Lemon tea and chocolate sponge cake Part 3.

 

lemontea

“Kau tahu, orang yang pertama kali menemukan susu sapi pastilah orang yang mesum,” ucapku.

Aku dan Lidya sedang berada di cafe, setelah mencoba beberapa wahana permainan kami akhirnya merasa capek ( well, akulah yang merasa capek, Lidya ? aku ragu kalau dia bahkan tahu apa itu capek; dia masih tersenyum dan ekspresi bahagianya tak berubah dari pertama kami masuk.)

“Kenapa ?” tanya Lidya yang masih menikmati sodanya.

“Ya, coba kau pikir kenapa orang dulu memerah susu dari sapi ? apa mereka hanya penasaran bagaimana rasanya memerah…”

PRAKKK

Lidya memukulku dengan buku menu, ekspresi wajahnya berubah menjadi cemberut aku rasa dia tak suka berbicara tentang “susu” sapi.

“Ihh lu jorok amat pikirannya,” ucapnya dengan nada suara sebal.

“Maaf, Cuma tiba tiba kepikiran,” ucapku sambil mengelus kepalaku.

Kami berdua sedang menunggu makanan yang kami pesan, Lidya memesan seporsi sushi sementara aku lebih memilih ramen keju. Lidya tak pernah makan sushi sebelumnya, tapi sifat “aneh”nya yang ingin selalu mencoba hal baru membuatnya memesan itu.

“Jadi apa kau sudah siap untuk mencoba rumah hantu ?” tanyaku.

Rumah hantulah tujuan kami hari ini, tapi menurut Lidya mentalnya belum siap sehingga dia ingin mencoba wahana lain terlebih dahulu. Aku rasa dia takut untuk masuk kerumah hantu, tapi karena itu adalah salah satu hal dalam List hal yang ingin dia lakukan; maka dia memaksakan diri.

Saat melihat Lidya, aku tak pernah berpikir bahwa dia adalah tipe orang yang suka memaksakan diri. Dia orang yang selalu tersenyum, begitu juga wajahnya yang mengemaskan. Pipinya yang bulat, bola mata indah dengan pupil berwarna kopi, serta rambut yang dipotong sebahu membuatnya lebih seperti anggota grup idola, dengan lagu lagu dan baju baju lucu mereka. Karena itu saat melihat dia yang ingin memaksakan diri untuk mencoba rumah hantu, itu membuatku sedikit terkejut dan bisa dibilang kagum.

“Nanti aja deh, habis makan trus foto foto lucu. Baru kita ke rumah hantu,” ucap gadis lucu didepanku sambil menunjuk rumah hantu yang berada dikejauhan sana.

“Foto foto lucu ?”

“Iya buat kenang kenangan,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum manisnya padaku.

Makanan kami pun akhirnya datang, mangkuk ramenku masih mengeluarkan uap panas saat diletakkan diatas meja. Sementara Lidya dia masih memandangi set sushi miliknya, karena dia tak tahu harus memesan sushi dari banyaknya pilihan dimenu; dia memesan satu set lengkap dan sekarang dia binggung harus memulai dari mana.

“Kenapa Cuma bengong ?” tanyaku yang pura pura tak tahu.

“Banyak amat ntar gue gendut,” jawabnya.

“Kalo gendut tinggal olahraga, udah makan aja,”

“Tapi ini ikan mentahkan,” ucap Lidya sambil memandangi sepotong sushi yang diambilnya.

“Iya mentah, tapi katanya wasabi bisa buat bakterinya mati,”

“Hmmm,” Lidya memanyunkan bibirnya berpikir apakah dia akan memakan sushi yang baru dipesannya. Tapi saat kukira dia akan menyerah dan tak memakan sushi yang telah dipesannya, dia memakannya. Dikuyahnya sushi itu sambil merasakan tiap gigitan, dari ekspresi wajahnya sepertinya itu tak seburuk yang dia pikirkan.

“Enak ?” tanyaku memastikan dugaanku.

