harusnya aku sudah bisa mengurus diri sendiri. Tapi, memang dasarnya aku saja yang terlalu manja. Hehehe…

Aku beranjak dari kasurku, memakai sandal berbentuk seekor kelinci, kemudian keluar kamar menuju ruang makan di lantai bawah. Mamahku sudah menungguku disana sambil menyiapkan nasi goreng kesukaanku. Aku duduk di kursi seraya mengambil beberapa sendok nasi goreng ke atas piring.

“Mamah buat sarapannya kok banyak banget?” tanyaku seraya memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutku. “Apa Papah pulang hari ini?”

“Tidak, Nak. Papahmu masih sibuk dengan pekerjaannya di luar kota, mungkin besok atau lusa Papah pulang,” jawab Mamah.

Aku mendengus sedikit kesal. Memang sih Papah sering pergi-pergian ke luar kota mengurusi pekerjaannya, tapi sudah setahun lebih Papah tidak pulang ke rumah. Aku sangat merindukannya. Mamah juga pasti sangat merindukan Papah, tapi Mamah selalu bersikap tegar. Aku jadi salut dengannya. Memang ya, wanita terkuat yang ada di dunia ini adalah seorang ibu.

“Papah di luar kota ngapain aja sih, Mah, kok lama banget pulangnya?”

“Papah kamu kan kerja disana, dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.”

“Iya, aku tahu, Mah. Tapi ini sudah setahun lamanya Papah tidak pulang ke rumah, bahkan waktu ulang tahunku yang ke 18 Papah tidak datang. Aku jadi sedikit curiga sama Papah, Mah.”

Mamah mendekat ke arahku, dielusnya rambutku dengan lembut. “Shania, kamu jangan bilang seperti itu. Tidak baik kamu bicara seperti itu.”

“Tapi, Mah….”

“Sudah. Nanti juga Papah kamu pulang. Sekarang habiskan sarapanmu, sebentar lagi kamu harus berangkat kuliah kan.”

“Iya, Mah.”

Aku pun menghabiskan sarapanku. Walau aku masih sedikit kesal karena Papah tidak pulang-pulang, aku mencoba bersabar saja setelah melihat Mamah yang begitu tegar menghadapi cobaan ini.

Sarapanku sudah habis, aku beranjak menuju kamar mandi dan melakukan aktivitas yang menyegarkan badanku yang bau iler ini. Sepuluh menit aku selesai mandi, aku berpakaian rapih, memasukan beberapa buku ke dalam tas selempangku, dan pamit pada Mamah.

“Aku berangkat kuliah dulu ya, Mah.”

“Iya, hati-hati di jalan, Shania.”

“Oke, Mah.” Aku menuju garasi rumah untuk mengambil motor matic kesayanganku. “Oh ya, Nabilah mau sekalian aku antar ke sekolah nggak, Mah?”

“Tidak usah, Nju. Nabilah sekarang masih sakit, biar dia istirahat dulu saja.”

“Oh.. Ya sudah kalau begitu, aku berangkat.”

Akupun beranjak menuju kampusku dengan motor matic kesayanganku.

~o0o~

Disinilah kampus tempatku menuntut ilmu. Sebuah kampus swasta ternama yang ada di ibukota ini. Aku kuliah di fakultas hukum. Kuliahku saat ini berada di semester 1. Menurut kebanyakan orang, kalau di semester 1 itu cukup menyenangkan, karena di masa itu semua mahasiswa baru dapat saling mengenal satu sama lain, apalagi berkenalan dengan kakak kelas yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.

Di masa itu juga tugas-tugas yang diberikan dosen belum terlalu banyak karena masih awal semester. Kata salah satu seniorku di kampus, kuliah itu menyenangkan walau nantinya bakal banyak tugas yang harus dihadapi, tapi semua hal itu harus dihadapi dengan serius tapi santai supaya tidak stress.

Sekarang aku sudah berada di dalam kelas. Kutaruh tas selempangku di atas meja paling depan dan duduk di kursi depan meja itu. Aku sangat suka duduk di barisan paling depan, karena aku bisa dengan mudah mencermati apa yang dijelaskan oleh dosen. Aku tidak sendirian duduk disini, ada temanku yang sudah aku kenal sejak ospek kampus dulu. Tapi temanku belum datang, jadinya aku menunggu saja deh.

Suasana di kelas terlihat sepi, hanya ada aku saja disini. Teman-teman yang lain masih belum datang, mungkin mereka sedang dalam perjalanan kemari. Sambil menunggu mereka datang, aku memainkan smartphone-ku guna menghilangkan kebosanan. Kubuka aplikasi game yang saat ini sedang hits, lalu memainkannya. Tiba-tiba dari arah pintu kelas, seseorang masuk dan duduk disebelahku.

Akhirnya, temanku datang juga. Aku menoleh kearah orang yang baru saja datang. Dan ternyata yang kulihat bukan temanku, melainkan seorang laki-laki yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama saat acara ospek kampus dulu. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Eh… hai… Dimas…”

“Hai, Shania..”

Ya ampun, senyum Dimas itu menyejukkan hati. Aku jadi salah tingkah karenanya. Kenapa dia bisa duduk disebelahku sih, aku kan jadi malu.

“Kok kamu sendirian saja, Shania?” tanya Dimas.

“Iya nih, yang lain belum pada datang, hehe…” jawabku ramah.

“Teman kamu, Beby kemana?” Ya, Beby adalah teman terdekatku sejak ospek kampus.

“Oh, Beby juga belum datang tuh, mungkin sebentar lagi datang.”

“Ohh..”

Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Kami saling terdiam satu sama lain. Aku bingung mau bicara apa lagi dengannya, habisnya dia buat aku salah tingkah seperti ini. Jika diperhatikan baik-baik, wajah Dimas blasteran Indo-Jepang. Ya, ibunya berasal dari tanah Jawa, sementara ayahnya dari Jepang. Kulitnya putih, matanya agak sipit, terus kalau dia lagi senyum kelihatan manis banget. Ganteng banget deh pokoknya.

“Shania, nanti malam kamu ada acara nggak?” tanya Dimas, dan percakapan pun dimulai kembali.

“Hmm… emmm…” Duh, kenapa aku gugup banget sih? Oke, tenangkan dirimu Shania. Tatap mata indah berwarna cokelat itu baik-baik.

“Ng… nggak ada kok. Memang kenapa?”

“Nanti malam kita jalan, yuk.”

“Jalan-jalan kemana?” tanyaku dengan berlagak seperti orang bodoh.

“Ke tempat yang bagus pokoknya, pasti kamu bakal suka sama tempatnya.”

Duh, Dimas, please jangan tatap aku seperti itu. Aku tidak kuat tahu, ingin rasanya aku mencium bibirmu saat ini juga. Oke, pikiranku mulai ngelantur kemana-mana. Sebelum makin parah, let’s back to really life.

“Hmmm… gimana ya? Oke, aku mau, lagian sudah lama juga tidak jalan-jalan, hehehe…”

“Oke, nanti aku jemput kamu di rumah ya.”

“Eh?” Aku sedikit terkejut. Kenapa dia bisa tahu rumah aku, padahal aku belum pernah memberitahukan rumahku padanya? Hmm, mungkin saja dia tahu dari teman-teman sekelasku. Ya sudahlah.

“I.. iya.. jangan sampai telat ya.”

“Oke.” Dimas tersenyum lagi padaku, kemudian pergi keluar kelas.

Ahhhhh…. Akhirnya aku bisa jalan-jalan dengan orang yang aku suka. Nanti malam aku harus berdandan serapih mungkin supaya Dimas semakin jatuh hati padaku. Kira-kira nanti malam aku harus pakai baju apa ya? Dress kah? Gaun kah? Atau pakaian sehari-hari kalau ke kampus, ala-ala tomboy gitu deh? Entahlah, yang penting aku sangat senang sekarang.

“Hei, kau kelihatan senang sekali.”

Aku terperenjat dengan suara yang tiba-tiba saja muncul. Aku menoleh ke arah sumber suara.

