Janjiku Untuk Desy, Part10

des

“Eh?!”

“Maaf, aku nggak sengaja.”

“Eh, nggak apa-apa kok, Yo.”

Aku melepaskan dekapanku pada Shania dan membantunya berdiri karena dia hampir terjatuh saat kubuka pintu dapur. Aku bisa melihat wajahnya yang begitu merah, matanya tidak berani menatap wajahku. Aku kok jadi gemas ya melihatnya? Hahaha.

“Emm… gimana spaghetti buatan aku?” tanya Shania sambil menundukan kepalanya, tidak berani melihat wajahku.

“Enak kok, malah aku mau minta tambah lagi, hehehe,” jawabku seraya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

“Eh? Be..benarkah?” Nah, kali ini dia mulai berani melihat wajahku. Bisa kulihat tatapan matanya yang begitu berbinar-binar. Aku pastikan dia terlihat senang saat ini.

“Hahahaha… tidak, kok. Aku Cuma mau mengucapkan terima kasih padamu saja, hihihi.”

“Te..terima kasih?”

“Iya, terima kasih sudah membuat masakan yang enak. Kau berbakat juga membuat makanan.”

Bisa kulihat lagi wajahnya yang semakin berbinar, diikuti senyum tipis pada bibirnya tapi terkesan malu-malu untuk dilakukan. Hihihi, baru kali ini aku melihat ada cewek yang tampak malu-malu selain Desy.

“Te..terima kasih, Aryo.”

“Hehehe.” Aku tertawa sejenak. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, tapi tak apalah. Kalau begitu aku lanjut bekerja dulu.”

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam dapur, dan mulai melakukan pekerjaanku yang berhubungan dengan dapur. Sementara kulihat Shania masih berdiam di depan pintu. Dia berbalik, dan berjalan menuju meja dapur sambil menundukan kepalanya saat melihatku. Ada apa dengannya?

“Hei.”

Sebuah suara panggilan disertai tepukan di bahu mengagetkanku. Aku menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Sisca. Dia cengar-cengir melihatku. Ada apa dengannya?

“Kenapa cengar-cengir gitu?” tanyaku penuh curiga.

“Nggak apa-apa, hehe.” Dia masih cengar-cengir. Apa sih?

“Kamu mau tahu nggak?” tanya Sisca.

“Nggak, dan nggak mau tahu,” jawabku sambil memotong cabai merah menggunakan pisau.

“Yeee gimana sih. Mau tahu nggak?”

Sisca malah menusuk-nusuk punggungku dengan telunjuknya. Oke, aku mulai lapar. Eh, maaf, mulai kesal.

“Tahu apa sih Sisca?”

“Kamu tahu nggak kalau besok…..” ucap Sisca menggantung ucapannya.

“Besok ada apa emangnya?”

“Kalau besok hari…… Sabtu…” Dia langsung berlari menjauhiku.

“Dasar…” Aku melemparkan satu cabai kepadanya, tapi dia berhasil mengelak. Dia berjalan memutar dan kini sudah berada di depanku namun terhalang oleh sebuah meja.

“Hehehe.. bercanda,Yo.”

Aku menyipitkan mataku dan berkata, “Dasar, virus menyebalkan.”

“Hehehe. Virus tapi ngangenin kok.”

“Ya ya ya ya.”

“Eh, tapi serius aku mau ngasih tahu kamu satu hal,” ucap Sisca sambil memasang muka serius.

“Apa memangnya?” tanyaku.

“Aku melihat Shania itu suka sama kamu.”

“Ah, masa sih?” Aku tidak percaya dengan yang diucapkannya.

“Iya, aku serius. Masa aku bohong sih..”

“Dari mana kamu tahu kalau dia suka padaku?”

“Hanya dengan melihat perilakunya padamu saja aku jadi tahu, hehehe.”

Aku masih tidak percaya dengan yang dikatakan Sisca. Masa sih Shania bisa menyukaiku? Memangnya apa yang bagus dari diriku? Kurasa tidak ada. Hahahaha.

