Four Bala “The Resistance”

1

Peringatan: untuk 17+ dan Absurd di atas rata-rata.

Apa yang terlintas di pikiran saat kalian mendengar kata “SAHABAT” ? Pertemanan yang akrab ? Sering bertindak konyol satu sama lain? Tingkah yang absurd dan cara berbicara seenak Jidat? Umum nya memang seperti itu. Tak beda jauh juga dengan Empat anak manusia ini. Ya, bukan lain mereka adalah Willy, Shanji, Aryo dan Yogi. Sudah sejak lama mereka bersahabat. Mereka pertama kali dipertemukan dalam satu ruang belajar yang cukup menyenangkan di zaman nya. Ruang belajar dengan dinding dihiasi berbagai tempelan huruf-huruf Abjad dari A-Z, tembok yang digambar tokoh kartun namun di buat edukatif seperti ruang TK khalayak nya. Sudah banyak hal yang mereka alami bersama sejak hari itu. Banyak canda tawa, kesedihan dan hal sial yang saling mereka bagi sampai saat ini. Tapi kini, masa kecil itu telah berakhir. Sekarang mereka telah menjadi siswa SMA di salah satu sekolah Favorit di kota nya.

Menginjak masa remaja tampilan semakin berubah. Dari Cengeng, hidung beringus, rambut klimis kaya gorengan baru diangkat semua telah berubah.

 

“Kayaknya senang ya kalo punya pacar” ucap Willy kepada ketiga sahabatnya, namun pandangan nya mengarah ke salah satu bangku Kantin yang terdapat Dua Murid, cewek, cowok sedang berpacaran ?

“Bisa suap-suapan, pegangan tangan, lakuan hal bareng…” Willy menghentikan perkataan nya dan mengalihkan pandangan ke arah sahabatnya. Willy menghela nafas malas. Saat dirinya berbicara serasa diacuhkan karena ketiga sahabatnya malah sedang asyik berebut gorengan.

 

“Woi ! Punya gue Nih…” terlihat Shanji mencoba mengambil gorengan milik Aryo.

“Apaan ?! Punya lu dah habis, ini kan di piring gue” bantah Aryo sambil mempertahankan gorengan terakhir miliknya.

 

Disaat Aryo dan Shanji berdebat. Dengan gerakan halus tangan Yogi merambat mendekati piring Aryo yang telah lengah dari pandangan ke dua orang yang sedang berdebat itu, tapi Willy jelas melihat gerakan Yogi tersebut. Dengan santai nya, Yogi mencomot gorengan milik Aryo dan memakannya.

 

“Kalian ributin apa?” ucap Willy. Aryo dan Shanji menghentikan debatnya kemudian melihat Willy.

“Gorengan yang kalian ributin…”. Menunjuk, “Lihat samping lu…” Terlihat Yogi telah memasukkan potongan terakhir ke dalam mulutnya. Sontak keributan kembali terjadi. Willy hanya mendengus pelan dan tersenyum melihat tingkah para sahabatnya itu.

 

Seperti itulah kelakuan yang hampir setiap hari terjadi saat istirahat di kantin. Hal wajar bagi mereka tapi absurd bagi yang melihatnya. Disaat terdapat mereka, disitulah keributan dan hal konyol terjadi. Apa yang mereka lakukan lebih sering tak mereka pikirkan. Apakah itu memalukan, konyol, absurd atau yang lain. Mereka cuek saja yang penting mereka senang. Kalo di jadikan prinsip mungkin “mengalir seperti air dan bergerak seperti rumput yang bergoyang” prinsip hidup macam apa itu? Tapi itulah mereka. Jangan kaget dan jangan bilang “WoW”.

 

Bel pelajaran berikutnya segera terdengar. Dengan berat hati mereka pergi meninggalkan bangku Kantin dan yang pasti tinggalkan ibu kantin yang notabene Mahmud (Mamah Muda). Pelajaran berikutnya adalah Matematika. Hah! Pelajaran yang menakutkan ditambah lagi yang mengajar seorang guru Killer. “berasa uji nyali” gumam Aryo. Tapi berbeda lagi dengan Shanji. Disaat Aryo, Willy, Yogi beserta murid yang lain sibuk memperhatikan penjelasan pak Unditaker (guru Matematika). Shanji dengan santai nya menyenderkan tubuhnya ke kursi miliknya dengan posisi tubuh direndahkan, sedikit seperti mau tiduran. Tangan kirinya berada didalam kolong meja memegang HP.

 

Willy yang duduk disebelah nya memperingati Shanji untuk memperhatikan pelajaran kembali, namun dihiraukan oleh Shanji. Karena penasaran, Willy mencondongkan sedikit badan nya untuk melihatnya apa yang Shanji lakukan. “Ini anak kapan Tobat nya sih?” gumam Willy sambil menggelengkan kepala nya saat mengetahui apa yang Shanji lakukan. Dilihatnya, Shanji memegang HP yang ia sembunyikan pada kolong meja dengan pada layar HP terdapat video b*k*p yang sedang dimainkan. Pecandu.

 

“Weh, barang baru ga ngomong-ngomong” bisik Willy.

“Baru download nih” balasnya.

“Jangan lupa bagi ya. Share it gue hidup nih”

 

Disaat mereka asyik saling berbisik tentang “barang baru”. Terdengar suara lumayan keras sehingga semua orang dalam satu ruangan itu mendengar. Suara tersebut berasa dari baris sebelah bangku Willy dan Shanji. Seorang murid perempuan yang duduk di depan Yogi.

 

“Shanji jorok!!!” Teriaknya. Seketika Shanji langsung membuka casing Hp, mencopot baterai nya. Sementara Willy kembali duduk. Mungkin kedua nya langsung keringat dingin ? Semua mata tertuju pada Shanji, tak terkecuali pak Undi yang juga menatapnya tajam. Tangan Shanji sedikit bergetar dan dapat ia rasakan tangan nya berubah suhu menjadi dingin namun wajah panas. Detak Jantungnya semakin kencang dari sebelumnya. Tatapan tajam milik pak Undi tersebut sukses membuat panas dingin. “Rasa ini, detak Jantung ini. Apakah ini yang namanya Cinta? Oh tidak…”

 

“Ada apa?” Tanya nya dengan nada berat terkesan galak.

“Itu pak, tadi Shanji lagi no…mmmmhhhmm…” Dengan cekatan Yogi menutup mulut Desy. Yogi yang juga tau apa masalahnya pun langsung mengambil tindakan.

 

“Itu pak, katanya Shanji bisa jawab soal yang ada di papan tulis” ucap Yogi. Shanji melihat tajam Yogi. Yogi membalasnya dengan tatapan seakan berbicara, “udah syukur gue tolongin”.

 

“Apa benar kamu bisa jawab?”

“Eh itu… i…iya pak saya bisa”

 

Dengan terpaksa Shanji melangkah maju ke depan untuk menyelesaikan soal yang terdapat di papan tulis. Beberapa saat semua menunggu, tapi Shanji masih terdiam di posisinya berdiri. Sesekali Shanji melihat ke arah Aryo, Willy dan Yogi. Namun apa yang ia dapat hanya ekspresi tahan tawa dari para sahabatnya itu dengan kata tersembunyi pada tawa mereka, “mampus lu”.

 

Di depan nya padahal hanya ada satu buah soal, tapi hampir Tiga menit ia belum juga mulai mengerjakan. Bahkan ujung spidol hitam itu bisa saja hampir mengering. Hanya sebuah soal ” Dua phi r kuadrat kali Tiga?”. Shanji terus berpikir hingga ia menemukan jawaban nya. Ujung hitam Spidol mulai ia goreskan. Kurang dari Lima Detik jawaban selesai. Shanji menatap gurunya dan berbalik badan menatap semua murid dengan senyuman puas. Puas karna bisa ia jawab soal itu.

 

“Sekarang kamu ke lapangan dan hormat ke tiang bendera sampai pelajaran selesai” ucap pak Undi menghancurkan momen yang Shanji buat. Lagi-lagi Shanji hanya menurut. Seisi ruang kelas hanya tertawa menanggapi kelakuan nya.

“Jawaban macam apa ini ? Dua phi r kuadrat kali Tiga hasil nya Enam phi r phi r”

“Teman lu noh” ucap Aryo pada Willy dan Yogi.

“Senpai lu tuh, gi” ucap Willy. Yogi menanggapi ucapan Willy dengan cuek namun dengan gaya dibuat-buat seperti cewek ngambek. Willy tertawa melihatnya. Tanpa sadar telapak tangan nya menepuk paha satu bangku nya.

 

“KYYAAA!!!” Paha yang Willy tepuk adalah paha milik seorang cewek. Shani Indira. Willy yang baru sadar jika teman satu bangkunya ternyata Shani hanya kaget dan berusaha meminta maaf, tapi karena suara teriakan Shani, pak Undi pun mendengarnya. Shani mengadukan tindakan Willy sebagai pelecehan. Setelah itu, Willy disuruh keluar menyusul Shanji ke lapangan. Willy bangkit dari bangkunya sambil menatap Shani. “Untuk cuma aku laporin ke pak Undi, coba aku laporin ke Polisi?” Shani menjawab tatapan Willy. Dalam benak Willy saat setelah mendengar kalimat yang Shani berikan, Willy berpikir itu anak lumayan polos tapi bisa bikin ngeri juga.