“Ah, Beby ngagetin saja deh..” Ya, suara tersebut berasal dari temanku, Beby. Dia sekarang sedang duduk di sebelahku. Tunggu, sejak kapan dia sudah berada disini?

“Kamu kelihatan senang sekali, memang ada apa sih?” tanya Beby penasaran.

Seketika aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Beby memandangku dengan tatapan heran, mungkin dalam pikirannya aku ini seorang wanita yang telat minum obat terus menjadi gila.

“Nanti malam aku mau jalan-jalan sama Dimas, loh.. Duh, senangnya..”

“Hah?!” Beby tersentak mendengar yang barusan aku katakan. Loh kenapa?

“Kamu serius mau jalan-jalan sama dia?” tanya Beby lagi. Aku menganggukan kepalaku dengan semangat.

“Lebih baik kamu jauhin Dimas, daripada kamu kenapa-napa. Aku tidak suka dengannya,” tambahnya, kemudian pergi meninggalkanku sendirian di dalam kelas.

Beby kenapa sih? Kok dia nggak suka banget aku jalan sama Dimas? Heran deh aku jadinya. Apa jangan-jangan Beby suka Dimas juga? Ah, tidak mungkin. Beby kan temanku, tidak mungkin dia melakukan itu. Ah, daripada berpikiran yang tidak-tidak lebih baik aku ke kantin membeli sarapan.

~o0o~

Matahari semakin membumbung tinggi di atas langit. Cuaca panas menusuk ke setiap kulitku. Walau kuhidupkan AC di dalam kamarku, tapi panasnya masih terasa menyengat. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur setelah penat menyusuri jalan ibukota setelah selesai dengan kelasku di kampus.

Kutatap jam weker berbentuk kelinci pemberian adikku diatas meja belajar. Jam 1 siang, pantas saja panas begini. Kalau panas-panas begini, lebih enak minum segelas air dingin. Aku beranjak dari kasurku dan melangkah menuju dapur. Kubuka pintu kulkas dan kuambil sebotol air dingin, kemudian aku langsung meminumnya dari botol.

Shania jorok ya? Maafkan aku atas kejorokanku, sudah kebiasaan kalau sedang di rumah soalnya, hehehe.

Tenggorokanku sudah segar, panas yang menyengat tubuhku juga berangsur berkurang. Kutaruh kembali botol air dingin ke dalam kulkas. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tengah. Sepertinya nonton tv akan terasa sedikit meyenangkan. Kulihat di ruang tengah ada Nabilah sedang menonton tv. Aku pun duduk di sebelahnya.

“Kamu lagi nonton apa, Dek?” tanyaku.

“Lagi nonton acara musik, Kak,” jawab Nabilah, matanya masih menatap ke tv di depannya. “Aku suka banget acara ini, Kak. Lagunya bagus-bagus, Kak.”

“Hmm gitu ya. Aku juga suka acara ini, Dek.”

“Hahaha..”

Ya, inilah dia adik kesayanganku. Nabilah Ratna Ayu namanya, tapi panggil saja Nabilah. Adikku ini sangat suka sekali dengan acara musik kesukaannya di tv, katanya sih lagu-lagunya bagus. Memang sih lagu-lagunya bagus, tapi musik yang didengarkan Nabilah itu terlalu keras buatku. Bayangkan saja adikku yang lucu ini menyukai musik-musik cadas seperti yang saat ini dia dengarkan. Bahkan Nabilah ingin sekali berduet dengan salah satu band cadas tersebut. Duh, Nabilah, kamu ada-ada saja deh.

“Dek, gimana kondisi kamu, udah mendingan?” tanyaku sambil menempelkan lenganku pada kening Nabilah.

“Udah agak mendingan sih, Kak,” jawab Nabilah.

“Aku ambilin minum ya, biar segeran dikit.” Aku pun beranjak dari kursi sofa yang kududuki. Namun, tiba-tiba Nabilah memegang tanganku, aku pun kembali duduk di sofa.

“Biar aku saja yang ambil minumnya, Kak. Kakak tunggu disini saja.”

Nabilah mengambil sebuah tongkat besi panjang di samping tubuhnya. Dia bangkit dari sofa dan berjalan sambil mengetuk-ketuk tongkatnya ke lantai. Matanya masih tertuju ke arah depan. Tatapan matanya kosong. Nabilah mulai berjalan meninggalkan ruang tengah. Dia berhenti sejenak karena tongkat yang dipegangnya menyentuh sebuah meja kecil yang ada di ruang tengah. Nabilah menggeser posisi berdirinya, kemudian dia mulai berjalan lagi.

GEDUBRAK!

Tiba-tiba saja Nabilah terjatuh. Aku yang terkejut langsung menolongnya.

“Tuh kan, aku kan udah bilang biar aku saja yang ambil air ke dapur.” Aku mengangkat tubuh adikku hingga dia berdiri kembali.

“Maaf, Kak, aku cuma pingin nyoba ambil air sendiri,” ucap Nabilah.

“Sudah, biar aku saja yang ambil airnya. Kamu tunggu disini saja.”

“Iya deh, Kak.”

Aku pun beranjak ke dapur dan mengambil segelas air minum untuk Nabilah. Aku menghampirinya kembali sambil menyerahkan gelas berisi air minum padanya, dan dia meminumnya. Setelah itu aku menuntun Nabilah menuju kamarnya.

*****

Matahari telah selesai melakukan tugasnya, kini sang mentari pun turun dari langit untuk meng-istirahatkan dirinya. Bulan secara perlahan mulai naik ke atas langit menggantikan posisi matahari. Cahaya bulan tersebut mulai menyinari kegelapan di permukaan bumi.

Aku sekarang sedang memilih-milih baju di lemari pakaian kamarku. Aku memilah-milah baju mana yang cocok untuk aku pakai, karena malam ini aku akan jalan-jalan dengan Dimas. Duh, senangnya. Aku mencoba satu-persatu baju yang ada di lemari. Banyak baju yang tidak cocok, sampai akhirnya aku menemukan baju yang pas untukku.

Sebuah dress berwarna pink dengan sedikit motif bunga berwarna putih, terlihat sangat cocok denganku. Kemudian, aku menuju meja rias yang ada di depan kasurku. Aku harus berdandan lebih cantik, agar Dimas bisa semakin jatuh hati kepadaku. Setengah jam berdandan cantik, aku pun keluar kamar dan berjalan keluar rumah karena Dimas akan menjemputku kesini.

“Kamu mau kemana, Nju?” tanya Mamah yang sedang menonton tv bersama Nabilah.

“Mau jalan-jalan sama temen, Mah,” jawabku.

“Pulangnya jangan sampai larut malam ya.”

“Oke, Mah.”

Aku pun mulai berjalan lagi meninggalkan ruang tengah dan keluar rumah. Tak berapa lama, datang sebuah mobil ke depan rumahku. Seorang pria turun dari dalam mobil. Ah, itu dia pria yang aku tunggu-tunggu. Dimas.

Dimas terlihat sangat tampan. Dia memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru, celana jeans panjang yang terlihat keren, ditambah lagi rambutnya yang klimis menggunakan pomade menambah tingkat ketampanannya. Ah…. Suki! Suki! Daisuki!

“Shania, maaf membuatmu menunggu,” kata Dimas ramah.

“Tidak kok, kamu tepat waktu malahan, hehehe..”

“Ya sudah, ayo kita jalan sekarang.” Dimas membukakan pintu mobil sebelah kiri dan mempersilahkan masuk. Dan kami pun mulai pergi meninggalkan rumahku. Aku harap jalan-jalan kali ini bisa buatku berkesan.

Sepanjang jalan aku banyak mengobrol dengan Dimas. Berbagai topik kami bahas, mulai dari tentang kuliah kami, sampai ke hal-hal yang tidak penting. Dimas orangnya enak banget diajak ngobrol, kadang dalam perbicangannya selalu dibumbui candaan agar suasana tidak terlalu kaku, malah suasana menjadi lebih menyenangkan.

Mobil terus melaju menyusuri jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai. Mobil yang dikendarai Dimas mulai masuk ke sebuah jalan kecil setelah melewati lampu merah. Dimas terus melajukan mobilnya menyusuri jalan kecil tersebut sampai mobilnya sampai di sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi. Dimas memberhentikan mobilnya di depan gedung itu.