“Kalau kamu nggak percaya, coba tanya ke orangnya langsung. Hihihi.”

“Hah… ada-ada saja kau ini. Lebih baik aku lanjut kerja saja lah.” Aku berjalan menuju kompor sambil membawa cabai-cabai yang sudah terpotong.

“Ih… aku serius, Yo,” ucapnya sambil mengikutiku.

“Ya ya ya.”

******

Tak terasa hari sudah sore. Jadwal bekerjaku hari ini telah usai. Aku hendak beranjak untuk pulang ke kosanku, hingga tiba-tiba ada sebuah tangan memegang pergelangan tanganku. Aku menoleh ke arahnya untuk memastikan siapa yang telah lancang memegang tanganku.

“Ah, kamu Sisca. Ada apa?” tanyaku padanya.

“Anterin aku pulang dong, hehehe,” jawabnya sambil cengengesan.

“Lah kenapa nggak sama Noval saja?”

“Dia kan nggak masuk hari ini.”

“Oh iya ya. Ayo deh.”

Sisca pun naik ke atas motorku. Aku mulai melajukan motorku meninggalkan cafe. Tujuan pertamaku adalah rumah Sisca, karena aku yang mengantarnya pulang. Akan tidak lucu kalau dia aku antar ke kosanku, bisa bahaya nanti.

“Yo, bagaimana hubunganmu dengan Desy?” Sisca tiba-tiba bertanya saat aku masih konsenterasi menyetir motor.

“Sejauh ini baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana hubunganmu dengan Noval?” Aku balik bertanya.

“Baik-baik saja kok, hehehe.”

“Oh ya, yang tadi itu serius loh,” lanjutnya.

“Yang tadi yang mana?” Aku sedikit melihat ke arah spion kanan sambil menaikan sebelah alisku.

“Itu loh tentang Shania.”

“Memangnya kenapa dengan Shania?”

Sisca sedikit menoyor kepalaku sampai-sampai konsentrasiku buyar dan motorku sedikit oleng.

“Eh..eh.. Jangan noyor gitu dong! Hampir jatuh ini..”

“Hehehe… maaf maaf..”

“Tapi seriusan loh Shania suka sama kamu, Yo,” lanjutnya.

“Trus kenapa kalau dia suka? Aku kan sudah punya pacar.”

“Yah siapa tahu gitu kamu mau deketin dia, terus aku bakal bilangin ke Desy.”

Aku menghela nafas. Memang rada-rada ini anak. Kelakuan Sisca memang sedikit menyebalkan sih, tapi kalau di cafe tidak ada dia rasanya cafe terasa hampa. Jadi kurang ramai begitu.

“Hah…. Ada-ada saja kamu ini.”

Tak terasa aku sudah sampai rumah Sisca. Rumahnya tidak terlalu besar dan terdapat di sebuah komplek perumahan. Di depan rumahnya terdapat halaman kecil yang ditumbuhi rerumputan hijau, dan ada kolam ikan kecil disana. Benar-benar bagus juga halamannya.

Aku memarkirkan motorku di depan gerbang rumahnya. Sisca turun dari motor sambil memberikan helm yang dia pakai padaku.

“Mau mampir?” ucapnya tersenyum.

“Ah, tidak. Lagian aku belum nyuci baju di kos, haha,” balasku sedikit tertawa.

“Oke, kalau gitu.”

“Hei, Sisca!”

Terdengar suara panggilan seseorang dari seberang rumah Sisca. Aku dan Sisca menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari seorang wanita bertubuh tinggi, berambut pendek, dan memakai kacamata.

“Hei, Desy!”

“Des, kok kamu ada disini?” tanyaku padanya yang terkejut melihat kehadiran pacarku sendiri disini.

“Tadinya aku mau main ke rumah Sisca, tapi karena dia belum pulang kerja jadi aku balik lagi deh. Terus pas mau balik, aku malah ngelihat kamu nganterin Sisca,” jawabnya.

“Oh begitu toh.”

“Ada apa kamu ke rumah aku, Des?” kini Sisca yang balik bertanya.

“Main. Tapi nggak jadi, hehe.”

