Aku Rasa Iya, Part3

as

Langit pagi ini begitu cerah dengan hawa sejuk yang masih terasa menyapa lapisan kulit. Di SMKN 5 Jakarta tampak murid-murid sedang berlalu lalang memasuki gerbang sekolah dengan cerianya.

Di sana juga  juga ada Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi tengah berbincang-bincang selagi berjalan menuju kelas XI-TKJ. Sesampainya di kelas, mata dan raut wajah mereka mendadak berubah aneh dan tertuju pada seorang murid yang aktifitasnya paling berbeda dari murid-murid lain. Tak mau merasa bingung lebih lama, Arii pun bertanya pada Jeje yang sedang bermain Monopoli.

“Sssh, Je. Itu kenapa?” Jeje yang ditanya hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan dia juga tidak mengerti. Tak ambil pusing Jeje melanjutkan bermain monopoli dengan teman-temanya.

Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi masih menatap bingung ke arah murid itu, entah apa yang ada dipikran mereka saat ini, saling memandang satu sama lain dan mengankat bahu. Selagi menerka-nerka Ido mulai berbicara,

“Oyy. ngapain lu?” Ido bertanya dengan raut wajah sengak.

“Jangan ganggu gua,” jawab murid itu datar.

Posisi murid itu kini sedang duduk bersila di atas meja dengan mata terpejam dan tangan menyatu seperti bertepuk tangan di depan dada, mirip orang sedang senam Yoga atau lebih tepatnya ber-semedi.

“Halo…. Hey, hey”

Murid itu tetap diam.

“Pagi-pagi udah nggak waras, ngapain coba anak ini,” Arii berbisik pada Shani dan Shani cuma menggeleng karna dia juga tidak mengerti.

“Kamu lagi ngapain Jaya? Jangan buat kita takut deh.” Gre bertanya kepada murid yang posisinya sedang bersemedi. Ya, itu Jaya.

“Gue lagi cari hidayah,” Jawab Jaya singkat dengan posisinya yang tidak berubah sama sekali.

“Hah?” Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi semakin bingung.

Tidak ada respon sedikitpun dari Jaya. Dia terus fokus dengan apa yang dilakukanya, hal itu benar-benar membuat Arii dan yang lain semakin tak mengerti, lebih tepanya sebal! Arii dan Ido melangkah mendekat ke arah Jaya lalu mengelilingi mejanya mencoba memeriksa setiap sudut guna mencari tau berlagak seperti detektif. Di tengah mencari-cari Ido berbicara.

“Yak.”

“Eng…”

“Lu kayak dukun lagi manggil setan tau gak,” Kata Ido yang berdiri di samping Jaya.  Arii, Gre, Shani dan Yupi hanya mengangguk meng-iyakan ucapan Ido sedangkan murid-murid lain di kelas sekarang memperhatikan mereka.

“Ini supaya adik kelas yang cewek pada naksir gua” jawab Jaya tenang tanpa sedikitpun bergerak.  Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi langsung cengoh mendengar jawabannya. Tapi persmedian Jaya itu tak berlangsung lama karena,

“Ala-lalala la, ampun duh sakit, sakit. lepas Yup. lepas!” Ronta Jaya reflek membuka mata langsung memegangi tangan Yupi yang sudah menempel indah pada telinganya.

“Genit banget sih!” Yupi sebal melepas jeweran ditelinga Jaya dan langsung memasang wajah cemberut

“Hah? Suruh siapa lu gak mau jadi pacar gua!” Jaya tak kalah sewot menatap Yupi sambil mengusap-usap telinganya.

Arii, Ido, Gre dan Shani yang tadinya bingung akan Jaya kini malah dibuat lebih bingung melihat Yupi dan Jaya yang sekarang saling beradu tatapan tajam dan memasang wajah garang.

“Orang kamu genit.” Jawab Yupi cemberut

Dahi Jaya mengkerut mendengarnya lalu Jaya memajukan kepalanya lebih dekat menatap Yupi kemudian berbicara “Emang kalo gak genit, Lu mau jadi pacar gua?”

Mendengar jawabnya Jaya, Yupi berbalik menatap tajam seraya memajukan kepalanya hingga wajah mereka lebih dekat. Mungkin hanya berjarak sejengkal, senyum Yupi perlahan menyembul dibalik bibir mungilnya membuat Jaya ikut tersenyum menatapnya, setelah menarik nafas panjang Yupi pun berkata.

“ENGAK!” Sentak Yupi penuh penekanan

“Rrrrrrr”

Arii, Ido, Gre, Shani serta murid lainnya yang tadinya serius mendadak jadi menahan tawa melihat expresi Jaya membisu. Pokoknya siapapun yang liat pengen nonjok mukanya dah.

Sungguh pagi yang aneh…  Arii, Ido, Gre dan Shani hanya menggeleng pelan melihat dua temanya itu, dan di saat itu juga bel masuk pun berbunyi.

~oo~

Tidak perlu di ceritakan gimana proses belajarnya, dikarenakan saat ini Arii, Ido dan Jaya ke adaanya sedikit mengenaskan. Ya mereka di hukum tidak boleh mengikuti jam pelajaran kimia sampai bel istirahat berbunyi.

Semua di sebabkan dari Ido dan Jaya yang tadi berdebat kecil saat pelajaran berlangsung sambil berpura-pura menjedotkan kepalanya berkali-kali pada meja. Mereka berdua merasa frustasi melihat rumus-rumus pelajaran Kimia yang tertulis di whiteboard seakan membuat otak menjerit dan ingin meledak melihatnya.

Merasa terganggu, Arii yang duduk di depan Ido dan Jaya langsung berbalik badan kemudian tanganya dengan cepat memegang dua kepala temanya itu dan langsung menjedotkan pada meja dengan kencang membuat Ido dan Jaya menjerit kesakitan. Yaa… itu penyebab kenapa mereka dihukum. (di ceritakan juga)

Sekarang disinilah mereka bertiga, berdiri di depan pintu kelas.

“Lu berdua kenapa tadi?”