Gedung itu terlihat ramai sekali. Banyak orang yang lalu-lalang masuk ke dalam gedung itu. Di atas pintu masuk gedung tersebut terpampang sebuah tulisan “Lust Club” yang dibentuk dari berbagai lampu warna-warni. Selain itu orang-orang yang datang ke tempat ini banyak memakai baju yang terbuka, terutama wanita. Belum lagi banyak pria yang merangkul wanitanya masuk ke tempat ini, bahkan ada yang berciuman secara terang-terangan.

“Shania, yuk kita masuk ke dalam sana,” ajak Dimas sambil membuka pintu mobil.

Aku pun turun dari mobil dan menyusul Dimas yang sudah mulai masuk ke dalam gedung itu. Aku masih bingung kenapa dia mengajakku kesini, padahal dia sudah janji ingin mengajakku jalan-jalan ke tempat yang bagus. Apa jangan-jangan tempat bagus yang dimaksud Dimas itu adalah tempat ini? Duh, perasaanku jadi tidak enak.

Di dalam sini sangat ramai. Orang-orang tampak sedang menari-nari dengan gerakan yang tidak jelas mengikuti alunan irama musik dari seorang dj. Di setiap kursi sofa di dalam sini, terlihat seorang pria yang sedang dikerubungi oleh banyak wanita, sesekali pria itu mencumbui setiap wanita di dekatnya. Aku sampai bergidik melihatnya.

Aku terus mengikuti Dimas yang sekarang sudah masuk ke dalam sebuah lorong. Namun, tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita yang hanya memakai tanktop dan celana pendek.

“Hei, perhatikan jalanmu,” umpat wanita itu.

“Maaf.” Aku melanjutkan langkah kakiku mengikuti Dimas dan menjauhi wanita itu. Duh, sebenarnya tempat apa ini?

Kini aku sudah berada disamping Dimas. Di depan kami ada sebuah pintu dengan gambar berbentuk hati di depannya. Dimas membuka pintu itu, kemudian dia menggandeng tanganku dan masuk ke dalam sana. Aku sedikit terkejut saat Dimas menggandeng tanganku. Apa dia sudah mengerti tentang perasaanku?

Dimas mengajak aku untuk duduk disebuah sofa di dalam ruangan ini. Kemudian dari arah pintu, masuk seorang wanita yang berpakaian sangat sexy, di tubuhnya berbalut bikini saja. Wanita itu berjalan menghampiri kami.

“Mau pesan paket hemat atau paket extra deluxe?” tawar wanita itu.

“Paket hemat saja,” jawab Dimas.

“Oke.Tunggu sebentar ya.” Wanita itu mulai meninggalkan ruangan ini.

Aku semakin bingung dengan tempat ini. Jujur saja, aku belum pernah ke tempat seperti ini, tahu tentang tempat ini pun belum pernah. Terus maksud paket hemat atau paket extra deluxe itu apa? Lalu, kenapa Dimas membawaku ke tempat ini? Itu yang masih terlintas di pikiranku.

“Dim, sebenarnya tempat apa ini? Kenapa kamu bawa aku kesini?” Aku mencoba bertanya ke Dimas.

“Ini tempat yang menyenangkan, Shania. Kamu nanti pasti suka dengan tempat ini,” jawab Dimas sambil mencolek lembut daguku.

“Tempat menyenangkan? Seperti ini?”

Dimas menganggukan kepalanya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Kenapa dia bisa menyebut tempat ini tempat menyenangkan. Aku jadi curiga padanya.

Tak lama kemudian, wanita yang tadi datang ke ruangan ini datang lagi sambil membawa sebuah nampan berisi botol minuman, dua gelas kosong, dan beberapa snack. Botol minuman itu terlihat aneh. Warna cairan di dalam botol itu berwarna kuning.

Wanita itu menaruh botol minuman, gelas kosong, dan snack itu di atas meja depan sofa yang kami duduki. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan ini. Dimas membuka botol minuman itu, menuangkan isinya ke dalam dua gelas di depannya. Dia mengambil kedua gelas tersebut. Salah satu gelasnya dia berikan padaku.

“Kok baunya agak aneh ya?” tanyaku saat mencoba mencium aroma minuman itu. Aromanya sangat menyengat hidung, sepertinya minuman itu mengandung banyak alkohol.

“Kamu coba dulu, Nju. Itu enak kok,” kata Dimas. Aku pun mencoba meminum sedikit minuman itu.

Cuih… Hoek…

Rasanya sangat aneh. Rasanya begitu menyengat hingga ke tenggorokanku. Rasa minuman itu membuatku mual dan muntah. Sementara Dimas hanya tertawa melihatku yang muntah, dia tampak biasa-biasa saja meminum minuman itu, malah dia menuangkan lagi botol minuman itu ke dalam gelasnya.

“Aku tidak mau minum minuman itu lagi. Aku mau pulang saja.” Aku bangkit dari sofa dan beranjak meninggalkan ruangan ini. Aku sudah tidak nyaman dengan tempat ini.

Tiba-tiba Dimas mencengkram lenganku dengan erat. Aku mencoba melawannya, tapi cengkramannya sangat kuat. Dia menarikku kembali ke sofa.

“Kamu mau kemana, Shania?”

“Aku mau pulang, aku nggak nyaman sama tempat ini.”

“Jangan pulang dulu dong, kita kan belum senang-senang.”

What? Senang-senang? Ini yang disebut senang-senang? Senang-senang apanya?!

Tiba-tiba saja Dimas merangkul bahuku, dan mendekatkan badannya ke badanku. Perasaanku jadi tidak enak. Apa yang mau dia perbuat padaku?

“Kamu mau ngapain?” Aku mencoba untuk sedikit menjauh dari tubuhnya, tapi Dimas malah semakin erat merangkul bahuku.

“Kita senang-senang dulu sebelum kamu pulang, Nju.”

Dimas mendekatakan wajahnya ke wajahku. Rambut panjangku yang wangi itu mulai diciumnya. Ciuman Dimas mulai turun ke area telingaku. Aku sedikit merasa geli.

Aku tidak mau dia melakukan hal yang lebih jauh lagi. Aku pun mendorong Dimas secara kasar sampai dia terhempas ke sisi lain kursi sofa. Aku beranjak dari sofa dan segera meninggalkannya. Tapi lagi-lagi Dimas menarik tanganku kembali ke sofa. Tarikannya kali ini cukup kasar.

“Aku tidak mau kamu pergi sebelum kita senang-senang,” ucap Dimas.

“A…aku tidak mau, Dim… Aku mau pulang…”

PLAK!!

Tiba-tiba Dimas menampar pipiku dengan keras. Pipiku terasa sangat sakit. Aku mencoba bangkit berdiri lagi, namun lagi-lagi Dimas menarik tanganku. Kali ini dia menarik tubuhku sampai dia mendekap tubuhku.

“Kamu jahat, Dimas!” Aku membentaknya, kemudian menamparnya.

“Hahahaha…” Dia tertawa sedikit keras. “Aku memang jahat, Shania. Tujuanku mengajakmu jalan-jalan hanyalah untuk menikmati tubuhmu saja. Tubuhmu sangat indah.”

Apa?! Jadi selama ini dia hanya menginginkan tubuhku saja?! Jahat! Sungguh jahat! Dan bodohnya aku, kenapa aku tidak langsung menyadari itu semua.

Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan Dimas. Tapi tenaganya begitu kuat, aku jadi tidak bisa melawannya. Kemudian, Dimas menampar pipiku lagi sebanyak tiga kali, lalu mendorongku sampai tubuhku terhempas di atas sofa. Dia menamparku lagi sekaligus memukul-mukul tubuhku dengan tangannya. Aku berteriak kesakitan. Aku sudah pasrah.

Dia menarik dress yang kukenakan sampai sobek, lalu melemparnya ke sembarang tempat. Di badanku kali ini hanya berbalut bra dan celana dalam berwarna putih. Dimas langsung menindih tubuhku. Ditamparnya pipiku berkali-kali. Aku berteriak kesakitan, dan berusaha untuk melawan. Tapi tenaga Dimas begitu kuat.