 

Tak berjarak waktu lama setelah Willy. Yogi dan Aryo juga menyusul ke lapangan akibat perbuatan mereka. Aryo yang terus mengganggu Desy di depan nya dengan menarik lembut rambut panjangnya. Ya mungkin kepala Desy ngalangin kali ? Secara dia kan anak cewek tertinggi dikelasnya. Sementara kasus Yogi. Ia malah tertangkap basah sedang balas-balasan surat dengan meremas kertas dan dilemparkan ke Yona ? Tapi memang sial kali, yang kena hukum hanya Yogi sedangkan Yona adem ayem aja.

 

Kini mereka berempat sedang tertawa seakan tak ada beban, tak ada salah padahal mereka sedang dijemur dan dihukum.

 

“Gue berasa ikan asin disini dah” Willy mengelap keringat di dahinya.

“Kalo gue malah berasa kaya nasi basi yang lagi dijemur” ucap Aryo.

“Gue jadi ga enak, lu pada bawa-bawa saudara” celetuk Shanji dengan entengnya dengan menyeruput minuman dingin nya ?

“Nasi basi? Kaya gombalan gue ke gebetan. Kemarin dia bilang kalo gombalan gue itu basi. Cobaan apa ini?” Yogi makin nyeleneh.

“Yah, malah ngefeel nih anak” seru Willy, Aryo, Shanji bersamaan sambil melirik ke arah Yogi.

 

Tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seorang siswi idaman di sekolahnya berjalan di sepanjang koridor. Cantik, mulus tanpa goresan kaya Panci Stanless baru beli, namun anaknya terkenal cuek. Siswi tersebut duduk dibangku depan salah satu kelas. Mungkin kelasnya jam kosong kali. Dengan ide spontan mereka berempat adain taruhan. Siapa yang berhasil buat cewek itu menengok ke arahnya dia bakal bayarin apa aja dengan total maksimal yang dibeli Lima Puluh Ribu per orang. Dengan anggukan mereka setuju.

 

Pertama-tama Yogi. Seperti biasa Yogi menggunakan rayuan nya, gagal. Mungkin gombalan nya belum dipanasin jadi masih basi. Walau gombalan belum panas tapi hati Yogi sudah terlalu panas terbakar api cemburu. Sadezzz. Siap-siap deh Yogi lepas uang Lima Puluhnya.

 

Kedua, Willy. Kalo dia sedikit aneh caranya. Tiba-tiba ia berjalan mendekat ke arah tiang bendera dan tanpa di duga… Ia menjepit tiang besi itu dengan kedua buah pahanya dan menari ala Striptis menggesekkan netnot nya ke tiang besi sambil beberapa kali memanggil siswi itu untuk menoleh tapi hasilnya nihil. Tak disangka yang Willy panggil siswi cantik itu tapi yang nyaut malah pak kepala sekolah.

 

“Lagi ngapain kamu nari-nari gitu?” Tanya nya.

Seketika Willy menghentikan aksi nya, “ga pak, saya gatal”

 

Ketiga, Aryo. Buat Aryo mah biasa aja caranya. Dia mengambil bola Basket yang terdapat di pinggir lapangan terus ia mulai memainkan nya. Dengan memantulkan bola dengan keras supaya si cewek tau bahwa Aryo sedang main Basket sehingga dia pasti akan menoleh ke arahnya. Namun ia belum juga menoleh. “Ini cewek pasti Budek nih, gue yakin” pikir Aryo. Tapi tak kehabisan akal. Aryo menggunakan cara terakhirnya, masih dengan bola Basket. Tapi sekarang berbeda. Bukan mendrible bola di lapangan lagi, melainkan ia dribble dari lapangan terus masuk ke ruang guru. Tapi setelah masuk ruang guru, sosok Aryo malah tak kunjung keluar lagi. Lagian main Basket di ruang guru kena sendiri akibatnya. Parah emang. Yang buat Story ini juga parah, imajinasinya terlalu rusak.

 

Terakhir, Shanji. Terlebih dahulu ia serahkan Susu Kotak miliknya ke Willy dan pergi. Saat Willy ikutan menyeruput isinya ternyata hanya tinggal rasa angin, isinya habis. Shanji malah menghampiri adik kelas, entah apa yang dibicarakan nya. Tampak adik kelas tersebut mengangguk. Shanji kembali lagi menghampiri Willy dan Yogi. Adik kelas tersebut berjalan ke arah siswi cantik itu dan saat melewati nya adik kelas tersebut melepaskan Earphone yang tersumpal di kedua telinga siswi cantik tersebut. Shanji kemudian memanggil nya, “HEI! VERANDA!!”. Siswi tersebut pun menoleh ke arah Shanji tapi cuma sesaat dan kembali memasang Earphone nya. “Gue menang. Muehehehe…”

 

Selepas pulang sekolah. Willy, Shanji, Aryo dan Yogi berjalan keluar sekolah dengan penampilan baju seragam dikeluarkan, dasi yang di pake buat ikat kepala, dililitkan di tangan juga ada dan ditangan Aryo, ia membawa Gear dan sabuk. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju jalan. Mereka berdiri dari duduknya saat sasaran nya terlihat. Aryo berjalan ke tengah jalan memberhentikan laju Truk.

 

“Berhenti lu!” teriak Aryo saat Truk tersebut memelan didepan.

“Udah langsung sikat aja ayo!” ucap Yogi memanas-manasi.

 

Beberapa saat setelah penyergapan Truk yang dilakukan Aryo, Yogi, Willy dan Shanji.

 

“Bener kan kata gue” ucap Aryo.

“Bener apaan?” Willy menanyakan maksud Aryo.

“Kalo kita boleh naik di Truk ini. Kan lumayan, gratis”

“Lagian lu mau ikut nebeng pulang sama Truk aja lagaknya kaya mau begal gitu. Sampe bawa-bawa Gear segala lagi. Dikira mau Tawuran?”

“Hehehe, sorry. Ini Gear punya adik gue tapi tadi pagi kebawa di tas gue”

 

Random memang. Memberhentikan salah satu Truk yang melintas dengan gaya seolah nantang hanya untuk mendapatkan sebuah tumpangan gratis. Kelakuan nyeleneh belum berakhir. Jika ini adalah sebuah film dan memakai kamera Drone, dari atas bisa terlihat mereka duduk bersila di atas bak Truk. Dengan dari dalam tas nya Yogi mengeluarkan kartu poker. Selama perjalanan mereka bermain poker hingga mereka lupa akan tempat pemberhentian mereka. Entah dimana mereka di turunkan setelahnya yang jelas cukup jauh dari gerbang Komplek perumahan. “Fak kejauhan kita”. Mau tak mau, mereka kini harus menaiki angkot untuk bisa pulang dengan uang receh yang dicari dalam selipan tas mereka.

 

Siang hari telah berganti menjadi malam. Di atas balkon rumah Willy, mereka berkumpul. Dengan Shanji tiduran terlentang di atas kursi, kaki yang diangkat ke atas senderan sehingga posisinya terbalik dengan mulut menganga, mata menatap lurus ke arah langit malam. Aryo sibuk dengan ponselnya. Asyik chat bareng Desy kali? Yogi jongkok di pojok dengan meletakan Dahu pada lututnya sambil mengerak-gerakan ranting pada lantai beton rumah Willy. Anjay Random banget kelakuan nya. Sementara Willy ? Sebagai tuan rumah hanya disuruh bolak-balik mengambilkan camilan atau minuman.

 

Sekembalinya Willy dari tugasnya sebagai tuan rumah dan duduk di kursi. Mereka bertiga meninggalkan aktivitas Random nya dan berkumpul seperti akan melakukan diskusi kecil. Saling tatap. Itulah reaksi pertama yang mereka berikan setelah duduk di posisi masing-masing. Willy yang mengerti arti tatapan para sahabatnya menghela nafas, “Silahkan diminum dan dimakan camilan nya”. Ketiga nya tersenyum dan mulai celamitan mengambil makanan yang dibawa Willy.

 

“Oke. Dari hasil pembicaraan kita tadi sewaktu pulang sekolah dan dari beberapa tambahan kalian. uang yang kita kumpulin ada berapa?” Willy mulai membuka pembicaraan dengan menyinggung langsung tujuan mereka malam itu.

Aryo merogoh saku Jaketnya, “bentar…” Aryo mulai menghitung. “Dari uang taruhan pas dihukum tadi siang ada 150 ribu dan ditambah dari gue sendiri sama dari kalian semua ada 400 ribu. Jadi buat total keseluruhan uang yang ada terkumpul 550 ribu” jelas Aryo meletakan amplop coklat di atas meja bundar kecil ditengah-tengah mereka duduk.

“Seperti bulan-bulan sebelumnya pertanyaan gue masih sama. Apa kalian ikhlas?” tanya Willy menatap ketiganya.

“Untuk hal kaya gini, jawaban kita akan selalu sama dari sebelumnya, wil” jawab Shanji.

Shanji mengepalkan tangan nya, “selama kita ada, kenapa gak?” dan kepalan tangan di ikuti oleh yang lain. Mereka meninjukan pukulan mereka, saling bersentuhan di titik temu yang sama, namun hanya tinjuan kecil untuk mengisyaratkan tanda setuju.

“Oke kawan…. Saatnya beraksi!” Ucap Yogi.

