This is My Life, part 8

Sekarang sudah jam 10.00 dan gue terpaksa harus ke kampus gegara kak
Sendy dan sekarang gue lagi jalan menuju ruangan BEM. Mau tau kenapa
gue ke ruangan BEM padahal bukan anggota BEM? Mau tau? Mau tau?
Okelah kalo pada mau tau, gue putar ke beberapa jam yang lalu. Cekidot.

Flashback On…
“Widih, kakak-kakakku yang cantik menawan. Kaga ngampus kak?” Tanya
gue saat sudah di meja makan.
“Kakak sih hari ini free tapi kalo Sonya ada katanya agak siangan, ya
kan Son?” Ujar kak Sendy. Kak Sonya hanya membalas dengan anggukan
saja.
“Sip-sip.”
“Chan, kakak mau ngomong sama kamu. Kemaren kakak ada rapat BEM di
kampus untuk membahas pengganti kakak sebagai ketua BEM dan ada
beberapa kandidat yang maju dan salah satunya itu kamu,” ujar Kak
Sendy.
“Hah? Why me? Siapa yang nyalonin? Perasaan aku gak ada nyalonin jadi
ketua BEM deh,” ujar gue bingung.
“Kemaren kakak nyaranin kamu buat jadi ketua BEM dan anak-anak juga
setuju-setuju aja,” balas Kak Sendy.
“Kaga-kaga, aku gak mau jadi ketua BEM cukup jadi ketua Club DR aje,”
tolak gue yang gak setuju dengan keputusan sepihak dari kak Sendy.
“Why not? Padahal jadi ketua BEM enak loh bisa nambah-nambah nilai
kamu,” ujar kak Sendy.
“Kuliah sehari-hari aje kadang keteteran apalagi ditambah jadi ketua
BEM mana bentar lagi penerimaan mahasiswa baru lagi,” ujar gue.
“Justru bentar lagi penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru makanya kakak
mempromosikan kamu,” balas Kak Sendy.
“Ogah, baik aku ke kantor,” ujar gue.
“Ayolah chan, gak merugikan juga kan buat kamu. Hitung-hitung cari
pengalaman kan?” Ujar Kak Sendy dengan tampang melas.
“Lo gak usah buat tampang gitu ya kak,” ujar gue. “Oke-oke, aku mau.
TER-PAK-SA,” tambah gue dengan penekanan.
“Nah, gitu dong. Sekarang juga kamu ke kampus buat ikut tes,” ujar kak
Sendy yang kembali dengan senyuman manisnya.
“Dih, mending aku ke kantor kan aku bilang. Disana enak ada AC, wifi,
makanan dibelikan,” ujar gue santai.
“Cepat! Sekarang juga kamu ke kampus dan langsung ke ruangan BEM,”
ujar Kak Sendy sedikit membentak.
“Apaan sih? Santai aja kali, gue perkosa juga lo gak lama.” Gue
membalas perkataan kak Sendy dengan sedikit kesal.
Setelah itu gue berjalan ke garasi dan masuk ke mobil.
“Chan, kakak ikut sekalian sama kamu ya. Dan selesai tes kamu ikut
kakak ada yang mau kakak bicarain,” ujar Kak Sonya yang tiba-tiba
masuk ke mobil gue.
“Terserah.”

Flashback Off…
“Sekarang kakak mau tanya sama kamu. Kenapa sikap kamu begitu pas
dites? Kaya gak ada sopan santunnya pake nyolot-nyolot sama
seniornya,” ujar Kak Sonya yang terlihat marah.

Gue sekarang sudah berada di dalam cafe yang letaknya agak jauh dari
area kampus.
“Jawabannya simple kak, karna aku gak suka diperlakukan layaknya
binatang yang bisa dibentak-bentak. Aku punya pendirian dan aku
sensitif sama orang kaya gitu,” balas gue santai dengan sorot mata
tajam.
“Tapi kamu diajarin sopan santun kan di sekolah dan sama orang tua
kamu?” Tanya Kak Sonya gak kalah tajam.
“Kenapa bawa-bawa orang tua aku? Dan perlu kakak tau aku begitu karna
paling gak suka digitukan apalagi sama orang baru, dan pemikiran aku
seakan mereka berkuasa atas juniornya,” jawab gue.
“Kenapa kamu sampe berpikiran begitu?”
“Karna aku gak suka sama cara mereka aja. Dan perlu kakak tau aku
paling gak suka sama organisasi begitu, menurut aku disitu kebanyakan
diisi oleh orang munafik yang mau balas dendam ke junior mereka waktu
ospek berlangsung dan biar dikenal aja.”
” Kenapa kamu punya pemikiran begitu? Berarti secara gak langsung kamu
juga bilangin kakak dan Sendy itu sebagai orang munafik.”
“Loh, aku gak ada bilangin kakak begitu. Kan aku cuman bilang
“kebanyakan” bukan “hanyalah”, kalo kakak merasa dengan perkataan ku
tadi berarti kakak juga termasuk orang begitu.”
“Dan kalo kenapa aku bisa punya pemikiran begitu, aku sudah sering
nemuin hal kaya begitu. Kalo niat mereka gak mau balas dendam kenapa
harus disuruh pake perlengkapan inilah itulah beginilah begitulah?
Kalo kakak gak merasa orang yang seperti aku sebutkan tadi coba jawab
pertanyaan aku tadi.”
“S-supaya mereka bisa-”
“Gak bisa jawab kan? Aku bingung kenapa selalu begitu saat kegiatan
ospek berlangsung mau itu SMP, SMA atau kuliah sekalipun padahal sudah
jelas gak ada faedahnya. Oya, apakah ospek dengan cara begitu bisa
menjamin kesuksesan seseorang di masa depan? Beda sama di Finladia
atau negara-negara lain mereka ospeknya gak pake begituan tapi cuman
mengenalkan lingkungan sekolah dan memberikan edukasi kepada juniornya
dan juga itu dilakukan kebanyakan oleh guru tapi nyatanya mereka
terjamin kesuksesannya dan itu sudah terbukti.”
“Hah, terserah kamu deh maunya apa. Kakak gak kuat buat debat sama kamu.”
“Oke, sekarang gini aja. Aku bakal tetap ikutin permintaan kalian buat
jadi ketua BEM tapi jangan salahkan aku kalo berubah drastis dari
sistem yang kalian buat.”
“Sekarang kakak mau disini atau mau pulang?”
“Antar kakak pulang aja.”

