Kuat Karena Kita Bersama Part – 7

Sementara itu di kelas X-2 yang tak lain kelasnya Riki sedang heboh.
Bagaimana tidak, Salah satu  primadona kelas mereka, Gracia mendapat
ungkapan cinta dari Vico anak kelas X-1 yang terkenal tampan dan kaya
tapi terkenal pula sikap playboynya. Dengan membawa setangkai bunga
dan mengeluarkan rayuan bak pujangga ia memberanikan diri menyatakan
perasaannya di kelas dengan disaksikan murid lain.

“Gre.. Kamu mau gak jadi pacar aku ?, sejak ketemu kamu hari hari aku
penuh warna kayak taman penuh dengan bunga dan kupu-kupu.” Ucap Vico
merayu sedang temannya hanya bisa menahan tawa sejak tadi karena tak
pernah melihat Vico sedramatis ini ketika menyatakan cinta pada
wanita.

Mendengar ucapan Vico dengan bersimpuh dihadapannya membuat Gracia
hanya terpaku dan tak sanggup berkata apapun. Sementara Riki yang
sudah hampir sampai dan ketika berbelok masuk ke kelas langsung
memasang muka kaget melihat kejadian itu.

“Weh.. Wehh.. Pagi pagi udah ada latihan drama aja. Perasaan kagak ada
pensi dah.” Ucap Riki memecah keheningan kelas dan semua tatapan
menuju kepadanya.

Sadar akan tatapan tajam dari para murid Riki langsung bertanya pada
Henri yang berjalan mendekat padanya.
“Lo semua kenapa ngelihat gue sinis gitu. Emang masuk dalam naskah ?.”
Ucap Riki menanyai Henri hang berada disampingnya.

Tanpa banyak bicara Henri langsung merangkul leher Riki sambil memoles
kepalanya dan berbisik.
“Naskah muke lo penyok. Tuh si Vico lagi nembak Gre, nyet. Lo baru
dateng langsung ngrusak acara orang aja.” Ucapnya pada Riki.

Riki hanya terkekeh,
“Sorry sorry Vic, gue gak tau, lanjut aja. Hehehehe…” Ucap Riki.

Setelah Riki terdiam para murid kembali fokus pada Vico dan Gracia.
Dengan wajah lemas ia berusaha menjawab pertanyaan dari Vico.

“Maaf ya Vic, aku sudah suka sama orang lain. Jadi aku gak bisa nerima
kamu, sekali lagi maaf ya Vic.” Ucap Gracia.

Mendengar Vico yang mendapat penolakan dari Gracia membuat Riki tiba
tiba membuka tas dan memasukkan kepalanya kedalam tas dan kemudian
tertawa lepas agar tidak terdengar oleh para murid.
“Deg.. Degan gue, untung dia di tolak jadi ada kesempatan buat gue.
Hahahaha..” Batin Riki.

Dengan wajah memelas Vico bertanya kepada Gracia.
“Siapa Gre orang yang kamu suka. Apa dia lebih dari aku ?, sampai kamu
nolak aku demi dia.” Balas Vico dengan penuh rasa kecewa.

“Aku gak bisa kasih tau kamu Vic, dia cuma lebih sederhana dari kamu.
Sekali lagi maaf ya Vic.” Terang Gracia sambil terus meminta maaf.

“Oke Gre.. Gak apa kamu nolak aku. Tapi aku harap kita masih bisa jadi
temen.” Ucap Vico sambil berdiri sedang Gracia membalas dengan sebuah
senyuman.

Setelah melihat senyuman dari wajah Gracia, Vico dan teman temannya
berbalik dan kembali ke kelas bersama bunga yang sudah mulai layu.

“Lo sih Vic, di bilangin jangan nembak dia malah ngeyel, gini kan
jadinya.” Ucap Aldo.

“Pake sok jadi pujangga lagi Lo. Sampe geli gue ngeliat lo tadi.” Tambah Reza.

Dengan penuh ke kesalan Vico langsung menjitak kepal teman temannya.
“Lo berdua bener bener ye, jadi dari tadi lo pade kagak ndukung gue.”
Ucap Vico penuh kesal.