“YEAAHHH!!!”

 

Pukul.23.15 WIB

Terlihat Willy duduk diatas pagar rumah seseorang sambil menggapai barang yang Yogi berikan dari bawah dan memberikan nya kembali kepada Aryo dan Shanji yang telah berada di dalam area rumah. Setelah barang yang dibawa berhasil dimasukkan. Willy masuk di ikuti Yogi memanjat pagar untuk masuk juga. Dengan langkah pelan mengendap ngendap, mereka menuju pintu utama rumah. Setelah dirasa semua aman, mereka meminta Aryo untuk memencet bel rumah.

 

“Teettt…” Belum terdengar respons. Aryo mencobanya kembali.

“Teettt” hasil masih sama.

“Apa kita tinggalin aja? Nanti Pagi juga pasti orang dalem bisa liat” ucap Yogi pelan.

“Ya kalo bisa sampe pagi, gi. Kalo abis kita tinggal ada orang lewat bisa mereka ambil ini barang” cegah Aryo.

“Yaudah, gue aja yang coba pencet bel nya lagi” Shanji mengusulkan diri, namun saat jarinya akan memencet malah ditahan oleh Willy.

“Gue aja, nji” Willy menyingkirkan jari Shanji.

“Gue aja, wil” Shanji menyingkirkan balik jari Willy.

“Gue, nji” “gue, wil”

“Gue!” Ucap Willy ngotot.

“Kok lu nyolot? Gue bilang gue ya gue”

 

“Tettt…. Tettt… Tettt… Tettt… Tettt… Tettt. Tettt…” Akhirnya, baik Shanji maupun Willy tak ada yang mau mengalah. Mereka saling menekan bel rumah bergantian dengan cepat dan beruntun seakan-akan sedang melakukaan sebuah lomba “pencet bel rumah tercepat dan terbanyak”. Sementara itu Aryo dan Yogi hanya menggelengkan kepala melihat kedua teman nya itu.

 

“Woe… Bel nya mati” ucap Shanji dan Willy ketika tersadar bahwa bel tak mengeluarkan suara.

“Rusak, nji” ucap Willy.

 

Terdengar dari dalam rumah suara wanita sedikit berteriak, “siapa sih malam-malam mainan bel rumah!?”.

 

Rasa kaget mendengar suara dari dalam. Shanji, Willy, Aryo dan Yogi langsung berlari terbirit-birit meninggalkan beberapa kantung plastik besar berwarna putih itu di depan pintu rumah. Dengan tergesa-gesa mereka menaiki tembok pembatas rumah dengan jalan gang. Emang nasib. Pijakan kaki Shanji saat mendarat kurang tepat. Kakinya malah mendarat ke arah selokan kecil dan dirinya pun jatuh ke dalam selokan tersebut. “Fak lah!” ucapnya sambil tertawa menertawai dirinya sendiri. Pintu gerbang terlihat di buka oleh si pemilik rumah. Mereka yang menyadari hal itu langsung membantu Shanji bangun dari selokan dan berlari menjauh karna si pemilik rumah mendekat sambil meneriakkan supaya berhenti.

 

Memandang larinya keempat remaja tersebut, “siapapun kalian. Saya sebagai pemilik Panti Asuhan ini sangat berterima kasih pada kalian, nak. Terima kasih sudah sering membantu kami” ucapnya lirih melihat bayangan tubuh mereka hilang di belokan gang.

 

Setiap sebulan sekali Empat Sekawan itu rutin mengumpulkan uang mereka untuk dibelanjakan bahan pokok lalu mereka berikan pada panti tersebut. Dan selalu cara mereka dalam memberikan bantuan pasti dengan cara diam-diam tanpa harus menemui sang pemilik terlebih dahulu. Dibalik kelakuan Random dan sifat nakalnya, mereka masih sangat peduli terhadap sesama. Alangkah indahnya negara ini jika semua orang memiliki rasa peduli terhadap sesama yang erat. Mimpi yang sulit terwujud tanpa ada kesadaran terhadap diri masing-masing.

 

“Anjay, gue bau bangke” seru Shanji mencium badan nya sendiri.

“Tiap hari juga gitu kan” sela Willy. “PLETAK!”

“Jangan gitu sama Senpai” ucap Aryo setelah menjitak kepala Willy.

“Senpai Aryo…” Shanji memandang lekat Aryo. Tatapan mereka bertemu satu sama lain.

“Fak! Kenapa gue dikasih sahabat lucknut kaya mereka?” Willy mundur.

“Jijay gue” tambah Yogi.

“Untung gue bawa baju di dalam tas. Ganti sono” Willy memberikan baju dan celana yang ia bawa kepada Shanji.

 

Di bawah pohon mangga tanah kosong, Shanji mengganti pakaian nya. Sementara yang lain menunggu di pintu gang. Saat dirinya selesai memakai celana, tinggal akan memakai baju pada tubuhnya terdengar dari arah belakang, “badan kamu bagus juga”. Shanji yang mendengar hanya menjawab, “pasti lah, orang ganteng badanya juga harus oke”. Entah berapa detik Shanji baru tersadar saat tubuhnya merasa merinding dengan sebuah tangan dari belakang mengelus perutnya. “Bala nih..” batin Shanji saat melihat ke arah tangan tersebut. Tangan dengan bulu rambut lumayan banyak pada punggung tangan nya.

 

Shanji melengoskan kepala nya ke belakang melihat pemilik tangan. Tertawa. Respons pertama yang Shanji berikan

 

“Bener kan, Makhluk Lucknut”

“WOI! Gue bukan Makhluk Lucknut! GUE INI BANCI!!” ucap si banci dengan mengubah suara nya ke bentuk laki nya.

“Sama aja njeg” ucap Shanji.

“THIS IS… SPARTAAAA!!!” Lanjut Shanji dengan menendang tubuh si banci untuk menjauhkan tubuhnya hingga si banci tersungkur ke rerumputan. Shanji langsung berlari tanpa mengenakan baju.

 

Shanji terus berlari ke arah ketiga sahabatnya yang menunggu di mulut gang. Shanji terus berlari saat melewati mereka. “Run bi**h! Run!!!”

 

Aryo mengerutkan dahinya, “Eh? Kenapa tuh bocah”

“Mabuk air selokan kali” celetuk Yogi.

 

Di saat Willy, Aryo, Yogi menebak-nebak tingkah laku Shanji. Terdengar dari dalam gang, “tunggu Senpai! Uuuugghhhh….” Mereka bertiga melihat ke arah sumber suara. Tatapan mereka datar saat melihat Makhluk apa yang berlari ke arah mereka.

 

“Oh shit -_- sekarang gue tau penyebab Shanji lari” ucap Willy.

“Itu Makhluk yang hanya lahir setiap Seratus tahun sekali -_- ” timpal Yogi.

“Makhluk langka yang harus dibasmi -_- ” sambung Aryo.

“….. -_- ” mereka masih terdiam melihat, hingga Willy berteriak dengan ekspresi wajah tersenyum ala Yaoming.

“RUN! RUN! RUN!”

“SELAMATKAN PINTU BELAKANG KALIAN!!” seru Aryo sambil berlari.

 

Di saat mereka telah terlepas dari Makhluk langka dan Shanji yang entah lari ke mana. Mereka melihat sosok perempuan duduk sendiri di bangku pinggir taman kota. Perempuan dengan pakaian santai namun modis dengan rambut panjang hitam yang terurai. Perempuan tersebut tak lain adalah kakak kelas mereka yang tadi siang dijadikan bahan taruhan. Kakak kelas yang cantik tapi jutek. Namun, dari juteknya itu mereka tau bahwa itu hanya kedok belaka untuk menutupi sifat aslinya yang terkenal malu-malu.

 

“Itu kan kak Ve” ucap Yogi.

“Lu pada pulang duluan aja. Gue yakin Shanji dah di rumah. Biar gue temui kak Ve dulu” ucap Willy dan berlalu meninggalkan Aryo dan Yogi di seberang jalan.

“Giliran sama cewek mah cepet. Kita pulang aja, gi” ucap Aryo dan berjalan.

 

“Kak Ve…” sapa lirih Willy.

“Eh, kamu. Ada apa?” balasnya dengan nada sedikit jutek.

“Sendirian kak?” tanya Willy, namun tak dibalas oleh Ve.

“Boleh duduk?”

“Duduk aja”

 

Beberapa saat suasana hening. Willy bingung kata apa yang bisa membuat bahan pembicaraan. Ia lihat Ve hanya diam memandang jalan. Otaknya terus berjalan mencari bahan hanya sekedar untuk berbasa – basi.

 

“Hampir jam Dua Belas loh, kak. Kak Ve kenapa ada disini? Sendirian pula”

Ve masih diam dan kemudian menghela nafas, “tadi aku niatnya mau nginap di rumah teman”

“Terus?” Willy memotong. Ve menatap Willy tajam. “Eh? Maaf…”

“Pas sampai sana malah teman aku ada urusan mendadak. Ya, jadinya aku pulang lagi. Tapi pas di jalan pulang tadi aku mutusin buat mampir kesini dulu. Di rumah juga sendirian soalnya” jelas Ve yang sedikit melunak dari jutek nya.

“Memangnya orang tua kak Ve ke mana?” pertanyaan mainstream tetap Willy gunakan hanya untuk bisa memancing obrolan dari Ve terus.