“Elu yang kenapa kampret. Maen jedotin ke meja aje” Jaya sewot sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit

“Ribut terus lu berdua tadi”

“Lu gak liat itu Kimia tadi? Rumusnya bikin otak mencret Rii.. Kita kan anak kejuruan, ngapain belajar Kimia coba? Mending di LAB bisa search foto foto cewek seksi..” ujar Ido dengan wajah cengar cengir membayangkan cewek seksi

“Mesum bener lu Do.” Jaya menjitak kepala Ido “Tapi bener juga sih, bisa liat cewek Jepang yang Aya-yayay” Jaya memanggut-manggut kegirangan membayangkan dengan senyum mesumnya

“Yee. Sama aja lu kampret” Balas Ido ganti menjitak Jaya,

Tidak terima dirinya dijitak, Jaya langsung menjitak Ido balik. Ido juga tak terima dan membalas jitakan Jaya, Jaya juga membalas jitakan Ido. Karena tak mau hanya jadi penonton Arii dengan gencar mengapi-api mereka berdua agar terus saling berbalas sampai ada satu suara yang membuat mereka berhenti,

“IDO!!! JAYA!!! Kalian bisa diam?!”

Ido dan Jaya kaget lalu menoleh ke sumber suara, “A-ampun Pak..” Ucap mereka berdua gugup melihat Pak Narto Guru kimia sudah berdiri di samping pintu kelas memasang wajah garang.

“Katanya pelajaran bapak susah di cerna pak” Arii menunjuk Ido dan Jaya

Ido dan Jaya kaget “Eh. E-enggak pak engak.” Bantah Ido dan Jaya cepat

“Bener yang kamu bilang Rii?” Tanya Pak Narto

“Bener pak. Kata Jaya pelajaran bapak itu kalau ibarat makanan kayak Pecel ayam. Tapi isinya cuma sambel gak ada ayamnya”

“Kok begitu?” tanya Pak Narto menatap Ido dan Jaya yang sudah berkeringat dingin setelah itu menoleh ke Arii lagi

“Kata Ido pelajaran bapak itu bisa jadi pemicu usus buntu. Super ribet katanya pak.” Arii semakin menjadi memojokan Ido dan Jaya

Guru itu mengelus elus dagunya seraya berfikir “Hmmmm, Oke laporan kamu di terima. Dan karna kamu anak yang jujur jadi bapak kasih nilai A+ buat kamu” Pak Narto menepuk-nepuk pundak Arii sambil tersenyum bangga membuat Arii sumringah mendapat nilai bagus sedangkan Ido dan Jaya benar-benar cengoh menatap Arii.

Tak banyak bicara lagi Pak Narto akhirnya memberi bonus pada Ido dan Jaya. Awalnya membuat mereka berdua tersenyum senang, tapi perasaan senang itu hanya sementara karena kenyataan berbicara lain. Rupanya bonus itu adalah tambahan hukuman harus Push Up 50 x untuk Ido dan Jaya.

Tiga jam pelajaran sudah berakhir berganti dengan bel istirahat. Gre, Shani dan Yupi beranjak dari kusinya kemudian berjalan keluar kelas untuk menghamiri Arii, Ido, dan Jaya.

“Ay, ikut ke kantin gak?” Ajak Shani yang sudah di depan Arii, Ido dan Jaya. Arii menoleh melihat Shani.

“Ayuk deh, dari pada liat dua idiot ini” Arii meng-iyakan dan mendekat pada Shani. Gre dan Yupi pun cengoh melihat Ido dan Jaya yang ngos-ngosan.

“Kalian ngapain?” Yupi bertanya pada Ido dan Jaya

“Abis adu banyak-banyakan Push Up” jawab Ido dan Jaya seadanya

“Oohh..  Jadi kalian mau ikut kekantin gak?” Ajak Gre mulai menyusul Arii dan Shani yang sudah berjalan di ikuti Yupi.

“No. No. No. Gua mau ngetes hidayah yang gua dapet tadi pagi, nungguin anak Mos dulu”. Jaya menggeleng dan memangku tangan sombong. Ido yang ada di sebelahnya hanya mengagguk-angguk setuju menunggu pembuktian dari Jaya.

~oo~Kantin~oo~

Arii, Gre, Shani dan Yupi yang baru sampai di kantin langsung menguasai meja panjang paling pojok untuk mereka tempati bersama.

“Kalian mau pesen apa biar gue aja yang pesenin” tanya Gre pada Arii, Shani, dan Yupi

“Aku sama Arii Nasi goreng, minumnya Es teh manis satu, mineral botol buat Arii satu tapi bukan yang dingin ya”

“Wuuu, Sok sehat gak minum Es. Atlit gak pernah juara pun sombong. Bikin malu dunia persilatan” Ledek Gre pada Arii.

Arii memang Atlit Karate sejak tingkat SMP, tapi dari semua kejuaraan yang dia ikuti sampai saat ini belum ada satupun piala yang sudah ia bawa pulang. Pernah sekali dia berniat mebeli piala banyak-banyak lalu di tempelin kertas hasil print “Juara lomba memasak, lomba menyanyi, lomba menari” seolah meraih juara agar bisa di pajang di rumah, tapi niat itu dia urungkan karna bagi dia itu bukan mental petarung. Apalagi dia Atlit Karate jadi sungguh tidak sesuai dengan kategori yang di sebutkan tadi.

Hahh, HIDUP SAGAN MATI TAK MAMPU.

“Behh, malah ngeledek. Udah cepet berangkat, ini si Yupi pesen apa?” Arii mendumel kesal sedangkan Shani menutupi mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa,

“Hihihi, Aku mie ayam aja deh, minumnya samain es teh” Jawab Yupi dengan tawa kecilnya

Gre berjalan ke Stand kantin untuk memesan makanan mereka semua. Sekitar sepuluh menit menunggu, Gre datang membawa nampan berisi tiga Es teh dan satu botol mineral sedangkan makanannya dibawakan pegawai kantin. Setelah semua tersaji di depan mata langsung saja mereka menyantap semua dengan lahapnya, di tengah menikmati makan datang dua Siswi menyapa mereka.