“Hehehehe..” Kedua temannya hanya bisa terkekeh mendengar ungkapan dari Vico.

Sementara itu di kelas X-2 sedikit gaduh akibat kejadian tadi. Gracia
yang menjadi pemeran utama pun di hujani pertanyaan karena dia menolak
Vico yang dikenal sebagai pangeran bagi para wanita di sekolahnya.

“Kamu gimana sih Gre ?, Vico yang jadi idaman para cewek di sekolah
kita kok kamu tolak.” Tanya Michelle dengan wajah heran dengan Gracia.

“Iya nih, coba yang di tembak tadi aku. Pasti gak bakal pikir panjang
langsung aku terima. Heheheh.” Tambah Anin.

“Helllooooww Gracia… Jadi selera kamu itu yang kayak gimana ?, apa
dia kurang perfect ?, Jangan sampe curhat ke kita gara gara nyesel
nolak Vico yah..” Timpal Desy dengan gaya lebay.

“Kalian apaan sih, namanya juga gak suka mau gimana lagi. Kalo kalian
mau ambil aja tuh si Vico.” Balas Gracia dengan sedikit cemberut.

“Kamu yakin Gre ??, Tapi by the way siapa sih yang bisa buat kamu
sampe nolak si Vico ?” Tanya Anin.

“Rahasia wwkk.. Yang penting dia orangnya baik.” Jawab Gracia sedang
teman temannya hanya bisa cemberut menahan rasa penasaran.

Ketika para cewek sedang asyik ngerumpi, Henri yang sedari tadi
penasaran dengan tingkah Riki juga mulai bertanya tanya ada apa dengan
dirinya.

“Lo kenapa Ki ?. dari tadi ketawa mulu kayak orang gila aja.” Ucap Henri.

“Ya gue kasihan sekaligus salut aja sama Vico, Rela malu meski
ujungnya di tolak.” Jawab Riki santai.

“Ahh lo bisa aja sok care sama Vico. Ngomong aja lo jadi dapet
kesempatan gara gara Vico di tolak Gre. Pake alesan kasihan segala.”
Ucap Henri sambil menoyor kepala Riki sedang Riki hanya bisa terkekeh
mendengar ucapan Henri.

“La ntu tau, pake tanya segala.” Balas Riki.

Setelah perbincangan itu terdengar bel masuk berbunyi dan para murid
menempati tempat duduk masing masing. Tak selang berapa lama salah
seorang guru pun masuk dengan membawa beberapa buku dan tas.

“Selamat pagi anak anak.” Sapa guru tersebut saat sudah masuk ruang kelas.

“Selamat pagi Pak Alam.” Jawab para murid bersama sama.

“Keluarkan buku matematika kalian dan kita langsung adakan ulangan
harian.” Ucap Pak Alam.

Mendengar ucapan Pak Alam tadi membuat para murid sedikit kaget.
Berbagai ekspresi terpancar dari wajah mereka,ada yang senang, ada
yang melongo dan masih banyak yang lainnya.

“Gre..” Ucap Michelle sambil menyenggol lengan Gracia sambil menaik
turunkan alisnya.
Gracia yang paham maksud Michelle hanya tersenyum lalu memelet
kearahnya so tak membuat Michelle tampak cemberut. Di bangku Riki dan
Henri pun situasi tak jauh berbeda, Henri yang lemah dalam matematika
pun hanya bisa mengandalkan Riki seorang.

“OKE.. KERJAKAN SOALNYA DAN KALAU SAMPE ADA YANG NYONTEK TERUS
KETAHUAN LANGSUNG SAYA KASIH NILAI 0.” Ucap PaK Alam tegas dan membuat
para murid tersentak.

Henri yang tak memperdulikan peringatan dari Pak Alam terus saja
merengek meminta jawaban kepada Riki. Karena memang dia sadar
kekurangannya dalam urusan hitung menghitung.