“Orang tua aku sibuk sama kerjaan nya. Mereka sering tinggalin aku sendiri di rumah. Eh, gak sendiri juga sih ada Bi Yuli pembantu aku”

“Daripada disini sendirian…boleh gak aku temani?” tanya Willy sambil memandang Ve. Jawaban dengan mengangguk tanda diperbolehkan.

 

Sementara itu. Aryo dan Yogi berjalan beriringan di sepanjang Trotoar jalan. Yogi mengajak Aryo berbicara namun, orang yang ia ajak malah asyik dengan ponselnya. Ngapain dia? Sudah malam gini masih chat sama Desy?

 

“Yo!” Aryo berdeham menyahut .

“Gue liat-liat kayaknya si Willy ada rasa sama Ve deh”

Aryo menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku Jaket. “Ya bagus lah, berarti dia masih normal”

“Si anjir. Gue serius, yo”

“Lah, gue juga serius kali. Makanya lu pepet aja si Yona”

“Kalo masalah itu lagi gue usahain, yo. Tunggu aja kabar bahagianya”

“Kabar bahagia? Yona lahiran?”

Yogi mendengus, “Auh ah, gi. Susah ngomong sama lu”

“Btw, sekarang orang gila banyak Bener ya?” ucap Yogi melihat orang kencing di pinggir sebuah toko tutup hanya memakai kolor dari kejauhan.

 

Jam kosong. Suasana kelas bak pasar dadakan. Siswi cewek dengan kebiasaan rumpi. Cowok bergerombol saling menceritakan hobi mereka atau hanya menceritakan hal absurd yang terjadi dalam hidupnya. Di bagian bangku belakang terdapat Willy yang tengah disiksa. Siksaan untuk Willy, tapi hiburan untuk seisi kelas. Kenapa tidak? Willy terbaring dilantai menahan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya, apalagi bagian “tuas persneling”. Dengan kedua kaki dipegang oleh Aryo dan satu kaki Aryo diarahkan ke selangka**an Willy. Tangan nya dipegangi oleh Yogi dan satu teman kelas lain nya. Kaki Aryo digerakkan seakan menggelitik. Candaan cowok yang sangat sadis. Sementara di belakang ramai oleh ulah Aryo dan Yogi. Shanji anteng di depan kelas, menggambar di papan tulis yang dibagi dua bagian, hitam putih. Shanji menggunakan Papan hitam sebagai media gambarnya.

 

“HAHAHAHA…UDAH OI…HAHAHAHA… UDAH!” melas Willy dengan mata berair berharap Aryo menghentikan kejailan nya.

“Udah, udah kasihan” ucap Shani menyuruh untuk menghentikan karna kasihan juga liatnya. Padahal dia tadi salah satu cewek yang ketawanya paling keras. Aryo menghentikan gerakan kakinya dan melepasnya. Begitu juga dengan Yogi dan teman nya yang melepas pertahanan nya pada tangan Willy. Mereka berdua kemudian meninggalkan Willy yang menukuk tubuhnya dengan lelehan air mata di sudut matanya akibat menahan geli.

 

Aryo dan Yogi menghampiri Shanji yang sedari tadi sibuk menggambar berada di depan papan tulis. Terlihat di papan tulis sebuah maha karya yang sangat mengagumkan. Sungguh bersinar gambar tersebut. Gambar yang menyilaukan pandangan. Aryo melihat dengan memberi apresiasi berupa tepukan tangan tanda kagum dan berkata, “tapi kurang sentuhan akhir, nji”. Aryo mengambil kapur warna yang Shanji pegang.

 

“Nah, gini kan sempurna. Tamvan dan Vemberani” ucap Aryo setelah selesai.

2

“Anjir, perih mata gue” ucap Desy menanggapi.

“Makhluk tertamvan yang pernah aku liat” tambah Shani dengan tatapan berkaca.

“Kantin yuk. Bosan gue di kelas. Eh, ajak tuh si Willy” ajak Shanji.

 

Suasana saat di Kantin tak kalah dengan suasana kelas. Mungkin lebih parah? Satu sekolahan jam kosong diakibatkan para guru dan staf melakukan rapat dadakan, entah rapat apa? Hampir semua bangku telah terisi. Untungnya Willy, Shanji, Aryo, Yogi, Shani, Desy, Yona masih bisa mendapatkan satu bangku panjang yang masih kosong dan mereka mulai memesan makanan. Sekarang giliran Yogi yang memesankan makanan.

 

“Gue nasgor sama teh manis. Shani roti bakar. Yona lagi kere makanya es teh manis doang” ucap Desy. “Oh iya, minuman nya Shani sama juga” lanjut Desy.

“Kalo kita bertiga biasa, gi” ucap Shanji. Yogi mengangguk dan berjalan.

 

“HAHAHAHA…” “Bla bla bla bla” “Gedubrag! Bak! Gedubrag! Bak!”

 

Rusuh. Suara orang ketawa keras lah. Suara cewek pada ngrumpi tapi seolah lagi nge’rap. Suara cowok Low budget. Mukulin tangan di meja seolah meja jadikan Drum. Rebutan karet gelang warna ? Buat koleksi mungkin. Masih banyak hal absurd yang terdapat di Kantin.

 

“Ini Kantin Sekolah apa Kantin Penjara sih?” heran Desy.

“Gue malah ngrasa ini sekolah Suzuran. Jam kosong gini tiba-tiba Genji suruh anak-anak kumpul buat lakuin tawuran” ucap Willy sambil memainkan sedotan di tangan nya.

“Lah ini, Genji nya samping aku” ucap Shani melirikkan bola matanya ke Shanji.

“Gue Shanji Bukan Genji, Shan. Beda jauh plesetan nya. Garing lu kaya gorengan” sewot Shanji.

“Sakit dong?”

“Serah lu…”

“Oh iya, semalam lu pada ke mana sih? Gue tungguin lama benar. Manalagi gue keliaran cuma pake celana Boxer” ucap Shanji.

“Ntar dulu… Kemarin gue sama Yogi liat orang gila pake celana sama kaya celana yang Willy kasih ke elu. Dia lagi kencing dipinggir toko bangunan yang tutup” terang Aryo.

“Itu emang gue kampret, tapi gue bukan orang gila”

“Eh, semalam kamu main cuma pake Boxer, yang?” tanya Shani. Semua menatap ke arah Shanji dan Shani.

“Bentar… Ada rahasia kayaknya disini. Lu tadi ngomong “yang” ke Shanji, Shan?” selidik Willy. Shani hanya tersenyum.

“Wah kaga bener nih. Jadian kapan lu pada?”

“Belum lama kok, baru tadi pagi malah pas berangkat bareng” jelas Shani.

“Woh pantas, tadi kata ibu lu udah berangkat duluan bawa motor. Jadi karna mau berangkat bareng Shani terus nembak ceritanya” ucap Aryo.

“Kan ada yang baru jadian nih, gimana kalo yang bayarin kita hari ini si Shanji aja, PJ gitu” usul Yona.

“Mantap” jawab semua kompak.

“Tekor. Lu sih ngapain pake keceplosan di saat yang kaga tepat” bisik Shanji ke Shani.

 

Selesai nya mereka makan. Kini mereka berjalan bersama kembali ke kelasnya. Sementara di bagian belakang Aryo bersama Desy langkahnya memelan akibat sedikit ditahan oleh Aryo. Setelah dirasa jarak antara sahabatnya yang berada di depan, Aryo menarik tangan Desy mengarah ke jalan yang lain. Desy yang kaget hanya berusaha mengikuti ke mana arah Aryo mengajaknya. Setelah beberapa saat Aryo menarik tangan Desy, Aryo masuk ke dalam Toilet dan tak ketinggalan Desy yang ikut serta dimasukkan ke dalam nya juga.

 

“Aa…Aryo”

 

Suasana hening saat mereka telah masuk di dalamnya. Aryo menatap lekat mata Desy, begitu juga Desy yang menatap Aryo. Pandangan mereka bertemu. Aryo melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Desy dan mulai memegang pipi nya. Entah apa yang ada di pikiran Aryo saat itu. Tangan nya bergerak mengelus pipi Desy dan dihentikan saat tepat jarinya menyentuh bibir Desy. Dengan perlahan jari Aryo mencoba membuka bibir Desy. Desy menurut dan bibirnya mulai terbuka. Jarinya masuk ke dalam mulut Desy menyentuh deretan gigi putih milik Desy. Desy memejamkan matanya. Kemudian Aryo mendekatkan wajahnya ditelinga Desy. “Di gigi lu tadi ada cabe nyelip Sisa nasi goreng yang lu makan”. Seketika Desy membuka matanya dan, ” PLAK!” warna merah di pipi Aryo pun tercipta. Desy langsung bergegas keluar dari Toilet dan meninggalkan Aryo yang sedang mengelus pipinya yang panas akibat tamparan Desy.

 

“Salah gue apa coba? Gue kan cuma ngambilin sisa Cabe yang nyelip. Napa gue di tampar? Dikira gue mau mesum ? Lagian ngapain dia tadi sampe merem” batin Aryo menggerutu.