“Hai semua. Boleh gabung?” Tanya Siswi yang berdiri di depan Arii, Shani, Gre dan Yupi

“Silahkan kak,” Gre mebolehkan, sedangkan Arii terus menikmati makananya tanpa melihat siapa yang datang.

“Haii Arii” Sapa Siswi itu tersenyum melambai tangan setelah duduk

Arii yang merasa namanya di panggil mendongakan kepalanya unutk melihat siapa yang menyapanya. Dengan senyum terbaiknya Arii siap membalas sapa orang yang menyapanya. Tapi senyum itu hanya sesaat karena.

“Ha-hai. A-ampun kak Y-Yona…? Arii mendadak gugup dan langsung menyembunyikan kepalanya di balik punggung Shani saat melihat Yona yang menyapanya

“Kamu kenapa?” Yona bingung dengan sikap Arii terhadapnya, begitu juga Shani, Gre, Yupi dan Ve yang juga terlihat bingung.

“A-ampun kak…  J-jangan ca-cabutin kuku sama mata gua k-kak.. Gua belum me-merid…” Arii memohon pada Yona dari balik punggung Shani

“Kamu kenapa Ay” Tanya Shani bingung melihat Arii yang bersembunyi di belakangnya sambil memegang erat baju seragamnya. Dia mencoba berbalik badan tapi di tahan oleh Arii supaya terus menutupinya.

“Ayuk pulang ke kelas..” rengek Arii menarik tangan Shani agar cepat-cepat pergi meninggalkan kantin

“Kenapa sih kak?” Tanya Shani yang beranjak dari kursinya karna di tarik oleh Arii

“Udah… Ayok, nanti aku ceritain” Arii langsung menarik Shani yang sudah berdiri kemudian mendorongnya agar berjalan lebih dulu dengan Arii membenamkan wajahnya dipunggung Shani supaya tidak melihat Yona saat berjalan.

Gre dan Yupi yang bingung melihat Arii langsung buru-buru menyelesaikan makannya dan segera pamit untuk menyusul Arii dan Shani yang sudah lebih dulu meninggalkan kantin menyisakan Ve dan Yona dengan wajah kebingungan.

“Arii kenpa Yon?” Ve bingung menatap Yona yang hanya mengakat bahunya menandakan dia juga tak mengerti.

“Kok Arii keliatan takut gitu sama kamu?” Tanya Ve menatap Arii yang sudah jauh.

“Entah, aku juga gak tau” Yona menggeleng bingung.

“Tadi Arii ada bilang ‘jangan cabutin kuku, mata‘ gitu sama kamu, emang kamu sama dia kenapa?”

Mendengar pertanyaan Ve membuat Yona berdiam dan tampak berfikir sejenak mecoba mengingat ingat apa yang membuat Arii takut terhadapnya.

“Ooh,. Hihihi, iya aku tau sekarang” Yona tertawa kecil saat mengingat apa penyebab Arii takut terhadapnya

“Jadi kenapa?” Tanya Ve penasaran

“Jadi gini…..”

Yona pun menecitakan tentang dirinya yang bertemu Arii di salah satu Caffe di dekat rumahnya kemarin malam, di mana Arii saat itu sedang bingung untuk menulis tugas Story yang didapatnya sebelum memasuki libur semester. Yona memberi tau kalau dia sedikit menceritakan tentang seorang Psycopat yang ingin mencabut kuku-kuku dan ingin mencongkel mata korbanya untuk disimpanya di dalam kulkas sebagai koleksi. Yona juga memberi tau pada Ve kalau Arii saat itu juga kabur setelah mendengar ceritanya.

“Hihihi. Arii lucu juga ya” Ve tertawa kecil setelah mendengar cerita Yona

~oo~

Arii berjalan sambil menceritakan pada Shani hal apa yang membuatnya takut pada Yona. Shani sebagai pendengar hanya mengangguk-anguk mengerti.

Di depan kelas XI-TKJ tampak Ido dan Jaya sedang asik mengeluarkan jurus modus tingkat dewa untuk merayu adik kelasnya yang sedang menjalankan MOS di hari terahir. Arii dan Shani yang baru sampai langsung berjalan ke arah Ido dan Jaya.

“Astagfirullah…” Ucap Shani menggeleng sambil berjalan

“Hal adzim…” Sambung Gre tiba-tiba yang baru datang di ikuti Yupi di belakangnya.

“Nyambung aja Gre. Gua bacain Surat Yasin baru tau lu.” ejek Arii pada Gre

“Ish!” Gre sewot mengembungkan pipinya, membuat Shani dan Yupi ikut tertawa kecil.

Saat mereka semua berjalan mendekat Jaya mulai mengobral gombalanya.

“Dek mau denger lagu romantis gak?” Jaya mulai mengeluarkan jurus modusnya yang dia beri nama “Naga Mencari Cinta”. Gak tau juga dapet nama dari mana, yang jelas saat meresmikan nama itu di adakan syukuran dengan tumpeng super sedang, katanya kalau besar budged gak mampu.

“Boleh deh kak” Siswi yang di godanya meng-iyakan

Jaya menarik nafas wanjang untuk bersiap, “ROTI, ROTI SARI ROTI.. CINTAI USUSMU, TUYUL MBAK YUL TIAP HARI…” Suara Jaya menyanyi dengan PD-nya. Sungguh lagu yang sangat tidak bermakna dan menyesatakan umat -__-“

“Bahh. Lagu romantis dari mana itu? Kebanyakan nonton Tv yang isinya iklan semua ini anak” Ejek Ido menggeleng melihat gombalan Jaya benar-benar tidak masuk di akal sama sekali

“Hihihi,” siswi itu tertawa kecil mendengarnya

“Ck ck ck, Somplak! Dengerin ya dek, ini baru bagus..” Ido menonyor kepala Jaya dan langsung bersiap siap,

“KALAU ADA SUMUR DI LADANG BOLEHLAH KITA MENUMPANG MANDI. ADEK JANGAN SERING BEGADANG BIAR TIDAK JELEK KAYAK ABANG INI”

Lanjut Ido mengendus bangga sambil menunjuk ke arah Jaya,

“Gimana bagus gak dek?” Tanya Ido penuh harap

“Hi hi hi, bagus kak. Bagus banget” Siswi itu cekikikan membuat Ido merasa keren dan bangga karna bisa sekalian meledek Jaya

Jaya yang tidak terima di kata jelek dengan cepat tanganya menjitak kepala Ido. Hal itu tentu memancing siswi yang mereka goda kembali tertawa karna konyolnya Ido dan Jaya. Begitu juga Arii, Gre, Shani dan Yupi yang ikut tertawa sambil menggeleng heran.