“Hmm… gimana kalau kamu jalan-jalan sama pacarmu saja,” usul Sisca yang membuatku menatapnya heran. “Jalan-jalan kemana kek, kasihan kamu udah mampir kesini tapi nggak jadi main.”

“Ide bagus tuh,” timpal Desy sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah Sisca.

Aku terkekeh. Sisca ini ada-ada saja menyuruhku membawa pacarku jalan-jalan, aku kan enak jadinya. Lagian tidak masalah juga sih aku sekarang mengajak Desy jalan-jalan, toh aku bisa berduaan dengannya lagi dan mempererat tali percintaan yang telah kami buat. Cielah…. Bahasanya… pingin muntah rasanya. Oke, abaikan.

Sekarang aku bingung. Sore-sore begini enaknya jalan-jalan kemana? Lagian kalau sore begini jalanan pasti macet. Belum lagi kalau ke mall, pasti penuh dengan orang-orang yang lalu-lalang sambil cuci mata. Terus kalau jalan-jalan ke taman, pasti taman penuh dengan orang-orang yang selonjoran di atas rumput. Belum lagi anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari sambil memainkan sebuah bola. Ah, sungguh aku bingung mau jalan-jalan kemana.

“Kita ke pasar malam yang ada di pinggir kota, yuk!” tiba-tiba Titan Manisku mengeluarkan suara khasnya. Suaranya terdengar medok, tapi terkesan ngapak.

Aku berpikir sejenak. Memang sih di pinggiran kota ada sebuah pasar malam yang sering buka setiap minggunya. Tapi….

“Jauh, sayang…” kataku seraya mencubit kedua pipinya hingga bentuk bibirnya melebar. “Lagian jalan kesana juga macet, bisa-bisa kita sampai sana malam.”

Desy melepaskan cubitanku dari pipinya. Dia memajukan bibirnya seperti bebek dan menggembungkan pipinya seperti tupai yang terlalu banyak menyimpan kenari dalam mulutnya.

“Monyet Lucuku… Aku pingin banget kesana…” Kali ini tatapan matanya yang berbinar-binar. Tatapan yang membuatku menjadi tidak kuat menghadapinya.

“Hah…..” Kuhembuskan nafas panjang. Kujulurkan jari telunjuk kananku ke keningnya yang tidak tertutup poni, kemudian sedikit kutekan hingga kepalanya sedikit terdorong ke belakang. “Iya, Titan Manisku… Kita kesana sekarang.”

Kulihat matanya semakin berbinar. Ukiran senyum di bibirnya semakin melebar, memperlihatkan barisan gigi seputih mutiara. Desy menjulurkan kedua tangannya ke arahku. Lalu tubuhku ditangkap olehnya. Kurasakan dekapan yang terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Dia menopang dagunya ke atas bahuku, lalu berbisik.

“Terima kasih, Monyet Lucuku. Kita akan menikmati berbagai kesenangan disana.”

Setelah itu, dia mencium pipi kananku dan melepaskan dekapannya. Aku tersenyum.

“Ciee… ciee… Inget ada orang disini, malah pelukan. Haha,” ledek Sisca sambil senyum-senyum ke arah kami.

“Yee… sirik aja kamu..”

“Hahaha.”

Aku memberikan helm yang tadi dipakai Sisca kepada Desy. Dipakainya helm tersebut ke kepalanya. Lalu kurekatkan bagian pelindung di helm tersebut yang melindungi dagunya, juga supaya helm tersebut tidak mudah lepas.

“Duh… so sweet banget sih…” sindir Sisca sambil menopang kedua telapak tangannya ke dadanya sendiri.

Aku yang mendengarnya hanya tertawa saja. Kemudian aku naik ke atas motorku, dan Desy menyusul naik. Kunyalakan motor kesayanganku itu dan bersiap untuk jalan.

“Kita pergi dulu, Sis,” pamit Desy seraya melambaikan tangan kepada Sisca.

Have fun, ya!” Sisca membalas lambaian tangan Desy sambil tersenyum. Setelah itu motorpun mulai melaju meninggalkan Sisca yang masih berdiri di depan rumahnya.