“Ki… Bagi jawaban dong. Otak gue udah mau keluar asep nih padahal
baru lihat angkanya doang.” Bisik Henri pada Riki

“Soal baru dibagi kampret, udah minta jawaban aja, sabar dulu napa.”
Jawab Riki sedangkan Henri hanya bisa memiringkan bibirnya dan
mendumel gak jelas.

Waktu terus berjalan, Henri hanya bisa terus menegok kanan dan kiri
dan membiarkan kertasnya tetap kosong. Ia megerti mau berusaha sekeras
apapun tidak akan berhasil, yang ada hanya akan membuat kepalanya
panas bagai terbakar saking tidak mengertinya ia pada pelajaran
tersebut.

Riki yang menyadari kelemahan sahabatnya tersebut berusaha membantunya
dengan mendekatkan jawabannya. Henri pun mulai tersenyum dan menulis
sedikit demi sedikit untuk mengisi kertas jawabannya dan selalu terus
begitu sampai mereka berdua selesai mengerjakan soal ujian tersebut.
Akhirnya pelajaran pun telah selesai dan berganti dengan istirahat.
Riki dan Henri berjalan bersama menuju kantin sambil berbincang
ringan.

“Thanks Ki.. Lo selalu ngerti banget cara bantu gue. Rasanya dalam
kepala gue udah pendarahan hebat gara gara ngeliat angka angka tadi.”
Ucap Henri.

“Iyee… Tenang aja. Ngomong ngomong jalannya cepet dikit napa ntar
kantin penuh bisa gawat.” Balas Riki sambil mempercepat langkahnya.

Sesampainya di kantin langsung saja mereka memesan makanan.

“Nohh.. Ujung sebelah sono aja, masih kosong tuh.” Ucap Henri sambil
menunjuk ke arah bangku yang masih kosong.

Tanpa menjawab Riki dan Henri segera menuju tempat tersebut. Tak
selang berapa lama makanan pun juga sudah di antarkan ke meja mereka.

“Bbbrruubbhh… Anjirr panas banget nih soto. Masaknya pake api neraka
kali ya.” Ucap Riki sambil menyemprotkan kuah panas yang di makannya.

“La lo tau baru dateng langsung maen sikat aja.”
“Laper sih laper tapi liat liat juga kali.” Ucap Henri sambil terkekeh
melihat sahabatnya merasa kepanasan.

Saat sedang asyik bersantap ria tiba tiba dateng dua gadis dan
langsung duduk di sebelah mereka masing masing.

“Eh.. Ehh..” Riki kaget karena ada gadis duduk di sebelahnya dan Henri
pun tak berbeda ekspresinya dengan Riki.

“Maaf ya ngaggetin. Tempat yang lain udah penuh jadi kita duduk
disini. Gak apa kan.” Ucap salah seorang gadis tersebut.

“Iya gak apa kok Kak.” Balas Henri.
“Boleh juga nih cewek cewek, gebet bisa kali.” Batin Henri.

“Kok tau kita kakak kelas kamu ?” Tanya gadis itu lagi sedang yang
satunya terus melahap makanannya.

“Tuh dari emblem di lengan kanan kan keliatan.” Ucap Riki cuek sambil
memakan makanannya.

“Oh.. Nama kakak Lidya terus yang ini Nadila. Terus nama kalian siapa
?” Ucap gadis bernama Lidya.

Mulut Riki dan Henri penuh dengan makanan saat ditanya, jadi mereka
berdua hanya menunjuk emblem di dadanya yang bertuliskan nama masing
masing. Sedang Lidya dan Nadila hanya mengangguk dan tersenyum melihat
tingkah mereka berdua yang kompak.

Setelah selesai makan mereka berbincang sebentar sebelum kembali ke
kelas masing masing.

“Kak Lidya.. Kak Nadila, minta ID Line boleh gak. Hehehe..” Ucap Henri
sambil terkekeh dan menutup mulutnya sok malu malu.

“Kamu yaa.. Masak mau modusin kita berdua, rakus amat nih adek kelas.”
Ucap Lidya sambil menyodorkan handphonenya.

“Tau nih bocah, bikin malu gue aja lo.” Ucap Riki sambil menoyor
kepala sahabatnya itu.