Terkadang punya teman sedikit aneh nan sengklek masih belum cukup. Harus yang angka normalnya lebih di atas 100% baru luar biasa. (Lebih tepatnya setengah gila). Sama hal-nya wanita, Cantik dan pintar saja tidak cukup, perlu yang matanya sedikit rabun baru… Ah itu sangat istimewa. *Yang kedua ke inginan Author 🙂

~oOOo~

Siang ini langit begitu cerah, kicauwan burung gereja tampak menemani semilir angin yang berhembus menerpa dedaunan di sebuah halaman rumah yang di dalamnya ada Arii, Feni dan Ibunya tengah berkumul bersama di ruang makan menyantap makan siang. Selagi makan mereka juga berbincang-bincang.

“Mah..”

“Kenapa Bang?” Jawab Ibu yang duduk di depanya

“Kalau kita do’ain jelek ke orang yang nyebelin itu boleh gak?”

“Huss. Kakak gak boleh gitu” Ucap Feni menasehati kakaknya membuat Ibunya tersenyum dan mengusap puncak kepalanya yang duduk tepat di sebelahnya.

“Harusnya kamu do’a baek-baek bang, do’ain mereka supaya bisa berubah. Dan Abang juga berdo’a minta sama tuhan semoga orang-orang yang menjalankan lima waktu sempat menyebut nama “Arii” di setiap do’a baiknya” Nasehat Ibunya lembut namun tegas

“Eh, bener juga ya mah, mama do’ain Arii juga gak? Hehehe” Arii sedikit kaget lalu mengangguk angguk mengerti ucapan Ibunya, dan pertanyaan tadi justru mebuat Ibunya tertawa heran melihat anak sulungnya.

“Iya tu, kakak mah yang nyebelin..hehe” Feni meledek kakaknya

“Ck, ck. Ikut-ikut aja anak kecil” Arii mendumel, hal itu lagi-lagi membuat Ibunya dan Feni tertawa kecil.

Perbincangana hangat di sela-sela makan membuat keluarga kecil ini terlihat sangat harmonis walau tanpa hadirnya sang Ayah yang sedang menjalankan tugas di luar kota. Tak lama mereka pun sudah menyelesaikan makan siangnya kemudian Feni kembali berbicara.

“Selesai.. Yuk Kak berangkat” Feni beranjak dari kursinya mengajak Arii

“Ya udah, yuk. Kita berangkat ya mah” pamit Arii yang dijawab anggukan oleh Ibunya

“Hati-hati di jalan” Nasehat Ibunya

Arii dan Feni bejalan ke garasi untuk mengambil dan memansakan mesin mobilnya terlebih dulu, Arii duduk di kursi kemudi sedangankan Feni duduk di sebelahnya. Setelah memanaskan mobilnya Arii bersiap untuk menjemput Shani di rumahnya karna siang ini mereka akan jalan-jalan dan nonton bersama sekedar menghabiskan waktu.

Belum sempat gas terinjak handponya berbunyi karena ada panggilan masuk.

«»«»«»«»

Di tempat lain tepatnya rumah Ido ia sedang duduk di sofa rumahnya, menatap tajam layar handponya karena bingung ingin mengajak siapa untuk nge-Hangout Raditiya Dika hari ini.

Hal ini disebabkan karena dia lupa mengajak teman-temannya sewaktu pulang sekolah tadi, tentu dia tidak mau kalau harus nonton sendirian. Tak ambil pusing Ido pun mencoba menelfon Jaya sebagai opsi pertama yang bisa di ajaknya, disaat sambungan telfon sudah terhubung.

Ido   : Halo, Yak..

Jaya : Udah sana lu dari tadi gangguin gue mulu, lu jalan sendiri aja, gue lagi GABUT.

Ido   :……….. (belum ngomong apa-apa)

Jaya  : Sekali lagi lu bolang “Oh” doang. gua gibeng lu, pergi..!

Tut! Tut! Tut!

Sambungan telfon terputus dengan Ido yang mengerutu sebal menatap sengak layar handponya,

“Si kampret bener-bener gak tau adap. Gak tau sopan santun Pri Kemanusian dan Pri Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Coba berani ngomong kayak gitu ke emaknya, dikutuk jadi batu mungkin ntu orang” Gerutu Ido ngelantur sangking sebalnya memandandangi history panggilan keluar.

Ido masih tampak bingung sambil memutar-mutar handpon di tanganya, lama berfikir Ido pun memutuskan mencoba menelfon yang lain. Saat sudah terhubung terdengar suara dari sebrang telfon.

……  : Hallo Do.

Ido  : Lu dimana Rii? Siang ini lu kosong gak?

Arii : Gua bentar lagi mau nonton bareng Shani dan Feni, ini lagi siap-siap mau jemput Shani.

Ido  : Ah elah, gua mau ngajak siapa? Lu nonton di Mall biasa?

Arii : Iya tempat biasa. Ajak Gre kan ada.

Ido  : Oh iya ya, Gua lupa. Tanks Rii, ntar gua nyusul kesana.

Arii : Yoo, sama-sama,

Tut! Tut! Tut! Sambungan telfon terputus. Ido buru-buru menelfon Gre dan ingin mengajaknya.

«»«»«»

Kembali di Rumah Arii. Kini Arii bersama Feni sudah siap berangkat menjemput Shani di rumahnya, sebelumya Arii sudah memberi tahukan pada Shani melalui Chat Line kalau sebentar lagi mereka tiba supaya Shani segera bersiap siap.