“Tolong!!!” Aku berteriak, berusaha meminta pertolongan. Tapi percuma, ruangan ini tertutup rapat, dan tidak mungkin orang di luar ruangan ini bisa mendengar teriakanku.

“Jangan macam-macam denganku, Nju!!”

Dimas kembali memukulku dengan keras. Aku meronta-ronta berusaha melawan Dimas. Dia terus memukulku berkali-kali, sampai-sampai darah keluar dari hidung dan mulutku.

Kemudian, dia mengambil botol minuman yang tadi diminumnya dan langsung melayangkannya ke kepalaku. Botol itu pecah. Pandanganku memudar, kepalaku terasa pusing, setelah itu semua yang ku lihat menjadi gelap.

*******

Aku terbangun dari pingsanku. Badanku terasa sakit semua jika digerakan, dan kepalaku juga terasa sakit. Sebenarnya semalam aku sudah melakukan apa dengan Dimas. Aku tidak dapat mengingatnya lebih banyak. Yang aku ingat, Dimas mengajakku ke sebuah tempat, kemudian di tempat itu dia melakukan sesuatu terhadapku. Setelahnya aku tidak ingat lagi.

Aku bangkit berdiri mencoba meregangkan sendi-sendi otot yang terasa sakit. Aku menatap ke sekelilingku. Loh kok aku ada di depan rumahku, mana hawa disini sangat dingin lagi karena saat ini sudah larut malam. Aku memeluk tubuhku sendiri mencoba menghangatkan badan. Tapi kok aku tidak merasakan pakaianku sendiri? Aku pun melihat seluruh tubuhku.

“Astaga!!”

Aku dalam keadaan telanjang bulat. Kenapa aku bisa telanjang seperti ini? Pakaianku tidak ada di sekitarku. Kemana semua pakaianku?

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Seorang gadis dengan tongkat besi di tangannya mulai keluar. Dia berjalan keluar sampai-sampai tongkat besi yang dia pegang itu menyentuh kakiku. Dia berhenti sejenak.

“Siapa disana?” tanya gadis itu.

“Dek…” panggilku.

“Kak Nju baru pulang?”

“Iya, Dek.”

Nabilah langsung memeluk tubuhku yang polos tanpa sehelai benangpun. “Kakak kok lama banget sih pulangnya? Terus kok kakak nggak pake baju?”

Nabilah tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Walau dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan kalau aku tidak mengenakan pakaian apapun hanya dengan menyentuhnya saja. Aku sekarang jadi bingung mau menjelaskan ke Nabilah seperti apa. Tidak mungkin juga kan kalau aku cerita yang sebenarnya.

“Maaf, Dek. Ceritanya panjang, aku nggak bisa cerita sekarang.”

“Hmm, ya sudah deh kalau gitu. Ayo kita masuk ke dalam, di luar dingin.”

Aku dan Nabilah langsung masuk ke dalam rumah.

Keesokan paginya, aku sudah terbangun dari tidurku dan sedang sarapan bersama Mamah dan Nabilah. Sampai saat ini aku masih belum berani cerita soal semalam ke Nabilah, apalagi ke Mamah. Aku takut mereka sedih jika tahu apa yang telah aku alami semalam.

“Shania, tadi malam kamu pulang sampe larut malam ya?” tanya Mamah tiba-tiba kepadaku.

Aku jadi gelagapan sendiri mendengarnya. Duh, aku harus bilang apa ke Mamah?

“Em….em… anu, Mah. Aku…”

“Kak Nju tadi malam waktu mau pulang pergi dulu ke rumah temennya, Mah. Katanya ada tugas kuliah yang mendadak harus diselesaikan,” kata Nabilah.

Terima kasih Nabilah. Kau penyelamatku..

“Hmm, begitu ya. Lain kali kalau mendadak seperti itu bilang dulu ke Mamah ya, biar Mamah nggak khawatir,” ucap Mamah.

“Oke, Mah.”

“Oh ya, nanti malam Papah pulang ke rumah lho, nanti kamu pulangnya jangan sampai larut malam ya, Nju.”

“Iya, Mah. Kalau gitu aku berangkat kuliah dulu.” Aku pun pergi meninggalkan ruang makan dan menuju ke kampusku.

Aku senang, akhirnya Papah bisa pulang ke rumah malam ini. Sudah setahun lebih Papah tidak pulang, dan akhirnya beliau pulang juga. Aku jadi tidak sabar bertemu dengannya, aku sangat merindukannya.

~o0o~

Jam sudah menunjukan pukul 19.00. Aku sudah berada di perjalanan menuju rumah. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Papah, makanya aku melajukan motorku dengan cepat. Pasti Papah bawa banyak oleh-oleh untuk kami semua, secara Papahku itu kerjanya sering keluar kota.

Tak terasa aku pun sudah sampai di rumah. Kuparkirkan motorku di garasi, kemudian aku melangkah masuk menuju rumah bersiap untuk bertemu Papah.

“Papah!!” Teriakanku menjalar ke seluruh penjuru ruangan dalam rumah.

Loh kok sepi banget? Pada kemana semua orang? Bukankah sekarang hari yang spesial, menyambut kedatangan Papah kembali ke rumah?

“Mamah! Papah! Nabilah!”

Aku mencoba mencari ke seluruh ruangan. Kulihat setiap ruangan di dalam rumah tidak kutemukan siapapun disana, bahkan di kamar Mamah dan juga Nabilah tidak ada siapa-siapa. Yang tersisa tinggal kamarku di lantai atas yang belum kuperiksa.

Kulangkahkan kakiku menuju kamarku di lantai atas. Kubuka perlahan pintu kamarku, dan aku melihat ada beberapa orang disana. Aku melihat disana ada Mamah dan Nabilah sedang duduk di kursi, mereka dalam keadaan terikat di kursi tersebut.

Hah?! Mereka terikat di kursi, kok bisa?

Aku mulai masuk lebih dalam ke dalam kamarku. Kulihat di depan Mamah dan Nabilah ada seorang pria memakai kemeja kantoran, wajahnya agak tua, dan disekitar lengan bawah kemejanya terdapat bercak-bercak darah. Orang itu menoleh ke arahku karena aku sudah masuk ke dalam kamarku.

“Hei Shania, anakku yang paling kusayang.”

Ya, orang itu adalah papahku. Papahku ternyata sudah pulang, tapi aku kaget melihat apa yang dilakukan Papah terhadap Mamah dan Nabilah. Kenapa Papah mengikat mereka berdua, ditambah lagi di pelipis Mamah dan di lengan Nabilah terdapat luka goresan?

“Papah? Apa yang Papah lakuin ke Mamah sama Nabilah?” tanyaku ke Papah.

“Sini, Nju. Kita main bersama Mamah dan Nabilah,” ucap Papah seraya mengambil sebuah pisau di atas meja.

“Ma…main? Nggak, Pah…nggak… Kenapa Papah nyakitin mereka berdua?”

“Papah nggak menyakiti mereka, sayang. Papah cuma mau ngajak main.”

Papah berjalan mendekati Mamah yang masih duduk terikat di kursi. Pisau ditangannya diarahkan ke leher Mamah.

“Jangan, Pah… jangan nyakitin Mamah…”

Aku mencoba berusaha untuk menghentikan Papah, tapi Papah semakin menekan pisau di leher Mamah. Aku tidak mau Mamah sampai terbunuh oleh Papahku sendiri. Aku pun berlari ke arah Papah dan berusaha memukulnya. Namun, Papah langsung memukul wajahku dengan keras sampai aku terjatuh ke lantai.

“Nju sayang, sekarang kamu lihat bagaimana cara Papah bermain,” kata Papah sambil menusuk leher Mamah. Cairan merah kental mulai keluar dari lehernya. Mamah sedikit memberontak tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Jangan, Pah….. Hentikan! Jangan sakitin Mamah…”

“Hahahaha…. Papah sudah tidak membutuhkan mereka berdua lagi, Nju.”

“Ke…kenapa?”

“Karena Papah sudah mendapatkan pengganti Mamah.”