(***)
Untuk menghilangkan stres dan melupakan perdebatan kecil antara gue
dan Kak Sonya tadi, gue memutuskan untuk ke tongkrongan DR aja sekedar
minum-minum dan ngerokok.
Gue sudah sampai di depan tongkrongan Club DR, gue liat disitu ada
beberapa orang. Ada Lukman, Andi, Bang Robby, Putra, Lucas, ada Budi
juga dan beberapa anggota lain. Gue liat ada satu wajah yang asing
yang sekarang ikutan gabung di Club DR, memang sih gue denger dari
Rifa’I kemaren kalo ada anggota baru yang baru masuk beberapa minggu
lalu.

“Yo, whatsup guys. Assalamualaikum,” sapa gue ke anak-anak Club.
“Whatsup san. Waalaikumsalam.”
“Oya, San. Ini kenalin dulu anggota baru Club kita, namanya Isra
Winaldy. Dia baru gabung beberapa minggu lalu,” ujar bang Robby.
“Oh, hallo. Kenalin gue Ikhsan, gue ketua di Club DR.”
“Gue Isra Winaldy bang.”
“Jangan panggil bang, masih mudaan gue hahahaha,” ujar gue sambil tertawa gaje.
“Hahahaha.. Oke san.”
“Tumben banget lo masih siang udah kesini. Kaga kerja atau kuliah lo?”
Tanya bang Robby.
“Lah, lo sendiri kaga kerja bang,” tanya balik gue.
“Nah, itu. Gue mau ngomong sama elo, tapi ntar aja deh. Enak kalo
bicara berdua kalo disini masih ada para cecurut kampret,” jawab bang
Robby.
“Elo yang kampret bang,” celetuk Lucas dan cukup membuat kita semua terkekeh.
“Dih, beraninya ngatain kampret sama yang lebih tua,” balas bang Robby
sambil menjitak kepala Lucas.
“Sakit anjir. Dasar ingus kuda lo.” Gue dan yang lain hanya terkekeh
mendengar keluhan Lucas tadi.
“Pada gabut kan lo semua. Kerjaannya cuman ngopi sama rokok doang,
mending basketan lah. Sudah lama kaga mabar sama elo pada,” ujar gue.
“Boleh-boleh, main di tempat biasa aja. Gimana lo semua pada setuju
kaga?” Tanya Lukman.
“Wah, good idea. Langsung caps kesana aje yukz,” sahut Andi.
“Dasar alay lo.”
“Bangke lo san,” kesal Andi karna gue katain anak alay.
“Eh, tapi sorry nih. Gue gak bisa ikut main, jemput pacar dulu,” ujar Lucas.
“Lucas bucin hahahahaha.” Lukman tertawa lebar setelah ngatain Lucas
bucin dan gue dengan yang lain pun lagi-lagi terkekeh kecil.
“Gue juga gak bisa, mau ngurus perpanjangan STNK,” ujar Isra.
“Ya oke, yang gak bisa juga gak apa-apa. Kita gak maksa kok,” ujar Bang Robby.
“Jalan sekarang yo. Ntar keduluan orang,” ujar gue yang sudah berdiri
dan mematikan rokok yang sudah sisa setengah batang.
“Ayo dah.”

Gue dan yang lain akhirnya memutuskan untuk bermain basket karna
daritadi gabut banget. Untung cuacanya agak mendung dikit jadi gak
terlalu panas. Anggota yang ikut sekitar 10 orang termasuk gue, jadi
ya bisalah main satu lapangan.