“Kak?”

“Eng. Apa dek?” Respon Arii seadanya

“Mau kemana kita..?” Ucap Feni semangat menirukan gaya Animasi tokoh Dora yang sering dia tonton setiap minggu pagi

“Ke gunung…” Arii tak kalah mengimbangi Feni dengan wajah sok di imut-imutkan

“Mau kemana kita..?” Feni mengulang lagi dengan nada tokoh animasi Dora lagi

“Ke gunung…”

“Iiiih. Orang mau ke rumah Bunda Shani, abis itu ke Mall pun. Ngeselin! Huh.! ” Feni memanyunkan bibirnya sebal lalu memalingkan wajahnya

“Hehehe, Kakak becanda.. Feni kan baik, manis, lucu, ceria, nyebelin, ngeselin, ngangenin….”.

“Stop! Stop! Kakak ih, ada ‘nyebelin, ngeselin’ segala” Feni yang sebal langsung mengelitiki Arii yang ada di kursi kemudi

“Ahhahaha ha-ha. Ampun, udah kakak minta maaf. Yuk berangkat, kasian Kak Shani mungkin udah nungguin” Feni berhenti mengelitiki Arii dan mengangguk setuju.

Sepuluh menit mobil melaju sampailah mereka di depan rumah Shani yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahnya. Setelah turun dari mobil Arii dan Feni berjalan ke depan pintu lalu mehmencet bel rumah. Tak lama menunggu pintu pun di bukakan oleh wanita paruh baya yang tersenyum ramah menyambut mereka.

“Siang Tan, Shani nya ada?”

“Siang calon mantu, Feni. yuk masuk. Shani mungkin sedang siap-siap di kamarnya, kalian tunggu ya biar tante panggil Shani sebentar” Ajak Ibu Shani yang berjalan lebih dulu di ikuti Arii dan Feni menuju ruang tengah

“Iya Tan, terima kasih” Arii tersenyum pada Ibu Shani

Ibu Shani berjalan ke arah kamar Shani dan tak butuh waktu lama Shani datang bersama Ibunya.

“Maaf ya lama.” Ucap Shani saat melihat Arii dan Feni

Feni tersenyum ramah “Hehe, gak pa-pa bun”

“Kok kak Shani di panggil ‘Bun’?” Tanya Ibu Shani bingung

“Emang gitu ma. Udah biasa manggil Shani “bunda”, orang manggil diri sendiri aja “Mama” katanya, hihihi” Shani menjelaskan pada Ibunya sedangkan feni cengengesan

“Ooh. Ada ada aja kalian. Rii?” Ibu Shani hanya ber “Oh” kemudian bertanya.

“Iya tan..”

“Gimana Arii, anak tante ini secantik apa sih? Badut kalah kan? Hehe” Tanya Ibu Shani bercada dengan Arii yang membuat Shani memanyunkan bibirnya

“Eng, hehe cantik banget tan. Mirip mbak kunti di Kota Tua, ini di sebelah anaknya”  Arii ikut meledek dan terkekeh melihat Shani semakin memanyunkan bibirnya yang justru tambah terlihat lucu. Feni yang duduk di sebelahnya ikut memanyun karna di ledek anak mbak kunti.

“Ish. Kamu sama Mama sama aja, udah yuk. Assalamualaikum Ma..” Dumel Shani menarik tangan Arii di bantu Feni meninggalkan Ibunya yang masih terkekeh kecil.

“Hehe, maaf ya Tan Arii berangkat dulu ya, udah di tarik Mbak kunti sama anaknya. Assalamualaikum..” Pamit Arii pada Ibu Shani di sela-sela jalanya

“Iya,. Hati-hati di jalan. Waalaikumsallam” Jawab Ibu Shani tersenyum melambaikan tangannya. Ibu Shani memang sudah terbiasa bercanda dengan Arii yang ia sudah sangat hafal betul sifatnya sejak kecil.

Sedikit cerita, dulunya kedua orang tua mereka adalah sepasang sahabat sejak SMA bahkan sempat membentuk sebuah “Geng” yang di beri nama “Darah Menstruasi”. Yah nama anti mainsteame itu pemberian dari Ibunya Shani dan di dalam “Geng” itu beranggotakan Ayah, Ibu dari Arii dan juga Ayah, Ibu dari Shani yang kini berubah menjadi sebuah keluarga dengan ikatan janji suci di dalam sebuah pernikahan.

Jadi jangan heran melihat kelakuan Arii dan Shani karena gen dari sononya di masalalu memang rada sengklek semua.

Kedua orang tua mereka tidak pernah terfikir kalau sekarang inilah Arii dan Shani anak mereka masing-masing seperti sedang berjalan di sebuah Frame yang mengingatkan mereka saat masih remaja dulu.

~oOOo~

Arii bersama Shani dan Feni baru saja sampai di salah satu Mall kenamaan di Jakarta Selatan dengan lambang dua huruf yang tampak ramai pengunjung. Baru saja masuk ada yang mebuat Arii berhenti.

“Feni gak mau jalan..” Rengek Feni yang berhenti di lobby utama

“Terus…?” Ari sewot memandang Feni yang ada di sebelah Shani karna dia sudah memahami sifat manjanya Feni

“Gendoooong….” rengeknya lagi sedangkan Shani mengusap-usap pucak kepalanya mencoba menenangkan.

“Behh, manja bener. Udah ah kakak tinggal” Arii sewot dan mulai berjalan duluan

“Bundaa…” Rengek Feni pada Shani yang membuat Arii berhenti

“Ngadu aja lu. Kakak aduin mama entar balik, mengkek bener,” dumel Arii pada Feni. (Mengkek : Manja)

“Sama tukang ngadu.” Balas Feni sambil cemberut

Feni yang berdiam langsung duduk di lantai mall sambil memanyunkan bibirnya berharap permintaanya di kabulkan. Sayang Arii bukan Jin botol. Hal itu membuat mata semua orang tertuju ke arah mereka bertiga. Ada yang tertawa kecil dan ada juga yang tak peduli.