“Bilang aja lo sirik ama gue dapet kontaknya Kakak Kakak yang cantik
ini.” Balas Henri sambil memainkan alis pada kedua kakak kelasnya itu.

Tidak terasa jam istirahat selesai seiring terdengarnya bel yang
berbunyi. Mereka berempat pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan
bersama karena kelas mereka searah. Sementara Gracia yang sedari tadi
duduk bersama Michelle dan memperhatikan Riki dari jauh merasa geram
karena keakraban Riki dan Kakak kelas meski mereka baru kenal.

“Itu siapa sih kecentilan amat. Hhhuuhh..” Batin Gracia sambil meremas
tangan Michelle yang berada di sampingnya.

“Sakit tau Gre. Sebel sih sebel tapi gak gini juga kali.” Ucap
Michelle membuyarkan lamunan Gracia.

“Sorry chelle salah sasaran. Hihihi.” Ucap Gracia tersipu malu akibat
ucapan Michelle.

“Ya udah masuk yuk udah bel. Dari pada ntar aku tambah sakit kamu
remas terus.” Ajak Michelle sedang Gracia hanya tersenyum dan mereka
pun berjalan bersama menuju kelas.

Tak selang berapa lama mereka sudah sampai ke kelas masing masing dan
langsung mengikuti pelajaran seperti biasa. Waktu terus berjalan menit
demi menit pun berlalu sorak sorai para murid menggema ketika
mendengar bel tanda pulang berbunyi. Dengan cepat mereka merapikan
barang masing masing lalu bergegas pulang. Tak berbeda dengan yang
lain, Riki juga bergegas pulang dengan menuju parkiran untuk mengambil
sepedanya terlebih dahulu. Saat mulai menaiki sepedanya dan sudah
sampai di gerbang, Ia melihat Gracia yang berdiri sendirian sambil
terus melihat jam tangannya.

“Lagi nunggu jemputan ya Gre ?” Tanya Riki saat sudah berada di depan Gracia.

“Iya nih Ki.. Gak tau pak Usman kok lama banget.” Jawab Gracia dengan
raut muka sedikit cemberut.

Tiba tiba terdengar bunyi handphone dari Gracia, langsung saja ia
mengecek siapa yang menghubunginya. Ketika mengangkat telpon dan
berbicara dengan seseorang tiba tiba wajah Gracia nampak semakin
cemberut.

“Kenapa Gre kok manyun gitu ?, apa ada masalah ?” Tanya Riki
memastikan apa yang sedang terjadi.

“Iya nih. Pak Usman gak bisa jemput, tadi mobilnya mogok terus
sekarang lagi di bengkel.” Ucap Gracia menerangkan dengan wajah
cemberut.

“Ohh gitu.. Ya udah pulang bareng aku aja gimana ?” Ucap Riki menawari Gracia.

“Tapi kasihan kamu ntar bolak balik kan rumah kita lawan arah.” Terang
Gracia yang menganggap ia selalu menyusahkan Riki.

“Udah gak apa.. Tapi naik sepeda ini gak apa kan.” Ucap Riki sambil
menepuk nepuk sepeda tua kesayangannya.

“Bener nih. Gak apa kok naik sepeda juga.” Balas Gracia yang mulai
bisa sedikit tersenyum.

“Ya udah yuk. Ntar keburu sore mama kamu nyariin lagi.” Ucap Riki.

Akhirnya Gracia pun di antarkan pulangnya oleh Riki. Sambil mengayuh
sepeda di jalan yang rindang tertutup oleh pohon pohon, mereka pun
bercanda tawa sebagaimana teman pada umumnya.

“Gre.. Besok kan minggu, kamu ada acara gak ?” Ucap Riki sambil terus
mengayuh sepedanya.

“Gak ada sih, emang kenapa gitu tumben kamu nanya itu ?” Tanya balik
Gracia keheranan.

“Pengen ngakak kamu nonton. Hehehe..” Jawab Riki sambil berlagak malu
malu menjawabnya.