(***)
Sekitar 15 menit kita nempuh dari tempat tongkrongan ke lapangan
basket yang jaraknya lumayan jauh.
“Seperti biasa aja ye, bagi timnya pake sistem suit. Yang kalah sama
bang Robby kalo yang menang sama Lukman,” ujar gue sambil memakai
sepatu.
“Oke, gue suit sama Andi deh,” tambah gue.

Beberapa menit kemudian, tim sudah terbentuk menjadi dua. Tim pertama
yaitu Lukman (Center), Rifa’I (Playmaker), Gue (SG), Arman (SF), Akbar
(PF). Dan tim kedua yaitu Bang Robby (Center), Budi (Playmaker), Arya
(SG), Rezki (SF), Putra (PF).

Quarter pertama sudah dimulai, bola dikuasai oleh tim kedua. Bola
dipegang oleh Budi dan berhadapan dengan Rifa’I yang sama-sama seorang
Playmaker. Gue kebagian tugas menjaga Putra.

Pak!!
Bola diblock oleh Akbar ketika Rezki ingin melakukan lay-up. Bola
didrible oleh Akbar kedepan dan dipassing ke Lukman lalu dipassing
lagi ke Arman dan terakhir Arman passing bole ke gue, gue yang sudah
mendapatkan bola terus mendrible dan ketika ada celah sedikit antara
Bang Robby dan Putra, gue langsung melewati mereka dan melakukan
shooting dari sisi  samping ring. Dan ketika bola sudah dilempar….

Sring!
Bola berhasil masuk ke dalam ring.
“YES!” Teriak gue saat melihat bola masuk dengan mulus.

Permainan kembali berlanjut dan bola kembali dikuasai oleh tim kedua.
Cukup susah menerobos pertahanan mereka, gue sampe kewalahan beberapa
kali harus terjatuh saat bertabrakan dengan Budi yang sedikit berbadan
besar untuk berebut mengambil bola.
“1 MENIT LAGI,” teriak istri bang Robby dari pinggir lapangan. Istri
bang Robby ini namanya kal gak salah Chyntia Putri, gue biasa manggil
die Mba(n) Chy.

Skor kini sudah 10-8, tim gue unggul 2 poin dari tim Bang Robby.
Quarter pertama pun berakhir dan gue langsung menuju ke bangku di
pinggir lapangan untuk mengambil minum. Walaupun cuacanya agak mendung
tapi cukup membuat gue berkeringat lumayan banyak.

(***)
Sekarang sudah masuk quarter empat dan skor di dominasi oleh tim gue
yang berbeda 6 poin dari tim Bang Robby.
“30 DETIK LAGI” teriak mba(n) Chy.

Gue yang mendengar waktu tinggal 30 detik lagi dan bola ada ditangan
gue. Langsung gue terobos tembok pertahanan dari tim bang Robby yang
berjaga di daerah ring tim gue, gue liat Arman dalam keadaan kosong
alias gak ada yang jaga langsung gue passing ke dia. Arman menerima
bola dengan baik.
“10 DETIK,” teriak mba(n) Chy lagi.

Arman sekarang berada tepat di tengah lapangan dan sedang mendribel
bola pelan, kemudian mulai mengambil ancang-amcang untuk menshoot bola
dari jarak yang lumayan jauh dari ring lawan. Mungkin karna tidak mau
berlama-lama, gue liat Arman langsung melempar bola ke arah ring
dan……

Jeduk!
Bola terpantul dan berputar di atas ring.
Sring!
“YEAH,” teriak gue saat melihat bola masuk dengan sempurna kedalam ring.
“Time out,” ujar mba(n) Chy.

Tim gue berhasil mengalahkan tim bang Robby, karna beberapa menit yang
lalu tim bang Robby unggul 2 poin dari tim gue. Dan berkat threepoint
yang diciptakan oleh Arman tadi, tim gue kembali berhasil mengungguli
tim lawan.

(***)
“Mau bicarain apa bang?” Tanya gue saat sudah berada di sebuah rumah
makan. Ya, selesai bermain basket tadi, gue diajak bang Robbya untuk
ikut makan siang dengannya bersama dengan istrinya si mba(n) Chy, jadi
kita bertiga. Gue rasa ada yang mau dibicarain penting sama bang Robby
diliat dari ekspresi mukanya.
“Gini.. Jadi gue kemaren baru aja kena pecat dari kantor gue ntah apa
alasan mereka mecat gue padahal gue merasa kinerja gue udah lumayan
baik dari sebelumnya,” ujar Bang Robby.
“Oke, terus?”
“Gue mau minta bantuan ke elo. Dikantor lo masih ada lowongan gak?”

Bersambung…
-VR46-
@IskaIkhsan48

Bacotnya Ichan :
Whatsup guys. Sorry kalo di part ini bahasanya agak keras, gue sebagai
author gak ada maksud menyinggung atau sejenisnya. Gue cuman
mengutarakan apa yang selama ini terjadi aja dan membuat pribadi gue
mengganjal. Mungkin sekian dari gue dan sampai ketemu lagi di part
selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s