******

Tempat yang paling seru dan berkesan dari sejak kecil adalah pasar malam. Coba bayangkan saat kamu masih kecil, orang tuamu pasti pernah mengajak ke tempat seru ini. Menaiki sebuah bianglala yang berputar dan kamu bisa melihat pemandangan dari atas sana. Lalu menaiki sebuah wahana berbentuk perahu yang berayun-ayun dengan cepat sampai dirimu merasa mual dan muntah. Kemudian ada wahana rumah hantu, dimana ada berbagai macam hantu yang siap menaku-nakutimu jika masuk kesana. Jika kamu suka belanja dan merasa lapar, tenang saja di tempat ini banyak yang menjual berbagai macam barang. Mau pakaian sampai makananpun tersedia di pasar malam.

Aku saat ini sedang berada di tempat yang sangat menyenangkan itu. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Terakhir kali aku bermain ke tempat ini saat umurku 12 tahun, dimana aku sempat kesasar di tempat ini gara-gara aku terpisah dengan orang tuaku. Untungnya orang tuaku berhasil menemukanku. Jika tidak, mungkin sekarang aku tidak berada disini lagi.

“Kita naik itu, yuk!” Desy mengarahkan telunjuknya ke sebuah wahana berbentuk perahu yang sedang berayun-ayun dengan cepat. Orang menyebutnya sih itu Kora-Kora.

Seketika aku lemas. Melihatnya saja sudah membuatku lemas, apalagi kalau sudah naik. Bisa pingsan aku jadinya.

“Naik itu?”

Desy menganggukan kepalanya cepat. Dia menarikku ke wahana tersebut. Aku menahan diriku agar tidak terseret ke wahana yang membuatku mual.

“Kenapa?” Desy berhenti menarik lenganku. Dia menatap padaku lekat. Lalu sebuah senyum terukir di bibirnya. “Hmm…. kamu takut ya?”

“Emm…. enggak kok…” ucapku menggeleng cepat.

“Hmmmm…..” Desy melebarkan senyumnya dan mendekat ke arahku. “Laki-laki kok takut sih? Masa kalah sama perempuan?”

Oke, ini penghinaan bagi lelaki. Sebenarnya aku takut naik wahana itu. Percayalah, terakhir kali aku naik wahana ini tubuhku langsung mual-mual, bahkan aku memuntahkan isi perutku lebih dari 3 kali karena sangking mualnya. Sejak saat itu, aku trauma naik wahana ini.

“Ayo kita naik. Lawan saja rasa takutmu.”

“Emmm….”

Aku masih ragu. Takut nantinya aku muntah lebih dari 3 kali lagi. Jika itu terjadi, aku bisa mati.

“Ayo, Monyet Lucuku..” Desy menarik-narik lagi lenganku. Kali ini tarikannya sedikit keras.

Aku masih ragu. Aku terdiam sejenak. Sepuluh detik kemudian, aku menyerah. “Baiklah baiklah..”

“Yeayyy!!”

Desy langsung menarik lenganku kuat-kuat. Dibawanya aku ke wahana perahu itu. Sialnya, antrean di wahana ini terlalu sedikit, sehingga Desy dan aku bisa langsung duduk di kursi di dalam perahu itu.

“Des…” Tanpa sadar aku menggenggam tangan pacarku dengan gemetaran.

“Hihihi. Tenang saja, sayang..” Desy membalas genggaman tanganku yang gemetaran.

Ya, walaupun Desy berusaha membuatku tenang, aku masih merasa was-was.

Tak lama kemudian, kursi-kursi dalam wahana perahu ini mulai terisi oleh setiap orang yang naik. Aku mulai gelisah saat sebuah batang besi mulai turun dari depan kursi dan menahan tubuhku. Sedikit demi sedikit perahu yang kunaiki mulai bergerak. Oke, kegelisahanku semakin bertambah saat perahu yang kunaiki mulai berayun-ayun seperti ayunan. Awalnya sih gerakannya pelan, tapi lama-kelamaan gerakannya semakin cepat, dan bertambah cepat. Aku bisa mendengar banyak orang disini berteriak. Entah berteriak ketakutan atau gembira. Kulihat Desy juga berteriak, tapi juga diselingi tawa. Sedangkan aku, jangan tanya bagaimana perasaanku naik wahana ini.