“Lumayan,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

Aku mencoba ramen yang kupesan, aku tak pernah memakan ramen keju sebelumnya atau ramen secara umum. Hanya ramen menu yang kurasa bisa kumakan dari sekian banyak makanan yang tak kukenal didalam menu. Paling tidak aku tahu bahwa ramen itu mie dan keju aku rasa adalah rasa yang paling aman.

Rasanya penuh dimulut, kejunya lebih terasa manis daripada asin seperti yang kuharapkan. Aku menelan ramen itu dengan bantuan air putih, karena kuahnya yang terasa kental dan menganjal ditenggorokan.

“Kenapa enggak enak ?” kali ini Lidya yang bertanya.

“Aku tak tahu jika kuah ramen terasa begitu kental,”

“Lu mesannya yang keju, pesan yang pedeslah biar kuahnya light,” ucapnya. “Kasih saos aja siapa tahu enakan,”

Aku menuruti saran Lidya dan menambahkan saos kedalam ramenku, jika aku harus memakan kuahnya yang begitu kental; aku rasa perutku akan kembung duluan karena air. Setelah aku menambahkan saos ramenku terasa lebih baik, kuahnya masih terasa kental tapi rasa pedas dari saos membuatku lebih mudah untuk menelan.

Lidya sudah menghabiskan setegah dari sushi yang dipesannya, aku rasa dia benar benar menyukainya. Meski hari ini aku tak menghabiskan sabtuku seperti biasanya, pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku untuk kubaca selama seminggu. Tapi menghabiskan waktu bersama Lidya tak terasa buruk, malahan aku merasa senang.

Aku senang mencoba berbagai wahana permainan bersama Lidya, mungkin tidak untuk cangkir putar itu. Tapi sisanya terasa begitu memuaskan, mendengar tawanya saat bermain. Aku lupa kapan terakhir kali aku merasa begitu senang menghabiskan waktu dengan seseorang. Aku tak pernah suka berlama lama dengan orang lain, berkenalan dengan orang yang baru juga bukalah hal yang ingin kulakukan. Jadi menghabiskan waktu dengan orang lain, selain Siska itu hal yang aneh dalam pikiran ku.

Setelah menghabiskan makan siang, Lidya mengajakku untuk “foto foto lucuk” yang artinya dia mengajakku untuk mengambil banyak foto dengan angle dan ekspresi yang berbeda. Aku tak mengerti esensi dari itu semua, aku melakukannya karena Lidya setuju untuk membagikan hasil fotonya padaku.

Jadi setelah foto foto lucuk kami pun pergi ke satu satunya wahana yang belum kami coba, rumah hantu.

Rumah hantu itu tak menunjukan kesan mistis apapun dari luar. Tema yang diambil oleh rumah hantu itu adalah rumah sakit, dengan papan besar bertuliskan rumah sakit angker didepan, ada sebuah ambulans di depannya yang patut diapresiasi tapi hanya sampai disitulah hal positif yang bisa kuberikan untuk rumah hantu itu.

Ada dua buah jendela besar yang berada di kiri dan kanan pintu masuk, yang membuatnya buruk karena jendela itu ditempeli foto foto hantu seperti pocong dan kuntilanak berukuran besar. Itu membunuh mood yang coba dibangun, dengan aku yang melihat foto foto hantu didepan membuat hantu hantu mainan didalam pasti akan terlihat buruk.

Tapi itu menurutku saja, Lidya sudah mengencangkan genggaman tangannya sejak keluar dari restoran. Aku bisa merasakan napasnya yang berubah cepat. Aku sebenarnya merasa kasihan pada Lidya yang terus memaksakan dirinya, aku ingin mengelus rambutnya sambil meyakinkannya bahwa tak apa apa kalau dia merasa takut.

Tapi karena dia yang memeluk tangan kananku, membuatku merasakan hangat tubuhnya, wangi aroma parfum yang dipakainya; mungkin aroma peach. Aroma samponya yang terasa seperti jeruk harusnya tak cocok dengan aroma parmumnya. Tak aku tak merasakan itu, aku merasa nyaman berada dekat disampingnya dan ada dorongan kuat agar aku membiarkannya saja.