“Feni… Buat malu kakak aja ini anak..” Geram Arii pada adiknya itu

“Ay.. Kalo kamu gak mau biar aku aja yang gendong Feni” ancam Shani ikut membela Feni

“Hhhh.. Pada curang mainya… Ya udah sini.. Cepet naik” Arii berjongkok pasrah membuat senyum Feni mengembang

“Makasih bunda.. ” Feni beranjak dan memeluk Shani senang yang dibalas dengan usapan lembut di puncak kepala Feni oleh Shani

Dengan semangat 45 Feni langsung bersiap melompat dan mengambil posisi yang nyaman untuknya saat digendong. Setelah pas dia pun menyuruh kakaknya untuk berdiri.

Belum lama berjalan, Arii tampak meronta-ronta.

“Fen-Feni.. Tangan kamu ini jangan dibuat nyekik leher kakak”

“Hehehe sengaja..” Ledeknya

“Behh. Jangan dong dek nanti kak Shani sedih… Hu hu hu” Arii sedikit bercanda pada Feni adik tersayangnya

“Oh iyaa.. Maaf bundaa.. Mama Feni gak bandel kok…” Feni menatap Shani yang berjalan di sebelahnya untuk meminta maaf membuat Shani tertawa kecil melihat kelakuan kakak beradik itu

“Iya udah gak papa kok.. Yuk jalan lagi. Bentar lagi sampe bioskop loh” Ajak Shani semangat

Let’s Goo!!! Ayo kuda semangat.. Anak mama pinter” Feni menepuk-nepuk kepala Arii

(-___-“) ya beginilah expresi Arii yang sebal dalam teks. Kalau aslinya entah gak tau gimana.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanya menuju Bioskop dan saat sampai di lantai F4 Arii melihat orang sedang beramai ramai mengantri. Karna tidak tau dia pun mencoba bertanya

“Itu orang pada ngangain ya?”

“Itu Theater JKT48 kak, katrok”

“Wah theater, banyak drama drama cerita seru dong?”

“Bukan kali Ay. Itu isinya cewek-cewek nyanyi sama nari gitu kayak konser musik, tapi mereka udah ada setlist sendiri yang harus di bawain. Biasanya sih 18 lagu” Shani membantu menjelaskan pada Arii

“Wah mau liat ah cewek-cewek joget.. Eh, tapi kok kamu tau?” Arii bertanya dengan expresi yang sudah tidak beraturan membayangkan banyak cewek-cewe yang berjoget di depanya

“Ya tau aja. Mukanya biasa aja ya, Shani colok itu mata lama-lama” ancam Shani mengankat kedua jarinya seakan bersiap untuk mencolok. Feni yang di gendong Arii terkekeh melihat kakaknya itu mendumel sampai pada akhirnya Arii meronta ronta karena Feni mencekiknya lagi sambil tertawa jahat.

Arii, Shani dan Feni sekarang sudah sampai di depan pintu Bioskop dan langsung berjalan menuju antrian untuk mebeli tiket film yang akan mereka bertiga tonton. Disaat mau masuk ada suara yang membuat mereka menoleh.

“OOY!!!”

“Behh, main teriak aja ini orang. Lu kira ini mall rumah elu” Dumel Arii yang melihat Ido dan Gre berjalan ke arahnya

“Hahah. Selauw.. selauw” Ido terkekeh kecil

“Kalian mau nonton apa Shan?” Tanya Gre yang sudah di depan Arii, Gre dan Feni

“Gak tau, ngikut Feni, hehe“ jawab Shani “Kita mau nge-Hangout kak” lanjut Feni yang ikut menjawab

“Wah sama dong. Sini Rii duitnya, biar gue aja yang beli tiket. Kalian tunggu aja di sofa sono noh” pinta Ido pada Arii dengan senyum semangat

“Sip-sip. Dek turun dulu, seneng banget nangkring dari tadi, pegel ini” Arii menyuruh Feni turun dari gendonganya. Dan setelah Feni turun segera ia mengambil dompetnya di saku celana belakang kemudian menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah pada Ido.

Setelah menerima uang dari Arii, Ido pun mulai ikut mengantri tiket dengan yang lain sedangkan Arii,Feni, Shani dan Gre menunggu di sofa bioskop yang sudah di sediakan. Antrian cukup panjang hingga kurang lebih 10 menit mengantri Ido pun kembali membawa tiket film mereka.

“Ini Rii tiket kalian” Ido menyodorkan tiga tiket yang sudah dibelinya

“Siiip.  tanks Do.”

“Sama-sama bro” jawab Ido sambil menepuk-nepuk pundak Arii

“Bentar-bentar, kayaknya ada yang janggal” Arii menggaruk-garuk kepalanya “ah iya, uang kembaliannya mana?”

“Eh mana ada. Kan tadi gue minta duit buat beli tiket dari elu, terus kalian tunggu sini, ya abis..” Ido cengengesan gak jelas

“Si kampret. Berarti gua bayarin punya elu sama Gre juga?”

“Halah.. Sekali-kali, maruk amat jadi orang. Kayak fir’aun lu” Ido cengengesan menepuk-nepuk pundak Arii

“Hallehh.. Bangkrut bangkrut gua” Grutu Arii pasrah

“Kak, kak. Mulai jam brapa filmnya?” tanya Feni menarik baju Arii

“Sekarang jam 15:20 mainya jam 16:45. Berarti 30 menit lagi”

“Ooh bentar lagi.. Ya udah tunggu disini aja kita” Ido menyarankan dan ikut duduk di sebelah Gre

Mereka mengobrol ringan sampai waktu menujukan kurang Lima menit lagi film dimulai, mereka pun segera beranjak masuk ke studio. Sebelumnya Shani sempat mengajak Arii dan yang lainya untuk membeli popcorn dan softdrink big size sebagai camilan saat menonton..

Mereka ber lima masuk ke stodio bertepatan dengan Film di putar. Setelah duduk tenang semua orang yang ada di dalam mulai khusuk menonton begitu juga Arii, Ido, Feni, Gre, dan Shani. Di tengah film berputar sering sekali terdengar pecahan tawa dari mereka semua di saat adegan lucu muncul, bahkan saat film sudah habis orang-orang di studio masih tertawa terbahak-bahak saat melihat Ido jatuh tersandung.