 

 

Kita percepat saja ke Satu Minggu kemudian. Maaf kalo kurang nyaman. Semua kini telah merata. Merata dalam artian status. Shanji memiliki Shani. Yona dengan Yogi. Willy dengan Veranda si kakak kelas yang cantik nan jutek. Entah bagaimana caranya Willy menembus dinding pertahanan juteknya Ve, yang jelas Willy telah berhasil. Sedangkan Aryo ? Aryo dengan Desy. Memang benar, tapi ada satu masalah saat mereka berjalan berdua. Pasangan lain si cowok yang merangkul si cewek tapi berbeda dengan Aryo, dialah yang di rangkul oleh Desy akibat postur tubuh keduanya berbeda. Desy lah yang jauh lebih tinggi. Jika dipikir Aryo malah beruntung sih karna setiap kali ia di rangkul oleh Desy, Aryo bisa memanfaatkan kesempatan dengan meletakan kepalanya sejajar dengan… You know lah. (Sensor KPI).

 

Hari ini, seperti biasa. Willy, Yogi, Aryo dan Shanji pulang Sekolah bersama. Bukan nya mereka sudah punya pacar ? Memang. Tapi hari itu Empat orang itu lebih memilih pulang daripada menemani para cewek berbelanja yang bisa memakan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu. Di depan sebuah Indoapril mereka duduk sambil menikmati kopi. Melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Seorang pegawai cewek yang kebetulan sedang kebagian shift saat itu keluar sambil membawa kantung plastik sampah di tangannya. Yogi bangkit dari posisi duduknya dan menghampirinya. Terlihat Yogi mengajak ngobrol. Setelah selesai membantu pegawai cewek Indo itu membuang Sampah, tampak mereka kembali berbicara dan saat akan masuk ke dalam, Yogi dengan pelan menepuk Bok**g si cewek tersebut. Sontak Yogi mendapat hadiah berupa tamparan di pipinya dan Willy, Aryo dan Shanji yang melihat pun bersorak, “UWOOOOOO…”. Yogi kembali ke arah ketiga sahabatnya dengan wajah kesal sambil memegang pipinya.

 

“Gila main tabok aja” seru Shanji saat Yogi duduk di bangkunya kembali.

“Yang bantuin buang sampah terus dikasih tamparan mah beda” ejek Willy.

“Diam lu!” mereka tertawa melihat reaksi Yogi.

 

Hampir setengah jam mereka berada di depan Indoapril, hingga mereka memutuskan untuk pergi dari tepat itu. Langkah mereka kembali berhenti saat melihat satu orang murid dari sekolah lain sedang tertidur di lantai bekas pos Satpam. Sifat jail pun keluar. Dengan membawa lembaran koran mereka mendekat dan menutupi tubuh anak tersebut dengan koran yang dibawa.

 

“Kasihan banget ya? Masih mudah udah mati” ucap Shanji sambil menutupkan koran di badan anak tersebut.

“Kita doa ‘in aja lah” sambung Aryo.

 

Saat mereka sedang berdoa bersama, anak tersebut bangun dan melihat ada Empat murid dari sekolah lain tengah mengelilinginya sambil berdoa. Murid tersebut pub bangun dan langsung sewot.

 

“Apa-apaan ini!?” ucapnya sambil menyingkirkan koran.

“Lah, kok masih hidup?” ucap Aryo.

“Gue kira tadi udah jadi bangke. Mati lagi dong, kaga asyik ah” ucap Shanji menutupkan kembali koran nya di wajah anak tersebut.

Anak tersebut berdiri, “awas lu pada!” dan berlalu meninggalkan mereka berempat yang sedang tertawa.

 

“Ah, kocak lu pada. Orang lagi tidur ditutup koran dikira mati. Hahaha” ucap Willy sambil melempar kaleng minuman.

“Pergi yuk, perasaan gue kaga enak nih” ucap Yogi sambil mengajak Tiga sahabatnya untuk segera pergi dari tempat itu tapi tak dihiraukan.

 

Sedang asyik bercanda. Dari arah gang muncul gerombolan anak-anak SMA dengan jumlah seperti mau tawuran. Terlihat juga di barisan paling depan berdiri seorang anak yang beberapa menit lalu  dikerjai oleh Shanji dan Aryo. Belum selesai sampai disitu. Dari arah belakang gerombolan datang Satu Preman menerobos dengan memegang kaleng minuman ditangan nya, “siapa yang tadi lempar pala gue pake ini kaleng!?”. Baik Shanji, Willy, Aryo dan Yogi tak ada yang menjawab, hingga anak yang mereka kerjai tadi angkat bicara, “yang jelas mereka pelakunya, bang. Tadi aja gue dikerjai mereka”. Keringat dingin dah.

 

“Aduh, bala nih…” pelan Willy.

“Gue kata juga apa. Tadi kan gue udah suruh pergi aja tapi lu pada malah cekikikan mulu” ucap Yogi.

“Udah, kita hajar aja bang ramai-ramai” kompor si anak yang tadi. Mereka semua mulai mendekat.

Shanji menghentikan langkah mereka, “weits entar dulu, kita belum siap nih”

“Oh, jadi lu mau siap-siap buat lawan kita dulu nih ? Yaudah buruan kita tungguin” ucap si Preman.

 

Shanji, Willy, Aryo dan Yogi meregangkan otot-otot mereka, memasang kuda-kuda dan…. Melarikan diri -_- . “WOI, BANG**T!” si Preman tampak menjadi lebih marah dari sebelumnya setelah melihat sasaran nya malah kabur. Dengan cepat mereka ikut mengejar dan terjadilah kejar-kejaran.

 

Sepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian karena Empat anak berlari kencang sedangkan di belakang nya dikejar oleh… sekitar Lima Belas orang. Apapun yang bisa menghambat pergerakan di belakangnya pasti mereka lakukan. Dari tong sampah yang di lempar. Kotak kayu yang di robohkan dari susunan nya. Cukup lama mereka main kejar-kejaran hingga dari kedua belah pihak mulai kecapaian dengan di tandai nafas yang tak karuan keluar masuknya.

 

“Berhenti!” perintah Aryo.

“Hosh…lu, hosh… pada haus kaga?” sambungnya.

“Lari-larian dari tadi ya jelas kita haus lah” jawab si Preman.

“Yaudah, ini kan ada tukang es Cendol kita minum, istirahat dulu”

“Tapi lu yang traktir mah boleh” ucap anak SMA yang dikerjai tadi.

Aryo mengacungkan Jempol, semua bersorak, “YEEAAHHH!!!”.

 

Mereka duduk berdampingan. Sembari menunggu pesanan es Cendolnya mereka saling mengobrol dan berkenalan Satu sama lain. Dan dari obrolan tersebut akhirnya mereka mengetahui nama dari anak yang dikerjai tadi bernama Sigit dan nama Preman yang terkena timpukan kaleng dari tendangan Willy bernama Gatot. Selama menghabiskan minuman Cendolnya, mereka saling tertawa menikmati lelucon yang dibuat dari kedua belah pihak. Absurd banget emang ini Story, tapi nikmatin aja lah.

 

Tak disangka, ternyata Gatot malah curhat kepada Willy, Shanji, Aryo dan Yogi. Dia bercerita bahwa kariernya sebagai Preman bermula saat dirinya ditinggal pergi oleh sang istri gara-gara Gatot dikira main seleweng dengan wanita lain. Ya, walau sampai sekarang belum cerai, masih status suami istri. Hari itu pikiran nya kalut, ia bingung. Hidupnya tak jelas setelah hal itu dan tanpa sadar ia terdampar di Terminal dan menjadi seorang Preman. Kariernya sebagai Preman juga tak semulus Paha Member Yeketih. Karier Preman nya banyak diterpa oleh Isu-isu tak enak. Dari dirinya pernah di gosipkan nyolongin tutup pentil Bus. Dia bercerita sambil mrebes mili (nangis). Tapi semua kejadian itu oleh Gatot di anggap sebagai ujian. Buah dari kesabaran nya itu, kini ia telah menjadi ketua Preman di Terminal tersebut dan bahkan sekarang banyak orang yang takut dengan dia.

 

Dengan nasihat yang diberikan Shanji, Willy, Aryo dan Yogi. Akhirnya Gatot pun mulai sadar dan dengan tersenyum dan menyalami Empat Sahabat itu. Setelahnya ia pamit untuk kembali ke Terminal mengemasi barang-barangnya dan ia ingin pulang ke kampung halaman untuk mengajak sang istri rujuk kembali.

 

Setelah Gatot pergi, Aryo membayar semua Cendol yang dipesan. Saat membayar terlihat raut wajah kang Cendol nya memancarkan aura kegembiraan. Ya jelas lah, orang diborong. Mereka kembali melakukan kesepakatan.

 

“Tadi lu pada berdiri disitu dan gue berdiri disitu. Kita mulai kejar-kejaran lagi setelah gue bilang mulai, ya” ucap Willy.

“Oke, tenang aja bro” jawab Sigit dan diikuti anggukan oleh teman-teman nya.

“Siap?” tanya Shanji memastikan.

“SIAP BOS!”

 

“…MULAI!!” seru Empat sahabat itu.

 

“Bocah gendeng. Barusan minum, canda bareng. Sekarang musuhan lagi” gerutu penjual Cendol.