“Yakin mau masuk ?” ucapku yang akhirnya kalah oleh rasa khawatirku kepadanya.

Lidya menghentikan langkahnya, sekali lagi wajahnya berubah kesal. Tapi kali ini tatapan matanya seperti berapi api, mungkin dia merasa tak terima aku remehkan. Meski aku tak pernah punya niat meremehkannya.

“Yakin udah ayo masuk,”

Lidya menarik tanganku menuju booth tiket dan dengan cepat menarikku masuk. Seperti dugaanku suasana rumah hantu ini buruk, bukan buruk dalam hal yang bagus karena ini adalah rumah hantu tapi buruk karena ini rumah hantu yang buruk.

Kami masuk melalui lorong yang dibuat mirip dengan lorong rumah sakit. Dikiri dan kanan ada beberapa pintu, tapi pintu pintu itu hanyalah gambar sehingga saat coba kubuka tentu saja tak bisa. Juga ada beberapa jendela lorong tapi sama seperti pintu tadi, itu hanya gambar karena buruknya lorong itu kami melewatinya dengan cepat.

Selanjutnya kami masuk kedalam ruangan yang mirip dengan bangsal rumah sakit. Ada beberapa tempat tidur dengan “Mayat” yang tertutup dengan kain, jika dipikir itu aneh karena kami baru masuk dan langsung masuk ke kamar mayat; bukankah itu aneh seharusnya kami berada di meja resepsionis terlebih dahulu.

BAAAAA

Seorang mayat bangkit dari kematian dan mengejutkan kami, aku tidak takut tapi Lidya langsung memelukku. Dia benar benar memelukku seutuhnya, dan aku membalas pelukan itu. Dari jarak yang begitu dekat aku bisa mencium rambut hitamnya, aku mengelus itu dan merasakan halusnya mereka.

“Tak apa apa, itu hanya orang biasa. Kau baik baik saja,” ucapku yang berusaha menenangkannya.

Lidya menangis didalam pelukanku, aku tahu sedari tadi dia memaksakan dirinya dan “kejutan” dari mayat tadi membuat semua perasaan takutnya meledak. Dan meski pelukannya hangat dan meyenangkan tapi aku tak ingin melihat dia takut, sedih, aku hanya ingin melihat senyumannya yang sedari tadi menemaniku makan di cafe tadi.

“Takut…ti..ba..ti..ba..muncul,” ucapnya dengan suara yang patah.

Disaat aku mencoba menenangkan Lidya, mayat tadi tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku. Mungkin dia mengira aku mengharapkan ini, mungkin dia mengira bahwa akulah yang mengajak Lidya dengan harapan aku bisa mendapat pelukannya saat dia ketakutan.

Setengah dari pemikirannya itu salah, aku tak ingin melihat Lidya sedih tak sedetikpun. Aku menyuruh mayat itu kembali tidur, agar aku bisa menenangkan Lidya dan keluar dari tempat ini. Melihat ku mayat itu bingung dan akhirnya kembali mati.

“Tuh liat nggak apa apa, mayatnya udah mati lagi,” ucapku mencoba menenangkan Lidya.

Lidya mengangkat wajahnya dan menatapku, aku menunjuk kepada mayat yang tadi bangun kepada Lidya. Melihat tak ada lagi mayat hidup ditempat itu, Lidya akhirnya melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata dari pipinya.

“Nggak apa apa kan ?”

“Iya, udah yuk lanjut,”

Kami berdua pun melanjutkan “petualangan” kami dirumah hantu. Setelah mayat yang tiba tiba muncul Lidya tak terlalu takut lagi dengan hantu hantu yang muncul selanjutnya. Dia tak memelukku lagi, dia hanya bersembunyi dibelakangku saat hantu hantu lain muncul. Dia juga tak menangis lagi, itu bagus karena meski dia masih takut tapi dia tak membiarkan ketakutan itu menguasainya seperti saat melihat mayat yang pertama.