Kurang lebih dua jam mereka menonton kini mereka semua tampak berjalan keluar studio sambil berbincang bincang.

“Kemana lagi Rii?”

“Gak tau gua Do, ngikut Shani sama Feni maunya kemana. Kemana dek, Shan?”

“Udah mau jam 7 gini, makan aja abis itu pulang” ajak Shani

“Tapi entar wekkend ajak Feni jalan-jalan lagi ya? Kalau gak awas kakak…” Ancam Feni pada Arii

“Ya ya ya ya” Arii melengos pergi meninggalkan Ido, Feni, Gre dan Shani mencari tempat makan yang pas untuk mengganjal perut sebelum pulang.

Ido, Feni, Gre dan Shani hanya cekikikan sambil mengikutinya dari belakang.

~oOOo~

Satu minggu sudah berlalu dan kini kegiatan belajar mengajar di SMKN 5 Jakarta sudah berjalan lancar sebagai mestinya. Semua calon murid yang menjalani MOS sekarang sudah resmi di terima menjadi murid kelas 10 di SMKN 5 Jakarta.

Pagi ini di dalam kelas XI-TKJ Ido, Gre, Shani, Yupi dan Jeje sedang bermain monopoli sambil menunggu bel masuk berbunyi. Disana juga tampak Arii dan Jaya yang sibuk dengan Handponya, di saat menunggu bel berbunyi di kelas mereka kedatangan dua Siswi yang berhenti di depan pintu kelas mereka.

“Eh Okta, Anin. Cari kakak ya” sapa Jaya ke PD-an

“Eh, enggak kak Jaya” jawab Anin meralat

“Haha, makanya jangan kepedean lu, Cari kakak kan?”

“Eng, bukan juga kak Ido. Kita kesini tadi disuruh pak Lukman, mau memberi tau kalo kelas XI-TKJ disuruh masuk LAB komputer” jawab Okta membenarkan tujuanya ke kelas XI-TKJ

(-____-“) Expresi Jaya dan Ido yang membuat teman-temanya terkekeh..

“Hehehe Iya, iya. Makasih ya udah ngasih tau”. Gre berbicara sembari menahan tawanya melihat Ido dan Jaya mengerutu, sedangkan teman-teman yang lain sudah tertawa terbahak-bahak.

Okta dan Anin mengangguk “Iya kak, kita pamit ya, dahh” Ucap anin melambai tangan dan berjalan meninggalkan pintu XI-TKJ

“HaHaHaHa”

Suara tawa semua murid kelas XI-TKJ terdengar menertawakan Ido dan Jaya yang saat ini saling tunjuk untuk menyalahkan. Bahkan beberapa kali mereka melakukan suit untuk menentukan siapa yang salah dan benar, tapi hasilnya selalu seri membuat seisi kelas makin tertawa terbahak-bahak.

~oo~

Kini semua murid XI-TKJ sudah berada di Lab Computer untuk menunggu Bapak Lukman sebagai Guru kejuruan yang akan mengajar mereka tiga jam pelajaran kedepan. Selagi menunggu, terlihat banyak murid ada yang memutuskan bermain game yang tersedia di PC dan ada juga yang browsing di internet seperti Ido dan Jaya saat ini.

“Anjirr putih bener…”. Ucap Jaya tersenyum

“Iya.. Behhhh muluss….” Ido menimpali juga dengan tersenyum

“Tanpa noda Yak…” Sambung Ido mendramatisir, hal itu mebuat teman-temanya yang Pria ikut penasaran dan langsung berhamburan berkumpul ke arah Ido dan Jaya. Namun setelah sampai dan melihat apa yang membuat Ido dan Jaya tersenyum aneh, mereka langsung berbalik ke mejanya masing masing dengan kepala tertunduk dan raut muka lesu. Kurang lebih seperti (-____-“).

Arii yang penasaran melihat teman-temanya itu pun mencoba bertanya.

“Emang liat bro?” Arii bertanya sambil terkekeh meliah teman-temanya yang lesu. Dia tidak ikut karna dia sudah hafal kelakuan Ido dan Jaya

“Liat gambar tembok di cat putih -_-“” Jawab satu siswa lemas yang membuat Ido dan Jaya tertawa terbahak-bahak, sedangkan Siswi yang lain ikut terkekeh

Arii ikut tertawa sebentar kemudian kembali fokus ke layar LCD di depanya. Setelah itu dia berbicara.

“Oyy semua. Btw coba deh kalian semua cek profil twitter @arytria_s” panggil Arii yang membuat semua perhatian tertuju kepadanya

“Emang kenapa Rii?” Tanya salah satu temanya

“Kata Mama-nya. Itu yang punya acound bikin kangen, kalo di stalk bisa candu kayak narkoba.” Ujar Arii sok mendrama

“Ah yang bener lu. Coba gua cak bentar deh” ucap salah satu murid dan langsung log in twitter

Dengan lugunya teman-temanya tersugesti untuk mengecek profil yang di sarankan oleh Arii tadi. Setelah semua sudah mengecek profil yang di maksud, tak lama mata mereka langsung menoleh tajam dan tertuju pada Arii kemudian kembali menoleh menatap layar LCD di depanya seolah memastikan. Sedangkan Arii nya sendiri malah terkekeh tidak jelas melihat teman-temanya melakukan hal itu ber ulang-ulang sampai mereka mulai sadar dan berbicara.

“Si anjing.. Ini mah elu!” ujar murid 1 sewot

“Bosen gua liat elu.” ujar murid 2 tak kalah sewot

“Ini mah Atlit karate” puji murid 3 “Tapi gak pernah Juara!” lanjutnya lagi yang membuat Arii tersungut-sungut

“Mending ini yang punya acound kita bakar idup idup yuk” usul murid 4 memprofokasi

BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR!