 

Aksi kejar-kejaran pun kembali dilanjutkan setelah tadi mengalami jeda istirahat beberapa saat. Di tengah pelarian mereka menemui Pertigaan. Kali ini kelompok di bagi dua. Shanji dengan Aryo masuk ke gang sebalah kanan. Sedangkan Willy bersama Yogi masuk ke gang kiri. Begitu juga yang mengejar di belakang nya namun, mereka membagi nya menjadi Tiga kelompok. Kelompok Satu ke kiri, Dua ke kanan dan Tiga lurus ke depan.

 

“Yo! Berhenti, yo”

“Ada apaan sih?!”

“Lu kaga sadar? Ini udah mentok jalan nya. Kalo dilanjut pasti bakal ketahuan kita”

“Lah terus gimana?”

“Otak lu jalan napa. Ini kan ada pohon Mangga gede, lebat lagi (apanya? :v ). kita naik pohon ini aja lah”

“Cemerlang, nji” mereka pun naik ke atas Pohon Mangga tersebut dan ternyata keberuntungan buat mereka berdua. Selain dari bawah sulit diliat, diatas juga ternyata pohon tersebut sedang berbuah.

 

Kembali ke nasib Willy dan Yogi. Pergerakan mereka mulai terpojok. Di belakang terlihat Sigit mulai terlihat. Sedangkan di depan cuma terdapat satu belokan gang sempit. Ujung belokan pasti mereka akan bertemu dengan gerombolan yang lain. Situasi saat itu sama saja mundur kena, maju kena. Dengan pasrah Willy dan Yogi malah jongkok menanti Sigit datang.

 

“Nah kena juga lu. Hahaha” ucap Sigit.

“Iya nih” balas Yogi.

“Diem lu, gi” bisik Willy sewot.

“Udah lah git, kita bawa aja mereka ke pojok belokan itu. Kalo kita gebukin disini yang ada bakal ketahuan warga” usul salah satu teman Sigit.

“Yaudah, seret mereka” perintah Sigit dan teman-teman nya pun mendekati Yogi dan Willy dan mereka pun digiring ke gang depan.

Yogi sedikit memberontak, “gak usah kasar bisa gak sih? Aku bisa jalan sendiri kok”

“Nih anak…” batin Willy dongkol.

 

Setibanya mereka di ujung belokan gang, mereka bertemu dengan kelompok Satu dan Tiga. Tapi dari kedua kelompok tersebut tak terlihat adanya Shanji dan Yogi. Salah satu anggota dari kelompok tersebut berasumsi bahwa Aryo dan Shanji mungkin berlindung di salah satu rumah warga.

 

“Yaudah biarin yang itu. Yang penting kita dapat Dua teman nya” ucap Sigit.

“Git, kita gebukin di bawah pohon Mangga itu aja yang sepi dan tempatnya juga kan tertutup” usul teman nya menunjuk sebuah pohon Mangga yang besar dan berdaun lebat.

 

Willy dan Yogi digiring ke bawah pohon Mangga dan di mulailah mereka di gebukin beramai-ramai. Dari tinjuan hingga tendangan mereka rasakan di sekujur tubuhnya. Mereka hanya bisa menekuk tubuhnya melindungi dari serangan. Disaat serangan yang didapat mulai melunak tanpa sengaja pandangan Willy menangkap Dua sosok anak manusia sedang menonton dirinya dan Yogi yang tengah dihajar beramai-ramai. Dua anak tersebut nangkring dengan tenangnya sambil memakan buah Mangga. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Shanji dan Aryo. Dilihatnya mereka malah menahan tawa di atas pohon.

 

“Si anjir, yang buat ulah mereka gue yang di gebukin. Gue di gebukin malah merek enak-enakkan nongkrong diatas pohon liatin sambil makan Mangga. Teman macam apa itu” batin Willy melihat tingkah kedua sahabatnya, namun di dalam batin nya dengan tawa.

 

Sementara itu di samping Willy terdapat Yogi yang tak kalah sama juga nasibnya. Namun, lagi-lagi Willy dibuat dongkol dengan reaksi Yogi. Saat Yogi di hajar malah keluar suara aneh, “ooohhh… Yess… Ohh noooo…”. suara rintihan Yogi saat di keroyok.

 

“Terserah dah samak ini anak” batin Willy putus asa.

 

“Yaelah, kebanyakan nonton Braz**r tuh” bisik Shanji ke Aryo mengomentari Yogi dari atas.

 

Sigit memerintahkan teman-teman nya untuk berhenti. Ia pikir pelajaran yang ia kasih kepada Willy dan Yogi telah cukup. Sigit dan yang lain membuka tas nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Lembaran koran yang ia keluarkan kemudian di tutupkan nya ke badan Willy dan Yogi. Sigit berdalih itu balasan atas ulah mereka tadi padanya. Dan setelahnya Sigit beserta yang lain pergi meninggalkan Willy dan Yogi yang telah ditutup koran.

 

Di rasa telah aman. Shanji dan Aryo pun turun dari atas pohon dan mendekat ke arah kedua teman nya. Mereka berdua jongkok memandang tubuh yang di tutup lembaran koran.

 

“Kasihan ya, yo. Masih muda udah mati” ucap Shanji mengulang kalimat yang ia gunakan saat untuk Sigit.

 

Willy menyibak koran yang menutupi tubuhnya. “Eh, Kutil Kuda! Gue masih hidup” sewot Willy.

“Gue kira udah jadi bangke, wil” canda Aryo menanggapi.

“Tolongin gue…” ucap Yogi yang hampir terlupakan.

 

Dengan di papah. Shanji dan Aryo membawa mereka pulang. Ditepi jalan mereka menunggu angkot tapi tak kunjung ada hingga sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka. Pintu belakang terbuka dan dengan jelas memperlihatkan kaki putih. Kaki dari seorang wanita. Wanita tersebut mendekat dan menyadarkan pikiran keempat sahabat itu.

 

“Hei, kalian kenapa?” tanya nya.

“Eh, Ve…” sadar Willy.

“Loh, kamu kenapa sayang?” Ve yang baru menyadari langsung panik melihat wajah pacarnya terdapat banyak luka lebam.

“Jatuh dari angkot” celetuk Aryo.

“Yaudah, aku anterin pulang yuk. Tapi sebelumnya kamu sama Yogi harus di obati dulu dan harus nurut!”

“Tapi memangnya cukup semua masuk ke mobil lu?” tanya Shanji.

“Cukup kok, biar aku duduk depan dan kalian belakang”

 

Di kediaman rumah Ve kini Willy tengah di obati oleh Ve. Cukup banyak luka lebam yang Willy dapatkan. Dengan telaten Ve membersihkan luka Willy dengan kapas campur Alkohol dan membilasnya dengan handuk yang telah dicelupkan ke air hangat. Sementara Yogi lebih memilih menunggu Yona yang akan membersihkan lukanya. Yona, Shani dan Desy telah dikabari dan mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Ve.

 

Tak berselang lama ketiga cewek yang di tunggu pun datang. Mereka menghambur ke arah cowoknya. Terlihat ke khawatiran Yona sama dengan Ve pada saat bertemu tadi di jalan. Sedangkan Shani dan Desy malah heran melihat cowoknya tampak baik-baik saja dan tanpa ada luka lecet/lebam. Setelah kedua nya selesai di obati. Shanji dan Aryo menceritakan kejadian siang itu.

 

“Hahaha…Jahat banget sih kamu, yang” respons Shani saat mendengar cerita dari mulut Shanji.

“Iya, kamu juga” ucap Desy pada Aryo.

“Hiburan” balas Shanji dan Aryo bersamaan menanggapi komentar kedua pacarnya tersebut.

“Hiburan pala lu” sewot Willy.

Ve memegang kepala Willy, “udah jangan marah-marah mulu, nanti perban nya copot”.

 

Willy kaget saat tangan halus Ve menyentuh kulit kepalanya. Willy yang tadinya sewot pun kini mulai terlihat tenang saat pandangan mereka bertemu. Suasana hening seakan orang-orang yang berada di ruangan tersebut memberi ruang untuk mereka berdua. Willy memegang salah satu tangan Ve yang berada di Jidatnya. Dengan gerakan perlahan, Willy menuntun tangan Ve untuk bergerak mengikuti instruksinya. Ve menurut. Terlihat pipi Ve yang mulus mulai memerah. Semakin merah saat Willy mengarahkan tangan Ve pada bibir Willy. Dengan lembut Willy memainkan jari-jari Ve dan, “iissshhhh…JOROK!” Pekik Ve sambil refleks menarik tangan nya dari genggaman Willy diakibatkan salah satu jarinya oleh Willy dimasukkan ke dalam lubang hidung.

 

“Anjir, ngerusak momen aja lu. Gue kira mau ngapain. Eh, malah disuruh buat ngupilin. Parah lu” seru Shanji.

 

Setelah kelakuan Absurd yang Willy buat suasana yang tadinya hening berubah menjadi berisik kembali. Hari itu, di rumah Ve mereka saling bercerita. Entah apa yang diceritakan hingga waktu terasa begitu cepat. Mereka pamit dari kediaman Ve saat malam menjelang.

 

Pagi nya di sekolah. Pagi itu pelajaran pertama diisi oleh mata pelajaran Matematika namun, dikarenakan pak Undi berhalangan jadi wali yang mengajar mata pelajaran tersebut untuk sementara di ganti oleh Bu Melody. Seorang guru BP perempuan. Kali ini Matematika tak sesuram seperti biasanya. Apalagi kalau bukan gara-gara adanya Bu Melody yang cantik dan…. Ahhhh. Sepanjang pelajaran berasa angin sejuk masuk menerpa pori-pori setiap murid di dalam kelas.