Kami akhirnya berhasil menyelesaikan rumah hantu dan aku bisa melihat bahagia diwajah Lidya. Aku sendiri senang rumah hantu itu berakhir, tapi didalam hatiku aku berharap rumah hantu itu bisa berlangsung lebih lama. Aku ingin lebih lama berdua dengan Lidya, lebih lama merasakan hangatnya tubuhnya saat memeluk tanganku, lebih lama mencium aroma tubuhnya yang menyenangkan. Tapi semua hal baik akan berakhir pada akhirnya.

“Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang ?” tanyaku pada Lidya yang sedang sibuk dengan handphonenya.

“Foto lagi yuk,”

Lidya menarik tanganku untuk lebih dekat denganya, dia pun bergaya sementara aku hanya berdiri diam. Dia mengambil beberapa foto, tenyata dia masih belum puas dengan sesi foto foto lucuk.

“Senyum kaleee,”

“OK,”

Aku mencoba memberikan senyum terbaikku, sudah lama aku tak melakukannya jadi bibirku terasa kaku. Aku rasa tersenyum tak seperti mengendarai sepeda, kau bisa lupa cara melakukannya.

Setelah  beberapa menit satu lagi sesi foto foto lucuk yang melelahkan, dan juga membuat pipiku sakit selesai. Lidya mengecheck hasilnya, dan dari senyum di wajahnya aku mengira dia puas.

“Masih sore nih, mau nonton nggak ?” ajak Lidya.

Aku tak terlalu tertarik untuk menonton film di bioskop, setelah film Dune yang mengecewakan aku tak pernah ingin lagi menonton film. Aku tak bisa mengerti bagaimana buku yang bagus, diubah menjadi film yang buruk. Satu satunya hal yang sama antara film itu dan buku aslinya adalah pasir, dan kau tak mungkin salah mengambarkan pasir.

Tapi jika aku bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Lidya , itu bukan pertukaran yang buruk.

“Boleh,”

Kami berdua pun menuju bioskop yang masih berada di bagunan yang sama.

“Pegangan tangan yuk,”

Dan berjalan berdua sambil berpegang tangan bersama Lidya, hari ini tak bisa lebih baik.

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku berjalan berpegang tangan dengan siapa pun. Mungkin terakhir kali dengan Ibu, dan itu terjadi saat aku masih memakai popok. Jadi Lidya adalah orang pertama yang mau bergandengan tangan denganku secara sukarela.

Sekali lagi aku berharap bahwa bioskop ini terletak lebih jauh, mungkin beberapa kilometer. Berpegang tangan bersama Lidya terlalu menyenangkan untuk berakhir, aku peduli dengan semua hal baik harus berakhir pada akhirnya. Aku ingin merasakan lembutnya tangan bidadari disampingku selamanya.

“Lepas kalee, udah nyampe juga,”

Aku melepaskan tanganku dan membalas senyumnya.

“Mau nonton apa ?”

Aku melihat poster poster film yang sedang diputar, dan pilihan yang bisa kami tonton. Jadi ada empat film yang bisa kami tonton sekarang.

Yang pertama adalah sebuah film berjudul nine lives, dengan poster kucing yang berada didalam kemeja putih dan memakai dasi. Kemungkinan besar adalah film komedi, tapi aku punya firasat itu adalah film yang buruk jadi aku mencoretnya dari pilihan.

Yang berada disampingnya adalah film berjudul Warkop DKI reborn, dengan poster yang menampilkan wajah para pemainnya yang sedang terkejut atau dalam kesulitan, aku yakin itu juga film komedi. Tapi aku sedang tak ingin menonton film komedi jadi itu juga bukan pilihan.