Teriak semua murid se isi LAB mumbuat Arii mulai berkeringat dingin dan gemetaran. Bahkan Shani, Gre dan Yupi juga ikut berteriak sambil tertawa geli, sedangkan Ido dan Jaya meneriakan hal yang berbeda.

“KEBIRI DIA!!!” Teriak Ido membuta babi *bodo amat

“IYA!!! DONASIKAN DIA!!!” Teriak Jaya tak mau kalah

“TURUNKAN HARGA BBM!!!” Teriak Ido lagi

“GAK ADA BBM PIDAH KE LINE. WA.!!!” Teriak Jaya ngelantur

“KECAPIN DIA!!! SAUSIN DIA!!! CABEIN DIA!!!” Teriak Ibu kantin yang tiba-tiba ada di depan pintu LAB. Tentu semua murid seisi LAB menoleh cengoh menatap Ibu kantin yang cengar-cengir.

Yah… Suasana LAB yang tadinya tenang kini menjadi ramai dan tegang dengan murid-murid semakin membabi buta berteriak ingin menjadikan Arii bulan bulanan mereka. Untung saja hal itu tidak sempat terjadi karna Arii terselamatkan oleh Pak Lukman masuk untuk meberi materi praktek sehingga pembelajaran berjalan dengan lancar. Kalau sampai hal itu terjadi maka berkurang satu murid di kelas XI-TKJ.

~oo~

Tiga jam pelajaran sudah berakhir dan berganti bel istirahat yang membuat murid-murid berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai lapar. Termasuk kelas XI-TKJ yang kini sudah menguasai hampir seluruh meja kantin.

“Tenang-tenang. Nanti gua traktir semuanya” ucap Jaya sombong

“YEAY!” Teriak semua murid XI-TKJ yang membuat semua murid di kantin menoleh ke arah mereka semua

“Yang bener Yak? Tumben lu..” Tanya Jeje tidak percaya

“Iya tenang…”

“Wahh.. Enak ni gratis, gue pesen makan dulu ya..” Jeje terlihat semangat, begitu juga yang lain.

“Hehe, selauw… TAPI KUACI!” ucap Jaya yang membuat Jeje mendadak berhenti

“MANT—” Ucap salah satu murid XI-TKJ yang terpotong

Dengan itu suasana yang tadinya semangat tiba-tiba hening tanpa sepatah kata pun, bahkan rumput tak ada yang bergoyang (Anjaii). Suara riuh murid yang lain tidak ber efek pada heningnya mereka saat ini, semua murid XI-TKJ yang mulai sadar menolehkan kepalanya dan menatap sengak pada Jaya. Sedangkan Jaya hanya tersenyum senyum  tanpa merasa berdosa.

(-___-“)

“Coba-coba ulang, apa tadi Yak?” Tanya Gre memastikan karena dia tadinya ikut semangat.

“Gua… teraktir… lu semua…” Ujar Jaya sambil memangku tangan dengan gaya sombong.

“Tapi…..?” Gre memandang Jaya dengan wajah penuh harap.

“Tapi…. K-U-A-C-I….” Jaya terkekeh kecil mengucapkanya.

“Ah elahh Yak.. Hamtaro juga nolak kalo di traktir kuaci” gerutu salah satu temanya yang sudah tampak frustasi

Semuat teman-temanya mendumel dan satu per satu beranjak meninggalkan Jaya, Arii, Ido, Gre, Shani dan Yupi menuju stand kantin untuk memesan makanan mereka masing-masing. Shani yang di samping Arii mulai berbicara mengomentari teman-temanya itu.

“Yank, yank” Bisik Shani menyenggol lengan Arii

“Eng. Ada apa?” Respon Arii menoleh ke arah Shani

“Temen kita kok semuanya agak rada-rada ya Ay?”

“Mau gimana lagi, emang adanya gini” ujar Arii santai

“Isi kepalanya kayak sengklek-sengkek Rii” Ujar Yupi yang ikut mendengar penbicaraan Arii dan Shani

“Hahhhh. AKU RASA IYA….” Ucap Arii tertunduk pasrah

“Yank….” Panggil Shani lagi dengan manja

“Apa sayang..?” Arii menoleh dan tersenym

Shani tersenyum senang mendengarnya karna jarang-jarang Arii memanggilnya dengan kata ‘sayang’. Shani memandang Arii sendu dan mulai bertanya.

“Menurut kamu, aku aneh juga gak kayak temen-temen yang lain?” Tanya Shani polos dan mengharap.

“Menurut kamu sendiri yang tanya gitu?” Arii tersenyum bertanya balik

“Hmmm” jari Shani mengetuk-ngetuk dagunya sebelum lanjut berbicara “AKU RASA IYA…..” Lanjut Shani dengan polosnya

“Hahhhh….. -____-“ ” Arii melepaskan nafas pasrah sepasrah pasrahnya 😥

Hahhh… Begitulah kelakuan Arii, Shani, Ido, Gre, Jaya, Yupi beserta teman-temanya di kehidupan ini. Di mohon waktunya sejenak untuk menunduk sekedar mengheningkan cipta seraya ber-Do’a menurut agama dan kecepatan masing-masing agar mereka segera di beri hidayah oleh Sang maha pencipta. “Ber Do’a Mulai”.

1 Detik

3 Detik

“SELESAI.” Ini adalah catatan waktu Do’a tercepat dan terbaik dari Author saat ini.

@arytria_s

~oOo~

Note : Yeay!!! Move on dari Part 1-2 yang 90% amburadul, dan sekarang sudah masuk Part 3 yang 88% amburadul 🙂 Lumayan lah walau 2% juga.

Ditunggu Kritik sarannya dan kalau bisa Follow twitter gue 🙂 Peace..,

Facebook: M Ary Taria

Twitter   : @arytria_s

Email      : aritrias39@gmail.com

Iklan

12 tanggapan untuk “Aku Rasa Iya, Part3

  1. Lanjut Move on bang ke Part berikutnya.
    Gue jadi pengen ikut ngomong “sengklek” jadinya. Virus ini ff :v Authornya ikut ambil bagian di ujung, Authornya asli sengklek. Di lanjut bang 😀 Seru!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s