Sepuluh menit berlalu. Akhirnya aku terbebas juga dari wahana jahanam ini. Sungguh, aku tidak mau lagi naik wahana ini. Lihat saja sekarang, aku sedang memuntahkan isi perutku ke dalam sebuah selokan kecil. Untungnya aku muntah cuma satu kali. Desy mengurut-urut bagian belakang leherku sambil terus tertawa. Dasar, tertawa diatas penderitaan orang lain!

“Hihihi. Kamu lucu tadi, Yo.”

“Lucu apanya?” timpalku sambil membersihkan mulutku yang basah dengan tisu. “Lain kali jangan naik wahana itu lagi.”

“Hehehe.”

Aku dan Desy kembali berjalan-jalan di area pasar malam ini. Berbagai macam stand jualan kami lewati, hingga akhirnya Desy mengajakku ke salah satu stand permainan yang ada disana. Sebuah stand permainan dimana permainan di dalamnya berupa melempar sebuah bola kasti ke arah tumpukan kaleng yang disusun seperti piramida.

“Silahkan,” ucap pria yang berjaga di stand tersebut. Dia memberikanku tiga buah bola kasti.

“Kalau mas berhasil menjatuhkan semua kalengnya, saya akan memberimu hadiah,” lanjut pria itu.

“Tuh, Yo, ayo lempar bolanya!” ucap Desy semangat.

Sepertinya menarik. Oke, akan kucoba, mumpung kalau menang bisa dapat hadiah. Gratis pula.

Kuambil satu bola kasti itu. Bola kasti tersebut kuarahkan ke tumpukan kaleng itu. Kemudian aku ayunkan tanganku sedikit kencang, bola itupun lepas dari genggamanku, melesat menuju target yang sudah aku kunci.

BUGH!

Bola itu menabrak dinding di belakang tumpukan kaleng tersebut, dan memantul ke depan. Meleset.

“Tidak apa-apa, masih ada dua bola lagi,” ujar Desy tersenyum.

Kuambil satu bola lagi. Oke, kali ini aku harus berhasil mengenainya. Kuayunkan lagi tanganku dan bolapun melesat menuju target.

BUGH!

Lagi-lagi bola kasti tersebut tidak mengenai target. Bola tersebut lagi-lagi mengenai dinding di belakang dan memantul ke depan. Tepukan di bahuku membuatku menoleh ke arah samping. Kulihat wajah Desy yang masih tersenyum dan melihat padaku.

“Coba lagi, masih ada satu bola lagi,” ujar Desy.

Aku menghirup napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kutatap wajah pacarku yang cantik dan tersenyum padanya. Lalu kuambil bola kasti terakhir, dan mulai mengarahkan menuju target. Kali ini aku harus berhasil. Kuayunkan lagi tanganku dengan sedikit kencang. Bola itu melesat, dan..

KLONTANG!

Yeahhhh!!!!

Bola itu berhasil mengenai target. Tumpukan kaleng berbentuk piramida itu seketika berjatuhan saat bola kasti yang kulempar menabrak bagian depan kaleng-kaleng tersebut. Aku mengepalkan tangan dan bersorak, “Yeahhh!!!”. Kulihat Desy bertepuk tangan dengan semangat dan lompat-lompat karena sangking semangatnya.

“Yeahh!!! Monyet Lucuku berhasil!” sorak Desy dengan gembira.

“Nah, ini hadiahnya.” Pria penjaga stand permainan tersebut memberikanku sebuah boneka beruang besar berwarna merah muda. Di badan boneka tersebut terdapat bantalan berbentuk hati, bertuliskan “I Love You“.

Aku menerima hadiah tersebut. “Terima kasih, mas.”

“Sama-sama. Datang lagi ya.”