Kenapa Papah tega melakukan itu semua pada kami? Papah ternyata benar-benar jahat!

Aku melihat kondisi Mamah yang sudah semakin parah. Darah terus mengalir deras dari lehernya, wajahnya sangat pucat, dan kondisinya sudah semakin lemah. Aku berusaha mendekati Mamah, namun lagi-lagi dengan cepat Papah menendang perutku. Darah mulai keluar dari dalam mulutku.

“Diam disitu, anak tidak berguna!” bentak Papah.

Papah mengarahkan kembali pisaunya pada Mamah. Kali ini pisaunya tepat diarahkan ke jantungnya. Kemudian pisau itu langsung ditancapkan ke jantung Mamah. Mamah membelalakan matanya, seketika Mamah berhenti bergerak. Sementara Nabilah yang berada disebelahnya hanya bisa menangis.

“Nah, sekarang mamah kalian sudah tidak ada. Tapi tenang saja, kalian tidak perlu bersedih karena Papah sudah dapat pengganti Mamah,”kata Papah dengan semangat.

“Ma…mamah…” Aku tak kuasa menahan tangis melihat Mamah dibunuh oleh papahku sendiri. aku tidak terima mamah terbunuh olehnya. Papah jahat! Aku benci dia!

“Papah jahat!” bentakku sambil berlari ke arahnya.

Aku memukul wajahnya dengan keras. Papah membalas pukulanku dengan satu tendangan di perut. Tendangannya cukup kuat sampai aku terjatuh. Aku tak gentar, aku bangkit dan langsung mendorong tubuh Papah sampai mepet ke tembok. Kemudian kutendang bagian selangkangannya dengan keras. Papah meringis kesakitan dan langsung duduk menyandar di tembok.

“Papah jahat! Kenapa Papah melakukan ini semua?!” ucapku yang sudah tersulut amarah.

“Hehehe..” Papah hanya tertawa kecil merespon ucapanku. Benar-benar menyebalkan.

Aku menendang wajahnya sedikit keras. Kemudian kuambil pisau yang berada di tangannya, lalu kutancapkan pisau itu ke kepalanya. Kutancapkan lagi pisau itu berkali-kali ke kepalanya sampai bagian atas kepalanya hancur. Darah terciprat dari kepalanya mengotori lengan sampai ke wajahku. Kini Papah sudah dipastikan sudah tewas.

Apa yang telah kulakukan? Aku sudah membunuh papahku dengan tanganku sendiri. Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini, tapi Papah sudah membuatku sakit hati dengan kelakuannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kini kedua orang yang kusayangi sudah tidak ada, dan yang tersisa saat ini hanyalah adikku, Nabilah.

Aku sedikit menjauh dari tubuh Papah yang sudah tidak bernyawa. Kemudian aku menghampiri Nabilah yang masih duduk terikat di kursi. Kubuka ikatan yang menjerat tangan dan kakinya, lalu memeluknya perlahan.

“Kakak… apa yang terjadi sama papah dan mamah?” tanya Nabilah terisak.

“Ma…maafin kakak, dek. Maafin kakak…” Aku memeluk erat tubuh adikku. Tangisku juga mulai pecah. Aku tidak tahu harus menjelaskan ini semua seperti apa pada Nabilah. Adikku ini berhati lembut, jika dia tahu apa yang telah terjadi pada orang tua kami, dia pasti sangat sedih sekali.

“Maafin kakak, dek…”

~o0o~

Setelah kejadian itu, aku ditangkap polisi atas tuduhan menghilangkan nyawa papahku. Aku dimasukan ke penjara, dan meninggalkan Nabilah sebatang kara. Aku kasihan padanya, Nabilah masih terlalu muda untuk menjalani hidup sendirian. Oleh sebab itu, sebelum aku masuk penjara, aku membawanya ke sebuah panti asuhan supaya ada yang menemaninya. Aku berharap dia tumbuh berkembang, dan semangat mengejar cita-citanya.

Hidupku di penjara sungguh memilukan. Aku di introgasi selama berjam-jam. Jika aku tidak bisa menjawab sema pertanyaan polisi, maka aku akan mendapatkan siksaan. Belum lagi di dalam kamar tahananku, banyak dari polisi disini yang suka menyiksaku. Ditambah lagi, jatah makan untuk semua tahanan disini hanya satu kali sehari. Sungguh kejam polisi-polisi sekarang.

Aku tidak suka tempat ini. Aku ingin segera keluar dari sini, tapi bagaimana caranya? Berbagai macam cara aku lakukan, tapi tetap aku tidak bisa keluar dari sini. Aku sudah menyerah. Sampai akhirnya ada seseorang yang datang ke tempat ini.

Orang itu berjalan mengitari ruang tahanan lapas ini sambil menenteng sebuah tas ransel. Orang itu memakai jaket abu-abu dan tudung jaketnya menutupi kepalanya, serta celana jeans yang dia kenakan terlihat kusam. Orang itu berhenti tepat di depan kamarku.

“Hei,” sapa orang itu.

Aku menengadahkan kepalaku, dan kulihat wajah orang itu yang ternyata seorang pria. Dia tersenyum padaku.

“Ka..kamu siapa?” tanyaku padanya.

“Aku yang akan membebaskanmu,” jawab orang itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kapak yang sudah berlumuran darah. “Kau mau bebas kan?”

“I…iya..”

Dia tersenyum. Kemudian dia melayangkan dengan cepat kapak itu ke gembok pintu kamar tahananku. Gembok itupun terlepas dari pintu. Dia membuka pintu dan langsung menarikku keluar kamar.

“Kita mau kemana?” tanyaku yang kebingungan.

“Ke tempat dimana kamu akan menjadi lebih kuat lagi,” jawabnya sambil terus menarikku keluar dari lapas.

Aku masih tidak mengerti dengan ucapannya, tapi aku sedikit senang karena akhirnya aku bisa bebas dari tempat laknat ini. Sepanjang jalan aku tidak melihat polisi yang menghadangi jalan kami, aku jadi heran.

“Semua polisi disini sudah aku bunuh untuk mempermudah penyelamatanmu,” ucap orang itu tiba-tiba yang seolah mengerti dengan kebingunganku. Pantas saja dari tadi aku tidak melihat polisi yang menghadang kami.

Dia terus membawaku pergi dari lapas. Sampai akhirnya kami sudah sampai di sebuah rumah berukuran besar. Rumahnya terlihat mewah, dan letaknya di jantung ibukota. Dia membawaku masuk ke dalam rumah itu. Kemudian aku bertemu dengan dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan. Yang laki-laki bertubuh tegap, memakai kemeja putih dipadukan dengan celana panjang hitam dan jas hitam. Sementara yang perempuan bertubuh mungil, berambut panjang, dan terlihat cantik.

“Selamat datang di markas para psikopat. Tempat dimana kau akan menjadi lebih kuat lagi,” sapa laki-laki berjas itu padaku.

“Perkenalkan aku pimpinan disini, panggil saja aku TOBI 26,”sambung laki-laki itu.

“Panggil saja aku MEL 24, dan orang yang sedang bersamamu adalah AR 22.” Giliran perempuan di sebelahnya yang berbicara.

Aku menoleh ke arah laki-laki di sebelahku. Dia tersenyum sambil cengengesan melihat padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia membawaku kesini.

“Hehehe. Kau tak perlu takut, kami akan membantumu menjadi lebih kuat lagi,” ucap laki-laki bernama AR 22 itu.

“Aku masih tidak mengerti,” kataku dengan tampang seperti orang bodoh.

“AR 22 dan MEL 24 akan membimbingmu nanti. Bersiaplah,” giliran TOBI 26 yang angkat bicara. Kemudian dia meninggalkan kami di ruang tengah.

“Baiklah, pertama-tama kita keliling tempat ini agar kau paham dengan tempat ini. Ar akan menemanimu berjalan-jalan di sekitar sini, sementara aku akan menyiapkan kamar dan lainnya untukmu,” ucap Mel yang kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan di ruang tengah ini.