 

Bu Melody mencoba memberikan pertanyaan gampang. “Berapakah hasil dari 125×4:6-50 ?”. Namun semua diam.

“Pertanyaan macam apa itu?” Gerutu Yogi.

“Baik, Shanji coba kamu jawab” tunjuk Bu Melody pada Shanji yang terlihat asyik menatap kolong mejanya.

“Eh? Saya gak tau, Bu” Bu Melody mengerutkan dahinya.

Shanji melanjutkan, “saya ga tau kenapa ibu begitu cantik”

 

“WUG! WUG! WUG!” dan, “TAK!”. Sebuah Spidol mendarat mulut di kepala Shanji.

 

Bu Melody berjalan ke arah Willy. ” kamu, muka gorengan jawab pertanyaan ibu. Berapa hasil dari 9x9x9x6:6 ?”

Bu Melody tepat berada di depan Willy, “Busetttt kurang gede, bu!!”

 

Sebuah Jitakan keras di dapat oleh Willy. Sambil mengelus kepalanya yang sakit. Willy dapat melihat bu Melody berjalan ke arah Aryo. “Ok, sekarang kamu muka Jamban.. berapa hasil dari 896×7:7×2??”. Tapi dikarenakan Aryo sedikit agak lama menghitung jadinya bu Melody berpindah lagi ke Yogi.

 

“Nah sekarang kamu, 5+5 ??” (WTF!!?)

“Jawaban saya sama kaya yang lain bu, gak tau” jawab Yogi.

“Soalnya ibu terlalu sering berputar di kepala dan pikiran saya, saking sering dan banyaknya saya jadi gak tau, bu” sambung Yogi.

“Oouh so Sweet banget kamu.. MMuuaaccchhh”

 

Tanpa di duga respons yang diberikan kali ini pada Yogi berbeda dengan sebelumnya. Bahkan, yang lebih membuat kaget dan panas siswa cowok ketika bu Melody mencium pipi Yogi.

 

“Hahaha… Sabar Wil, sabar” ucap Shanji menenangkan Willy sembari menahan Willy yang berontak ingin berdiri dari tempat duduknya.

“Lepasin ane, lepasin ! Lama-lama pengen gue Gebukin aja nih Guru sama si kampret”

 

Proses belajar terus berlanjut. Bu Melody memberikan sebuah soal untuk dikerjakan. Sepuluh soal Matematika harus selesai dalam Lima belas menit. Sementara Bolpoin milik Shanji dan Willy tanpa disadari isinya telah diganti habis entah oleh siapa. Dengan gelisah mereka berdua meminjam kesana kemari namun, semua menggeleng berdalih hanya memiliki satu buang. Harapan tinggal harapan. Hanya Yogi yang belum ditanyai. Yogi mempunyai Dua buang dan mereka harus berebut. Di depan nya, Desy yang melihat raut wajah Yogi termenung lalu bertanya.

 

“Kenapa lu, gi?”

“Gue lagi mikir. Kalo dipikir pulpen gue kasihan juga nasibnya. Gue ngrasa pulpen gue itu hina”

“Hina?”

“Ya, hina. Pulpen gue berasa kaya Jablay digilir sana sini buat rebutan” ucap Yogi sambil melihat Shanji dan Willy yang tengah rusuh.

 

“Ini pulpen milik gue”

“Apaan gue yang duluan. Gue dulu yang pake baru lu”

“Ogah gue kebagian sisa lu. Lu yang habis gue make nya”

 

Desy menatap Yogi dengan ekspresi datar dan kembali menghadap ke depan.

 

Setelah selesainya pelajaran Matematika, seisi kelas berhamburan keluar ruangan dikarenakan jam kosong. Jam kosong lagi ? Ya begitulah. Ambil saja kejadian tersebut sebagai berkah untuk semua murid. Bingung dengan suasana yang ada. Shanji, Willy, Yogi dan Aryo berinisiatif untuk mengisi jam kosong dengan pergi ke area lapangan bola. Mereka mengajak teman nya yang lain untuk bermain bola. Pemain dari kedua kubu telah lengkap dan siap untuk memulai permainan. Namun, dari kejauhan terlihat sesuatu yang melambai-lambai, pohon kena angin kah ?? bukan… lalu apa ??? Sempak yang nyangkut di ranting pohon?.

 

Terlihat sesosok makhluk dengan bentuk seperti manusia tengah melambai dari kejauhan seakan mengenal anak-anak yang berada di tengah lapangan dan dengan spontan mereka semua yang bingung untuk siapa lambaian tersebut malah membalas lambaian dengan melambai balik. Beberapa saat. Dikarenakan pintu samping terbuka, maka orang tersebut masuk ke dalam area sekolah, area lapangan. Kemudian orang itu mendekat dan memberikan KITAB SUCI  uluran tangan nya mengajak bersalaman. Semua di salami satu persatu (berasa main bola di pertandingan asli) tak terkecuali dari Shanji, Willy, Aryo dan Yogi yang dengan polosnya menyambut salaman itu. Setelah bersalaman, orang itu pun pergi. Udah kaya Jalangkung aja. Berapa saat kemudian keanehan pun terjadi.

 

“Bentar…bentar, itu tadi sodara lu bukan?” tanya Willy pada Yogi.

Yogi menggeleng, “lah, gue kira itu temen lu”

“Lu kenal kaga, nji?”

“Apalagi gue, wil. Gue malah kira lu pada yang kenal. Terus ngapain lu pada salaman??”

 

Di tengah berjalan nya babak pertama. Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan melintas di tengah lapangan dengan berlari. Dengan diamati ternyata bayangan tersebut berasal dari orang yang tak di kenal tadi. Ini Satpam kemana sih?

 

Dari cara perilakunya ternyata itu tak dikenal itu orang gila. Namun, untuk ukuran orang gila pakaian yang dikenakan lumayan rapi seperti layaknya orang normal biasa. Berbeda dari yang pertama. Dilihat kini di dadanya tergantung Name Tag dari kardus layaknya murid MOS. Tertulis “IDO”.

 

Aksi si orang gila berlanjut. Saat itu Aryo yang sedang berdiri di pinggir lapangan sedang menenggak botol air mineral sambil dirinya menghadap ke arah penonton, para murid cewek. Tak sadar jika Ido mendekat ke arahnya. Beberapa kali diperingatkan oleh para siswi cewek, namun Aryo malah pasang posisi Stay Cool. “Jleb!”. Raut wajah Aryo yang tadinya menampakkan pesonanya, kini raut wajahnya berubah meringis seperti menahan sakit. Gimana tak sakit, Ido dari belakang memposisikan dirinya berjongkok dan kedua tangan nya disatukan seperti tangan bertapa dan kemudian tangan nya ia gunakan untuk menembak pantat Aryo, tepat di tengah.

 

Ido berlari mengelilingi lapangan sambil berteriak tak jelas. Ia berhenti di tengah lapangan bola dan mulai menari Gangsenggol Style. Dari kejauhan, Shanji muak dengan tingkah Ido perlihatkan. Ia berjalan ke sudut lapangan sambil membawa bola. Ia letakan bola tersebut dan dengan instingnya ia mulai membidik. “BUG!” Tendangan ia lancarkan. Menukik tajam ke arah kepala Ido. “BLETAK!” Ido tersungkur di lantai lapangan. Tak lama kemudian Satpam datang dan membopongnya ke luar area Sekolah.

 

“Good job, boy” ucap guru Olahraga yang melihat tindakan Shanji. Absurd dan bisa dibilang keterlaluan memang tapi tetap mendapat apresiasi. Semua siswa yang melihat bersorak. Sebuah sorak bukan karna gol yang tercipta tapi, sebuah pendaratan tepat di kepala Ido. Sehingga ia tumbang.

 

Suara ramainya sorakan terjadi di tempat itu. Shanji di angkat oleh para teman nya seakan-akan ia seorang pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang. Bisa dilihat, di luar sana Ido dengan penampilan berbeda kembali. Ia hanya menggunakan celana kolor melihat ke arah Shanji dari balik pagar sekolah.

 

Saling pandang. Kedua nya malah tertawa. Yah, malah ikutan gila si Shanji. Dengan hanya menggunakan kolor, Ido sedikit mundur dari posisi berdirinya. Raut wajahnya masih tergambar raut orang tertawa. Tangan nya masuk ke dalam celana kolor dan tangan satunya ia gunakan untuk memberi sebuah kode hadiah untuk Shanji.

3

Shanji yang mendapatkan jari tengah dari Ido meminta pada teman nya untuk diambilkan botol minum milik Aryo. Terlihat juga Aryo terkapar di pinggir lapangan dan mulai di tutupi koran oleh siswa lain nya.

 

“Sini botolnya cepet! Keburu itu makhluk hilang”

“Pengen gue lenyapin itu makhluk” imbuh Shanji.

 

Sebuah botol berwarna Ungu yang Shanji dapatkan. Bukan nya botol Aryo warna nya Merah ? Bodo amat pikir Shanji yang penting benda itu bisa ia gunakan. Shanji di turunkan dan mengambil ancang-ancang dan… Botol tersebut melayang jauh keluar area sekolahan. Namun, Ido bisa menghindarinya. Botol yang dilempar mendarat ke tiang kabel dan pecah. Di luar Ido mengejek Shanji atas lemparan yang meleset.