Yang ketiga film berjudul lights out, dilihat dari posternya yang bergambar saklar lampu dan gaya penulisannya itu adalah film horor. Dan melihat Lidya yang sedih dan ketakutan saat berada di rumah hantu, aku tak ingin melihatnya lagi saat menonton film horor jadi itu juga bukan pilihan.

Dan yang terakhir adalah film berjudul if cats disappeared from the world, dari posternya itu adalah film drama. Dan dari semua pilihan hanya itulah yang film ingin ku tonton sekarang.

“Itu aja,” ucapku sambil menunjuk poster film yang berada diujung.

“Ya udah ayuk,”

Kami pun membeli tiket film itu dan pergi menontonnya. Itu film Jepang dengan cerita yang menyedihkan, dan kali ini Lidya menangis dengan alasan yang berbeda. Menangis karena film sedih, aku tak bisa melakukan apa apa tentang itu. Aku mencoba menenangkannya sebisaku.

Film itu berakhir dan Lidya langsung berlari ke kamar mandi, contohnya diikuti oleh beberapa wanita lain. Meninggalkan kami para pria yang tak tahu harus berbuat apa selain diam dan menunggu.

“Dah yuk pulang,” ajak gadis yang berusaha menyembunyikan bekas tangisannya dengan beberapa lapisan make up. Aku tak mengomentarinya, aku hanya mengenggam tangannya dan mengajaknya berjalan bergandengan tangan kembali.

Entahlah kenapa aku mengajaknya berjalan bergandengan tangan, saat pertama kami bergandengan tangan dialah yang mengajakku. Tentu aku tak bisa menolaknya, tapi kali ini aku tak menunggu persetujuannya dan  langsung mengenggam tangan halusnya itu.

Perjalanan pulang berlangsung sunyi, tak ada satupun dari kami yang ingin memulai pembicaraan. Penyebabnya tiba tiba aku menyatakan suka pada Lidya. Itu terjadi begitu saja saat aku Lidya memintaku untuk melepaskan genggaman tanganku.

Dan entah apa yang aku pikirkan, aku menyatakan cinta padanya. Tentu dia diam, terkejut, entah apa yang dipikirkannya tentangku sekarang. Yang jelas semenjak kami awal perjalanan pulang ini tak ada lagi suara yang terdengar, selain mungkin detak jantungku yang tak karuan.

Kami akhirnya sampai dan aku menyusul Lidya karena aku tak ingin hari yang indah ini berakhir buruk.

“Lid..kau tak perlu menjawab apapun, bahkan kau bisa melupakan semua yang kukatakan.”

Lidya berhenti dan menampar pipiku, ada air mata yang mengalir di pipinya dan aku tak tahu harus melakukan apa.

“Kau menyuruhku untuk melupakannya, apa kau tak punya perasaan.”

“Aku hanya…aku…kau hanya diam, kita punya hari yang hebat dan aku tak ingin itu berakhir dengan diam. Aku tak tahu….

Lidya meletakan jarinya di bibirku, membuatku berhenti bicara dan menunggu.

“Aku rasa kau baru kali ini jatuh cinta, jadi biarkan aku memberimu saran. Cinta itu menyakitkan, jadi sampai kau tahu apa arti sebenarnya dari cinta, jangan bicarakan itu lagi.”

“Tapi,”

“Diamlah, cinta itu tak seindah kata kata yang bisa kau tuliskan dibuku. Carilah itu, carilah arti sebenarnya dari cinta,”

Aku tak tahu, jujur aku tak tahu apa yang dimaksud oleh Lidya. Aku memang tak mengerti cinta tapi aku tahu aku merasakan sesuatu saat bersama Lidya. Mungkin itu cinta, aku tak tahu.

“Kita baru bertemu, akan bodoh saat kau menyatakan cinta kapadaku.”

“Iya aku juga nyaman didekatmu. Tapi cinta lebih dari itu, carilah aku akan menunggu,”

Aku hanya diam, sekali lagi Lidya membuatku kagum. Sekarang dia membuatku terdiam melihatnya pergi. Aku hanya berdiri sendiri ditengah dinginnya malam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s