Aku dan Desy meninggalkan stand tersebut sambil membawa boneka beruang yang baru saja kudapat. Aku menyerahkan boneka beruang besar itu kepada Desy. Dia menerimanya dengan semangat.

“Terima kasih, sayang..”

“Iya, Des. Simpan bonekanya baik-baik seperti kamu menyimpan hatiku, hehe.”

Desy menoyor kepalaku. Aku sedikit terdorong ke belakang. “Huhh…. Kamu gombal, deh.”

“Tapi suka kan?”

Dia tersenyum malu.

“Yuk, jalan lagi.” Aku menggandeng tangan Desy dan mulai berjalan-jalan lagi di area pasar malam ini.

Aku cukup senang bisa jalan-jalan di tempat seperti ini lagi. Belum lagi Desy yang terlihat sangat gembira menikmati berbagai macam wahana disini, melihatnya gembira seperti itu membuatku ikut gembira juga.

Berbagai macam wahana disini telah kami coba, tinggal satu wahana terakhir yang belum dicoba. Bianglala. Ya, begitulah banyak orang menyebutnya. Sebuah kincir raksasa yang menjulang cukup tinggi ke atas dan berputar searah jarum jam. Disetiap lingkaran kincir tersebut terdapat masing-masing tempat duduk yang hanya muat untuk dua orang. Aku dan Desy mencoba menaiki wahana tersebut.

“Kalau kita naik ini, kita bisa lihat pemandangan kota dari atas,” kata Desy sambil menunjuk ke arah atas.

“Kamu nggak takut ketinggian?” tanyaku sambil menaikan sebelah alisku.

“Tidak.” Desy menarik kembali lenganku menuju kursi kincir itu. “Yuk, kita lihat hal yang paling menyenangkan di atas sana.”

Aku dan Desy mulai duduk di kursi kincir. Petugas kincir yang berada disini menurunkan tiang besi pembatas diantara kursi yang kami duduki supaya tidak jatuh saat kincir mulai bergerak.

Tiba-tiba Desy menggenggam erat tanganku. Aku menoleh penuh tanya padanya. “Kenapa?”

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan berbisik. “Sebenarnya aku takut ketinggian.”

Aku terkekeh. Rasanya aku ingin tertawa keras namun aku tahan. Menurutku ini lucu sekali, Desy yang di awal sangat berani naik wahana Kora-Kora, tapi sekarang dia malah ketakutan naik wahana Bianglala ini. Aku bisa melihat wajahnya yang mendadak pucat saat wahana ini mulai berputar perlahan. Bisa kurasakan tanganku terasa sakit karena genggaman Desy semakin erat.

“Muka kamu lucu kalau pucat begitu, haha.”

“Jangan ngeledek, deh.. Aku takut tahu…” Desy mencubit hidungku dengan keras, membuatku merasa sakit.

“Hehehe. Kenapa naik kalau kamu takut?”

“Aku mau liat pemandangan dari atas.”

“Ada-ada saja kamu ini.”

Tak terasa kursi kincir yang kami duduki berhenti tepat di atas. Memang benar yang dikatakan Desy, pemandangan dari atas sini sangat indah. Selain bisa melihat langit yang bertabur bintang-bintang yang bercahaya, aku juga bisa melihat gemerlapnya lampu-lampu gedung dan bangunan di kota. Cahayanya beragam dan berwarna-warni.

“Kamu benar, Des. Pemandangan disini sangat menyenangkan,” ucapku kagum saat melihat pemandangan indah yang tersaji di depan sana.

Desy tersenyum menanggapi perkataanku. “Ibuku pernah berkata padaku, kalau langit malam akan membuat kamu merasa hangat jika menatapnya. Apalagi menatapnya dengan orang yang kamu sayang.”

“Aku merasa hangat sekarang,” lanjutnya. Dia menopangkan kepalanya ke atas bahu kananku dan menatap langit yang terlihat indah. “Karena saat ini, aku sedang bersama pria yang sangat aku sayangi.”

“Aku juga merasakan hal yang sama,” kataku sambil mengusap lembut rambutnya.