Ar membawaku berkeliling di tempat yang lumayan besar ini. Aku sekarang jadi tahu semua seluk-beluk tempat ini, mulai dari kamar tidur, ruang latihan, ruang penyiksaan, bahkan sampai ruang penjagalan. Ya, penjagalan, lebih tepatnya ruangan penjagalan manusia.

Selama 3 bulan aku dilatih berbagai macam hal untuk menjadi seorang pembunuh. Mentorku saat itu adalah Ar dan dibantu oleh Mel. Mereka sangat keras melatihku, bahkan tidak segan mereka menghukumku jika melakukan kesalahan. Untungnya, aku bisa dengan cepat belajar, jadi aku tidak begitu banyak mendapat hukuman. Sampai akhirnya, aku tiba di ujian terakhir. Aku diharuskan untuk mendapatkan satu korban, kemudian membunuhnya dengan tanganku sendiri.

“Jadi siapa yang akan kamu bunuh, Shania?” tanya Ar yang sedang duduk di sofa sambil menyeruput secangkir kopi.

“Hmmm….” Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku belum pernah menentukan siapa orang yang akan aku bunuh, memikirkannya pun aku tidak mau. Aku memang pernah membunuh papahku, tapi itu karena aku terpaksa.

“Aku bingung…”

“Kalau begitu siapa orang yang paling kau benci?”

“Papahku, tapi dia sudah mati di tanganku.”

Aku berpikir kembali. Seketika aku teringat seseorang yang dulu mengajakku ke tempat yang indah, tapi ternyata tempat itu adalah tempat busuk para pencari kenikmatan duniawi. Bahkan orang itu membuatku tidak sadar, mungkin juga dia berhasil menyetubuhiku. Sejak itulah aku jadi benci padanya.

“Dimas,” ucapku menyeringai. “Laki-laki yang sangat aku benci selain papahku.”

Ar tersenyum ke arahku, senyumnya begitu menyeramkan. “Kalau begitu bunuh dia.”

“Ta..tapi bagaimana caranya?”

“Aku akan menemanimu bertemu dengannya, tapi untuk membunuhnya kau harus melakukan sendiri.”

“Ba..baiklah.”

~o0o~

Singkat cerita, aku dan Ar sudah berada di sebuah apartemen milik Dimas. Apartemennya sangat besar, ada sekitar 25 lantai di apartemen ini. Aku diberitahukan alamat apartemennya oleh Beby, karena selama aku di penjara dialah yang selalu mengawasi gerak-gerik Dimas. Ar menghentikan mobilnya tepat di basement apartemen ini.

“Aku akan menunggumu disini,” ucap Ar padaku yang sudah turun dari mobilnya dengan menggendong sebuah ransel di punggungku.

“Baiklah. Kau jangan kemana-mana ya,” kataku. Dia menjawab dengan anggukan kepala.

Aku melangkahkan kakiku menuju lift apartemen yang berada di pojokan basement. Aku masuk ke dalam lift itu. Menurut info yang Beby dapatkan, kamar Dimas berada di lantai 18. Aku pun menekan tombol bertuliskan angka 18, dan lift pun mulai naik. Selama berada di dalam lift, rasa gugup menggelayutiku. Aku baru pertama kali melakukan pembunuhan dengan kemauanku sendiri tanpa adanya paksaan. Aku benar-benar gugup.

Lift pun berhenti di lantai 18. Aku keluar dari dalam lift dan kutemui sebuah lorong yang bagian kanan dan kirinya berjejer pintu kamar. Aku menelisik setiap pintu kamar berusaha untuk menemukan pintu kamar Dimas. Kata Beby, Dimas berada di kamar nomor 148. Aku pun berjalan menyusuri lorong itu, dan bingo! Aku menemukan kamar Dimas. Oke, saatnya melakukan aksiku.

Aku mengetuk pintu kamarnya 3 kali, mencoba memastikan apakah Dimas ada di rumahnya atau tidak. Tak berapa lama, kudengar suara kunci pintu yang bergeser, kemudian pintu pun terbuka. Kini sosok Dimas sudah ada di hadapanku. Wajahnya terlihat kaget ketika melihatku.

“Sha…Shania?”

“Kaget ya?” Aku tersenyum kepadanya.

“Bu..bukankah kamu masuk penjara?”

“Ya, tadinya aku masuk penjara, tapi sekarang aku sudah bebas.”

Aku mengambil sesuatu dari dalam tas ranselku. Kapak yang sangat tajam sudah berada di tanganku.

“Ka…kamu mau melakukan apa?” Dimas sedikit mundur perlahan menjauhiku, namun aku juga maju perlahan ke arahnya.

“Aku benci kamu, Dimas!”

Aku melayangkan kapak yang kupegang ke arah bahu kanan Dimas. Kapak itu berhasil menancap di bahu kanannya. Dia jatuh tersungkur sambil memegang bahu kanannya yang masih tertancap kapak. Darah segar mengalir sangat deras, dia berteriak kesakitan.

“ARRRGGGGHHHH!!!”

Hahahahaha….. Teriakannya membuatku sangat senang. Entah kenapa aku bisa sesenang ini melihat dia berteriak kesakitan, apalagi darahnya sangat banyak keluar. Aku pun mengambil kapak yang masih menancap di bahunya.

“Ayo teriak lagi… dasar lelaki hidung belang!!” Aku menancapkan lagi kapakku ke bahunya.

“ARRGGGHHH… Cukup… Hentikan…!!!”

“Hahahaha… Nggak mau…”

Aku menyeret Dimas ke atas kasurnya. Kemudian aku duduk di atasnya sambil mencabut kapak yang masih menancap di bahunya.

“Shania… maafin aku…” ucap Dimas. Suaranya terdengar lirih.

“Huh… nggak mau… kamu jahat!”

“Ja…jangan!!”

Aku menghunuskan kapakku yang tajam itu ke dada Dimas. Kemudian aku cabut kembali, lalu kutancapkan lagi seperti sedang memotong sebuah kayu besar. Aku terus menghunuskan kapak itu sampai dada Dimas remuk. Darah mulai berceceran di sekujur tubuhnya, mengotori tubuhnya dan tanganku. Aku bisa melihat bagian organ jantung dan paru-parunya. Kuambil jantungnya dengan paksa, dan Dimas berhenti bergerak.

“Yah.. mati… nggak asik ah kalau mati..”

Aku mengambil kembali kapakku, kemudian kapak itu aku layangkan ke kepala Dimas. Kapak itu menancap secara horizontal dari dahi ke hidungnya. Lalu dengan satu hentakan lagi, aku memotong kepalanya sampai terbelah menjadi dua. Bisa kulihat bagian otaknya yang sudah terbelah.

“Kalau otak enaknya dimasak apa ya?” Duh, sepertinya aku sudah mulai gila.

Aku turun dari kasur Dimas yang sudah berlumuran darah. Kuambil sebuah kantung plastik hitam besar dari dalam tas ranselku, kemudian kembali ke kasurnya. Aku memotong-motong setiap bagian tubuhnya sampai tak tersisa sedikitpun. Aku ambil setiap bagian potongan tubuhnya mulai dari kepala, tangan, kaki, sampai organ dalam tubuhnya. Kemudian aku masukan ke dalam kantung plastik besar.

“Nah, dengan begini aku sudah berhasil melaksanakan ujian terakhirku.”

Aku memasukan kembali kapakku ke dalam tas ransel, kemudian aku kembali menuju Ar yang sudah menunggu di basement sambil membawa plastik besar berisi potongan tubuh Dimas.

“Kau berhasil?” tanya Ar yang sedang selonjoran di bangku kemudi.

“Ya. Bisa kau lihat sendiri harta karun yang aku dapatkan,” jawabku sambil menyimpan tas ranselku dan plastik besar itu ke bangku belakang.

“Bagus. Sekarang waktunya kembali.” Ar mulai melajukan mobilnya kembali menuju markas.

Setelah ujian terakhir tersebut, aku sudah resmi menjadi anggota baru. Aku mendapatkan nama baru yang diberikan oleh Tobi, nama itu adalah NJU 18. Kenapa 18? Karena umurku saat ini adalah 18 tahun. Sejak saat itu juga aku sudah banyak membunuh korban yang kemudian jasadnya aku konsumsi bersama-sama para anggota, kecuali Ar. Dia tidak suka mengkonsumsi daging manusia, katanya itu akan membuatnya mual.