“Ciee.. Mulai berani ngakak jalan nih ceritanya.” Goda Gracia yang
membuat Riki makin memerah mukanya.

“Hehehe.. Iya, jadi mau gak nih ?” Tanya Riki lagi yang belum sempat
dijawab oleh Gracia.

“Iya aku mau, tapi syaratnya ntar kamu izin dulu sama mama aku terus
jemput ya pake sepeda ini lagi. Hihihi..” Ucap Gracia yang dalam
hatinya mulai kegirangan mendengar ajakan Riki tadi.

“Ohh.. Pasti kok. Tapi kenapa harus pake sepeda gitu ?” Tanya Riki
keheranan dengan permintaan Gracia itu.

“Ada deh, kamu gak usah tau. Wweekkk..” Ucap Gracia sambil menaruh
kepalanya di pundak Riki sambil memelet ke arahnya.

“Diihh.. Kok gitu, masak aku gak boleh tau, curang nihh.” Ucap Riki
mulai cemberut.

Tiba tiba kebiasaan Gracia muncul lagi, dicubitlah Riki dari belakang
yang membuat iya kaget dan sedikit berteriak.

Waddaaww..

“Kok dicubit sih, kaget tau udah sakit lagi.” Ucap Riki menahan rasa
sakit akibat cubitan Gracia.

“Habisnya cemberut gitu, gak enak tau diliatnya.” Balas Gracia.

“Iya deh iya, aku nurut aja. Besok aku jemput jam 2 ya kan soalnya
naik sepeda.” Ucap Riki, sedang Gracia terdiam dan tersenyum seraya
mengangguk pertanda ia setuju.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 13.52, Riki sudah berada di depan
rumah Gracia. Terlihat di depan rumah Gracia tepatnya di taman
terlihat Tante Elsa sedang menyirami tanamannya.

“Ehh Nak Riki, ngerepotin lagi jadinya nganter Gre pulang.” Ucap Ibunya Gracia.

“Gak kok Tan, kok tumben Tante nyiramin sendiri ?” Tanya Riko berusaha
mencairkan suasana.

“Iya, tukang kebunnya lagi sakit jadi terpaksa deh.” Jawab ibunya
Gracia sambil tersenyum.

“Masuk dulu yuk Ki. Biar aku buatin minum buat kamu.” Ajak Gracia
kepada Riki untuk mampir ke rumahnya.

“Kapan kapan aja ya Gre, takut mama nyariin nih.” Tolak Riki dengan halus.

“Ya udah gak apa, makasih ya udah nganter aku pulang.” Ucap Gracia

” Iya sama sama, besok jangan lupa ya.” Ucap Riki mengingatkan acara
mereka besok.

“Iya gak lupa kok. Kayaknya gak sabar banget.” Balas Gracia sedikit meledek Riki

“Biarin.. Wweekkk..? Ucap Riki sambil memelet ke arah Gracia.

“Dihh.. Sok imut. Wweekk wweekk..” Balas Gracia tak mau kalah.

“Hehehe.. Ya udah aku mau pamit pulang dulu.” Ucap Riki pada Gracia.
“Tante saya pamit pulang dulu takut kesorean.” Ucap Riki berpamita
kepada ibunya Gracia.

“Iya hati hati Ki. Makasih sekali lagi udah nganter Gre pulang.” Balas
ibunya Gracia.

Riki hanya mengangguk dan tersenyum sambil melambaikan tangan kearah
Gracia dan ibunya seraya mengayuh sepeda meninggalkan mereka. Ibunya
Gracia hanya bisa tersenyum mengingat anaknya dan Riki yang sangat
akrab, terlihat dari bercandanya tadi. Sedang Gracia masuk kedalam
rumahnya dengan berlari kecil kegirangan membuat ibunya menggelengkan
kepala.

Bersambung…..

Mohon maaf buat para reader, mungkin ini terakhir update untuk bulan
ini dikarenakan kesibukan saya yang lain. Sekali lagi Mohon maaf
semuanya, mohon tinggalkan kritik dan saran juga di kolom comment atau
mention ke @erikst22.

Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s