“Benarkah?”

“Iya. Walaupun udara dingin menusuk kulit, dengan adanya dirimu disini aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku.”

“Hmmm…” Desy sedikit mencubit pipiku dengan gemas. “Bilang saja kalau kamu ingin minta dipeluk. Iya kan?”

“Ah, tidak juga.”

“Huh… dasar..”

Memang benar sih suasana kali ini yang aku rasakan begitu hangat, tapi lebih hangat lagi kalau sambil berpelukan. Hangatnya akan jauh lebih terasa.

“Peluk aku,” pinta Desy tiba-tiba.

Aku menuruti permintaannya. Kurentangkan kedua tanganku, lalu ku peluk tubuh pacarku itu dengan lembut. Desy membalas pelukanku. Aku bisa merasakan tubuhku yang menjadi sangat hangat saat memeluknya. Benar-benar hangat. Aku yakin Desy juga merasakan hal yang sama.

“Merasa hangat kan?”

Kujawab dengan anggukan kepala. “Malah jauh lebih hangat dari sebelumnya.”

“Ibuku yang mengajariku. Jika kamu masih belum bisa merasakan hangatnya malam, cobalah peluk orang yang kamu sayang yang sedang berada disampingmu. Pasti kamu akan mendapatkan kehangatan yang jauh lebih berbeda.”

“Berbeda?” Aku mengerutkan bagian alisku, pertanda kalau aku sedikit bingung dengan ucapannya.

“Iya. Seperti yang sedang kita lakukan sekarang,” jawabnya seraya menunjukkan senyum tipisnya. “Aku memeluk pria yang sangat aku sayangi dan kelak dia akan menjadi suami yang bijak dalam membina rumah tangga. Itu membuatku merasakan kehangatan yang berbeda, bahkan hangatnya sampai masuk ke dalam hati.”

Wow, perkataan Desy barusan membuatku takjub. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi karena sangking takjubnya. Tapi aku bersyukur memiliki Desy, karena dia yang menjadi penyemangatku menjalani hidup. Aku juga sudah berjanji padanya dan kelak janjiku tersebut akan terwujud.

“Oh ya, dua hari lagi aku akan berangkat ke Bandung. Aku ingin kamu ikut,” kataku sambil menatap langit yang dipenuhi banyak bintang.

“Kamu serius?” tanya Desy. Aku menoleh ke arahnya dan aku bisa melihat matanya yang begitu berbinar-binar.

“Iya. Aku ingin mengenalkanmu ke orang tuaku, juga ke Nabilah.”

“Asik! Artinya sebentar lagi kamu akan segera melamarku dong.”

Aku mencolek hidungnya dengan lembut, dan berkata padanya. “Sabar, belum waktunya. Hehe.”

“Yahh…..” Raut wajah Desy menunjukkan kekecewaannya, namun itu hanya sesaat, setelahnya dia tersenyum lagi. “Tapi nggak apa-apa, aku selalu sabar nunggu kamu lamar aku.”

“Pintar sekali titanku yang manis ini, haha.”

“Iya dong.”

Aku kembali menatap langit malam yang begitu menghangatkan hati dan jiwa. Aku bisa merasakan pelukan Desy semakin erat, dan aku pun membalas pelukannya dengan lembut juga.

“Des, coba lihat ke atas sana.” Aku menunjuk ke arah langit yang bertabur bintang. Desy melihat ke arah yang aku tunjuk itu. “Kamu lihat di atas sana ada satu bintang yang paling bersinar?”

“Yang mana?” Desy menyipitkan kedua matanya, berusaha mencari bintang yang kumaksud.

“Itu loh yang disana,” jawabku.

“Memangnya kenapa dengan bintang itu?”

“Satu bintang yang paling bersinar diantara bintang lainnya, adalah kamu.”

“Haha… Kamu gombal lagi..” Aku bisa merasakan pipiku yang sakit karena cubitan yang diberikan oleh Desy.

“Hehehe.”

Setelah itu, kami terdiam sejenak. Suasana menjadi bisu, hanya suara keramaian yang ada di pasar malam. Desy sedikit melonggarkan pelukannya dariku dan mulai menatapku.