 

“Eh lu, sini !” panggil Shanji pada anak yang mengambilkan botol tadi.

“Botol punya Aryo kan merah. Kenapa lu ambil botol warna Ungu? Nyomot punya siapa lu?”

“Tadi kan lu suruh buat cepetan sedangkan posisi botol Aryo diletakan jauh. Pas gue mau kesana, gue liat adik kelas kita si Gracia bawa botol mineralnya. Posisi dia mau minum tapi gue ambil aja setelah gue denger lu teriak buat cepetan” terangnya.

“Mati gue…” Batin Shanji lalu menyapu pandangan nya ke seluruh penjuru lapangan.

 

Tak terlalu jauh dari posisinya berdiri. Shanji bisa melihat Gracia yang tengah melihatnya dengan tajam namun terkesan dingin. Marahkah dia ? Pasti. Shanji tersenyum ke Gracia namun dibalas…

4

Untuk kedua kalinya di hari itu, Shanji mendapatkan Dua acungan jari tengah. Heahh…

 

Bunyi suara kebebasan terdengar. Semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing dan mengambil tas mereka untuk pulang. Semua kejadian hiruk pikuk bak sekolah Genji tadi pun hilang. Area sekolah mulai sepi dengan perlahan.

 

“Entar malam pada kumpul di rumah gue, main PS” ajak Yogi.

“Ayok, palingan lu kalah lagi, gi” balas Aryo dengan semangat setelah dirinya tepar mendapat serangan dari Ido.

“Kayaknya gue kaga bisa deh. Entar malam gue ada janji sama Shani mau jalan” tolak Shanji.

“Gue juga kaga bisa ikut nih. Nanti malam Ve katanya mau ajak gue ketemuan, katanya ada yang mau di omongin ke gue” tolak Willy juga.

“Yaudah deh, kaga papa. Have Fun buat nanti malam ya” ucap Yogi dan Aryo. Mereka berjalan bersama meninggalkan sekolah untuk pulang.

 

Malam hari. Dengan Jas berwarna putih, memakai sepatu Pantofel dan celana panjang yang serasi dengan jas yang dipakai. Willy duduk di salah satu Cafe menunggu seseorang. Lima menit, terlihat dari pintu yang dibuka sosok Ve masuk dengan pakaian Dress nya yang membuat kecantikan dirinya berlipat.

 

Willy memundurkan kursi, mempersilahkan untuk Ve duduki. Ve tersenyum manis ke arah Willy. Mereka memesan makanan dan setelahnya mereka makan berdua dengan suasana romantis. Ve terlihat akan memulai pembicaraan nya.

 

“Katanya ada yang mau di omongin?” tanya Willy halus sambil memegang kedua tangan Ve.

Ve menghela nafas dan mulai berbicara. Semudah mungkin supaya bisa dicerna oleh Willy.

 

 

Waktu berjalan seakan lebih cepat. Di bangku Kantin Sekolah keempat Sahabat terlihat berkumpul. Diatas meja seperti biasa telah dipesan gorengan. Hobi bener sama gorengan?

 

“Lu pada tau kaga? Semalam gue bantai Yogi terus” ucap Aryo sambil tertawa.

“Gue ngrasa kaga enak aja sama lu, yo. Masa tuan rumah yang menang ? Kan kaga sopan namanya”

“Ngeles lu, gi. Kalah ya kalah. Hahaha” saat Aryo sedang tertawa, Yogi menyikut lengang Aryo supaya diam dan melihat ke arah dua sahabatnya yang tengah diam sedari berangkat sekolah.

 

“Lu lagi pada kenapa sih?” Tanya Aryo memastikan. Willy menggeleng sementara Shanji diam tapi mulutnya bekerja mengunyah gorengan.

“Kalo ada masalah cerita ke kita napa? Kita sahabatan dari kecil. Suka duka kita rasain bareng” ucap Yogi.

Willy menegapkan badan nya, “gue semalam putus sama Ve”

 

Shanji yang mendengar ikut menegakkan badannya.

 

“Kok bisa?” Tanya Aryo.

Willy menghela nafas, “lu pada tau sendiri kan semalam gue jalan sama Ve. Kita janjian di sebuah Cafe. Setelah makan selesai dia malah bilang putus. Alasan nya sih simpel, gue juga ngertiin dia. Dia kan udah kelas Tiga dan dia bilang mau fokus belajar dulu” jelas Willy.

“Berarti habis UN bisa sambung lagi dong?” tanya Yogi.

“Kalo itu belum tau, gi”

“Kalau jodoh gak bakal kemana, wil. Gue yakin lu bisa bareng sama dia lagi karena gue yakin Ve juga sayang sama lu”

“Ya, semoga aja”

 

Pandangan beralih ke Shanji.

 

“Lah, kalo lu kenapa, nji?” Tanya Aryo.

“Sama gue kaya Willy, cuma beda penyebab doang”

“Lu putus juga sama Shani?!” Kaget Willy. Shanji mengangguk.

“Kenapa?” tanya Aryo.

“Gara-gara Popcorn” jawab Shanji. Semua tampak bingung mendengarnya.

“Gue ngajak Shani nonton film komedi “Cek Kamar Mandi Tetangga”. Nah pas lagi nonton itu masalahnya dimulai. Gue kan lagi makan Popcorn dia tiba-tiba narik gue keluar dari dalam Theater. Salah gue dimana coba? Pikir coba, di Bioskop makan Popcorn kan bisa dibilang kewajiban tapi bisa juga Sunah kan tapi gue malah di caci maki…”

“Gue dikatain kampungan, keturunan Gen anak kost lah dll. Maksudnya apa coba?!”

“Gue dikata-katain kaya gitu ya gue ikut emosi dong. Terus dia bilang putus, yaudah fine! Gue juga bilang gak papa putus sama lu. Gue juga katain dia cewek norak!”

“Kok bisa cuma gara-gara Popcorn masalah jadi ribet gitu? Sampai putus lagi” tanya Yogi.

“Kaga tau, dia yang kampungan kali baru pertama kali ke Bioskop!” sulut Shanji.

“Lu pas makan Popcorn nyuapin ke cewek sebelah lu kali makanya dia cemburu terus narik lu keluar atau pas Shani minta kaga lu kasih?” selidik Willy.

“Lu kan dah pada tau sifat gue dari kecil kan? Gue kalo makan apapun pasti pake nasi. Gue makan mie instan mentah aja campur pake nasi” ucap Shanji.

Aryo menghela nafas panjang, “Jangan bilang lu makan Popcorn pake nasi”

“Iya gue makan Popcorn nya pake nasi. Emang dasar tuh si Shani kampungan, udah untung gue ajak nonton sama gue bayarin, malah mengata-ngatai gue”

 

Aryo mengambil ponselnya dan sedikit mengutiknya.

 

##

Betapa hatiku takkan pilu

Telah gugur pahlawanku

Betapa hatiku tak akan sedih

Hamba ditinggal sendiri

 

Siapakah kini pelipur lara

Nan setia dan perwira

Siapakah kini pahlawan hati

Pembela bangsa sejati

**

 

Shanji merebut ponsel Aryo, “ngapain lu play lagu Gugur Bunga, kamprettt” ucap Shanji dengan sewotnya.

“Au, gue malas denger cerita lu” ucap Aryo dengan mimik wajah tertawa.

“Belang lu Gre noh lagi kemari. Kayaknya dia marah gara-gara botol minumnya kemarin lu buang sampe pecah” ucap Yogi.

“Run, nji! Run!” Seru Willy memerintahkan Shanji untuk segera berlari.

“Ini bayarin lu dulu ya, gue mau kabur dulu” ucap Shanji dan berlari.

 

“SHANJJIIIII…” Teriak Gracia saat melihat sasaran nya kabur. Gracia ikut berlari mengejar.

 

“Buset tuh anak larinya kayak Flash” ucap Willy.

“Hahaha…” Ketiganya tertawa melihat Shanji dan Gracia yang tengah kejar-kejaran.

 

Awal yang absurd. Pertemanan yang absurd. Tingkah laku hidup, sifat yang absurd. Dan akhir yang absurd pula. Semua tertulis dalam buku kehidupan, buku dengan banyak coretan dan tipe-x akibat salah menulis kisah absurd yang berantakan. Sekian kisah ini dirangkai karna telah kehabisan lembar kosong terakhir dalam buku. Kita tutup kisah ini dengan sampul bertuliskan…

 

 

 

 

-THE END-

 

 

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

Kritik saran di perlukan. Tulis di kolom komentar atau melalui Twitter @ShaNjianto terima kasih sudah membuang waktu anda untuk membaca cerita tak penting ini. Maaf jika masih banyak Typo yang terlewatkan. See You Next Time! Dari Dora The Eksplorer…

 

Twitter : @ShaNjianto

Iklan

9 tanggapan untuk “Four Bala “The Resistance”

  1. Nasib karakter Shanji & Willy kelihatan paling sengasara ya diantara yang lain 😅😂

    Di tunggu cerita dalam versi lainnya. Salam kenal ZeeLen 😉😉😂✌

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s