Sejak saat itu juga aku sering melakukan aksi pembunuhan bersama Ar. Pernah saat itu kami berencana untuk membunuh salah satu kepala program studi di kampusku. Dia sangat menyebalkan, tak henti-hentinya memberikan tekanan kepada para mahasiswanya. Oleh sebab itu, aku meminta bantuan Ar untuk bersama-sama membunuhnya. Mayatnya aku mutilasi, lalu aku bawa ke rumah untuk dimasak, kemudian aku makan sendiri.

Tapi semenjak itu juga, hubunganku dengan Ar menjadi semakin dekat. Aku pun berpacaran dengan dengannya, karena menurutku dia terlihat sangat perfeksionis jika melakukan aksi pembunuhan, ditambah lagi kalau dia lagi cuek tatapannya menjadi dingin. Aku sangat suka sekali melihatnya. Ya, aku harap sih dia bisa menjadi pendampingku kelak di masa depan.

~o0o~

Empat bulan kemudian, hubunganku dengan Ar semakin berjalan lancar. Aku jadi sering bermain ke rumahnya, begitupun dia. Aku baru tahu ternyata dia bernasib sama denganku, kehilangan orang tuanya, bedanya dia juga sampai harus ditinggal mati oleh sahabatnya sendiri. Itulah yang menyebabkan Ar menjadi seorang psikopat saat ini. Ternyata dia jauh lebih menderita dibanding denganku.

“Kamu mau kemana?” tanyaku padanya yang sedang memakaikan kembali pakaiannya.

“Aku harus pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan,” jawabnya.

“Urusan apa?” Aku memposisikan badanku duduk bersandar di dinding sambil menutupi seluruh tubuh indahku dengan selimut.

Dia menghampiriku, kemudian duduk di sebelahku. Diusapnya rambutku yang panjang, lalu dia mengecup lembut keningku.

“Shania Junianatha, sepertinya aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.”

DEG!

Dadaku seperti ditancap oleh ratusan jarum suntik setelah mendengar apa yang dikatakannya. Aku membelalakan mata seakan tak percaya dengan ucapannya. Mataku berkaca-kaca, bulir air mata mulai keluar dari kelopak mataku. Kenapa dia berbicara seperti itu?

“Ke..kenapa?”

“Jika kita terus melanjutkan hubungan ini, aku takut kamu terancam bahaya.”

“Bahaya? Kenapa?”

“Aku tidak bisa memberitahumu, Nju.”

Aku mulai menangis sejadi-jadinya. Aku sudah kehilangan orang tuaku, dan juga adikku yang sampai saat ini aku belum pernah bertemu lagi dengannya. Aku tidak mau sampai harus kehilangan dia, tapi kenapa?

“Ar… jangan pergi…” kataku seraya menggenggam erat tangannya.

“Aku juga tidak mau meninggalkanmu, Nju. Tapi aku harus, ini menyangkut keselamatanmu,” jawabnya sambil membalas genggaman erat tanganku.

“Ta…tapi aku…”

“Kamu tenang aja, kita akan bertemu lagi nanti.”Dia tersenyum.

Aku sedikit merasa lega dengan ucapannya. “Kalau kita bertemu lagi, hubungan kita akan berlanjut lagi?”

Ar sedikit menundukkan kepalanya.

DEG!

Mendadak perasaanku tidak enak.

“Aku rasa hubungan kita tidak akan berlanjut lagi, Nju. Tapi, aku tetap sayang padamu, hehe.”

Air mataku mengalir semakin deras. Aku tidak percaya dia akan meninggalkanku. Tapi karena aku sayang padanya, aku sudah tidak bisa mencegahnya pergi.

Dia mendekatkan kepalaku ke wajahnya, kemudian dia mendaratkan sebuah ciuman ke bibirku dengan lembut. Aku pun membalas ciuman tersebut. Ciumannya terasa hangat, dan sedikit membuatku tenang. Dia pun melepas ciumannya.

“Sudah waktunya aku pergi. Jaga dirimu baik-baik,” ucapnya.

“Aku akan menunggumu, Ar,” ucapku sambil memeluk dia dengan erat. Sebuah pelukan terakhir yang kami lakukan.

Beberapa menit kami berpelukan, dia melepaskan pelukannya dan mulai pergi keluar dari kamarku. Aku menatap kepergiannya, dan kutatap punggungnya. Aku sangat suka sekali melihat punggungnya, karena itu membuatku tenang. Baru aku menyadari, itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya.

Setelah itu, aku menangis sendirian di kamar. Aku masih tidak menyangka kalau dia akan pergi meninggalkanku. Aku sayang padanya. Aku berharap bisa bertemu dia lagi, walau nantinya hubungan kami tidak bisa berlanjut.

~o0o~

Setelah kepergiannya, hidupku menjadi suram lagi. Hari-hariku bersamanya kini tak bisa kurasakan lagi. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi, entah itu kapan. Yang jelas aku sangat menginginkan dia kembali.

“Nju, ikut aku yuk,” ajak seorang wanita bertubuh mungil yang sedang memasukkan berbagai macam peralatan ke dalam tas ransel.

“Kemana, Mel?” tanyaku padanya.

“Bertemu seseorang.”

“Siapa?”

“Yang jelas kau akan senang nanti, hehe.”

Siapa memangnya? Aku jadi penasaran. Sudahlah, lebih baik aku ikut saja dengannya.

Aku mengikuti Mel dari belakang. Dia berjalan menyusuri sebuah lorong yang kanan kirinya berderet kamar-kamar. Dia berhenti di salah satu kamar yang di pintu tersebut terdapat nomor 128. Kemudian dia membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Aku mengikutinya dari belakang.

Di dalam kamar tersebut, terdapat dua orang yang terikat di atas kursi, pria dan wanita. Pria yang terikat itu tampaknya sudah tewas, dilihat dari badannya yang penuh luka tusuk, ditambah lagi kepalanya yang sedikit hancur akibat pukulan benda tumpul. Sedangkan si wanita tampak masih hidup, aku bisa melihat dari pergerakan nafasnya di bagian dadanya. Di belakang kedua orang tersebut, ada seseorang lain yang sedang berdiri. Orang itu membelakangi kami.

Punggung itu? Aku sangat mengenal punggung itu. Punggung yang selalu membuatku tenang jika aku menatapnya. Jangan-jangan dia…

“Kau sudah sampai rupanya, Mel,” ucap orang itu.

“Ya,” jawab Mel singkat.

“Sepertinya kau membawa teman.”

“Ya, bisa kau lihat sendiri.” Orang itu membalikan badannya dan menghadap ke arah kami.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dia.. dia… dia…

“Hai, Shania Junianatha. Lama tidak bertemu.”

“A…Ar…”

Aku langsung berlari dan memeluknya dengan erat. Aku menangis di pelukannya. Aku tidak percaya, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku sangat merindukannya.

“Kamu kemana aja, Ar?”

“Hehehe… Aku kan sudah bilang, aku ada urusan yang harus diselesaikan.”

“Jadi?”

Ar melepaskan pelukannya. “Ya, urusanku sudah beres.”

“Dua orang yang diikat di kursi itu sudah aku bereskan, hanya yang satu lagi masih hidup,” lanjutnya.

“Ar ingin kamu yang melakukannya. Ya, hitung-hitung sebagai kado pertemuan kalian kembali,” sanggah Mel.

Aku terharu mendengarnya. Aku tidak menyangka dia memberiku hadiah atas pertemuan kami.

“Makasih ya,” ucapku sambil mengecup lembut bibirnya.

“Ya, sama-sama. Ayo cepat main dengan hadiahmu,” kata Ar.

“Oke.”

Aku berjalan menghampiri wanita yang masih terikat di kursi. Mel memberikanku sebuah kapak yang dulu kupakai untuk membunuh Dimas. Aku sedikit memainkan kapak itu, kemudian ujung bilah kapak yang tajam itu kuarahkan ke wajah wanita itu. Dia mulai tersadar.