“Yo.”

“Hmm.”

CUPPSS!!

Desy tiba-tiba mencium lembut bibirku. Aku sempat tersentak. Kemudian aku membalas ciumannya secara perlahan. Aku bisa merasakan detak jantung kami berdebar sangat kencang, napasku saling bertubrukan dengan napasnya. Ciuman tersebut menciptakan kembali suasana hangat yang jauh lebih berbeda dari sebelumnya.

Tak lama kemudian, ciuman kamipun berhenti. Desy kembali menatapku, tatapannya begitu penuh penghayatan. Matanya sedikit mengeluarkan setetes air. Aku mengusap kedua matanya menggunakan kedua tanganku.

“Aku senang, Yo. Sangat senang..” ujar Desy.

“Iya, aku tahu kok.” Aku tersenyum ke arahnya.

“Kamu masih inget janji itu kan?”

“Tentu saja aku ingat. Aku tidak akan melupakan janji itu. Karena janji yang menyatukan ikatan kita.”

Ukiran senyum terukir dari bibir Desy. Aku bisa mengerti senyum tersebut menunjukan betapa bahagianya dirinya memiliki seorang pria sepertiku. Aku pun ikut tersenyum.

“Bersabarlah hingga janji itu terwujud,” kataku.

Always. Aku selalu bersabar menunggu janji itu terwujud,” ucapnya seraya memelukku.

Love you, Monyet Lucuku.”

Love you too, Titan Manisku.”

Tak berselang lama, kincir pun bergerak kembali dan berputar ke tempat semula. Setelah kursi yang kududuki sampai ke bawah, aku dan Desy turun dari sana. Kemudian mulai meninggalkan wahana kincir itu sambil bergandengan tangan.

******

Jam sudah menunjukan pukul 22.00, aku dan Desy sudah merasa puas menikmati berbagai wahana dan berjalan-jalan di pasar malam ini. Aku dan Desy pun memutuskan untuk pulang.

Kulangkahkan kakiku meninggalkan area pasar malam sambil menggandeng tangan Desy. Dia terus tersenyum sambil memegang boneka beruang besar yang aku dapatkan saat permainan lempar bola kasti tadi. Dia terlihat begitu senang dengan hadiah yang kuberikan.

Tak terasa aku dan Desy sudah berada di area parkir pasar malam. Aku menelisik setiap motor yang berjajar, berusaha mencari keberadaan motorku. Setelah berhasil menemukannya, aku dan Desy berjalan menuju motorku yang terparkir.

BUAGHHH!

Tiba-tiba aku terpental ke arah samping akibat sebuah pukulan yang mendarat mulus di pipi kiriku. Aku mendarat mulus di atas tanah. Kemudian Desy menghampiriku dengan cepat, kulihat wajahnya menunjukan raut terkejut.

“Hei, kau!”

Sebuah panggilan seseorang membuatku menoleh ke arah sumber suara yang telah lancang memukulku. Aku melihat di dekat deretan motor ada dua orang pria sedang menatapku tajam sambil menyeringai. Aku bangkit berdiri dan Desy membantuku berdiri. Aku mengusap bibirku yang sedikit berdarah akibat pukulan tadi, kemudian menatap tajam ke arah dua orang itu.

“Kita bertemu lagi,” ucap salah seorang dari mereka yang bertubuh tinggi.

“Cih, kau lagi! Mau apa kau?!” kataku sedikit meninggikan nada suaraku.

“Hanya ingin menuntaskan urusan kita yang belum selesai tempo hari lalu.”

“Cih, sudah kubilang aku tidak ada urusan denganmu!”

Orang itu tersenyum ke arahku sambil menyeringai. “Benarkah?”

Oke, kali ini aku harus menghadapi masalah lagi. Aku harus melindungi Desy sekarang juga.

“Kita hajar dia!”

Oh, sial! Aku benar-benar menghadapi masalah lagi yang cukup besar!

~To be continued~

 

Oleh: Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

Satu tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy, Part10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s