“Hai…” sapaku padanya.

Wanita itu sedikit terkejut dengan seseorang di depannya. “Sha…Shania?”

“Iya. Manis dan selalu disiplin, namaku Shania. Salam kenal ya.”

“Ka..kamu.. apa yang akan kamu lakukan padaku?” tanya wanita itu sambil manatap tajam padaku.

“Hmm.. enaknya ngapain ya? Main aja kalau gitu.”

Aku langsung menancapkan kapak yang ku pegang ke bahu kanan wanita itu.

“Arrgghhh! Sakit!!!”

“Hahahaha…. Teruslah berteriak, dasar wanita jalang!”

Aku kembali menancapkan kapakku. Kali ini aku lesatkan kapak itu ke paha si wanita. Aku gerakan kapak itu sampai membentuk luka sayat yang besar pada pahanya. Darah segar mengalir deras dari pahanya. Aku mengusap darah yang mengucur itu dengan tanganku, kemudian aku menjilati darah yang banyak menempel di tanganku sampai habis.

“Ah…. Darahnya sungguh nikmat…”

“Minta dong, Nju,” pinta Mel yang sedari tadi memperhatikan aksiku.

“Sini, ikut main sama aku.”

Mel pun menghampiriku dan wanita itu. Dia mengambil sebuah pisau dari dalam tas ranselnya, kemudian dia langsung menyayat tangan wanita itu. Darah mulai merembes keluar dari tangannya. Mel menjilati darah yang menempel pada pisaunya dengan penuh penghayatan.

“Hmmm… Aku nggak cukup kalau cuma darah aja, aku mau dagingnya.”

Mel mengambil kembali mengambil barang dari dalam tas ranselnya. Sebilah golok tajam sudah berada di tangannya. Diangkatnya tangan wanita itu yang terluka, kemudian dia langsung memotong tangan itu dengan goloknya. Tangan wanita itu terputus dari badannya. Darah mengalir sangat banyak mengotori bajunya.

“ARRRGGGHHHH!!!”

“Hentikan!!!”

Wanita itu terus berteriak kesakitan. Dia terus memohon agar dia terbebas dari kesakitan ini. Aku senang sekali melihat dia kesakitan seperti ini, apalagi di sekujur tubuhnya sudah berlumuran darah. Rasanya aku ingin menikmati lagi darahnya.

Aku mencoba melihat Ar, dia sedang tertidur di atas kasur. Tampaknya dia kelelahan. Tadinya aku ingin mengajaknya bermain, tapi ya sudahlah biar dia istirahat dulu saja. Aku melihat ke arah Mel yang kini sedang menyantap bagian tangan wanita itu yang sudah terpotong.

“Ishhh… nggak bagi-bagi..” keluhku padanya.

“Hehehe.. nanti kan kamu dapat sisanya,” ucap Mel sambil mengunyah daging di mulutnya.

“Oh iya ya.”

Kulihat kembali wanita itu yang sekujur tubuhnya dipenuhi darah. Kemudian kupegang bagian dagunya, dan kutatap matanya.

“Matanya enak dimasak apa ya, Mel?” tanyaku pada Mel.

“Tongseng mata sepertinya enak,” jawab Mel.

Aku langsung mengarahkan kedua tanganku ke bagian mata wanita itu. Kuusap perlahan kedua matanya yang sudah berlinang air mata. Wanita itu terlihat sangat ketakutan.

“Ja..jangan.. hentikan… aku mohon…”

“Nggak mau… Aku masih belum selesai mainnya..”

Kemudian aku mulai mencongkel kedua mata wanita itu. Sedikit susah mencongkelnya tapi sedikit demi sedikit aku bisa melakukannya.

“ARRGGGHHHH!!”

“Hentikan!!”

“Tidak!!!”

Satu mata kanannya sudah berhasil aku cabut. Darah mengalir sangat banyak dari bagian matanya. Kugenggam mata kanan itu dan melanjutkan aksiku mencabut mata wanita itu satu lagi.

“AARRRGGHHH!!”

Wanita itu terus berteriak kesakitan. Teriakannya membuatku tambah semangat. Kini mata wanita itu yang satu lagi sudah tercabut dari tempatnya, kemudian kedua mata yang sudah aku dapatkan itu kutaruh ke dalam saku bajuku. Wanita itu kini tidak memiliki bola mata lagi, bagian wajahnya sudah bolong di bagian tempat kedua matanya.

“Hmm.. aku masih belum puas.. lanjut lagi ya..”

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Aku tidak memperdulikannya. Kuambil kembali kapakku yang terjatuh ke lantai. Kemudian kapak tersebut aku layangkan ke kepala wanita itu. Kapak tersebut menancap tepat di wajahnya. Lalu aku cabut kembali kapaknya, dan aku tancapkan kembali ke wajahnya berkali-kali sampai wajah si wanita tak berbentuk lagi.

Wanita itu tidak bergerak lagi, sepertinya dia sudah mati. Kucabut kembali kapak yang masih menancap di kepalanya, kulihat banyak darah yang menempel di ujung kapak yang tajam. Lantas aku menjilati darah di kapak itu sampai habis.

“Mainnya udah, Nju?” tanya Mel yang baru saja selesai menyantap tangan wanita itu sampai hanya menyisakan tulangnya saja.

“Udah, hehehe,” jawabku cengengesan.

“Ya sudah, bangunkan Ar, kita pergi dari sini.”

Aku menghampiri Ar yang sedang tertidur di atas kasur, kemudian aku mencoba membangunkannya. Dia terbangun sambil mengucek matanya. Aku tersenyum melihatnya, dia sangat lucu kalau sedang bangun tidur.

“Eh, Nju. Mainnya udah?”

Kujawab dengan anggukan kepala.

“Huahhhh…” Ar menguap sambil merentangkan tangannya ke atas. Hihihi, lucu sekali dia. “Baiklah, ayo kita pergi dari sini.”

Kemudian aku, Ar, dan Mel membereskan terlebih dahulu kedua mayat itu. Ar dan Mel memutilasi kedua mayat itu, sedangkan aku duduk manis di pinggiran kasur sambil menyantap sedikit daging yang baru saja kudapatkan.

Tak berapa lama kemudian, kami sudah selesai membersikan ini semua. Kami pun mulai meninggalkan tempat ini dan kembali ke markas dengan harta karun yang sangat enak. Sebelum itu, aku sempat berbicara terlebih dahulu dengan Ar.

“Ar, apa hubungan kita akan berlanjut lagi?” tanyaku padanya yang sedang memasukan semua barang kami ke dalam bagasi mobil.

“Tidak, Nju. Lebih baik kita berteman seperti ini saja,” jawabnya.

Aku sedikit menundukkan kepala, dan mencoba tersenyum walau hatiku terasa sakit.

“Baiklah, aku mengerti.”

CUPSS!

Tiba-tiba dia mencium bibirku. Aku terkejut menerimanya, apakah ini?

“Ini ciuman terakhir yang aku berikan padamu. Kuharap kau bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku,” ucapnya. Lalu berlalu masuk ke dalam mobil.

Aku masih terdiam dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Aku tidak menyangka kali ini jalinan cinta antara aku dengannya harus terputus. Sedih sih, tapi aku juga senang, setidaknya aku bisa merasakan kembali sebuah kasih sayang dari seseorang. Lagipula aku masih berteman dengannya, bahkan dengan seperti ini aku bisa bertemu dengannya kapanpun.

“Terima kasih, Ar.”

Aku pun berjalan masuk ke dalam mobil dengan senyum yang terus menyungging di bibirku. Perasaanku sudah menjadi senang lagi sekarang. Ya, walaupun aku sudah tidak berpacaran lagi dengannya, aku tetap sayang padanya.

Aku, NJU 18, alias Shania Junianatha. Jika kalian bertemu denganku atau kenal denganku, jangan sampai kalian membuatku sakit ya. Karena aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada kalian nantinya. Hehehe.

~End of NJU 18 The Dark Side of Shania~

AR 22

Iklan

4 tanggapan untuk “NJU 18, The Dark Side of Shania

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s